Total Tayangan Halaman

Minggu, 30 April 2017

LOVE MUSICAL Extraordinay (Musikal 147)




Musikal 147

“An, buruan!”
Andani buru-buru memasang tali sepatunya setelah melihat ekspresi saudarinya yang sudah tak sabar. Ia melangkah cepat menuju jok belakang motor. Ketika Anjani siap menjalankan motornya, tiba-tiba saja sebuah mobil tengah menuju ke rumah mereka. Anjani terpaksa menunda laju motornya.
“Siapa, Jane?”
“Kayaknya aku tahu deh itu mobil siapa,” ujar Anjani dengan kening berkerut saat mengamati mobil tersebut karena terasa familier di matanya. “Kalau gak salah itu mobil…”
Baru saja Anjani mau menyebutkan sebuah nama, si pemilik mobil turun. Dugaan Anjani tepat. Mobil itu milik Hasegawa bersaudara, tapi yang turun adalah supirnya. Siapa lagi kalau bukan Mori.
“Selamat pagi, Anjani-chan, Andani-chan!”
“Se—selamat pagi!” balas Andani dan Anjani hampir berbarengan.
“Maaf mengganggu, tapi kedua tuan saya meminta saya untuk menjemput Andani-chan ke sekolah.”
Kening Anjani langsung berkerut, “Hanya Andani?”
“Anjani-chan juga boleh ikut,” Mori menampilkan senyuman maafnya.
Andani menatap saudarinya bingung lalu bergantian menatap Mori, tapi ia justru semakin bingung.
“A—anu, Pak Mori. Kami sudah mau berangkat ke sekolah. Saya pergi dengan Anjnai saja.”
Pintu mobil kembali terbuka lalu muncul sosok Hiro dan disusul Jiro. Jiro tersenyum hangat sementara Jiro terlihat kusut.
“Sudah kubilang’kan, menjemputnya di pagi hari adalah ide yang buruk,” ujar Hiro.
“Berisik! Aku tidak minta pendapatmu!” Jiro menjawab dengan kelingking yang sibuk mengorek telinga.
“Selamat pagi, Andani-chan, Anjani-chan!” sapa Hiro seraya memberikan tabletnya pada Andani. “Ah ya, kemarin kamu bilang sedang mencari referensi untuk karya tulismu. Ini aku carikan beberapa referensi.”
“Re—referensi bagaimana?” tanya Andani.
“Aku mengunduh beberapa buku elektronik. Kalau tidak salah kita kemarin bertemu di rak buku sastra, ya? Jadi, aku carikan beberapa referensi buku sastra di sini. Kamu boleh pinjam tabletku.”
“Wah, Senpai kok bisa langsung menebak? Eh, tapi benar tabletnya boleh kupinjam? Nanti kalau Senpai mau pakai bagaimana?”
Hiro kembali tersenyum, “Tidak masalah. Aku punya laptop dan smartphone. Aku bisa pakai itu kalau aku membutuhkan sesuatu.”
Andani tak berhenti mengucapkan terima kasih. Melihat wajah Andani berubah cerah, mendadak mood Jiro jadi jelek. Perasaan kesal itu membuatnya ingin menendang sesuatu. Namun ia tak mungkin melakukan itu di depan semua orang. Ia harus segera pergi sebelum amarah benar-benar membuatnya melakukan hal itu.
“Mori-san, ikuzo!”
Mori masih bingung antara menuruti kehendak Jiro atau menunggui Hiro dulu. Merasa diabaikan, Jiro pun mulai merajuk.
Hayaku, Mori-san!”
Mori buru-buru pamit pada si kembar Bramastya kemudian memberi kode pada Hiro. Bisa gawat kalau Jiro sudah merajuk.
Jaa, kami duluan ya. Sampai ketemu di sekolah!”
Mobil itu pun melaju pergi, tetapi masih menyisakan kebingungan bagi Andani juga Anjani. Mereka yang tadinya terburu-buru, malah berubah mematung di tempat.
“Tadi itu kenapa, ya?” Andani memecah kebisuan.
Anjani menggeleng, “Aku juga gak ngerti. Memangnya ada apa sih antara kamu dengan kedua orang tadi?”
Andani ikut menggeleng. Sejurus kemudian ia berubah panik, “Ya ampun, Jane! Ini jam berapa? Kita bisa telat nih!”
“Oh iya!” Anjani buru-buru menyalakan motornya dan saudarinya segera melompat di sadel. “Sialan, ini gara-gara si Jepang!”
ooOoo
Jiro benci sekali ketika ia harus terus berdampingan dengan orang yang sekarang sedang membuat hatinya kesal. Ia tak bisa ke mana-mana karena ia tengah berada di negeri orang dan Mori tepat ada di depannya. Mungkin ia bisa saja kabur saat jam istirahat nanti, tapi orang menyebalkan di sebelahnya ini bisa-bisa mencuri kesempatan selagi ia tak ada. Ya, kesempatan yang selama ini cari.
Kesempatan mendekati Andani.
Sejak awal kedatangan mereka, Jiro sangat tertarik dengan Andani. Penampilan gadis itu sangat feminin. Meski gadis itu sedikit cerewet kalau sudah berkumpul dengan teman-temannya, tapi hal itulah yang membuat gadis itu cepat akrab dengan anggota Love Musical. Bahkan Andani berani mengenalkan dirinya lebih dulu ketika mereka pertama bertemu. Ia sedikit menyesal karena tak mendengarkan nasihat Hiro dulu. Sudah tabiat Jiro jika ia menyukai sesuatu maka keagresifannya muncul. Ia ingin segera memilikinya, tapi sayang hal itu tak berlaku pada gadis ini. Semakin didekati, ia malah semakin menjauh. Malah cenderung menjauhinya.
Jiro tak mengerti kenapa gadis itu selalu membuat jarak ketika mereka bertemu. Padahal ketika ia berhasil mendamaikan perdebatan gadis itu dengan saudarinya, ia pikir mereka akan menjadi lebih dekat. Ternyata selepas gadis itu keluar dari rumah sakit, ia justru semakin sulit untuk bertemu dengan gadis itu.
Hiro memang bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Jiro. Meski tidak memaksanya untuk mengakui apa yang ia pikirkan, tapi Hiro pernah memberikan nasihat untuk tidak terlalu menggoda gadis itu. Andani bukan tipe gadis yang tahan bila didekati terus-menerus. Ia akan merasa seperti diteror. Sayang, Jiro tak paham dengan maksud kembarannya.
Kalau kemarin dia menyesal karena tak mendengar perkataan Hiro, sekarang ia kesal dengan pernyataan Hiro yang bilang kalau ia juga menyukai gadis itu. Ia tahu, ia pernah menjauhi Hiro, tapi bukan karena ia membenci Hiro. Entah kenapa sekarang ia benci sekali kalau Hiro harus menjadi saingannya. Tak masalah jika ada jutaan pria yang akan menjadi saingannya, tapi jangan Hiro.
Ia ingin berhenti menganggap Hiro sebagai saingannya.
ooOoo
Bel istirahat berbunyi. Tak seperti biasanya, Hiro mendadak buru-buru keluar kelas. Merasa ada yang aneh, Jiro pun menanyakannya.
“Mau ke mana?”
“Kantin,” kemudian Hiro tesenyum menggoda. “Mungkin bareng Andani-chan.
“Kenapa kamu harus menyukai dia juga?”
Suara Jiro terdengar cukup keras. Beberapa orang mulai memerhatikan mereka.
“Apa itu urusanmu? Dia’kan bukan milikmu.”
Hiro benar-benar memprovokasinya. Untung saja ia tidak lupa kalau sekarang mereka ada di tempat umum. Jiro juga masih bisa menyensor nama Andani dalam percapakan mereka. Bisa jadi masalah jika orang-orang tahu siapa yang sedang mereka perbincangkan.
“Terserah saja.”
“Mau minggat?”
Langkah Jiro seketika berhenti. Ia hanya ingin pergi, tapi tidak bermaksud meninggalkan sekolah. Baru kali ini ia ingin berlama-lama di sekolah.
“Bukan urusanmu!”
Jiro meninggalkan kelas tergesa-gesa. Ada seulas senyum tipis di wajah Hiro saat melihat kepergian kembarannya. Ia tahu langkah itu hanya langkah Jiro yang sedang ngambek, bukan Jiro yang diam-diam akan minggat.
ooOoo
Rupanya Hiro serius dengan ucapannya. Hal ini membuat seisi kelas Andani menjadi heboh. Tiba-tiba saja laki-laki tampan ini menghampiri kelas dan langsung mengajak Andani ke kantin. Bahkan Ririn yang sering mendapat adegan kejutan dalam hidupnya masih merasa kalau kedatangan Hiro merupakan keajaiban di dalam mimpi.
Lalu bagaimana Andani? Tak usah ditanya bagaimana ekspresinya saat ini. Ini seperti ketika ia membayangkan Sehun dalam sebuah fanfiction. Meski mereka sering bercengkrama, tapi itu semua mereka lakukan ketika latihan. Jika kejadiannya lepas dari latihan maka akan dianggap sebagai kejutan luar biasa.
“Hi—Hiro Senpai tidak salah ajak’kan?”
“Tidak kok. Kenapa, kamu pikir aku bakal nyulik kamu? Kalau kamu masih ragu, kamu boleh ajak Ririn-chan kok,” Hiro mengedipkan matanya.
Hiro memang mengajak, tapi dalam kutipan ‘sedikit memaksa’. Andani memasan tampang memelas pada Ririn. Seperti biasa, gadis ikal itu tidak akan tega melihat temannya berjuang sendirian. Akhirnya Andani menyetujui ajakan itu asalkan Ririn juga ikut dan Hiro tetap senang seperti sedia kala.
“Uwah, adikmu curi start tuh,” komentar Wenda sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya. “Hebat juga Hiro Senpai bisa kepincut sama dia.”
Anjani mengangkat bahu, “Dari tadi pagi tuh.”
“Serius?” ekspresi Wenda berubah antusias. “Andani pakai pelet, Jane?”
“Dih, mana aku tahu,” jawab Anjani sambil tertawa.
“Wah, wah, tumben kamu gak pakai acara iri-irian kaya zaman dulu,” sahut Kemal.
“Kalau masalah yang kayak begini aku gak pernah ada rasa iri tuh,” kening Anjani berkerut. “Tapi aku heran aja, setahuku kemarin yang kejar-kejar Andani itu Jiro Senpai, tapi kenapa sekarang malah berubah haluan?”
“Mumpung kembar ini, Jane. Dapat yang mana sama aja’kan?” Ben ikut menimbrung.
“Tapi kasihan Andani jadinya,” balas Anjani dengan nada simpati.
“Alaaah, bilang aja kamu iri lagi,” Kemal kembali menggodanya.
Anjani menggeram, “Sekali lagi kamu bilang gitu, sepatuku melayang nih! Udah ah, ke kantin aja yuk, Wen. Di sini banyak setannya. Berisik!”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar