Musikal 54
Suara sirene itu kembali dibunyikan. Para anggota
langsung berkumpul di halaman. Mereka sudah siap berlari sambil bernyanyi, lalu
latihan yang lainnya. Namun, saat mereka tiba di halaman, keadaannya sedikit
berbeda. Biasanya sirene itu berbunyi sebelum ayam berkokok, tapi hari ini
mereka justru sudah bisa melihat matahari di ufuk timur. Mereka yang salah jam
atau sirene itu yang kesiangan?
“ Selamat pagi, anak-anak. Tidur kalian nyenyak?”
tiba-tiba Tifa muncul dengan toanya.
Nyenyak? Mereka semua baru sadar kalau semalam tidur
mereka lebih panjang dari malam-malam yang sebelumnya.
“ Hari ini kita tidak akan lari pagi sambil bernyanyi,
pemanasan yang melelahkan, atau latihan yang membosankan. Kalau cuaca cerah,
setelah sarapan kita akan ke pantai.”
Sebagian ada yang bingung, sebagian yang lain justru
ketakutan. Biasanya Tifa kalau sudah menyebutkan hal yang menyenangkan berarti
dia punya maksud tersendiri.
“ Heeei, saya serius! Kita ke pantai untuk liburan.
Ini hadiah dari saya karena kalian sudah bekerja keras selama tiga hari ini.”
“ Se—serius, Miss?”
pertanyaan itu saling bersahut-sahutan dengan yang lain.
“ Se-ri-us! Sekarang kalian bergegas mandi, lalu
sarapan. Pokoknya siapa yang telat, dia akan menunggu di vila sampai kita
pulang!”
Semua anggota LM serempak bersorak riang. Kali ini
mereka akan benar-benar liburan tanpa embel-embel apa pun. Mereka pun bergegas
masuk untuk mandi, sisanya menyiapkan baju renang atau dress cantik yang bisa dipakai di pantai. Ternyata mereka juga
telah mempersiapkan kalau-kalau Tifa berbaik hati mengizinkan mereka untuk
bersenang-senang, dan Tifa telah membuktikannya hari ini.
“ Hmm, giliran liburan aja semangat semua,” keluh
Tifa. “ Ya sudalah, lain kali saja aku bantai mereka lagi. Dasar anak-anak
manja.”
ooOoo
Perjalanan ke pantai tidak membutuhkan waktu yang
lama. Bis mereka pun segera mengantarkan mereka ke pantai dengan pasirnya yang
sangat halus. Ada yang langsung menikmati air laut, ada yang berkumpul bermain
voli, ada juga yang hanya duduk-duduk di pinggir pantai sembari menikmati
pemandangan yang indah.
Tifa, Riani, Gloria, serta Dave, memilih untuk
menikmati es kelapa muda sambil mengobrol. Meski mereka saling menyimpan
masalah, tetapi kalau sudah berkumpul ternyata masalah itu terlupakan. Sudah
lama tidak saling bertemu, obrolan mereka pun semakin panjang.
Tifa tak sengaja melempar pandangannya pada sekelompok
pria yang sepertinya juga menikmati waktu di pantai tersebut. Pria-pria itu
sepertinya rajin fitness, terbukti dari tubuh mereka yang sangat kekar. Mata
Tifa bertemu dengan salah seorang dari kelompok pria itu. Sepertinya ada
permainan ‘curi-curi pandang’ di antara kedua orang ini. Pria itu memberi kode
pada teman-temannya bahwa ia menemukan sasaran yang bagus. Mereka pun
seolah-olah tak sengaja memamerkan tubuh mereka sixpacks. Seolah tak mau kalah, Tifa juga memberi kode pada dua
teman wanitanya.
“ Surga dunia, arah jam lima.”
Sontak Riani dan Gloria menangkap pemandangan itu.
Untuk sejenak mereka tak bisa melepaskan pandangan mereka dari bentuk perut
yang sempurna itu.
“ Whoaaa, jadi ini yang dikatakan perut roti sobek
itu,” gumam Gloria.
“ Ya Tuhan, padahal suami dan anakku menunggu di
rumah,” sahut Riani.
Tifa mengangguk, “ Yeaaah, aku bersyukur masih
melajang sampai saat ini.”
Dave tertawa getir. Ia tak menyangka teman-temannya
yang sudah mulai berumur ini masih tergoda dengan perut sixpacks anak remaja. Ia pun menggulung kertas Koran yang dijadikan
alas kelapa mudanya, lalu memukulkan di kepala teman-temannya.
“ Awww, sakit tau!” omel Gloria.
“ Dave, kamu gila ya?” sahut Riani.
“ Yang gila itu kalian,” Dave menggeleng-gelengkan
kepalanya. “ Astaga, kalian itu sudah punya suami dan anak. Masih saja
meneteskan liur melihat pemandangan norak seperti itu. Itu perselingkuhan
secara tidak langsung tahu.”
“ Yang bilang norak itu cuma kamu, Dave. Kamu’kan
cowok wajar kalau gak ngerti,” ujar Tifa. “ Lagi pula aku masih lajang.
Seharusnya kamu gak usah getok kepala aku juga.”
“ Iyaaa, tapi kamu yang mengajak mereka. Seharusnya
kamu yang masuk neraka duluan.”
Mereka pun saling menertawakan kebodohan masing-masing.
ooOoo
Matahari semakin tinggi. Meski berada di akhir bulan
Desember bukan berarti sang surya tak berani menampakkan kegagahannya. Priyanka
adalah satu dari sekian banyak pengunjung pantai yang kulitnya mulai terbakar.
Ia pun bernisiatif untuk mencari tempat yang lebih teduh sambil menikmati
minuman dingin.
Terlalu banyak pilihan saat ia menyambangi konter
minuman. Akhirnya, ia memutuskan untuk memesan fruit punch yang menurutnya cocok dinikmati saat ini. Setelah ia
mendapatkan minuman, ia berencana untuk menghabiskan di salah satu gazebo yang
nyaman. Sayangnya, semua rencana itu berubah saat ia bertemu dengan seseorang
yang saat ini tidak ingin ia temui.
Erick…
Laki-laki itu menatapnya dengan tajam. Ia sepertinya
tidak suka kalau Priyanka ada di tempat yang sama dengannya saat ini. Ingin
sekali Priyanka berlari menjauh, tapi laki-laki itu bersama teman-temannya,
percuma saja kalau mencoba kabur.
“ Seingatku, kamu bilang kamu mau latihan drama
bersama rombongan sekolah. Sekarang kenapa kamu malah santai-santai di sini?
Kamu bohongin aku ya?”
Priyanka bergidik takut, “ Nggak, aku gak bohong. Aku
memang pergi untuk latihan, tapi sekarang kami semua diberi jatah untuk
liburan.”
“ Kamu bohong. Aku gak percaya sama kamu.”
“ Aku gak bohong sama kamu, Erick,” Priyanka memelas.
“ Pulang! Kamu harus dihukum karena udah bohong sama
aku!”
Priyanka tersentak, “ Pulang? Gak bisa gitu. Aku bisa
kena marah oleh―”
“ Sekarang kamu lebih takut sama aku atau yang lain?”
Erick menarik lengan Priyanka. Sangat kasar, sampai-sampai minuman gadis itu
terjatuh. “ Aku gak mau dengar penjelasan kamu! Sekali aku bilang pulang, kamu
harus pulang!”
Priyanka meronta-ronta sambil berteriak minta tolong.
Tak ada yang peduli. Teman-teman Erick hanya menjadi penonton. Erick sendiri seenaknya
menyeret Priyanka seperti hewan peliharaannya.
Erick menyeret Priyanka sampai mereka tak sengaja
bertemu dengan Wenda, Ben, dan Kemal. Tiga sekawan itu awalnya berencana untuk
membeli minuman di tempat yang sama dengan Priyanka tadi. Namun, begitu akan
menuju ke sana mereka berpapasan dengan salah seorang teman mereka. Wenda
adalah orang pertama yang menyadari situasi buruk yang dihadapi oleh Priyanka.
“ Priyanka, kamu kenapa?” Wenda bergantian menatap
Priyanka dan Erick. “Kamu siapa?”
Erick mengendurkan cengkraman tangannya. Ia mengamati
wajah Wenda dengan seksama, kemudian dia tersenyum.
“ Waah, jangan bilang kamu Wenda. Wenda Permana?”
Wenda semakin bingung. Melihat kebingungan gadis itu,
tawa Erick pecah.
“ Lama gak bertemu kamu langsung lupa sama aku. Apa
kabar, Wen? Kaki kamu sudah sembuh?”
Wenda tersentak. Tidak banyak yang tahu soal cidera
kakinya, kecuali…
“ E—Erick?”
Laki-laki itu terlihat senang saat Wenda menyebut
namanya. Perhatian Wenda kembali pada Priyanka yang terlihat membutuhkan pertolongan.
“ Ada apa dengan Priyanka? Kenapa kamu bisa sama dia
sekarang?”
“ Ceritanya panjang kalau ditanya kenapa aku bisa
bersama Priyanka,” Erick melirik Priyanka dengan sinis. Gadis itu membuang
muka. Ia tahu kalau Erick menjawab dengan makna yang berbeda. “ Tapi maaf, aku
harus membawa gadis ini pulang.”
Wenda baru akan menolak, tapi Ben sudah mendahuluinya.
“ Tidak bisa. Saat ini Priyanka ada di bawah tanggung
jawabku. Kalau kamu mau bawa pulang dia kamu harus minta izin dulu padaku.”
“ Oh, begitu,” Erick melepaskan tangan Priyanka, lalu
berjalan mendekati Ben. “Kalau begitu, Kakak-yang-bertanggung-jawab. Aku
meminta izinmu untuk membawa Priyanka pulang.”
“ Maaf, masih belum bisa. Aku harus melaporkan pada
pimpinan kami, dan kamu harus menghadap beliau juga. Aku tidak bisa memutuskan
kamu bisa bawa pulang anak orang begitu saja.”
Wajah Erick berubah ganas, “ Kamu tidak tahu
berhadapan dengan siapa?”
“ Kamu juga harus tahu pimpinan kami itu siapa,” sahut
Kemal yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Ben.
Kemarahan Erick sedikit luntur saat melihat sosok
Kemal. Ia memerhatikan Kemal dengan cara yang sama saat ia memerhatikan Wenda.
“ Rasanya kita pernah bertemu sebelumnya.”
“ Aku? Denganmu?” Kemal tertawa mengejek. “ Maaf saja
ya. Kalau bukan perempuan aku sulit mengingat orang. Kalau pun iya kita pernah
bertemu sebelumnya, aku yakin kamu bukan orang penting yang harus aku ingat.”
“ Orang ini benar-benar membuatku marah,” Erick
menoleh, lalu tertawa bersama teman-temannya. Detik berikutnya, kerah baju
Kemal sudah ada dalam cengkramannya. Terlalu cepat, sampai-sampai pekikan Wenda
tertahan.
“ Tolong jangan buat aku marah, Kakak-yang-pelupa.
Jangan pernah menyesali apa yang sudah kamu perbuat.”
Kemal tersenyum, kemudian ia balas menarik kerah baju
Erick. Lebih cepat dan lebih kuat daripada yang Erick lakukan.
“ Sebaiknya katakan itu pada dirimu sendiri.”
Mereka mengukur kekuatan lewat adu mata. Erick mulai
merasa terintimidasi. Kepalan tangannya sudah siap dilayangkan ke wajah Kemal.
“ Cukup! Hentikan!”
Suara wanita itu langsung menghentikan niat Erick
maupun Kemal untuk berkelahi. Bukan Wenda, apalagi Priyanka. Namun, sosok
pimpinan yang dari tadi mereka sebut-sebut. Saat suara itu memecahkan
ketegangan, barulah mereka berdua sadar kalau jumlah orang-orang di sekitar
mereka sudah lebih banyak dari semula.
“ Apa yang sedang kalian lakukan?” Tifa menatap satu
persatu anak didiknya. “Ben?”
“ Orang-orang asing ini meminta pada kami agar
diperbolehkan membawa Priyanka pulang,” jawab Ben. “ Kami menolak baik-baik,
tapi mereka memaksa. Kami pun mencoba menghalangi dengan cara kami sendiri.”
Tifa tak mengatakan apa-apa. Hanya matanya yang
mengisyaratkan pada Kemal untuk segera menyingkir. Kemal langsung patuh. Ia
melepaskan cengkramannya, meski ia masih melempar tatapan tidak suka pada
Erick. Giliran Tifa yang face to face
dengan laki-laki ini.
“ Sebenarnya Anda ini siapa dan ada urusan apa sampai
memaksa Priyanka untuk pulang?”
“ Bukan urusan Anda juga,” Erick menjawab sopan tapi
dengan nada yang angkuh.
Tifa tersenyum, “ Iya, memang bukan urusan saya. Perlu
Anda ketahui, semua ini akan menjadi urusan saya bila ada salah seorang anggota
saya pulang tidak pada waktunya. Saya yang bertanggung jawab atas keselamatan
mereka sampai mereka dikembalikan pada orang tua masing-masing.”
“ Oh, jadi Anda pimpinan utama mereka,” Erick terkekeh
senang. “ Kebetulan sekali. Saya meminta izin kepada Anda untuk membawa pulang
pacar saya. Anda tenang saja, Priyanka akan aman bersama saya. Anda bisa lihat
teman-teman saya. Saya dan mereka bisa melindungi Priyanka dari ancaman
orang-orang yang berbahaya.”
“ Wah, baru jadi pacar saja sombong sekali,” tawa Tifa
meledak, kemudian ia kembali menatap Erick dengan serius. “ Dengar, apapun yang
terjadi dengan Priyanka akan menjad tanggung jawab saya sampai dia saya
kembalikan ke rumah. Jadi tolonglah, jangan menambah beban saya di kemudian
hari. Anda yang bilang sendiri kalau Anda ini hanya pacarnya dan bukan Tuhan,
artinya Anda juga tidak dapat memastikan apakah Priyanka bisa baik-baik saja.”
“ Kenapa susah sekali sih? Anda tidak tahu siapa
saya.”
“ Saya tahu. Saat ini saya sedang berhadapan dengan
anak yang baru terima SIM kemarin sore.”
Tanpa basa-basi, Erick langsung menarik kerah kaus
Tifa, “ Bukan berarti saya tidak berani kepada perempuan. Ikuti saja permintaan
saya, kalau tidak mau kami habisi”
Tidak seperti Kemal yang langsung terpancing emosi,
Tifa memilih diam. Memerhatikan jumlah teman-teman Erick, lalu mengalihkan
perhatiaannya pada Priyanka yang terlihat ketakutan.
Kemal, Ben, serta semua anggota LM yang ada disitu
terlihat memanas. Namun, sebelum itu terjadi Tifa langsung membalikkan keadaan.
Ia melepaskan tangan Erick dari kausnya, kemudian memiting tangan laki-laki itu
ke belakang punggungnya. Tifa melakukannya sangat cepat, seperti seorang pro,
lalu ia mendekatkan bibirnya di telinga Erick.
“ Bukan berarti saya perempuan lantas saya tidak
berani. Dengar, kami terdiri dari orang dewasa dan anak laki-laki. Jumlah kami
jelas lebih banyak. Saya sarankan, jangan membuat kami kesal kalau tidak mau
menyesal.”
“ Le—lepaskan!” Erick berteriak sambil meronta-ronta.
Tifa memberi kode pada Priyanka untuk segera bergabung
dengan Wenda dan yang lainnya. Gadis itu segera meninggalkan Erick. Setelah
memastikan Priyaka aman, Tifa baru melepaskan tangannya.
“ Lebih baik kalian cepat menghilang dari hadapan
kami. Jangan coba-coba membuat kami mengamuk, mengerti?”
Erick mengusap-usap tangannya yang masih memerah
akibat serangan Tifa. Ia menatap marah pada Tifa, lalu beralih pada Priyanka.
Gadis itu mencoba untuk tidak menangkap tatapan Erick.
“ Urusan kita belum selesai, Priyanka. Aku akan
menunggu saat pulang nanti!”
Erick memerintahkan teman-temannya untuk segera pergi.
Langkah mereka mulai menjauh, tapi ketegangan tadi masih terasa.
“ Yaaak, tunggu saja di rumah!” teriak Tifa dengan
kesal. Ia menarik napas panjang untuk meredakan emosinya, kemudian siap untuk
berhadapan dengan para anggotanya.
“ Semuanya, kejadian tadi anggap saja angin lalu.
Tidak ada yang perlu dicemaskan. Kembalilah berlibur seperti sebelumnya. Kalian
hanya perlu sedikit waspada saja karena kita tidak tahu apakah dia atau orang
lain yang seperti dia datang kembali. Jangan pernah pergi ke tempat sepi
sendirian! Jauhi orang asing! Kalau perlu beri perlawanan seperti tadi. Nah,
sekarang bubar! Selamat bersenang-senang.”
Mereka saling bertukar pandang. Meski masih
meninggalkan banyak pertanyaan, tapi mereka mulai membubarkan diri dan kembali
bersenang-senang. Wenda, Ben, dan Kemal pun mengikuti teman-temannya yang lain,
dan menyisakan beberapa orang saja.
“ Kamu juga kembalilah,” ujar Tifa pada Priyanka, lalu
menatap Fi yang masih setia menemani sahabatnya, “ Fi, temani dia.”
Fi mengangguk, ia pun membimbing Priyanka kembali.
Namun, Tifa tiba-tiba menahan lengan Priyanka.
“ Benar dia itu pacarmu?”
Priyanka terkejut, tapi ia hanya menjawab dengan
anggukan pelan.
“ Better you
leave him,” bisiknya. Ekspresi Priyanka pun berubah tegang.
Tifa kembali memberi kode pada Fi untuk membawa
Priyanka pergi. Melihat semua anggotanya baik-baik saja, Tifa baru bisa
bernapas lega.
“ Waah, sejak kapan Tante belajar bela diri?” tegur
Adrian yang ternyata belum beranjak pergi. “ Tante gak pernah ajarin aku.”
“ Sejak aku tahu Amerika itu bukan Negara yang aman
untuk gadis cantik sepertiku,” jawab Tifa sambil tertawa keras.
Dave yang juga masih berada di sana langsung mendengus
kesal, “ Padahal aku tadi sudah cemas. Tahu begitu aku biarkan saja dia babak
belur dihajar olehmu, Tif.”
“ Kalian tenang saja,” ujar Tifa setelah tawanya reda.
“ Seperti yang aku bilang tadi, mereka akan menyesal kalau sudah membuatku
kesal.”
Adrian dan Dave saling bertukar pandang. Sepertinya
fakta itu memang benar.
ooOoo
“ Kamu beneran gak apa, Mal?”
“ Gak usah khawatir, Wen. Kalian lihat sendiri’kan
kalau dia cuma narik baju aku doang,” jawab Kemal sambil mengedipkan matanya. “
Ngomong-ngomong, kamu kenal sama si Erick itu tadi?”
Wenda mengangguk, “ Dia senior aku waktu SMP. Hmm,
memang sih dari dulu dia suka sama Priyanka, tapi Priyanka-nya gak mau. Yah,
kalian lihat sendiri’kan gimana bar-barnya si Erick itu. Aku juga heran kenapa
Priyanka malah pacaran sama dia sekarang.”
“ Mungkin itu yang dinamakan Kesempurnaan Cinta,” sahut Ben seraya tertawa. “Kamu sendiri
gimana, Mal? Kok si Erick bilang kalian udah pernah ketemu, tapi kenapa kamu
bilang gak inget?”
Giliran Kemal yang tertawa, “ Iya sih, sebenernya kami
pernah ketemu, malah sampai kenalan. Tadi itu aku cuma pura-pura lupa. Sengaja,
biar emosinya kepancing.”
Ben menggeleng-gelengkan kepalanya, “ Wah, cari maut
nih anak. Untung tadi ada Miss Tifa.
Eh, ngomong-ngomong soal Miss Tifa,
aku gak nyangka banget dia jago bela diri kayak tadi. Kalo dilihat-lihat tadi
itu aikido deh.”
“ Bener tuh, wiiih… keren banget sutradara kita,”
sahut Kemal. “ Tapi aku jadi merinding juga nih. Jangan-jangan kalau akting
kita jelek, kita bakal dihajar habis-habisan sama Miss Tifa.”
Ben dan Kemal tertawa.
“ Kalian ini malah ngomong yang nggak-nggak,” omel
Wenda. “ Ya udah deh, aku mau ke tempat Priyanka dulu. Mau ngecek kondisinya
gimana. Kalian mau ikut?”
Kedua teman laki-lakinya ini sepakat menolak. Wenda
pun akhirnya menemui Priyanka seorang diri.
ooOoo
Fi merasa prihatin dengan Priyanka. Tangannya gemetar,
tampaknya gadis itu terlihat masih syok dengan kejadian tadi. Bahkan saat gadis
itu masih terkejut saat Fi menyentuh tangannya.
“ Kita ke dokter aja ya,” ujar Fi. “ Aku mulai cemas
dengan keadaan kamu.”
Priyanka menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba
menenangkan dirinya sendiri.
“ Ma—makasih, Fi, tapi aku baik-baik aja kok.”
Fi melirik pergelangan tangan gadis itu, “ Lebam di
tanganmu baik-baik saja?”
Spontan Priyanka langsung menutupi warna biru di
pergelangan tangannya, lalu menggeleng cepat, “ I—ini bukan karena yang tadi
kok.”
Namun, Fi tak langsung percaya begitu saja. Ia
meninggalkan Priyanka sejenak untuk mencari es. Lebam di tangan gadis itu harus
segera diberi pertolongan pertama.
Tepat saat Fi kembali, ia berpapasan dengan Wenda.
Gadis dari tim tari itu sepertinya akan menemui Priyanka juga.
“ Di tangannya ada luka lebam,” ujar Fi saat melihat
mata Wenda yang mengarah pada baskom kecil berisi es yang ia pegang. “ Jika
kamu ingin tahu kabar dia yang sebenarnya,”
“ Sepertinya cukup parah,” Wenda menghela napas. “ Ada
yang ingin aku tanyakan padanya. Apa dia sudah bisa diajak bicara?”
Fi mengangkat bahu, “ Aku tidak tahu pasti, tapi
mungkin kamu akan dapat jawaban yang kurang memuaskan.”
Wenda tetap pada niatnya untuk menemui Priyanka.
Rivalnya itu tampak heran saat Wenda datang untuk menjenguknya. Mereka cukup
lama saling bertatapan, sampai akhirnya Wenda yang membuka percakapan.
“ Aku bingung harus dari mana bertanya. Semua ini
membutku heran. Kamu tahu, aku masih tidak percaya kalau kamu pacaran sama
Erick. Selain itu, kenapa dia bisa sekasar itu padamu? Memangnya kamu salah
apa?”
Priyanka berdeham, “ Ceritanya panjang, dan kurasa aku
tidak bisa menceritakannya pada siapapun.”
Wenda bingung dengan jawaban Priyanka. Ia merasa ada
sesuatu yang aneh dengan hubungan mereka.
“ Oh, jadi kalian saling terikat benang merah ya?”
suara Fi memecahkan lamunan Wenda.
“ Kami dulu satu SMP,” ujar Wenda, lalu ia kembali
menatap Priyanka. “Sebenarnya aku masih penasaran, tapi baiklah, aku tidak akan
lagi bertanya tentang hubunganmu dengan Erick. Mungkin aku bukan orang yang
berhak untuk tahu.”
Wajah Priyanka tertunduk. Ada kepulan rasa bersalah
sedang menggerogoti hatinya. Wajahnya kembali terangkat saat Wenda memberikan
selembar plester luka.
“ Aku melihat ada luka cakaran di sana. Semoga ini
yang terakhir kalinya Erick melakukan hal itu. Aku pergi dulu.”
Wenda lantas pamit begitu Priyanka menerima plester
luka itu. Tanpa banyak bicara, Fi langsung mengompres tangan Priyanka yang
lebam. Ternyata Wenda benar, ada luka cakaran di sana. Mungkin tergores saat
laki-laki itu menyeret Priyanka.
“ Apa aku juga sama seperti dia? Maksudku gak berhak
untuk tahu?”
Priyanka kembali tertunduk, “ Ma—maaf, Fi.”
Fi mendesah panjang, “ Ya, aku setuju dengan kata-kata
Miss Tifa tadi. Better you leave him.”
ooOoo
“ Kamu yakin kalau anak didikmu tadi akan baik-baik
saja?”
“ Untuk sekarang aku bisa yakin, tapi setelah lepas
dari pengawasanku aku tidak yakin. Hei, Dave, bantu aku!”
Dave mengulurkan tangannya dan membantu Tifa untuk
menaiki sebuah batu. Wanita itu terlihat ngos-ngosan setelah menemaninya
mendaki sebuah bukit kecil.
“ Kamu gak coba cari tahu siapa dia?”
“ Nanti saja pas kita semua pulang ke Palembang. Di
sini bukan daerah kekuasaanku,” Tifa menebarkan pandangannya ke semua penjuru
arah. “ Benar-benar bukan daerahku, bahkan aku tidak tahu sekarang kamu
membawaku kemana.”
Dave tak menjawab, ia justru menertawai kata-kata
Tifa. Wanita itu pun hanya bisa menuruti kemana Dave menuntunnya.
“ Kamu bilang kita bakalan di sini sampai sunset’kan? Nah, sekarang kuberikan
tempat terindah untuk melihat sunset.”
Kedua tangan Dave terentang lebar. Disitulah Tifa baru
menyadari kalau ia diajak menuju tempat tertinggi di pantai tersebut. Dari
ketinggian seperti ini ia bisa leluasa melihat laut, bahkan garis cakrawala
yang seolah membelah lautan pun terlihat jelas. Dave tahu betul spot terindah untuk menyaksikan moment terindah. Rasa lelahnya terbayar
sudah.
Matahari semakin tergelincir. Warna merahnya kini
lebih pekat dan menyilaukan. Ombak laut saling bergantian untuk menjilati
sinarnya. Suasana semakin menyenangkan ketika angin bertiup lembut dan memberi
kesejukkan untuk semua penghuni pantai.
“ Waaah, indahnya. Menyenangkan sekali saat kita
menjadi saksi untuk momentum seperti ini,” ujar Tifa.
Berbeda dengan Tifa yang tak berhenti memandang laut,
Dave justru merasa keindahan itu ada di sampingnya. Tak peduli bila bumi
memiliki laut sebagai dewinya, baginya Tifa adalah dewi di atas segala dewi.
“ Kamu benar, apalagi jika kita menambah momentum
keindahan yang baru seperti saat ini.”
Tifa merasa ada kejanggalan dari makna kalimat Dave.
Begitu ia menoleh, ternyata laki-laki itu sudah berlutut di sampingnya. Tifa
menahan napas ketika Dave perlahan-lahan membuka kotak beludru bewarna merah
hingga akhinya cincin bertahtakan berlian putih itu muncul.
“ Marry me?”
Ini bukan drama romantis yang ia arahkan, tapi ini
adalah kehidupan nyatanya. Tifa tak pernah menyangka kalau hal-hal “cengeng”
seperti ini akan ia alami. Ia tak tahu harus menjawab apa. Pikirannya kosong.
Untuk sejenak Tifa ingin bertukar jiwa dengan pasir basah yang hanyut oleh
ombak.
“ Tif?”
Tolong jangan paksa dia menjawab sekarang. Tifa merasa
kepalanya sangat panas. Entah apakah itu efek radiasi ultraviolet yang masih
tertinggal, ataukah karena sosok laki-laki yang sedang menunggu jawabannya ini.
Satu hal yang pasti, terlalu lama dalam posisi seperti ini akan membuatnya
meledak.
Ponsel Tifa berdering. Tak ada yang menghiraukan.
Makin lama suaranya semakin membesar. Tifa memang sengaja menyetelnya demikian
agar ia selalu mendengar panggilan masuk. Namun, sepertinya penyetelan itu
mengganggu nuansa romantis di pinggir bukit ini.
Tifa mulai gelisah. Ia mencoba tak menghiraukan bunyi
ponselnya. Lucunya panggilan masuk itu tak putus-putus. Konsentrasi Dave pun
ikut terganggu. Ia mendesah kesal seraya berdiri. Ia pandangi kotak cincin itu,
kemudian ia menutup dan menyimpannya.
“ Angkat saja. Kurasa kamu lebih penting menjawab
telepon itu ketimbang lamaranku tadi.”
Tifa tak tahu harus berterima kasih atau mengutuk si
penelpon ini. Ia berbalik dan buru-buru mengangkat telepon itu.
“ Ayo pulang, hari sudah gelap,” ujar Dave ketika Tifa
menutup telepon itu.
Tifa bingung kenapa Dave tak melanjutkan kembali
lamarannya. Mungkin laki-laki itu sudah tidak mood. Namun, Tifa masih bisa menangkap ekspresi kecewa dari balik
punggung yang tegap itu. Meski tahu menyakitinya, Tifa bersyukur Dave tidak
mengulangi lamaran itu.
Ia juga lebih bersyukur lagi karena Dave tidak
melempar ponsel yang menyebalkan itu dari atas bukit.
Please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar