Total Tayangan Halaman

Minggu, 30 April 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 148)




Musikal 148

Bohong jika Anjani tak ikut curiga dengan tingkah laku Hiro belakangan ini. Sudah dua hari ini pemuda Jepang itu menunjukkan perhatian yang berbeda pada saudarinya. Andani yang semula takut pada Jiro, kini merasa risih dengan kehadirannya kembarannya.
Hal ini justru berbalik pada Jiro. Dia yang semula selalu menggoda Andani ketika mereka bertemu, sekarang malah memasang ekspresi yang sulit diartikan. Awalnya Anjani mengira kalau Jiro memilih cuek, tapi ada kilatan cemburu ketika melihat Hiro sedang bersama Andani. Anjani mulai khawatir dengan persaingan si kembar itu. Tak masalah jika saudarinya itu diperebutakan banyak lelaki, tapi tolong jangan sampai sepasang saudara kembar jadi saingan.
Anjani berusaha mengabaikan apa yang terjadi antara Andani dan duo Hasegawa itu. Namun Tuhan berkata lain. Di tengah usahanya melupakan masalah saudarinya, orang yang bersangkutan dengannya justru didekatkan. Anjani tak mengerti, kenapa dari semua siswa yang ada ia harus bekerja di tempat yang sama dengan Jiro.
Sabtu ini seluruh sekolah mengerjakan pembersihan massal. Setiap tiga bulan sekali sekolah ini memang selalu mengadakan pembersihan massal. Semua siswa diberi tugas dan tempat masing-masing. Tidak ada kegiatan belajar mengajar pada hari itu. Jika pekerjaan sudah selesai maka siswa diperbolehkan pulang cepat.
Kali ini Anjani mendapatkan pekerjaan untuk halaman di belakang kantin. Sepanjang yang ia tahu, ia bekerja bersama Kemal. Namun, Kemal menghilang entah ke mana dan tiba-tiba saja Jiro yang tanpa banyak bicara langsung membantu pekerjaannya.
Suasana sempat terasa kaku. Padahal Jiro termasuk lelaki Jepang yang banyak bicara. Mungkin karena laki-laki itu sedang bad mood dan Anjani pun tak berani menegur lebih dulu.
“Apa saudarimu sudah cerita kalau dia sudah jadian dengan seseorang?”
Awalnya Anjani kaget karena tiba-tiba saja Jiro mengajaknya bicara, tapi ia kaget kembali karena pertanyaan Jiro yang membuatnya bingung untuk menjawab.
“A—aku gak tahu,” Anjani menggaruk-garuk kepalanya. “Tapi Andani memang belum cerita apa-apa kalau dia sudah jadian. Eh, tapi memangnya dia sudah jadian dengan Hiro Senpai?”
“Aku juga gak tahu. Makanya aku tanya kamu.”
Anjani mengangkat bahu lalu melanjutkan pekerjaannya.
“Boleh aku tanya sesuatu, Senpai?” Anjani langsung melanjutkan pertanyaan tanpa menunggu respon lawan bicaranya. “Sebenarnya perasaan Senpai itu serius atau cuma main-main saja? Kupikir Senpai akan terus mendekati Andani, tapi kenapa sekarang malah menyerah?”
Jiro tak lantas menjawab. Hanya terdengar helaan napas berat sebelum itu.
“Aku hanya tidak ingin bersaing dengan Hiro.”
Anjani melipat tangannya di depan dada dan menatap Jiro dengan cemberut, “Sebenarnya yang mau berkencan dengan Andani itu Jiro Senpai atau Hiro Senpai sih?”
“Bukannya sudah kubilang kalau aku tidak mau bersaing dengan saudaraku sendiri. Satu-satunya orang yang tak akan menjadi musuhku adalah Hiro sekalipun ia orang terakhir di dunia ini.”
Sebuah senyuman terukir di wajah Anjani ketika mendengar jawaban Jiro.
“Bukankah kita sama, Senpai?”
Jiro hanya melirik Anjani.
“Ya, aku juga tahu rasanya tidak ingin menjadi saingan sendiri setelah insiden itu, tapi bukankah Hiro Senpai harusnya tahu kalau Jiro Senpai sudah menyukai Andani lebih dulu. Tidak akan jadi salahmu lagi jika harus bersaing dengannya, iya kan?”
Jiro masih membisu.
“Kecuali kalau Senpai memang tak percaya diri menghadapi Hiro Senpai?”
“Hei, bukan begitu!”
“Atau mungkin Senpai sudah punya gadis lain yang disukai?”
“Siapa bilang?”
Tawa Anjani lepas saat melihat Jiro seperti mengamuk. Ia mengubah posisi tangannya jadi berkacak pinggang.
“Baiklah, aku tanya sekali lagi. Jadi, yang harusnya berkencan dengan saudariku itu Hiro atau Jiro?”
Jiro mendesah mantap, “Ya, aku!”
“Bagus! Kalau begitu kejarlah!”
Jiro membelalakkan matanya, “Sekarang?”
“Ya iyalah! Mau tunggu sampai kapan? Sampai Hiro Senpai sudah pacaran dengan Andani?”
Desakan Anjani membuat dada Jiro bergemuruh. Ada tiupan api semangat yang menyuruhnya untuk segera bergerak.
“Dimana dia sekarang?”
“Kalau tidak salah dia bersama Ririn di ruang kepala sekolah.”
Jiro mengangguk, “Doakan aku, ya!”
Pemuda itu berlari dengan semangat. Senyum Anjani tak bisa menghilang tingkahnya. Tiba-tiba saja Kemal datang dan mengejutkannya.
“Astaga, kamu muncul dari mana sih?”
Kemal hanya menampilkan senyuman menggoda.
“Apaan senyum-senyum? Dari tadi dicariin malah hilang. Sekarang datang udah kayak hantu aja.”
“Kamu berbakat jadi mak comblang, ya?”
Anjani tersentak, “Ka—kamu dengar tadi?”
“Semuanya,” Kemal menampilkan sederet gigitnya yang rata. “Tadinya aku udah mau nyamperin kamu, tapi kayaknya mendingan aku nguping dulu deh.”
“Sialan!” gerutu Anjani seraya melayangkan sapu pada Kemal. Sayang, pemuda itu berhasil berkelit.
“Tapi itu bagus, Jane!” sahut Kemal sebelum Anjani melayangkan sapunya lagi. “Itu pujian. Sungguh.”
Anjani hanya mendengus kesal.
“Ngomong-ngomong, kamu tidak iri lagi pada saudarimu’kan?”
“Tentu saja tidak. Kenapa kamu tanya-tanya itu lagi?”
“Hanya memastikan saja. Yah, kupikir setelah ini kembaranmu itu akan selangkah lebih maju dalam hal percintaan.”
“Dia memang akan selalu di depanku,” ujar Anjani sambil tersenyum. “Tapi itu tidak akan jadi masalah lagi karena aku sudah tahu jalanku sendiri. Kali ini aku hanya membantunya. Aku benar-benar kasihan melihatnya masuk lingkarang setan itu. Jadi, aku tidak akan iri.”
Kemal mengacungkan ibu jarinya, “You are the real MVP!”
Senyuman Anjani berubah menjadi sinis, “Daripada kamu sibuk memuji aku, mendingan kamu bantuin aku. Nih, sapu!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar