Total Tayangan Halaman

Minggu, 02 April 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 140)




Musikal 140

Fi memeluk lututnya. Ruangan sudah tak ada orang selain dirinya. Kesepian semakin menambah dingin hatinya. Perlahan air mata membasahi pipinya.
Kenapa tak ada yang membelanya? Kenapa semua orang justru menyalahkannya? Dia hanya melakukan sesuatu yang harusnya memang ia lakukan. Hanya karena sedikit arogan maka semua orang berhak merundungnya. Cukup. Fi sudah tak tahan lagi.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Ia buru-buru menghapus air matanya. Ruangan cukup gelap karena sepertinya tak ada seorang pun yang berbaik hati untuk menyalakan lampu. Dari suara pintu yang terbuka terdengar suara langkah kaki yang memasuki ruangan. Fi langsung waspada, ia khawatir kalau-kalau penjahat sedang beraksi.
“Permisiii, ada orang di sini?”
Fi agak meragukan kalau orang itu adalah penjahat karena tidak mungkin seorang penjahat beraksi dengan memberi salam terlebih dahulu. Meski begitu Fi belun lepas dari perasaan curiga. Mana tahu ia berurusan dengan sosiopat. Apalagi nada suaranya terdengar seperti laki-laki
“Halooo, permisiii!”
Fi pun menampakkan diri. Seketika laki-laki itu melompat kaget. Untung dia tidak sampai berteriak.
“Astaganaga, bikin kaget aja! Kirain gak ada orang!”
Laki-laki itu memperhatikan kaki Fi dengan seksama. Kemudian ia tersenyum mantap.
“Bagus, ternyata kamu cewek asli.”
“Sialan, kamu pikir aku hantu apa?” omel Fi. “Eh, kamu ini siapa?”
“Wah, masa kamu gak tahu siapa aku. Padahal aku tahu loh siapa kamu.”
“Bukannya tadi kamu kira aku ini hantu?”
Lelaki itu tertawa, “Bercanda, aku tahu siapa kamu. Si cantik pemeran utama’kan? Kemarin aku titip salam sama Kemal buat kamu.”
Fi tersentak, “Eh, jadi kamu kakaknya Kemal? Ngapain kamu ke sini?”
“Haduuuh, kamu ini pikun akut yah. Masa kamu lupa sama petugas lighting kamu sendiri?”
“Oh, maaf. Aku gak memerhatikan,” jawab Fi sambil bersedekap.
“Eh, kenapa Cuma kamu yang ada di sini? Mana yang lain? Tadi pagi aku ditelepo, katanya ada lampu yang rusak. Aku datang ke sini buat benerin lampunya, tapi pas datang kok malah sepi. Aku kira salah hari.”
“Tadi ada insiden. Jadi, latihan dipercepat.”
Rafi mengangguk, “Terus kenapa kamu sendirian di sini? Mana gelap lagi. Nanti kalo kamu diculik kolong wewe loh.”
Fi terkekeh, “Apaan tuh kolong wewe? Hantu jenis baru ya?”
Rafi tak lantas menjawab. Ia hanya tersenyum sambil menatap Fi. Gadis itu pun menjadi salah tingkah.
“Kenapa senyum-senyum gak jelas gitu?”
“Aku senyum karena lihat kamu senyum. Ternyata lebih manis dari yang aku kira.”
Sial, Fi malah jadi merona. Padahal saat ini bukan waktu yang tepat untuk tersipu.
“Kamu kayaknya lagi ada masalah,” Rafi menunjuk pipinya. “Tuh, air mata kamu belum kering.”
Buru-buru Fi menghapus sisa air matanya yang tadi tak sempat ia lap, “Percuma, aku gak bakal cerita sama kamu,” ujar Fi sambil memalingkan wajah.
“Aku juga gak nuntut kok.”
Rafi tertawa sementara bibir Fi makin manyun.
“Ya udah deh, aku balik lagi besok,” Rafi melirik arlojinya. “Kamu masih mau di sini? Udah malam loh.”
Fi mendesah pendek. Laki-laki kembali terlihat senang.
“Aku bersedia menawarkan jasa antar ke rumah.”
“Gak perlu. Aku bisa sendiri.”
Tepat setelah Fi keluar dari gedung, petir besar mengagetkannya. Kalau sudah terdengar letusan dari langit seperti ini maka tak akan diragukan lagi akan turun hujan besar sebentar lagi.
Melihat Fi mundur kembali, Rafi tertawa renyah.
“Aku bawa mobil loh,” Rafi mulai melancarkan aksinya. “Tenang aja, aku bukan pedagang organ tubuh atau mucikari pencari gadis di bawah umur.”
“Ya udah, awas kalau nyimpang jauh ya!”
Rafi terkekeh. Seram juga ternyata membawa tuan putri. Namun, selama perjalanan keduanya lebih banyak diam. Gadis itu banyak menghabiskan waktunya untuk memandangi ke luar jendela.
“Ada yang mau katakan?”
Jangankan menjawab, melirik pun tidak. Namun, bukan Rafi jika tidak berhasil mendapatkan perhatian wanita.
“Kalau gitu bicara apa saja. Rasanya bosan diam-diam saja seperti ini. Radioku sedang rusak.”
“Aku sedang tidak minat.”
Dan Rafi masih terus berusaha.
“Kalau begitu aku boleh tanya. Kapan aku bisa memperbaiki lampu kalian yang rusak itu? Kapan kalian latihan lagi?”
“Kenapa tidak tanya adikmu saja?”
“Kan ada kamu di sini. Kemal di rumah. Mending aku tanya duluan ke kamu.”
Fi mendesah pendek, “Harusnya lusa, tapi karena insiden tadi kupikir kami tidak akan latihan lagi.”
“Lagi? Maksudmu insiden ini pernah terjadi sebelumnya?”
“Bukan insiden macam-macam,” akhirnya perhatian Fi dari jendela sedikit teralih. “Sutradara kami sakit dan tadi dia pingsan. Makanya latihan kami dipercepat.”
“Sakit apa?”
Fi berpikir sejenak sebelum langsung menjawab pertanyaan Rafi. Meski Adrian tidak pernah mengatakan untuk merahasiakan mengenai penyakit Tifa, tapi ia yakin jika ia menyebarkan berita tentang penyakit Tifa maka skandal besar kedua akan kembali merebak. Jika itu terjadi maka akan kembali menjadi tersangka.
“Pokoknya cukup mengkhawatirkan.”
Rafi mengangguk paham, “Tapi kalau cuma begitu, kenapa kamu malah sendirian di sana? Kamu ditinggalin teman-temanmu? Atau kamu lagi dikerjain?”
Fi kembali diam. Ia tak yakin mengatakan pada orang asing, tapi Rafi mungkin bukan tipikal mulut ember meski bibirnya penuh dengan kata-kata manis.
“Tidak ada keduanya. Mereka cuma salah paham saja. Aku hanya berniat baik, tapi mereka memandangnya sebagai sesuatu yang arogan.”
“Hoo, gitu,” Rafi mengangguk. “Tapi kamu suka kucing’kan?”
Fi menatap Rafi bingung, “Kenapa tiba-tiba jadi ke kucing sih?”
“Ya, aku cuma tanya kamu suka kucing gak? Semua kucing ya, termasuk kucing liar yang doyan di sampahan.”
“Hmm, iya. Aku suka kucing. Terus apa hubungannya?”
Rafi tersenyum puas, “Itu artinya kamu bukan penjahat. Ya, kecuali kamu psikopat yang suka kucing. Hahahaha…”
“Aku masih gak ngerti.”
“Maksudku kamu bukan orang jahat dan kalau kamu orang jahat kamu gak bakal berbuat jahat. Salah bisa jadi, tapi kita tentu gak mau menyakiti orang lain, bukan? So, biarkan saja orang benci kita, selama apa yang kita lakukan adalah murni untuk menolong orang lain.”
Mungkin terdengar seperti candaan, tapi itu sudah lebih cukup untuk Fi. Orang ini sepertinya lebih paham dengan apa yang Fi inginkan. Fi hanya butuh sedikit pembelaan karena ia yakin ia tak melakukan kesalahan.
“Benar rumahmu yang di depan itu?”
Fi tersentak. Ternyata cukup lama ia melamun setelah percakapan terakhir mereka. Heran, kenapa Rafi tak menganggunya di saat lamunan terakhir.
“Kamu ada tamu?”
Sosok Priyanka yang sedang menunggunya di depan rumah membuat Fi heran. Untuk apa malam-malam begini gadis itu ada di sana.
“Maaf, aku duluan,” ujar Fi seraya beringsut turun. Kemudian ia berseru, “Priyanka!”
Priyanka yang tadi sibuk dengan ponselnya langsung buru-buru menghampiri Fi. Wajahnya terlihat lega saat Fi memanggil namanya.
“Kamu pulang, Fi? Oh, syukurlah.”
“Kamu pikir aku bakalan kabur dari rumah?”
Priyanka mendesah pendek, “Kamu ini, aku cemas banget sama kamu. Kok kamu malah jutek gitu?”
“Maaf, maaf,” Fi tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah khawatir.”
Perhatian Priyanka langsung teralih tatkala Rafi turun dari mobil. Ia sama sekali tak menyangka kalau Fi bisa diantar pulang dengan laki-laki itu.
“Jangan bilang kamu pulang sama cowok itu?”
“Sayangnya, aku bilang,” Fi mendesah panjang.
Priyanka tersengat kaget, “Oh my God, kok bisa?”
“Cuma kebetulan dan kamu gak usah mikir macam-macam!”
Priyanka melirik Rafi sekilas. Pemuda itu langsung mengeluarkan seringai khas Casanova. Mengingatkan pada playboy cap jempol dari kelasnya. Priyanka pun jadi bergidik melihatnya.
“Yang jelas aku baik-baik aja. Sekarang kamu pulang ya, sudah malam. Nanti orang tuamu malah yang cemas.”
Priyanka mengangguk lalu memeluk Fi, “Hubungi aku kalau kamu butuh bantuan. Aku bakal selalu ada di pihak kamu. Maaf ya, tadi aku gak bisa belain kamu.
Fi tersenyum kecil. Ia balas pelukan itu dengan menepuk pundak sahabatnya.
“Terima kasih.”
Kemudian Fi juga menoleh pada Rafi, “Terima kasih, eng….”
“Rafi. Ingat namaku!”
“Terima kasih, Kak Rafi.”
Rafi tersenyum jumawa. Kemudian ketiga orang itu pun berpisah. Namun, sebelum masuk ke dalam, Fi masih memerhatikan laju mobil Rafi yang meninggalkan kepulan asap di depannya. Entah kenapa Fi bisa tersenyum di penutup harinya.
‘Tidak. Aku benar-benar berterima kasih….’

1 komentar: