Musikal 149
Jiro berlari kencang. Ia hampir saja menabrak beberapa
orang yang sedang melintas. Namun, ia tak bisa mengerem langkahnya. Seolah-olah
takut terlambat. Terlambat mengatakan sesuatu.
Mengatakan
perasaannya pada gadis itu.
Jiro mencapai pintu
ruang kepala sekolah. Andani dan Ririn yang tadinya sibuk menyapu terkejut
melihat Jiro yang terengah-engah. Belum sempat bertanya, Jiro lebih dulu masuk
dan mengunci pintu. Kedua gadis itu bertambah heran dengan tingkah laku
laki-laki ini.
Mata Jiro mengawasi
Andani dengan tajam. Bulu kuduk Andani meremang. Ia takut kalau Jiro akan
berbuat aneh-aneh padanya. Namun, ia sedikit tenang karena ia terkurung bersama
Ririn. Setidaknya laki-laki ini akan berpikir dua kali jika mau kurang ajar.
“Se—senpai, ada apa?” tanya Ririn.
Langkah Jiro semakin
mendekati Andani. Gadis itu mencoba berlindung di balik sapu. Andani memejamkan
matanya dan telah memasrahkan diri jika Jiro berani menyentuhnya. Saat yang
ditunggu tak kunjung datang. Perlahan Andani membuka matanya dan betapa
terkejutnya ia saat melihat Jiro tengah membungkuk di hadapannya.
“Se—senpai?” panggil Andani.
“Andani-chan, aku ingin katakan padamu bahwa aku
menyukaimu dan aku sangat ingin kamu jadi pacarku.”
Andani kaget bukan
kepalang. Matanya melirik Ririn. Gadis itu sama terkejutnya. Kedua orang ini
akhirnya sama-sama membisu dalam kebingungan.
“Aku tahu kalau ini
sangat tiba-tiba, tapi aku sudah tidak bisa menahan perasaanku. Aku juga tahu
kalau aku mungkin laki-laki yang kamu harapkan, tapi aku hanya ingin kamu tahu
betapa aku ingin kamu bersamaku.”
Tak kunjung mendapat
jawaban, akhirnya Jiro mengangkat wajahnya. Giliran ia yang bingung melihat
ekspresi Andani yang terlihat syok.
“Andani-chan?”
Terlihat Andani
berusaha keluar dari keterkejutannya. Ia berdeham keras.
“A—aku—“
“Jangan bilang kalau
kamu sudah pacaran dengan Hiro?”
Andani kembali
terlonjak kaget, “Eh, aku tidak! Maksudku aku tidak pacaran dengan siapa pun!”
Ada kelegaan di hati
Jiro saat mendengar hal itu. Sepertinya ia belum terlambat.
“Lalu kenapa kamu
diam saja?”
“I—itu karena aku
kaget,” Andani kembali melirik Ririn yang membatu. “Aku sangat bingung harus
menjawab apa.”
“Kamu cukup menjawab
ya atau tidak.”
“Iya, tapi itu juga
tidak semudah itu.”
“Apa kamu
membenciku?”
Andani menggeleng
kuat, “Aku memang sedikit merinding saat Senpai
menggodaku, tapi bukan berarti aku membencimu.”
“Berarti kamu
menyukaiku?”
“Tidak seperti itu
juga,” Andani mendesah frustasi. “Begini, aku memang menyukaimu, tapi tidak
berarti aku menyukaimu sampai aku ingin menjadi kekasihmu.”
Jiro kembali terlihat
bingung, “Jadi?”
Andani medengus
tegas, “Beri aku waktu.”
“Baiklah, besok!”
“I—itu terlalu
cepat!”
“Lalu mau berapa
lama? Tiga hari? Seminggu?”
Andani kembali
melirik Ririn. Ia berharap gadis itu memberinya jalan keluar. Jiro sangat
mendesaknya dan semakin didesak otaknya semakin buntu. Sayangnya, Ririn juga
ikut-ikutan memberinya jalan buntu.
Jiro mendesah
panjang. Air mukanya melunak. Ia mengangguk pelan.
“Baiklah, ambil waktu
sepanjang yang kamu mau, tapi tolong jangan terlalu lama. Aku memberi batas
sampai pertunjukkan ini berakhir.”
“Memangnya kenapa?”
Jiro kembali mendesah
panjang, “Karena aku akan kembali ke Aussie setelah pertunjukkan ini berakhir.”
Andani tertegun.
Tiba-tiba saja ada rasa kecewa yang mengoyak hatinya dan membuat rongga kosong
yang besar. Empatinya membuat Andani seolah-olah menjadi orang yang paling
berdosa karena telah menggantung perasaan laki-laki yang ada di hadapannya.
Seolah tak mau
membuat Andani merasa bersalah, Jiro menampilkan senyum terbaiknya seraya
mengusap pelan kepala gadis itu.
“Sudahlah, tidak apa.
Bukannya sudah kubilang aku akan menunggumu. Aku juga tidak mau kamu menyesal
jika menerimaku buru-buru. Jadi, pikirkan saja baik-baik. Aku permisi dulu.
Maaf mengganggu pekerjaan kalian.”
Baru beberapa
langkah, Jiro kembali membalikkan badannya.
“Ngomong-ngomong
kalau kamu lebih suka Hiro, tolong cepat-cepat bilang padaku. Aku tidak mau
menyakiti siapa pun.”
Tatkala Jiro membuka
pintu, seketika angin berhembus masuk. Membuat ujung-ujung rambut laki-laki itu
beterbangan. Entah kenapa cahaya mentari seolah sosok laki-laki yang masih
berdiri di ambang pintu. Ia terlihat sangat bersinar dan mempesona.
Sepeninggal Jiro,
barulah Ririn berani mendekati sahabatnya. Sepertinya adegan yang Jiro
tampilkan berhasil membius Ririn sedemikan kuatnya.
“Ya ampun, An. Itu
tadi apa? Jiro Senpai barusan nembak
kamu? Gila, kamu beruntung banget!”
Hanya terdengar
helaan napas Andani yang terengah-engah.
“An, kamu gak
apa-apa?”
“Gak tahu, Rin,”
Andani memegang dadanya. “Tapi jantungku rasanya mau meledak.”
Ririn tersenyum geli.
Kini ia paham kalau sahabatnya itu sedang jatuh cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar