Total Tayangan Halaman

Sabtu, 16 Juli 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 54)



Musikal 54


Suara sirene itu kembali dibunyikan. Para anggota langsung berkumpul di halaman. Mereka sudah siap berlari sambil bernyanyi, lalu latihan yang lainnya. Namun, saat mereka tiba di halaman, keadaannya sedikit berbeda. Biasanya sirene itu berbunyi sebelum ayam berkokok, tapi hari ini mereka justru sudah bisa melihat matahari di ufuk timur. Mereka yang salah jam atau sirene itu yang kesiangan?

“ Selamat pagi, anak-anak. Tidur kalian nyenyak?” tiba-tiba Tifa muncul dengan toanya.

Nyenyak? Mereka semua baru sadar kalau semalam tidur mereka lebih panjang dari malam-malam yang sebelumnya.

“ Hari ini kita tidak akan lari pagi sambil bernyanyi, pemanasan yang melelahkan, atau latihan yang membosankan. Kalau cuaca cerah, setelah sarapan kita akan ke pantai.”

Sebagian ada yang bingung, sebagian yang lain justru ketakutan. Biasanya Tifa kalau sudah menyebutkan hal yang menyenangkan berarti dia punya maksud tersendiri.

“ Heeei, saya serius! Kita ke pantai untuk liburan. Ini hadiah dari saya karena kalian sudah bekerja keras selama tiga hari ini.”

“ Se—serius, Miss?” pertanyaan itu saling bersahut-sahutan dengan yang lain.

“ Se-ri-us! Sekarang kalian bergegas mandi, lalu sarapan. Pokoknya siapa yang telat, dia akan menunggu di vila sampai kita pulang!”

Semua anggota LM serempak bersorak riang. Kali ini mereka akan benar-benar liburan tanpa embel-embel apa pun. Mereka pun bergegas masuk untuk mandi, sisanya menyiapkan baju renang atau dress cantik yang bisa dipakai di pantai. Ternyata mereka juga telah mempersiapkan kalau-kalau Tifa berbaik hati mengizinkan mereka untuk bersenang-senang, dan Tifa telah membuktikannya hari ini.

“ Hmm, giliran liburan aja semangat semua,” keluh Tifa. “ Ya sudalah, lain kali saja aku bantai mereka lagi. Dasar anak-anak manja.”

ooOoo

Perjalanan ke pantai tidak membutuhkan waktu yang lama. Bis mereka pun segera mengantarkan mereka ke pantai dengan pasirnya yang sangat halus. Ada yang langsung menikmati air laut, ada yang berkumpul bermain voli, ada juga yang hanya duduk-duduk di pinggir pantai sembari menikmati pemandangan yang indah.

Tifa, Riani, Gloria, serta Dave, memilih untuk menikmati es kelapa muda sambil mengobrol. Meski mereka saling menyimpan masalah, tetapi kalau sudah berkumpul ternyata masalah itu terlupakan. Sudah lama tidak saling bertemu, obrolan mereka pun semakin panjang.

Tifa tak sengaja melempar pandangannya pada sekelompok pria yang sepertinya juga menikmati waktu di pantai tersebut. Pria-pria itu sepertinya rajin fitness, terbukti dari tubuh mereka yang sangat kekar. Mata Tifa bertemu dengan salah seorang dari kelompok pria itu. Sepertinya ada permainan ‘curi-curi pandang’ di antara kedua orang ini. Pria itu memberi kode pada teman-temannya bahwa ia menemukan sasaran yang bagus. Mereka pun seolah-olah tak sengaja memamerkan tubuh mereka sixpacks. Seolah tak mau kalah, Tifa juga memberi kode pada dua teman wanitanya.

“ Surga dunia, arah jam lima.”

Sontak Riani dan Gloria menangkap pemandangan itu. Untuk sejenak mereka tak bisa melepaskan pandangan mereka dari bentuk perut yang sempurna itu.

“ Whoaaa, jadi ini yang dikatakan perut roti sobek itu,” gumam Gloria.

 “ Ya Tuhan, padahal suami dan anakku menunggu di rumah,” sahut Riani.

Tifa mengangguk, “ Yeaaah, aku bersyukur masih melajang sampai saat ini.”

Dave tertawa getir. Ia tak menyangka teman-temannya yang sudah mulai berumur ini masih tergoda dengan perut sixpacks anak remaja. Ia pun menggulung kertas Koran yang dijadikan alas kelapa mudanya, lalu memukulkan di kepala teman-temannya.

“ Awww, sakit tau!” omel Gloria.

“ Dave, kamu gila ya?” sahut Riani.

“ Yang gila itu kalian,” Dave menggeleng-gelengkan kepalanya. “ Astaga, kalian itu sudah punya suami dan anak. Masih saja meneteskan liur melihat pemandangan norak seperti itu. Itu perselingkuhan secara tidak langsung tahu.”

“ Yang bilang norak itu cuma kamu, Dave. Kamu’kan cowok wajar kalau gak ngerti,” ujar Tifa. “ Lagi pula aku masih lajang. Seharusnya kamu gak usah getok kepala aku juga.”

“ Iyaaa, tapi kamu yang mengajak mereka. Seharusnya kamu yang masuk neraka duluan.”

Mereka pun saling menertawakan kebodohan masing-masing.

ooOoo

Matahari semakin tinggi. Meski berada di akhir bulan Desember bukan berarti sang surya tak berani menampakkan kegagahannya. Priyanka adalah satu dari sekian banyak pengunjung pantai yang kulitnya mulai terbakar. Ia pun bernisiatif untuk mencari tempat yang lebih teduh sambil menikmati minuman dingin.

Terlalu banyak pilihan saat ia menyambangi konter minuman. Akhirnya, ia memutuskan untuk memesan fruit punch yang menurutnya cocok dinikmati saat ini. Setelah ia mendapatkan minuman, ia berencana untuk menghabiskan di salah satu gazebo yang nyaman. Sayangnya, semua rencana itu berubah saat ia bertemu dengan seseorang yang saat ini tidak ingin ia temui.

Erick…

Laki-laki itu menatapnya dengan tajam. Ia sepertinya tidak suka kalau Priyanka ada di tempat yang sama dengannya saat ini. Ingin sekali Priyanka berlari menjauh, tapi laki-laki itu bersama teman-temannya, percuma saja kalau mencoba kabur.

“ Seingatku, kamu bilang kamu mau latihan drama bersama rombongan sekolah. Sekarang kenapa kamu malah santai-santai di sini? Kamu bohongin aku ya?”

Priyanka bergidik takut, “ Nggak, aku gak bohong. Aku memang pergi untuk latihan, tapi sekarang kami semua diberi jatah untuk liburan.”

“ Kamu bohong. Aku gak percaya sama kamu.”

“ Aku gak bohong sama kamu, Erick,” Priyanka memelas.

“ Pulang! Kamu harus dihukum karena udah bohong sama aku!”

Priyanka tersentak, “ Pulang? Gak bisa gitu. Aku bisa kena marah oleh―”

“ Sekarang kamu lebih takut sama aku atau yang lain?” Erick menarik lengan Priyanka. Sangat kasar, sampai-sampai minuman gadis itu terjatuh. “ Aku gak mau dengar penjelasan kamu! Sekali aku bilang pulang, kamu harus pulang!”

Priyanka meronta-ronta sambil berteriak minta tolong. Tak ada yang peduli. Teman-teman Erick hanya menjadi penonton. Erick sendiri seenaknya menyeret Priyanka seperti hewan peliharaannya.

Erick menyeret Priyanka sampai mereka tak sengaja bertemu dengan Wenda, Ben, dan Kemal. Tiga sekawan itu awalnya berencana untuk membeli minuman di tempat yang sama dengan Priyanka tadi. Namun, begitu akan menuju ke sana mereka berpapasan dengan salah seorang teman mereka. Wenda adalah orang pertama yang menyadari situasi buruk yang dihadapi oleh Priyanka.

“ Priyanka, kamu kenapa?” Wenda bergantian menatap Priyanka dan Erick. “Kamu siapa?”

Erick mengendurkan cengkraman tangannya. Ia mengamati wajah Wenda dengan seksama, kemudian dia tersenyum.

“ Waah, jangan bilang kamu Wenda. Wenda Permana?”

Wenda semakin bingung. Melihat kebingungan gadis itu, tawa Erick pecah.

“ Lama gak bertemu kamu langsung lupa sama aku. Apa kabar, Wen? Kaki kamu sudah sembuh?”

Wenda tersentak. Tidak banyak yang tahu soal cidera kakinya, kecuali…

“ E—Erick?”

Laki-laki itu terlihat senang saat Wenda menyebut namanya. Perhatian Wenda kembali pada Priyanka yang terlihat membutuhkan pertolongan.

“ Ada apa dengan Priyanka? Kenapa kamu bisa sama dia sekarang?”

“ Ceritanya panjang kalau ditanya kenapa aku bisa bersama Priyanka,” Erick melirik Priyanka dengan sinis. Gadis itu membuang muka. Ia tahu kalau Erick menjawab dengan makna yang berbeda. “ Tapi maaf, aku harus membawa gadis ini pulang.”

Wenda baru akan menolak, tapi Ben sudah mendahuluinya.

“ Tidak bisa. Saat ini Priyanka ada di bawah tanggung jawabku. Kalau kamu mau bawa pulang dia kamu harus minta izin dulu padaku.”

“ Oh, begitu,” Erick melepaskan tangan Priyanka, lalu berjalan mendekati Ben. “Kalau begitu, Kakak-yang-bertanggung-jawab. Aku meminta izinmu untuk membawa Priyanka pulang.”

“ Maaf, masih belum bisa. Aku harus melaporkan pada pimpinan kami, dan kamu harus menghadap beliau juga. Aku tidak bisa memutuskan kamu bisa bawa pulang anak orang begitu saja.”

Wajah Erick berubah ganas, “ Kamu tidak tahu berhadapan dengan siapa?”

“ Kamu juga harus tahu pimpinan kami itu siapa,” sahut Kemal yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Ben.

Kemarahan Erick sedikit luntur saat melihat sosok Kemal. Ia memerhatikan Kemal dengan cara yang sama saat ia memerhatikan Wenda.

“ Rasanya kita pernah bertemu sebelumnya.”

“ Aku? Denganmu?” Kemal tertawa mengejek. “ Maaf saja ya. Kalau bukan perempuan aku sulit mengingat orang. Kalau pun iya kita pernah bertemu sebelumnya, aku yakin kamu bukan orang penting yang harus aku ingat.”

“ Orang ini benar-benar membuatku marah,” Erick menoleh, lalu tertawa bersama teman-temannya. Detik berikutnya, kerah baju Kemal sudah ada dalam cengkramannya. Terlalu cepat, sampai-sampai pekikan Wenda tertahan.

“ Tolong jangan buat aku marah, Kakak-yang-pelupa. Jangan pernah menyesali apa yang sudah kamu perbuat.”

Kemal tersenyum, kemudian ia balas menarik kerah baju Erick. Lebih cepat dan lebih kuat daripada yang Erick lakukan.

“ Sebaiknya katakan itu pada dirimu sendiri.”

Mereka mengukur kekuatan lewat adu mata. Erick mulai merasa terintimidasi. Kepalan tangannya sudah siap dilayangkan ke wajah Kemal.

“ Cukup! Hentikan!”

Suara wanita itu langsung menghentikan niat Erick maupun Kemal untuk berkelahi. Bukan Wenda, apalagi Priyanka. Namun, sosok pimpinan yang dari tadi mereka sebut-sebut. Saat suara itu memecahkan ketegangan, barulah mereka berdua sadar kalau jumlah orang-orang di sekitar mereka sudah lebih banyak dari semula.

“ Apa yang sedang kalian lakukan?” Tifa menatap satu persatu anak didiknya. “Ben?”

“ Orang-orang asing ini meminta pada kami agar diperbolehkan membawa Priyanka pulang,” jawab Ben. “ Kami menolak baik-baik, tapi mereka memaksa. Kami pun mencoba menghalangi dengan cara kami sendiri.”

Tifa tak mengatakan apa-apa. Hanya matanya yang mengisyaratkan pada Kemal untuk segera menyingkir. Kemal langsung patuh. Ia melepaskan cengkramannya, meski ia masih melempar tatapan tidak suka pada Erick. Giliran Tifa yang face to face dengan laki-laki ini.

“ Sebenarnya Anda ini siapa dan ada urusan apa sampai memaksa Priyanka untuk pulang?”

“ Bukan urusan Anda juga,” Erick menjawab sopan tapi dengan nada yang angkuh.

Tifa tersenyum, “ Iya, memang bukan urusan saya. Perlu Anda ketahui, semua ini akan menjadi urusan saya bila ada salah seorang anggota saya pulang tidak pada waktunya. Saya yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka sampai mereka dikembalikan pada orang tua masing-masing.”

“ Oh, jadi Anda pimpinan utama mereka,” Erick terkekeh senang. “ Kebetulan sekali. Saya meminta izin kepada Anda untuk membawa pulang pacar saya. Anda tenang saja, Priyanka akan aman bersama saya. Anda bisa lihat teman-teman saya. Saya dan mereka bisa melindungi Priyanka dari ancaman orang-orang yang berbahaya.”

“ Wah, baru jadi pacar saja sombong sekali,” tawa Tifa meledak, kemudian ia kembali menatap Erick dengan serius. “ Dengar, apapun yang terjadi dengan Priyanka akan menjad tanggung jawab saya sampai dia saya kembalikan ke rumah. Jadi tolonglah, jangan menambah beban saya di kemudian hari. Anda yang bilang sendiri kalau Anda ini hanya pacarnya dan bukan Tuhan, artinya Anda juga tidak dapat memastikan apakah Priyanka bisa baik-baik saja.”

“ Kenapa susah sekali sih? Anda tidak tahu siapa saya.”

“ Saya tahu. Saat ini saya sedang berhadapan dengan anak yang baru terima SIM kemarin sore.”

Tanpa basa-basi, Erick langsung menarik kerah kaus Tifa, “ Bukan berarti saya tidak berani kepada perempuan. Ikuti saja permintaan saya, kalau tidak mau kami habisi”

Tidak seperti Kemal yang langsung terpancing emosi, Tifa memilih diam. Memerhatikan jumlah teman-teman Erick, lalu mengalihkan perhatiaannya pada Priyanka yang terlihat ketakutan.

Kemal, Ben, serta semua anggota LM yang ada disitu terlihat memanas. Namun, sebelum itu terjadi Tifa langsung membalikkan keadaan. Ia melepaskan tangan Erick dari kausnya, kemudian memiting tangan laki-laki itu ke belakang punggungnya. Tifa melakukannya sangat cepat, seperti seorang pro, lalu ia mendekatkan bibirnya di telinga Erick.

“ Bukan berarti saya perempuan lantas saya tidak berani. Dengar, kami terdiri dari orang dewasa dan anak laki-laki. Jumlah kami jelas lebih banyak. Saya sarankan, jangan membuat kami kesal kalau tidak mau menyesal.”

“ Le—lepaskan!” Erick berteriak sambil meronta-ronta.

Tifa memberi kode pada Priyanka untuk segera bergabung dengan Wenda dan yang lainnya. Gadis itu segera meninggalkan Erick. Setelah memastikan Priyaka aman, Tifa baru melepaskan tangannya.

“ Lebih baik kalian cepat menghilang dari hadapan kami. Jangan coba-coba membuat kami mengamuk, mengerti?”

Erick mengusap-usap tangannya yang masih memerah akibat serangan Tifa. Ia menatap marah pada Tifa, lalu beralih pada Priyanka. Gadis itu mencoba untuk tidak menangkap tatapan Erick.

“ Urusan kita belum selesai, Priyanka. Aku akan menunggu saat pulang nanti!”

Erick memerintahkan teman-temannya untuk segera pergi. Langkah mereka mulai menjauh, tapi ketegangan tadi masih terasa.

“ Yaaak, tunggu saja di rumah!” teriak Tifa dengan kesal. Ia menarik napas panjang untuk meredakan emosinya, kemudian siap untuk berhadapan dengan para anggotanya.

“ Semuanya, kejadian tadi anggap saja angin lalu. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Kembalilah berlibur seperti sebelumnya. Kalian hanya perlu sedikit waspada saja karena kita tidak tahu apakah dia atau orang lain yang seperti dia datang kembali. Jangan pernah pergi ke tempat sepi sendirian! Jauhi orang asing! Kalau perlu beri perlawanan seperti tadi. Nah, sekarang bubar! Selamat bersenang-senang.”

Mereka saling bertukar pandang. Meski masih meninggalkan banyak pertanyaan, tapi mereka mulai membubarkan diri dan kembali bersenang-senang. Wenda, Ben, dan Kemal pun mengikuti teman-temannya yang lain, dan menyisakan beberapa orang saja.

“ Kamu juga kembalilah,” ujar Tifa pada Priyanka, lalu menatap Fi yang masih setia menemani sahabatnya, “ Fi, temani dia.”

Fi mengangguk, ia pun membimbing Priyanka kembali. Namun, Tifa tiba-tiba menahan lengan Priyanka.

“ Benar dia itu pacarmu?”

Priyanka terkejut, tapi ia hanya menjawab dengan anggukan pelan.

Better you leave him,” bisiknya. Ekspresi Priyanka pun berubah tegang.

Tifa kembali memberi kode pada Fi untuk membawa Priyanka pergi. Melihat semua anggotanya baik-baik saja, Tifa baru bisa bernapas lega.

“ Waah, sejak kapan Tante belajar bela diri?” tegur Adrian yang ternyata belum beranjak pergi. “ Tante gak pernah ajarin aku.”

“ Sejak aku tahu Amerika itu bukan Negara yang aman untuk gadis cantik sepertiku,” jawab Tifa sambil tertawa keras.

Dave yang juga masih berada di sana langsung mendengus kesal, “ Padahal aku tadi sudah cemas. Tahu begitu aku biarkan saja dia babak belur dihajar olehmu, Tif.”

“ Kalian tenang saja,” ujar Tifa setelah tawanya reda. “ Seperti yang aku bilang tadi, mereka akan menyesal kalau sudah membuatku kesal.”

Adrian dan Dave saling bertukar pandang. Sepertinya fakta itu memang benar.

ooOoo

“ Kamu beneran gak apa, Mal?”

“ Gak usah khawatir, Wen. Kalian lihat sendiri’kan kalau dia cuma narik baju aku doang,” jawab Kemal sambil mengedipkan matanya. “ Ngomong-ngomong, kamu kenal sama si Erick itu tadi?”

Wenda mengangguk, “ Dia senior aku waktu SMP. Hmm, memang sih dari dulu dia suka sama Priyanka, tapi Priyanka-nya gak mau. Yah, kalian lihat sendiri’kan gimana bar-barnya si Erick itu. Aku juga heran kenapa Priyanka malah pacaran sama dia sekarang.”

“ Mungkin itu yang dinamakan Kesempurnaan Cinta,” sahut Ben seraya tertawa. “Kamu sendiri gimana, Mal? Kok si Erick bilang kalian udah pernah ketemu, tapi kenapa kamu bilang gak inget?”

Giliran Kemal yang tertawa, “ Iya sih, sebenernya kami pernah ketemu, malah sampai kenalan. Tadi itu aku cuma pura-pura lupa. Sengaja, biar emosinya kepancing.”

Ben menggeleng-gelengkan kepalanya, “ Wah, cari maut nih anak. Untung tadi ada Miss Tifa. Eh, ngomong-ngomong soal Miss Tifa, aku gak nyangka banget dia jago bela diri kayak tadi. Kalo dilihat-lihat tadi itu aikido deh.”

“ Bener tuh, wiiih… keren banget sutradara kita,” sahut Kemal. “ Tapi aku jadi merinding juga nih. Jangan-jangan kalau akting kita jelek, kita bakal dihajar habis-habisan sama Miss Tifa.”

Ben dan Kemal tertawa.

“ Kalian ini malah ngomong yang nggak-nggak,” omel Wenda. “ Ya udah deh, aku mau ke tempat Priyanka dulu. Mau ngecek kondisinya gimana. Kalian mau ikut?”

Kedua teman laki-lakinya ini sepakat menolak. Wenda pun akhirnya menemui Priyanka seorang diri.

ooOoo

Fi merasa prihatin dengan Priyanka. Tangannya gemetar, tampaknya gadis itu terlihat masih syok dengan kejadian tadi. Bahkan saat gadis itu masih terkejut saat Fi menyentuh tangannya.

“ Kita ke dokter aja ya,” ujar Fi. “ Aku mulai cemas dengan keadaan kamu.”

Priyanka menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.

“ Ma—makasih, Fi, tapi aku baik-baik aja kok.”

Fi melirik pergelangan tangan gadis itu, “ Lebam di tanganmu baik-baik saja?”

Spontan Priyanka langsung menutupi warna biru di pergelangan tangannya, lalu menggeleng cepat, “ I—ini bukan karena yang tadi kok.”

Namun, Fi tak langsung percaya begitu saja. Ia meninggalkan Priyanka sejenak untuk mencari es. Lebam di tangan gadis itu harus segera diberi pertolongan pertama.

Tepat saat Fi kembali, ia berpapasan dengan Wenda. Gadis dari tim tari itu sepertinya akan menemui Priyanka juga.

“ Di tangannya ada luka lebam,” ujar Fi saat melihat mata Wenda yang mengarah pada baskom kecil berisi es yang ia pegang. “ Jika kamu ingin tahu kabar dia yang sebenarnya,”

“ Sepertinya cukup parah,” Wenda menghela napas. “ Ada yang ingin aku tanyakan padanya. Apa dia sudah bisa diajak bicara?”

Fi mengangkat bahu, “ Aku tidak tahu pasti, tapi mungkin kamu akan dapat jawaban yang kurang memuaskan.”

Wenda tetap pada niatnya untuk menemui Priyanka. Rivalnya itu tampak heran saat Wenda datang untuk menjenguknya. Mereka cukup lama saling bertatapan, sampai akhirnya Wenda yang membuka percakapan.

“ Aku bingung harus dari mana bertanya. Semua ini membutku heran. Kamu tahu, aku masih tidak percaya kalau kamu pacaran sama Erick. Selain itu, kenapa dia bisa sekasar itu padamu? Memangnya kamu salah apa?”

Priyanka berdeham, “ Ceritanya panjang, dan kurasa aku tidak bisa menceritakannya pada siapapun.”

Wenda bingung dengan jawaban Priyanka. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan hubungan mereka.

“ Oh, jadi kalian saling terikat benang merah ya?” suara Fi memecahkan lamunan Wenda.

“ Kami dulu satu SMP,” ujar Wenda, lalu ia kembali menatap Priyanka. “Sebenarnya aku masih penasaran, tapi baiklah, aku tidak akan lagi bertanya tentang hubunganmu dengan Erick. Mungkin aku bukan orang yang berhak untuk tahu.”

Wajah Priyanka tertunduk. Ada kepulan rasa bersalah sedang menggerogoti hatinya. Wajahnya kembali terangkat saat Wenda memberikan selembar plester luka.

“ Aku melihat ada luka cakaran di sana. Semoga ini yang terakhir kalinya Erick melakukan hal itu. Aku pergi dulu.”

Wenda lantas pamit begitu Priyanka menerima plester luka itu. Tanpa banyak bicara, Fi langsung mengompres tangan Priyanka yang lebam. Ternyata Wenda benar, ada luka cakaran di sana. Mungkin tergores saat laki-laki itu menyeret Priyanka.

“ Apa aku juga sama seperti dia? Maksudku gak berhak untuk tahu?”

Priyanka kembali tertunduk, “ Ma—maaf, Fi.”

Fi mendesah panjang, “ Ya, aku setuju dengan kata-kata Miss Tifa tadi. Better you leave him.”

ooOoo

“ Kamu yakin kalau anak didikmu tadi akan baik-baik saja?”

“ Untuk sekarang aku bisa yakin, tapi setelah lepas dari pengawasanku aku tidak yakin. Hei, Dave, bantu aku!”

Dave mengulurkan tangannya dan membantu Tifa untuk menaiki sebuah batu. Wanita itu terlihat ngos-ngosan setelah menemaninya mendaki sebuah bukit kecil.

“ Kamu gak coba cari tahu siapa dia?”

“ Nanti saja pas kita semua pulang ke Palembang. Di sini bukan daerah kekuasaanku,” Tifa menebarkan pandangannya ke semua penjuru arah. “ Benar-benar bukan daerahku, bahkan aku tidak tahu sekarang kamu membawaku kemana.”

Dave tak menjawab, ia justru menertawai kata-kata Tifa. Wanita itu pun hanya bisa menuruti kemana Dave menuntunnya.

“ Kamu bilang kita bakalan di sini sampai sunset’kan? Nah, sekarang kuberikan tempat terindah untuk melihat sunset.

Kedua tangan Dave terentang lebar. Disitulah Tifa baru menyadari kalau ia diajak menuju tempat tertinggi di pantai tersebut. Dari ketinggian seperti ini ia bisa leluasa melihat laut, bahkan garis cakrawala yang seolah membelah lautan pun terlihat jelas. Dave tahu betul spot terindah untuk menyaksikan moment terindah. Rasa lelahnya terbayar sudah.

Matahari semakin tergelincir. Warna merahnya kini lebih pekat dan menyilaukan. Ombak laut saling bergantian untuk menjilati sinarnya. Suasana semakin menyenangkan ketika angin bertiup lembut dan memberi kesejukkan untuk semua penghuni pantai.

“ Waaah, indahnya. Menyenangkan sekali saat kita menjadi saksi untuk momentum seperti ini,” ujar Tifa.

Berbeda dengan Tifa yang tak berhenti memandang laut, Dave justru merasa keindahan itu ada di sampingnya. Tak peduli bila bumi memiliki laut sebagai dewinya, baginya Tifa adalah dewi di atas segala dewi.

“ Kamu benar, apalagi jika kita menambah momentum keindahan yang baru seperti saat ini.”

Tifa merasa ada kejanggalan dari makna kalimat Dave. Begitu ia menoleh, ternyata laki-laki itu sudah berlutut di sampingnya. Tifa menahan napas ketika Dave perlahan-lahan membuka kotak beludru bewarna merah hingga akhinya cincin bertahtakan berlian putih itu muncul.

Marry me?”

Ini bukan drama romantis yang ia arahkan, tapi ini adalah kehidupan nyatanya. Tifa tak pernah menyangka kalau hal-hal “cengeng” seperti ini akan ia alami. Ia tak tahu harus menjawab apa. Pikirannya kosong. Untuk sejenak Tifa ingin bertukar jiwa dengan pasir basah yang hanyut oleh ombak.

“ Tif?”

Tolong jangan paksa dia menjawab sekarang. Tifa merasa kepalanya sangat panas. Entah apakah itu efek radiasi ultraviolet yang masih tertinggal, ataukah karena sosok laki-laki yang sedang menunggu jawabannya ini. Satu hal yang pasti, terlalu lama dalam posisi seperti ini akan membuatnya meledak.

Ponsel Tifa berdering. Tak ada yang menghiraukan. Makin lama suaranya semakin membesar. Tifa memang sengaja menyetelnya demikian agar ia selalu mendengar panggilan masuk. Namun, sepertinya penyetelan itu mengganggu nuansa romantis di pinggir bukit ini.

Tifa mulai gelisah. Ia mencoba tak menghiraukan bunyi ponselnya. Lucunya panggilan masuk itu tak putus-putus. Konsentrasi Dave pun ikut terganggu. Ia mendesah kesal seraya berdiri. Ia pandangi kotak cincin itu, kemudian ia menutup dan menyimpannya.

“ Angkat saja. Kurasa kamu lebih penting menjawab telepon itu ketimbang lamaranku tadi.”

Tifa tak tahu harus berterima kasih atau mengutuk si penelpon ini. Ia berbalik dan buru-buru mengangkat telepon itu.

“ Ayo pulang, hari sudah gelap,” ujar Dave ketika Tifa menutup telepon itu.

Tifa bingung kenapa Dave tak melanjutkan kembali lamarannya. Mungkin laki-laki itu sudah tidak mood. Namun, Tifa masih bisa menangkap ekspresi kecewa dari balik punggung yang tegap itu. Meski tahu menyakitinya, Tifa bersyukur Dave tidak mengulangi lamaran itu.

Ia juga lebih bersyukur lagi karena Dave tidak melempar ponsel yang menyebalkan itu dari atas bukit.


Please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar