Total Tayangan Halaman

Minggu, 30 April 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 149)




Musikal 149

Jiro berlari kencang. Ia hampir saja menabrak beberapa orang yang sedang melintas. Namun, ia tak bisa mengerem langkahnya. Seolah-olah takut terlambat. Terlambat mengatakan sesuatu.
Mengatakan perasaannya pada gadis itu.
Jiro mencapai pintu ruang kepala sekolah. Andani dan Ririn yang tadinya sibuk menyapu terkejut melihat Jiro yang terengah-engah. Belum sempat bertanya, Jiro lebih dulu masuk dan mengunci pintu. Kedua gadis itu bertambah heran dengan tingkah laku laki-laki ini.
Mata Jiro mengawasi Andani dengan tajam. Bulu kuduk Andani meremang. Ia takut kalau Jiro akan berbuat aneh-aneh padanya. Namun, ia sedikit tenang karena ia terkurung bersama Ririn. Setidaknya laki-laki ini akan berpikir dua kali jika mau kurang ajar.
Se—senpai, ada apa?” tanya Ririn.
Langkah Jiro semakin mendekati Andani. Gadis itu mencoba berlindung di balik sapu. Andani memejamkan matanya dan telah memasrahkan diri jika Jiro berani menyentuhnya. Saat yang ditunggu tak kunjung datang. Perlahan Andani membuka matanya dan betapa terkejutnya ia saat melihat Jiro tengah membungkuk di hadapannya.
Se—senpai?” panggil Andani.
“Andani-chan, aku ingin katakan padamu bahwa aku menyukaimu dan aku sangat ingin kamu jadi pacarku.”
Andani kaget bukan kepalang. Matanya melirik Ririn. Gadis itu sama terkejutnya. Kedua orang ini akhirnya sama-sama membisu dalam kebingungan.
“Aku tahu kalau ini sangat tiba-tiba, tapi aku sudah tidak bisa menahan perasaanku. Aku juga tahu kalau aku mungkin laki-laki yang kamu harapkan, tapi aku hanya ingin kamu tahu betapa aku ingin kamu bersamaku.”
Tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Jiro mengangkat wajahnya. Giliran ia yang bingung melihat ekspresi Andani yang terlihat syok.
“Andani-chan?”
Terlihat Andani berusaha keluar dari keterkejutannya. Ia berdeham keras.
“A—aku—“
“Jangan bilang kalau kamu sudah pacaran dengan Hiro?”
Andani kembali terlonjak kaget, “Eh, aku tidak! Maksudku aku tidak pacaran dengan siapa pun!”
Ada kelegaan di hati Jiro saat mendengar hal itu. Sepertinya ia belum terlambat.
“Lalu kenapa kamu diam saja?”
“I—itu karena aku kaget,” Andani kembali melirik Ririn yang membatu. “Aku sangat bingung harus menjawab apa.”
“Kamu cukup menjawab ya atau tidak.”
“Iya, tapi itu juga tidak semudah itu.”
“Apa kamu membenciku?”
Andani menggeleng kuat, “Aku memang sedikit merinding saat Senpai menggodaku, tapi bukan berarti aku membencimu.”
“Berarti kamu menyukaiku?”
“Tidak seperti itu juga,” Andani mendesah frustasi. “Begini, aku memang menyukaimu, tapi tidak berarti aku menyukaimu sampai aku ingin menjadi kekasihmu.”
Jiro kembali terlihat bingung, “Jadi?”
Andani medengus tegas, “Beri aku waktu.”
“Baiklah, besok!”
“I—itu terlalu cepat!”
“Lalu mau berapa lama? Tiga hari? Seminggu?”
Andani kembali melirik Ririn. Ia berharap gadis itu memberinya jalan keluar. Jiro sangat mendesaknya dan semakin didesak otaknya semakin buntu. Sayangnya, Ririn juga ikut-ikutan memberinya jalan buntu.
Jiro mendesah panjang. Air mukanya melunak. Ia mengangguk pelan.
“Baiklah, ambil waktu sepanjang yang kamu mau, tapi tolong jangan terlalu lama. Aku memberi batas sampai pertunjukkan ini berakhir.”
“Memangnya kenapa?”
Jiro kembali mendesah panjang, “Karena aku akan kembali ke Aussie setelah pertunjukkan ini berakhir.”
Andani tertegun. Tiba-tiba saja ada rasa kecewa yang mengoyak hatinya dan membuat rongga kosong yang besar. Empatinya membuat Andani seolah-olah menjadi orang yang paling berdosa karena telah menggantung perasaan laki-laki yang ada di hadapannya.
Seolah tak mau membuat Andani merasa bersalah, Jiro menampilkan senyum terbaiknya seraya mengusap pelan kepala gadis itu.
“Sudahlah, tidak apa. Bukannya sudah kubilang aku akan menunggumu. Aku juga tidak mau kamu menyesal jika menerimaku buru-buru. Jadi, pikirkan saja baik-baik. Aku permisi dulu. Maaf mengganggu pekerjaan kalian.”
Baru beberapa langkah, Jiro kembali membalikkan badannya.
“Ngomong-ngomong kalau kamu lebih suka Hiro, tolong cepat-cepat bilang padaku. Aku tidak mau menyakiti siapa pun.”
Tatkala Jiro membuka pintu, seketika angin berhembus masuk. Membuat ujung-ujung rambut laki-laki itu beterbangan. Entah kenapa cahaya mentari seolah sosok laki-laki yang masih berdiri di ambang pintu. Ia terlihat sangat bersinar dan mempesona.
Sepeninggal Jiro, barulah Ririn berani mendekati sahabatnya. Sepertinya adegan yang Jiro tampilkan berhasil membius Ririn sedemikan kuatnya.
“Ya ampun, An. Itu tadi apa? Jiro Senpai barusan nembak kamu? Gila, kamu beruntung banget!”
Hanya terdengar helaan napas Andani yang terengah-engah.
“An, kamu gak apa-apa?”
“Gak tahu, Rin,” Andani memegang dadanya. “Tapi jantungku rasanya mau meledak.”
Ririn tersenyum geli. Kini ia paham kalau sahabatnya itu sedang jatuh cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar