Total Tayangan Halaman

Sabtu, 21 Januari 2017

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 124)




Musikal 124

Dave menghentikan mobilnya di depan pintu masuk rumah sakit. Ia hanya menurunkan Adrian dan Fi. Kemudian ia bergegas untuk pergi ke tempat lain.
“Kalian langsung temui Tifa. Saya masih ada urusan lain. Ingat, jangan sampai ada orang yang memperhatikan kalian!”
Setelah mobil Dave berlalu, Adrian dan Fi langsung menuju kamar Tifa. Suasana canggung menyelimuti ketika mereka berjalan berdua. Koridor bangsal yang sepi pun membuat kecanggungan itu semakin terasa.
“Apa sudah ada wartawan yang menemuimu?”
Fi tersentak saat Adrian lebih dulu menyapanya. Suara tedengar gemetar saat menjawab.
“Be—belum, tapi kuharap tidak ada ada.”
Keadaan kembali sunyi.
“Ba—bagaimana keadaanmu?”
“Tidak begitu baik,” kemudian Adrian terdiam beberaa saat. “Apalagi setelah kejadian itu.”
Fi mengurungkan niatnya untuk bercakap-cakap lagi. Mereka pun akhirnya sampai di bangsal Tifa. ternyata wanita itu seorang diri di kamar tanpa ada yang menemani.
“Dimana Nenek?”
“Tante suruh dia keluar dulu,” Tifa membetulkan posisi duduknya. “Aku sudah tahu apa yang terjadi. Sayang, aku tidak bisa bebrbuat banyak karena sebentar lagi kemoterapiku akan dimulai.”
Kemoterapi? Fi terkejut saat mendengar kata itu terlintar dari bibir Tifa.
“Tunggu! Apa maksud Miss kemoterapi? Memangnya anda sakit apa?”
Tifa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Malas rasanya menjelaskan penyakitnya berulang-ulang.
“Kanker perut, stadium dua lanjutan.”
Sejenak Fi merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia menoleh cepat pada Adrian, tapi pemuda itu justru membuang pandangannya. Sama seperti Tifa, malas rasanya kalau harus menjelaskan situasi ini berulang-ulang.
“Sidahlah, Fi. Bukan itu yang harus kamu cemaskan sekarang, tapi masalah kalian berdua sendiri,” tegas Tifa. “Dengar, aku sudah mengatur jadwal konferensi pers besok siang. Kenpaa besok? Karena kita harus lihat dulu perkembangan kabar ini. jika memang sampai membahayakan pementasan kita, maka konferensi per situ harus dilaksanakan. Jika tidak, maka kita biarkan saja berita ini. Anggap saja ini hanya gosip belaka
“Untuk saat ini kalian harus bersembunyi dulu dari kejaran media. Carilah temoat yang aman. Untuk Adrian, aku sarankan kamu menginap dulu di rmah Dave. Jangan di sini, karena itu akan membuat kabar [penyakitku ikut tersebar. Dan untukmu Fi, aku harap kamu bisa menginap di salah satu rumah temanmu.”
“Apa yang harus kami katakan pada konferensi pers nanti?” tanya Adrian.
“Ah, maaf. Tante belum berpikir sampai ke sana, tapi kalian ini aktor’kan, pemeran utama pula. Tante yakin kalan bisa berimprovisasi di depan wartawan nanti.”
Tak sengaja Fi dan Adrian beradu pandang. Mereka seolah mencari jawaban di wajah mereka masing-masing. Di tengah keheningan itu tiba-tiba pintu bangsal di ketuk. Kemudian muncullah seorang perawat.
“Nona Latifa. Lima belas menit lagi kita akan mulai kemoterapinya. Harap segera bersiap.”
Setelah mengiyakan perkataan perawat itu, Tifa pun kembali membicarakan masalah mereka.
“Baiklah, persiapan akan dilakukan oleh Dave. Kalian tunggu saja kabar darinya. Ingat, jangan pernah angkat Hp kalian kecuali itu dari orang tua atau Dave, atau jika perlu ganti saja nomor dan beritahu orang-orang yang penting saja.
“Dan terakhir, semoga berhasil.”
Pintu bangsal kembali terbuka. Kali ini ada beberapa perawat yang masuk dengan sebuah troli yang penuh obat-obatan. Tampaknya mereka akan segera menyiapkan sesi kemoterapi tersebut. Fi dan Adrian pun diminta menunggu di luar.
“Adrian? Bagaimana Tantemu?”
Perhatian Adrian dan Fi teralih oleh kedatangan seorang wanita tua. Adrian senang melihat kedatangan wanita yang ternyata adalah neneknya.
“Sebentar lagi kemoterapinya dimulai. Kami disuruh menunggu di luar.”
July mengangguk lalu matanya beralih pada sosok Fi yang dari tadi hanya diam. Entah kenapa tatapan July seolah ingin menelisik wajah Fi lebih dalam. Fi pun jadi salah tingkah dibuatnya.
“Kamu anaknya Ican’kan?”
Baik Fi maupun Adrian, keduanya sama-sama terkejut. Mereka tak mengerti kenapa July bisa tahu meski hanya sekali lihat.
“Saya ingin bicara denganmu.” Matanya mengerling pada Adrian. “Kamu tunggu di sini ya. Kalau ada apa-apa, hubungi Nenek.”
Adrian terlihat ragu, tapi ia tak bisa menolak. Ia pun merelakan Fi pergi bersama neneknya.
ooOoo
Tentu saja Fi tidak bisa menolak permintaan itu. Jantungnya berdegup kencang. Otaknya berpikir keras. Mencoba menerka-nerka apa yang akan mereka bicarakan. Apa dia akan dihakimi lagi, seperti Tifa menghakiminya? Atau dia akan dipermalukan di depan umum, seperti saat ini? Namun, apa pun itu Fi sudah menyiapkan diri. Toh semua orang sudah tahu aib-nya.
July mengajaknya berbincang di kafetaria. Tak ada tanda-tanda emosi yang akan meledak dari wanita ini. ia bahkan menawari Fi untuk memesan teh hangat. Namun, tenangnya sikap July semakin memperbesar prasangka buruk di benak Fi.
“Bagaimana kabarmu? Dan ibumu juga?”
“Ti—tidak begitu baik,” Fi menelan ludahnya dengan susah payah. “Ada banyak yang terjadi belakangan ini, tapi Mama saya baik-baik saja.”
July menarik napas panjang, “Sudah lama sekali saya tidak melihat kalian. Pertama dan terakhir adalah ketika namamu berubah.”
Fi tersentak, “Na—nama saya diubah?”
“Ya, apa Selvi tidak memberitahumu?” Sudut bibir July tertarik sedikit saat melihat Fi menggelengkan kepalanya. “ Hmm, wajar Selvi tak memberitahumu karena itu adalah permintaan egois saya dulu.”
Fi merasa ada satu rahasia lagi akan terkuak. Jantungnya berpacu semakin cepat.
“Waktu kami tahu kalau Ican ternyata sudah menikah dan mempunyai anak, kami semua marah. Apalagi ketika Ican membawa Selvi dan kamu yang masih bayi ke rumah. Di saat itu saya tidak bisa menahan amarah saya. Makanya saya memutuskan melarang Ican menggunakan nama belakang yang sama dengan keluarga kami yang lainnya.”
“Maksudnya?” tanya Fi dengan bibir tergigit.
“Mungkin kamu tidak tahu, tapi Ican dan Laksmi serta Tifa adalah sepupu. Ican memiliki nama belakang ‘Kusuma Nugraha’ sama seperti Adrian. Menurut garis keturunan ayah Tifa, untuk anak laki-laki diberi nama belakang ‘Kusuma Nugraha’ dan yang perempuan adalah ‘Kusuma Ningsih’. Makanya sebelum kami mengetahui kalau kamu juga anak Ican, nama aslimu adalah Firdayanti Kusuma Ningsih.
“Tapi kami semua tidak menerima hal itu. Bagi kami, kamu hanyalah anak hasil perbuatan gelap antara orang tuamu. Apalagi waktu itu kami masih berkabung atas kematian Laksmi. Waktu itu juga Ican mengatakan ada kemungkinan kalau Laksmi bunuh diri akibat stres setelah mengetahui kalau Ican dan Selvi berselingkuh. Makanya saya tidak mengizinkan nama ‘Kusuma Ningsih’ melekat pada namamu.”
Tiba-tiba saja Fi menjadi geram mendengar penjelasan itu. Darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun.
“Tapi Mama saya tidak melakukannya dengan sengaja! Dia juga tidak mau jadi perusak rumah tangga orang!”
July menarik napas, “Tenanglah, saya hanya membicarakan masa lalu. Saat ini saya tidak akan menyalahkan siapa pun.”
Fi membuang wajahnya.
“Saat itu memang saat-saat yang panas. Tidak ada yang tahu siapa yang benar siapa yang salah. Semua saling menyalahkan dan mendendam. Tapi seiring waktu berlalu, saya mulai berpikir kalau tetap menyalahkan kalian tidak akan membuat Laksmi hidup kembali. Keadaan juga tidak akan menjadi lebih baik. Makanya saya mencoba memaafkan apa yang sudah terjadi, meski sulit merelakan Laksmi pergi dengan cara seperti itu.
“Tidak apa. Saya sudah menerima kamu dan ibumu dalam keluarga saya. Sayang, kejadian ini sungguh di luar kuasa saya. Saya ikut prihatin dengan apa yang terjadi padamu dan Adrian. Saya tahu, kamu dan Adrian pasti banyak mengalami masalah.”
Mata Fi terasa panas. Lelehan air sudah memenuhi kantung air matanya.
“Dan masalah Tifa, saya harap kamu mengerti. Kehilangan kakak dan ayah dalam waktu berdekatan tentu akan merubah watak seseorang. Meski saya tidak menyukai sifat pendendamnya, tapi saya juga tidak bisa menyalahkannya. Saya juga akan berusaha membujuk Tifa agar tidak terlalu membenci kalian lagi.”
Terdengar kaki kursi berderak. Fi tak terlalu mengindahkan July yang sudah beranjak. Kepalanya terlalu berkelut dengan permasalahan dan hatinya masih bergumul dalam emosi. Tanpa sadar air matanya meleleh menuju gravitasi. Ia baru menyadari ketika July menepuk lembut bahunya.
“Kuatkan dirimu. Masih banyak hal yang masih harus kamu hadapi,” July lalu tersenyum lembut. “Ngomong-ngomong, kamu boleh memanggilku Nenek.”
Kalimat terakhir July bagaikan angin segar di musim panas. Begitu menyejukkan sampai-sampai Fi tak kuasa melepas isaknya. Ternyata Tuhan masih mengirimkannya orang baik ketika seluruh dunia memusuhinya.
“Te—terima kasih, Nek.”

1 komentar:

  1. sedikit kaget ..
    kirain pas ketemu tifa bakalan kena sembur lagi
    eh ternyata gak =D

    penasaran , gimana mereka menyikapi berita yg udah terlanjur menyebar
    author pelit =,= cuma 2 chap aja

    ngmg2 semakin lama gaya penulisan author semakin hidup (y)
    baca ini setelah selesai beres2 kamar , sekalian buat nemenin malem minggu dengn sepiring pempek hahahahaha

    BalasHapus