Total Tayangan Halaman

Sabtu, 30 Juli 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 61)




Musikal 61


Tifa membanting stirnya agar segera sampai ke rumah sakit. Saat ia bangun tidur, ia langsung mendapat kabar kalau kedua anak didiknya masuk rumah sakit. Tanpa pikir panjang ia langsung menerjang jalan raya. Sampai-sampai ia lupa kalau di dalam mobilnya ada sang keponakan. Karuan saja Adrian mengomel sepanjang koridor rumah sakit.
“ Tante gak mikir apa? Kita ini mau jenguk orang sakit, bukan malah mau masuk rumah sakit!”
“ Berisik deh,” Tifa menjawab malas, kemudian ia mendorong pintu kamar tempat Ben dan Kemal dirawat. Terlihat hampir semua anggota LM sudah berkumpul di sana, bahkan Riani dan Gloria sudah lebih dulu di sana. “Wah, wah, kalian kompak juga ya. Ini baru namanya persaudaraan.”
Adrian menyikut perut tantenya, “ Maaf ya, kami datang gak bawa apa-apa. Gara-gara seseorang menyetir kayak orang kesurupan.”
Beberapa orang yang pernah naik mobil bersama Tifa, sangat tahu bagaimana rasanya. Mereka hanya menyimpan tawanya dalam hati.
“ Jadi, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Tifa setelah ia mendudukkan pantatnya di kursi.
Ben dan Kemal bertukar pandang. Sedari tadi mereka hanya menceritakan berita bohong, tapi kalau bercerita dengan Tifa, kebohongan itu pasti terbongkar. Hanya sebuah dugaan, tetapi biasanya Tifa selalu bisa membaca pikiran orang seperti paranormal.
“ Kami kena begal,” sahut Wenda. Ia seperti tanpa ragu saat menjawab. “ Maksud saya, Priyanka dan Fi yang kena begal. Kami bertiga gak sengaja berpapasan dengan mereka dan terjadilah perkelahian itu.”
“ Astaga, Fi kena begal?” seru Adrian. “ Kenapa dia gak cerita?”
Wenda menelan ludahnya dengan susah payah, “ I—iya, Fi bilang cuma gak mau dipublikasikan. Soalnya kalau sampai heboh, bisa-bisa nanti dia diburu wartawan lagi.”
“ Lalu dimana dia sekarang?” cerocos Adrian. “ Gimana keadaannya?”
“ Dia dan Priyanka sekarang ke kantor polisi. Mereka harus memberikan kesaksian kejadian kemarin,” ujar Ben.
“ Yang terluka di sini cuma aku dan Ben,” sahut Kemal. “ Tidak perlu mencemaskan yang lain.”
Tanpa mengindahkan kata-kata Kemal, Adrian langsung keluar dari kamar. Tampaknya ia sibuk menelepon Fi. Spontanitas Adrian membuat orang-orang yang ada di sana bingung, terutama Ririn. Namun, sepertinya Tifa tidak terlalu tertarik dengan tingkah keponakannya. Pikirannya masih tertuju pada dua orang muridnya yang terluka.
“ Lain kali kalian jangan nekat lagi seperti ini,” Tifa mendesah panjang. “ Bukannya aku mencemooh tindakan heroik atas nama persaudaraan yang kalian lakukan, tetapi tolong pikirkan apa yang terjadi selanjutnya. Untung saat ini kalian baik-baik saja, meski terluka kalian tidak sampai patah-mematah. Coba bayangkan kalau seandainya kalian benar-benar habis saat itu atau kalian yang para gadis ikut menjadi korban? Mungkin saat ini kalian tidak bisa berbaring santai sambil bercanda seperti ini.”
Ruangan itu seketika hening. Kata-kata Tifa benar-benar mengena di hati Ben, Kemal, dan Wenda. Kalau mengingat kejadian kemarin, mereka akan sadar betapa nekatnya mereka kemarin. Mereka sendiri tidak bisa membayangkan apabila yang dikatakan Tifa justru terjadi kemarin.
“ Yang lebih penting, kalian juga harus ingat kalau kalian ini akan melakukan pementasan. Di dunia panggung, penampilan adalah nomor satu. Kalau wajah kalian babak belur begini, riasan setebal apapun akan percuma. Kalian mengerti?”
Mereka bertiga saling bertukar pandang, lalu mengangguk patuh.
“ Mengerti, Miiiss…
Tak berapa lama kemudian, Fi dan Priyanka masuk, disusul Adrian di belakang. Entah kenapa wajah Priyanka diliputi awan mendung setelah kembali dari kantor polisi.
“ Oh, kalian berdua,” ujar Tifa sambil memutar posisi duduknya. “ Bagaimana keadaan kalian berdua? Kalian tidak terluka’kan setelah kena begal kemarin?”
“ Kami baik―”
“ Kami berdua tidak kena begal, Miss,” Priyanka memotong kalimat Fi dengan suara serak. “ Tapi ini semua karena kesalahanku.”
Fi menoleh cepat, sementara ketiga orang lainnya yang terlibat langsung melotot padanya. Ucapan Priyanka barusan langsung mengundang tanda tanya dari semua orang.
“ Ka, bukannya kita―”
“ Ma—maaf, Fi, dan kalian bertiga juga,” suara Priyanka terdengar lebih serak dari sebelumnya. “ A—aku gak tahan lagi. Banyak orang yang sudah terluka karena aku. Kalau aku sampai menyembunyikan rahasia ini, rasanya aku akan terus dikejar dosa.”
“ Kalau begitu katakan,” ujar Tifa. Ia bangkit dari kursinya lalu menatap Priyanka seraya melipat kedua tangannya. “ Jangan buat semua orang di sini penasaran.”
Priyanka mengangguk pelan, “ Sebenarnya kami kemarin tidak kena begal, tapi mereka berdua kena keroyok oleh teman-teman pacar saya. Miss dan semuanya pasti tahu siapa orangnya kan?”
Tifa kembali mendesah panjang. Di sisi lain, ingin sekali Wenda menyumpal mulut temannya ini. Sudah susah payah mereka mengarang cerita itu semalaman, tapi orang ini malah akan membongkarnya.
“ Saya tidak tahu apa alasan mereka mengikuti kemana saya pergi kemarin, tapi yang jelas saat itu mereka memang menolong saya. Mereka melindungi saya dari hal-hal buruk yang akan dilakukan oleh pacar saya itu. Mereka melindungi saya meski mereka tahu mereka akan dihabisi dikeroyok.”
Tifa mencengkram kuat bahu Priyanka. Tak peduli meski gadis itu meringis kesakitan, ia justru bertambah geram.
“ Dengar, Priyanka! Bukankah waktu itu sudah saya katakan, jauhi pria itu! Orang seperti dia akan membuat masalah saja. Lihat sekarang apa terjadi pada teman-temanmu!”
“ Ta—tapi saya punya alasannya, Miss…” tangis Priyanka mulai pecah.
Adrian langsung melepaskan cengkraman tangan Tifa, “ Tante, sabar dulu. Kita dengarkan alasannya.”
Tifa kembali melipat tangannya. Tiba-tiba dengan gerakan yang gemetaran, telunjuk Priyanka mengarah pada seseorang yang berdiri di belakang Tifa. Priyanka menunjuk tepat ke arah Wenda.
“ Ini semua gara-gara kamu…”
Bagai tersengat lebah, Wenda begitu kaget saat Priyanka menuduhnya demikian. Ia langsung menyangkal semua tatapan penuh tanya yang mengarah padanya.
“ Apa maksudmu, Priyanka? Demi Tuhan, aku bahkan tidak pernah lagi bertemu dengan Erick sampai di pantai kemarin! Atas dasar apa kamu―”
“ Semua ini adalah perjanjianku dengan Erick!” seru Priyanka dengan tangis yang  semakin menguat. Bibirnya bergetar saat kembali menjelaskan, “ Du—dua tahun lalu… apa kamu ingat, Wen, apa alasanmu tidak bisa mewakili sekolah kita ke kontes balet waktu itu? I—itu semua ulah Erick dan….”
Priyanka menghela napas. Ia berusaha menenangkan dirinya. Sementara Wenda semakin tak sabar dengan penjelasan Priyanka yang terlalu bertele-tele.
“ Dan apa?”
Air mata Priyanka kembali membanjiri wajahnya. Kepala Priyanka tertunduk dalam.
“ Dan atas permintaaku.”
Spontan Wenda menutup mulutnya. Seketika sekujur tubuhnya bergetar kala ia kembali mengingat kejadian itu. Ia tak akan bisa melupakan kejadian itu. Seperti tak memedulikan perubahan perilaku Wenda, Priyanka tetap melanjutkan ceritanya.
“ Waktu itu aku sudah tahu siapa yang akan terpilih untuk mewakili sekolah di kontes balet. Meski begitu, entah kenapa kita berdua selalu ditandingkan terus-menerus dan disitulah aku mulai berharap, kalau saja ada kemungkinan aku bisa lolos. Sayangnya, tidak ada tanda-tanda positif soal itu.
“ Di saat itulah, Erick menawarkan bantuan. Dia bilang bisa membantuku, asalkan aku mau jadi pacarnya. Awalnya aku tidak mau, tapi karena audisi terakhir semakin dekat, akhirnya aku nekat meminta bantuannya. A—aku sudah bilang, jangan sampai menyakitimu, ta—tapi…”
Priyanka mengusap air matanya. Kepalanya tertunduk semakin dalam.
“ A—aku tidak tahu kalau dia akan menggunakan cara kotor. Di—dia sengaja menjebakmu supaya kamu jatuh dari tangga dan akhirnya kakimu patah. Saat itu aku tak bisa membatalkan perjanjianku, selain itu Erick juga mengancamku kalau aku sampai membatalkan perjanjian itu maka dia akan buka mulut, dan sa—saat itu a—aku lebih me—memilih kontes ketimbang kamu, Wen.”
Priyanka mendesah panjang, “ Ma—maafkan aku, Wen.”
Apa yang baru saja diceritakan Priyanka sangat mengejutkan. Semua itu lebih mirip sinetron abal-abal ketimbang pengakuan. Tak ada yang sanggup mengeluarkan sepatah kata, sampai Kemal bangkit dari tempat tidurnya dan siap menerjang Priyanka. Untunglah anggota LM yang lain sigap menghalanginya.
“ KAMU… KAMU PIKIR KALAU BUKAN KARENA WENDA UNTUK APA KAMI SAMPAI BEGINI?”
“ Ma—maafkan aku…” Priyanka menangis kuat sampai-sampai kakinya tak sanggup menopang tubuhnya dan gadis itu pun terjatuh.
Di luar dugaan, Wenda justru berlari menyongsong Priyanka. Tangan Wenda sempat mendarat di kerah baju Priyanka, tapi Tifa yang ada di dekat gadis itu langsung memisahkannya.
“ BANGUN KAMU! KAMU PIKIR DENGAN BERLUTUT SEPERTI ITU AKU BAKAL MAAFIN KAMU?”
Wenda berteriak histeris. Semua kekesalan yang ia pendam dari dulu akhirnya tumpah saat itu juga.
“ Kamu sudah hampir membunuh dua kali. Dua kali, Priyanka, dua kali! Dan kemarin kamu hampir saja menghilangkan nyawa teman-temanku. Kamu itu pembunuh! Harusnya aku biarkan saja kamu dihabisi oleh Erick kemarin! Kamu pantas mendapat itu semua!”
Wenda masih histeris, “ SEKARANG PERGI DARI SINI! AKU GAK BUTUH MAAF DARI KAMU! CEPAT PERGI SEBELUM MUKA KAMU KUROBEK!”
Tifa memberik kode pada Adrian untuk segera membawa Priyanka keluar. Dibantu Fi, Priyanka pun beringsut meninggalkan kamar yang penuh histeria itu. Begitu Priyanka benar-benar lenyap, Tifa pun berusaha menenangkan Wenda.
“ Wenda, ingat ini rumah sakit! Tenangkan dirimu!”
Amarah Wenda masih tercekat di ujung tenggorokannya. Namun, kata-kata Tifa berhasil menguasai pikirannya. Perlahan ia berlangsung tenang. Kali ini kakinya yang terasa lemas, hampir saja jatuh pingsan di sana.
Ririn berinisiatif mendorong kursi dan mendudukkan Wenda di sana. Sementara Riani memberikan segelas air untuknya. Namun, tangan Wenda terlalu gemetar sampai-sampai air yang ada di dalam gelas itu tumpah separuh dan membasahi baju Tifa.
Tifa mengambil alih gelas itu, kemudian memeluk Wenda. Ia merasakan tubuh Wenda gemetar menahan tangis.
“ Sudah luapkan saja semuanya,” Tifa membelai kepala Wenda dengan lembut. “Ini saat yang tepat untuk kamu meluapkan semua dendammu.”
Tifa mendesah pendek, “ Untuk yang lainnya, waktu berkunjung sudah habis. Semuanya langsung pulang ke rumah, termasuk kalian juga, Glo, Ri,” ujar Tifa yang masih dalam posisi memeluk Wenda. “ Dan aku minta pada kalian semua, begitu kalian keluar cerita yang ada di dalam ruangan ini tidak ikut keluar. Paham?”
Para anggota LM hanya bisa mengangguk dan satu persatu meninggalkan ruangan. Riani adalah orang terakhir yang meninggalkan kamar itu. Ia sempat menatap orang-orang yang tersisa secara bergantian. Ada pilu mendalam yang menggores hatinya. Perlahan ia menutup pintu itu.
Air mata Wenda pun mengalir jatuh. Perlahan, kemudian terus menderas, hingga ia tak tahu bagaimana caranya menghentikan tangisnya.
Ben dan Kemal hanya bisa membisu. Andai saja tangan mereka tidak terikat dengan infus, mungkin mereka sudah bersedia menggantikan posisi Tifa. Namun, mereka sekarang hanya bisa menatap sahabat baiknya ini menumpahkan semua masa lalunya.
Tifa merasakan bahunya basah. Ia tetap bergeming dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Mungkin dengan begitu gadis ini akan merasa lebih baik.
Satu adegan klimaks mulai memasuki penurunan konflik.

 Please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar