Musikal 53
Pelatihan sudah memasuki hari ketiga. Tifa merasa
senang karena anak-anak didiknya sudah terbiasa dengan gaya latihan seperti ini
dan tidak tepar sebelum waktunya. Ketiga tim LM pun sudah menunjukkan
perkembangan. Tifa tidak bisa lebih senang daripada ini.
Malam yang melelahkan. Setelah latihan selesai, Tifa
memutuskan untuk mandi air hangat. Punggungnya terasa lebih baik setelah
mendapat guyuran air dari shower.
Akhirnya ia bisa sedikit memanjakan diri.
Ia mengenakan gaun tidur tanpa lengan bewarna merah. Bentuknya
lebih menyerupai daster ketimbang lingerie.
Tentu saja ia tidak mengenakan pakaian aneh-aneh karena ia tahu banyak
laki-laki di sini. Selepas berpakaian ia menuju dapur untuk mengambil air.
“ Tif!”
Tifa menoleh. Ia mendapati Dave melemparkan sebuah
kaleng padanya. Untung ia sigap menangkap kaleng tersebut. Ternyata kaleng itu
adalah kopi instan siap minum.
“ Aku masih punya lagi. Oh ya, aku juga punya popcorn. Sepertinya aku juga punya film
bagus, balkon yang luas, pemandangan malam yang indah, dan ada wanita cantik di
depanku. Waaah, bagaimana kalau kita satukan semunya?”
Tifa nyengir, “ Bagaimana ya, hmm. Mungkin tergantung
filmnya. Romance? Action?”
“ Baiklah, coba kita lihat. Hmm, aku punya genre
komedi di tangan kananku dan ada slasher
di tangan kiriku. Mau pilih yang mana?”
“ Sepertinya komedi bagus untuk hiburan setelah
bekerja berat. Oke, aku taruh handukku dulu, nanti aku menyusul ke atas. No romance kan?”
Dave mengangguk yakin, “ No romance.”
“ Bagus, kita nonton slasher.”
Dave terkekeh saat Tifa melewatinya. 23 tahun tak
bertemu ternyata selera wanita itu tidak berubah.
ooOoo
“ Waaah, kopi dingin memang cocok diminum setelah
mandi air hangat,” Tifa kembali menyesap kopinya. “ Kalau begini terus aku rasa
aku bisa hidup seribu tahun lagi.”
Dave hanya tersenyum. Perhatiannya lebih fokus pada
laptop.
“ Waah, bintang-bintang malam ini terang sekali. Aku
tidak yakin ini langit di bulan Desember. Jangan-jangan kamu memasang semacam
alat seperti di planetarium itu yah?”
“ Kalau aku punya alat seperti itu lebih baik kita
menonton bintang saja tidak usah film horor,” Dave menekan tombol play pada
laptopnya. “ Here we go. Ayo kita
nonton.”
Seperti film-film horor pada umumnya, di awal cerita
akan menjadi alur yang membosankan. Dave mengambil kesempatan ini untuk
mengajak Tifa berbicara.
“ Dari pertama kita bertemu aku belum bertanya
bagaimana kabarmu. Aku juga belum bertanya apakah kamu rindu padaku.”
“ Kamu bisa lihat kondisiku saat ini dan bagiku itu
sudah menjadi jawaban.”
“ Dan pertanyaan kedua?”
Tifa termenung cukup lama.
“ Aku merindukan semua yang sudah aku tinggalkan
dulu,” jawabnya.
Dave hanya menggumamkan kata “Oh”. Tifa kembali
menyesap kopinya. Giliran dia yang curi-curi pandang pada pemilik mata biru
itu.
“ Kamu sudah menikah, Dave?”
“ Kamu bukannya nanya kabar atau apa. Malah nanya
sudah nikah atau belum. Apa Amerika tidak mengajarkanmu kalau pertanyaan itu
bukan pertanyaan yang sopan?”
“ Buat apa? Aku yakin kamu dalam keadaan sehat dan
sempurna. Bisnismu lancar dan wajahmu belum keriput. Jadi, kutanyakan langsung
saja pertanyaan yang mungkin tidak terlihat langsung,” Tifa mengunyah berondong
jagungnya. “ Lagi pula ini Indonesia bukan Amerika. Di sini pertanyaan itu
lumrah.”
Dave menarik napas panjang, “ Belum. Bisnis membuatku
sibuk.”
“ Sulit dipercaya. Padahal di sekitarmu selalu banyak
gadis-gadis cantik.”
“ Cantik belum tentu cocok,” jawab Dave sambil
meluruskan kakinya. “ Oh iya, Tif. Kamu tidak marah’kan kalau aku tiba-tiba
langsung menyatakan kalau aku bagian dari Love
Musical saat ini?”
Tifa memasukkan popcorn
ke dalam mulut, “ Buat apa? Toh ditolak
pun kamu juga pasti akan memaksa. Lagi pula sekali anggota tetap anggota. Tidak
ada yang dulu atau sekarang.”
“ Senang mendengarnya,” ujar Dave seraya tersenyum.
Mereka berdua pun kembali fokus pada film. Sepertinya
alur cerita ini sudah sampai di bagian yang seru, yaitu dimana si pembunuh
mulai membunuh satu-persatu tokoh yang ada di film tersebut. Bagia sebagian
besar orang, ini adalah adegan yang membuat perhatian mereka tak bisa
dialihkan, tapi berbeda dengan Dave. Ia justru lebih suka melihat ekspresi
serius dari wajah Tifa ketika menonton film.
“ Aku sangat merindukanmu. Sangat-sangat
merindukanmu.”
Tifa merasa Dave hanya memerhatikan dirinya. Ia pun
ikut kehilangan fokus dari film dan lebih memilih untuk membalas tatapan Dave.
Sorot dari warna safir itu seolah menghipnotisnya. Ia baru sadar kalau Dave
yang sekarang jauh lebih tampan dari Dave yang ia kenal ketika SMA.
Mereka tak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya dengan
bertukar pandang, mereka bisa saling membaca pikiran satu sama lain. Dave
perlahan bergerak maju. Semakin lama wajah mereka semakin dekat. Tifa menelan
ludah dengan susah payah. Dalam hitungan
detik mereka akan saling menempelkan bibir satu sama lain.
Tiba-tiba keduanya tersentak saat mendengar suara
jeritan. Mereka pikir suara anak-anak LM, tapi ternyata hanya suara teriakan
gadis yang ada di dalam film. Sepertinya gadis itu akan segera dibunuh.
Dave dan Tifa saling membuang muka. Hilang sudah
hasrat menggebu-gebu mereka. Timbullah perasaan canggung di antara keduanya.
Tifa mencoba mengatur detak jantungnya yang melewati
batas normal. Entah apa karena teriakan itu atau karena ia hampir saja
berciuman dengan Dave. Namun, ia merasa sangat beruntung telah memilih film slasher karena jika tidak, mungkin ia
tidak tahu berapa lama Dave menumpahkan kerinduan di bibirnya.
Malam yang aneh…
please comment and share
Auhtor’s Note:
Kyaaah… si Mr. X udah keluaaar…
Yuhuuu.. see you next week!!!
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapushahaha ditunggu chapter selanjutnya
BalasHapussemoga nasb nya gak ada yang tragis ya #KasihAuthorSesajen
hmmm... author gak janji
Hapuswkwkwkwkwk