Total Tayangan Halaman

Sabtu, 23 Juli 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 58)




Musikal 58 
 
Tepat di minggu pertama semester kedua, acara latihan malam pun dilaksanakan. Semua anggota Love Musical sudah mempersiapkan barang-barang untuk menginap. Mulai dari baju ganti, makanan ringan, sampai alas tidur sudah disiapkan, sedangkan untuk konsumsi utama sudah ditangani oleh Tifa.
Suasana latihan malam ternyata jauh berbeda dengan latihan sore. Atmosfer terasa lebih bersemangat dan juga emosi lebih meluap, lebih-lebih emosi sang sutradara. Malam ini semua amarahnya tertuju pada si ikal, Ririn. Entah kenapa gadis itu berulang kali melakukan kesalahan di atas panggung sehingga membuat sang sutradara ini mengamuk.
CUT, CUT, CUUUUUT!
Suara Tifa yang sudah besar ditambah lagi ia berteriak melalui toa, membuat semua anggota LM sontak menghentikan aktivitasnya. Teriakan Tifa mengejutkan semua orang. Mereka semua heran apa dan siapa penyebab bangkitnya amarah sang sutradara.
Mata mereka mengikuti langkah Tifa yang naik ke atas panggung dengan beringas. Dari raut wajahnya terlihat kekesalan yang memuncak. Ia menghampiri Ririn dengan mata melotot dan siap menyemburkan kata-kata pedas. Gadis itu sendiri terlihat keringat dingin.
“ Kamu! Kamu bisa akting, nggak? Kalau punya mata jangan dipake buat baca buku aja, tapi lihat cara orang berakting! Kamu jangan bikin orang susah dengan kesalahanmu! Ngerti?”
Kepala Ririn tertunduk dalam. Tubuhnya gemetar ketakutan. Baru kali ini ia diteriaki tepat satu jengkal dari wajahnya.
“ Tim akting istirahat lima menit! Tim lainnya lanjutkan latihan!”  Tifa melirik Ririn. “ Dan kamu, buatin saya kopi!”
Beberapa anggota sudah kembali pada aktivitasnya  masing-masing, tapi ada juga yang masih memerhatikan Ririn. Gadis itu ke balik panggung dengan gontai. Kakinya terasa lemas setelah disembur Tifa di hadapan semua orang.
Ririn menarik napas dalam-dalam. Kepalanya kosong dan dadanya terasa sesak. Ia kesal pada Tifa yang sudah memarahinya dengan cara yang kurang manusiawi, bahkan orang tuanya saja tidak pernah meneriakinya seperti itu. Namun, ia juga tidak bisa menyangkal apa yang dikatakan Tifa. Ia memang sudah melakukan banyak kesalahan di atas panggung, wajar bila si sutradara geram padanya.
“ Woow, air panasnya dituang ke gelas, bukan disiram ke tangan.”
Suara Kemal menyadarkan Ririn. Gadis itu tak sadar kalau ia sedang melamun. Kemal langsung merebut termos dari tangan Ririn, sementara gelas berisi kopi yang dipegangnya diambil oleh Adrian.
“ Kamu baik-baik aja?”
Ririn menggeleng pelan, “ Aku gak bisa menjelaskan perasaanku sekarang.”
Ben menyerahkan segelas air pada Ririn, “ Minum dulu. Kamu pasti syok kena marah abis-abisan kayak tadi.”
Satu hal yang patut disyukuri Ririn adalah solidaritas dari teman-teman di tim akting, bahkan Fi yang biasa merundungnya ikut menengok.
“ Tanteku memang kayak singa betina kalau sudah berurusan dengan pentas,” ujar Adrian. “ Jangan diambil hati ya.”
“ Tapia pa yang dikatakan Miss  Tifa itu benar dan kamu gak seharusnya syok berat kayak gini,” timpal Fi. Ia bersandar di meja seraya melipat tangan. “ Dalam dunia pementasan, kena marah kayak gini sudah jadi makanan sehari-hari. Dunia panggung itu keras, Rin. Aku, Adrian, terutama Miss Tifa sudah tahu betul bagaimana sulitnya berada di pementasan. Kenapa? Karena kalau kamu jelek di atas panggung, maka semua semua anggota yang terlibat akan menerima imbasnya. Semua kerja keras kita akan tidak akan dianggap hanya karena kesalahan yang kamu buat. Penonton gak mau tahu dengan usaha kita, yang mereka tahu adalah hasil di atas panggung.
Miss Tifa memarahimu seperti tadi bukan hanya karena kamu melakukan kesalahan, tapi dia juga sedang melatih mentalmu. Kamu harus bersyukur karena cuma sutradara yang memarahimu. Coba kamu bayangkan kalau kritik pedas itu terlontar dari masyarakat luas? Mulut mereka lebih pedas daripada Miss Tifa. Belum lagi kritikan itu akan melekat di diri kamu. Kalau sudah begitu, semuanya balik lagi kena imbasnya. Gak cuma kamu, tapi semua kerja keras kita dicap buruk oleh masyarakat.”
Adrian tersenyum, “ Aku setuju dengan Fi. Kami berdua sudah merasakan apa yang kamu rasakan sekarang. It’s just beginning, Rin.”
Padahal biasanya Ririn selalu dongkol mendengar kata-kata Fi, tapi kali ini Fi justru berhasil menenangkan hatinya. Gadis itu benar, ia tak harusnya terpuruk seperti ini, seharusnya ia memerbaiki kesalahannya dan membuktikan pada Tifa bahwa dirinya bisa menjadi aktris yang baik. Ririn kembali menarik napas panjang, kemudian ia mengangguk sambil tersenyum.
“ Oke, aku ngerti sekarang. Makasih ya semuanya, kamu juga, Fi.”
Fi hanya membalasnya dengan senyuman sinis.
So, you feel better now?” senyum Adrian melebar saat Ririn mengangguk semanagat. Ia mengacak-acak rambut gadis itu, “ Semangat ya.”
“ Tapi… aku masih agak takut,” Ririn meringis.
“ Udah gak usah takut. Miss Tifa minum kopi, bukan minum otak manusia,” ujar Ben seraya menyerahkan secangkir kopi. “ Nih, kasihin sama dia. Siapa tahu Miss Tifa klepek-klepek sama kopi buatan kamu.”
“ Tapi yang buat kopi’kan kamu, Ben,” timpal Kemal. Suasana pun terasa lebih cair sekarang.
Kemal dan Ben mengajak Ririn untuk kembali ke depan. Mereka berdua bersedia menemani gadis itu memberikan kopi pada si singa betina. Tinggallah Adrian dan Fi di balik panggung.
“ Waah, gadisku ini hebat sekali,” Adrian menopangkan tangannya di atas meja. Senyumnya tak lepas saat menatap Fi. “ Sudah cantik jadi motivator pula.”
“ Oh ya, sekarang lihat siapa yang gombal?” sahut Fi dengan nada sinis yang dibuat-buat.
Tawa Adrian pecah. Dengan gemas ia memberikan cubitan kecil di pipi Fi.
“ Udah yuk, kita balik ke depan. Nanti Tanteku malah tambah marah.”
ooOoo
Mata Alexi tak lepas mengawasi Ririn setelah gadis itu menyerahkan kopi pada Tifa. Gadis itu menuju bangku penonton dengan wajah yang masih lesu. Alexi ingin menyapa dan memberinya semangat. Baru saja ia melepaskan jari-jarinya dari tuts keyboard, ia segera dicegah oleh Hiro.
“ Mau kemana? Habis ini kita latihan gabungan.”
Kata-kata Hiro ditegaskan kembali oleh teriakan Tifa dari toanya.
“ Tim akting dan tim musik latihan gabungan! Kita latihan adegan pesta dansa. Hiro, Jiro, dan Alexi naik ke atas panggung! Semua tim akting juga, kecuali Ririn!”
Alexi bisa melihat Ririn yang baru saja berdiri kembali mendudukkan pantatnya. Si kacamata itu tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menuruti perintah Tifa untuk segera naik ke atas panggung.
Fi meminta izin untuk bersiap. Lima menit kemudian ia sudah kembali dengan rok tutu selutut dan wajahnyanya dihiasi topeng. Sementara itu ruangan mulai digelapkan, hanya beberapa lampu di atas panggung yang masih menyala. Semua anggota yang lain diistirahatkan dan menonton adegan dari beberapa temannya yang tampil.
“ Aktor, aktris, pemusik siap? One, two, three, and action!”
Atmosfer panggung langsung berubah menjadi suasana abad pertengahan. Panggung yang tadinya terlihat biasa saja sekarang berubah layaknya ballroom yang megah. Terlihat beberapa anggota dari tim tari seolah-olah sedang menikmati pesta. Sementara Kemal yang sekarang menjadi Harris Suhorff sedang menggandeng Priyanka dan Wenda. Ia benar-benar menghayati perannya sebagai playboy, entah di atas panggung atau pun di luar panggung.
“ Kau tampak menikmati pesta, Harris,” tegur Adrian yang sekarang menjadi Antony.
“ Astaga, Antony. Lusa adalah hari pernikahanmu, seharusnya kaulah yang lebih menikmati pesta ini.”
“ Di sini pesta topeng, Harris. Aku tidak tahu mana gadis cantik yang harus aku ajak berdansa.”
Harris alias Kemal tertawa, “ Omong kosong, kau jangan menghindar. Semua wanita yang hadir di sini adalah wanita-wanita pilihanku. Jadi, aku bisa jamin kecantikkannya meski mereka ditutupi topeng.”
“ Aku percaya, tapi aku tidak tahu harus memilih siapa.”
“ Oh, aku bisa meminjamkan gadisku. Kau mau memilih Vanesa atau Patricia?”
Wenda dan Priyanka tertawa manja. Baru saja Antony alias Adrian hendak mengajak kedua gadis itu berkenalan, tiba-tiba ada seorang wanita yang melintas. Antony seolah-olah terbius oleh pesona wanita itu.
“ Apa dia salah satu wanita undanganmu, Harris?”
“ Oh, entahlah. Aku tidak yakin, tapi walaupun bukan, tidak ada salahnya kalau kau mendekati dia. Ayolah, kau harus bersenang-senang, Antony.”
Antony pun tak berpikir dua kali untuk mendekati gadis itu. Ia langsung menghampiri dan mengajak gadis bertopeng hitam itu berkenalan.
“ Aku tidak pernah bertemu denganmu. Apakah boleh aku tahu siapa namamu, nona?”
“ Haruskah aku menyebutkan nama sementara kita bisa berkenalan lewat dansa?”
“ Kau sangat berani, nona,” Antony pun mengulurkan tangannya. “ Baiklah, kita lihat seberapa hebat dansamu.”
Antony mengajak gadis misterius itu ke tengah-tengah lantai dansa, lalu ia memberikan kode pada Hiro, Jiro, dan Alexi. Ketiga pemusik itu segera memainkan sebuah lagu pop yang mereka aransemen sehingga terdengar sangat klasik. Semua penonton terkejut saat ketiga pemusik itu memainkan lagu yang sering mereka dengar.
Jhon Legend, “All of Me”.
Irama cello, violin, serta keyboard menyatu sempurna. Hanya dengan mendengar instrumennya saja sudah membuat hati terenyuh. Belum lagi dengan dansa Adrian dan Fi yang begitu indah. Perpaduan antara musik dan dansa romantis itu berhasil mengubah suasana tegang menjadi berbunga-bunga. Semua penonton terhisap dalam keindahan itu.
Ketiga Musai itu telah menyelesaikan musik mereka, bersamaan dengan itu Adrian dan Fi telah sampai pada akhir dansa mereka. Tiba-tiba suasana pecah saat Tifa berteriak lewat toanya.
“CUT!”
Setika semua lampu menyala. Ruangan pun dipenuhi dengan tepuk tangan meriah dari anggota yang menonton. Ririn pun demikian. Ia ikut terpesona dengan kolaborasi barusan.
“ Bagaimana menurutmu?”
Ririn tersentak kaget saat ia tahu di sebelahnya ada Riani. Gadis itu mengangguk pelan.
“ Bagus, bagus sekali. Mereka memang hebat.”
“ Itu bukan jawaban yang ingin saya dengar. Maksud Ibu apa kamu tidak punya perasaan terhadap dua orang yang berdansa tadi?”
Kening Ririn berkerut heran, “ Maaf, saya tidak mengerti.”
“ Begini, Rin. Alasan kamu kena sembur Tifa tadi karena kamu bermain datar saat di atas panggung. Kamu kurang menjiwai peranmu sebagai Anna Croux yang angkuh dan mempunyai tunangan bernama Antony Van Dekker. Nah, sekarang kamu melihat tunanganmu sedang berdansa dengan orang lain. Sebagai seorang tunangan Antony, kamu harusnya cemburu dan marah. Kamu juga harusnya ingat kalau yang berdansa dengan tunanganmu adalah orang yang martabatnya lebih rendah darimu, harusnya kamu menghinakan orang sepertinya. Kamu sekarang ngerti’kan harus bersikap bagaimana saat di panggung nanti?”
Ririn mulai mengerti kesalahan apa yang sudah ia perbuat. Meski ia tidak tahu harus bagaimana, tapi ia akan mencoba untuk lebih baik lagi. Andai saja Tifa memberi tahu kesalahannya dengan cara yang lembut seperti Riani, mungkin Ririn lebih cepat menyerap latihannya hari ini.
“ Oke, semuanya berkumpul!” Tifa kembali berteriak dari balik toanya.
Semua anggota berkumpul membentuk lingkaran seperti biasa. Tifa pun mulai membuka catatan dan menyebutkan semua kesalahan yang sudah dilakukan oleh para anggota.
“ Untuk tim tari, saya harap kalian lebih kompak lagi gerakannya. Masih banyak gerakan kalian yang salah tempo. Untuk tim musik, kalian sudah oke. Saya harap kalian jangan terlalu senang, terus tingkatkan lagi kualitas kalian. Untuk tim akting sendiri, saya salut dengan Adrian dan Fi. Kalian berdua membuat malam ini menjadi malam super romantis. Pertahankan dan harus ditingkatkan.”
Fi dan Adrian mendapat hadiah tepuk tangan dari anggota LM. Kedua insan ini hanya saling bertukar senyum.
“ Okeee, karena adegan klimaksnya sudah tercapai, jadi kalian bisa bisa istirahat. Selamat malam.”
Semua anggota bersorak riang karena waktu istirahat mereka dipercepat. Mereka sangat bersyukur karena adegan dansa Fi dan Adrian sukses. Bukan karena mereka berdua saja, tetapi juga berkat tiga musai yang membuat suasana kian romantis. Beberapa anggota meminta Alexi, Hiro, dan Jiro untuk encore. Ketiganya sempat menolak, tetapi karena permintaan semakin banyak mereka pun setuju untuk memainkan lagu itu sekali lagi.
“ Whoaa, anak didikmu keren, Glo,” ujar Riani saat mereka semua masih menyimak permainan ketiga orang itu.
“ Yaaah, keren sih keren, tapi semua orang di sini gak yang tahu gimana perjuanganku untuk membuat mereka keren,” jawab Gloria dengan nada menggerutu.
“ Lho, memangnya kenapa?”
Gloria melempar tatapan sebal pada Tifa, “ Tanya tuh sama si ‘Hitler Kusuma Ningsih’! Tuh orang suka seenaknya sendiri deh. Masa aku udah capek-capek buat lagu khusus untuk adegan tadi, eh dia bilang malah pake lagu John Legend aja. Kalau kayak gitu kenapa gak bilang dari awal aja, aku’kan gak perlu buang-buang waktu.”
“ Serius? Memangnya alasannya kenapa? Terus sekarang lagu kamu gimana?”
“ Mana aku tahu! Saking kesalnya kemarin aku robek aja kertas itu tepat di muka dia! Huh, dasar diktator!”
Riani menghela napas seraya menepuk-nepuk bahu Gloria, “ Udah sabar aja. Kamu kayak gak tau tabiatnya gimana. Tifa itu memang jagonya bikin hati orang terombang-ambing.”
Gloria masih berdecak kesal. Tanpa sengaja ia melirik Ririn yang sedang mengobrol dengan Andani. Ia berpikir kalau gadis itu mungkin sedang curhat dengan sahabatnya.
“ Ngomong-ngomong soal hati yang terombang-ambing, malam ini ada seseorang yang benar-benar harus makan hati ya.”
Riani bisa menebak siapa yang dimaksudkan Gloria dengan mengikuti arah matanya, “ Ah ya, tapi gak sepenuhnya salah Tifa. Ekspresi anak itu masih sangat datar. Wajar kalau Tifa sampai mengamuk seperti tadi.”
Gloria mengangguk, “ Benar, untuk memerankan tokoh Anna Croux, dia harus berakting seperti ningrat Belanda yang angkuh. Selain itu, dia juga harus menunjukkan rasa cemburunya yang besar pada tokoh Nayu yang sudah merebut tunangannya. Kurasa gadis itu selain tidak ada pengalaman akting, juga tidak ada pengalaman hidup. Dia gadis baik dan polos. Seseorang harus memberikan wejangan kepadanya.”
“ Sudah kulakukan,” ujar Riani sambil tersenyum. “ Kuharap bisa membantunya.”
“ Wah, sepertinya pengalaman pribadi,” Gloria terkekeh.
Senyum di wajah Riani seketika lenyap, berganti dengan delikan matanya yang tajam. Gloria pun langsung membentuk pose peace supaya wanita itu tidak menerkamnya.
Sorry, aku gak bermaksud kok.”
Sekarang giliran Riani yang dongkol. Heran, kenapa Gloria tiba-tiba jadi iseng sih.
ooOoo
Ririn baru saja kembali dari toilet. Ia berniat untuk segera tidur. Sehabis kena marah Tifa ternyata menguras banyak tenaga. Ia harus cepat tidur supaya energinya pulih kembali. Namun, niatnya urung setelah berpapasan dengan Alexi yang ternyata telah menunggunya di depan pintu toilet.
“ Oh, hai. Sepertinya kita selalu dipertemukan di depan toilet ya,” sapa Ririn. “Mau masuk? Aku sudah selesai.”
Alexi menggeleng pelan, “ Kamu baik-baik saja?”
Ririn sempat bingung dengan pertanyaan itu, tapi ia segera menyadari apa maksud laki-laki itu.
“ Aku baik-baik saja, ah, tidak. Mungkin sedikit tidak baik. Yah, kamu tahulah, mana ada orang yang setegar itu setelah diamuk di depan umum.”
Ririn tertawa kecil, ia mencoba mencairkan suasana. Namun, sepertinya itu tak mampu menghapus wajah khawatir di wajah Alexi.
“ Maaf, aku tadi tak bisa membantumu.”
“ Oh, sudahlah. Itu bukan sepenuhnya salah Miss Tifa, akulah yang menyebabkan beliau mengamuk. Itu juga bukan salahmu. Seharusnya aku berterima kasih padamu, Hiro, Jiro, Adrian, dan juga Fi karena sudah membuat pertunjukkan yang sempurna, sehingga Miss Tifa melupakan keberadaanku. Ngomong-ngomong, permainanmu tadi keren sekali.”
“ Terima kasih,” akhirnya ada seulas senyuman kecil di wajah Alexi. “ Tapi kamu yakin tidak apa-apa? Kamu butuh bantuanku untuk memecahkan masalahmu di atas panggung?”
“ Tidak, tidak usah. Kali ini aku akan berusaha menemukan caranya sendiri,” Ririn melambaikan tangan seraya tersenyum. “ Terima kasih atas bantuanmu selama ini. Saat ini aku tidak boleh mengandalkan orang lain terus, aku harus mandiri.”
“ Baiklah, kalau begitu,” ujar Alexi seraya menarik napas panjang. “ Tapi kalau butuh bantuanku, katakan saja.”
Ririn mengangguk, kemudian keduanya berpisah. Namun, sebelum mereka berpisah, Ririn menghentikan langkah Alexi. Sepertinya ada sesuatu yang akan dikatakan gadis itu.
“ Sebenarnya aku kacau sekali. Ketimbang memberikan bantuan, bagaimana kalau kamu memberikanku hiburan? Sepertinya aku butuh disemangati.”
Kali ini senyum Alexi melebar, “ Tentu, katakan saja kapan dan dimana. Hanya saja tidak sekarang. Ini sudah terlalu malam.”
“ Terima kasih, tolong beri aku kejutan ya. Selamat tidur.”
“ Ya, selamat tidur.”
Kali ini Ririn dan Alexi benar-benar bertolak arah. Ririn pun berbaring di samping Andani yang sudah tertidur lelap. Ia berusaha untuk cepat tidur, tetapi matanya terlalu sulit untuk dipejamkan. Sepertinya janji yang ia buat dengan Alexi akan membuatnya terjaga sepanjang malam.
‘ Kira-kira apa ya, kejutan dari Alexi? Tunggu, kenapa aku begitu antusias? Astaga, Ririn, tidurlah! Ini sudah malam.’

Please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar