Total Tayangan Halaman

Minggu, 16 April 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 145)


Musikal 145


Cuaca di luar sedang hangat-hangatnya dan Andani masih harus berkutat pada tumpukkan buku-buku di perpustakaan. Ia harus memaksakan dirinya di sana supaya tugas makalahnya mendapat referensi yang bagus. Sayang sekali Ririn tidak bisa menemaninya. Mungkin dia tidak akan sesuntuk ini.

Saat mengambil salah satu buku, tiba-tiba terlihat wajah Hiro dari sela buku yang kosong. Andani tak bisa tak membalas senyuman Hiro yang seperti memberikan angin segar. Tak hanya itu, Hiro bahkan menyusuri rak buku supaya mereka bisa salin bertemu.

“Hai!”

“Hai juga,”  Andani membenarkan posisi buku di tangannya. “Senpai belum pulang?”

“Kamu sendiri?”

Andani menunjukkan buku-buku di tangannya, “Aku lagi cari referensi buat makalah aku.”

Hiro hanya mengangguk sambil tersenyum.

Senpai belum jawab pertanyaanku!”

Tawa Hiro lepas saat melihat kerutan di bibir Andani, “Ahh, ya, ya, aku sedang menunggu Jiro.”

“Jiro senpai ada di perpustakaan?” raut wajah Andani terlihat tak percaya. “Masa sih?”

“Memang sulit ya, membayangkan Jiro ada di perpustakaan,” tawa Hiro makin meledak. Ia berdeham setelah beberapa orang mendelik karena suara tawanya yang keras. “Yah, Jiro tidak di sini, tapi aku tidak punya tempat lain untuk menunggunya.”

Andani memiringkan kepalanya dengan sorot mata yang penuh tanda tanya, “Memangnya Jiro senpai  ada dimana?”

“Dalam perjalanan,” Hiro mendesah pendek, tapi terdengar berat. “Biasalah, penyakitnya kambuh.”

“Jiro senpai sakit?”

“Bukan. Bukan sakit begitu,” Hiro kembali tersenyum. “Maksudku penyakit malasnya. Lagi-lagi dia kabur dari sekolah.”

Akhirnya Andani mengangguk paham. Ia hanya bisa berkomentar lewat senyuman miris.

“Kamu sudah selesai?” Hiro mengalihkan pembicaraan.

“Ah, i—iya. Senpai masih mau di sini?”

“Tidak juga, tapi aku akan sangat senang kalau kamu mau menemaniku menunggu Jiro. Tidak di sini juga tidak apa-apa.”

Andani mengiyakan permintaan Hiro. Mereka pun menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di bangku taman.

“Kupikir Jiro akan berubah setelah di sini, tapi karena situasi kacau begini, penyakitnya malah kumat lagi.”

“Kalau boleh tahu, memangnya Jiro senpai itu orangnya seperti apa ya?”

“Dia anak yang periang, suka menolong, dan yang jelas dia tidak pernah pilih-pilih teman. Makanya banyak orang yang suka dengannya,” Hiro menarik napas panjang. “Hanya itu yang tidak berubah darinya sampai sekarang.”

“Jadi, maksud senpai, ada yang berubah dari Jiro senpai, begitu?”

“Begitulah dan semua terjadi setelah ayah kami seakan membuat jarak antara kami berdua. Aku selalu menjadi prioritas karena aku menuruti semua kehendak ayah, sedangkan Jiro justru semakin tidak diacuhkan. Aku pikir Jiro kesal atau hanya sekadar cari perhatian, makanya dia mulai malas-malasan sekolah dan juga latihan musik. Bukannya mendapat perhatian, Jiro malah dianggap sebagai noda dalam keluarga kami dan mungkin dia memutuskan untuk menjadi nakal sekalian.”

“Bukannya kalian sudah baikan ya, pascakecelakaan itu?”

“Kami memang sudah baikan, tapi pandangan ayah kami pada Jiro tentu belum. Dia masih belum bisa menganggap Jiro sebagai anak yang baik, tapi aku berusaha supaya kejadian kemarin tidak terulang lagi. Aku mengajak Jiro kembali ke dunia orkestra bersama ayah di Australia. Di sanalah kami bertemu dengan Miss Tifa. ketika Miss Tifa menawarkan kesepakatan itu, aku memaksa ayah agar aku dan Jiro bisa pergi. Tujuannya sih cuma satu, supaya aku dan Jiro bisa menikmati masa-masa sekolah kami. Sayang, sepertinya yang menikmati cuma aku sendiri.”

Andani menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “Ngg, aku masih tidak mengerti dengan maksud Senpai ‘untuk menikmati masa-masa sekolah’. Memangnya kalian sudah tidak sekolah lagi?”

“Hanya ketika SD kami bersekolah di sekolah umum, tapi sejak masuk SMP kami dimasukkan di sekolah khusus musik, dan ketika SMA kami mengikuti program home schooling. Makanya pergaulanku sangat terbatas, sedangkan Jiro begitu meninggalkan rumah, dia sudah tidak bersekolah lagi. Itulah makanya aku sangat ingin ke sini supaya aku dan Jiro bisa menikmati masa-masa remaja kami.”

Andani kembali mengangguk. Ia bisa paham bagaimana perasaan Hiro. Keadaan seperti itu tidak berbanding jauh dengannya. Ia tahu bagaimana rasanya dipisahkan dari saudara sendiri, bagaimana menanggung beban menjadi anak emas, dan bagaimana rasanya menahan diri dari kebebasan. Hiro dan Jiro bisa dianalogikan dirinya dan Anjani. Ketika Anjani dan Jiro membutuhkan perhatian dari orang tua, ia dan Hiro justru menginginkan keberanian untuk mengekspresikan kebebasan seperti saudara mereka.

“Kamu melamun?”

Andani tersentak, “Eh—eh, nggak kok.”

Hiro kembali tersenyum, “Setidaknya kamu dan kembaranmu masih beruntung. Kalian dikelilingi teman-teman yang saling mendukung. Berbeda dengan kami. Orang-orang yang kukenal tidak banyak dan di sini negeri orang. Sulit rasanya membujuk Jiro untuk kembali bersekolah.”

Ada keinginan Andani untuk memberikan bantuan, tapi rasanya itu bukanlah hal yang mudah. Sampai saat ini saja ia masih belum bisa face to face dengan Jiro. Kata-kata Jiro yang menggoda sering membuat bulu kuduk Andani bergidik.

“Tidak usah dipikirkan. Sudah mau mendengarkan keluhanku juga sudah lebih dari cukup," Hiro menatap Andani dengan lembut. “Arigatou.

Andani mengerti kalau kata terakhir Hiro berarti terima kasih, tapi sayangnya Andani tidak tahu bagaimana membalas dengan bahasa yang sama. Ia pun hanya membalasnya dengan senyuman manis. Suasana hangat itu tidak berlangsung lama karena kedatangan Jiro menghapus segalanya.

“Sedang apa berduaan di sini?”

Andani tampak terkejut, tapi Hiro tetap tenang. Ia bahkan berdiri di antara Jiro dan Andani. Seolah-olah tidak mau membiarkan saudaranya itu terlalu dekat dengan gadis manis ini.

“Menunggumu, tentu saja. Kebetulan aku bertemu gadis manis dan kami mengobrol. Ngomong-ngomong, bagaimana petualanganmu hari ini?”

“Menyenangkan,” ujar Jiro dengan dahi berkerut. Tak biasanya Hiro bersikap protektif dengan gadis ini. “Lalu apa kalian masih mau mengobrol?”

“Tidak. Ayo kita pulang!” sekali lagi Hiro menatap Andani dengan lembut. “Kami pulang dulu ya. Selamat mengerjakan tugas!”

Sebelum Jiro berkata lebih banyak, Hiro langsung menyeretnya. Andani bahkan belum sempat membalas salam Hiro. Langkah keduanya lumayan cepat.

Hiro melepaskan tangannya ketika Andani sudah tak berada di dekat mereka. Ia berjalan santai, seolah-olah tidak terjadi apa pun sebelumnya. Tentu saja Jiro semakin heran. Dia merasa ada sesuatu di antara Hiro dan gadis itu.

“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan tadi?”

“Tidak ada,” sahut Hiro sambil tersenyum.

“Dasar aneh!” gerutu Jiro sambil menyejajarkan langkah mereka. “Ah ya, apa gadis itu membicarakanku?”

Hiro tak langsung menjawab. Ia membiarkan Jiro mendahului. Sadar saudaranya tertingggal, Jiro pun berbalik. Lagi-lagi ia ada yang sedang disembunyikan oleh saudaranya itu.

“Heei, Hiro!”

Hiro berjalan santai dan senyum mencurigakan itu kembali mengembang.

“Kau tahu, Jiro. Sepertinya aku juga menyukai gadis itu.”

Jiro tersentak, “Andani-chan?”

Bahu Hiro terangkat dengan senyuman yang belum terhapus.

“Ja—jangan bercanda,” Jiro tertawa patah-patah.

“Kalau begitu akan kukatakan kalau aku sangat serius sekarang.”

Pernyataan Hiro yang begitu tenang sanggup membuat raut wajah Jiro berubah garang. Jiro memang selalu memeran karakter antagonis, tapi tidak pernah ia tunjukkan pada Hiro. Baru kali ini ia melihat sendiri bagaimana amarah saudaranya itu terpancar untuknya. Namun, bukannya memilih jalan aman, Hiro justru semakin membakar amarah saudaranya.

Dakara ima shinjite imasu ka? Naah, hajimemashou!”

 

 

 

Author’s Note:

Dakara ima shinjite imasu ka? Naah, hajimemashou : Sekarang apa kau percaya? Nah, sekarang ayo kita mulai

1 komentar: