Total Tayangan Halaman

Sabtu, 30 Juli 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 60)



Musikal 60


Senin lagi. Semua siswa kembali memulai aktivitasnya di awal minggu. Terasa melelahkan, terutama anggota LM. Hari minggu yang harusnya menjadi hari yang damai untuk tidur panjang, justru terbuang untuk latihan. Untungnya, pelajaran Senin pagi adalah bahasa Inggris, setidaknya bukan matematika yang membuat kepala pusing tujuh keliling.
Priyanka sepertinya datang terlambat. Fi tidak melihatnya tadi saat upacara. Mungkin gadis itu terkena hukuman dulu sebelum ke kelas, sehingga baru di mata pelajaran kedua gadis itu bisa masuk. Fi baru saja mau menertawai keterlambatan gadis itu, tetapi urung setelah melihat dandanan aneh dari gadis itu. Fi tahu kalau poni gadis sudah cukup panjang, tetapi Priyanka tak harus membuat poninya itu menutupi sebelah pipinya. Selain itu, Fi juga merasa ada yang aneh di wajah gadis itu. Begitu Priyanka duduk, Fi langsung menyibak poni serta mengusap wajah gadis itu. Seketika Priyanka mengaduh.
“ Jadi, kamu terlambat karena pakai riasan setebal ini?” ujar Fi. “ Dan itu, astaga, lebam apa itu?”
Priyanka cepat-cepat merapikan poninya kembali, “ Tahu darimana aku pakai make up?”
“ Aku ini artis, Ka. Jangan remehin aku soal make up deh. Hei, kamu belum jawab pertanyaanku. Kenapa pipimu lebam begitu.”
“ Jatuh, makanya aku pakai foundation tebal-tebal biar gak kelihatan memarnya,” Priyanka berusaha tersenyum. “ Aku baik-baik aja kok.”
Tetap saja Fi merasa aneh. Namun, ia urungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut karena guru mata pelajaran selanjutnya sudah masuk.
‘ Kenapa dia berakting seolah-olah aku ini bisa ditipu? Sudah kubilang yang jadi artis itu’kan aku.’
ooOoo
Dari lantai dua Wenda bisa melihat motor Cross Erick kembali datang menjemput Priyanka. Hatinya kembali resah. Apalagi setelah seharian ini Wenda perhatikan kalau gadis itu banyak menunduk. Ia seolah-olah ingin menutupi seluruh wajahnya.
“ Hei, belum mau pulang?” tegur Ben. “ Lihatin apa sih?”
Wenda menggendikkan dagunya, “ Aku cemas aja sama dia.”
“ Itu Priyanka dan pacarnya yang super rese itu’kan,” timpal Kemal. Tampaknya laki-laki itu masih kesal pada Erick dan Priyanka. “ Udahlah, ngapain kamu mikirin dia. Bukannya dia itu rivalmu, seharusnya kamu gak usah capek-capek mikirin orang kayak dia. Toh, kemarin aku udah tanya baik-baik, eh, dia bilang aku gak usah ikut campur. Ya udah, terserah dia aja.”
“ Kemal benar, Wen,” sahut Ben. “ Lagipula bukannya kamu sendiri yang bilang kalau Erick itu orangnya bar-bar. Kalau sampai kita ikut campur bisa berabe nantinya.”
Wenda bukan Kemal atau Ben yang tidak punya korelasi dengan Priyanka dan Erick. Ia tahu benar bagaimana masa lalu Erick dan sampai sekarang sepertinya laki-laki itu belum berubah. Namun, ia juga tak bisa meremehkan kata-kata Ben dan Kemal. Ia sekarang orang luar, bukan lagi teman dekat Priyanka seperti dulu.
Fi yang melintasi ketiga orang ini tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Sebelum ketiganya menuruni tangga, cepat-cepat Fi menahan lengan Wenda.
“ Tunggu sebentar, aku mau tanya soal Priyanka.”
Wenda terlihat bingung. Ia bertukar pandang dengan kedua sahabatnya. Tumben sekali gadis angkuh ini mau berbicara dengan mereka.
“ Ada apa dengan Priyanka?”
Fi memberikan kode supaya mereka mencari kelas kosong untuk bicara. Ngobrol di dekat tangga sepertinya bukan ide yang baik.
“ Kamu kok was-was gitu? Memangnya kenapa?” tanya Ben saat melihat gelagat Fi yang celingak-celinguk saat mereka ada di salah satu kelas kosong.
Fi menghela napas panjang, “ Baiklah, aku melihat Priyanka hari ini menutupi luka lebam di pipinya dengan poni dan make up.
“ Lalu apa hubungannya dengan kami?” tanya Kemal dengan nada malas.
“ Dia bilang itu luka jatuh, tapi aku sangat yakin kalau itu memar bekas tamparan.”
“ Ya Tuhan!”
Ben, Fi, dan Kemal kaget melihat reaksi Wenda yang berubah cemas. Wenda terlihat sangat panik.
“ Kenapa, Wen?” tegur Kemal.
Wenda mengusap wajahnya, “ Waktu kita gathering kemarin, aku lihat Priyanka datang dengan Erick dan teman-temannya. Aku sempat melihat kalau Erick seperti memarahinya dan setelah itu menarik Priyanka pergi. Aku cemas dan hampir saja mengikuti mereka, tapi saat Ben mencegahku kemarin, aku sadar kalau itu bukan ide yang bagus. Sekarang aku sangat yakin kalau luka di wajah Priyanka itu akibat ulah Erick.”
“ Selain senior kalian, sebenarnya Erick itu siapa dan kenapa bisa jadi pacarnya Priyanka?” tanya Fi. Nada bicara terdengar khawatir.
“ Bisa dibilang dia itu berandal. Waktu SMP, dia berulang kali masuk ruang BP gara-gara ketangkapan merokok, tawuran, dan masih banyak lagi. Dia memang suka pada Priyanka, tapi setahuku Priyanka selalu mengabaikan laki-laki itu. Sayangnya, aku gak tahu alasan Priyanka bisa jadian sama begundal itu.”
“ Dan sekarang dia jadi anak motor,” gumam Kemal.
“ Bukan itu intinya, Mal,” sahut Ben. “ Saat ini yang kita khawatirkan adalah keadaan Priyanka. Kalau kemarin si Erick itu bisa nampar Priyanka sampai lebam, apa kabar hari ini? Bisa aja sesuatu yang lebih buruk terjadi.”
“ Ya ampuuun, aku benar-benar cemas sekarang,” Wenda memegangi keningnya. “Kita harus bagaimana?”
“ Benar, lapor polisi pun kita tidak punya bukti,” ujar Fi. “ Sekali pun kita punya bukti, Priyanka pasti sudah diancam oleh Erick. Dia gak bakalan buka mulut.”
“ Sudah kubilang sekarang dia jadi anak motor,” sahut Kemal sambil merogoh ponsel di saku celananya. “ Kalian tunggu sebentar.”
Kemal sedikit menjauh dari teman-temannya. Ketiga orang ini heran melihat Kemal yang sekarang justru asyik berbicara di ponselnya.
“ Siapa yang kamu telepon?” tanya Ben.
“ Marina, mantanku waktu SMP. Eh, sekarang dia tambah cantik loh,” Kemal tertawa-tawa sendiri. Namun, dalam detik berikutnya tawa itu langsung lenyap saat ia melihat ekspresi aneh di wajah teman-temannya. Kemal berdeham di untuk meredakan suasana canggung itu. “ Aaah, yah, Marina. Dia ini mantan—eh—maksudku, yaaa… dia ini sekarang bergabung sama salah satu klub motor. Tadi aku sempat tanya dia soal Erick, dan dia bilang dia kenal sama si cowok rese ini. Dia bilang bakalan sms tempat Erick dan teman-temannya nongkrong. Yaa, kemungkinan Priyanka ada di sana. Jadi, kalian mau pergi?”
Ben berdecak kagum, “ Waah, ke-playboy-anmu berguna juga untuk hal seperti ini.”
“ Aku harus ke sana,” Wenda tampak tak mengindahkan kekonyolan kedua sahabatnya. “ Aku khawatir sekali.”
“ Kami juga akan ikut,” ujar Kemal sambil melirik Ben. “ Kamu bakalan ke sarang penyamun, Wen. Bahaya kalau sendirian.”
“ Aku ikut dengan kalian,” sahut Fi. “ Rasanya tidak adil kalau aku hanya diam saja di sini.”
“ Kalau begitu, kita harus beritahu yang lain,” ujar Ben. “ Seperti yang kamu bilang, Mal, kita akan ke sarang penyamun. Bahaya kalau hanya berempat.”
ooOoo
“ Kamu hubungin siapa aja sih? Kok sampai sekarang belum ada yang datang?”
Wenda berdecak kesal. Ia pikir Ben benar-benar memanggil teman-teman mereka, tapi nyatanya hanya mereka berempat yang tiba di tempat geng motor Erick.
“ Aku udah hubungin teman-teman di Panji Semirang, tapi aku lupa kalau ini hari Senin. Di sekolah kita’kan kalau hari Senin sekolahnya sampai jam lima,” ujar Ben. “ Aku juga sudah menghubungi anak-anak Love Musical, tapi aku juga lupa kalau anak-anak Love Musical  itu sebagian besar cewek, dan yaaah… mungkin hanya kita berempat yang bisa menghadapi mereka.”
“ Kita bakal dihabisin di sini,” sahut Kemal. “ Mungkin kita harus menghadapi merkea dengan cara lain selain face to face. Ada yang punya ide?”
Mereka saling bertukar pandang. Sia-sia saja, ini bukan sinetron laga yang pahlawannya bisa menang satu lawan seribu. Wenda sedikit menyesali kenapa ia tidak pernah belajar beladiri. Andai dia punya kemampuan seperti Tifa, mungkin ia tidak segentar ini.
“ Ben? Kamu Ben’kan?”
Mereka dikejutkan oleh suara seorang laki-laki yang menyapa. Ben terkesiap saat melihat siapa yang memanggil namanya.
“ Bang Aris! Ya ampun, apa kabar, Bang?”
Ben merangkul laki-laki yang bernama Aris itu. Dari gelagatnya, Ben seperti sudah sangat mengenal laki-laki ini. Saat mereka mengobrol tak sengaja mata Ben tertuju pada emblem jaket yang dikenakan Aris.
“ Bang Aris anak geng motor di sini?”
Aris tertawa keras, “ Bukang geng motor, tapi klub motor. Kita bertarung di sirkuit, bukan di jalanan. Iya sih, aku anak klub motor ini. Memangnya kenapa?”
“ Emm, Abang kenal dengan anak yang namanya Erick?”
“ Erick? Hmm, ahh…” wajah Aris terlihat tak begitu senang. “ Si troublemaker itu. Dia lagi gak di markas sih. Ada urusan apa kalian dengan dia?”
“ Dimana biasanya Erick nongkrong?”
Ben kaget ketika Wenda tiba-tiba memotong pembicaraan mereka. Mendengar pertanyaan Wenda, lipatan di kening Aris bertambah.
“ Kalau gak salah sih, Erick dengan keroconya nongkrong di Banana Café. Biasanya Erick juga bawa cewek.”
“ Priyanka!” seru Wenda. “ Itu pasti Priyanka. Ben, kita harus segera ke sana!”
Tiba-tiba Aris mencegah Wenda yang terlihat panik, “ Sabar dulu, non. Lebih baik kamu gak langsung berhadapan dengan si Erick itu. Kamu itu cewek, kamu bisa habis sama dia.”
“ Apa ini ada hubungannya dengan julukan ‘troublemaker’ itu?” tanya Ben.
Aris mengangguk, “ Erick itu suka buat onar. Sudah aku bilang’kan, peraturan di klub motor kami untuk tidak bertarung di jalanan, tapi Erick suka melanggar peraturan itu. Dia suka ngajak anak klub motor lain untuk tawuran. Ujung-ujugnya kami yang senior di sini malah kena imbasnya. Sebenarnya ketua kami sudah mau ngeluarin dia, tapi entah bagaimana caranya dia tetap bertahan di sini.”
Ben menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “ Gini, Bang. Sebenarnya cewek yang Abang bilang sering dibawa oleh Erick itu adalah teman kami. Beberapa hari ini kami perhatikan ada perubahan sama teman kami itu. Kami khawatir kalau Erick melakukan hal buruk dengan dia.”
Aris menopang dagunya, ia terlihat sedang memikirkan sebuah keputusan.
“ Gini aja, kalian pergi dulu aja ke sana. Aku hubungi dulu ketua kami, nanti kami semua ke sana. Kalau sudah sampai sana, tolong kalian jangan melakukan apa-apa. Ingat, Erick itu licik dan berbahaya.”
Ben mengangguk, lalu menyalami Aris, “ Oke, Bang. Makasih infonya.”
Aris pun berlalu. Ben dan yang lainnya pun bersiap menuju lokasi.
“ Dia siapanya kamu, Ben?” tanya Kemal.
“ Anggap aja kita ini sedikit berlawanan. Kamu banyak koneksi cewek, dan aku banyak koneksi cowok,” ujar Ben seraya menstarter motornya.
Kemal terkekeh, “ Wah, wah, lihat siapa yang cocok dengan sesame jenis?”
Ben menggerut, “ Hei, kita lihat saja koneksi siapa yang lebih berrguna.”
Sebelum menjalankan motornya, ia menyempatkan diri untuk menendang ban depan motor Kemal. Laki-laki itu hanya membalasnya dengan tertawa.
ooOoo
Mereka tiba di tempat yang disebutkan Aris tadi. Erick dan teman-temannya tidak sedang berada di dalam kafe, tetapi di halaman parkir. Benar saja, ada Priyanka di sana. Keempat remaja ini terkejut dengan pemandangan yang tersaji di depan mereka. Erick saat itu tak segan-segan berteriak serta melayangkan sebuah tamparan di wajah Priyanka.
“ SUDAH AKU BILANG JANGAN MELAWANKU!”
Erick siap menampar untuk yang kedua kalinya. Melihat hal itu, Wenda sepertinya lupa dengan pesan Aris untuk tidak berhadapan langsung dengan Erick. Terlalu lama kalau harus menunggu Aris dan yang lainnya. Priyanka keburu habis saat itu juga.
Priyanka kaget saat tamparan kedua Erick tak mendarat di wajahnya. Lebih kaget lagi saat ia melihat Wenda berdiri di depannya sebagai tameng. Tak hanya Priyanka, Erick pun mengurungkan perbuatannya saat Wenda berada di hadapannya.
“ Waah, Wenda. Suatu kejutan bisa ketemu lagi, tapi ini bukan saat yang tepat untuk mengobrol. Sebaiknya kamu cepat menyingkir selagi aku meminta dengan cara yang halus.”
“ Kalau aku pergi kamu pasti bakalan mukul Priyanka kayak tadi’kan?” jawab Wenda. “ Erick, aku minta sama kamu apapun masalah kalian, tolong jangan berbuat kasar dengan dia.”
Erick tersenyum sinis, “ Wenda, Wenda, kamu itu naïf banget. Kamu gak tau’kan siapa yang lagi kamu lindungi. Dia itu  sudah―”
“ Erick, cukup!” seru Priyanka tiba-tiba. “ Wen, please. Aku bisa hadapi ini sendiri. kamu pergi aja.”
Wenda menganga tak percaya dengan apa yang ia dengar, “ Priyanka, kamu―”
“ Ya ampun, drama macam apa ini. Capek-capek ditolongin kamu kok malah gitu,” sahut Kemal menyusul bersama Ben dan Fi. Ia sempat menangkap ekspresi tidak senang di wajah Erick. “ What’s up, bro? Ah, kali ini aku ingat siapa dirimu.”
“ Kalian ini selalu saja ikut campur urusanku,” Erick melipat tangannya, lalu mengerling pada teman-temannya. “ Tapi kali ini kalian salah tempat.”
Fi refleks menarik seragam Ben. Ia sangat takut saat melihat teman-teman Erick mendekat. Gawat, saat ini mereka terkepung di tengah-tengah. 
“ Wow, wow, kalem, teman,” Ben mengangkat tangannya. “ Kita’kan datang dengan damai. Sangat tidak adil bila kalian langsung mengeroyok kami.”
“ Hoo, kalian takut sekarang?”
“ Tentu, jumlah kalian lebih banyak, laki-laki semua pula,” jawab Ben dengan tenang.
“ Hei, apa yang kamu lakukan?” bisik Fi.
“ Mengulur waktu sampai Bang Aris datang,” balas Ben.
“ Tapi kalau one by one kami sanggup,” ujar Kemal.
Erick kembali tersenyum sinis, “ Berani juga onta arab ini. Iwan, kamu yang maju!”
“ Whoops, apa itu yang disebut leader?” tantang Kemal. “ Kupikir kamu orang yang pemberani. Ternyata cuma orang yang suka nyuruh-nyuruh.”
Erick tak terima ditantang seperti itu. Ia menyuruh anak buahnya mundur. Ia melepas jaket dan melemparnya ke sembarang arah. Dengan senyum sinisnya, ia memberi kode pada Kemal untuk maju.
“ Hei, bukannya kalian bilang tidak bisa berkelahi,” Fi berbisik cemas.
“ Tidak akan, kami cuma mengulur waktu,” sahut Kemal.
“ Mengulur waktu dengkulmu? Kalian bisa lihat’kan, Erick meradang karena kalian tantang.”
“ Tenang saja. Kita serahkan semuanya pada Ben,” Kemal tersenyum seraya menepuk bahu sahabatnya.
“ Serahkan padaku dengkulmu?” Ben mengomel mirip dengan yang Fi lakukan. “Kamu yang tantang dia, kenapa malah nyuruh aku?”
“ Terus gimana? Aku cuma bisa merayu gadis, bukan berantem.”
“ Astaga, kalian berdua ini!” bisik Fi dengan kesal. “ Kenapa malah adu mulut di sini?”
Benar saja, di seberang sana, Erick terlihat tak sabar. Emosinya pun bertambah besar.
“ Hei, kalian yang di sana! Lawan aku di sini. Sekarang bukan waktunya ngerumpi!”
Ben dan Kemal seolah tak memedulikan siapa pun. Mereka berdua terus meributkan siapa yang harus maju melawan Erick.
“ Kemal, majulah.”
“ Enak saja, kalau mukaku rusak gimana?”
Terus dan terus seperti itu, sampai-sampai Erick pun dibuat gerah. Tanpa basa-basi, Erick maju dan melayangkan tinjunya tepat ke muka Kemal.
BUUKK!
Bukannya Kemal yang rubuh, tetapi justru Erick yang tersungkur. Ternyata Kemal sempat menghindari serangan Erick dan langsung memberikan serangan balasan.
Semua orang yang ada di situ dibuat kaget oleh respon Kemal. Padahal daritadi sibuk beradu mulut dengan Ben, tahu-tahu begitu Erick memberikan serangan keadaan justru berbalik. Herannya lagi, kedua orang itu bersikap seolah-olah tak melakukan hal aneh apa pun.
Erick bersungut-sungut bangkit. Sialan, pukulan Kemal kuat juga sampai-sampai hidungnya mengeluarkan darah. Tak terima dengan pukulan itu, Erick pun membalasnya.
“ Brengsek!”
Pukulan itu kembali melayang. Kali ini Ben dan Kemal lebih sigap. Ben segera menghindar dan Kemal langsung mematahkan serangan Erick. Ia hantamkan sikunya tepat di tulang punggung Erick. Dalam sekejap laki-laki itu rubuh.
“ Wah, kupikir orang ini benar-benar jago, ternyata hanya segini saja,” Kemal tertawa sinis. “ Tahu begitu benar-benar kusuruh Ben saja.”
Ben dan Kemal terkekeh. Namun, di balik tubuhnya yang terebah, Erick memberikan kode pada teman-temannya.
Kali ini Ben dan Kemal benar-benar dalam masalah.
ooOoo
Di sisi lain, Priyanka gemetar menahan takut. Ia meremas tangan Wenda kuat-kuat. Keringat dinginnya mengucur deras.
“ Apa kamu yakin dengan mereka berdua?” tanya Priyanka saat melihat Ben dan Kemal sedang sibuk adu mulut.
“ Mereka memang bodoh, tapi aku sangat percaya dengan mereka karena mereka adalah teman-temanku.”
Wenda sendiri tak yakin dengan apa yang ia katakan. Namun, saat Kemal memberikan perlawanan dengan entengnya, ia sedikit bernapas lega. Apalagi setelah melihat Erick benar-benar rubuh. Ia merasa dewi Fortuna sedang berpihak pada mereka.
Sayang, kelegaan itu tak berlansung lama. Wenda mendengar bunyi gesekan antara benda logam dengan aspal. Wenda menatap sekelilingnya dengan cemas. Tampaknya Erick benar-benar akan menghabisi kedua orang itu.
ooOoo
“ Hei, sekarang bagaimana?”
Fi menarik-narik kemeja Ben. Ia sangat panik. Di sekelilingnya sudah berkumpul laki-laki dengan bersenjatakan tongkat baseball, ikat pinggang kepala gear, serta kunci inggris. Mereka semua siap melenyapkan siapa pun yang mereka lihat.
Ben dan Kemal perlahan mundur. Mata mereka mengawasi semua gerakan teman-teman Erick. Jumlah mereka ada tujuh dan bersenjata. Mustahil rasanya untuk bisa mengalahkan dengan tangan kosong.
“ Fi, serahkan jaket dan tasmu!” perintah Ben.
“ Eh, apa maksudmu?” tanya Fi bingung.
“ Saat ini bukan waktunya menjelaskan. Cepat berikan!”
Gertakan Ben membuat Fi buru-buru melepaskan jaket dan tasnya. Ben menerima jaket itu dan segera membelitkannya di tangan kiri, sementara tas Fi mungkin akan digunakan Kemal sebagai tameng.
“ Fi, begitu aku bilang ‘sekarang’, kamu harus berlari keluar dari sini. Jauhi Erick dan tempat ini. Segera cari bantuan! Mengerti?” bisik Kemal.
Fi mengangguk cepat. Jantungnya berdebar keras. Ia tak pernah mengalami situasi yang begitu menegangkan seperti ini. Salah langkah sedikit saja, mereka semua akan berakhir di sini.
“ SEKARANG!!!”
Fi tak membuang waktu. Ia segera berlari sekencang mungkin. Ia sempat menoleh ke belakang. Tak terlihat apa pun, yang ada hanyalah suara benda-benda logam yang saling beradu.
Fi berusaha menelepon polisi. Namun, tangannya bergetar hebat. Smartphone yang selalu ia mainkan, saat ini seperti benda bermuatan listrik jutaan volt. Ia tak bisa mengendalikan kontrol pada tangannya.
‘ Tuhaaan, bagaimana ini?’
Fi tidak sadar kalau di belakangnya Erick siap meremukkan tulangnya.
ooOoo
Air mata Priyanka mengalir deras. Ia tak sanggup melihat kedua pemuda itu dikeroyok. Wenda pun sebenarnya juga tak kuat. Namun, ia harus bisa bertahan. Kalau ia menangis sekarang, lantas siapa lagi yang bertahan?
Tiba-tiba tangan Priyanka terjulur ke depan. Telunjuknya gemetar menunjuk sesuatu di depan.
“ F—Fi…”
Teriakan Wenda tertahan di ujung tenggorokannya. Lututnya terasa lemas saat tangan besar Erick mencengkram bahu Fi. Sial, kenapa tubuhnya sekarang mati rasa.
Namun, di saat itulah kornukopia milik Fortuna sampai ke tangan mereka.
ooOoo
Fi merasa tengkuknya ditiup hawa dingin dari Antartika. Tubuhnya mengeras saat tangan besar Erick menggapai bahunya. Fi menutup mata dan memasrahkan dirinya bila saat itu ia akan dihabisi oleh Erick.
Momen-momen menyakitkan itu tak kunjung datang. Ia justru mendengar deru motor yang diiringi sirine polisi. Bersamaan dengan itu terdengar suara letusan pistol.
Semua aktivitas terhenti. Perlahan Fi membuka matanya. Ada sebuah pistol teracung di depan wajahnya. Namun, lubang peluru itu tak mengarah padanya, tetapi pada laki-laki yang ada di belakangnya. Fi hanya mampu melirikkan matanya saat Erick dibawa paksa oleh petugas kepolisian.
Fi merasa gravitasi menyerap kemampuan berdirinya. Hampir saja ia jatuh lemas kalau tidak segera ditangkap oleh Aris.
“ Kamu baik-baik saja?”
Tak ada yang lebih disyukuri Fi saat melihat sosok Aris. Sepertinya Aris tak hanya menghubungi ketua klub motornya, tetapi juga polisi. Begitu kesadarannya terkumpul, Fi refleks mengalihkan pandangannya pada aksi pengeroyokan tadi.
“ Tenang saja, mereka sudah diamankan. Kamu sendiri baik-baik saja?”
“ A—aku baik,” Fi berusaha berdiri, kemudian ia kembali ke dalam untuk melihat keadaan. Fi mendapati Kemal dan Ben terkapar dengan wajah babak belur.
“ Ka—kalian masih hidup?”
“ Pertanyaan macam itu,” Ben terkekeh sambil meringis. “ Hei, Kemal. Sudah kubilang koneksiku lebih baik darimu’kan?”
“ Bah, tapi mereka terlambat,” Kemal ikut tertawa.
Fi mulai paham dengan watak kedua orang ini. Kalau mereka sudah bisa saling ejek berarti mereka baik-baik saja. Setidaknya Fi bisa sedikit bernapas lega. Namun, syarafnya kembali tegang saat melihat Priyanka digotong oleh beberapa petugas polisi.
“ Dia hanya pingsan ketakutan,” ujar Wenda saat Fi mencoba menyusul Priyanka. “Dia baik-baik saja.”
Fi tidak pernah merasa selega ini. Ia berjongkok seraya memijat tengkuknya yang sedari tadi merasakan tegangan tinggi. Akhirnya, semua adegan beradrenalin tadi berakhir juga.
“ Benar-benar mengerikan. Itulah kenapa aku tidak pernah menerima tawaran di film laga.”
ooOoo
Priyanka membuka matanya. Sinar lampu ruang UGD terasa begitu menyilaukan. Saat ia mulai menggerakkan pupil matanya, sosok pertama yang ia jumpai adalah Fi. Gadis itu terlihat lelah, tetapi masih tersirat kecemasan.
“ Oh, kamu sudah bangun?” Fi bangkit dari tempat duduknya saat sorot mata Priyanka mengarah kepadanya. “ Bagaimana perasaanmu? Ah, maksudku apa ada bagian tubuh yang terluka atau sakit?”
Priyanka menggeleng lemah, “ Aku baik-baik saja. Dimana yang lain? Apa mereka baik-baik saja.”
“ Terlalu baik untuk orang yang baru saja dihajar beramai-ramai. Aku juga heran kenapa mereka bisa bertahan saat dikeroyok tadi, dan mereka bahkan masih saling ejek ketika tubuh mereka sudah dipenuhi luka,” Fi menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, ia mendesah lega. “ Tapi aku bersyukur semua baik-baik saja.”
“ Apa Erick tadi sempat melukaimu?”
Fi kembali menggeleng, “ Hampir. Ahh, aku masih merinding kalau mengingat bagaimana rasanya pundakku disentuh olehnya. Aku pikir Love Musical akan kehilangan aktris terbaiknya. Untunglah bantuan datang di saat yang tepat.”
Wajah Priyanka tertunduk dalam, “ Maafkan aku, Fi.”
“ Sudahlah, semua sudah berakhir. Apa yang semua orang inginkan sekarang terkabul,” jawab Fi seraya tersenyum lebar. “ Kamu sekarang bisa lepas dari Erick, sementara klub motor tempat Erick bernaung kini bisa menjebloskannya ke penjara. Laki-laki itu memang pembuat masalah, makanya semua orang geram padanya. Dengan adanya kejadian ini semua orang punya alasan untuk memberikan hukuman yang pantas padanya.”
“ Lalu dimana mereka sekarang?”
“ Oh, maksudmu Ironman, Captain America, dan Black Widow itu?” Fi terkekeh sendiri dengan julukan yang ia buat. “ Mereka ada di kamar inap. Sepertinya dua superhero kita itu butuh istirahat beberapa hari di sini. Yaah, setidaknya sampai luka mereka cukup membaik.”
“ Aku sudah baik,” Priyanka tiba-tiba melompat dari kasurnya. “ Antar aku ke sana.”
“ Hei, hei, sabar dulu. Akan kuambilkan kursi rodanya.”
“ Terlalu lama, Fi,” ujar Priyanka seraya memasang sepatunya. “ Ayo cepat!”
ooOoo
Begitu Fi dan Priyanka sampai di sana, ternyata kamar itu sedang ramai. Ada beberapa anggota klub motor tadi dan juga petugas kepolisian. Sepertinya polisi itu sedang mengintrograsi ketiga temannya pasal kejadinya tadi.
“ Oh, kalian ke sini?” tegur Aris. “ Apa kamu baik-baik saja?”
“ Apa kami akan ditangkap polisi?” tanya Fi.
Aris terkekeh, “ Tidak. Polisi-polisi ini hanya meminta keterangan saja dari kalian. Kalian juga nanti akan ditanyai oleh mereka, tapi kalau kalian masih lelah, kalian bisa melapor besok.”
“ Bagaimana keadaan mereka?” potong Priyanka tak sabar.
“ Seperti yang kalian lihat,  mereka baik-baik saja. Tidak usah cemas,” Jjawab Aris. “ Silakan tanya sendiri bila kalian mau jawabannya.”
Fi dan Priyanka pun langsung menghampiri Ben dan Kemal. Meski berbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah penuh luka, tetapi bibir mereka tak henti-hetinya mengeluarkan lelucon, bahkan polisi yang menanyai mereka pun jadi kewalahan.
“ Priyanka!” seru Wenda ketika ia melihat gadis itu datang. “ Kamu baik-baik saja?”
Priyanka hanya mengangguk. Seketika polisi itu pun menanyai Priyanka yang merupakan saksi kunci kejadian tadi.
“ Anda yang bernama saudari Priyanka Sasmitha? Bisa Anda ikut kami ke kantor untuk menjelaskan kronologis pengeroyokan tadi?”
“ Jangan sekarang, Pak,” sahut Kemal sebelum Priyanka menjawab. “ Teman kami ini masih syok, dia bahkan baru sadar. Bagaimana kalau interograsinya besok saja?”
“ Benar, Pak Polisi. Mereka juga masih di bawah umur. Akan lebih baik jika mereka diperiksa dengan didampingi orang tua,” timpal Aris. “ Supaya Bapak-Bapak sekalian percaya, saya bisa menjadi penanggung jawab mereka untuk sekarang.”
Kedua polisi itu berdiskusi, kemudian mereka mengangguk.
“ Baiklah, kalau begitu kedua gadis ini harus melapor besok siang. Sekarang kami akan pamit, selamat malam.”
“ Aah, tunggu, Pak Polisi,” cegah Fi sebelum kedua polisi itu berbalik. “ Bisakah, kasus ini tidak disebarluaskan ke publik? Maksud saya, masalah ini akan menjadi lebih besar bila publik tahu.”
“ Lebih besar bagaimana?” sahut salah seorang polisi itu.
“ Begini, kami berlima ini adalah anggota teater yang akan melakukan pementasan di bawah asuhan Latifa Kusuma Ningsih. Pementasan ini harus bersih dari skandal karena pementasan ini bisa saja gagal dan menjadi aib di mata semua orang. Nama Latifa Kusuma Ningsih sudah sangat akrab di telinga masyarakat,” Fi kemudian berdeham. “Selain itu, errr, mungkin aku sedikit pamer, tapi saya juga adalah publik figur. Belum lagi kejadian ini melibatkan klub motor tempat Erick dan teman-temannya bernaung.  Kalau skandal ini akan menjadi sorotan media selama berbulan-bulan, dan nama baik kami semua akan tercoreng.”
Kedua polisi itu kembali berdiskusi, kemudian kembali mengangguk.
“ Kami mengerti. Kalian tenang saja, tidak ada media dan masalah ini akan berjalan dengan tertutup. Nah, ada lagi yang mau kalian sampaikan?”
Fi tesenyum, “ Tidak ada, Pak. Terima kasih.”
Sepeninggal polisi itu barulah mereka semua merasa sedikit tenang. Cukup lama Aris memerhatikan Fi, kemudian ia tertawa.
“ Aaah, kamu ini artis ya. Pantas saja aku seperti tidak asing melihatmu,” ujar Aris. “ Tapi keputusan yang bagus. Kamu juga menyelamatkan nama baik klub motor kami. Aku mewakili teman-teman klub motorku mengucapkan terima kasih untuk itu.”
Fi tersenyum jumawa. Ia sudah biasa menghadapi situasi seperti ini. Makanya ia buru-buru meminta kepada polisi itu agar beritanya tidak tersebar luas. Ia tahu persis bagaimana repotnya menghadapi paparazzi yang tak kenal lelah.
“ Ma—maaf ya, teman-teman karena aku kalian―”
“ Tidak usah pikirkan kami,” potong Kemal. “ Menolong gadis cantik itu sudah kewajiban kami. Benar’kan, Ben?”
“ Yaaa, benar,” sahut Ben dengan nada sakartis. “ Tapi coba lihat wajahmu dulu. Dengan wajah bonyok seperti itu, apa mungkin masih ada gadis yang mau denganmu?”
Kemal langsung meraba wajahnya, “ Ah ya, benar. Aduuuh, bagaimana ini? Ahaa, tenang saja. Aku akn bilang pada mereka kalau aku dikeroyok demi menyelamatkan temanku dan mereka pasti akan menganggapku sebagai pahlawan. Nah, apa narasiku bagus?”
Wenda berdecak kesal, “ Ya, bagus sekali. Enak sekali kalian bilang seperti itu pada orang lain. Apa kalian tidak memikirkan perasaan kami tadi? Begitu tegangnya sampai kupikir kalian akan mati. Heran juga, aku tidak pernah melihat kalian berantem sebelumnya? Kalian belajar beladiri dimana?”
“ Sebenanrnya aku dan Kemal justru berteman ketika kami satu perguruan pencak silat. Sudah lama sekali, kalau tidak salah waktu SD,” Ben tersenyum mengingat kenangannya. “ Tapi kami tidak pernah memraktekkannya kalau di luar sampai hari ini.”
“ Ben benar. Seorang pahlawan tidak perlu pamer, tapi selalu ada ketika dia dibutuhkan.”
Ben mengamini kata-kata Kemal, lalu mereka bertukar high five.
“ Seharusnya aku menjuluki kalian Spongebob dan Patrick,” dumal Fi.
“ Oh ya, kurasa kita juga harus merahasiakan ini dari Miss Tifa dan yang lainnya. Akan repot kalau mereka sampai tahu, apalagi Miss Tifa,” ujar Wenda. “ Apalagi kita tahu bagaimana Miss Tifa kalau sudah beraksi’kan?”
Mereka semua mengangguk sepakat. Tak berapa lama kemudian, orang tua mereka berdatangan. Fi, Priyanka, dan Wenda dijemput pulang, sementara Ben dan Kemal harus menginap di rumah sakit.
Perseteruan itu pun berakhir dengan sejuta rahasia yang disimpan. Masih ada hal lain yang melatarbelakangi kejadian itu. Namun, semua tak akan selesai pada hari ini. Saat sang raja siang terbangun, maka di saat itulah semua rahasia yang pahit akan terbongkar.

Author's Note:
Gimana, udah mirip adegan "Anak Jalanan" belum??
Tampaknya Auhtor kebanyakan nonton sinetron belakangan ini :DD

Please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar