Total Tayangan Halaman

Sabtu, 23 Juli 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 57)




Musikal 57


Tifa menggenggam erat stir seraya menarik napas dalam-dalam. Ia harus segera turun dari mobil, tapi ia enggan melangkah keluar. Baru kali ini ia merasa ketakutan hanya untuk menemui orang yang sudah lama tak ia temui. Ia menarik napas sekali lagi. Sebelum turun ia kembali memeriksa catatan yang sudah ia buat.
“ Mari kita lihat. Hmm, kotak P3K, siap. Nomor telepon ambulans, siap. Surat warisan, hmmm, sepertinya sudah kubawa. Baiklah, aku siap.”
Tifa melangkahkan kakinya keluar. Ia memberanikan diri untuk masuk ke perkarangan sebuah rumah. Tampak seorang wanita tua sedang merawat tanaman bonsai. Perhatian wanita itu teralih saat ia menyadari ada tamu yang datang ke rumahnya. Tifa merasa ludahnya sulit tertelan saat mereka beradu pandang.
“ Hai, Bu.”
Wanita itu langsung meraih sapu lidi yang ada di dekatnya. Tanpa babibu lagi ia langsung memukulkan ikatan lidi itu tepat di betis Tifa. Kontan Tifa berteriak dan mencoba kabur. Entah kekuatan dari mana, wanita 60 tahunan itu selalu berhasil menyabetkan sapu lidinya ke betis Tifa.
“ Ibu, whoooaa! Ibu, saakiit!”
Suasana sore yang tenang dalam sekejap berubah rusuh akibat adegan aneh ibu dan anak ini. Suara Tifa yang berisik memancing Adrian keluar. Betapa terkejutnya ia begitu melihat neneknya memukuli Tifa dengan membabi buta. Setahunya neneknya sangat lembut, bahkan sampai sekarang Adrian tak pernah dicubit atau dijewer, paling keras Adrian hanya dimarahi. Namun, kali ini neneknya seperti kesurupan. Tak mau semua tetangga datang melihat, Adrian pun langsung memisahkan keduanya.
“ Astaga, Nenek! Stop, Nek! Stop!”
Adrian merebut sapu lidi dan memegangi neneknya. Barulah wanita itu terlihat lelah, napasnya terengah-engah. Mungkin ia baru saja teringat kalau staminanya sudah tak lagi seperti dulu. Selain itu, Tifa sudah meraung-raung kesakitan akibat pukulannya.
“ Ya ampun, ada apa ini?” ujar Adrian.
Wanita itu mendengus kesal. Tampaknya amarah wanita itu masih tersimpan di dadanya.
“ Dasar, anak gak tahu diri! Bertahun-tahun gak pernah pulang! Gak pernah kasih kabar! Sekalinya pulang malah gak langsung pulang ke rumah, malah nyuruh keponakannya pulang! Mau kamu apa, Tifa?”
“ Abisnya dulu tiap aku pulang pasti dipukulin kayak gini,” jawab Tifa sambil mengusap-usap betisnya. Untung hari ini ia pakai jeans panjang dan tebal. “ Makanya aku malas pulang.”
“ Kamu sih, tiap ditanya soal pernikahan malah ngeles terus. Ahh, dasar!” wanita itu memijat-mijat keningnya. “ Kamu ini perempuan bukan, Tif? Duuh, kenapa aku bisa melahirkan anak sinting seperti ini?”
Kalau saja situasinya berbeda, mungkin Adrian sudah terbahak-bahak mendengar keluhan neneknya. Ternyata bukan hanya dia atau anggota LM, bahkan neneknya pun merasakan kesintingan Tifa sejak lama. Baru sekarang ia mengerti kenapa neneknya malas mengakui Tifa sebagai anaknya.
“ Ya sudah, sekarang masuk! Ibu tidak mau kalau orang lain tahu kalau ada kerusuhan di sini.”
Wanita itu lebih dulu masuk, meninggalkan anaknya yang meringis kesakitan.
“ Wah, wah, wah, baru kali ini aku lihat seorang Latifa Kusuma Ningsih knock out,” Adrian terkekeh seraya mencangklong sapu lidi. “ Coba tadi aku rekam, yah.”
“ Berisik! Bantuin berdiri kenapa? Kakiku sakit banget tau,” omel Tifa.
Adrian masih terkekeh saat membantu Tifa berdiri. Wanita itu berbisik sambil mendelikkan matanya.
“ Awas kalau kamu bilang-bilang sama yang lain!”
Dan Adrian tak kuasa menahan tawanya.
ooOoo
Rupa-rupanya July Sastrawan sudah menyiapkan masakan kesukaan Tifa. Sekesal-kesalnya ia dengan anaknya, ia tetap merindukan kedatangan buah hatinya. Ia bahkan bersyukur melihat kondisi anaknya baik-baik saja.
“ Jadi, bagaimana dengan pementasanmu?”
Tifa yang tadinya asyik melahap pindang tulang mendadak berhenti saat ibunya bertanya.
“ Masih tahap pelatihan. Kemarin kami baru saja pulang dari kamp pelatihan.”
Adrian cukup terkejut melihat percakapan antara nenek dan tantenya yang sekarang terlihat biasa saja. Padahal sebelumnya seperti majikan dan budak. Adrian menggeleng-geleng tak mengerti. Satu lagi misteri dunia muncul.
“ Tumben kamu mau pulang, Tif.”
Tifa nyengir, “ Besok ulang tahun kakak’kan? Aku mau merayakannya bersama.”
Tak hanya July, tapi Adrian pun ikut berhenti makan. July menarik napas panjang, sementara Adrian hanya tersenyum kecil.
“ Kamu besok mau pergi jam berapa?”
“ Terserah Ibu aja. Lagi pula aku’kan nginep di sini.”
Adrian tak bisa menahan senyumnya. Senang rasanya keluarga kecil ini kembali berkumpul.
ooOoo
“ Es kopi tanpa gula.”
Tifa meringis saat Adrian memberikan pesanannya. Bukan karena kopinya, tetapi karena betisnya yang masih nyeri akibat serangan ibunya sendiri. Untunglah ia punya keponakan yang baik hati. Setelah makan Adrian mengompres kaki Tifa yang mulai membiru, tak lupa dengan minuman kesukaan si Tante. Pasangan tante-keponakan ini sedang menikmati malam yang cerah di atas balkon.
“ Aku gak pernah lihat Nenek segarang itu sebelumnya. Padahal sebelum Tante pergi ke Amerika dulu Nenek malah sedih banget. Aku masih ingat dia meluk Tante sampai nangis-nangis di bandara. Kok pas Tante pulang sekarang malah dipukulin kayak sapi?”
Tifa terkekeh, “ Mungkin karena pulang. Aku sudah lupa kapan terakhir aku pulang. Nenekmu itu orangnya pencemas sih.”
“ Yeee, itu sih salah Tante artinya. Udah tahu Nenek pencemas malah dibuat cemas,” Adrian menyeruput es kopinya. “ Tapi aku penasaran, apa sih yang Nenek cemas’kan?”
‘ Mungkin dia cemas kalau aku akan bernasib sama dengan Mamamu, Adrian.’
Hanya helaan napas panjang yang terdengar. Tifa tidak mungkin menjawab dengan apa yang ia katakan dalam hati. Bisa-bisa Adrian akan menuntut penjelasan yang lebih panjang lagi. Bukan maksud Tifa merahasiakannya, hanya saja saat ini bukan waktu yang tepat.
“ Mana aku tahu, tanya aja sendiri sama orangnya.”
“ Iiih, Tante gitu deh. Oh ya, aku juga masih kepikiran sama omelan Nenek tadi. Memangnya kenapa Tante sampai saat ini gak mau nikah? Aku tahu kok kalau Tante itu bukan tipikal gadis yang gak laku. Aku juga bisa ngerasain kalau Tante itu memang sengaja untuk nunda nikah.”
“ Sok tahu kamu,” Tifa menoyor kepala Adrian. “ Eh, jodoh itu Tuhan yang atur. Mana kita tahu kalau ada orang yang mau ngajak kita nikah.”
“ Ada kok. Om Dave?”
“ Dave?” alis Tifa terangkat sebelah. “ Kenapa harus Dave? Aku dan Dave itu cuma masa lalu.”
“ Kalau cuma bagian dari masa lalu gak mungkin Om Dave sampai ngejar-ngejar Tante sampai ke kamp kemarin. Hubungan kalian memang masa lalu, tapi masa lalu yang belum terselesaikan.”
“ Tahu dari mana?” cibir Tifa.
“ Lho dari dulu’kan hubungan kalian itu benar-benar erat. Walaupun dulu aku masih kecil, tapi aku selalu merasa kalian itu pasangan yang akan terus bersama. Sayang, kalian harus putus dan setiap aku tanya alasan Tante putus, Tante selalu aja mengelak. Sama seperti Tante kalau ditanya Nenek kapan menikah.”
Helaan napas Tifa terdengar berat. Ia lupa kalau sekarang sedang berbicara dengan keponakannya yang sudah dewasa, yang sudah mengerti arti cinta dan masa depan. Ia tak bisa memberikan jawaban nyeleneh seperti dulu.
“ Kenapa aku putus dengan Dave dan kenapa aku belum menikah akan menjadi pertanyaan retoris selamanya. Kamu dan Nenekmu hanya buang-buang waktu nanya begituan.”
“ Tuh kan, Tante selalu begitu deh,” Adrian memberengut. “ Memangnya Tante mau jadi perawan tua?”
“ Yaaah, nggak juga,” Tifa tertawa keras. “ Duuh, tapi sampai sekarang aku belum pernah memikirkan masalah itu. Entahlah, rasanya pementasan ini justru lebih penting dari segalanya.”
Adrian melirik Tifa yang sedang menghabiskan tetes terakhir kopinya. Tifa, kopi, dan pementasan. Selama 20 tahun hidup bersama, hanya itu yang ia tahu dari tantenya.
ooOoo
Esok harinya mereka berangkat menuju area pemakaman. Ketiganya berkumpul di sebuah makam dengan papan nama bertuliskan ‘Laksmini Kusuma Ningsih’. Tak ada yang berniat membuka percakapan. Mereka hanya melantunkan doa terbaik dalam hati.
“ Sudah semakin siang, sebaiknya kita pulang,” July memecahkan keheningan.
“ Aku  masih mau di sini, Bu. Udah lama banget aku gak mengunjungi Kakak,” ujar Tifa pelan.
July memasati wajah anaknya. Ada rasa iba saat melihat ekspresi sedih di wajah si bungsu. Ia ingat bagaimana rasa kehilangan Tifa saat ia tahu saudarinya meninggal dengan cara yang sulit untuk diikhlaskan. July pun hanya mengangguk dan mengajak Adrian untuk menemaninya di mobil.
“ Oh ya, Tif. Ada yang mau Ibu bicarakan sekarang, soalnya kalau sampai rumah nanti suasananya berubah,” July berbalik dan menatap Tifa serius. “ Mulai saat ini Ibu tidak akan memaksa kamu lagi untuk cepat-cepat menikah. Ibu rasa memaksamu juga percuma, alasanmu terlalu kuat untuk menunda pernikahan. Hanya saja Ibu berharap kamu juga memikirkan tentang pernikahan. Usiamu sudah tak lagi muda, Tif.”
Tifa tertegun. Ia tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Namun, senyuman di wajah Ibunya memastikan bahwa apa yang ia dengar tidak salah. Diiringi Adrian, July pun beranjak pergi. Tifa masih terus menatap arah Ibunya pergi, sampai-sampai bayangan Ibunya benar-benar hilang.
“ Yohoooo!”
Mungkin Tifa adalah satu-satunya orang yang bersorak-sorak seperti orang gila di area pemakaman. Untung area pemakaman itu sedang sepi, kalau tidak orang-orang yang melihat pasti sudah membicarakannya. Kalau pun ada, Tifa juga tidak peduli. Ia hanya peduli pada apa yang ia dengar langsung dari mulut ibunya. Akhirnya, Ibunya tak akan menuntutnya untuk segera menikah. hampir sepuluh tahun ini telinganya terasa pengang mendengar ocehan ibunya soal menikah dan sekarang ibunya mau berkompromi masalah itu.
“ Kakak, dengar itu’kan? Akhirnya, Kak. Akhirnya Ibu gak marah-marah lagi masalah statusku yang masih melajang.”
Tifa berlutut di samping makam kakaknya. Ia bercerita seolah-olah sang kakak sedang duduk di sisinya dan mendengarkan semua cerita.
“ Itulah alasanku malas pulang, Kak. Maafkan aku karena kepentingan pribadi aku jadi jarang mengunjungimu. Nah, setelah masalah ini selesai, aku pastikan aku pasti rutin mengunjungimu. Apalagi di hari ulang tahunmu seperti sekarang.
“ Oh ya, Kakak lihat’kan tadi pria tampan yang bersama kami? Dia anakmu, Kak. Tampan dan menawan, bukan? Kakak tahu, dia sekarang jadi idola di klub teater kita. Kakak harusnya melihat hasil kerja kerasku mengubah Adrian menjadi pangeran. Kakak pasti bangga dengan prestasinya sekarang.
“ Sekarang aku sedang mengerjakan proyek terakhirku sebelum aku benar-benar pensiun. Love Musical. Aku akan bekerja keras untuk ini. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan keduaku. Sekarang aku bukan Tifa yang dulu lagi dan Kakak bisa istirahat dengan tenang. Love Musical sudah ada di tanganku dan aku tak akan lari lagi.”
Tifa menghela napas panjang. Ia tersenyum sendu seraya mengusap-usap nisan Kakaknya.
“ Selamat ulang tahun, Kak. Aku akan terus merindukanmu.”
Angin berhembus lembut. Meniupkan tiap helaian rambut Tifa. Wanita itu berdiri dengan perasaan yang tenang. Ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat.
“ Lama tak bertemu, Tifa.”
Tifa hampir melompat kaget saat melihat sesosok pria di hadapannya. Usia pria ini kira-kira sepuluh tahu lebih tua darinya. Berpakaian rapi dengan sebuah buket mawar di tangannya. Namun, dalam sekejap rasa terkejut itu berubah menjadi rasa antipati pada pria ini.
“ Benar-benar sudah lama sekali,” ia membungkuk untuk meletakkan buket itu di atas makam Laksmini. “ Kamu dan Kakakmu.”
“ Aku gak nyangka Mas Ican bakalan ke sini,” ujar Tifa sinis.
Pria itu tersenyum, “ Ini’kan hari ulang tahun Kakakmu, jadi―”
“ Dan aku juga gak bakal menyangka Mas Ican masih ingat,” nada bicara Tifa terdengar lebih pedas.
“ Tifa, sudah sepuluh tahun berlalu dan kamu masih marah sama Mas?”
Tifa mendengus kesal, “ Mas, Mas kira hanya dengan lewat sepuluh tahun aku bisa meredam amarah aku? Mas, pikir dong! Apa Mas gak punya perasaan? Mas sudah menghilangkan nyawa seseorang dan Mas tanya kenapa aku masih marah? Mas memang udah gak punya otak!”
Pria itu mengangguk pelan, “ Mas tahu, minta maaf aja gak bakal cukup. Lantas Mas harus bagaimana? Mas benar-benar menyesalinya, Tif. Mas―”
“ Tante, lama amat sih. Nenek udah―”
“ Adrian?”
Adrian tertegun saat melihat sosok lain selain tantenya. Seorang laki-laki yang sudah lama tak pernah ia temui. Lebih tepatnya enggan ia temui.
“ Pa—Papa?”
Tifa menarik napas panjang, “ Ayo, Adrian. Nenek sudah lama menunggu’kan? Jangan sampai dia marah-marah lagi. Betisku masih sakit.”
“ Tu—tunggu, Adrian. Papa mau bicara.”
Tifa berbalik dan melemparkan tatapan penuh penolakan, “ Maaf, kami tidak bersedia menemui seorang pembunuh. Sampai jumpa.”
ooOoo
“ Ada apa? Apa setelah datang ke pemakaman Laksmi kalian harus membisu seperti ini?”
Adrian melempar pandangannya keluar jendela. Ia tak mau menjawab pertanyaan neneknya. Lidah terasa berat untuk berbicara pada siapa pun. Pertemuan mereka dengan laki-laki bernama Ican itu membuat ia dan Tifa seolah sepakat untuk membisu seribu kata.
“ Kami bertemu dengan Mas Ican tadi.”
July benar-benar terkejut mendengar jawaban Tifa. Spontan ia menoleh ke arah jendela belakang.
“ Kamu serius, Tifa? Dia gak buntutin kita’kan?”
“ Kayaknya nggak,” Tifa kembali melirik kaca spion. “ Tapi kalau pun iya, aku langsung pasti tendang dia keluar.”
“ Hari yang buruk,” komentar July. Terdengar desahan berat dari napasnya. Wanita tua itu memerhatikan cucunya yang dari tadi melamun.
“ Ada baiknya kamu gak usah pikirkan orang itu, Adrian.”
Ingin Adrian begitu, tapi pertemuan tadi membuat semua kenangan buruknya terbongkar. Kenangan tentang ibunya dan juga kenangan keluarganya yang hancur.

please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar