Musikal
178
Hana adalah orang
pertama yang menyambut datangnya Tifa dengan pelukan. Disusul kemudian Gloria
dan Riani lalu teman-teman sekelasnya. Sambutan hangat itu membuat Tifa tak
menyangka kalau teman-temannya bersimpati atas duka yang ia rasakan.
Hari pertamanya bersekolah pascaseminggu ia alpa berjalan lancar. Tak
seorang temannya yang menyinggung masalah kakaknya. Setelah adegan
mengharu-biru pagi tadi, semuanya terasa seperti biasa. Bahkan ketika beberapa
anggota klubnya yang mengajak untuk mendiskusikan masalah pementasan akhir,
Tifa juga tak menolak.
Semua kembali damai hingga satu bulan berakhir. Ketika Tifa pulang agak
larut karena latihan pementasan, ia mendapati rumahnya agak ramai. Entah siapa
yang datang berkunjung. Ia baru tahu tamu yang datang begitu ia masuk. Ternyata
Ican dan seorang wanita dengan bayi dalam gendongannya. Siapa wanita itu masih
jadi misteri bagi Tifa.
Tifa baru saja akan menyapa Ican, tapi ibunya memberi kode agar ia
segera masuk. Batin Tifa merasa ada sesuatu yang salah. Ia menuruti kata-kata
ibunya, tapi bukan berarti ia tak bisa menelik semua percakapan di ruang tamu.
Memang suasana yang tidak menyenangkan langsung menguar begitu ia masuk.
“Saya akan langsung berbicara pada intinya,” Ican memulai percakapan. Ia
mendesah berat seraya melirik wanita di sebelahnya. “Bahwa saya sudah menikah
lagi.”
Tifa meremas ujung roknya. Kalimat terakhir Ican sungguh mengejutkan
semua orang. Bagaimana mungkin Ican langsung bisa menikah padahal baru sebulan
istrinya meninggal.
“Baru sebulan dan kamu menikah tanpa memberitahu kami?” sergah ayahnya. “Apa
kamu tidak kelewatan?”
“Saya bahkan lebih kelewatan daripada itu karena saya… saya… saya sudah
menikah ketika Laksmi masih hidup.”
Mata sang ayah membeliak menahan amarah.
“Saya tahu saya salah. Saya memang telah berselingkuh dan Laksmi tahu.
Saya pikir awalnya Laksmi akan meminta cerai atau mungkin meneror Selvi, tapi
ternyata ia membuat semua orang menjadi syok.”
Dari kejauhan Tifa bisa melihat tangan sang ayah mengepal dan bergetar.
“Dan satu dosa lagi yang harus saya akui kepada kalian semua,” Ican
berbicara dengan kepala tertunduk. Nada bicaranya semakin pelan. “Laksmi
menikah dengan saya bukan karena kami saling suka. Saya pernah menjebak dia dan
ternyata dia hamil.”
Amarah sang ayah tak bisa diredam lagi. Sebuah pukulan keras mendarat di
wajah Ican. Kemudian disusul dengan amukan-amukan sang ayah yang bahkan membuat
ibunya Tifa tak sanggup menahannya. Tifa juga tak berani melerai. Ia terserap
dalam gravitasi dan hanya bisa mematung di lantai.
“KAMU PEMBUNUH!!!”
Ican langsung berlutut di hadapan sang ayah. Sementara itu wanita yang
diakui sebagai istri simpanan Ican menangis, begitu pula dengan bayi yang ada
dalam gendongannya. Amarah sang ayah tampaknya terasa oleh si bayi.
“Saya tahu, saya pantas dihukum. Silakan jika Anda ingin membunuh saya.”
“Ka—kamu….”
Kata-kata sang ayah terhenti sampai di situ. Detik berikutnya ia roboh
ke lantai. Tifa yang tadi hanya bersembunyi langsung berlari menghampiri
ayahnya. Ia mencoba menyadarkan sang ayah, tapi tidak berhasil.
“Jantungnya…” isak sang ibu. “Tifa, cepat panggil ambulans!”
Dengan tangan gemetar Tifa menekan nomor ambulans. Selagi menunggu
datangnya ambulans, Tifa mencoba memberi pertolongan pertama pada ayahnya. Ia
pernah mempelajari ketika ikut anggota PMR SMP. Namun, ia tidak tahu apakah itu
akan berguna atau tidak.
Raungan sirine bagai membelah malam. Adrian yang hampir terlelap
seketika bangun. Suara itu seperti akan memberi mimpi buruk untuknya. Ia pun
memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari siapa pun yang bisa
menenangkannya.
Alih-alih menjaganya, Adrian justru melihat kakeknya terbaring tak
berdaya di lantai. Dua orang laki-laki yang tak ia kenal menaikkan tubuh
kakeknya di tandu lalu membawanya ke sebuah mobil putih dengan raungan yang
menyeramkan. Persis yang ia lihat seperti pada saat kematian ibunya. Ia yakin
kalau mobil putih dengan bunyi-bunyian yang menyeramkan itu akan membawa
kakeknya pergi. Sama seperti ibunya.
Adrian menutup kedua telinganya. Ia bersembunyi agar bunyi-bunyian itu
tak membawanya juga. Takut, ia sangat takut. Tubuhnya bahkan sampai gemetaran.
Ia tak mau mendengar bunyi-bunyian itu lagi….
ooOoo
“Maaf, Bu, tapi kami
sudah berusaha….”
Tubuh July bergetar hebat. Ia hampir saja roboh andai Tifa tak
menahannya. Ibu dan anak ini hanya bisa menangis meratapi kepergian ayahnya.
Suasana di unit gawat darurat berubah senyap. Beberapa pasien yang ada
di sana ikut berduka mengetahui kejadian itu. Mereka juga tidak menyangka kalau
pria yang tadi digotong oleh petugas ambulans langsung menghembuskan napas
terakhirnya.
Tifa seperti kehilangan separuh napasnya saat menyadari bahwa
orang-orang yang ia cintai pergi dengan cara yang begitu cepat. Ia berusaha
tegar, tapi tak bisa. Pipinya sudah basah oleh air mata. Hanya saja ia sedikit
lega mengetahui dirinya tidak syok dan pingsan seperti waktu itu. Setidaknya ia
masih bisa membantu ibunya.
Sepertinya Ican ikut berempati dengan kejadian ini. Tanpa disuruh ia
langsung mengurus jenazah mertuanya. Tifa dan Ibunya belum bisa berkomentar.
Keduanya masih syok.
“Hubungi, Dave,” bisik Ibunya. “Dia tahu apa yang harus ia lakukan.”
Tifa bahkan tidak memikirkan nama itu saat ini. Entah kenapa ibunya
justru menyebut pemuda itu pertama kali bahkan sebelum menyuruhnya untuk
menghubungi paman atau bibinya. Namun, tak ada bantahan. Tifa berlari menuju
telepon umum.
ooOoo
Dave berlari-lari dari
halaman rumah sakit menuju UGD. Ternyata Tifa berdiri di depan pintu UGD dengan
wajah yang carut-marut. Gadis itu tak kuasa menahan tangis saat menyambut
kedatangan Dave. Air matanya bahkan merembes pada kemeja Dave saat ia
memeluknya.
“A—Ayah, Dave… Ayah….”
“Iya, iya, aku juga turut berduka, Tif,” Dave membelai lembut pundak
gadis itu. “Tenangkan dirimu dulu.”
Tifa mengangguk pelan. Tangisnya pun perlahan surut.
“Ibumu mana?”
“Di dalam, bersama Mas Ican, mengurus ayah.”
“Adrian?”
“Tadi dia kami titipkan di rumah tetangga. Kupikir dia baik-baik saja.”
Dave mendesah lega, “Kalau begitu, apa yang bisa kubantu?”
“Ibu bilang aku pulang saja. Aku harus mengurus keperluan di rumah dan
juga harus menjaga Adrian. Kamu bisa antar aku?”
Dave mengangguk cepat, “Tapi aku mau bertemu dengan ibumu dulu.”
Tifa mengantarkan Dave bertemu dengan ibunya. Wanita itu memeluk Dave
erat ketika mereka berjumpa. Entah kenapa ibunya sangat lega begitu pemuda ini
datang. Bahkan mengucapkan banyak terima kasih karena Dave bersedia membantu.
Tifa memang tidak mengerti kenapa ibunya bersikap seperti itu, tapi ia sangat
bersyukur memiliki pemuda itu saat ini.
Author's Note:
Haloooow....astaga... sudah berapa bulan yah Author gak update...
huhuu...maafkan hamba,
dunia orang dewasa memang menyebalkan
blognya sudah penuh sarang laba-laba
eiiits... tenang, auhtor ke sini bukan cuma bersihin sawang-sawang, tapi mau update sampai selesai supaya hutanya lunaas
so, don't miss it!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar