Total Tayangan Halaman

Sabtu, 16 Juli 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 55)



Musikal 55


Begitu mereka kembali ke vila mereka sudah disambut dengan persiapan pesta barbekyu. Semua siswa antusias dengan adanya pesta ini. Mereka rela untuk mengatur segala persiapan, bahkan sampai membuat api unggun.

“ Di malam terakhir ini kalian semua diabsenkan dari latihan, tapi semuanya harus membantu persiapan pesta dan beres-beres setelahnya. So, enjoy your party!”

Tak ada yang menolak. Mumpung malam ini Tifa sedang berbaik hati karena besok bisa jadi mereka akan dilempar kembali ke neraka. Hari ini sepertinya cukup untuk membalas kerja keras mereka selama tiga hari kemarin. Untunglah sebelum mereka pulang, mereka masih diberikan kesempatan untuk liburan.

Setelah perut terisi oleh irisan daging dan paprika, mereka semua berkumpul di depan api unggun. Saling bertukar cerita atau berguyon satu sama lain. Suasana semakin meriah ketika Ben datang membawa gitar dan jimbe.

“ Ayo, ayo, semua. Daripada bengong lebih baik kita bernyanyi!” serunya. “Baiklah, ada yang mau memulai?”

Suasana mulai ramai. Ada yang menunjuk-nunjuk teman mereka, ada pula yang menunjuk Ben sendiri. Namun, dari sekian banyak suara, nama Ben sendiri yang disepakati.

“ Heei… kenapa aku? Hmm, tapi baiklah, aku akan memulainya. Dengarkan baik-baik ya!”

Kalau berakting dan menari semua orang sudah pernah lihat. Bermain alat musik seperti gitar kemungkinan semua laki-laki bisa melakukannya, bernyanyi? Entahlah, suara Ben masih diragukan. Meski begitu, Ben tetap terlihat santai saat memetik gitarnya.

Saturday morning jumped out of bed
And put on my best suit
Got in my car and raced like a jet
All the way to you
Knocked on your door with heart in my hand
To ask you a question
‘Cause I know that you’re an old fashioned man, yeah…
Ben mendapatkan tepuk tangan meriah dari teman-temannya. Siapa sangka dibalik tawanya yang cengengesan ternyata suara Ben mengundang orang untuk mengikuti nyanyiannya. Dalam balutan musik reggae, Ben semakin semangat memetik gitar.

Can I have your daughter for the rest of my life
Say yes, say yes, ‘cause I need to know
You say I’ll never get your blessing ‘till the day I die
Tough luck, my friend, but the answer is NO
Tepat di bagian reff, semua teman-temannya ikut bernyanyi.

Why you gotta be so rude
Don’t you know I’m human too
Why you gotta be so rude
I’m gonna marry her anyway* 
Mereka terus mengikuti alunan musik, hingga mereka tak sadar kalau lagu tersebut sudah habis. Sekali lagi, Ben diberikan tepuk tangan meriah karena telah berhasil membuka suasana.
“ Okee, selanjutnya siapa nih?” mata Ben mencari-cari mangsa. “ Andani?”
Baru saja Andani mau membuka mulut, ia sudah didahului oleh teman-temannya yang lain.
“ Jangan Andani. Bosan, bosaaan.”
“ Betuuul, lagian kalau Andani yang nyanyi pasti lagu galau.”
“ Yang lawas-lawas pulaaa.”
Ucapan usil dari teman-temannya membuat pipi gadis ini mengembung. Ia tak mau kalah dengan ocehan itu. Bisa runtuh harga dirinya sebagai vokalis utama kalau ia tak bisa menyanyikan lagu masa kini.
“ Enak aja! Aku memang gak bisa main gitar ya, tapi aku bisa kok nyanyiin lagu yang kalian minta!”
Suasana semakin heboh. Andani dengan angkuhnya menghampiri Ben, lalu membisikkan sebuah judul lagu. Anggukan dari Ben pertanda kalau laki-laki itu menyanggupi permintaan Andani.
“ Oke, An, siap? One, two, three…”

Kau datang dan jantungku berdegup kencang
Kau buatku terbang melayang
Tiada kusangka getaran ini ada
Saat jumpa pertama
Tepuk tangan yang sama kembali terdengar. Pintar juga Andani, ia memilih lagu yang sederhana tapi populer. Siapa pun pasti tahu Raisa.

