Musikal 143
Charlie Mitchell Blackwell dulunya seorang penulis
lirik lagu berkebangsaan Inggris. Setelah mengecap asam garam di balik layar,
ia memutuskan untuk rehat sejenak. Ia memilih Indonesia sebagai tempat
peristirahatannya. Namun ketika ia memilih untuk beristirahat, ia justru
mendapatkan ide cemerlang untuk membuat hidupnya semakin sukses.
Indonesia memiliki
potensi dan pasar yang bagus untuk mendirikan sebuah perusahaan entertainment.
Ia menghubungi beberapa koleganya untuk mendiskusikan bisnisnya tersebut. Jatuh
bangun sempat ia rasakan dan perlahan tapi pasti, perusahaan impiannya
berkembang pesat. Dari seorang penulis lagu, Charlie justru berkonsentrasi pada
bisnisnya sekarang.
Di tengah
kesibukannya, ia justru dipertemukan dengan seorang wartawan wanita dari sebuah
majalah yang akan meliputnya. Baru kali ini ia bertemu dengan seorang wartawan
yang elegan dan cerdas. Mungkin wanita itu tak pernah secantik artis-artis anak
asuhnya, tapi wanita itu mempunyai sebuah daya tarik yang tak semua wanita
miliki.
Wanita itu bernama
Reisa Prasetya. Dari silsilahnya sudah terlihat kalau Reisa adalah memiliki
darah seorang jurnalis. Maka tak perlu waktu lama bagi Charlie untuk mendekati
wanita ini dan ternyata usaha Charlie membuahkan hasil. Reisa yang awalnya
sulit didekati akhirnya berhasil diboyong ke Inggris oleh laki-laki bermata
biru ini.
Pernikahan mereka
dianugrahi seorang anak laki-laki yang sama tampan seperti Charlie. Mereka
menamakannya David Mitchell Blackwell. Anak itu mewarisi mata biru Charlie dan
juga kecerdasan lingustik seperti Reisa. Hanya saja seiring pertumbuhan David,
anak itu justru menjadi anak yang pemalu. Ia tak memiliki kemampuan
bersosialisasi seperti ayah-ibunya. David lebih nyaman berada lingkungannya
sendiri ketimbang ia harus menyapa anak-anak seumurannya.
Reisa memahami itu.
Ia pun mengusulkan untuk membawa David liburan ke Indonesia. Charlie setuju
karena ia juga harus tinggal di Indonesia untuk mengurus bisnis besarnya.
Selain itu, sepupu David, Armandi, akan melaksanakan pementasan sekolah. Adalah
ide yang bagus untuk membawa David ke tanah air ibunya.
Tak ada yang menduga
jika di sana David akan berkenalan dengan seorang gadis yang nantinya akan
mengubah hari-harinya. Gadis itu adalah adik dari pacar Armandi. Sifatnya yang
terbuka dan ambisius ternyata benar-benar mengubah pusat hidup David. Ia yang
dulu hanya berotasi pada dirinya sendiri, kini memiliki orbit pada gadis itu.
Charlie dan Reisa
suka dengan perubahan anaknya. Mereka bahkan menuruti permintaan Dave untuk
menetap di Palembang. Semua berjalan lancar sampai gadis yang selalu dipuja
putranya tiba-tiba menghilang. Anak itu menjadi susah diatur, jarang
bersekolah, dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Entah siapa yang
memengaruhinya Dave juga mulai terpengaruh dengan batangan nikotin.
Dari si pemalu,
kemudian si pemberontak, selepas SMA Dave bertranformasi menjadi seorang yang
pekerja keras. Awalnya Charlie sempat khawatir dengan sikap urakan Dave yang
nantinya tidak akan bisa mewarisi perusahaannya. Entah Charlie harus bersyukur
atau tidak, tapi Dave justru menenggelamkan diri dalam pekerjaan.
Justru Reisa yang
khawatir melihat perubahan Dave yang sekarang. Dave seolah-olah tak tertarik
lagi dengan wanita. Banyak wanita yang mencoba mendekatinya atau bahkan sengaja
didekatkan, tapi Dave tetap bergeming. Reisa takut kalau orientasi seks Dave
berubah. Tiga belas tahun Dave menjalani hidup sebagai pria lajang, hingga ia
kembali dipertemukan dengan wanita pujaannya.
Mendengar wanita
pujaannya masih sendiri, Dave dengan cepat tancap gas. Ia bahkan meminta cuti
panjang demi merebut kembali belahan hatinya yang telah hilang. Awalnya Charlie
tidak menyetujui gagasan Dave, tapi Reisa lebih suka perubahan drastis Dave
yang ini. Ia membujuk suaminya sampai setuju.
Meski demikian, tapi
Charlie memberikan banyak syarat. Salah satunya dengan kembali Dave sekarang.
Syukurlah, peforma Dave tidak berubah. Ia justru membawa angin segar bagi
perusahaan. Lihatlah bagaimana ia menyelesaikan presentasi di depan para
pemegang saham. Sepertinya orang-orang berduit itu setuju untuk berinvestasi di
perusahan mereka.
“Good job, boy!” ujar Charlie sambil menyalami anaknya.
“Thank’s, Dad,” Dave balas tersenyum.
“Ayo kita makan
malam. Ibumu pasti sudah menunggu.”
ooOoo
Meski Charlie adalah keturunan Inggris asli, tapi ia
lebih suka menggunakan bahasa Indonesia ketika berkumpul dengan keluarganya.
Lebih-lebih karena Reisa adalah orang yang menggeluti dunia kebahasaan. Jadilah
lafas Indonesia Charlie sangat lancar.
“Sepertinya bisnis
berjalan lancar,” ujar Reisa sambil menyendok nasi ke piringnya.
“Kalau tidak lancar,
mana mungkin Dad akan tersenyum
terus,” balas Dave.
Charlie tertawa,
“Harusnya aku memaksamu seminggu di sini. Baru dua hari saja kamu sudah membawa
banyak keberuntungan.”
“Dad, aku cuma bisa tiga hari. Dad
tidak akan lupa janji kita’kan?”
“Itulah salahku,
harusnya dari awal aku memaksa seminggu.”
Reisa menghela napas,
“Sudahlah, setidaknya Dave mau menepati janji. Ngomong-ngomong, bagaimana
pementasanmu itu? Sepertinya kamu lebih khawatir keadaan di sana ketimbang di
sini.”
“Semuanya baik-baik
saja. Hanya….”
“Hanya apa?” potong
Reisa.
Dave mendesah berat,
“Hanya saja jika Tifa tidak sakit. Mungkin aku bisa tinggal seminggu di sini.”
“Sepertinya sakit
berat, benar begitu?” tanya Charlie.
“Kanker perut stadium
dua.”
Kedua orang tua Dave
langsung tercengang mendengar hal itu. Mereka baru bisa mengerti kenapa
putranya ini selalu menolak pulang.
“Lalu bagaimana
keadaannya sekarang?” ujar Reisa.
“Saat ini dia stabil,
tapi dia tidak bisa terlalu lelah. Makanya aku harus selalu mendampinginya.”
“Kalau begitu selesai
dengan baik semua pekerjaan di sini supaya kamu bisa konsentrasi lagi di sana,”
ujar Charlie. “Dan setelah itu segera bawa gadis itu ke London supaya bisa
mendapatkan perawatan yang lebih baik.”
Mata Dave seketika
bersinar mendengar perkataan ayahnya, “Dad—Dad,
serius? Maksudku Dad merestui
kami?”
Charlie tersenyum sinis,
“Memangnya kalian sudah jadian lagi?”
“Ahh…masalah itu…” Dave
menggaruk-garuk kepalanya karena kebingungan menjawab pertanyaan ayahnya. “A—akan
kudapatkan segera. Segera setelah ini.”
“Sepertinya perjuanganmu
berat, Nak,” ujar Charlie sambil tertawa.
Wajah Dave berubah masam.
Reisa pun langsung melerai keduanya.
“Sudahlah, nanti saja
bahas itu. Lanjutkan saja makannya.”
ooOoo
Setelah makan malam, Dave kembali ke kamarnya untuk melanjutkan
pekerjaannya yang belum selesai. Besok presentasi terakhir dan ia harus mendapatkan
mendapatkan proyek besar ini. Ia harus merelakan waktu tidurnya agar penampilannya
besok sempurna.
Di tengah-tengah konsentrasinya,
ia sempat terganggu dengan nada dering ponselnya. Awalnya ia masih mengabaikan telepon
itu, tapi ponselnya tak mau berhenti berbunyi. Dengan kesal ia pun mengangkat telepon
itu.
“Halo!” sergah Dave.
“Ha—halo, Dave,”
Suara perempuan? Kening
Dave berkerut. Ia melihat layar ponselnya. Nama Riani tertera di sana. Kata tanya
kenapa langsung berputar-putar di kepalanya mengenai maksud Riani meneleponnya malam-malam.
“Sorry, Ri. Aku pikir tadi telepon iseng.”
“Kayaknya kamu lagi sibuk ya?”
“Err, begitulah. Apa ada
yang penting?”
“Ya ampuuun, sesibuk itukah sampai kamu gak peduli keadaan di sini?”
Kening Dave kembali berkerut,
“Ada apa di sana?”
“Apa gak ada yang kasih tahu kamu kalau Tifa anfal?”
Dunia langsung menggelap
bagi Dave. Kepalanya pusing dan tangannya yang sedang memegang ponsel terkulai menuju
gravitasi. Pikirannya benar-benar kosong. Ia tak tahu harus bagaimana.
“Dave? Dave? Kamu masih di sana?”
Tanpa pikir panjang, Dave
bergegas menuju kamar ayahnya. Ia akan meminta atau mungkin harus bersujud pada
lelaki itu agar diizinkan pergi. Namun, begitu ia sampai di depan pintu kamar, ia
berpapasan dengan ibunya.
“Ada apa, Dave?” Reisa
terlihat heran dengan ekspresi anaknya yang terlihat terburu-buru.
“Dad. Mana Dad?”
“Dia sedang mandi. Dave,
kamu baik-baik saja? Apa ada masalah?”
Di tengah kepanikannya
Dave tetap tak bisa mengabaikan ibunya. Lagi pula ayahnya sedang tak bisa diganggu,
tapi ia juga tidak yakin ibunya akan memberikan jalan keluar.
“Apa ini mengenai gadismu?”
Dave mengangguk pelan,
“Di—dia anfal, Mom.”
Reisa tersenyum mengerti.
Ia tak mengatakan apa-apa, tapi menarik Dave menuju ruang makan lalu menuangkan
air putih untuk Dave. Meski tak mengerti apa maksud ibunya, tapi Dave tak membantah
dan menuruti kehendak ibunya untuk meminum air itu.
“Sudah lebih baik?”
Dave hanya membisu.
“Dave, Mom tahu kamu pasti akan memelas pada ayahmu
supaya diizinkan pergi, tapi coba pikirkan baik-baik. Bukankah kamu sudah berjanji
pada ayahmu untuk menyelesaikan semua pekerjaanmu tiga hari ini? Bagaimana pun juga
kamu harus menepati janji itu, Dave!”
“Tapi, Mom. Saat ini Tifa—“
“Mom mengerti, tapi ingatlah, kamu itu seorang lelaki. Laki-laki dinilai
dari caranya memegang janji. Jika kamu tidak bisa menepati janjimu pada orang tua
bagaimana gadis itu menilai kesetianmu?”
“Sekarang bukan saat yang
tepat untuk membahas kesetiaan, Mom!”
Reisa kembali tersenyum,
“Kapan gadis itu anfal? Apa baru saja?”
Dave tersentak. Benar
juga, kalimat terakhir Riani menyiratkan kalau kejadian itu sudah agak lama. Mungkin
kemarin atau dua hari yang lalu, yang jelas bukan baru saja.
“Sudah lama’kan? Kalau
begitu sekarang dia sudah baik-baik saja,” Reisa menghela napas. “Sepertinya dia
sengaja supaya kamu tidak diberi tahu. Kamu tahu kenapa, Dave? Karena dia tidak
ingin kamu cemas dan panik. Karena dia tahu apa yang akan kamu lakukan jika dia
memberitahumu ketika kejadian.”
“Tapi bukankah itu semakin
membuatku cemas?”
Senyum Reisa semakin lebar,
“Itu artinya dia lebih mengkhawatirkanmu, Dave. Dia tahu kalau keluargamu sedang
membutuhkanmu. Mom memang tidak mengenalnya
dengan baik, tapi Mom yakin dia wanita
yang kuat. Dia melakukan ini karena dia lebih mengetahui sifatmu. Makanya dia akan
sekuat tenaga untuk pulih tanpa harus membebanimu.”
Dave termenung cukup lama.
Ia mengusap wajahnya dengan perasaan frustasi.
“Benarkah itu, Mom?”
“Percayalah pada, Mom. Sekarang konsentrasi saja pada pekerjaanmu
besok. Tampilkan yang terbaik. Hanya dengan cara itu kamu bisa pergi tanpa meninggalkan
beban seorang pun.”
Dave mendesah panjang.
Ia harus bisa menyingkirkan Tifa dari pikirannya malam ini. Besok. Ya, hanya tinggal
besok.
Tunggu aku, Tifa….
awal nya bingung si "David Mitchell Blackwell" ini siapa
BalasHapuseh dave ternyata wkwkkw
Lali ya?? hahaha
Hapus