Total Tayangan Halaman

Sabtu, 20 Agustus 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 69)




Musikal 69

“ Aku mengundurkan diri,” ujar Anjani seraya menarik sebuah kursi. Ia mulai bercerita tanpa diminta. “ Awalnya sempat ditolak dan perlu usaha keras untuk melobi pihak acara. Untungnya setelah perdebatan panjang mereka menyetujuinya. Banyak syarat yang mereka ajukan, tapi aku tak peduli yang penting aku bisa kembali ke sini.”
“ Kenapa?”
Anjani menatap heran kembarannya, “ Kenapa?”
“ Iya, kenapa kamu pulang? Bukannya sulit untuk bisa masuk sebagai finalis di kontes itu? Bukannya menjadi terkenal itu cita-citamu? Lantas kenapa kamu justru membuang semua mimpi dan kerja kerasmu?”
“ Apa menurutmu besok malam aku bisa bernyanyi dengan tenang sementara kamu di sini menjalani operasi?” Anjani melipat kedua tangannya, lalu ia mendesah panjang. “ Alasan terbesarku kembali adalah karena kamu, An.”
Andani menatap saudarinya dengan tatapan tak percaya, “ A—aku gak salah dengar’kan?”
“ Iya, An. Kamu gak salah dengar.”
Seketika mata Andani berkaca-kaca. Namun, sebelum air mata Andani benar-benar jatuh, Anjani segera merangkulnya. Untuk pertama kalinya setelah perang dingin mereka berpelukan sebagai saudara yang saling menyayangi.
“ A—aku…”
“ Iya, aku tahu. Kamu terlalu melankolis sampai kehabisan kata-kata,” ujar Anjani seraya tertawa. Andani pun menghadiahinya sebuah cubitan gemas.
“ Tapi terima kasih ya, Jane. Aku—“
“ Aku tahu, aku juga senang menjadi saudaramu.”
Andani kembali mencubitnya, lalu keduanya tertawa. Akhirnya perang saudara itu pun berakhir indah.
ooOoo
Operasi Andani yang direncakan malam hari ternyata dipercepat jadi pagi. Berita mendadak ini baru saja sampai di ponsel Ririn ketika jam pelajaran berlangsung. Ririn yang diam-diam membuka ponselnya langsung kaget, ia bahkan kehilangan konsentrasi belajar. Pikirannya hanya fokus pada operasi yang sedang dijalani sahabatnya.
Ctaaak!
Ririn hampir terlompat saat jentikan jari itu dilakukan tepat di depan hidungnya. Seketika tawa anak berkacamata itu pecah. Astaga, sejak kapan Alexi jadi begitu jahil padanya?
“ Melamun aja. Eh, udah istirahat nih. Mau ke kantin gak?”
Ririn benar-benar tak sadar kalau bel istirahat sudah berbunyi. Padahal biasanya ia sangat-sangat menantikan deringan bel itu. Sepertinya pikiran Ririn sudah tidak ada di tempatnya.
“ Hmm, duluan aja deh. Aku mau ke toilet dulu.”
Tanpa mengindahkan Alexi, Ririn langsung meluncur ke toilet. Namun, ia mengurungkan niatnya untuk masuk, ia hanya bersandar di dinding dekat toilet. Di sana ia menatap lagi layar ponselnya dengan tatapan kosong. Kemudian terdengar desahan berat.
“ Belum tua udah banyak mengeluh. Nanti cepat keriput loh.”
Ririn terkesiap saat ada seorang laki-laki menegurnya. Jiro, ah bukan, Hiro, ah entahlah. Keduanya sering usil dengan menukar name tag mereka. Namun, ketika salah satu dari mereka muncul lagi, Ririn hanya menyimpulkan bahwa Hasegawa bersaudara ini sedang bersamanya.
“ Bukan begitu, Senpai. Hanya saja…”
“ Hanya apa? Kamu mikir apa sih? Kami jadi penasaran.”
Ririn menggaruk-garuk ujung hidungnya, “ Hmm, operasi Andani dipercepat. Saat ini dia sudah masuk ruang operasi. Aku… aku hanya mencemaskannya saja.”
Hiro dan Jiro saling bertukar pandang. Mereka tersenyum dan membagikan senyuman itu pada Ririn.
“ Kenapa tidak menyusul saja?”
“ Kita masih sekolah, Senpai,” keluh Ririn. “ Lagi pula pintu keluar masuk hanya ada satu dan dijaga satpam pula.”
“ Tapi kamu mau’kan?”
Ririn mengangkat bahunya, “ Yaaah… iya sih, tapi… ah, sudahlah. Aku bisa mendoakan Andani dari sini kok.”
Ririn ingin segera kembali ke kelas, tapi dengan sigap Hasegawa bersaudara ini menghadang langkahnya.
“ Kalau kami bisa mewujudkannya, bagaimana?”
“ Sudahlah, Senpai. Lupakan saja. Itu tak akan mungkin.”
Laki-laki ber-name tag Jiro itu memegang pundak Ririn, “ Dengar, tak ada yang tak mungkin. Sekarang cepat ambil tasmu dan temui kami di belakang gedung teater!”
Sen—Senpai, serius?”
“ Lakukan saja sebelum kami berubah pikiran.”
Ririn masih termenung pada detik pertama, kemudian ia mengangguk dan meluncur kembali ke kelasnya. Ia akan mengambil resiko untuk pertama kalinya.
“ Waah, kamu menyakinkan sekali sebagai Jiro ya,” ujar Jiro seraya mengembalikan name tag-nya.
Hiro terkekeh seraya memasang name tag aslinya, “ Hei, kita harus menelepon Mori-san.”
ooOoo
Ririn hampir saja menabrak Alexi yang baru mau keluar kelas. Keduanya sama-sama kaget. Namun, hanya Ririn yang jadi salah tingkah.
“ Kenapa kamu ngos-ngosan gitu? Udah ke toiletnya?”
“ Umm, i—iya,” Ririn mengabaikan Alexi. Ia buru-buru mengambil tasnya dan segera menuju tempat yang dikatakan Hasegawa bersaudara itu. Namun, Alexi tak lantas membiarkannya pergi. Dengan cepat ia menahan lengan gadis itu.
“ Ada apa? Dan mau kemana?”
Ririn tak bisa berlama-lama. Waktu istirahat akan segera habis. Namun, ia tak bisa meloloskan diri dari si kacamata ini.
“ Alexi, maaf. Aku sangat terburu-buru, tapi aku minta padamu untuk merahasiakan ini. Aku mohon.”
Alexi menatapnya beberapa saat. Makin lama wajah Ririn semakin cemas. Sepertinya ia tak punya alasan untuk menahan gadis ini lebih lama.
“ Baiklah, tapi kabari aku setelah semuanya selesai, oke?”
Senyuman cerah segera menghiasi wajah Ririn, “ Ah, terima kasih banyak. Aku banyak berhutang padamu, tapi, ehem, bisa kamu lepaskan tanganmu?”
“ Eh, maaf,” Alexi buru-buru melepaskan tangannya.
“ Sampai jumpa,” Ririn hanya sempat melempar senyuman kecil sebelum ia benar-benar menghilang dari pandangan laki-laki itu.
ooOoo
“ I—ini a—apa?”
“ Jalan rahasia yang pernah Miss Tifa ceritakan,” ujar Hiro. “ Tak kusangka akan sangat berguna sekarang.”
Ririn hanya terbengong-bengong melihat jalan rahasia itu. Jalan rahasia yang Hiro sebutkan hanyalah sebuah tangga tali yang memberi jalan keluar dari sekolah itu. Ririn tak pernah tahu ada jalan rahasia di sini. Mungkin setelah pulang nanti akan ia tanyakan pada ayahnya.
“ Jiro sudah menunggumu di mobil bersama Mori-san,” ujar Hiro lagi. “ Ngomong-ngomong, kamu bisa manjat’kan?”
Ririn hanya mengangguk kaku. Sebenarnya ia juga ragu mengenai kemampuannya. Namun, ia berani menanggung resikonya. Di dunia ini mana ada kriminal tanpa resiko.
‘ Semoga ini menjadi kriminal pertama dan terakhir untukku…’
ooOoo
Andani menatap saudarinya sesaat sebelum kursi rodanya didorong oleh perawat. Meskipun operasinya ini bukan operasi yang menyangkut nyawa, tapi tetap saja dirinya diliputi kekhawatiran. Seperti dapat membaca perasaan saudarinya, Anjani membalas tatapan itu dengan senyuman hangat.
“ Ini hanya sebentar, An. Setelah itu suaramu akan langsung melengking lagi seperti Celine Dion.”
Guyonan Anjani tak lantas membuat senyuman mengembang di wajah Andani. Ia tetap terlihat murung. Anjani pun menggenggam tangan saudarinya dengan erat.
“ Aku akan selalu di sini mendoakanmu. Aku janji tidak akan pergi lagi.”
Andani mengangguk pelan. Setelah itu barulah ia bisa tersenyum kecil. Di saat yang bersamaan, seorang perawat datang dan langsung membawa Andani ke ruang operasi. Sebelum kursi itu didorong, Anjani masih bisa membaca gerakan bibir Andani.
‘ Terima kasih.’
Andani pun lenyap di balik pintu ruang operasi. Detik demi detik Anjani habiskan untuk di ruang tunggu. Ia memang terlihat tenang tadi, tapi sebenarnya jantungnya dag dig dug juga. Ia hanya berakting supaya saudarinya itu tidak semakin cemas.
Di tengah penantiannya, Anjani merasa dirinya berilusi. Ia seperti melihat sosok Ririn datang bersama dua laki-laki kembar, tapi makin lama ilusinya itu terlihat seperti nyata. Ternyata benar, Ririn benar-benar datang dengan dua laki-laki kembar. Ia terlalu fokus pada Andani sehingga ia pikirannya sedikit terganggu.
“ Ririn? Astaga, kupikir aku berimajinasi melihatmu di sini.”
Namun, gadis itu terlihat lebih kaget daripada Anjani, “ Jane, ngapain kamu di sini? Kontesmu…?”
Anjani menghela napas panjang, “ Lupakan saja soal kontes itu. Andani lebih penting sekarang.”
“ Ka—kamu serius?”
“ Ya, aku serius,” Anjani tersenyum. “ Akan ada banyak kontes sepanjang tahun, tapi Andani hanya ada satu dalam hidupku.”
Ririn terlihat terpana dengan jawaban Anjani, begitu pula dengan dua laki-laki kembar yang ikut bersamanya.
“ Waaah, andai Andani mendengarnya. Dia pasti langsung nangis bombay,” Ririn tertawa kecil. “ Ah ya, sampai lupa. Bagaimana operasinya?”
“ Sedang berjalan. Aku harap semuanya berjalan lancar,” mata Anjani beralih pada duo Hasegawa. “ Kamu bisa sampai di sini bagiamana caranya, Rin? Apa kalian bertiga ini berkomplot?”
“ Ah ya, begitulah,” Ririn melirik Jiro dan Hiro seraya menggaruk ujung hidungnya. “ Singkat cerita, mereka menemukan jalan rahasia dan aku dibawa sampai ke sini.”
Kedua laki-laki itu tersenyum jenaka. Anjani pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Entah kenapa sejak ia tergabung dalam LM selalu saja ada keajaiban. Keajaiban yang membuat hal yang tidak masuk akal justru terjadi.
“ Kalau kalian ini Miss Tifa mungkin aku tidak akan terkejut, tapi… ah, sudahlah. Ngomong-ngomong, terima kasih sudah mau datang. Aku senang sekali kalian bisa di sini.”
“ Benar, tidak usah apa yang sudah kami lakukan sampai kami bisa di sini,” ujar Hiro. “ Sekarang bagaimana perasaanmu sekarang?”
Bahu Anjani terangkat, “ Bohong kalau aku bilang baik-baik saja. Sejujurnya lututku gemetaran dari tadi.”
“ Aku juga tak bisa berhenti memikirkan Andani,” Ririn menggenggam tangan Anjani lalu menatapnya cemas. “ Kuharap dengan berkumpulnya kita di sini, kecemasan kita semua bisa mereda.”
“ Ya, kamu benar,” Anjani tersenyum lembut. “ Terima kasih semuanya.”
Tak lama kemudian pintu ruang operasi terbuka. Suami istri Bramastya langsung menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar. Dari raut wajahnya dokter itu terlihat tenang. Ia mengabarkan kalau operasi Andani sukses dan akan sadar dalam beberapa jam lagi.
Anjani tak tahu lagi bagaimana menggambarkan perasaannya saat itu, yang ia tahu lututnya sudah tak mampu menopang tubuhnya. Ia hampir saja merosot ke lantai. Untung Hiro dengan sigap menahannya. Sepertinya genggaman tangan Ririn tak cukup kuat menahan beban tubuh Anjani.
“ Kamu gak apa-apa, Jane?” tanya Ririn seraya membantu Anjani berdiri.
Bibir Anjani terlalu kaku untuk menjawab pertanyaan Ririn. Satu kata saja keluar dari mulutnya mungkin akan menyebabkan banjir air mata dan ia tak mau hal itu terjadi.
“ Dia baik-baik saja. Cuma agak syok,” ujar Hiro. Anjani melirik Hiro yang mewakili jawabannya. Kedipan mata Hiro seolah mengatakn ‘terima kasih kembali’.
“ Bagaimana kalau kita melihat Andani. Mungkin sudah boleh dijenguk,” ujar Jiro memecahkan suasana.
Tampaknya mereka semua setuju dengan usul Jiro.
ooOoo
“ Ah, sepertinya aku harus menelepon Alexi. Dia juga khawatir dengan keadaan Andani.”
Ririn langsung meninggalkan ketiga temannya. Mereka belum diperbolehkan bertemu langsung dengan Andani, sehingga mereka hanya bisa menengok Andani dari balik jendela ruang operasi.
Tiba-tiba terdengar suara Jiro meringis, “ Aah, sepertinya aku harus ke toilet. Perutku sakit sekali.”
“ Kalau tidak salah toilet di ujung lorong ini,” jawab Hiro. “ Kamu salah makan, Jiro?”
“ Nggak tahu. Udah ya, aku buru-buru.”
Kedua temannya sudah pergi, tapi fokus Anjani masih tertuju pada Andani yang terbaring menunggu efek obat biusnya habis. Ia mungkin tidak sadar kalau ia sedang berdua saja dengan Hiro.
“ Kamu mau duduk dulu? Kita sudah hampir setengah jam berdiri di sini.”
Suara Hiro menyadarkannya. Benar, dari tadi ia hanya berdiri, terpaku menatap kaca jendela itu. Ia pun akhirnya mengikuti ajakan Hiro untuk duduk.
“ Apa ini pertama kalinya salah satu di antara kalian masuk ruang operasi?”
“ Begitulah. Orang tua kami selalu mengutamakan kesehatan. Jangankan operasi, opname saja kami belum pernah,” Anjani menarik napas panjang. “ Makanya saat Andani ada di dalam ruangan itu kami semua merasa cemas.”
“ Kamu tidak merasa cemburu? Maksudku, saat ini’kan perhatian orang tuamu hanya tertuju padanya, sedangkan keberadaanmu sendiri menjadi transparan.”
“ Apa kamu sedang mencoba mengadu domba perasaanku?” tanya Anjani seraya tertawa sakartis. “ Aku selalu cemburu padanya. Jangankan perhatian orang tuaku atau orang-orang sekitar, bahkan dunia pun bisa jadi miliknya. Itulah yang menjadi penyebab aku dan dia menjadi tidak akur akhir-akhir ini.”
Anjani menarik napas panjang. Tatapannya terlihat jauh menerawang, “ Tapi untuk pertama kalinya rasa cemburu itu hilang. Tak hanya seisi dunia ini, tapi aku pun rela jadi miliknya.”
Hiro menatapnya dalam-dalam. Anjani bahkan sampai heran kenapa Hiro menatapnya dengan cara yang demikian. Sebuah tatapan dengan seraut senyum, tapi sulit untuk dimaknai.
“ Ke—kenapa…?”
“ Kamu tahu, tadi itu kata-kata termanis yang pernah aku dengar. Ah, tidak, mungkin yang kedua, tapi dua-duanya berasal darimu.”
Seketika pipi Anjani terasa panas. Ia hanya mengeluarkan apa yang ada di hatinya, bukan bermaksud merayu laki-laki ini. Ia bahkan lupa apa kata-kata pertama yang menurut Hiro itu manis.
“ Kamu tahu, hubunganku dan Jiro dulu juga tidak sebaik sekarang. Proses yang kami lalui mungkin sedikit panjang dari kalian.”
Anjani benar-benar tak menyangka Hiro bisa mengatakan hal itu. Kalau dilihat selama ini, Hiro dan Jiro adalah pasangan kembar yang paling kompak sekaligus paling usil. Mereka pernah punya hubungan yang tidak baik? Itu terdengar seperti gosip murahan.
“ Kami dibesarkan di keluarga yang dipengaruhi oleh musik. Ayah kami seorang komposer, sedangkan ibu kami seorang pianis. Jangan heran kalau kami juga diarahkan menjadi seorang pemusik juga. Aku sih memang mempunyai minat ke arah sana, makanya tidak sulit bagiku untuk terjun ke dunia yang sama dengan orang tua kami, tapi tidak dengan Jiro. Sebenarnya ia mempunyai hobi sepak bola, sayang orang tua kami menentangnya. Akhirnya, mau tak mau ia belajar bermain alat musik juga.
“ Yaah, sekuat apa pun dia mencoba tetap saja hasilnya tak akan sebagus yang diharapkan. Berbeda denganku yang memang berminat dengan musik dan mungkin memang sudah menjadi kebiasaan orang tua yang selalu membanding-bandingkan anak mereka. Entah kenapa orang tua kami memandang Jiro dengan cara yang inferior. Hal itu membuat Jiro gerah dan akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di rumah paman kami yang ada di Kobe.
“ Hubunganku dan Jiro pun semakin mendingin. Mungkin sekitar tiga tahun kami tidak saling bertegur sapa karena sejak kelas lima SD Jiro sudah meninggalkan rumah. Kabar terakhir yang aku dengar dia justru bermain perkusi di jalanan. Aku sendiri saat itu sibuk dengan latihan dan resital yang tiada henti. Sepertinya orang tua kami sangat menekanku untuk menjadi seorang pemusik yang handal.
“ Ternyata aku pun sampai pada titik jenuh. Aku berniat menyusul Jiro, sayang di tengah jalan aku mengalami kecelakaan. Aku tidak tahu berapa lama aku koma, yang aku tahu saat itu aku berada di suatu tempat yang penuh dengan pintu. Aku tidak pernah membuka pintu-pintu itu, aku hanya terus berjalan ke depan. Aku rasa aku sudah lelah dan ingin membuka salah satu pintu itu. Tiba-tiba saja aku mendengar suara-suara yang terus memanggilku. Aku menoleh dan saat itu aku merasa aku didorong oleh seseorang hingga aku terjun ke sebuah lubang yang sangat dalam. Kupikir akan sakit, tapi saat aku membuka mata aku justru kembali ke dunia ini.
“ Kamu tahu, orang pertama yang aku lihat adalah sosok diriku yang lain, ternyata bukan. Aku baru ingat kalau aku dan Jiro itu kembar identik. Jiro adalah orang pertama yang aku lihat. Saat itu ia sedang melatunkan doa dengan mata terpejam. Aku tidak tahu doa apa yang ia panjatkan, tapi tiap kali ia menyebut namaku air matanya pasti mengalir. Sekujur tubuhku terasa sakit, tapi melihatnya ada di sisiku seolah mengobati rasa sakit itu.”
Setetes air mata Hiro mengalir di pipinya. Cepat-cepat ia menghapusnya dan langsung tersenyum kembali pada Anjani.
“ Yaah, hal yang lebih mengharukan lagi adalah ketika dia mengatakan bahwa ia tak akan meninggalkan aku lagi. Ternyata ia tidak bisa kehilanganku dalam waktu yang sesingkat itu. Ia rela kembali ke rumah supaya tidak berpisah lagi denganku. Ia juga rela kembali menekuni cello yang selama ini sudah ia lupakan. Semuanya ia lakukan demi diriku.”
Anjani menarik napas panjang, “ Itu tadi cerita yang sangat mengharukan. Aku tidak pernah menyangka ternyata cerita kalian justru lebih kelam dariku. Aku tersentuh, tapi aku juga senang melihat kalian sudah akur kembali.”
“ Begitulah. Makanya saat aku melihat pengorbanan sekarang, aku jadi teringat dengan pengorbanan Jiro. Aku pikir kalian berdua sama.”
Pipi Anjani kembali memanas, “ Eh, aku tidak―”
“ Jane, tadi Alexi bilang, dia dan yang lainnya akan datang ke sini sore nanti.”
Atmosfer merah jambu antara Anjani dan Hiro seketika lenyap ketika Ririn datang. Sebenarnya Anjani bersyukur gadis itu datang karena jika tidak dia pasti sudah salah tingkah.
“ Eh, apa aku datang di saat yang tidak tepat?” tanya Ririn bingung.
“ Tidak, tidak, tidak apa kok,” Anjani buru-buru berdiri. “ Oh ya, apa kamu bilang aku ada di sini?”
Ririn menggeleng sambil tersenyum, “ Tidak, aku pikir akan menjadi kejutan nantinya.” 

please comment and share

2 komentar:

  1. yang paling menggeliti bagian ini
    "...Tak hanya seisi dunia ini, tapi aku pun rela jadi miliknya.”
    hehehe , tapi sayang update minggu kemarin dan minggu ini penuh kisah sedih :(
    *kali ini tentang flashback si kembar tampan

    wkwkwk , tapi tetep keren cerita nya seperti biasa.

    ngmg-ngmg itu keputusan anjani , buat ier gak bisa komentar apapun.
    ditunggu kejutan lain nya *tear*

    BalasHapus
  2. auhtor sendiri terharu pas nulis masa lalu si kembar, hweeeeee

    BalasHapus