Musikal 61
Tifa membanting stirnya agar segera sampai ke rumah
sakit. Saat ia bangun tidur, ia langsung mendapat kabar kalau kedua anak
didiknya masuk rumah sakit. Tanpa pikir panjang ia langsung menerjang jalan
raya. Sampai-sampai ia lupa kalau di dalam mobilnya ada sang keponakan. Karuan
saja Adrian mengomel sepanjang koridor rumah sakit.
“ Tante gak mikir
apa? Kita ini mau jenguk orang sakit, bukan malah mau masuk rumah sakit!”
“ Berisik deh,” Tifa
menjawab malas, kemudian ia mendorong pintu kamar tempat Ben dan Kemal dirawat.
Terlihat hampir semua anggota LM sudah berkumpul di sana, bahkan Riani dan
Gloria sudah lebih dulu di sana. “Wah, wah, kalian kompak juga ya. Ini baru
namanya persaudaraan.”
Adrian menyikut perut
tantenya, “ Maaf ya, kami datang gak bawa apa-apa. Gara-gara seseorang menyetir
kayak orang kesurupan.”
Beberapa orang yang
pernah naik mobil bersama Tifa, sangat tahu bagaimana rasanya. Mereka hanya
menyimpan tawanya dalam hati.
“ Jadi, sebenarnya
apa yang terjadi?” tanya Tifa setelah ia mendudukkan pantatnya di kursi.
Ben dan Kemal
bertukar pandang. Sedari tadi mereka hanya menceritakan berita bohong, tapi
kalau bercerita dengan Tifa, kebohongan itu pasti terbongkar. Hanya sebuah
dugaan, tetapi biasanya Tifa selalu bisa membaca pikiran orang seperti paranormal.
“ Kami kena begal,”
sahut Wenda. Ia seperti tanpa ragu saat menjawab. “ Maksud saya, Priyanka dan
Fi yang kena begal. Kami bertiga gak sengaja berpapasan dengan mereka dan
terjadilah perkelahian itu.”
“ Astaga, Fi kena
begal?” seru Adrian. “ Kenapa dia gak cerita?”
Wenda menelan
ludahnya dengan susah payah, “ I—iya, Fi bilang cuma gak mau dipublikasikan.
Soalnya kalau sampai heboh, bisa-bisa nanti dia diburu wartawan lagi.”
“ Lalu dimana dia
sekarang?” cerocos Adrian. “ Gimana keadaannya?”
“ Dia dan Priyanka
sekarang ke kantor polisi. Mereka harus memberikan kesaksian kejadian kemarin,”
ujar Ben.
“ Yang terluka di
sini cuma aku dan Ben,” sahut Kemal. “ Tidak perlu mencemaskan yang lain.”
Tanpa mengindahkan
kata-kata Kemal, Adrian langsung keluar dari kamar. Tampaknya ia sibuk
menelepon Fi. Spontanitas Adrian membuat orang-orang yang ada di sana bingung,
terutama Ririn. Namun, sepertinya Tifa tidak terlalu tertarik dengan tingkah
keponakannya. Pikirannya masih tertuju pada dua orang muridnya yang terluka.
“ Lain kali kalian
jangan nekat lagi seperti ini,” Tifa mendesah panjang. “ Bukannya aku mencemooh
tindakan heroik atas nama persaudaraan yang kalian lakukan, tetapi tolong
pikirkan apa yang terjadi selanjutnya. Untung saat ini kalian baik-baik saja,
meski terluka kalian tidak sampai patah-mematah. Coba bayangkan kalau
seandainya kalian benar-benar habis saat itu atau kalian yang para gadis ikut
menjadi korban? Mungkin saat ini kalian tidak bisa berbaring santai sambil
bercanda seperti ini.”
Ruangan itu seketika
hening. Kata-kata Tifa benar-benar mengena di hati Ben, Kemal, dan Wenda. Kalau
mengingat kejadian kemarin, mereka akan sadar betapa nekatnya mereka kemarin.
Mereka sendiri tidak bisa membayangkan apabila yang dikatakan Tifa justru terjadi
kemarin.
“ Yang lebih penting,
kalian juga harus ingat kalau kalian ini akan melakukan pementasan. Di dunia
panggung, penampilan adalah nomor satu. Kalau wajah kalian babak belur begini,
riasan setebal apapun akan percuma. Kalian mengerti?”
Mereka bertiga saling
bertukar pandang, lalu mengangguk patuh.
“ Mengerti, Miiiss…”
Tak berapa lama
kemudian, Fi dan Priyanka masuk, disusul Adrian di belakang. Entah kenapa wajah
Priyanka diliputi awan mendung setelah kembali dari kantor polisi.
“ Oh, kalian berdua,”
ujar Tifa sambil memutar posisi duduknya. “ Bagaimana keadaan kalian berdua?
Kalian tidak terluka’kan setelah kena begal kemarin?”
“ Kami baik―”
“ Kami berdua tidak
kena begal, Miss,” Priyanka memotong
kalimat Fi dengan suara serak. “ Tapi ini semua karena kesalahanku.”
Fi menoleh cepat,
sementara ketiga orang lainnya yang terlibat langsung melotot padanya. Ucapan
Priyanka barusan langsung mengundang tanda tanya dari semua orang.
“ Ka, bukannya kita―”
“ Ma—maaf, Fi, dan
kalian bertiga juga,” suara Priyanka terdengar lebih serak dari sebelumnya. “
A—aku gak tahan lagi. Banyak orang yang sudah terluka karena aku. Kalau aku
sampai menyembunyikan rahasia ini, rasanya aku akan terus dikejar dosa.”
“ Kalau begitu
katakan,” ujar Tifa. Ia bangkit dari kursinya lalu menatap Priyanka seraya
melipat kedua tangannya. “ Jangan buat semua orang di sini penasaran.”
Priyanka mengangguk
pelan, “ Sebenarnya kami kemarin tidak kena begal, tapi mereka berdua kena
keroyok oleh teman-teman pacar saya. Miss
dan semuanya pasti tahu siapa orangnya kan?”
Tifa kembali mendesah
panjang. Di sisi lain, ingin sekali Wenda menyumpal mulut temannya ini. Sudah
susah payah mereka mengarang cerita itu semalaman, tapi orang ini malah akan
membongkarnya.
“ Saya tidak tahu apa
alasan mereka mengikuti kemana saya pergi kemarin, tapi yang jelas saat itu
mereka memang menolong saya. Mereka melindungi saya dari hal-hal buruk yang
akan dilakukan oleh pacar saya itu. Mereka melindungi saya meski mereka tahu
mereka akan dihabisi dikeroyok.”
Tifa mencengkram kuat
bahu Priyanka. Tak peduli meski gadis itu meringis kesakitan, ia justru
bertambah geram.
“ Dengar, Priyanka!
Bukankah waktu itu sudah saya katakan, jauhi pria itu! Orang seperti dia akan
membuat masalah saja. Lihat sekarang apa terjadi pada teman-temanmu!”
“ Ta—tapi saya punya
alasannya, Miss…” tangis Priyanka
mulai pecah.
Adrian langsung
melepaskan cengkraman tangan Tifa, “ Tante, sabar dulu. Kita dengarkan
alasannya.”
Tifa kembali melipat
tangannya. Tiba-tiba dengan gerakan yang gemetaran, telunjuk Priyanka mengarah
pada seseorang yang berdiri di belakang Tifa. Priyanka menunjuk tepat ke arah
Wenda.
“ Ini semua gara-gara
kamu…”
Bagai tersengat
lebah, Wenda begitu kaget saat Priyanka menuduhnya demikian. Ia langsung
menyangkal semua tatapan penuh tanya yang mengarah padanya.
“ Apa maksudmu,
Priyanka? Demi Tuhan, aku bahkan tidak pernah lagi bertemu dengan Erick sampai
di pantai kemarin! Atas dasar apa kamu―”
“ Semua ini adalah
perjanjianku dengan Erick!” seru Priyanka dengan tangis yang semakin menguat. Bibirnya bergetar saat
kembali menjelaskan, “ Du—dua tahun lalu… apa kamu ingat, Wen, apa alasanmu
tidak bisa mewakili sekolah kita ke kontes balet waktu itu? I—itu semua ulah
Erick dan….”
Priyanka menghela
napas. Ia berusaha menenangkan dirinya. Sementara Wenda semakin tak sabar
dengan penjelasan Priyanka yang terlalu bertele-tele.
“ Dan apa?”
Air mata Priyanka
kembali membanjiri wajahnya. Kepala Priyanka tertunduk dalam.
“ Dan atas
permintaaku.”
Spontan Wenda menutup
mulutnya. Seketika sekujur tubuhnya bergetar kala ia kembali mengingat kejadian
itu. Ia tak akan bisa melupakan kejadian itu. Seperti tak memedulikan perubahan
perilaku Wenda, Priyanka tetap melanjutkan ceritanya.
“ Waktu itu aku sudah
tahu siapa yang akan terpilih untuk mewakili sekolah di kontes balet. Meski
begitu, entah kenapa kita berdua selalu ditandingkan terus-menerus dan
disitulah aku mulai berharap, kalau saja ada kemungkinan aku bisa lolos.
Sayangnya, tidak ada tanda-tanda positif soal itu.
“ Di saat itulah,
Erick menawarkan bantuan. Dia bilang bisa membantuku, asalkan aku mau jadi
pacarnya. Awalnya aku tidak mau, tapi karena audisi terakhir semakin dekat,
akhirnya aku nekat meminta bantuannya. A—aku sudah bilang, jangan sampai
menyakitimu, ta—tapi…”
Priyanka mengusap air
matanya. Kepalanya tertunduk semakin dalam.
“ A—aku tidak tahu
kalau dia akan menggunakan cara kotor. Di—dia sengaja menjebakmu supaya kamu
jatuh dari tangga dan akhirnya kakimu patah. Saat itu aku tak bisa membatalkan
perjanjianku, selain itu Erick juga mengancamku kalau aku sampai membatalkan
perjanjian itu maka dia akan buka mulut, dan sa—saat itu a—aku lebih me—memilih
kontes ketimbang kamu, Wen.”
Priyanka mendesah
panjang, “ Ma—maafkan aku, Wen.”
Apa yang baru saja
diceritakan Priyanka sangat mengejutkan. Semua itu lebih mirip sinetron
abal-abal ketimbang pengakuan. Tak ada yang sanggup mengeluarkan sepatah kata,
sampai Kemal bangkit dari tempat tidurnya dan siap menerjang Priyanka.
Untunglah anggota LM yang lain sigap menghalanginya.
“ KAMU… KAMU PIKIR
KALAU BUKAN KARENA WENDA UNTUK APA KAMI SAMPAI BEGINI?”
“ Ma—maafkan aku…”
Priyanka menangis kuat sampai-sampai kakinya tak sanggup menopang tubuhnya dan
gadis itu pun terjatuh.
Di luar dugaan, Wenda
justru berlari menyongsong Priyanka. Tangan Wenda sempat mendarat di kerah baju
Priyanka, tapi Tifa yang ada di dekat gadis itu langsung memisahkannya.
“ BANGUN KAMU! KAMU
PIKIR DENGAN BERLUTUT SEPERTI ITU AKU BAKAL MAAFIN KAMU?”
Wenda berteriak
histeris. Semua kekesalan yang ia pendam dari dulu akhirnya tumpah saat itu
juga.
“ Kamu sudah hampir
membunuh dua kali. Dua kali, Priyanka, dua kali! Dan kemarin kamu hampir saja
menghilangkan nyawa teman-temanku. Kamu itu pembunuh! Harusnya aku biarkan saja
kamu dihabisi oleh Erick kemarin! Kamu pantas mendapat itu semua!”
Wenda masih histeris,
“ SEKARANG PERGI DARI SINI! AKU GAK BUTUH MAAF DARI KAMU! CEPAT PERGI SEBELUM
MUKA KAMU KUROBEK!”
Tifa memberik kode
pada Adrian untuk segera membawa Priyanka keluar. Dibantu Fi, Priyanka pun
beringsut meninggalkan kamar yang penuh histeria itu. Begitu Priyanka
benar-benar lenyap, Tifa pun berusaha menenangkan Wenda.
“ Wenda, ingat ini
rumah sakit! Tenangkan dirimu!”
Amarah Wenda masih
tercekat di ujung tenggorokannya. Namun, kata-kata Tifa berhasil menguasai
pikirannya. Perlahan ia berlangsung tenang. Kali ini kakinya yang terasa lemas,
hampir saja jatuh pingsan di sana.
Ririn berinisiatif
mendorong kursi dan mendudukkan Wenda di sana. Sementara Riani memberikan
segelas air untuknya. Namun, tangan Wenda terlalu gemetar sampai-sampai air
yang ada di dalam gelas itu tumpah separuh dan membasahi baju Tifa.
Tifa mengambil alih
gelas itu, kemudian memeluk Wenda. Ia merasakan tubuh Wenda gemetar menahan
tangis.
“ Sudah luapkan saja
semuanya,” Tifa membelai kepala Wenda dengan lembut. “Ini saat yang tepat untuk
kamu meluapkan semua dendammu.”
Tifa mendesah pendek,
“ Untuk yang lainnya, waktu berkunjung sudah habis. Semuanya langsung pulang ke
rumah, termasuk kalian juga, Glo, Ri,” ujar Tifa yang masih dalam posisi
memeluk Wenda. “ Dan aku minta pada kalian semua, begitu kalian keluar cerita
yang ada di dalam ruangan ini tidak ikut keluar. Paham?”
Para anggota LM hanya
bisa mengangguk dan satu persatu meninggalkan ruangan. Riani adalah orang
terakhir yang meninggalkan kamar itu. Ia sempat menatap orang-orang yang
tersisa secara bergantian. Ada pilu mendalam yang menggores hatinya. Perlahan
ia menutup pintu itu.
Air mata Wenda pun
mengalir jatuh. Perlahan, kemudian terus menderas, hingga ia tak tahu bagaimana
caranya menghentikan tangisnya.
Ben dan Kemal hanya
bisa membisu. Andai saja tangan mereka tidak terikat dengan infus, mungkin
mereka sudah bersedia menggantikan posisi Tifa. Namun, mereka sekarang hanya
bisa menatap sahabat baiknya ini menumpahkan semua masa lalunya.
Tifa merasakan
bahunya basah. Ia tetap bergeming dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.
Mungkin dengan begitu gadis ini akan merasa lebih baik.
Satu adegan klimaks
mulai memasuki penurunan konflik.
Please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar