Musikal 59
“ Baiklah, setelah dari sini kalian harus segera
pulang ke rumah. Jangan keluyuran lagi! Selamat pagi.”
Pukul sepuluh Tifa
membubarkan pasukannya. Beberapa orang tua dari anggota terlihat sudah menunggu
kepulangan mereka, tetapi ada juga yang pulang dnegan kendaran masing-masing.
Namun, yang membuat Tifa was-was adalah Priyanka. Ia terlihat dijemput oleh
laki-laki yang pernah bermasalah dengannya sewaktu di pantai. Sayangnya, kali
ini Tifa tak bisa berbuat apa-apa. Jam latihan sudah selesai, baik Priyanka
atau pun yang lainnya sudah bukan tanggung jawabnya lagi.
“ Tante, lihatin apa
sih?” tegur Adrian.
Tifa mendesah berat,
“ Kamu lihat gadis yang dibonceng motor cross
itu? Aku mencemaskannya.”
“ Itu Priyanka’kan?
Memangnya kenapa dengan dia?”
“ Pengemudinya itu
adalah pemuda yang bermasalah dengan kita di pantai waktu itu.”
Adrian tersentak, “
Wah, gawat! Terus kita harus gimana? Apa kita harus larang dia, Tante? Atau
kita buntuti saja dia?”
“ Gak, Adrian.
Situasinya berbeda dengan waktu itu,” Tifa menggeleng resah. “ Saat ini
Priyanka sudah bukan tanggung jawab kita lagi. Dia bebas mau pergi dengan siapa
saja. Justru kalau kita mencegahnya, kitalah yang mendapat masalah.”
“ Ini sih benar-benar
gawat, Tan. Semoga dia baik-baik saja dan benar-benar diantar pulang.”
Tifa kembali mendesah
berat, “ Semoga.”
ooOoo
“ Kenapa harus hari ini coba? Aku capek banget, mau
pulang terus tidur.”
Wenda mengomeli kedua
sahabatnya, Ben dan Kemal. Sebenarnya ia bukan kesal pada kedua lelaki itu,
tapi pada teman-temannya dari komunitas modern
dance yang ia ikuti. Teman-temannya itu mengajak gathering di saat Wenda merasa sangat lelah akibat latihan semalam.
“ Mau gimana lagi,
Wen. Abisnya mereka cuma punya waktu hari ini aja. Lagian juga kita susah mau
kumpul di hari lain,” ujar Ben. “ Love
Musical terlalu menguras waktu dan tenaga kita.”
“ Iya, Wen. Lagian
kita juga udah lama gak ketemu mereka. Aku kangen sama Lana dan Diana,
kira-kira mereka tambah seksi gak ya?” timpal Kemal.
“ Kamu tuh, cuma
mikirin cewek lain melulu. Cewek yang di sini gak dipikirin apa?” Wenda meninju
bahu Kemal, tapi laki-laki itu hanya tertawa. “ Ya udah deh, aku telepon Mamaku
dulu. Kalau gak boleh aku gak ikut ya.”
Di luar dugaan,
respon sang mama justru positif. Padahal sebenarnya Wenda berharap agar sang
mama melarangnya, agar ia punya alasan untuk berselancar di pulau kapuk. Kalau
sudah begini, mau tak mau ia harus ikut gathering
itu.
“ Nah kan, kamu
memang ditakdirkan untuk ikut,” ujar Kemal yang disahut tawa Ben. “ Come on, Babe.”
Wenda mendesah berat.
Berada di antara dua serigala ini memang menyebalkan. Ia berharap agar Anjani
cepat pulang.
ooOoo
Bergabung di gathering
itu ternyata cukup mengasyikan. Kemal benar, mereka sudah lama tidak bertemu
setelah bergabung di LM. Rasa lelah Wenda lenyap seketika, yang ada hanyalah
canda tawa selama ia di sana.
Di tengah-tengah
keseruan acara itu, mata Wenda tak sengaja menangkap sosok Priyanka masuk ke
dalam restoran yang sama dengannya. Priyanka tak sendiri, ia bersama laki-laki
yang juga ia kenal, Erick. Di belakang keduanya ada beberapa teman Erick.
Semuanya laki-laki, hanya Priyanka yang perempuan di situ.
Wenda diselimuti rasa
penasaran yang tinggi. Matanya terus mengawasi Priyanka yang duduk di sudut
restoran bersama Erick dan teman-temannya. Tangan Erick melingkar posesif pada
bahu gadis itu. Wenda bisa menangkap kegelisahan yang terpancar pada wajah
Priyanka.
Wenda masih terus
mengawasi. Erick tengah berbicara pada Priyanka. Wajah laki-laki itu terlihat
tidak senang dan sepertinya ia memarahi gadis itu. Sayang, restoran saat itu
sedang ramai, selain itu, tempat duduk mereka sangat jauh, sehingga Wenda tak
dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Erick. Tak lama Erick menarik
tangan Priyanka untuk meninggalkan restoran itu.
“ Hei, Wen, mau
kemana?”
Kalau saja Ben tak
mencegahnya, mungkin Wenda sudah mengikuti nalurinya untuk mengikuti kemana
Erick membawa Priyanka. Namun, kalau ia melakukan itu, bisa-bisa ia kena
masalah. Ia tentu ingat bagaimana bar-barnya Erick itu.
“ Ah, gak apa-apa.
Punggungku cuma gatal.”
“ Mau aku garukin?”
Celotehan Kemal
sukses membuat semua teman-temannya tertawa. Sayangnya, tidak berlaku pada
Wenda. Di kepala gadis itu hanya ada Priyanka. Ia hanya berharap gadis itu
pulang dengan selamat.
please comment and share
hohoho author , ier baru sadar si tifa umur nya 30an .
BalasHapusselama ini kirain berapa gitu , sampe bisa keliling vila pake teriak2 nyanyi lagi -__-
itu si trio ganteng yg main musik , kelihatan nya lezat ya di santap hahahahha *womenHuntingHusband
masih menunggu rahasia keluarganya si pangeran , dan tragisnya kisah cinta tifa +priyanka disini hahahaha
*peace*
tragis? hmmm, tragis gak yah?? :D
Hapus