Musikal 141
Untuk kesekian kalinya ketika Tifa membuka mata, ia
mendapati dirinya dalam ruangan putih. Kali ini ia sudah lebih terbiasa.
Otaknya bekerja cepat untuk mengingat hal terakhir yang membawanya ke tempat
ini. Ingatannya yang baru saja samar-samar kembali langsung hilang ketika
mendengar Adrian yang berseru.
“Oh Tuhan, syukurlah
Tante sudah sadar!”
Di sebelah Adrian
turut hadir Gloria. Wanita itu terlihat sama leganya seperti Adrian. Tifa tak
menyangka kalau Gloria bersedia mengantarkannya ke rumah sakit.
“Sudah berapa lama aku
pingsan?”
“Dua—tiga jam
mungkin,” ujar Gloria. “Dokter belum bisa memastikan penyebabmu pingsan, tapi
sepertinya kamu harus bedrest lagi.”
Tifa mengangguk
pelan, “Kalian sudah hubungi Dave?”
“Kamu mau aku hubungi
dia?” Gloria mengeluarkan ponsel dari sakunya.
“Tidak usah. Nanti
urusan perusahaannya gak selesai. Beri tahu dia tiga hari lagi saja. Kalau kamu
bersedia, hubungi saja ibuku.”
Gloria mengangguk
lalu ia meminta izin untuk keluar sejenak. Tinggallah Adrian dan Tifa saja di
bangsal itu. Sejak Tifa membuka matanya, ia merasakan Adrian menggenggam
tangannya begitu erat. Kekhawatiran di wajahnya pun belum sepenuhnya hilang.
“Maaf, Tante sudah
membuatmu cemas lagi.”
“Aku panik. Aku
seperti orang gila tadi,” Adrian mendesah berat. “Tante benar-benar mengejutkanku.”
“Tante akan lebih
berhati-hati lagi. Tante janji.”
Adrian mengangguk.
Genggamannya mengendur dan seulas senyum tipis sudah bisa menghiasi wajahnya.
ooOoo
‘…..
Adrian memiliki fobia dengan suara sirine ambulans.’
Kalimat itu seperti
mengandung unsur magis sehingga terus terngiang-ngiang di kepala Ririn. Kalimat
itu pula yang membuat Ririn terus-terusan merasa bersalah. Pada Adrian juga
pada Fi.
‘Ternyata aku tidak tahu apa-apa.’
Ririn menarik napas
dalam-dalam. Sebelumnya ia merasa di atas angin. Adrian menjadikannya tempat
pelarian yang membuatnya berpikir kalau dirinya spesial. Ia menganggap dirinya
lebih banyak memberikan perhatian pada pemuda itu. Sayang, ternyata sampai saat
ini posisi Fi belum bisa tergantikan.
Setelah banyak hal
yang terjadi dan setelah ditolak dua kali, entah kenapa Ririn masih belum bisa
melepaskan pandangannya dari pemuda itu. Dulu Ririn mencoba meyakinkan dirinya
kalau dia bisa berpindah hati, tetapi begitu pemuda itu memohon padanya
lagi-lagi Ririn jatuh ke lubang yang sama.
‘Tidak boleh. Kali ini tidak boleh!’
Ponselnya berdering.
Ketika ia melihat nama penelepon di layar, dadanya langsung mencelos. Baru saja
ia berjanji untuk tidak terlibat lagi dengan si pirang itu, ternyata pemuda itu
langsung menghubunginya. Sepertinya Tuhan sengaja ingin terus melibatkan
dirinya dengan pemuda itu.
Atau mungkin
menjodohkannya?
Ririn menepis
kemungkinan yang kedua lalu buru-buru menjawab teleponnya.
“Ha—halo?”
“Halo, apa aku menganggumu?”
“Ti—tidak kok. Eh,
ngomong-ngomong bagaimana keadaan Miss
Tifa?”
“Ya, dia sudah sadar. Tadi sudah makan malam.”
“Oh, syukurlah.
Semoga keadaannya membaik.”
“Terima kasih. Oh ya, kuharap kamu belum menghubungi
Oom-mu. Tanteku tidak mau membuat Oom-mu cemas.”
“Untunglah belum
kulakukan. Baiklah, tidak akan kukabari.”
Ada jeda sejenak
sebelum keduanya melanjutkan percakapan.
“Kamu baik-baik
saja?”
“Ya, aku tadi hanya panik saja.”
“Ah, bukan. Maksudku
setelah insiden tadi,” Ririn menggaruk tengkuknya. “Maaf, ya. Aku sudah
bertindak arogan tadi. Aku terbawa emosi gara-gara Hp-ku rusak. Padahal yang
dilakukan adalah yang seharusnya dilakukan.”
“Kamu tidak salah kok,” Adrian membisu beberapa saat. “Bagaimana keadaan Fi tadi?”
“Mungkin dia juga
syok, tapi kupikir dia akan baik-baik saja.”
Mereka berdua kembali
membisu.
“Menurutmu apa Fi masih menyukaiku?”
Jantung Ririn terasa
berhenti sejenak saat Adrian melontarkan pertanyaan itu.
“Kupikir dari apa
yang dia lakukan tadi seperti iya. Kalian dulu saling menyukai’kan?”
Terdengar helaan
napas berat dari Adrian.
“Boleh aku tanya
sesuatu?” Ririn menggigit bibir kuat-kuat. “Apa…apa kamu juga masih
menyukainya?”
Terdengar helaan
napas lagi.
“Tidak tahu…tapi sulit bagiku untuk melupakannya
begitu saja.”
Tiga kali. Ketiga
kalinya Ririn ditolak oleh pemuda itu. Akal sehat Ririn sudah berunjuk rasa,
menuntut agar ia segera melupakan pemuda itu. Sayang semuanya menjadi
paradoksal ketika hati kecilnya ikut bicara. Ririn merasa sangat jahat jika
harus meninggalkan Adrian ketika pemuda itu sedang rapuh saat ini.
Lantas ia harus
bagaimana?
“Maaf….”
“Maaf? Maaf kenapa?” nada suara Adrian terdengar heran.
“Aku minta maaf
karena aku tidak tahu mengenai dirimu sepenuhnya. Bahkan aku tidak tahu kalau
kamu punya fobia dengan ambulans. Harusnya aku lebih peka terhadap hal itu.”
“Sudah kubilang itu bukan salahmu. Tidak apa-apa, aku
tidak menyalahkanmu. Asalkan kamu selalu ada untukku, itu sudah lebih dari
cukup.”
Ahh, pernyataan apa
pula itu. Kenapa pemuda ini selalu menggoyahkan pertahananan hatinya. Di saat
ia mendekat, laki-laki itu menolaknya. Ketika ia menjauh, laki-laki itu
mengejarnya. Bodohnya, Ririn selalu saja tertarik dalam medan magnet pemuda
itu.
Percakapan itu
ditutup dengan ucapan selamat malam. Namun bayangan Adrian masih menghantui
pikiran Ririn. Ia bingung harus bagaimana dengan pemuda itu. Semakin lama ia
dekat dengan pemuda itu, bukan tidak mungkin perasaan yang sudah dicampakkan
itu kembali muncul. Ririn tak mau kembali merasakan patah hati. Sayang, pemuda
itu selalu memberinya dosa untuk terus membiarkan perasaannya terus tumbuh.
Seperti iblis.
adrian jahat banget , rasanya pilihan ier buat coret adrian dari daftar pria idaman jauh-jauh hari yang lalu adalah tepat.
BalasHapus(pas insiden ketangkep basah sama fi mereka berdua wajah nya terlalu dekat itu)
dan sebener nya pengen lihat reaksi dave , pasti lucu ya panik luar biasa ninggalin semua dan datang ke tifa