Musikal 122
Ririn tak sengaja
berpapasan dengan Fi saat ia baru akan masuk pintu gerbang sekolah. Mata mereka
bertemu ketika Fi baru saja turun dari mobil. Hanya saja ia merasa risih dengan
cara Ririn menatapnya pagi itu.
“
Apa?” tanyanya ketus.
Ririn
masih termangu. Namun, saat sadar Fi melewatinya, ia buru-buru mencegah
kepergian gadis itu.
“
Ada apa sih?”
Kebiasaan
Ririn menggaruk ujung hidungnya kembali kumat, “ Ahh, Fi. Apa sebaiknya kamu
gak usah masuk sekolah dulu?”
Fi
menatapnya heran, “ Memangnya apa alasan kamu melarang aku masuk sekolah?”
Mendengar
jawaban Fi, giliran Ririn yang menatapnya heran.
“
Lho, kamu memangnya gak baca berita? Nonton gosip pagi mungkin?”
“
Semalam Hp-ku kumatikan dan baru sadar kalau memang habis baterei. Nih, baru
saja di-charge di mobil,” Fi
menunjukkan layar ponselnya yang sedang dalam proses booting. “ Aku gak langganan Koran dan aku juga gak suka nonton
gosip di TV. Jadi, apa ada hubungannya antara semua itu dengan larangan aku gak
boleh masuk sekolah?”
Ririn
menarik napas panjang. Terlihat rasa takut dan ragu dari tatapan matanya.
“
Dengar, Fi. Keributan di kafe waktu itu, ternyata direkam seseorang dan semalam
orang iseng itu sudah menyebarkannya. Semua orang heboh karena skandal video
itu.”
Tubuh
Fi mengejang, matanya terbelalak. Seketika ia mengguncang-guncang bahu Ririn.
“
Siapa? Siapa orang yang merekamnya?”
“
A—aku gak tahu, Fi,” Ririn menjawab dengan gugup. “ Tapi aku berani sumpah
kalau bukan aku yang melakukannya. Aku juga berani jamin kalau Priyanka, Alexi,
Hiro dan Jiro senpai juga tidak
terlibat.”
Tangannya
Fi mencengkram bahu Ririn lebih kuat. Di saat yang sama, ponselnya baru saja
aktif dengan sempurna. Di saat itu pula puluhan pesan masuk. Disusul dengan
deringan telepon yang tak putus-putus.
Tak
perlu dilihat, Fi sudah tahu siapa yang akan kerepotan bila ada skandal yang
menyangkut dirinya tersebar luas. Kalau bukan pihak manajemennya, pasti
orang-orang dari media. Mereka adalah orang-orang yang sensitive walau hanya
masalah kecil, apalagi skandal besar seperti ini.
“
Fi… teleponmu….”
Ponsel
yang ada di tangannya tak ayal berubah bagaikan bongkahan es yang mampu
membuatnya menggigil. Ia melirik layar ponselnya dengan takut. Setelah
memastikan nama yang tertera berasal dari pihak manajemen, barulah ia
memberanikan diri mengangkat deringan itu.
Seperti
yang ia duga, setelah sapaan halo, sederet pertanyaan langsung dilayangkan
kepadanya. Tentu saja mengenai skandal video itu. Bagaimana yang sebenarnya
terjadi, siapa yang merekam, dan masih banyak lagi.
Fi
merasa pusing. Dunia telah berputar lebih cepat dari biasa. Tubuhnya limbung
dan jika tak ada Ririn di sana, mungkin ia sudah terkapar pingsan.
“
Fi, kamu baik-baik saja?”
Ririn
tak bisa menebak ekspresi gadis itu. Perasaan marah, bingung, dan sedih
semuanya tergambar di sana. Fi tak menjawab pertanyaannya. Hanya terdengar
desah napasnya yang pendek-pendek.
Di
tengah kebingungannya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Si
pemilik mobil itu turun dan menghampiri keduanya. Ririn cukup kaget saat
mengetahui kalau si pemilik mobil adalah pamannya sendiri.
“
Om, sedang apa di sini?”
“ Om
di sini untuk membawa Fi,” Dave kemudian menatap Fi. “ Fi, keadaannmu dalam
gawat. Kamu ikut saya dan tidak usah sekolah hari ini. Akan ada banyak pers di
luar sana dan akan menyusahkan semua orang kalau kamu masih di sini.”
Fi
masih bergeming, sedangkan Ririn terlihat bingung.
“
Ini perintah langsung dari Tifa,” ujar Dave.
Mendengar
nama itu amarah Fi langsung meledak, “ Kenapa? Kenapa aku harus menurutinya?
Kenapa semua orang harus menuruti kehendaknya? Hanya karena dia seorang
sutradara, bukan berarti aku harus selalu tunduk padanya.”
“
Masuklah, Fi. Kita tidak punya banyak waktu.”
Kaca
mobil Dave tiba-tiba turun lalu tampaklah seorang pemuda dari dalam mobil. Baik
Fi maupun Ririn, mereka sama-sama terkejut saat melihat sosok Adrian dari balik
kaca mobil.
Ririn
berdeham, “ Kupikir kamu harus ikut, Fi. Mungkin Miss Tifa sudah punya rencana untuk meredakan situasi ini.”
Perasaan
Fi semakin kacau balau saat matanya bertemu pandang dengan Adrian. Kenapa semua
masalah menumpuk jadi satu dalam tempo yang sangat singkat. Mau tak mau
akhirnya ia digiring Dave masuk ke mobil. Saat ini ia memang sama sekali tak
punya pilihan untuk menghindar.
“
Rin, kamu sekolah saja baik-baik. Jangan bicarakan apa pun mengenai kasus ini!
Demi nama baik kita semua.”
Ririn
mengangguk pelan. Kemudian mobil itu pun perlahan meninggalkannya. Hanya
kepulan asap sisa pembakaran yang masih di sana. Gadis itu melangkahkan kakinya
menuju gerbang sekolah. Hatinya berdebar-debar membayangkan bagaimana reaksi
teman-temannya pagi ini.
ooOoo
Benar saja, semua
pembicaraan pagi ini heboh oleh skandal video itu. Saat Ririn melangkahkan ke
kelas, pembicaraan pun masih sama, bahkan lebih heboh. Ia tak berniat menyapa
siapa pun karena ia pasti akan terlibat pembicaraan itu. Bahkan ia hanya
bertukar pandang dengan Priyanka, meski gadis itu juga tak berniat
membicarakannya.
“ Sudah nonton video Fi dengan Adrian?”
“ Ya, ampuuun. Aku tidak menyangka kalau mereka
ternyata bersaudara.”
“ Ihh, padahal kemarin sombong sekali saat mereka
mengumumkan tentang hubungan mereka.”
“ Hahaha, rasakan! Dasar sombong!”
Suasana
terasa bising dan panas. Caci maki terdengar di sana-sini. Tawa penuh cibiran
tak kalah membahana membahana. Ririn hanya berharap sesi belajar hari ini
dimulai lebih cepat dan berakhir lebih lama, supaya orang-orang itu bisa
mengalihkan pembicaraan mereka.
Bel
istirahat berbunyi. Pembicaraan menyebalkan itu kembali terulang. Semua orang
membicarakannya, termasuk Andani. Gadis itu terlihat sangat bersemangat saat
membicarakan perihal skandal video itu. Ririn jadi malas untuk mengajak Andani
ke kantin. Ia melirik bangku Alexi, tapi si pemilik bangku sudah lebih dulu
meninggalkan kelas lalu disusul Priyanka. Sepertinya kedua orang itu tidak mau
terlibat dalam pembicaraan menyebalkan ini karena sedikit saja informasi itu
bocor maka gosip langsung merebak bak virus.
Akhirnya
Ririn mengikuti langkah kedua orang itu. Namun, ia bingung mau ke mana ia
pergi. Ia memutuskan untuk perpustakaan. Baru saja beberapa langkah
meninggalkan kelasnya, ia langsung disambut oleh teman-teman dari kelas
terdahulunya.
“
Hei, Rin. Lama gak ketemu. Mau ke mana?”
“ Ke
perpustakaan. Kalian mau ke kantin?”
“
Iya. Eh, Rin. Kita-kita mau pada tahu dong soal skandal video itu.”
Ririn
mendesah berat. Lagi-lagi itu.
“ Iya
nih, Rin. Itu video beneran gak sih? Terus Fi dan Pangeran Adrian itu beneran
kakak-adik?”
Dan
masih banyak lagi. Ririn terlalu panik sampai-sampai ia lupa menggaruk ujung
hidungnya. Pertanyaan itu terlalu mendesaknya sehingga sulit baginya untuk
tetap tutup mulut.
“ Ya
ampun, Rin. Di sini kamu! Ditungguin dari tadi!”
“Kak
Dela….”
Seniornya
yang manis ini tanpa babibu langsung menarik Ririn dari kerumunan. Kehadiran
Dela seperti penganggu yang merusak acara interograsi. Namun, bagi Ririn, Dela
justru menjadi malaikat penyelamat.
“Maaf
ya, gadis-gadis. Nih anak sudah aku tungguin dari tadi. Kalau kalian mau bicara
sama dia, nanti ya setela pembicaraan kami selesai.”
Terdengar
nada-nada kecewa ketika Dela membawa Ririn pergi. Ririn sama sekali tidak
menoleh ke belakang. Ia takut kalau teman-temannya berniat mencegahnya pergi.
Ia juga tidak bertanya ke mana Dela akan membawanya pergi. Namun, hatinya
menjadi tenang saat mereka sampai di depan pintu dengan plang bertuliskan ‘KLUB
KORAN’.
“Gak
ada tempat yang aman, hm?” ujar Dela seraya mendorong pintu tersebut.
Tak
ada yang berubah dari tempat itu. Suasana tetap tenang. Hanya terdengar suara
ketikan keyboard, printer yang
berderit, suara kertas yang dibolak-balik, dan sedikit tertutupi dengan alunan
musik pop lembut. Aroma tinta yang baru menempel di kertas bercampur dengan bau
khas buku-buku lama menambah kesan menenangkan dalam ruangan itu. Tidak ada
keramaian, tidak ada skandal video, dan tidak ada ocehan-ocehan yang penuh
dengan nada saling tuduh.
Ririn
selalu merindukan tempat ini.
“
Hai, Rin!” sapa Mirna yang pertama kali menyadari kehadiran mereka. Matanya
mengerling jahil pada Dela. “Kamu kayak kepanasan gitu, Del. Di luar panas ya?”
“Gak
tahu ah!” dumal Dela seraya menyambar sebuah komik dan membuka halamannya
dengan kasar. “Yang jelas bikin budeg.”
Mirna
tertawa, “Eh, duduk, Rin. Tuh ada marshmellow
bawaan Sulis. Dimakan gih.”
Ririn
mengambil tempat di sebelah Dela. Kemudian gadis bernama Sulis itu mendekati
Ririn dengan satu eksemplar Koran yang baru terbit.
“Nih,
Rin. Koran kita udah jadi. Bahasannya tentang pementasan kamu. Coba deh kamu
baca.”
Ririn
membaca sekilas headline pada
lembaran Koran itu. Hatinya senang karena tak satu pun berita yang memuat gosip
tak jelas.
“
Rencananya besok baru mau kita sebarin,” sahut Mirna. “Semoga berita-berita
positif di sini bisa meredam gosip yang lagi beredar sekarang.”
Ririn
mendesah berat, “Kalian juga tahu?”
“Tentu
saja, tapi kami bukan seperti mereka yang di luar sana. Ini klub Koran bukan
geng rumpi. Kita membahas fakta bukan gosip.”
Jempol
Ririn teracung untuk Mirna. Senang rasanya menemukan oasis di tengah-tengah
Sahara yang tandus.
“Oh
iya, Rin. Aku mau tanya soal mitos Love
Musical,” ujar Sulis.
“Mitos
yang mana ya?” tanya Ririn.
“
Itu loh, mitos yang bilang kalau sedang jadi pemeran utama Love Musical, dia gak boleh pacaran dengan sesama anggota. Kalau
dilanggar nanti kisah cintanya bakalan berakhir tragis.”
Napas
Ririn tercekat di tenggorokan. Oom-nya pernah mengatakan hal itu dan ia sempat
tidak memercayainya. Sayangnya, mitos itu seolah terbukti pada hari ini.
“Maksud
kamu, itu ada hubungannya dengan kejadian hari ini, Lis?” sahut Mirna. “Eh,
kita’kan sudah janji kalau gak bakal bahas-bahas masalah itu? Apalagi di depan
Ririn.”
“
Aku bukan mau bahas masalah itu, Kak,” bela Sulis. “ Aku cuma mau nanya soal
mitos itu aja. Soalnya bukan kali ini aja kejadian. Bahkan katanya―”
PUK!
Kemudian terdengar suara Sulis mengaduh. Ternyata Dela dengan sengaja memotong
kata-kata Sulis dengan memukul kepala gadis itu dengan punggung komik.
“
Sulis… dengar gak kata Mirna tadi? Kita ini cuma bicara fakta dan bukan gosip.
Dan mitos termasuk gosip, paham?”
Sulis
merengut lalu mengomel pada Dela. Pembicaraan seputar mitos pun berhenti, tapi
semua fakta yang berkaitan dengan mitos itu masih berputar di kepala Ririn.
Entah kenapa korelasi antara semua kejadian yang ada dengan mitos tersebut
membuat bulu kuduknya merinding. Tiba-tiba saja ada paranoid yang menghantui
Ririn ketika ia membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
padahal tadi baca lewat ponsel..
BalasHapustp gemes kalo gak buat komentar , langsung nyalain lapt
rekomendasi bnget , gak sia-sia nunggu update tiap minggu
cerita nya hidup gak pernah bosen....