Musikal 57
Tifa menggenggam erat stir seraya menarik napas
dalam-dalam. Ia harus segera turun dari mobil, tapi ia enggan melangkah keluar.
Baru kali ini ia merasa ketakutan hanya untuk menemui orang yang sudah lama tak
ia temui. Ia menarik napas sekali lagi. Sebelum turun ia kembali memeriksa
catatan yang sudah ia buat.
“ Mari kita lihat.
Hmm, kotak P3K, siap. Nomor telepon ambulans, siap. Surat warisan, hmmm,
sepertinya sudah kubawa. Baiklah, aku siap.”
Tifa melangkahkan
kakinya keluar. Ia memberanikan diri untuk masuk ke perkarangan sebuah rumah.
Tampak seorang wanita tua sedang merawat tanaman bonsai. Perhatian wanita itu
teralih saat ia menyadari ada tamu yang datang ke rumahnya. Tifa merasa
ludahnya sulit tertelan saat mereka beradu pandang.
“ Hai, Bu.”
Wanita itu langsung
meraih sapu lidi yang ada di dekatnya. Tanpa babibu lagi ia langsung memukulkan
ikatan lidi itu tepat di betis Tifa. Kontan Tifa berteriak dan mencoba kabur.
Entah kekuatan dari mana, wanita 60 tahunan itu selalu berhasil menyabetkan
sapu lidinya ke betis Tifa.
“ Ibu, whoooaa! Ibu,
saakiit!”
Suasana sore yang
tenang dalam sekejap berubah rusuh akibat adegan aneh ibu dan anak ini. Suara
Tifa yang berisik memancing Adrian keluar. Betapa terkejutnya ia begitu melihat
neneknya memukuli Tifa dengan membabi buta. Setahunya neneknya sangat lembut,
bahkan sampai sekarang Adrian tak pernah dicubit atau dijewer, paling keras
Adrian hanya dimarahi. Namun, kali ini neneknya seperti kesurupan. Tak mau
semua tetangga datang melihat, Adrian pun langsung memisahkan keduanya.
“ Astaga, Nenek!
Stop, Nek! Stop!”
Adrian merebut sapu
lidi dan memegangi neneknya. Barulah wanita itu terlihat lelah, napasnya
terengah-engah. Mungkin ia baru saja teringat kalau staminanya sudah tak lagi
seperti dulu. Selain itu, Tifa sudah meraung-raung kesakitan akibat pukulannya.
“ Ya ampun, ada apa
ini?” ujar Adrian.
Wanita itu mendengus
kesal. Tampaknya amarah wanita itu masih tersimpan di dadanya.
“ Dasar, anak gak
tahu diri! Bertahun-tahun gak pernah pulang! Gak pernah kasih kabar! Sekalinya
pulang malah gak langsung pulang ke rumah, malah nyuruh keponakannya pulang!
Mau kamu apa, Tifa?”
“ Abisnya dulu tiap
aku pulang pasti dipukulin kayak gini,” jawab Tifa sambil mengusap-usap
betisnya. Untung hari ini ia pakai jeans
panjang dan tebal. “ Makanya aku malas pulang.”
“ Kamu sih, tiap ditanya
soal pernikahan malah ngeles terus. Ahh, dasar!” wanita itu memijat-mijat
keningnya. “ Kamu ini perempuan bukan, Tif? Duuh, kenapa aku bisa melahirkan
anak sinting seperti ini?”
Kalau saja situasinya
berbeda, mungkin Adrian sudah terbahak-bahak mendengar keluhan neneknya.
Ternyata bukan hanya dia atau anggota LM, bahkan neneknya pun merasakan
kesintingan Tifa sejak lama. Baru sekarang ia mengerti kenapa neneknya malas
mengakui Tifa sebagai anaknya.
“ Ya sudah, sekarang
masuk! Ibu tidak mau kalau orang lain tahu kalau ada kerusuhan di sini.”
Wanita itu lebih dulu
masuk, meninggalkan anaknya yang meringis kesakitan.
“ Wah, wah, wah, baru
kali ini aku lihat seorang Latifa Kusuma Ningsih knock out,” Adrian terkekeh seraya mencangklong sapu lidi. “ Coba tadi
aku rekam, yah.”
“ Berisik! Bantuin
berdiri kenapa? Kakiku sakit banget tau,” omel Tifa.
Adrian masih terkekeh
saat membantu Tifa berdiri. Wanita itu berbisik sambil mendelikkan matanya.
“ Awas kalau kamu
bilang-bilang sama yang lain!”
Dan Adrian tak kuasa
menahan tawanya.
ooOoo
Rupa-rupanya July Sastrawan sudah menyiapkan masakan
kesukaan Tifa. Sekesal-kesalnya ia dengan anaknya, ia tetap merindukan
kedatangan buah hatinya. Ia bahkan bersyukur melihat kondisi anaknya baik-baik
saja.
“ Jadi, bagaimana dengan
pementasanmu?”
Tifa yang tadinya
asyik melahap pindang tulang mendadak berhenti saat ibunya bertanya.
“ Masih tahap
pelatihan. Kemarin kami baru saja pulang dari kamp pelatihan.”
Adrian cukup terkejut
melihat percakapan antara nenek dan tantenya yang sekarang terlihat biasa saja.
Padahal sebelumnya seperti majikan dan budak. Adrian menggeleng-geleng tak
mengerti. Satu lagi misteri dunia muncul.
“ Tumben kamu mau
pulang, Tif.”
Tifa nyengir, “ Besok
ulang tahun kakak’kan? Aku mau merayakannya bersama.”
Tak hanya July, tapi
Adrian pun ikut berhenti makan. July menarik napas panjang, sementara Adrian
hanya tersenyum kecil.
“ Kamu besok mau
pergi jam berapa?”
“ Terserah Ibu aja.
Lagi pula aku’kan nginep di sini.”
Adrian tak bisa
menahan senyumnya. Senang rasanya keluarga kecil ini kembali berkumpul.
ooOoo
“ Es kopi tanpa gula.”
Tifa meringis saat
Adrian memberikan pesanannya. Bukan karena kopinya, tetapi karena betisnya yang
masih nyeri akibat serangan ibunya sendiri. Untunglah ia punya keponakan yang
baik hati. Setelah makan Adrian mengompres kaki Tifa yang mulai membiru, tak
lupa dengan minuman kesukaan si Tante. Pasangan tante-keponakan ini sedang
menikmati malam yang cerah di atas balkon.
“ Aku gak pernah
lihat Nenek segarang itu sebelumnya. Padahal sebelum Tante pergi ke Amerika
dulu Nenek malah sedih banget. Aku masih ingat dia meluk Tante sampai
nangis-nangis di bandara. Kok pas Tante pulang sekarang malah dipukulin kayak
sapi?”
Tifa terkekeh, “
Mungkin karena pulang. Aku sudah lupa kapan terakhir aku pulang. Nenekmu itu
orangnya pencemas sih.”
“ Yeee, itu sih salah
Tante artinya. Udah tahu Nenek pencemas malah dibuat cemas,” Adrian menyeruput
es kopinya. “ Tapi aku penasaran, apa sih yang Nenek cemas’kan?”
‘ Mungkin dia cemas kalau aku akan bernasib sama
dengan Mamamu, Adrian.’
Hanya helaan napas
panjang yang terdengar. Tifa tidak mungkin menjawab dengan apa yang ia katakan
dalam hati. Bisa-bisa Adrian akan menuntut penjelasan yang lebih panjang lagi. Bukan
maksud Tifa merahasiakannya, hanya saja saat ini bukan waktu yang tepat.
“ Mana aku tahu,
tanya aja sendiri sama orangnya.”
“ Iiih, Tante gitu
deh. Oh ya, aku juga masih kepikiran sama omelan Nenek tadi. Memangnya kenapa
Tante sampai saat ini gak mau nikah? Aku tahu kok kalau Tante itu bukan tipikal
gadis yang gak laku. Aku juga bisa ngerasain kalau Tante itu memang sengaja
untuk nunda nikah.”
“ Sok tahu kamu,”
Tifa menoyor kepala Adrian. “ Eh, jodoh itu Tuhan yang atur. Mana kita tahu
kalau ada orang yang mau ngajak kita nikah.”
“ Ada kok. Om Dave?”
“ Dave?” alis Tifa
terangkat sebelah. “ Kenapa harus Dave? Aku dan Dave itu cuma masa lalu.”
“ Kalau cuma bagian
dari masa lalu gak mungkin Om Dave sampai ngejar-ngejar Tante sampai ke kamp
kemarin. Hubungan kalian memang masa lalu, tapi masa lalu yang belum
terselesaikan.”
“ Tahu dari mana?”
cibir Tifa.
“ Lho dari dulu’kan
hubungan kalian itu benar-benar erat. Walaupun dulu aku masih kecil, tapi aku
selalu merasa kalian itu pasangan yang akan terus bersama. Sayang, kalian harus
putus dan setiap aku tanya alasan Tante putus, Tante selalu aja mengelak. Sama
seperti Tante kalau ditanya Nenek kapan menikah.”
Helaan napas Tifa
terdengar berat. Ia lupa kalau sekarang sedang berbicara dengan keponakannya
yang sudah dewasa, yang sudah mengerti arti cinta dan masa depan. Ia tak bisa
memberikan jawaban nyeleneh seperti dulu.
“ Kenapa aku putus
dengan Dave dan kenapa aku belum menikah akan menjadi pertanyaan retoris
selamanya. Kamu dan Nenekmu hanya buang-buang waktu nanya begituan.”
“ Tuh kan, Tante
selalu begitu deh,” Adrian memberengut. “ Memangnya Tante mau jadi perawan
tua?”
“ Yaaah, nggak juga,”
Tifa tertawa keras. “ Duuh, tapi sampai sekarang aku belum pernah memikirkan
masalah itu. Entahlah, rasanya pementasan ini justru lebih penting dari
segalanya.”
Adrian melirik Tifa
yang sedang menghabiskan tetes terakhir kopinya. Tifa, kopi, dan pementasan.
Selama 20 tahun hidup bersama, hanya itu yang ia tahu dari tantenya.
ooOoo
Esok harinya mereka berangkat menuju area pemakaman.
Ketiganya berkumpul di sebuah makam dengan papan nama bertuliskan ‘Laksmini
Kusuma Ningsih’. Tak ada yang berniat membuka percakapan. Mereka hanya
melantunkan doa terbaik dalam hati.
“ Sudah semakin
siang, sebaiknya kita pulang,” July memecahkan keheningan.
“ Aku masih mau di sini, Bu. Udah lama banget aku
gak mengunjungi Kakak,” ujar Tifa pelan.
July memasati wajah
anaknya. Ada rasa iba saat melihat ekspresi sedih di wajah si bungsu. Ia ingat
bagaimana rasa kehilangan Tifa saat ia tahu saudarinya meninggal dengan cara
yang sulit untuk diikhlaskan. July pun hanya mengangguk dan mengajak Adrian
untuk menemaninya di mobil.
“ Oh ya, Tif. Ada
yang mau Ibu bicarakan sekarang, soalnya kalau sampai rumah nanti suasananya
berubah,” July berbalik dan menatap Tifa serius. “ Mulai saat ini Ibu tidak
akan memaksa kamu lagi untuk cepat-cepat menikah. Ibu rasa memaksamu juga
percuma, alasanmu terlalu kuat untuk menunda pernikahan. Hanya saja Ibu berharap
kamu juga memikirkan tentang pernikahan. Usiamu sudah tak lagi muda, Tif.”
Tifa tertegun. Ia tak
percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Namun, senyuman di wajah Ibunya
memastikan bahwa apa yang ia dengar tidak salah. Diiringi Adrian, July pun beranjak
pergi. Tifa masih terus menatap arah Ibunya pergi, sampai-sampai bayangan
Ibunya benar-benar hilang.
“ Yohoooo!”
Mungkin Tifa adalah
satu-satunya orang yang bersorak-sorak seperti orang gila di area pemakaman.
Untung area pemakaman itu sedang sepi, kalau tidak orang-orang yang melihat
pasti sudah membicarakannya. Kalau pun ada, Tifa juga tidak peduli. Ia hanya
peduli pada apa yang ia dengar langsung dari mulut ibunya. Akhirnya, Ibunya tak
akan menuntutnya untuk segera menikah. hampir sepuluh tahun ini telinganya
terasa pengang mendengar ocehan ibunya soal menikah dan sekarang ibunya mau
berkompromi masalah itu.
“ Kakak, dengar
itu’kan? Akhirnya, Kak. Akhirnya Ibu gak marah-marah lagi masalah statusku yang
masih melajang.”
Tifa berlutut di
samping makam kakaknya. Ia bercerita seolah-olah sang kakak sedang duduk di
sisinya dan mendengarkan semua cerita.
“ Itulah alasanku
malas pulang, Kak. Maafkan aku karena kepentingan pribadi aku jadi jarang
mengunjungimu. Nah, setelah masalah ini selesai, aku pastikan aku pasti rutin
mengunjungimu. Apalagi di hari ulang tahunmu seperti sekarang.
“ Oh ya, Kakak
lihat’kan tadi pria tampan yang bersama kami? Dia anakmu, Kak. Tampan dan
menawan, bukan? Kakak tahu, dia sekarang jadi idola di klub teater kita. Kakak
harusnya melihat hasil kerja kerasku mengubah Adrian menjadi pangeran. Kakak
pasti bangga dengan prestasinya sekarang.
“ Sekarang aku sedang
mengerjakan proyek terakhirku sebelum aku benar-benar pensiun. Love Musical. Aku akan bekerja keras
untuk ini. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan keduaku. Sekarang aku bukan
Tifa yang dulu lagi dan Kakak bisa istirahat dengan tenang. Love Musical sudah ada di tanganku dan
aku tak akan lari lagi.”
Tifa menghela napas
panjang. Ia tersenyum sendu seraya mengusap-usap nisan Kakaknya.
“ Selamat ulang
tahun, Kak. Aku akan terus merindukanmu.”
Angin berhembus
lembut. Meniupkan tiap helaian rambut Tifa. Wanita itu berdiri dengan perasaan
yang tenang. Ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat.
“ Lama tak bertemu,
Tifa.”
Tifa hampir melompat
kaget saat melihat sesosok pria di hadapannya. Usia pria ini kira-kira sepuluh
tahu lebih tua darinya. Berpakaian rapi dengan sebuah buket mawar di tangannya.
Namun, dalam sekejap rasa terkejut itu berubah menjadi rasa antipati pada pria
ini.
“ Benar-benar sudah
lama sekali,” ia membungkuk untuk meletakkan buket itu di atas makam Laksmini.
“ Kamu dan Kakakmu.”
“ Aku gak nyangka Mas
Ican bakalan ke sini,” ujar Tifa sinis.
Pria itu tersenyum, “
Ini’kan hari ulang tahun Kakakmu, jadi―”
“ Dan aku juga gak
bakal menyangka Mas Ican masih ingat,” nada bicara Tifa terdengar lebih pedas.
“ Tifa, sudah sepuluh
tahun berlalu dan kamu masih marah sama Mas?”
Tifa mendengus kesal,
“ Mas, Mas kira hanya dengan lewat sepuluh tahun aku bisa meredam amarah aku?
Mas, pikir dong! Apa Mas gak punya perasaan? Mas sudah menghilangkan nyawa
seseorang dan Mas tanya kenapa aku masih marah? Mas memang udah gak punya
otak!”
Pria itu mengangguk
pelan, “ Mas tahu, minta maaf aja gak bakal cukup. Lantas Mas harus bagaimana?
Mas benar-benar menyesalinya, Tif. Mas―”
“ Tante, lama amat
sih. Nenek udah―”
“ Adrian?”
Adrian tertegun saat
melihat sosok lain selain tantenya. Seorang laki-laki yang sudah lama tak
pernah ia temui. Lebih tepatnya enggan ia temui.
“ Pa—Papa?”
Tifa menarik napas
panjang, “ Ayo, Adrian. Nenek sudah lama menunggu’kan? Jangan sampai dia
marah-marah lagi. Betisku masih sakit.”
“ Tu—tunggu, Adrian.
Papa mau bicara.”
Tifa berbalik dan
melemparkan tatapan penuh penolakan, “ Maaf, kami tidak bersedia menemui
seorang pembunuh. Sampai jumpa.”
ooOoo
“ Ada apa? Apa setelah datang ke pemakaman Laksmi
kalian harus membisu seperti ini?”
Adrian melempar
pandangannya keluar jendela. Ia tak mau menjawab pertanyaan neneknya. Lidah
terasa berat untuk berbicara pada siapa pun. Pertemuan mereka dengan laki-laki
bernama Ican itu membuat ia dan Tifa seolah sepakat untuk membisu seribu kata.
“ Kami bertemu dengan
Mas Ican tadi.”
July benar-benar
terkejut mendengar jawaban Tifa. Spontan ia menoleh ke arah jendela belakang.
“ Kamu serius, Tifa?
Dia gak buntutin kita’kan?”
“ Kayaknya nggak,”
Tifa kembali melirik kaca spion. “ Tapi kalau pun iya, aku langsung pasti
tendang dia keluar.”
“ Hari yang buruk,”
komentar July. Terdengar desahan berat dari napasnya. Wanita tua itu
memerhatikan cucunya yang dari tadi melamun.
“ Ada baiknya kamu
gak usah pikirkan orang itu, Adrian.”
Ingin Adrian begitu,
tapi pertemuan tadi membuat semua kenangan buruknya terbongkar. Kenangan
tentang ibunya dan juga kenangan keluarganya yang hancur.
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar