Musikal 55
Begitu mereka kembali ke vila mereka sudah disambut
dengan persiapan pesta barbekyu. Semua siswa antusias dengan adanya pesta ini.
Mereka rela untuk mengatur segala persiapan, bahkan sampai membuat api unggun.
“ Di malam terakhir ini kalian semua diabsenkan dari
latihan, tapi semuanya harus membantu persiapan pesta dan beres-beres
setelahnya. So, enjoy your party!”
Tak ada yang menolak. Mumpung malam ini Tifa sedang
berbaik hati karena besok bisa jadi mereka akan dilempar kembali ke neraka.
Hari ini sepertinya cukup untuk membalas kerja keras mereka selama tiga hari
kemarin. Untunglah sebelum mereka pulang, mereka masih diberikan kesempatan
untuk liburan.
Setelah perut terisi oleh irisan daging dan paprika,
mereka semua berkumpul di depan api unggun. Saling bertukar cerita atau
berguyon satu sama lain. Suasana semakin meriah ketika Ben datang membawa gitar
dan jimbe.
“ Ayo, ayo, semua. Daripada bengong lebih baik kita
bernyanyi!” serunya. “Baiklah, ada yang mau memulai?”
Suasana mulai ramai. Ada yang menunjuk-nunjuk teman
mereka, ada pula yang menunjuk Ben sendiri. Namun, dari sekian banyak suara,
nama Ben sendiri yang disepakati.
“ Heei… kenapa aku? Hmm, tapi baiklah, aku akan
memulainya. Dengarkan baik-baik ya!”
Kalau berakting dan menari semua orang sudah pernah
lihat. Bermain alat musik seperti gitar kemungkinan semua laki-laki bisa
melakukannya, bernyanyi? Entahlah, suara Ben masih diragukan. Meski begitu, Ben
tetap terlihat santai saat memetik gitarnya.
Saturday morning jumped out of bed
And put on my best suit
Got in my car and raced like a jet
All the way to you
Knocked on your door with heart in my hand
To ask you a question
‘Cause I know that you’re an old fashioned man, yeah…
Ben mendapatkan tepuk
tangan meriah dari teman-temannya. Siapa sangka dibalik tawanya yang
cengengesan ternyata suara Ben mengundang orang untuk mengikuti nyanyiannya. Dalam
balutan musik reggae, Ben semakin
semangat memetik gitar.
Can I have your daughter for the rest of my life
Say yes, say yes, ‘cause I need to know
You say I’ll never get your blessing ‘till the day I
die
Tough luck, my friend, but the answer is NO
Tepat di bagian reff, semua teman-temannya ikut
bernyanyi.
Why you gotta be so rude
Don’t you know I’m human too
Why you gotta be so rude
I’m gonna marry her anyway*
Mereka terus
mengikuti alunan musik, hingga mereka tak sadar kalau lagu tersebut sudah
habis. Sekali lagi, Ben diberikan tepuk tangan meriah karena telah berhasil
membuka suasana.
“ Okee, selanjutnya
siapa nih?” mata Ben mencari-cari mangsa. “ Andani?”
Baru saja Andani mau
membuka mulut, ia sudah didahului oleh teman-temannya yang lain.
“ Jangan Andani.
Bosan, bosaaan.”
“ Betuuul, lagian
kalau Andani yang nyanyi pasti lagu galau.”
“ Yang lawas-lawas
pulaaa.”
Ucapan usil dari
teman-temannya membuat pipi gadis ini mengembung. Ia tak mau kalah dengan
ocehan itu. Bisa runtuh harga dirinya sebagai vokalis utama kalau ia tak bisa
menyanyikan lagu masa kini.
“ Enak aja! Aku
memang gak bisa main gitar ya, tapi aku bisa kok nyanyiin lagu yang kalian
minta!”
Suasana semakin
heboh. Andani dengan angkuhnya menghampiri Ben, lalu membisikkan sebuah judul
lagu. Anggukan dari Ben pertanda kalau laki-laki itu menyanggupi permintaan
Andani.
“ Oke, An, siap? One, two, three…”
Kau datang dan jantungku berdegup kencang
Kau buatku terbang melayang
Tiada kusangka getaran ini ada
Saat jumpa pertama
Tepuk tangan yang
sama kembali terdengar. Pintar juga Andani, ia memilih lagu yang sederhana tapi
populer. Siapa pun pasti tahu Raisa.
Mataku tak dapat terlepas darimu
Perhatikan setiap tingkahmu
Tertawa pada setiap candamu
Saat jumpa yang pertama
Andani merasa di atas
awan. Melihat reaksi positif dari teman-temanya, ia pun semakin melancarkan
teknik-teknik bernyanyi yang ia kuasai.
Could it be love, could it be love
Could it be, could it be, could it be love
Could it be love, could it be love
Could this be something that I never had
Could it be love*
Andani pun menutup
penampilannya dengan menunduk anggun bak putri kerajaan Inggris.
“ Waaaah, kita saluut
deh sama sang vokalis.”
Andani hanya tertawa
menanggapi reaksi dari teman-temannya. Acara pun terus berlanjut. Satu persatu
dari mereka menunjukkan kebolehan mereka di bidang tarik suara. Ada yang memang
bagus, ada pula yang super fals. Namun, sehancur apapun suara mereka, pesta
tetap meriah.
“ Sayang yah gak ada
Anjani,” keluh Wenda. “ Biasanya kalo udah nyanyi lagu-lagu pop kayak gini dia
pasti duluan.”
Seperti ada yang
menyelip di dalam hatinya saat Andani tak sengaja mendengar kata-kata Wenda. Ia
tahu kalau gadis itu tak bermaksud menyinggung siapapun, tapi tetap saja ada
hal itu membuat kejanggalan di hatinya.
‘ Yaaah, Anjani memang jagonya…’
“ Gimana kalau
bintang tamu kita?” celetuk salah satu senior dari tim musik. “Jiro dan Hiro?”
Sepasang saudara
kembar ini cukup kaget mendengar tawaran itu. Mereka tertawa dan langsung
menolak. Sepertinya mereka hanya ingin menikmati pesta tanpa harus jadi
penghibur.
“ Yah, sayang sekali.
Padahal suara mereka keren loh,” sahut Tifa sambil menyesap kopinya.
“ Miss Tifa kompor deh,” ujar Hiro dengan
nada merajuk.
“ Bukannya gak mau
ya, teman-teman,” Jiro menengahi keributan kecil itu. “ Tapi logat Jepang kami
kental sekali. Suka jelek kalau bawain lagu dari bahasa lain.”
“ Kalau gitu bawain
lagu Jepang saja,” sahut Ben. “ Lagu-lagu anime kayak Naruto atau drama
romantis anak gadis lah.”
Jiro langsung menatap
Hiro, kemudian ia berbisik. Kembarannya itu mengangguk. Hiro meminta gitar,
sedangkan Jiro mengambil alih jimbe.
“ Kalau begitu
baiklah. Kami akan membawakan lagu dari negeri kami sendiri. Ini lagu lawas,
tapi kami yakin kalian cukup familier dengan lagu ini.”
Hiro memulai dengan
tepukan pada jimbe. Petikan gitar Hiro mengiringi, dan Hiro pun mulai
bernyanyi.
Maware maware merry go round
Mou keshite tomaranai you ni
Ugokidashita melody
La la la la la love song*
Bukan tepuk tangan
seperti yang sebelumnya, tapi justru teriakan dari para gadis yang menyambut
nyanyian dari Hasegawa bersaudara ini. Belum lagi hentakan jimbe Jiro yang
membuat kembar Hasegawa ini terlihat lebih seksi.
Siapa yang menyangka
kalau Hasegawa bersaudara ini akan membawakan lagu lawas Jepang yang cukup
populer di Indonesia. Apalagi karena lagu ini adalah soundtrack dari dorama “Long
Vacation” yang dibintangi oleh Takuya Kimura. Tak hanya para gadis, tapi
Tifa dan Riani pun ikut menikmati lagu yang populer pada zamannya. Mengingatkan
mereka pada masa-masa sekolah.
Pendengar kecewa saat
lagu itu berakhir. Jiro dan Hiro langsung menolak saat diminta tampil kembali.
Mereka bukan boyband yang selalu
memberikan encore pada para fans.
“ Kayaknya semua
sudah nih,” ujar Ben. “ Hayooo, siapa yang beluuum?”
“ Ririiiin!”
Gadis itu terkejut
saat Andani meneriakkan namanya. Tak tanggung-tanggung, Andani bahkan
mengangkat tangan Ririn sehingga membuat gadis itu seperti benar-benar
bersedia.
“ An, kamu apaan
sih?” Ririn menarik tangannya dengan cepat.
“ Ahh, benar kita
melewatkan Ririn,” sahut Gloria. “ Waktu audisi kamu menyanyi’kan? Aku ingat betul,
saat itu Tifa mengira kamu bernyanyi untuk pacarmu yang sudah meninggal.”
Tawa Tifa pecah, “
Benar, benar. Kalian tahu? Penampilannya bagus sekali, sangat mendalami.
Makanya aku kira dia menyanyikan lagu ciptaan sendiri. Gak tahunya lagu orang
lain.”
“ Waah, kayaknya kita
memang gak pernah mendengar Ririn bernyanyi ya,” ujar Kemal.
Ririn melambaikan
tangannya, “ Jangan deh, yang lain saja.”
Tiba-tiba Adrian
berseru, “ Everybody say, ‘Ririn,
Ririn, Ririn!”
Suasana pun mulai
gaduh dengan nama Ririn. Ingin sekali rasanya Ririn mengambil cangkul dan
membuat kuburannya sendiri. Di tengah-tengah keramaian itu Alexi membisiknya
seraya menyerahkan gitar.
“ Hei, jangan buat
aku penasaran.”
Mau tak mau ia
menerima gitar tersebut. Ririn melempar tatapan membunuh pada Andani yang asyik
cekikikan. Awas saja dia, kalau sampai Ririn dicemooh oleh teman-temannya, maka
Andani adalah nama teratas yang akan Ririn cacah.
“ Eheeem, oke deh aku
bakalan nyanyi,” ujar Ririn sambil menggaruk-garuk ujung hidungnya. “ Tapi yang
terpikir olehku cuma lagu ballad
barat. Gak apa-apa’kan?”
“ Buat kamu, apa sih
yang gak boleh?” sahut Kemal yang disusul gema ‘ciyee, ciyeee’, dari
teman-temannya.
Ririn kembali
berdeham. Ia melemaskan jari-jarinya seraya berkonstrasi pada gitar. Ia menarik
napas dalam-dalam, kemudian melepaskannya.
Waiting for your call, I’m sick, call I’m angry
Call I’m desperate for your voice
Listening to the song we used to sing
In the car, do you remember butterfly
Early summer, it’s playing on repeat
Just like when we would meet
Like when we would meet
I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to
To make you mine, stay with me tonight
Setelah melewati reff pertama, Ririn baru bisa mengusai
iramanya. Beban yang ia rasakan di awal lirik sedikit demi sedikit mulai
berkurang. Tanpa ia sadari suasana yang tadinya gaduh mendadak sunyi saat ia
bernyanyi.
Stripped and polished, I am new, I am fresh
I am feeling so ambitious, you and me, flesh to flesh
Cause every breath that you will take
When you are sitting next to me
Will bring life into my deepest hopes
What’s your fantasy?
I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to
To make you mine, stay with me tonight
Ririn mengulangi bagian chorus-nya sampai empat kali. Sama
seperti ketika Jhon Vesely menyanyikan lagu tersebut. Di bagian pengulangan
keempat adalah bagian klimaks dari lagu tersebut. Siapapun yang mendengar
bagian ini akan benar-benar merindukan orang yang sedang jauh dengannya.
And I’m tired of being all alone
And this solitary moment make me want to come back
home
Dan Ririn pun menutup lagunya
dengan reff terakhir.
I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to
To make you mine, stay with me tonight*
Ririn menarik napas panjang saat
lagu itu benar-benar berakhir. Ia kagum pada dirinya sendiri yang bisa
menguasai kegugupan dengan cepat. Padahal dari awal lagu ia ingin cepat-cepat
kabur. Ternyata ia sanggup menyelesaikan sampai akhir.
Keanehan pun terasa ketika Ririn
menyadari kalau tak ada suara apapun setelah ia selesai bernyanyi. Ia pikir
semua orang diam-diam pergi saat ia sedang bernyanyi. Sebaliknya, orang-orang
justru mematung memandangi dirinya. Entahlah, Ririn hanya terlalu asyik
bernyanyi lalu kenapa semua orang ini justru memandanginya dengan cara yang
aneh seperti itu.
Alexi adalah orang yang pertama
kali bertepuk tangan. Suara tepuk tangan itu seolah membangunkan orang-orang
dari alam bawah sadarnya. Suasana pun kembali ramai dengan sorakan yang
positif.
“ Kyaaa, kamu bagus bangeeet!”
seru Andani sambil memeluk Ririn.
Sepertinya hanya Ririn yang belum
sadar dari bengongnya. Ia semakin heran kenapa orang-orang memberikan tepuk
tangan untuknya.
“ Me—menurut kalian aku bagus?”
“ Menurutmu kenapa kami bertepuk
tangan?” sahut Wenda. “ Gila ya, Rin. Kamu keren banget.”
Wenda mengacungkan jempol
padanya. Ririn pun tertawa. Tampaknya jiwa gadis itu sudah benar-benar kembali.
“ Aahh, jadi inget pacar,” ujar
Kemal.
“ Pacar yang mana?” timpal Ben.
Kemal tertawa, tapi setelah itu
ia benar-benar mengutik-utik ponselnya kemudian menyingkir. Sepertinya ia
benar-benar akan menghubungi ‘sederet pacar’ yang ia miliki.
Ririn merasa lega ternyata
penampilannya memuaskan. Terlihat senyum menghiasi wajah Adrian, Alexi, dan
teman-temannya yang lain. Dari tadi ia hanya berharap agar pitch-nya terkontrol. Syukurlah hasilnya lebih dari itu.
‘ Itulah kenapa aku memilihmu’.
Tifa menyimpan rasa bangganya
dalam hati. Kopi yang ada di tangannya segera ia tandaskan.
ooOoo
“ Oke, sayaaang. Met bobo ya.”
Kemal tak lupa memberikan kecupan
sebelum menutup teleponnya. Segera setelah ia menutup telepon sebuah pesan dari
operator masuk. Kemal tertawa saat membaca isi pesan itu yang memberitahukan
bahwa pulsanya sudah tak cukup lagi untuk mengirim pesan atau melakukan
panggilan. Panggilan terakhir adalah baru panggilan ke-13 dari sederet nomor
gadis-gadis yang ada di ponselnya. Biasanya ia memberi gadis-gadis itu jatah
dan giliran untuk di telepon. Namun, malam ini adalah pengucualian. Mungkin
efek baper dari lagu yang Ririn bawakan membuatnya langsung menelpon semua
nomor yang ada. Alhasil, telepon ke-13 membuat pulsanya sekarat.
Si Casanova ini bersiul-siul saat
kembali dalam rombongannya. Menelepon 13 gadis ternyata membuatnya dahaga. Ia
tak sengaja bersenggolan dengan Priyanka saat mengambil minuman. Meski cahaya
hanya menerangi samar-samar, tapi Kemal bisa menangkap jelas warna memar
melingkari tangan gadis itu.
“ Apa itu sakit?”
“ Eh, ti—tidak terlalu sakit
lagi,” Priyanka tersentak, ia tak menyangka mata Kemal bisa setajam itu.
“ Apa dia selalu melakukan ini
padamu?”
Priyanka membuang muka, “ Maaf,
tapi kamu gak berhak tahu.”
“ Oh ya, tentu saja. Aku gak
berhak tahu karena aku memang orang yang pantas untuk tahu,” Kemal tertawa
sinis seraya menyesap minumannya. “ Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, aku
memang suka bermain-main dengan wanita tapi aku gak pernah main kasar sama
mereka. Aku pikir aku udah jadi cowok brengsek, ternyata cowokmu itu lebih
brengsek.”
“ Kamu gak berhak untuk
menghakimi!” ujar Priyanka tersinggung. “ Aku memang berhutang budi sama kamu
karena kejadian tadi siang, tapi aku harap kamu jaga mulut kamu! Kamu gak tahu
apa-apa soal ini!”
“ Kamu ini gak pernah diajarin
berterima kasih sama orang ya? Dengar, untuk kali ini aku masih mau menolongmu
kamu dengan alasan kamu bagian dari Love
Musical dan kamu juga masih temannya Wenda. Untuk lain kali, jangan pernah
harap! Aku malas menolong orang yang gak tau terima kasih!”
Kemal terbiasa ditolak wanita,
tapi baru kali ini ia dibuat marah oleh seorang wanita yang bahkan ia ajak
ngobrol pun tidak. Dengan kesal ia tinggalkan Priyanka begitu saja.
Priyanka berusaha tak mengambil
hati dengan perlakuan Kemal. Biarlah, biar saja laki-laki itu mau menganggapnya
apa. Laki-laki itu tak harus tahu tentang apa yang sebenarnya.
‘ Rahasia yang tidak boleh terbongkar…’
ooOoo
Pukul sepuluh para siswa mulai membubarkan diri.
Beberapa di antara mereka sudah mulai mengantuk, terutama para gadis. Tifa pun
menyarankan agar mereka beres-beres terlebih dahulu, mau tidur atau begadang
setelahnya itu terserah mereka.
Ririn kedapatan tugas untuk
mengangkut piring-piring kotor. Cukup melelahkan karena ia harus bolak-balik
dan juga piring-piring yang ia angkut lumayan banyak, tapi itu masih mending
ketimbang Andani yang kedapatan tugas mencuci piring. Bisa-bisa ia menggigil
main-main air di malam hari.
“ Duuh, kasian amaat.”
Ririn tak bisa berkutik saat
Adrian mengambil setengah dari tumpukan piring kotor yang ia bawa. Akhirnya, ia
bisa berduaan dengan sang pangeran.
“ Eh, aku bisa sendiri kok.”
“ Gak apa-apa. Sebuah bayaran
yang pantas untuk suara yang manis, iya’kan?” ujar Adrian dengan seulas
senyumnya yang menawan.
“ Sialan, kenapa sih kamu pake
acara manas-manasin acara? Asal kamu tahu ya, aku malu banget tadi,” balas
Ririn merajuk. Namun, hatinya berbunga-bunga saat Adrian memuji suaranya.
Adrian tertawa, “ Loh, tapi
hasilnya gak malu-maluin kok. Suara kamu keren juga. Aku jadi heran, kenapa
Tanteku mindahin kamu ke tim akting?”
Ririn hanya mengangkat bahu.
Sampai sekarang hal itu juga masih menjadi misteri dunia yang belum
terpecahkan. Mungkin hanya Tifa dan Tuhan yang tahu.
Sedang asyik-asyiknya menikmati
waktu berdua, tiba-tiba Fi datang dan langsung merebut tumpukan piring yang ada
di tangan Adrian. Ia tersenyum manis pada Adrian dan juga pada Ririn, hanya
saja ada makna tersembunyi saat senyuman itu mengarah pada Ririn.
“ Kayaknya tenaga cowok lebih
dibutuhkan di depan. Kamu bantu yang lain aja, yang di sini biar aku dan
Ririn.”
“ Gitu ya, hmm,” Adrian
mengangguk-anggukan kepalanya. “ Oke deh, aku duluan ya. Daah, semuanya.”
Ririn merutuki kedatangan Fi dan
kepergian Adrian. Ingin rasanya Ririn menjatuhkan piring-piring kotor ke atas
kepala Fi.
Lamunannya terpecah saat Fi
tiba-tiba menaruh tumpukan piring itu kembali ke tangan Ririn. Kali ini senyumannya
berubah sinis.
“ Maaf, ya. Aku baru ingat kalau
aku ada di bagian depan juga. Nah, aku kembalikan tugas ini padamu.”
‘ Dasar iblis!’ Ririn mengutuki
Fi dengan sederet sumpah serapah. Entah kenapa gadis itu selalu bisa membuatnya
skakmat seperti ini. Ririn benar-benar benci gadis itu.
Mau tidak mau, Ririn melanjutkan
apa yang harusnya ia lakukan sendiri dari tadi. Baru beberapa langkah,
piring-piring kotor itu kembali berkurang setengahnya. Kali ini orang yang
mengambilnya tak banyak bicara. Ia hanya membawa piring-piring itu sampai ke
tempat yang seharusnya.
“ Thank’s, Al,” ujar Ririn setelah tugasnya selesai.
Laki-laki berkacamata itu hanya
mengangguk. Kemudian karena tidak ada yang harus mereka katakan keduanya pun
berpisah.
“ Lain kali kamu harus nyanyi
dengan pianoku ya, Rin.”
Ririn menoleh, tapi laki-laki itu
tampak tak sedang berbicara padanya. Laki-laki itu hanya terus berjalan ke arah
yang berlawanan dari dirinya. Senyum Ririn mengembang saat laki-laki itu
melambaikan tangannya.
Ririn benar-benar gemas dengan
laki-laki ini. Di balik penampilannya yang culun ternyata ia selalu bisa datang
di saat Ririn butuhkan. Ia tahu semua rahasia Ririn, tapi Ririn sendiri
menganggap laki-laki ini misterius. Dari mana asalnya? Bagaimana wajah aslinya?
Dan apakah dia selalu semanis ini dengan semua wanita?
Satu lagi rahasia dunia yang tak
akan pernah terpecahkan. Kali ini hanya Alexi dan Tuhan yang tahu.
Author’s Note:
Kyaaah… ini musikal yang buat jari-jari Author keriting.
Gara-gara nulis liriknya tanpa copas. Soalnya kalau copas bikin susunan tulisan
berantakan. Alhasil, ketik manual. Hiks…
Btw, ini judul-judul lagu yang dinyanyikan Ben-Andani-Hiro-Ririn
“Rude” by MAGIC
“Could it Be Love” by Raisa
“ Lalala Love Song” by Toshino Kubota
“ Your Calling” by Secondhand Serenade
Please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar