Total Tayangan Halaman

Jumat, 12 Agustus 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 67)




Musikal 67

Sejak kejadian botol air yang menggelinding, pikiran Anjani selalu saja tertuju pada Andani. Hingga keesokkan harinya wajah Andani masih memenuhi kepalanya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menelepon saudarinya. Sembari menunggu nada sambung, Anjani melirik arlojinya, lalu ia tersenyum.
‘ Sekarang waktunya latihan’kan? Apa aku mengganggu?’
Di tengah lamunannya, ia dikejutkan oleh suara Andani yang menyambut teleponnya.
Ha—halo, Jane?
Oh, halo, An. Maaf meneleponmu tiba-tiba. Apa kamu sedang latihan?
Ahh, iya, eh, tidak. Sebenarnya Miss Tifa mengurungkan latihan hari ini.”
Wah, tumben. Ada apa?
Hmm, yaaa… karena ada salah satu anggota yang mau keluar.”
“ Eh, siapa?”
Anjani cukup kaget mendengar jawaban saudarinya. Bisa-bisanya di saat seperti ini ada anggota yang mau keluar lagi. Apa sutradaranya itu akan merestuinya?
A—aku…”
“ Kamu? Kenapa kamu mau berhenti?”
Kali ini Anjani tak percaya dengan apa yang ia dengar. Seribu pertanyaan segera menyerbu pikirannya. Namun, jauh di ujung telepon terdengar isakan Andani. Anjani hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ada apa dengan saudarinya itu sampai-sampai ia terisak seperti itu?
“ An? An? An? Ka—kamu baik-baik aja?”
Nggak, Jane. Aku mengalami vocal nodule dan aku harus operasi minggu depan.”
Mendengar hal itu Anjani bagai tersambar petir. Vocal nodule? Operasi? Astaga, bagaimana mungkin Andani bisa mengalami hal itu?
Anjani masih ingin bertanya banyak hal, tapi isakan saudarinya itu bertambah kencang.
“ An…”
Terdengar suara Andani sedang menarik napas panjang. Gadis itu berusaha tenang, meski suaranya masih sesegukan.
Maaf, Jane. Tiba-tiba saja aku histeris seperti tadi. Padahal dari tadi aku masih baik-baik saja.”
“ Apa karena aku yang tiba-tiba meneleponmu?”
“ Iya, eh, tidak, eh, maksudku entahlah. Saat aku mendengar suaramu aku… aku ingin saja mengeluarkan semua yang aku rasakan,” Andani kembali menghela napas. “Sudahlah, Jane. Tak usah terlalu pikirkan aku. Bu Gloria bilang aku akan baik-baik saja dan aku percaya itu.”
‘ Dia memendam semuanya sendirian’, Anjani mengeluh dalam hati. Hatinya seketika merasa bersalah karena di saat seperti ini ia tidak bisa menemani saudarinya.
Boleh aku mengatakan sesuatu yang menurutmu itu mustahil, Jane?
“ Apa?” Anjani menyahut pendek.
Aku ingin kamu menemaniku di sini.
ooOoo

Aku ingin kamu menemaniku di sini.’
“ Anjani, tolong konsentrasi!”
Suara sang pelatih membuyarkan lamunan Anjani. Ia segera kembali membaca aransemen lagu yang harus ia nyanyikan di malam gala kedua. Sayang, pikirannya lagi-lagi tidak fokus. Ia masih saja memikirkan pembicaraan terakhirnya bersama Andani.
Setelah mengatakan itu Andani justru tertawa dan mengklarifikasinya bahwa hal itu hanyalah candaannya saja. Kemudian Andani lebih dulu mengakhiri pembicaraan mereka. Andani memang bilang hanya bercanda, tapi hal itu justru menjadi beban pikiran Anjani.
Baru kali ini Anjani merasa bahwa kehadirannya lebih dibutuhkan Andani ketimbang operasi itu. Baru kali ini pula Anjani ingin segera bertemu dengan saudarinya itu. Namun, dalam kondisi seperti ini apakah mungkin mereka bisa bertemu? Ia sudah terikat kontrak dengan pihak kontes menyanyi dan ia harus menyelesaikan kontrak itu sampai batasnya.
Ia bisa saja minta berhenti, tapi apakah egonya bisa ia redam? Hei, ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu sejak lama. Momen di mana semua orang mengakuinya sebagai Anjani, hanya Anjani, bukan Anjani saudarinya Andani, si penyanyi bersuara emas. Haruskah ia membuang impiannya itu?
Semuanya terasa paradoks di kepala Anjani. Ia harus memilih salah satu dan salah satu itu harus sesuatu yang tepat.

ooOoo
Tifa tak henti mengetuk-ngetukkan keningnya di atas meja. Percuma bila Gloria atau Riani melarangnya. Kedua orang ini tahu bagaimana pusingnya kepala si sutradara. Sampai Hana masuk ke ruangan. Dengan tenang ia duduk di seberang meja.
“ Aku tahu kamu kepala batu, Tif. Sayang, itu cuma kiasan. Pecahan kepalamu bisa mengotori mejaku, tahu?”
“ Huaaa, aku baru kali ini kepalaku tidak bisa berpikir jernih,” Tifa pun akhirnya membaringkan kepalanya di atas meja. “ Kita harus segera mendapatkan pengganti Andani.”
Riani mendesah panjang, “ Apa kita harus audisi lagi?”
“ Terlalu lama, Ri,” sahut Gloria. “ Sulit menemukan suara yang menedekati suara gadis itu.”
“ Biasanya kamu punya banyak koneksi, Tif,” ujar Hana.
“ Ada siiih, tapi pasti mereka menuntut bayaran yang mahal. Memangnya kita punya dana sebanyak itu?” keluh Tifa. Kali ini ia menelungkupkan wajahnya, “ Lagi pula belum tentu cocok dengan anggota tim musik lainnya. Kalau kita pakai profesional biasanya banyak maunya.”
Hana melipat tangan di depan dadanya, “ Kalau begitu kalian harus diskusikan juga hal ini dengan anggota tim musik. Bagaimana pun juga eksekusinya ada pada tim musik, bukan kalian.”
“ Aku tahu, aku pun sudah berencana seperti itu, tapi aku tangguhkan sampai Andani selesai operasi. Kalau sekarang, aku takut informasi bocor dan sampai ke telinga gadis itu. Kasihan, nanti dia malah tambah sedih,” ujar Tifa. “ Yaah, pita suara adalah hal vital yang gadis itu miliki. Saat ini hatinya pasti hancur.”
“ Waah, tumben kamu punya hati, Tif,” sindir Hana.
Tifa mengangkat wajahnya. Ada seraut senyuman sinis di wajahnya, “ Pokoknya saat ini kita masih belum bisa menemukan siapa pengganti Andani.”
“ Aku pikir ada, tapi sayang dia tidak di sini,” ujar Gloria.
“ Maksudmu dia?” sahut Riani. “ Bukannya susah ya memanggilnya kemari?”
“ Aku tidak tahu siapa yang kalian maksud,” ujar Hana, “ Tapi kalau memang ada, sesusah apa pun jalan yang ditempuh kalau Tifa yang melakukannya pasti bisa, iya’kan?”
“ Heeei, kalian pikir aku Tuhan?” Tifa protes dengan nada tinggi. “ Dengar, kalau orang yang kalian maksud ini adalah orang yang sama dalam pikiranku berarti aku juga tidak bisa membawa sekarang. Sehebat apa pun koneksiku tidak akan bisa membawa keajaiban, tahu!”
Gloria, Hana, dan Riani kembali terhenyak di kursi masing-masing. Sepertinya kali ini mereka benar-benar menemukan jalan buntu.
“ Kali ini kita butuh keajaiban dari Tuhan,” tutup Hana.

Author's Note:
 Udah pada nonton Winter in Tokyo belum? Author udah... gyabooo... Dion Wiyoko kereeen banget yah. Author jadi baper. Author malah ngebayangin kalau Adrian itu adalah Dion, hadeeeh....
Memang rada beda sih antara novel dan filmnya, tapi Author tetap suka. Gregetnya dapet bangeeet... 
Sukses buat penulis favoritku Ilana Tan *Love*Love*Love* 

please comment and share 

2 komentar:

  1. duh author , dimana hari-hari bahagia mereka.
    wkwkwkw
    ier yang baca jadi kebawa suasana gitu...

    kalau kata tifa ini belom "badai" nya , lalu yang gini aja udah sanggup membuat suasana hati ier terombang-ambing ..
    gimana pas ada "badai" nya???

    bisa-bisa pas lagi melayani cust online shop yang rempong , langsung ier semprot wkwkwkw

    pokok nya update banyakin dong author...

    BalasHapus
  2. doain auhtornya on the mood terus yaah
    hehehe

    BalasHapus