Musikal 52
Lampung, 04.00
A.M.
Pagi ini semua anggota LM dikejutkan oleh suara sirene
yang meraung-raung. Memaksa semua mata untuk terbuka serta menggerakkan tubuh
untuk bangkit dari tempat tidur. Sengaja atau tidak, tapi mereka semua langsung
menuju ruang makan yang merupakan ruangan terbesar dari vila tersebut. Dengan
mata yang masih separuh terpicing serta kesadaran yang belum pulih sepenuhnya,
mereka saling bertanya satu sama lain.
“ Selamat pagi, semuanyaaa!” Tifa menyapa dengan riang
lewat toa. Ternyata sirena itu juga dibunyikan dari toa yang ia pegang. “ Apa
tidur kalian nyenyak semalam?”
Tak ada satu pun yang menjawab. Bukan hanya karena
mereka masih mengantuk, tetapi juga basa-basi Tifa biasanya mengarahkan pada
hal-hal yang tidak diinginkan.
“ Mungkin kalian mengeluh kenapa saya membangunkan
kalian di pagi buta, atau kenapa aku membangunkan kalian dengan cara yang tidak
berperikemanusiaan seperti ini, tapi saya punya alasan khusus.
“ Kita akan memulai latihan dari pagi hari. Setelah briefing ini kalian semua langsung
segera mandi. Paling lambat pukul enam kalian semua sudah harus sudah beres.
Setelah itu kita pemanasan selama satu jam. Kemudian kita sarapan dan
setelahnya kita langsung latihan. Pukul satu kita makan siang dan istirahat
sampai pukul tiga. Lanjut lagi latihan sampai pukul tujuh malam dan istirahat
sejenak untuk makan malam. Terakhir kita latihan sampai pukul sepuluh malam.
Setelah itu baru kalian boleh mandi atau mau langsung tidur itu terserah
kalian. Begitu seterusnya sampai lima hari ke depan.”
Seketika semua anggota LM langsung terbangun. Astaga,
itu bukan latihan tapi kerja rodi. Ini benar-benar liburan ke neraka. Pantas
saja Adrian bilang begitu sebelumnya.
“ Okee, sekarang kita usah mengulur waktu lagi. Segera
mandi dan bersiap. Ingat, satu orang diberi jatah paling lama 15 menit untuk
mandi! Mengerti semuanya?”
“ Mengerti…” mereka menjawab dengan nada yang fals.
Tifa membubarkan anggota. Ia mengulum senyum saat
melihat para anggota LM tergesa-gesa dan berebutan untuk mandi. Ia menguap
seraya merenggangkan tubuhnya. Saat ia berbalik, ia mendapati Riani dan Gloria
yang bersungut-sungut menghampirinya.
“ Waaah, guru macam apa kalian? Masa muridnya sudah
bangun kalian masih separuh sadar gitu?”
“ Kamu yang gila!” omel Gloria. “ Aku pikir tadi ada
kebakaran tahu!”
Tawa Tifa pecah, “ Ya ampun, Glo. Ini udah tradisi,
masa kamu lupa. Toh kita dulu lebih
parah lagi. Jam segini kita udah disuruh lari-lari keliling vila.”
“ Itu’kan dulu, Tif,” sahut Riani. “ Sekarang kita
udah mulai berumur. Udah gak biasa lagi hidup ala militer kayak gini.”
“ Ahhh, sudahlah. Tidak ada waktu untuk mengeluh.
Kalian juga harus segera bersipa-siap. Kita akan memulai hari yang panjang ini
dengan semangat!”
“ Semangat kepalamu!” Gloria melempar sandar pada Tifa
yang sudah lebih dulu pergi. “ Sial!”
ooOoo
“ Sudah mandi semuanyaaa?”
Anggota LM menjawab sekenanya.
“ Baik, untuk pemanasan awal kita akan lari sepuluh
putaran mengelilingi vila ini. Siaaap?”
Terdengar nada keluhan yang bersahut-sahutan.
“ Jangan mengeluh,” ujar Tifa dari balik toanya. “ Ayo,
sekarang kita lari bersama! Nyanyikan lagu nasional! Maju tak gentar… membela yang benar…”
Para siswa kebingungan. Mereka bisa terima kalau
disuruh lari di pagi buta, tapi sambil bernyanyi? Astaga, ini bukan saja bikin
capek tapi juga bikin malu. Meski begitu mau tak mau mereka tetap melakukannya.
“ Hooooi, kurang semangat! Kuatkan kaki dan suara
kalian!”
Dari kejauhan Gloria menonton sahabatnya melatih para
murid dengan gaya militer. Lucunya, Tifa juga ikut berlari bersama, bahkan
berada di baris paling depan. Gloria hanya menguap sambil bersedekap menahan
dingin.
“ Tifa pernah ikut wajib militer ya?”
Gloria tersenyum saat Dave bersuara di sampingnya, “
Seingatku tidak, tapi yang aku ingat dia sudah gila dari dulu.”
Tawa Dave pecah, “ Tapi kalau dia tidak gila, mungkin
dia tidak akan sampai ke Broadway.”
Para anggota LM sudah tak Nampak batang hidungnya.
Mungkin sedang mengitari bagian belakang vila. Namun, suara nyanyian mereka
masih terdengar di tempat Gloria berdiri. Wanita itu meghela napas.
“ Katakan, Dave. Apa tujuanmu muncul kembali?
Seingatku Tifa tidak memasukkan namamu sebagai instruktur saat ini.”
“ Lho, kamu kenapa sih, Glo? Dari kemarin kamu senewen banget pas kalo aku ada di sini.
Memangnya aku dulu punya salah yang gak bisa kamu maafin?”
Lidah Gloria berdecak, “ Dave, apa kamu lupa cerita
cinta segitiga antara kamu, Tifa, dan Riani? Kamu bisa membuat hubungan Tifa
dengan Riani menjadi tidak baik, sedangkan Tifa harus bekerja sama dengan Riani
untuk kesuksesan pementasan ini.”
“ Itu sudah lama berlalu, Glo,” Dave menyalakan rokok,
menghisapnya sesaat, lalu memainkan asapnya di udara. “ Lagi pula Riani sudah
menikah. Tidak akan ada lagi ceritaku bersama Riani.”
“ Salahmu kenapa harus membuat skandal dengan dua
orang yang saling bersahabat. Kamu merusak persahabatan mereka dulu dan
kehadiranmu sekarang bisa melukai salah satu atau bahkan keduanya.”
“ Sumpah, Glo. Aku tidak pernah mau menyakiti siapa pun
waktu itu,” ujar Dave dengan nada memohon. “ Mungkin iya, aku memang punya
masalah dengan Tifa waktu itu, tapi Riani? Riani hanya berada di antara kami
berdua yang sedang bermasalah,” Dave mendesah panjang. “ Kamu mungkin tidak
tahu cerita kami bertiga yang sesungguhnya.”
“ Aku tidak berminat untuk tahu,” jawab Gloria sambil
kembali bersedekap. Ia tak berminat lagi untuk berdebat.
Nyanyian dari para anggota LM mulai terdengar jelas,
menandakan mereka sudah hampir menyelesaikan satu putaran. Dari kejauhan tampak
sosok Tifa yang terus memberikan semangat pada anak-anak didiknya. Gloria
menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku si sutradara nyentrik ini. Ia
melirik Dave yang dari tadi dikerubungi oleh gumpalan asap.
“ Ngomong-ngomong, Dave. Sejak kapan kamu merokok?
Seingatku kamu dulu tidak pernah bersentuhan dengan nikotin.”
“ Sejak Tifa pergi dari kehidupanku,” Dave menjentikkan
rokoknya, seketika tumpukkan abu yang ada di ujung rokoknya pun berterbangan ke
udara. “ Dan setelah aku meninggalkan Riani.”
Gloria menarik napas panjang. Rasanya udara di
sekitar bertambah dingin.
ooOoo
Baik laki-laki maupun perempuan, semua anggota LM
menyantap sarapan dengan rakus. Warming
up yang disebut Tifa lebih mirip latihan militer. Tak heran bila mereka
membutuhkan asupan glukosa dan protein dalam jumlah banyak.
“ Saya minta perhatian sebentar,” ujar Tifa sambil
berdiri dari tempat duduknya. Aktivitas makan pun terhenti sejenak. “ Pagi ini
saya akan mengenalkan kalian pada anggota Love
Musical yang baru saja muncul kemarin.”
Dave merasa dirinya disinggung. Cepat-cepat ia berdiri
dan menebarkan senyum pada semua anggota LM. Beberapa anak murid mulai melirik
sambil berbisik-bisik.
“ Perkenalkan dia adalah David Mitchell Blackwell,
tapi kalau susah mengingat namanya panggil saja dia Pak Dave. Saya, Bu Riani,
Bu Gloria, serta beliau ini adalah anggota Love
Musical di tingkat yang sama. Selain itu, sekarang dia adalah pemilik vila
tempat kita melakukan aktvitas sekarang. Sebagai informasi tambahan dia adalah
oomnya Ririn, tapi bukan berarti saya akan memperlakukan Ririn dengan istimewa.
Justru dia akan memiliki tanggung jawab yang
berat karena ayah dan oomnya adalah alumnus Love Musical.”
Meja makan langsung riuh. Mereka tak menyangka bahwa
Ririn yang biasanya hanya menghabiskan waktu dengan buku ternyata keturunan
dari orang-orang yang akrab dengan dunia pementasan. Sementara Ririn sendiri
merasa tidak enak hari karena telah menjadi buah bibir pagi ini. Ia memang
bangga dengan ayah dan oomnya, tapi di sisi lain prestasi kedua orang itu
justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Salah-salah ia bisa menjadi aib
untuk keluarganya.
“ Ada yang mau disampaikan, Pak Dave?” tanya Tifa
sambil menatap pria indo itu.
Dave mengangguk, “ Semuanya selamat pagi dan salam
kenal. Apa yang dikatakan Tifa sudah mewakili perkenalan singkat dari saya.
Perlu kalian ketahui, saya juga akan menjadi instruktur baru kalian, tepatnya
pada tim akting. Jadi, mohon kerja samanya, terima kasih.”
Beberapa orang dari tim musik dan tari sedikit
menyayangkan kenapa pria setampan Dave harus melatih anak-anak dari tim akting.
Padahal sudah ada pangeran Adrian di sana, kenapa pangeran lain harus berkumpul
di sana.
“ Sejak kapan Dave jadi bergabung sama kita?” bisik
Riani pada Tifa yang sudah kembali duduk. “ Kamu gak pernah bilang sama aku dan
Glo.”
“ Baru saja dan aku pun juga baru tahu,” jawab Tifa
tak peduli.
Riani terkejut, “ Eh, memangnya boleh begitu?”
“ Suka-suka dia aja,” ujar Tifa sambil menyesap
kopinya. “ Asalkan dia tidak minta bayaran.”
ooOoo
“ Jadi, benar di Oom-mu, Rin? Kok dia kayak bule
gitu?”
Ririn sudah menebak kalau pertanyaan itu muncul di
awal. Ia merasa akan diinterogasi hari ini.
“ Yaah, Papaku adalah kakak sepupu Om Dave. Mamanya Om
Dave memang menikah dengan orang Inggris. Makanya dia ada keturunan bulenya
gitu.”
“ Oooh, kami pikir kamu anak pungut, Rin.”
Suara tawa teman-temannya membahana. Sial, pikir
Ririn. Ketampanan oom-nya justru membawa musibah bagi dirinya. Sejak dulu
Om-nya itu memang selalu menjadi kebanggaan keluarga. Ririn cukup menyesali
kenapa Kakek atau Neneknya tidak menikah saja dengan orang bule juga,
setidaknya ia bisa bangga berdarah Indo.
Ririn merasa bahunya ditepuk seseorang. Ia pikir
Andani, tapi ternyata di laki-laki misterius berkacamata pantat botol.
“ Sabar aja, ya. Memiliki darah campuran itu gak
seenaknya yang dibayangkan kok.”
Ririn sedikit menggerutu. Tahu apa si anak aneh ini
tentang darah campuran? Justru di saat seperti ini Ririn justru berharap kalau
ia bisa lahir dari keturunan Kadarshian.
Hanya sebuah senyuman kecil yang Ririn berikan pada
Alexi sebagai ucapan terima kasih. Latihan pun dimulai dan mereka berdua pun
berkumpul dengan masing-masing tim.
ooOoo
“ Iyaa, adek udah makan? Apa? Adek kangen sama Mama?
Iyaaa, Mama jugaaaa. Nanti ya, Mama pulang bawa oleh-oleh. Sekarang adek bobo
dulu ya. Jangan nakal sama Papa.”
Suara cempreng di ujung telepon telah berganti. Kali
ini suara khas lelaki yang menyambung percakapan.
“ Iya, sayang, aku baik-baik aja. Kamu juga jaga
kesehatan ya. Aku sayang kamu.”
Piip. Riani memutuskan sambungan telepon. Ia sengaja
memisahkan diri saat istirahat makan malam agar bisa berkomunikasi dengan
keluarga kecilnya. Meninggalkan anak yang baru kelas satu SD selama lima hari
tentu membuatnya khawatir. Sebenarnya Tifa sudah memperbolehka ia dan Gloria
untuk membawa keluarga. Namun, suaminya dengan baik hati mempersilakan ia pergi
seorang diri. Si kecil pun ia titipkan di rumah mertuanya.
Selesai menelepon Riani tak langsung bergabung dengan
yang lain. Ia memilih untuk menyendiri sejenak. Mencari udara segar sebelum
latihan malam yang sepertinya akan lebih berat. Semilir angin malam berhasil
menyejukkan pikirannya.
‘ Lagi pula
Riani sudah menikah. Tidak akan ada lagi ceritaku bersama Riani.’
‘….Riani hanya
berada di antara kami berdua yang sedang bermasalah…’
Riani menarik napas dalam-dalam. Sial, kenapa ia harus
mendengar dengan jelas percakapan Gloria dan Dave tadi pagi? Kenapa pula dua
orang itu tak sadar dengan keberadaannya? Ia merasa seperti hantu saja.
Semua yang didengarnya itu benar. Ia sudah menikah.
Kisahnya dengan Dave pun sudah lama berlalu. Namun, kisah itu adalah kisah
paling rumit yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Tifa kembali, Dave pun
begitu. Seharusnya itu bukan urusannya lagi, tapi kenapa kehadiran lelaki
beriris safir itu kembali memporak-porandakan hatinya.
Tak sadar Riani mencengkram ponselnya. Ia selalu
berharap untuk tidak pernah berada di situasi seperti ini. Seharusnya ia tolak
saja permintaan Tifa waktu itu. Sayang, waktu tak bisa diputar kembali.
Angin pun bertiup. Setelah sadar ia hampir saja
meremukkan ponselnya, ia pun kembali menekan nomor yang baru saja ia hubungin.
Dengan cepat suara cempreng itu menyambutnya.
“ Halo, Alena. Belum bobo ya. Mama masih kangen nih…”
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar