Musikal 58
Tepat di minggu pertama semester kedua, acara latihan
malam pun dilaksanakan. Semua anggota Love Musical sudah mempersiapkan
barang-barang untuk menginap. Mulai dari baju ganti, makanan ringan, sampai
alas tidur sudah disiapkan, sedangkan untuk konsumsi utama sudah ditangani oleh
Tifa.
Suasana latihan malam
ternyata jauh berbeda dengan latihan sore. Atmosfer terasa lebih bersemangat
dan juga emosi lebih meluap, lebih-lebih emosi sang sutradara. Malam ini semua
amarahnya tertuju pada si ikal, Ririn. Entah kenapa gadis itu berulang kali
melakukan kesalahan di atas panggung sehingga membuat sang sutradara ini
mengamuk.
“ CUT, CUT, CUUUUUT!”
Suara Tifa yang sudah
besar ditambah lagi ia berteriak melalui toa, membuat semua anggota LM sontak
menghentikan aktivitasnya. Teriakan Tifa mengejutkan semua orang. Mereka semua
heran apa dan siapa penyebab bangkitnya amarah sang sutradara.
Mata mereka mengikuti
langkah Tifa yang naik ke atas panggung dengan beringas. Dari raut wajahnya
terlihat kekesalan yang memuncak. Ia menghampiri Ririn dengan mata melotot dan
siap menyemburkan kata-kata pedas. Gadis itu sendiri terlihat keringat dingin.
“ Kamu! Kamu bisa
akting, nggak? Kalau punya mata jangan dipake buat baca buku aja, tapi lihat
cara orang berakting! Kamu jangan bikin orang susah dengan kesalahanmu!
Ngerti?”
Kepala Ririn
tertunduk dalam. Tubuhnya gemetar ketakutan. Baru kali ini ia diteriaki tepat
satu jengkal dari wajahnya.
“ Tim akting istirahat
lima menit! Tim lainnya lanjutkan latihan!” Tifa melirik Ririn. “ Dan kamu, buatin saya
kopi!”
Beberapa anggota
sudah kembali pada aktivitasnya
masing-masing, tapi ada juga yang masih memerhatikan Ririn. Gadis itu ke
balik panggung dengan gontai. Kakinya terasa lemas setelah disembur Tifa di
hadapan semua orang.
Ririn menarik napas
dalam-dalam. Kepalanya kosong dan dadanya terasa sesak. Ia kesal pada Tifa yang
sudah memarahinya dengan cara yang kurang manusiawi, bahkan orang tuanya saja
tidak pernah meneriakinya seperti itu. Namun, ia juga tidak bisa menyangkal apa
yang dikatakan Tifa. Ia memang sudah melakukan banyak kesalahan di atas
panggung, wajar bila si sutradara geram padanya.
“ Woow, air panasnya
dituang ke gelas, bukan disiram ke tangan.”
Suara Kemal
menyadarkan Ririn. Gadis itu tak sadar kalau ia sedang melamun. Kemal langsung
merebut termos dari tangan Ririn, sementara gelas berisi kopi yang dipegangnya
diambil oleh Adrian.
“ Kamu baik-baik
aja?”
Ririn menggeleng
pelan, “ Aku gak bisa menjelaskan perasaanku sekarang.”
Ben menyerahkan
segelas air pada Ririn, “ Minum dulu. Kamu pasti syok kena marah abis-abisan
kayak tadi.”
Satu hal yang patut
disyukuri Ririn adalah solidaritas dari teman-teman di tim akting, bahkan Fi
yang biasa merundungnya ikut menengok.
“ Tanteku memang
kayak singa betina kalau sudah berurusan dengan pentas,” ujar Adrian. “ Jangan
diambil hati ya.”
“ Tapia pa yang
dikatakan Miss Tifa itu benar dan kamu gak seharusnya syok
berat kayak gini,” timpal Fi. Ia bersandar di meja seraya melipat tangan. “
Dalam dunia pementasan, kena marah kayak gini sudah jadi makanan sehari-hari.
Dunia panggung itu keras, Rin. Aku, Adrian, terutama Miss Tifa sudah tahu betul bagaimana sulitnya berada di pementasan.
Kenapa? Karena kalau kamu jelek di atas panggung, maka semua semua anggota yang
terlibat akan menerima imbasnya. Semua kerja keras kita akan tidak akan
dianggap hanya karena kesalahan yang kamu buat. Penonton gak mau tahu dengan
usaha kita, yang mereka tahu adalah hasil di atas panggung.
“ Miss Tifa memarahimu seperti tadi bukan
hanya karena kamu melakukan kesalahan, tapi dia juga sedang melatih mentalmu.
Kamu harus bersyukur karena cuma sutradara yang memarahimu. Coba kamu bayangkan
kalau kritik pedas itu terlontar dari masyarakat luas? Mulut mereka lebih pedas
daripada Miss Tifa. Belum lagi
kritikan itu akan melekat di diri kamu. Kalau sudah begitu, semuanya balik lagi
kena imbasnya. Gak cuma kamu, tapi semua kerja keras kita dicap buruk oleh
masyarakat.”
Adrian tersenyum, “
Aku setuju dengan Fi. Kami berdua sudah merasakan apa yang kamu rasakan
sekarang. It’s just beginning, Rin.”
Padahal biasanya
Ririn selalu dongkol mendengar kata-kata Fi, tapi kali ini Fi justru berhasil
menenangkan hatinya. Gadis itu benar, ia tak harusnya terpuruk seperti ini,
seharusnya ia memerbaiki kesalahannya dan membuktikan pada Tifa bahwa dirinya
bisa menjadi aktris yang baik. Ririn kembali menarik napas panjang, kemudian ia
mengangguk sambil tersenyum.
“ Oke, aku ngerti
sekarang. Makasih ya semuanya, kamu juga, Fi.”
Fi hanya membalasnya
dengan senyuman sinis.
“ So, you feel better now?” senyum Adrian
melebar saat Ririn mengangguk semanagat. Ia mengacak-acak rambut gadis itu, “
Semangat ya.”
“ Tapi… aku masih
agak takut,” Ririn meringis.
“ Udah gak usah
takut. Miss Tifa minum kopi, bukan
minum otak manusia,” ujar Ben seraya menyerahkan secangkir kopi. “ Nih, kasihin
sama dia. Siapa tahu Miss Tifa
klepek-klepek sama kopi buatan kamu.”
“ Tapi yang buat
kopi’kan kamu, Ben,” timpal Kemal. Suasana pun terasa lebih cair sekarang.
Kemal dan Ben
mengajak Ririn untuk kembali ke depan. Mereka berdua bersedia menemani gadis
itu memberikan kopi pada si singa betina. Tinggallah Adrian dan Fi di balik
panggung.
“ Waah, gadisku ini
hebat sekali,” Adrian menopangkan tangannya di atas meja. Senyumnya tak lepas
saat menatap Fi. “ Sudah cantik jadi motivator pula.”
“ Oh ya, sekarang
lihat siapa yang gombal?” sahut Fi dengan nada sinis yang dibuat-buat.
Tawa Adrian pecah.
Dengan gemas ia memberikan cubitan kecil di pipi Fi.
“ Udah yuk, kita
balik ke depan. Nanti Tanteku malah tambah marah.”
ooOoo
Mata Alexi tak lepas mengawasi Ririn setelah gadis itu
menyerahkan kopi pada Tifa. Gadis itu menuju bangku penonton dengan wajah yang
masih lesu. Alexi ingin menyapa dan memberinya semangat. Baru saja ia
melepaskan jari-jarinya dari tuts keyboard,
ia segera dicegah oleh Hiro.
“ Mau kemana? Habis
ini kita latihan gabungan.”
Kata-kata Hiro
ditegaskan kembali oleh teriakan Tifa dari toanya.
“ Tim akting dan tim
musik latihan gabungan! Kita latihan adegan pesta dansa. Hiro, Jiro, dan Alexi
naik ke atas panggung! Semua tim akting juga, kecuali Ririn!”
Alexi bisa melihat
Ririn yang baru saja berdiri kembali mendudukkan pantatnya. Si kacamata itu tak
bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menuruti perintah Tifa untuk segera naik ke
atas panggung.
Fi meminta izin untuk
bersiap. Lima menit kemudian ia sudah kembali dengan rok tutu selutut dan
wajahnyanya dihiasi topeng. Sementara itu ruangan mulai digelapkan, hanya
beberapa lampu di atas panggung yang masih menyala. Semua anggota yang lain
diistirahatkan dan menonton adegan dari beberapa temannya yang tampil.
“ Aktor, aktris,
pemusik siap? One, two, three, and action!”
Atmosfer panggung
langsung berubah menjadi suasana abad pertengahan. Panggung yang tadinya
terlihat biasa saja sekarang berubah layaknya ballroom yang megah. Terlihat beberapa anggota dari tim tari
seolah-olah sedang menikmati pesta. Sementara Kemal yang sekarang menjadi Harris
Suhorff sedang menggandeng Priyanka dan Wenda. Ia benar-benar menghayati
perannya sebagai playboy, entah di
atas panggung atau pun di luar panggung.
“ Kau tampak
menikmati pesta, Harris,” tegur Adrian yang sekarang menjadi Antony.
“ Astaga, Antony.
Lusa adalah hari pernikahanmu, seharusnya kaulah yang lebih menikmati pesta
ini.”
“ Di sini pesta
topeng, Harris. Aku tidak tahu mana gadis cantik yang harus aku ajak berdansa.”
Harris alias Kemal
tertawa, “ Omong kosong, kau jangan menghindar. Semua wanita yang hadir di sini
adalah wanita-wanita pilihanku. Jadi, aku bisa jamin kecantikkannya meski
mereka ditutupi topeng.”
“ Aku percaya, tapi
aku tidak tahu harus memilih siapa.”
“ Oh, aku bisa
meminjamkan gadisku. Kau mau memilih Vanesa atau Patricia?”
Wenda dan Priyanka
tertawa manja. Baru saja Antony alias Adrian hendak mengajak kedua gadis itu
berkenalan, tiba-tiba ada seorang wanita yang melintas. Antony seolah-olah
terbius oleh pesona wanita itu.
“ Apa dia salah satu
wanita undanganmu, Harris?”
“ Oh, entahlah. Aku
tidak yakin, tapi walaupun bukan, tidak ada salahnya kalau kau mendekati dia.
Ayolah, kau harus bersenang-senang, Antony.”
Antony pun tak
berpikir dua kali untuk mendekati gadis itu. Ia langsung menghampiri dan
mengajak gadis bertopeng hitam itu berkenalan.
“ Aku tidak pernah
bertemu denganmu. Apakah boleh aku tahu siapa namamu, nona?”
“ Haruskah aku
menyebutkan nama sementara kita bisa berkenalan lewat dansa?”
“ Kau sangat berani,
nona,” Antony pun mengulurkan tangannya. “ Baiklah, kita lihat seberapa hebat
dansamu.”
Antony mengajak gadis
misterius itu ke tengah-tengah lantai dansa, lalu ia memberikan kode pada Hiro,
Jiro, dan Alexi. Ketiga pemusik itu segera memainkan sebuah lagu pop yang
mereka aransemen sehingga terdengar sangat klasik. Semua penonton terkejut saat
ketiga pemusik itu memainkan lagu yang sering mereka dengar.
Jhon Legend, “All of Me”.
Irama cello, violin, serta keyboard menyatu sempurna. Hanya dengan mendengar instrumennya
saja sudah membuat hati terenyuh. Belum lagi dengan dansa Adrian dan Fi yang
begitu indah. Perpaduan antara musik dan dansa romantis itu berhasil mengubah
suasana tegang menjadi berbunga-bunga. Semua penonton terhisap dalam keindahan
itu.
Ketiga Musai itu
telah menyelesaikan musik mereka, bersamaan dengan itu Adrian dan Fi telah
sampai pada akhir dansa mereka. Tiba-tiba suasana pecah saat Tifa berteriak
lewat toanya.
“CUT!”
Setika semua lampu
menyala. Ruangan pun dipenuhi dengan tepuk tangan meriah dari anggota yang
menonton. Ririn pun demikian. Ia ikut terpesona dengan kolaborasi barusan.
“ Bagaimana
menurutmu?”
Ririn tersentak kaget
saat ia tahu di sebelahnya ada Riani. Gadis itu mengangguk pelan.
“ Bagus, bagus
sekali. Mereka memang hebat.”
“ Itu bukan jawaban
yang ingin saya dengar. Maksud Ibu apa kamu tidak punya perasaan terhadap dua
orang yang berdansa tadi?”
Kening Ririn berkerut
heran, “ Maaf, saya tidak mengerti.”
“ Begini, Rin. Alasan
kamu kena sembur Tifa tadi karena kamu bermain datar saat di atas panggung.
Kamu kurang menjiwai peranmu sebagai Anna Croux yang angkuh dan mempunyai
tunangan bernama Antony Van Dekker. Nah, sekarang kamu melihat tunanganmu
sedang berdansa dengan orang lain. Sebagai seorang tunangan Antony, kamu
harusnya cemburu dan marah. Kamu juga harusnya ingat kalau yang berdansa dengan
tunanganmu adalah orang yang martabatnya lebih rendah darimu, harusnya kamu menghinakan
orang sepertinya. Kamu sekarang ngerti’kan harus bersikap bagaimana saat di
panggung nanti?”
Ririn mulai mengerti
kesalahan apa yang sudah ia perbuat. Meski ia tidak tahu harus bagaimana, tapi
ia akan mencoba untuk lebih baik lagi. Andai saja Tifa memberi tahu
kesalahannya dengan cara yang lembut seperti Riani, mungkin Ririn lebih cepat
menyerap latihannya hari ini.
“ Oke, semuanya
berkumpul!” Tifa kembali berteriak dari balik toanya.
Semua anggota
berkumpul membentuk lingkaran seperti biasa. Tifa pun mulai membuka catatan dan
menyebutkan semua kesalahan yang sudah dilakukan oleh para anggota.
“ Untuk tim tari,
saya harap kalian lebih kompak lagi gerakannya. Masih banyak gerakan kalian
yang salah tempo. Untuk tim musik, kalian sudah oke. Saya harap kalian jangan
terlalu senang, terus tingkatkan lagi kualitas kalian. Untuk tim akting
sendiri, saya salut dengan Adrian dan Fi. Kalian berdua membuat malam ini
menjadi malam super romantis. Pertahankan dan harus ditingkatkan.”
Fi dan Adrian
mendapat hadiah tepuk tangan dari anggota LM. Kedua insan ini hanya saling
bertukar senyum.
“ Okeee, karena
adegan klimaksnya sudah tercapai, jadi kalian bisa bisa istirahat. Selamat
malam.”
Semua anggota
bersorak riang karena waktu istirahat mereka dipercepat. Mereka sangat
bersyukur karena adegan dansa Fi dan Adrian sukses. Bukan karena mereka berdua
saja, tetapi juga berkat tiga musai yang membuat suasana kian romantis.
Beberapa anggota meminta Alexi, Hiro, dan Jiro untuk encore. Ketiganya sempat menolak, tetapi karena permintaan semakin
banyak mereka pun setuju untuk memainkan lagu itu sekali lagi.
“ Whoaa, anak didikmu
keren, Glo,” ujar Riani saat mereka semua masih menyimak permainan ketiga orang
itu.
“ Yaaah, keren sih
keren, tapi semua orang di sini gak yang tahu gimana perjuanganku untuk membuat
mereka keren,” jawab Gloria dengan nada menggerutu.
“ Lho, memangnya
kenapa?”
Gloria melempar
tatapan sebal pada Tifa, “ Tanya tuh sama si ‘Hitler Kusuma Ningsih’! Tuh orang
suka seenaknya sendiri deh. Masa aku udah capek-capek buat lagu khusus untuk
adegan tadi, eh dia bilang malah pake lagu John Legend aja. Kalau kayak gitu
kenapa gak bilang dari awal aja, aku’kan gak perlu buang-buang waktu.”
“ Serius? Memangnya
alasannya kenapa? Terus sekarang lagu kamu gimana?”
“ Mana aku tahu!
Saking kesalnya kemarin aku robek aja kertas itu tepat di muka dia! Huh, dasar
diktator!”
Riani menghela napas
seraya menepuk-nepuk bahu Gloria, “ Udah sabar aja. Kamu kayak gak tau
tabiatnya gimana. Tifa itu memang jagonya bikin hati orang terombang-ambing.”
Gloria masih berdecak
kesal. Tanpa sengaja ia melirik Ririn yang sedang mengobrol dengan Andani. Ia
berpikir kalau gadis itu mungkin sedang curhat dengan sahabatnya.
“ Ngomong-ngomong
soal hati yang terombang-ambing, malam ini ada seseorang yang benar-benar harus
makan hati ya.”
Riani bisa menebak
siapa yang dimaksudkan Gloria dengan mengikuti arah matanya, “ Ah ya, tapi gak
sepenuhnya salah Tifa. Ekspresi anak itu masih sangat datar. Wajar kalau Tifa
sampai mengamuk seperti tadi.”
Gloria mengangguk, “
Benar, untuk memerankan tokoh Anna Croux, dia harus berakting seperti ningrat
Belanda yang angkuh. Selain itu, dia juga harus menunjukkan rasa cemburunya
yang besar pada tokoh Nayu yang sudah merebut tunangannya. Kurasa gadis itu
selain tidak ada pengalaman akting, juga tidak ada pengalaman hidup. Dia gadis
baik dan polos. Seseorang harus memberikan wejangan kepadanya.”
“ Sudah kulakukan,”
ujar Riani sambil tersenyum. “ Kuharap bisa membantunya.”
“ Wah, sepertinya
pengalaman pribadi,” Gloria terkekeh.
Senyum di wajah Riani
seketika lenyap, berganti dengan delikan matanya yang tajam. Gloria pun
langsung membentuk pose peace supaya
wanita itu tidak menerkamnya.
“ Sorry, aku gak bermaksud kok.”
Sekarang giliran
Riani yang dongkol. Heran, kenapa Gloria tiba-tiba jadi iseng sih.
ooOoo
Ririn baru saja kembali dari toilet. Ia berniat untuk
segera tidur. Sehabis kena marah Tifa ternyata menguras banyak tenaga. Ia harus
cepat tidur supaya energinya pulih kembali. Namun, niatnya urung setelah
berpapasan dengan Alexi yang ternyata telah menunggunya di depan pintu toilet.
“ Oh, hai. Sepertinya
kita selalu dipertemukan di depan toilet ya,” sapa Ririn. “Mau masuk? Aku sudah
selesai.”
Alexi menggeleng
pelan, “ Kamu baik-baik saja?”
Ririn sempat bingung
dengan pertanyaan itu, tapi ia segera menyadari apa maksud laki-laki itu.
“ Aku baik-baik saja,
ah, tidak. Mungkin sedikit tidak baik. Yah, kamu tahulah, mana ada orang yang
setegar itu setelah diamuk di depan umum.”
Ririn tertawa kecil,
ia mencoba mencairkan suasana. Namun, sepertinya itu tak mampu menghapus wajah
khawatir di wajah Alexi.
“ Maaf, aku tadi tak
bisa membantumu.”
“ Oh, sudahlah. Itu
bukan sepenuhnya salah Miss Tifa,
akulah yang menyebabkan beliau mengamuk. Itu juga bukan salahmu. Seharusnya aku
berterima kasih padamu, Hiro, Jiro, Adrian, dan juga Fi karena sudah membuat
pertunjukkan yang sempurna, sehingga Miss
Tifa melupakan keberadaanku. Ngomong-ngomong, permainanmu tadi keren sekali.”
“ Terima kasih,”
akhirnya ada seulas senyuman kecil di wajah Alexi. “ Tapi kamu yakin tidak
apa-apa? Kamu butuh bantuanku untuk memecahkan masalahmu di atas panggung?”
“ Tidak, tidak usah.
Kali ini aku akan berusaha menemukan caranya sendiri,” Ririn melambaikan tangan
seraya tersenyum. “ Terima kasih atas bantuanmu selama ini. Saat ini aku tidak
boleh mengandalkan orang lain terus, aku harus mandiri.”
“ Baiklah, kalau
begitu,” ujar Alexi seraya menarik napas panjang. “ Tapi kalau butuh bantuanku,
katakan saja.”
Ririn mengangguk,
kemudian keduanya berpisah. Namun, sebelum mereka berpisah, Ririn menghentikan
langkah Alexi. Sepertinya ada sesuatu yang akan dikatakan gadis itu.
“ Sebenarnya aku
kacau sekali. Ketimbang memberikan bantuan, bagaimana kalau kamu memberikanku
hiburan? Sepertinya aku butuh disemangati.”
Kali ini senyum Alexi
melebar, “ Tentu, katakan saja kapan dan dimana. Hanya saja tidak sekarang. Ini
sudah terlalu malam.”
“ Terima kasih,
tolong beri aku kejutan ya. Selamat tidur.”
“ Ya, selamat tidur.”
Kali ini Ririn dan
Alexi benar-benar bertolak arah. Ririn pun berbaring di samping Andani yang
sudah tertidur lelap. Ia berusaha untuk cepat tidur, tetapi matanya terlalu
sulit untuk dipejamkan. Sepertinya janji yang ia buat dengan Alexi akan
membuatnya terjaga sepanjang malam.
‘ Kira-kira apa ya, kejutan dari Alexi? Tunggu, kenapa
aku begitu antusias? Astaga, Ririn, tidurlah! Ini sudah malam.’
Please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar