Musikal 148
Bohong jika Anjani tak ikut curiga dengan tingkah laku
Hiro belakangan ini. Sudah dua hari ini pemuda Jepang itu menunjukkan perhatian
yang berbeda pada saudarinya. Andani yang semula takut pada Jiro, kini merasa
risih dengan kehadirannya kembarannya.
Hal ini justru berbalik
pada Jiro. Dia yang semula selalu menggoda Andani ketika mereka bertemu,
sekarang malah memasang ekspresi yang sulit diartikan. Awalnya Anjani mengira
kalau Jiro memilih cuek, tapi ada kilatan cemburu ketika melihat Hiro sedang
bersama Andani. Anjani mulai khawatir dengan persaingan si kembar itu. Tak
masalah jika saudarinya itu diperebutakan banyak lelaki, tapi tolong jangan
sampai sepasang saudara kembar jadi saingan.
Anjani berusaha
mengabaikan apa yang terjadi antara Andani dan duo Hasegawa itu. Namun Tuhan
berkata lain. Di tengah usahanya melupakan masalah saudarinya, orang yang
bersangkutan dengannya justru didekatkan. Anjani tak mengerti, kenapa dari
semua siswa yang ada ia harus bekerja di tempat yang sama dengan Jiro.
Sabtu ini seluruh
sekolah mengerjakan pembersihan massal. Setiap tiga bulan sekali sekolah ini
memang selalu mengadakan pembersihan massal. Semua siswa diberi tugas dan
tempat masing-masing. Tidak ada kegiatan belajar mengajar pada hari itu. Jika
pekerjaan sudah selesai maka siswa diperbolehkan pulang cepat.
Kali ini Anjani
mendapatkan pekerjaan untuk halaman di belakang kantin. Sepanjang yang ia tahu,
ia bekerja bersama Kemal. Namun, Kemal menghilang entah ke mana dan tiba-tiba
saja Jiro yang tanpa banyak bicara langsung membantu pekerjaannya.
Suasana sempat terasa
kaku. Padahal Jiro termasuk lelaki Jepang yang banyak bicara. Mungkin karena
laki-laki itu sedang bad mood dan
Anjani pun tak berani menegur lebih dulu.
“Apa saudarimu sudah
cerita kalau dia sudah jadian dengan seseorang?”
Awalnya Anjani kaget
karena tiba-tiba saja Jiro mengajaknya bicara, tapi ia kaget kembali karena
pertanyaan Jiro yang membuatnya bingung untuk menjawab.
“A—aku gak tahu,”
Anjani menggaruk-garuk kepalanya. “Tapi Andani memang belum cerita apa-apa kalau
dia sudah jadian. Eh, tapi memangnya dia sudah jadian dengan Hiro Senpai?”
“Aku juga gak tahu.
Makanya aku tanya kamu.”
Anjani mengangkat
bahu lalu melanjutkan pekerjaannya.
“Boleh aku tanya
sesuatu, Senpai?” Anjani langsung
melanjutkan pertanyaan tanpa menunggu respon lawan bicaranya. “Sebenarnya
perasaan Senpai itu serius atau cuma
main-main saja? Kupikir Senpai akan
terus mendekati Andani, tapi kenapa sekarang malah menyerah?”
Jiro tak lantas
menjawab. Hanya terdengar helaan napas berat sebelum itu.
“Aku hanya tidak
ingin bersaing dengan Hiro.”
Anjani melipat
tangannya di depan dada dan menatap Jiro dengan cemberut, “Sebenarnya yang mau
berkencan dengan Andani itu Jiro Senpai
atau Hiro Senpai sih?”
“Bukannya sudah
kubilang kalau aku tidak mau bersaing dengan saudaraku sendiri. Satu-satunya
orang yang tak akan menjadi musuhku adalah Hiro sekalipun ia orang terakhir di
dunia ini.”
Sebuah senyuman
terukir di wajah Anjani ketika mendengar jawaban Jiro.
“Bukankah kita sama, Senpai?”
Jiro hanya melirik
Anjani.
“Ya, aku juga tahu
rasanya tidak ingin menjadi saingan sendiri setelah insiden itu, tapi bukankah
Hiro Senpai harusnya tahu kalau Jiro Senpai sudah menyukai Andani lebih dulu.
Tidak akan jadi salahmu lagi jika harus bersaing dengannya, iya kan?”
Jiro masih membisu.
“Kecuali kalau Senpai memang tak percaya diri
menghadapi Hiro Senpai?”
“Hei, bukan begitu!”
“Atau mungkin Senpai sudah punya gadis lain yang
disukai?”
“Siapa bilang?”
Tawa Anjani lepas
saat melihat Jiro seperti mengamuk. Ia mengubah posisi tangannya jadi berkacak
pinggang.
“Baiklah, aku tanya
sekali lagi. Jadi, yang harusnya berkencan dengan saudariku itu Hiro atau
Jiro?”
Jiro mendesah mantap,
“Ya, aku!”
“Bagus! Kalau begitu
kejarlah!”
Jiro membelalakkan
matanya, “Sekarang?”
“Ya iyalah! Mau tunggu
sampai kapan? Sampai Hiro Senpai sudah
pacaran dengan Andani?”
Desakan Anjani
membuat dada Jiro bergemuruh. Ada tiupan api semangat yang menyuruhnya untuk
segera bergerak.
“Dimana dia
sekarang?”
“Kalau tidak salah
dia bersama Ririn di ruang kepala sekolah.”
Jiro mengangguk,
“Doakan aku, ya!”
Pemuda itu berlari
dengan semangat. Senyum Anjani tak bisa menghilang tingkahnya. Tiba-tiba saja
Kemal datang dan mengejutkannya.
“Astaga, kamu muncul
dari mana sih?”
Kemal hanya
menampilkan senyuman menggoda.
“Apaan senyum-senyum?
Dari tadi dicariin malah hilang. Sekarang datang udah kayak hantu aja.”
“Kamu berbakat jadi
mak comblang, ya?”
Anjani tersentak,
“Ka—kamu dengar tadi?”
“Semuanya,” Kemal
menampilkan sederet gigitnya yang rata. “Tadinya aku udah mau nyamperin kamu,
tapi kayaknya mendingan aku nguping dulu deh.”
“Sialan!” gerutu
Anjani seraya melayangkan sapu pada Kemal. Sayang, pemuda itu berhasil
berkelit.
“Tapi itu bagus,
Jane!” sahut Kemal sebelum Anjani melayangkan sapunya lagi. “Itu pujian.
Sungguh.”
Anjani hanya
mendengus kesal.
“Ngomong-ngomong,
kamu tidak iri lagi pada saudarimu’kan?”
“Tentu saja tidak.
Kenapa kamu tanya-tanya itu lagi?”
“Hanya memastikan
saja. Yah, kupikir setelah ini kembaranmu itu akan selangkah lebih maju dalam
hal percintaan.”
“Dia memang akan
selalu di depanku,” ujar Anjani sambil tersenyum. “Tapi itu tidak akan jadi
masalah lagi karena aku sudah tahu jalanku sendiri. Kali ini aku hanya
membantunya. Aku benar-benar kasihan melihatnya masuk lingkarang setan itu.
Jadi, aku tidak akan iri.”
Kemal mengacungkan
ibu jarinya, “You are the real MVP!”
Senyuman Anjani
berubah menjadi sinis, “Daripada kamu sibuk memuji aku, mendingan kamu bantuin
aku. Nih, sapu!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar