Total Tayangan Halaman

Minggu, 16 April 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 144)




Musikal 144

Riani masih sedikit kesal karena teleponnya diabaikan Dave semalam. Padahal ia sedang menyampaikan info penting, tapi tiba-tiba pembicaraan mereka terputus dan Dave sama sekali tidak meneleponnya balik. Ia pun jadi kepikiran sampai semalaman.
Ia baru bertemu dengan Gloria ketika jam istirahat. Wanita itu baru saja kembali dari ruangan Hana. Mungkin tadi keduanya membicarakan Love Musical.
“Membericakan hal yang penting?” tegur Riani.
“Ah, tidak,” Gloria menyeret kursi ke dekat Riani, “Hanya membicarakan kondisi Tifa.”
“Oh ya, bagaimana kabarnya? Aku belum sempat jenguk soalnya.”
Gloria mendesah pendek, “Buruk. Dia benar-benar harus bedrest.
“Kasihan, Tifa,” keluh Riani, “Di saat genting seperti ini, Dave malah tidak menemaninya. Padahal sudah kukasih tahu semalam. Kenapa orang itu seperti pura-pura tidak tahu ya?”
Gloria tersentak, “Kamu kasih tahu, Dave?”
“Eh, iya,” Riani balas kaget. “Memangnya kenapa?”
“Tifa melarang kita untuk ngasih tahu Dave,” Gloria menepuk dahinya. “Ya ampuuun, kayaknya aku lupa kasih tahu  kamu deh. Aduuh, bisa gawat ini.”
“Gawat gimana?”
“Ya kamu tahu sendirilah Dave itu gimana orangnya. Bisa-bisa dia panik terus terbang ke sini dan ninggalin semua pekerjaannya di sana. Padahal ayahnya lagi butuh dia untuk ngurusin perusahaan.”
Giliran Riani yang mendadak panik, “Ta—tapi aku gak maksud….”
Gloria mengangguk sambil mendesah panjang, “Nasi sudah menjadi bubur, Ri. Kita cuma berharap Dave gak bakal nekad aja.”
Percakapan itu berakhir. Gloria menarik kursinya menjauh. Meski tidak marah, tapi Riani tahu kalau Gloria pasti kesal padanya. Ia juga kesal pada dirinya sendiri yang terlalu ikut campur urusan orang.
Kenapa pula malam itu ia ingin sekali mengobrol dengan Dave. Riani pikir, Dave sengaja belum muncul karena sibuk dengan pekerjaan atau mungkin sedang bertengkar dengan Tifa. Riani ingin menghiburnya jika memang alasan kedua yang membuat Dave belum juga kembali. Namun, apa yang diharapkan ternyata tidak sesuai yang ia pikirkan. Ia justru mengacaukan semua rencana yang telah disusun rapi.
Harusnya ia tak usah menghabiskan pulsa semalam.
ooOoo
Presentasi kembali sukses. Perusahaan Charlie kembali memenangkan proyek sebuah sinetron. Dengan begini ia tinggal memilih anak-anak asuhnya yang cocok untuk tampil di sinetron tersebut.
Tak ada yang diinginkan Dave saat ini selain cepat-cepat kembali ke Palembang. Namun, begitu banyak kolega ayahnya yang harus ia layani. Semakin lama keadaan ini semakin membunuhnya.
Tiba-tiba tangan Dave diselipkan secarik kertas. Dave terkejut saat melihat kertas itu ternyata adalah sebuah tiket penerbangan. Lebih mengejutkan lagi ternyata yang memberikan itu adalah ayahnya sendiri.
Da—Dad?”
“Pergilah, Dad yakin kamu tidak betah di sini. Pikiranmu pasti sudah sampai di sana, iya’kan?”
Dad tahu dari mana?”
Your mommy told me.”
Air muka Dave terlihat campur aduk. Terkejut, senang, dan haru ada di sana.
“Pergilah, dan pastikan kali ini kamu membawanya pulang ke London!”
Dave tertawa lalu memeluk ayahnya.
I get it, Sir!”


1 komentar: