Musikal 51
Mereka tiba di tempat tujuan ketika hari sudah sore. Rasa
penat dan pegal-pegal di tubuh terbayar dengan pemandangan di sekitar vila
tempat mereka menginap. Selain itu, vila yang akan mereka tempati terlihat
sangat mewah. Menurut informasi, vila mereka memang di atas gunung, tapi untuk
sampai ke laut tidak memerlukan waktu yang lama. Sungguh tempat yang sempurna
untuk liburan.
“ It is sweet,”
komentar Wenda seraya menghirup udara sejuk di sekitarnya. “Mungkin ini akan
menjadi tempat latihan yang paling menyenangkan.”
Ucapan Wenda disambut anggukan Ben dan Kemal.
“ Waah, jangan senang dulu. Kebaikan Tanteku gak bakal
lebih dari ini.”
Ketiga sahabat ini menoleh. Adrian yang mendapat
tatapan aneh dari ketiga orang ini hanya bisa terkekeh.
“ Kalian tahu, tempat indah yang seperti surga dunia
ini seketika akan berubah menjadi neraka sesaat ketika Tanteku sudah bilang
la-ti-han. Huuuf… aku tak mau membayangkannya.”
Adrian berkata dengan nada bercanda, tapi bagi yang
bisa menafsirkannya kata-kata Adrian barusan sama mengerikannya dengan suara
sirena tanda bahaya tsunami. Baik Ben, Kemal, maupun Wenda, mereka sama-sama
bergidik.
Dua orang pengurus vila sudah menunggu mereka di depan
pintu. Mereka disambut hangat oleh sepasang suami istri yang sudah lama bekerja
di tempat itu, bahkan keduanya juga masih ingat dengan Gloria dan Riani.
“ Sudah lama sekali ya, Bu. Ternyata anak-anak SMA
yang dulu suka latihan di sini sekarang sudah mengajar anak-anak SMA juga.”
“ Benar, Pak. Gak sadar kalau kita ini sudah sangat
tua.”
Gloria dan Riani ikut tertawa.
“ Oh iya, Pak. Mana Pak Wisnu?” tanya Riani. “
Biasanya beliau yang selalu menyambut kita.”
Suami istri ini saling bertukar pandang, “ Lho, jadi
adek-adek ini gak tahu kalau Pak Wisnu sudah meninggal setahun yang lalu.”
Giliran Gloria dan Riani yang bertukar pandang
keheranan.
“ Wah, kami gak tahu sama sekali tuh, Pak. Sudah lama
kami putus kontak,” ujar Gloria.
Sang istri mendesah berat, “ Iyaaa, tahun lalu Pak
Wisnu meninggal. Vila ini pun jadi sengketa buat anak-anaknya. Mereka berebut
atas hak milik vila ini. Singkat cerita vila ini jatuh ke tangan anak bungsu
Pak Wisnu.
“ Terdengar kabar kalau anak bungsunya itu akan
menjual vila ini dan akan dirobohkan. Saya sama Bapak cuma bisa pasrah. Setelah
vila ini dijual kami bertemu dengan pemilik baru dan ternyata kami berdua kenal
dia. Kami minta dia supaya tidak merobohkan bangunan ini karena tempat ini
sudah bagaikan tempat kami mengabdi. Ternyata juga dia memang gak berniat
melakukan itu. Dia justru merenovasi dan membuat tempat vila ini lebih bagus daripada
yang dulu.
“ Oh iya, orang itu teman kalian juga.”
“ Teman kami?” tanya Riani. “ Siapa?”
“ Si pemeran pria tertampan yang pernah ada, yaitu
aku.”
Rambut hitam dan mata biru yang tak pernah berubah.
Hanya tinggi badannya yang bertambah dan lengannya yang lebih berotot. Ia menebar
senyuman dengan lengsung yang merupakan
ciri khasnya sejak dulu.
Suami istri itu tersenyum saat ia muncul. Sementara
Gloria dan Riani separuh syok melihat pria ini. Mereka bahkan serempak saat
menyebutkan namanya.
“ Da—Dave?”
“ Om Dave?”
Kini semua mata tertuju pada Ririn.
ooOoo
“ Om Dave?”
Om Dave…?
“ Waah, Ririn juga ikutan juga?” ujar pria yang
bernama Dave itu.
Ririn hanya mengangguk kaku. Ia merasa tak enak saat
semua orang menatapnya penuh tanda tanya.
Gloria tiba-tiba mengangkat tangannya, “ Wow, wow,
wow, aku merasa sedang berada dalam putaran tornado. Semuanya terlalu mudah
untuk disebut sebagai kebetulan. Sekarang aku butuh penjelasan panjang darimu,
Dave.”
“ Kamu akan mendapatkannya, tapi setelah kamu menyuruh
mereka semua beristirahat. Apa kalian tidak kasihan melihat anak-anak itu yang
sudah lelah setelah perjalanan panjang?”
Astaga, Gloria dan Riani sampai lupa dengan keberadaan
anggota LM lainnya. Mereka berdua pun menginstruksikan pembagian kamar. Gloria
dan Riani kini berkutat pada anak-anak didik mereka. Dave pun terlupakan.
“ Glo, Ri, kalau sudah selesai aku tunggu kalian di rooftop.”
Perhatian Gloria dan Riani tersita sesaat. Mereka
merasa akan terjadi pembicaraan panjang di atas sana.
ooOoo
“ Rin, apa boleh aku sekamar denganmu?”
Ririn tak menyangka kalau yang meminta adalah Wenda.
Sebab gadis itu biasanya selalu tergabung dalam lingkaran
Ben-Kemal-Anjani-Wenda.
“ Aku sih tidak masalah, tapi Andani bisa ngambek
kalau tidak sekamar denganku. Memangnya kamu tidak punya teman sekamar?”
Wenda menggaruk-garuk belakang kepalanya, “ Yaaah,
kamu tahulah, Anjani’kan sekarang tidak di sini. Sementara aku tidak bisa
sekamar dengan Ben dan Kemal, dan yang kukenal cukup akrab cuma kamu. Ah ya,
aku dengar satu kamar bisa menampung hingga empat orang dengan extra bed. Nanti aku saja yang pesan extra bed-nya.”
Ririn mengangguk-angguk, “ Kalau begitu tidak ada
masalah. Ya sudah, ayo.”
Keduanya pun segera beristirahat di kamar Ririn yang
ada di lantai dua. Mereka akan dikumpulkan kembali di ruang makan pada pukul
tujuh malam. Masih ada beberapa jam kosong yang bisa dimanfaatkan.
“ Oh iya, Rin. Laki-laki tampan yang bernama Dave itu
apa dia benar Oom-mu?”
Tampan? Ririn terkekeh mendengarnya, “ Ah—eh, iya. Dia itu
adik sepupu Papaku. Hmm, tapi aku gak tahu kalau dia sekarang pemilik tempat
ini.”
“ Apa Oom-mu itu bekerja di bidang properti makanya
membeli tempat ini?”
“ Tidak, dia justru kerja di bidang hiburan,” Ririn
tersenyum saat mengingat pamannya. “ Dia pemilik manajemen artis.”
Wenda berdecak kagum, “ Kereeen… Oom-mu memang keren
sekali. Wajahnya keren, pekerjaannya juga keren.”
“ Yaah, Papaku selalu bercerita dari dulu dia memang
menawan,” Ririn terkekeh.
“ Eh, Rin. Aku harus berapa membayarmu supaya aku bisa
masuk manajemen Oom-mu?”
Ririn terhenyak. Ia menatap Wenda, tapi gadis itu
langsung tertawa. Ririn mendesah lega dan ikut tertawa. Syukurlah, Wenda
benar-benar hanya bercanda.
ooOoo
“ Kejadiaannya tahun lalu, saat aku sedang mengawasi
para trainee-ku di Lampung.
Iseng-iseng aku mencoba datang ke sini. Waktu itu keadaan vila ini sedang
rusuh. Bisa dibilang sedang kisruh perebutan hak waris. Sampai terdengar kabar
terakhir vila ini akan dijual. Aku tidak tahu siapa yang menjualnya hingga aku
bertemu dengan orangnya langsung dan dia memperkenalkan diri sebagai anak
bungsu anak Pak Wisnu. Singkat cerita aku membelinya dan akulah pemilik vila
ini sekarang.”
Dave mulai menceritakan asal-muasal semua hal aneh
hari ini. Ia, Riani, dan Gloria sedang menikmati waktu sebelum makan malam di balkon.
“ Lantas kenapa kamu berminat dengan tempat ini?”
tanya Riani.
“ Well,
kudengar si bungsu akan menjual vila ini ke perusahaan properti,” Dave kembali
bercerita seraya menyalakan rokok. “ Aku juga tidak tahu akan dijadikan apa.
Oleh karena itu, aku bergerak cepat untuk melobinya supaya ia vila ini jatuh ke
tanganku.
“ Kalau ditanya kenapa alasannya, mungkin jawabannya
akan sedikit sentimental. Aku tidak ingin tempat yang penuh kenangan ini akan
dirobohkan atau dijadikan tempat yang baru. Aku ingin tempat ini dipertahankan
seperti dulu. Yah, tahulah, akan selalu ada kemungkinan kita untuk kembali atau
bernostagia di sini. Nah, sekarang lihatkan apa yang kukatakan benar adanya.”
Dave menghisap rokoknya, seketika kepulan asap
bergumul di sekitar. Suasana tiba-tiba saja menjadi hening. Mungkin kata-kata
Dave justru membawa Gloria dan Riani pada kenangan yang dulu.
“ Lalu apakah Tifa tahu kalau kamu pemilik tempat ini
sekarang?” tanya Gloria.
Dave tersenyum senang. Ia kembali menghisap
sigaretnya.
“ Orang itu selalu bilang hidupnya penuh kejutan. Nah,
jadi biarkan semuanya menjadi kejutan.”
‘Astaga, orang
ini’, keluh Gloria. Ia tak menyangka
ternyata setelah lama tak bertemu orang ini jauh lebih gila dari yang
sebelumnya. Apa Dave lupa dengan apa yang terjadi di antara mereka sebelum
kelulusan itu tiba? Lalu apa Dave tidak tahu apa konsenkuensinya bila mereka
semua dikumpulkan dengan cara yang mengejutkan seperti ini? Gila! Memikirnya
saja sudah membuat Gloria gila.
‘ Sebaiknya kita
harus memperingatkan dia. Aku tidak mau cerita menyedihkan itu teringat
kembali.’
Terlambat. Gloria merasa semuanya sudah terlambat.
Cerita itu akan teringat kembali. Mereka sudah terseret pada angin topan yang
disebut “kenangan”.
ooOoo
Tifa dan Andani sampai ketika makan malam baru saja
usai. Andani terlihat lelah, tapi ia merasa jauh lebih beruntung. Ia beruntung
karena saat menuju kemari mereka menggunakan jasa travel dan bukan Tifa yang
menyetir. Kalau saja si sutradara gila itu yang membawa mobil, bisa-bisa hanya
jasadnya yang tiba tapi jiwanya sudah melayang ke angkasa.
Mereka berdua disambut oleh Gloria dan Riani yang
sudah menunggui di depan pintu. Wajah mereka terlihat cemas. Mungkin karena
mencemaskan kedatangan Tifa dan Andani yang terlambat, atau mencemaskan hal
yang lain.
“ Wah, maaf ya. Jalanan Lintas Timur macet total
gara-gara hujan. Jalan licin dan―”
“ Andani kamu langsung masuk ke dalam saja,” Riani
memotong kata-kata Tifa. “Barang-barangmu sudah di kamar. Kamu sekamar dengan
siapa? Apa dia sudah memberi tahumu?”
“ Saya sekamar dengan Ririn, Bu. Katanya dia ada di
kamar 209.”
Riani mengangguk, “ Di dalam ada dua pengurus vila
ini. Pak Sumarna dan Ibu Titin. Kalau kamu lapar atau mau mencari kamar tanya
pada mereka saja.”
Andani mengiyakan, lalu ia langsung masuk. Tifa pun
melakukan hal yang sama, tapi langsung dihadang oleh kedua sahabatnya.
“ Apaan sih? Aku mau masuk kok dihadang-hadang gini?”
“ Tif, ada baiknya kamu pulang aja,” Gloria terlalu
gugup sampai-sampai salah bicara.
“ What? Gila
ya? Palembang-Lampung itu jauh, coy. Seenak jidat aja kamu nyuruh pulang!”
“ Maksud Gloria ini demi kebaikan kamu juga, Tif,”
Riani menambahi.
“ Satu-satunya hal terbaik untukku adalah menghabiskan
waktu di tempat tidur dan mengisi energiku sebelum membantai anak-anak manja
itu. Udah ah, minggir kalian berdua!”
Percuma. Meski sudah menggunakan tenaga dua orang,
Tifa hanya perlu mendorongnya dan ia bisa menerobos pertahanan itu. Gloria
ingin mengejar, tapi langkah Tifa setara dengan seekor macan tutul yang sedang
mengejar mangsa.
“ Tif, di kamarmu―”
“ Aku tahu! Kamarku di dekat dapur!” balas Tifa tanpa
menoleh.
Riani merasa lututnya lemas, “ Glo, bagaimana ini?”
“ Entahlah,” jawab Gloria putus asa. “ Mungkin inilah
saatnya kita serahkan semuanya pada Tuhan.”
ooOoo
Wanita itu membuka pintu kamarnya. Gelap. Tifa mencari saklar lampu. Klik. Lampu 10 watt itu menyala. Menampilkan semua gejala aneh yang sulit diterima akal sehat.
Tifa ingat ia memesan kamar yang mana. Sangat ingat.
Selain itu suami istri pengurus rumah ini bilang kalau sekarang hanya mereka
penyewa vila tersebut. Jadi, ia tidak mungkin nyasar ke kamar pengantin baru.
Yap, kamar pengantin baru. Kamar yang didominasi warna
putih dari dinding, lantai, hingga sprei, tiba-tiba saja menjadi semarak dengan
taburan kelopak mawar merah. Dari ranjang sampai tempat Tifa berpijak sekarang.
Tak sampai di situ, ada sebuket mawar putih yang diletakkan di atas bantal.
Tifa tak habis pikir. Siapa yang iseng mengerjai
sampai sebegininya? Anak-anak? Mungkin saja, tapi ia yakin mereka mau membuat
kejutan romantis abal-abal seperti ini. Lalu siapa? Suami istri pengurus rumah?
Bah, yang benar saja.
“ Kamu suka kejutanku?”
Hampir saja Tifa memukul si pemilik suara yang sudah
mengejutkannya dengan buket mawar yang sedang ia pegang. Namun, saat matanya
menangkap iris biru si pemilik suara, Tifa benar-benar akan memukulkan buket
itu.
“ Wow, wow, wow, mawar itu mahal dan berduri. Kamu mau
buat perkara di sini?”
Tifa menutup matanya seraya menarik napas panjang.
Saat ia membuka matanya ternyata si mata biru ini bukanlah mimpi. Ia
benar-benar telah kembali dalam hidupnya.
“ Aku percaya takdir yang mengatakan bahwa ‘suatu saat
kita akan bertemu kembali’, tapi aku tak habis pikir dengan takdir yang
mempertemukan kita ‘kembali’ ‘di tempat ini’”
Dave tersenyum seraya melipat tangan, “ Tapi aku suka
takdir yang kedua. Tidakkah kamu merindukanku?”
“ Mana Pak Wisnu?”
“ Hm, dia sudah meninggal.”
Tifa kembali mengangkat buket itu tinggi-tinggi, “
Bicara gila sekali lagi, duri-duri mawar ini akan kupastikan menancap di
kepalamu.”
“ Hei, oii, aku serius! Pak Wisnu sudah meninggal dan
aku sekarang yang jadi pemilik tempat ini.”
Tifa bengong. Tidak sadar sampai ia menjatuhkan buket
itu ke lantai, kemudian ia langsung menuju kamar Gloria dan Riani. Kedua orang
itu tampaknya seperti menantikan Tifa.
“ Aku berusaha supaya kamu gak bertemu dengannya,
Tif,” ujar Gloria. “ Tapi aku terlalu panik sehingga aku malah menyuruhmu
pulang.”
“ Jangan salahkan kami, Tif,” sahut Riani. “ Kami juga
baru tahu saat tiba tadi. Kami juga sama terkejutnya dengan dirimu.”
Dave muncul dari balik pintu, lalu bersandar di salah
satu sisinya, “ Kalian kenapa sih? Kok sepertinya tidak senang aku ada di sini.
Rasanya aku tidak ingat pernah berbuat jahat pada kalian dulu.”
Tifa menatap Dave dengan kesal, “ Lantas siapa yang
mempermainkan aku dengan berpura-pura menjadi Pak Wisnu? Lalu siapa yang
mengatakan bahwa dia adalah pemilik tempat ini sekarang? Oh ya, ini memang
bukan perbuatan jahat tapi keusilan yang luar biasa.”
“ Ayolah, Tif. Ini semua bisa dibicarakan baik-baik.
Aku punya alasan khusus mengenai itu, tapi sayang ceritanya sangat panjang.”
“ Terserah!” Tifa mendengus kesal. “ Sekarang aku
sangat lelah. Aku mau tidur pulas. Besok aku harus melatih mereka mati-matian,
dan kamu…” Tifa menunjuk tepat ke arah
hidung Dave, “ Kamu jangan ganggu kami!” Tifa pun berbalik menuju kamarnya.
“ Waah, aku tak janji soal itu, karena keponakanku ada
menjadi anggotamu.”
Tifa tersentak, lalu menoleh, “ Siapa keponakanmu?”
“ Kamu pasti tahu siapa,” Dave terkekeh.
Ya, Tifa tahu siapa. Orang itu kini membuatnya
mengelus dada.
Marinda
Prasetya…
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar