Total Tayangan Halaman

Minggu, 02 April 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 141)




Musikal 141

Untuk kesekian kalinya ketika Tifa membuka mata, ia mendapati dirinya dalam ruangan putih. Kali ini ia sudah lebih terbiasa. Otaknya bekerja cepat untuk mengingat hal terakhir yang membawanya ke tempat ini. Ingatannya yang baru saja samar-samar kembali langsung hilang ketika mendengar Adrian yang berseru.
“Oh Tuhan, syukurlah Tante sudah sadar!”
Di sebelah Adrian turut hadir Gloria. Wanita itu terlihat sama leganya seperti Adrian. Tifa tak menyangka kalau Gloria bersedia mengantarkannya ke rumah sakit.
“Sudah berapa lama aku pingsan?”
“Dua—tiga jam mungkin,” ujar Gloria. “Dokter belum bisa memastikan penyebabmu pingsan, tapi sepertinya kamu harus bedrest lagi.”
Tifa mengangguk pelan, “Kalian sudah hubungi Dave?”
“Kamu mau aku hubungi dia?” Gloria mengeluarkan ponsel dari sakunya.
“Tidak usah. Nanti urusan perusahaannya gak selesai. Beri tahu dia tiga hari lagi saja. Kalau kamu bersedia, hubungi saja ibuku.”
Gloria mengangguk lalu ia meminta izin untuk keluar sejenak. Tinggallah Adrian dan Tifa saja di bangsal itu. Sejak Tifa membuka matanya, ia merasakan Adrian menggenggam tangannya begitu erat. Kekhawatiran di wajahnya pun belum sepenuhnya hilang.
“Maaf, Tante sudah membuatmu cemas lagi.”
“Aku panik. Aku seperti orang gila tadi,” Adrian mendesah berat. “Tante benar-benar mengejutkanku.”
“Tante akan lebih berhati-hati lagi. Tante janji.”
Adrian mengangguk. Genggamannya mengendur dan seulas senyum tipis sudah bisa menghiasi wajahnya.
ooOoo
‘….. Adrian memiliki fobia dengan suara sirine ambulans.’
Kalimat itu seperti mengandung unsur magis sehingga terus terngiang-ngiang di kepala Ririn. Kalimat itu pula yang membuat Ririn terus-terusan merasa bersalah. Pada Adrian juga pada Fi.
‘Ternyata aku tidak tahu apa-apa.’
Ririn menarik napas dalam-dalam. Sebelumnya ia merasa di atas angin. Adrian menjadikannya tempat pelarian yang membuatnya berpikir kalau dirinya spesial. Ia menganggap dirinya lebih banyak memberikan perhatian pada pemuda itu. Sayang, ternyata sampai saat ini posisi Fi belum bisa tergantikan.
Setelah banyak hal yang terjadi dan setelah ditolak dua kali, entah kenapa Ririn masih belum bisa melepaskan pandangannya dari pemuda itu. Dulu Ririn mencoba meyakinkan dirinya kalau dia bisa berpindah hati, tetapi begitu pemuda itu memohon padanya lagi-lagi Ririn jatuh ke lubang yang sama.
‘Tidak boleh. Kali ini tidak boleh!’
Ponselnya berdering. Ketika ia melihat nama penelepon di layar, dadanya langsung mencelos. Baru saja ia berjanji untuk tidak terlibat lagi dengan si pirang itu, ternyata pemuda itu langsung menghubunginya. Sepertinya Tuhan sengaja ingin terus melibatkan dirinya dengan pemuda itu.
Atau mungkin menjodohkannya?
Ririn menepis kemungkinan yang kedua lalu buru-buru menjawab teleponnya.
“Ha—halo?”
“Halo, apa aku menganggumu?”
“Ti—tidak kok. Eh, ngomong-ngomong bagaimana keadaan Miss Tifa?”
“Ya, dia sudah sadar. Tadi sudah makan malam.”
“Oh, syukurlah. Semoga keadaannya membaik.”
“Terima kasih. Oh ya, kuharap kamu belum menghubungi Oom-mu. Tanteku tidak mau membuat Oom-mu cemas.”
“Untunglah belum kulakukan. Baiklah, tidak akan kukabari.”
Ada jeda sejenak sebelum keduanya melanjutkan percakapan.
“Kamu baik-baik saja?”
“Ya, aku tadi hanya panik saja.”
“Ah, bukan. Maksudku setelah insiden tadi,” Ririn menggaruk tengkuknya. “Maaf, ya. Aku sudah bertindak arogan tadi. Aku terbawa emosi gara-gara Hp-ku rusak. Padahal yang dilakukan adalah yang seharusnya dilakukan.”
“Kamu tidak salah kok,” Adrian membisu beberapa saat. “Bagaimana keadaan Fi tadi?”
“Mungkin dia juga syok, tapi kupikir dia akan baik-baik saja.”
Mereka berdua kembali membisu.
“Menurutmu apa Fi masih menyukaiku?”
Jantung Ririn terasa berhenti sejenak saat Adrian melontarkan pertanyaan itu.
“Kupikir dari apa yang dia lakukan tadi seperti iya. Kalian dulu saling menyukai’kan?”
Terdengar helaan napas berat dari Adrian.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Ririn menggigit bibir kuat-kuat. “Apa…apa kamu juga masih menyukainya?”
Terdengar helaan napas lagi.
“Tidak tahu…tapi sulit bagiku untuk melupakannya begitu saja.”
Tiga kali. Ketiga kalinya Ririn ditolak oleh pemuda itu. Akal sehat Ririn sudah berunjuk rasa, menuntut agar ia segera melupakan pemuda itu. Sayang semuanya menjadi paradoksal ketika hati kecilnya ikut bicara. Ririn merasa sangat jahat jika harus meninggalkan Adrian ketika pemuda itu sedang rapuh saat ini.
Lantas ia harus bagaimana?
“Maaf….”
“Maaf? Maaf kenapa?” nada suara Adrian terdengar heran.
“Aku minta maaf karena aku tidak tahu mengenai dirimu sepenuhnya. Bahkan aku tidak tahu kalau kamu punya fobia dengan ambulans. Harusnya aku lebih peka terhadap hal itu.”
“Sudah kubilang itu bukan salahmu. Tidak apa-apa, aku tidak menyalahkanmu. Asalkan kamu selalu ada untukku, itu sudah lebih dari cukup.”
Ahh, pernyataan apa pula itu. Kenapa pemuda ini selalu menggoyahkan pertahananan hatinya. Di saat ia mendekat, laki-laki itu menolaknya. Ketika ia menjauh, laki-laki itu mengejarnya. Bodohnya, Ririn selalu saja tertarik dalam medan magnet pemuda itu.
Percakapan itu ditutup dengan ucapan selamat malam. Namun bayangan Adrian masih menghantui pikiran Ririn. Ia bingung harus bagaimana dengan pemuda itu. Semakin lama ia dekat dengan pemuda itu, bukan tidak mungkin perasaan yang sudah dicampakkan itu kembali muncul. Ririn tak mau kembali merasakan patah hati. Sayang, pemuda itu selalu memberinya dosa untuk terus membiarkan perasaannya terus tumbuh.
Seperti iblis.


1 komentar:

  1. adrian jahat banget , rasanya pilihan ier buat coret adrian dari daftar pria idaman jauh-jauh hari yang lalu adalah tepat.
    (pas insiden ketangkep basah sama fi mereka berdua wajah nya terlalu dekat itu)

    dan sebener nya pengen lihat reaksi dave , pasti lucu ya panik luar biasa ninggalin semua dan datang ke tifa

    BalasHapus