Mataku tak dapat terlepas darimu
Perhatikan setiap tingkahmu
Tertawa pada setiap candamu
Saat jumpa yang pertama
Andani merasa di atas awan. Melihat reaksi positif dari teman-temanya, ia pun semakin melancarkan teknik-teknik bernyanyi yang ia kuasai.

Could it be love, could it be love
Could it be, could it be, could it be love
Could it be love, could it be love
Could this be something that I never had
Could it be love*
Andani pun menutup penampilannya dengan menunduk anggun bak putri kerajaan Inggris.
“ Waaaah, kita saluut deh sama sang vokalis.”
Andani hanya tertawa menanggapi reaksi dari teman-temannya. Acara pun terus berlanjut. Satu persatu dari mereka menunjukkan kebolehan mereka di bidang tarik suara. Ada yang memang bagus, ada pula yang super fals. Namun, sehancur apapun suara mereka, pesta tetap meriah.
“ Sayang yah gak ada Anjani,” keluh Wenda. “ Biasanya kalo udah nyanyi lagu-lagu pop kayak gini dia pasti duluan.”
Seperti ada yang menyelip di dalam hatinya saat Andani tak sengaja mendengar kata-kata Wenda. Ia tahu kalau gadis itu tak bermaksud menyinggung siapapun, tapi tetap saja ada hal itu membuat kejanggalan di hatinya.
‘ Yaaah, Anjani memang jagonya…’
“ Gimana kalau bintang tamu kita?” celetuk salah satu senior dari tim musik. “Jiro dan Hiro?”
Sepasang saudara kembar ini cukup kaget mendengar tawaran itu. Mereka tertawa dan langsung menolak. Sepertinya mereka hanya ingin menikmati pesta tanpa harus jadi penghibur.
“ Yah, sayang sekali. Padahal suara mereka keren loh,” sahut Tifa sambil menyesap kopinya.
Miss Tifa kompor deh,” ujar Hiro dengan nada merajuk.
“ Bukannya gak mau ya, teman-teman,” Jiro menengahi keributan kecil itu. “ Tapi logat Jepang kami kental sekali. Suka jelek kalau bawain lagu dari bahasa lain.”
“ Kalau gitu bawain lagu Jepang saja,” sahut Ben. “ Lagu-lagu anime kayak Naruto atau drama romantis anak gadis lah.”
Jiro langsung menatap Hiro, kemudian ia berbisik. Kembarannya itu mengangguk. Hiro meminta gitar, sedangkan Jiro mengambil alih jimbe.
“ Kalau begitu baiklah. Kami akan membawakan lagu dari negeri kami sendiri. Ini lagu lawas, tapi kami yakin kalian cukup familier dengan lagu ini.”
Hiro memulai dengan tepukan pada jimbe. Petikan gitar Hiro mengiringi, dan Hiro pun mulai bernyanyi.

Maware maware merry go round
Mou keshite tomaranai you ni
Ugokidashita melody
La la la la la love song*
Bukan tepuk tangan seperti yang sebelumnya, tapi justru teriakan dari para gadis yang menyambut nyanyian dari Hasegawa bersaudara ini. Belum lagi hentakan jimbe Jiro yang membuat kembar Hasegawa ini terlihat lebih seksi.
Siapa yang menyangka kalau Hasegawa bersaudara ini akan membawakan lagu lawas Jepang yang cukup populer di Indonesia. Apalagi karena lagu ini adalah soundtrack dari dorama “Long Vacation” yang dibintangi oleh Takuya Kimura. Tak hanya para gadis, tapi Tifa dan Riani pun ikut menikmati lagu yang populer pada zamannya. Mengingatkan mereka pada masa-masa sekolah.
Pendengar kecewa saat lagu itu berakhir. Jiro dan Hiro langsung menolak saat diminta tampil kembali. Mereka bukan boyband yang selalu memberikan encore pada para fans.
“ Kayaknya semua sudah nih,” ujar Ben. “ Hayooo, siapa yang beluuum?”
“ Ririiiin!”
Gadis itu terkejut saat Andani meneriakkan namanya. Tak tanggung-tanggung, Andani bahkan mengangkat tangan Ririn sehingga membuat gadis itu seperti benar-benar bersedia.
“ An, kamu apaan sih?” Ririn menarik tangannya dengan cepat.
“ Ahh, benar kita melewatkan Ririn,” sahut Gloria. “ Waktu audisi kamu menyanyi’kan? Aku ingat betul, saat itu Tifa mengira kamu bernyanyi untuk pacarmu yang sudah meninggal.”
Tawa Tifa pecah, “ Benar, benar. Kalian tahu? Penampilannya bagus sekali, sangat mendalami. Makanya aku kira dia menyanyikan lagu ciptaan sendiri. Gak tahunya lagu orang lain.”
“ Waah, kayaknya kita memang gak pernah mendengar Ririn bernyanyi ya,” ujar Kemal.
Ririn melambaikan tangannya, “ Jangan deh, yang lain saja.”
Tiba-tiba Adrian berseru, “ Everybody say, ‘Ririn, Ririn, Ririn!”
Suasana pun mulai gaduh dengan nama Ririn. Ingin sekali rasanya Ririn mengambil cangkul dan membuat kuburannya sendiri. Di tengah-tengah keramaian itu Alexi membisiknya seraya menyerahkan gitar.
“ Hei, jangan buat aku penasaran.”
Mau tak mau ia menerima gitar tersebut. Ririn melempar tatapan membunuh pada Andani yang asyik cekikikan. Awas saja dia, kalau sampai Ririn dicemooh oleh teman-temannya, maka Andani adalah nama teratas yang akan Ririn cacah.
“ Eheeem, oke deh aku bakalan nyanyi,” ujar Ririn sambil menggaruk-garuk ujung hidungnya. “ Tapi yang terpikir olehku cuma lagu ballad barat. Gak apa-apa’kan?”
“ Buat kamu, apa sih yang gak boleh?” sahut Kemal yang disusul gema ‘ciyee, ciyeee’, dari teman-temannya.
Ririn kembali berdeham. Ia melemaskan jari-jarinya seraya berkonstrasi pada gitar. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian melepaskannya.

Waiting for your call, I’m sick, call I’m angry
Call I’m desperate for your voice
Listening to the song we used to sing
In the car, do you remember butterfly
Early summer, it’s playing on repeat
Just like when we would meet
Like when we would meet
I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to
To make you mine, stay with me tonight
Setelah melewati reff pertama, Ririn baru bisa mengusai iramanya. Beban yang ia rasakan di awal lirik sedikit demi sedikit mulai berkurang. Tanpa ia sadari suasana yang tadinya gaduh mendadak sunyi saat ia bernyanyi.
Stripped and polished, I am new, I am fresh
I am feeling so ambitious, you and me, flesh to flesh
Cause every breath that you will take
When you are sitting next to me
Will bring life into my deepest hopes
What’s your fantasy?
I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to
To make you mine, stay with me tonight
Ririn mengulangi bagian chorus-nya sampai empat kali. Sama seperti ketika Jhon Vesely menyanyikan lagu tersebut. Di bagian pengulangan keempat adalah bagian klimaks dari lagu tersebut. Siapapun yang mendengar bagian ini akan benar-benar merindukan orang yang sedang jauh dengannya.
And I’m tired of being all alone
And this solitary moment make me want to come back home
Dan Ririn pun menutup lagunya dengan reff terakhir.
I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to
To make you mine, stay with me tonight*
Ririn menarik napas panjang saat lagu itu benar-benar berakhir. Ia kagum pada dirinya sendiri yang bisa menguasai kegugupan dengan cepat. Padahal dari awal lagu ia ingin cepat-cepat kabur. Ternyata ia sanggup menyelesaikan sampai akhir.
Keanehan pun terasa ketika Ririn menyadari kalau tak ada suara apapun setelah ia selesai bernyanyi. Ia pikir semua orang diam-diam pergi saat ia sedang bernyanyi. Sebaliknya, orang-orang justru mematung memandangi dirinya. Entahlah, Ririn hanya terlalu asyik bernyanyi lalu kenapa semua orang ini justru memandanginya dengan cara yang aneh seperti itu.
Alexi adalah orang yang pertama kali bertepuk tangan. Suara tepuk tangan itu seolah membangunkan orang-orang dari alam bawah sadarnya. Suasana pun kembali ramai dengan sorakan yang positif.
“ Kyaaa, kamu bagus bangeeet!” seru Andani sambil memeluk Ririn.
Sepertinya hanya Ririn yang belum sadar dari bengongnya. Ia semakin heran kenapa orang-orang memberikan tepuk tangan untuknya.
“ Me—menurut kalian aku bagus?”
“ Menurutmu kenapa kami bertepuk tangan?” sahut Wenda. “ Gila ya, Rin. Kamu keren banget.”
Wenda mengacungkan jempol padanya. Ririn pun tertawa. Tampaknya jiwa gadis itu sudah benar-benar kembali.
“ Aahh, jadi inget pacar,” ujar Kemal.
“ Pacar yang mana?” timpal Ben.
Kemal tertawa, tapi setelah itu ia benar-benar mengutik-utik ponselnya kemudian menyingkir. Sepertinya ia benar-benar akan menghubungi ‘sederet pacar’ yang ia miliki.
Ririn merasa lega ternyata penampilannya memuaskan. Terlihat senyum menghiasi wajah Adrian, Alexi, dan teman-temannya yang lain. Dari tadi ia hanya berharap agar pitch-nya terkontrol. Syukurlah hasilnya lebih dari itu.
‘ Itulah kenapa aku memilihmu’.
Tifa menyimpan rasa bangganya dalam hati. Kopi yang ada di tangannya segera ia tandaskan.
ooOoo
“ Oke, sayaaang. Met bobo ya.”
Kemal tak lupa memberikan kecupan sebelum menutup teleponnya. Segera setelah ia menutup telepon sebuah pesan dari operator masuk. Kemal tertawa saat membaca isi pesan itu yang memberitahukan bahwa pulsanya sudah tak cukup lagi untuk mengirim pesan atau melakukan panggilan. Panggilan terakhir adalah baru panggilan ke-13 dari sederet nomor gadis-gadis yang ada di ponselnya. Biasanya ia memberi gadis-gadis itu jatah dan giliran untuk di telepon. Namun, malam ini adalah pengucualian. Mungkin efek baper dari lagu yang Ririn bawakan membuatnya langsung menelpon semua nomor yang ada. Alhasil, telepon ke-13 membuat pulsanya sekarat.
Si Casanova ini bersiul-siul saat kembali dalam rombongannya. Menelepon 13 gadis ternyata membuatnya dahaga. Ia tak sengaja bersenggolan dengan Priyanka saat mengambil minuman. Meski cahaya hanya menerangi samar-samar, tapi Kemal bisa menangkap jelas warna memar melingkari tangan gadis itu.
“ Apa itu sakit?”
“ Eh, ti—tidak terlalu sakit lagi,” Priyanka tersentak, ia tak menyangka mata Kemal bisa setajam itu.
“ Apa dia selalu melakukan ini padamu?”
Priyanka membuang muka, “ Maaf, tapi kamu gak berhak tahu.”
“ Oh ya, tentu saja. Aku gak berhak tahu karena aku memang orang yang pantas untuk tahu,” Kemal tertawa sinis seraya menyesap minumannya. “ Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, aku memang suka bermain-main dengan wanita tapi aku gak pernah main kasar sama mereka. Aku pikir aku udah jadi cowok brengsek, ternyata cowokmu itu lebih brengsek.”
“ Kamu gak berhak untuk menghakimi!” ujar Priyanka tersinggung. “ Aku memang berhutang budi sama kamu karena kejadian tadi siang, tapi aku harap kamu jaga mulut kamu! Kamu gak tahu apa-apa soal ini!”
“ Kamu ini gak pernah diajarin berterima kasih sama orang ya? Dengar, untuk kali ini aku masih mau menolongmu kamu dengan alasan kamu bagian dari Love Musical dan kamu juga masih temannya Wenda. Untuk lain kali, jangan pernah harap! Aku malas menolong orang yang gak tau terima kasih!”
Kemal terbiasa ditolak wanita, tapi baru kali ini ia dibuat marah oleh seorang wanita yang bahkan ia ajak ngobrol pun tidak. Dengan kesal ia tinggalkan Priyanka begitu saja.
Priyanka berusaha tak mengambil hati dengan perlakuan Kemal. Biarlah, biar saja laki-laki itu mau menganggapnya apa. Laki-laki itu tak harus tahu tentang apa yang sebenarnya.
‘ Rahasia yang tidak boleh terbongkar…’
ooOoo
Pukul sepuluh para siswa mulai membubarkan diri. Beberapa di antara mereka sudah mulai mengantuk, terutama para gadis. Tifa pun menyarankan agar mereka beres-beres terlebih dahulu, mau tidur atau begadang setelahnya itu terserah mereka.
Ririn kedapatan tugas untuk mengangkut piring-piring kotor. Cukup melelahkan karena ia harus bolak-balik dan juga piring-piring yang ia angkut lumayan banyak, tapi itu masih mending ketimbang Andani yang kedapatan tugas mencuci piring. Bisa-bisa ia menggigil main-main air di malam hari.
“ Duuh, kasian amaat.”
Ririn tak bisa berkutik saat Adrian mengambil setengah dari tumpukan piring kotor yang ia bawa. Akhirnya, ia bisa berduaan dengan sang pangeran.
“ Eh, aku bisa sendiri kok.”
“ Gak apa-apa. Sebuah bayaran yang pantas untuk suara yang manis, iya’kan?” ujar Adrian dengan seulas senyumnya yang menawan.
“ Sialan, kenapa sih kamu pake acara manas-manasin acara? Asal kamu tahu ya, aku malu banget tadi,” balas Ririn merajuk. Namun, hatinya berbunga-bunga saat Adrian memuji suaranya.
Adrian tertawa, “ Loh, tapi hasilnya gak malu-maluin kok. Suara kamu keren juga. Aku jadi heran, kenapa Tanteku mindahin kamu ke tim akting?”
Ririn hanya mengangkat bahu. Sampai sekarang hal itu juga masih menjadi misteri dunia yang belum terpecahkan. Mungkin hanya Tifa dan Tuhan yang tahu.
Sedang asyik-asyiknya menikmati waktu berdua, tiba-tiba Fi datang dan langsung merebut tumpukan piring yang ada di tangan Adrian. Ia tersenyum manis pada Adrian dan juga pada Ririn, hanya saja ada makna tersembunyi saat senyuman itu mengarah pada Ririn.
“ Kayaknya tenaga cowok lebih dibutuhkan di depan. Kamu bantu yang lain aja, yang di sini biar aku dan Ririn.”
“ Gitu ya, hmm,” Adrian mengangguk-anggukan kepalanya. “ Oke deh, aku duluan ya. Daah, semuanya.”
Ririn merutuki kedatangan Fi dan kepergian Adrian. Ingin rasanya Ririn menjatuhkan piring-piring kotor ke atas kepala Fi.
Lamunannya terpecah saat Fi tiba-tiba menaruh tumpukan piring itu kembali ke tangan Ririn. Kali ini senyumannya berubah sinis.
“ Maaf, ya. Aku baru ingat kalau aku ada di bagian depan juga. Nah, aku kembalikan tugas ini padamu.”
‘ Dasar iblis!’ Ririn mengutuki Fi dengan sederet sumpah serapah. Entah kenapa gadis itu selalu bisa membuatnya skakmat seperti ini. Ririn benar-benar benci gadis itu.
Mau tidak mau, Ririn melanjutkan apa yang harusnya ia lakukan sendiri dari tadi. Baru beberapa langkah, piring-piring kotor itu kembali berkurang setengahnya. Kali ini orang yang mengambilnya tak banyak bicara. Ia hanya membawa piring-piring itu sampai ke tempat yang seharusnya.
Thank’s, Al,” ujar Ririn setelah tugasnya selesai.
Laki-laki berkacamata itu hanya mengangguk. Kemudian karena tidak ada yang harus mereka katakan keduanya pun berpisah.
“ Lain kali kamu harus nyanyi dengan pianoku ya, Rin.”
Ririn menoleh, tapi laki-laki itu tampak tak sedang berbicara padanya. Laki-laki itu hanya terus berjalan ke arah yang berlawanan dari dirinya. Senyum Ririn mengembang saat laki-laki itu melambaikan tangannya.
Ririn benar-benar gemas dengan laki-laki ini. Di balik penampilannya yang culun ternyata ia selalu bisa datang di saat Ririn butuhkan. Ia tahu semua rahasia Ririn, tapi Ririn sendiri menganggap laki-laki ini misterius. Dari mana asalnya? Bagaimana wajah aslinya? Dan apakah dia selalu semanis ini dengan semua wanita?
Satu lagi rahasia dunia yang tak akan pernah terpecahkan. Kali ini hanya Alexi dan Tuhan yang tahu.




Author’s Note:
Kyaaah… ini musikal yang buat jari-jari Author keriting. Gara-gara nulis liriknya tanpa copas. Soalnya kalau copas bikin susunan tulisan berantakan. Alhasil, ketik manual. Hiks…
Btw, ini judul-judul lagu yang dinyanyikan Ben-Andani-Hiro-Ririn
“Rude” by MAGIC
“Could it Be Love” by Raisa
“ Lalala Love Song” by Toshino Kubota
“ Your Calling” by Secondhand Serenade

Please comment and share
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar