Musikal 69
“ Aku mengundurkan diri,” ujar Anjani seraya menarik
sebuah kursi. Ia mulai bercerita tanpa diminta. “ Awalnya sempat ditolak dan
perlu usaha keras untuk melobi pihak acara. Untungnya setelah perdebatan
panjang mereka menyetujuinya. Banyak syarat yang mereka ajukan, tapi aku tak
peduli yang penting aku bisa kembali ke sini.”
“ Kenapa?”
Anjani menatap heran
kembarannya, “ Kenapa?”
“ Iya, kenapa kamu
pulang? Bukannya sulit untuk bisa masuk sebagai finalis di kontes itu? Bukannya
menjadi terkenal itu cita-citamu? Lantas kenapa kamu justru membuang semua
mimpi dan kerja kerasmu?”
“ Apa menurutmu besok
malam aku bisa bernyanyi dengan tenang sementara kamu di sini menjalani
operasi?” Anjani melipat kedua tangannya, lalu ia mendesah panjang. “ Alasan
terbesarku kembali adalah karena kamu, An.”
Andani menatap
saudarinya dengan tatapan tak percaya, “ A—aku gak salah dengar’kan?”
“ Iya, An. Kamu gak
salah dengar.”
Seketika mata Andani
berkaca-kaca. Namun, sebelum air mata Andani benar-benar jatuh, Anjani segera
merangkulnya. Untuk pertama kalinya setelah perang dingin mereka berpelukan
sebagai saudara yang saling menyayangi.
“ A—aku…”
“ Iya, aku tahu. Kamu
terlalu melankolis sampai kehabisan kata-kata,” ujar Anjani seraya tertawa.
Andani pun menghadiahinya sebuah cubitan gemas.
“ Tapi terima kasih
ya, Jane. Aku—“
“ Aku tahu, aku juga
senang menjadi saudaramu.”
Andani kembali
mencubitnya, lalu keduanya tertawa. Akhirnya perang saudara itu pun berakhir
indah.
ooOoo
Operasi Andani yang direncakan malam hari ternyata
dipercepat jadi pagi. Berita mendadak ini baru saja sampai di ponsel Ririn
ketika jam pelajaran berlangsung. Ririn yang diam-diam membuka ponselnya
langsung kaget, ia bahkan kehilangan konsentrasi belajar. Pikirannya hanya
fokus pada operasi yang sedang dijalani sahabatnya.
Ctaaak!
Ririn hampir
terlompat saat jentikan jari itu dilakukan tepat di depan hidungnya. Seketika
tawa anak berkacamata itu pecah. Astaga, sejak kapan Alexi jadi begitu jahil
padanya?
“ Melamun aja. Eh,
udah istirahat nih. Mau ke kantin gak?”
Ririn benar-benar tak
sadar kalau bel istirahat sudah berbunyi. Padahal biasanya ia sangat-sangat
menantikan deringan bel itu. Sepertinya pikiran Ririn sudah tidak ada di
tempatnya.
“ Hmm, duluan aja
deh. Aku mau ke toilet dulu.”
Tanpa mengindahkan
Alexi, Ririn langsung meluncur ke toilet. Namun, ia mengurungkan niatnya untuk
masuk, ia hanya bersandar di dinding dekat toilet. Di sana ia menatap lagi
layar ponselnya dengan tatapan kosong. Kemudian terdengar desahan berat.
“ Belum tua udah
banyak mengeluh. Nanti cepat keriput loh.”
Ririn terkesiap saat
ada seorang laki-laki menegurnya. Jiro, ah bukan, Hiro, ah entahlah. Keduanya
sering usil dengan menukar name tag
mereka. Namun, ketika salah satu dari mereka muncul lagi, Ririn hanya
menyimpulkan bahwa Hasegawa bersaudara ini sedang bersamanya.
“ Bukan begitu, Senpai. Hanya saja…”
“ Hanya apa? Kamu
mikir apa sih? Kami jadi penasaran.”
Ririn menggaruk-garuk
ujung hidungnya, “ Hmm, operasi Andani dipercepat. Saat ini dia sudah masuk
ruang operasi. Aku… aku hanya mencemaskannya saja.”
Hiro dan Jiro saling
bertukar pandang. Mereka tersenyum dan membagikan senyuman itu pada Ririn.
“ Kenapa tidak
menyusul saja?”
“ Kita masih sekolah,
Senpai,” keluh Ririn. “ Lagi pula pintu
keluar masuk hanya ada satu dan dijaga satpam pula.”
“ Tapi kamu mau’kan?”
Ririn mengangkat
bahunya, “ Yaaah… iya sih, tapi… ah, sudahlah. Aku bisa mendoakan Andani dari
sini kok.”
Ririn ingin segera
kembali ke kelas, tapi dengan sigap Hasegawa bersaudara ini menghadang
langkahnya.
“ Kalau kami bisa
mewujudkannya, bagaimana?”
“ Sudahlah, Senpai. Lupakan saja. Itu tak akan
mungkin.”
Laki-laki ber-name tag Jiro itu memegang pundak Ririn,
“ Dengar, tak ada yang tak mungkin. Sekarang cepat ambil tasmu dan temui kami
di belakang gedung teater!”
“ Sen—Senpai, serius?”
“ Lakukan saja
sebelum kami berubah pikiran.”
Ririn masih termenung
pada detik pertama, kemudian ia mengangguk dan meluncur kembali ke kelasnya. Ia
akan mengambil resiko untuk pertama kalinya.
“ Waah, kamu
menyakinkan sekali sebagai Jiro ya,” ujar Jiro seraya mengembalikan name tag-nya.
Hiro terkekeh seraya
memasang name tag aslinya, “ Hei,
kita harus menelepon Mori-san.”
ooOoo
Ririn hampir saja menabrak Alexi yang baru mau keluar
kelas. Keduanya sama-sama kaget. Namun, hanya Ririn yang jadi salah tingkah.
“ Kenapa kamu
ngos-ngosan gitu? Udah ke toiletnya?”
“ Umm, i—iya,” Ririn
mengabaikan Alexi. Ia buru-buru mengambil tasnya dan segera menuju tempat yang
dikatakan Hasegawa bersaudara itu. Namun, Alexi tak lantas membiarkannya pergi.
Dengan cepat ia menahan lengan gadis itu.
“ Ada apa? Dan mau
kemana?”
Ririn tak bisa
berlama-lama. Waktu istirahat akan segera habis. Namun, ia tak bisa meloloskan
diri dari si kacamata ini.
“ Alexi, maaf. Aku
sangat terburu-buru, tapi aku minta padamu untuk merahasiakan ini. Aku mohon.”
Alexi menatapnya
beberapa saat. Makin lama wajah Ririn semakin cemas. Sepertinya ia tak punya
alasan untuk menahan gadis ini lebih lama.
“ Baiklah, tapi
kabari aku setelah semuanya selesai, oke?”
Senyuman cerah segera
menghiasi wajah Ririn, “ Ah, terima kasih banyak. Aku banyak berhutang padamu,
tapi, ehem, bisa kamu lepaskan tanganmu?”
“ Eh, maaf,” Alexi
buru-buru melepaskan tangannya.
“ Sampai jumpa,”
Ririn hanya sempat melempar senyuman kecil sebelum ia benar-benar menghilang
dari pandangan laki-laki itu.
ooOoo
“ I—ini a—apa?”
“ Jalan rahasia yang
pernah Miss Tifa ceritakan,” ujar
Hiro. “ Tak kusangka akan sangat berguna sekarang.”
Ririn hanya
terbengong-bengong melihat jalan rahasia itu. Jalan rahasia yang Hiro sebutkan
hanyalah sebuah tangga tali yang memberi jalan keluar dari sekolah itu. Ririn
tak pernah tahu ada jalan rahasia di sini. Mungkin setelah pulang nanti akan ia
tanyakan pada ayahnya.
“ Jiro sudah
menunggumu di mobil bersama Mori-san,” ujar Hiro lagi. “ Ngomong-ngomong, kamu
bisa manjat’kan?”
Ririn hanya
mengangguk kaku. Sebenarnya ia juga ragu mengenai kemampuannya. Namun, ia
berani menanggung resikonya. Di dunia ini mana ada kriminal tanpa resiko.
‘ Semoga ini menjadi kriminal pertama dan terakhir
untukku…’
ooOoo
Andani menatap saudarinya sesaat sebelum kursi rodanya
didorong oleh perawat. Meskipun operasinya ini bukan operasi yang menyangkut
nyawa, tapi tetap saja dirinya diliputi kekhawatiran. Seperti dapat membaca perasaan
saudarinya, Anjani membalas tatapan itu dengan senyuman hangat.
“ Ini hanya sebentar,
An. Setelah itu suaramu akan langsung melengking lagi seperti Celine Dion.”
Guyonan Anjani tak
lantas membuat senyuman mengembang di wajah Andani. Ia tetap terlihat murung.
Anjani pun menggenggam tangan saudarinya dengan erat.
“ Aku akan selalu di
sini mendoakanmu. Aku janji tidak akan pergi lagi.”
Andani mengangguk
pelan. Setelah itu barulah ia bisa tersenyum kecil. Di saat yang bersamaan,
seorang perawat datang dan langsung membawa Andani ke ruang operasi. Sebelum
kursi itu didorong, Anjani masih bisa membaca gerakan bibir Andani.
‘ Terima kasih.’
Andani pun lenyap di
balik pintu ruang operasi. Detik demi detik Anjani habiskan untuk di ruang
tunggu. Ia memang terlihat tenang tadi, tapi sebenarnya jantungnya dag dig dug
juga. Ia hanya berakting supaya saudarinya itu tidak semakin cemas.
Di tengah
penantiannya, Anjani merasa dirinya berilusi. Ia seperti melihat sosok Ririn
datang bersama dua laki-laki kembar, tapi makin lama ilusinya itu terlihat
seperti nyata. Ternyata benar, Ririn benar-benar datang dengan dua laki-laki
kembar. Ia terlalu fokus pada Andani sehingga ia pikirannya sedikit terganggu.
“ Ririn? Astaga,
kupikir aku berimajinasi melihatmu di sini.”
Namun, gadis itu
terlihat lebih kaget daripada Anjani, “ Jane, ngapain kamu di sini? Kontesmu…?”
Anjani menghela napas
panjang, “ Lupakan saja soal kontes itu. Andani lebih penting sekarang.”
“ Ka—kamu serius?”
“ Ya, aku serius,”
Anjani tersenyum. “ Akan ada banyak kontes sepanjang tahun, tapi Andani hanya
ada satu dalam hidupku.”
Ririn terlihat
terpana dengan jawaban Anjani, begitu pula dengan dua laki-laki kembar yang
ikut bersamanya.
“ Waaah, andai Andani
mendengarnya. Dia pasti langsung nangis bombay,” Ririn tertawa kecil. “ Ah ya,
sampai lupa. Bagaimana operasinya?”
“ Sedang berjalan.
Aku harap semuanya berjalan lancar,” mata Anjani beralih pada duo Hasegawa. “
Kamu bisa sampai di sini bagiamana caranya, Rin? Apa kalian bertiga ini
berkomplot?”
“ Ah ya, begitulah,”
Ririn melirik Jiro dan Hiro seraya menggaruk ujung hidungnya. “ Singkat cerita,
mereka menemukan jalan rahasia dan aku dibawa sampai ke sini.”
Kedua laki-laki itu
tersenyum jenaka. Anjani pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Entah
kenapa sejak ia tergabung dalam LM selalu saja ada keajaiban. Keajaiban yang
membuat hal yang tidak masuk akal justru terjadi.
“ Kalau kalian ini Miss Tifa mungkin aku tidak akan
terkejut, tapi… ah, sudahlah. Ngomong-ngomong, terima kasih sudah mau datang.
Aku senang sekali kalian bisa di sini.”
“ Benar, tidak usah
apa yang sudah kami lakukan sampai kami bisa di sini,” ujar Hiro. “ Sekarang
bagaimana perasaanmu sekarang?”
Bahu Anjani
terangkat, “ Bohong kalau aku bilang baik-baik saja. Sejujurnya lututku
gemetaran dari tadi.”
“ Aku juga tak bisa
berhenti memikirkan Andani,” Ririn menggenggam tangan Anjani lalu menatapnya
cemas. “ Kuharap dengan berkumpulnya kita di sini, kecemasan kita semua bisa
mereda.”
“ Ya, kamu benar,”
Anjani tersenyum lembut. “ Terima kasih semuanya.”
Tak lama kemudian
pintu ruang operasi terbuka. Suami istri Bramastya langsung menghampiri seorang
dokter yang baru saja keluar. Dari raut wajahnya dokter itu terlihat tenang. Ia
mengabarkan kalau operasi Andani sukses dan akan sadar dalam beberapa jam lagi.
Anjani tak tahu lagi
bagaimana menggambarkan perasaannya saat itu, yang ia tahu lututnya sudah tak
mampu menopang tubuhnya. Ia hampir saja merosot ke lantai. Untung Hiro dengan
sigap menahannya. Sepertinya genggaman tangan Ririn tak cukup kuat menahan
beban tubuh Anjani.
“ Kamu gak apa-apa,
Jane?” tanya Ririn seraya membantu Anjani berdiri.
Bibir Anjani terlalu
kaku untuk menjawab pertanyaan Ririn. Satu kata saja keluar dari mulutnya
mungkin akan menyebabkan banjir air mata dan ia tak mau hal itu terjadi.
“ Dia baik-baik saja.
Cuma agak syok,” ujar Hiro. Anjani melirik Hiro yang mewakili jawabannya.
Kedipan mata Hiro seolah mengatakn ‘terima kasih kembali’.
“ Bagaimana kalau
kita melihat Andani. Mungkin sudah boleh dijenguk,” ujar Jiro memecahkan
suasana.
Tampaknya mereka
semua setuju dengan usul Jiro.
ooOoo
“ Ah, sepertinya aku harus menelepon Alexi. Dia juga
khawatir dengan keadaan Andani.”
Ririn langsung
meninggalkan ketiga temannya. Mereka belum diperbolehkan bertemu langsung
dengan Andani, sehingga mereka hanya bisa menengok Andani dari balik jendela
ruang operasi.
Tiba-tiba terdengar
suara Jiro meringis, “ Aah, sepertinya aku harus ke toilet. Perutku sakit
sekali.”
“ Kalau tidak salah
toilet di ujung lorong ini,” jawab Hiro. “ Kamu salah makan, Jiro?”
“ Nggak tahu. Udah
ya, aku buru-buru.”
Kedua temannya sudah
pergi, tapi fokus Anjani masih tertuju pada Andani yang terbaring menunggu efek
obat biusnya habis. Ia mungkin tidak sadar kalau ia sedang berdua saja dengan
Hiro.
“ Kamu mau duduk
dulu? Kita sudah hampir setengah jam berdiri di sini.”
Suara Hiro
menyadarkannya. Benar, dari tadi ia hanya berdiri, terpaku menatap kaca jendela
itu. Ia pun akhirnya mengikuti ajakan Hiro untuk duduk.
“ Apa ini pertama
kalinya salah satu di antara kalian masuk ruang operasi?”
“ Begitulah. Orang
tua kami selalu mengutamakan kesehatan. Jangankan operasi, opname saja kami
belum pernah,” Anjani menarik napas panjang. “ Makanya saat Andani ada di dalam
ruangan itu kami semua merasa cemas.”
“ Kamu tidak merasa
cemburu? Maksudku, saat ini’kan perhatian orang tuamu hanya tertuju padanya,
sedangkan keberadaanmu sendiri menjadi transparan.”
“ Apa kamu sedang
mencoba mengadu domba perasaanku?” tanya Anjani seraya tertawa sakartis. “ Aku
selalu cemburu padanya. Jangankan perhatian orang tuaku atau orang-orang
sekitar, bahkan dunia pun bisa jadi miliknya. Itulah yang menjadi penyebab aku
dan dia menjadi tidak akur akhir-akhir ini.”
Anjani menarik napas
panjang. Tatapannya terlihat jauh menerawang, “ Tapi untuk pertama kalinya rasa
cemburu itu hilang. Tak hanya seisi dunia ini, tapi aku pun rela jadi
miliknya.”
Hiro menatapnya
dalam-dalam. Anjani bahkan sampai heran kenapa Hiro menatapnya dengan cara yang
demikian. Sebuah tatapan dengan seraut senyum, tapi sulit untuk dimaknai.
“ Ke—kenapa…?”
“ Kamu tahu, tadi itu
kata-kata termanis yang pernah aku dengar. Ah, tidak, mungkin yang kedua, tapi
dua-duanya berasal darimu.”
Seketika pipi Anjani
terasa panas. Ia hanya mengeluarkan apa yang ada di hatinya, bukan bermaksud
merayu laki-laki ini. Ia bahkan lupa apa kata-kata pertama yang menurut Hiro
itu manis.
“ Kamu tahu,
hubunganku dan Jiro dulu juga tidak sebaik sekarang. Proses yang kami lalui
mungkin sedikit panjang dari kalian.”
Anjani benar-benar
tak menyangka Hiro bisa mengatakan hal itu. Kalau dilihat selama ini, Hiro dan
Jiro adalah pasangan kembar yang paling kompak sekaligus paling usil. Mereka
pernah punya hubungan yang tidak baik? Itu terdengar seperti gosip murahan.
“ Kami dibesarkan di
keluarga yang dipengaruhi oleh musik. Ayah kami seorang komposer, sedangkan ibu
kami seorang pianis. Jangan heran kalau kami juga diarahkan menjadi seorang
pemusik juga. Aku sih memang mempunyai minat ke arah sana, makanya tidak sulit
bagiku untuk terjun ke dunia yang sama dengan orang tua kami, tapi tidak dengan
Jiro. Sebenarnya ia mempunyai hobi sepak bola, sayang orang tua kami
menentangnya. Akhirnya, mau tak mau ia belajar bermain alat musik juga.
“ Yaah, sekuat apa
pun dia mencoba tetap saja hasilnya tak akan sebagus yang diharapkan. Berbeda
denganku yang memang berminat dengan musik dan mungkin memang sudah menjadi
kebiasaan orang tua yang selalu membanding-bandingkan anak mereka. Entah kenapa
orang tua kami memandang Jiro dengan cara yang inferior. Hal itu membuat Jiro
gerah dan akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di rumah paman kami yang ada di
Kobe.
“ Hubunganku dan Jiro
pun semakin mendingin. Mungkin sekitar tiga tahun kami tidak saling bertegur
sapa karena sejak kelas lima SD Jiro sudah meninggalkan rumah. Kabar terakhir
yang aku dengar dia justru bermain perkusi di jalanan. Aku sendiri saat itu
sibuk dengan latihan dan resital yang tiada henti. Sepertinya orang tua kami
sangat menekanku untuk menjadi seorang pemusik yang handal.
“ Ternyata aku pun
sampai pada titik jenuh. Aku berniat menyusul Jiro, sayang di tengah jalan aku
mengalami kecelakaan. Aku tidak tahu berapa lama aku koma, yang aku tahu saat
itu aku berada di suatu tempat yang penuh dengan pintu. Aku tidak pernah
membuka pintu-pintu itu, aku hanya terus berjalan ke depan. Aku rasa aku sudah
lelah dan ingin membuka salah satu pintu itu. Tiba-tiba saja aku mendengar
suara-suara yang terus memanggilku. Aku menoleh dan saat itu aku merasa aku
didorong oleh seseorang hingga aku terjun ke sebuah lubang yang sangat dalam.
Kupikir akan sakit, tapi saat aku membuka mata aku justru kembali ke dunia ini.
“ Kamu tahu, orang
pertama yang aku lihat adalah sosok diriku yang lain, ternyata bukan. Aku baru
ingat kalau aku dan Jiro itu kembar identik. Jiro adalah orang pertama yang aku
lihat. Saat itu ia sedang melatunkan doa dengan mata terpejam. Aku tidak tahu
doa apa yang ia panjatkan, tapi tiap kali ia menyebut namaku air matanya pasti
mengalir. Sekujur tubuhku terasa sakit, tapi melihatnya ada di sisiku seolah
mengobati rasa sakit itu.”
Setetes air mata Hiro
mengalir di pipinya. Cepat-cepat ia menghapusnya dan langsung tersenyum kembali
pada Anjani.
“ Yaah, hal yang lebih
mengharukan lagi adalah ketika dia mengatakan bahwa ia tak akan meninggalkan
aku lagi. Ternyata ia tidak bisa kehilanganku dalam waktu yang sesingkat itu.
Ia rela kembali ke rumah supaya tidak berpisah lagi denganku. Ia juga rela
kembali menekuni cello yang selama ini sudah ia lupakan. Semuanya ia lakukan
demi diriku.”
Anjani menarik napas
panjang, “ Itu tadi cerita yang sangat mengharukan. Aku tidak pernah menyangka
ternyata cerita kalian justru lebih kelam dariku. Aku tersentuh, tapi aku juga
senang melihat kalian sudah akur kembali.”
“ Begitulah. Makanya
saat aku melihat pengorbanan sekarang, aku jadi teringat dengan pengorbanan
Jiro. Aku pikir kalian berdua sama.”
Pipi Anjani kembali
memanas, “ Eh, aku tidak―”
“ Jane, tadi Alexi
bilang, dia dan yang lainnya akan datang ke sini sore nanti.”
Atmosfer merah jambu
antara Anjani dan Hiro seketika lenyap ketika Ririn datang. Sebenarnya Anjani
bersyukur gadis itu datang karena jika tidak dia pasti sudah salah tingkah.
“ Eh, apa aku datang
di saat yang tidak tepat?” tanya Ririn bingung.
“ Tidak, tidak, tidak
apa kok,” Anjani buru-buru berdiri. “ Oh ya, apa kamu bilang aku ada di sini?”
Ririn menggeleng
sambil tersenyum, “ Tidak, aku pikir akan menjadi kejutan nantinya.”
please comment and share
yang paling menggeliti bagian ini
BalasHapus"...Tak hanya seisi dunia ini, tapi aku pun rela jadi miliknya.”
hehehe , tapi sayang update minggu kemarin dan minggu ini penuh kisah sedih :(
*kali ini tentang flashback si kembar tampan
wkwkwk , tapi tetep keren cerita nya seperti biasa.
ngmg-ngmg itu keputusan anjani , buat ier gak bisa komentar apapun.
ditunggu kejutan lain nya *tear*
auhtor sendiri terharu pas nulis masa lalu si kembar, hweeeeee
BalasHapus