Total Tayangan Halaman

Jumat, 02 September 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 72)




Musikal 72


Kabar bahwa ada audisi vokalis langsung membuat heboh semua anggota LM. Bukan karena audisinya, tapi karena siapa yang akan ikut audisi. Mereka tak menyangka Anjani akan pulang secepat itu.
Di sisi lain, Anjani juga tidak menyangka bahwa saudarinya itu merekomendasikan dirinya sebagai vokalis utama. Dulu ia memang pernah mengincar posisi itu, tapi sekarang situasinya sudah berbeda. Ia bahkan tak berminat untuk bergabung kembali dalam Love Musical.
Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Begitu ia kembali masuk sekolah semua teman-temannya langsung menanyakan tentang audisi itu. Tak ada yang menanyakan perihal kepulangannya. Anjani benar-benar bingung mau menjawab apa.
“ Aku mau mati aja, Weeen,” keluh Anjani ketika ia bersama ketiga cs nya sedang berkumpul di kantin.
“ Kamu mau audisi, bukan mau mati,” sahut Wenda. “ Lagian kamu mau audisi gak bilang-bilang. Masa aku tahu dari anak-anak yang lain.”
“ Yang mau audisi siapa coba? Itu semua kerjaannya si Andani. Masa dia rekomendasikan aku supaya jadi pengganti dia! Mana Miss Tifa setuju lagi. Gila, aku mau nyanyi apa coba?”
“ Lagu yang sering Andani bawakan dong,” sahut Ben. “ Kamu’kan mau jadi pengganti dia, berarti kamu harus punya kapasitas seperti dia.”
Anjani memberengut, “ Jauh-jauh aku ikut kontes menyanyi karena cuma satu alasan, aku gak mau hidup di bawah bayang-bayang Andani. Kalau sekarang aku bernyanyi seperti dia, itu sama aja aku numpang di bawah bayangannya. Itu baru dari cara pandangku, belum lagi yang orang-orang katakan. Pasti mereka bilang aku ini hanya mendompleng nama saudariku sendiri. Mentang-mentang aku ini saudarinya dan bisa bernyanyi, aku langsung bisa menjadi vokalis pengganti. Kalau sudah begitu mereka akan memandang rendah diriku dan aku gak mau kalau sampai hal itu terjadi.”
“ Mungkin maksud Ben bukan seperti itu, Jane,” Kemal menengahi. “ Ben hanya bilang kamu harus bernyanyi dengan lagu-lagu yang sering Andani bawakan, bukan berarti kamu harus bernyanyi seperti Andani. Masalahnya, apa kamu bisa menyanyikan lagu yang sering Andani bawakan? Tahu sendiri’kan selera saudarimu itu seperti apa.”
Anjani mengangguk pelan. Hanya ada dua musik kesukaan Andani. Klasik dan KPop. Pilihan kedua jelas tak mungkin. Ia hanya akan disiram kopi panas oleh Tifa bila membawakan “ Lion Heart” milik SNSD.
“ Sudah lama sekali aku tidak pernah belajar lagu klasik. Aku butuh guru privat, tapi memangnya ada guru privat yang mau melatihku sekarang dengan waktu yang kurang dari seminggu?”
“ Kalau itu ada kok,” sahut Ben. “ Bahkan kita mengenalnya dengan sangat baik.”
Anjani, Kemal, dan Wenda saling bertukar pandang. Mereka ingin tahu siapa guru yang Ben maksud. Dengan tenang laki-laki ini tersenyum pada Anjani.
“ Tapi kamu bayarin siomayku dulu ya.”
ooOoo
Ternyata orang yang dimaksudkan Ben adalah laki-laki berkacamata di kelasnya. Siapa lagi kalau bukan Alexi. Sayang, Alexi langsung menolak begitu Anjani mengutarakan maksudnya.
“ Maaf ya, Jane. Aku bukannya gak mau, tapi gak bisa.”
“ Gak bisa bagaimana?” sahut Ben. “ Bukannya kamu pianis yang hebat.”
Alexi berdeham mendengar dirinya disebut ‘pianis hebat’, “ Aku gak sehebat yang kalian pikirkan, tapi kuakui aku seorang pianis. Sayangnya, semua anggota tim musik akan menjadi juri untuk audisi kali ini. Makanya Miss Tifa melarang kami untuk membantumu. Maaf banget ya, Jane.”
“ Kok Miss Tifa gak bilang-bilang ya?” gerutu Wenda seraya melipat tangannya.
“ Mungkin Miss Tifa mau kasih kejutan sama kamu, Jane. Soalnya setahuku seluruh tim musik sudah dikabari hal ini,” jawab Alexi.
“ Bagaimana kalau kita tanya Bu Gloria?” sahut Kemal.
Wenda menggeleng, “ Percuma. Lihat saja, semua tim musik dilarang untuk menjadi pelatih Anjani, apalagi Bu Gloria. Aku yakin pasti dia sudah dibarikade oleh Miss Tifa.”
“ Kalau begitu kita menemukan jalan buntu dong,” keluh Ben.
Mereka berempat serempat menghela napas berat.
“ Ya sudahlah, mungkin sebaiknya aku menemui guru les vokalku dulu,” Anjani menebarkan senyuman pada teman-temannya. “ Kalian tidak usah merasa bersalah seperti itu. Aku pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.”
“ Tapi kalau kamu butuh bantuan, datang saja pada kami,” ujar Kemal dan langsung diiyakan oleh Ben dan Wenda.
Anjani mengangguk, “ Terima kasih ya. Eh, aku mau ke kantor guru dulu. Ada hal yang harus aku urus sebelum bel masuk.”
“ Mau aku temenin, Jane,” ujar Wenda.
“ Gak apa-apa, Wen. Cuma sebentar, aku sendirian aja. Makasih ya”
ooOoo
Anjani buru-buru kembali ke kelasnya. Urusannya di kantor tadi lumayan lama, sehingga ia harus melewatkan seperempat mata pelajaran ketiga. Saat kakinya sedang dalam kecepatan penuh, padangannya justru tak awas. Ketika berada di persimpangan lorong, ia tak sengaja menabrak orang.
“ Aduuh duuh, ahh, maafkan aku!”
Anjani langsung kembali bangkit dan hendak menolong orang yang ia tabrak. Namun, orang yang ia tabrak itu lebih dulu berdiri. Di luar dugaan ternyata ia menabrak salah satu dari kembar Hasegawa.
“ Hi—Hiro’kan?”
“ Waah, malah main tebak-tebakkan. Mana kata maafmu?”
Anjani terkesiap. Dengan cepat ia membungkukkan badannya, “ Ah, maaf, maaf. Aku sedang terburu-buru.”
“ Untung kamu benar menebaknya. Jadi, aku maafkan,” Hiro terkekeh. “Ngomong-ngomong, senang melihatmu kembali. Oh ya, aku dengar kamu ikut audisi vokalis pengganti. Ternyata kamu cukup percaya diri untuk menggantikan posisi saudarimu itu, ya?”
“ Bukan aku, tapi Andani sendiri yang melakukannya. Dia merekomendasikan aku pada Miss Tifa dan anehnya Miss Tifa langsung menerima begitu saja,” keluh Anjani, kemudian ia menghela napas berat. “ Sekarang aku harus mencari pelatih vokal, tapi sayangnya aku belum dapat. Tadinya aku mau minta tolong Alexi, tapi ternyata seluruh tim musik menjadi juri, aku jadi tidak diperbolehkan meminta bantuan dari kalian.”
“ Lalu rencanamu sekarang apa?”
Anjani mengangkat bahu, “ Aku berencana menemui guru les vokalku. Hanya itu rencanaku saat ini.”
Hiro tersenyum jumawa, “ Kamu gak minta sama aku?”
“ Loh, bukannya tim musik dilarang bantu aku. Kamu masih tim musik’kan?”
“ Benar sih, tapi bukan berarti tidak ada syaratnya,” Hiro melipat tangannya di depan dada. “ Miss Tifa bilang kalau kami berada di pihakmu berarti kami kehilangan satu suara, artinya didiskualifikasi untuk jadi juri. Hmm, aku sih tidak masalah tidak jadi juri, hanya saja sayang bila suaraku dibuang. Semuanya tergantung pilihanmu sekarang.”
Ternyata Anjani tak memusingkan soal jumlah vote. Ia lebih mencemaskan mengenai latihan vokalnya.
“ Tapi apa kamu bisa main piano?”
Hiro melambaikan telunjuk seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, “ Kamu meremehkanku ya. Aku dan Hiro lebih dulu menguasai piano ketimbang belajar berhitung, tahu!”
“ Whoaah, hebat sekali! Baiklah, sudah kuputuskan kalau kamu jadi pelatih vokalku. Aku janji tidak akan menjadi murid yang merepotkan. Terima kasih banyak!”
Namun, Hiro kembali melambaikan telunjuknya, “ No, no, no, kamu pikir berlatih denganku itu gratis? Ada imbalannya.”
“ Yaaah, kupikir ini kebaikan cuma-cuma,” ujar Anjani dengan bibir mengerucut. “Jadi, aku harus bayar berapa?”
“ Tidak, tidak, bukan dengan uang,” Hiro terkekeh. “ Aku dengar kamu jago main gitar. Bagaimana kalau setelah aku melatih vokalmu, kamu gantian melatih gitar padaku? Kupikir itu bayaran yang impas.”
Anjani memutar bola matanya, “ Tidak masalah sih, tapi kenapa gitar?”
“ Sudaaah, jangan banyak tanya. Ah iya, satu syarat lagi!”
“ Astagaaa, syarat apa lagi?” Anjani mulai geram.
“ Hei, dengar dulu ini penting! Kita harus latihan di tempat yang orang lain termasuk Miss Tifa lihat. Apa kamu punya tempat rahasia yang dilengkapi dengan piano?”
“ Ohh, kalau itu biar aku yang atur. Eh, kalian tidak latihan’kan hari ini? bagaimana kalau kita mulai dari hari ini saja?”
Hiro mengangguk setuju, “ Hei, bukannya kamu sedang buru-buru tadi?”
“ Astaga, aku sampai lupa! Kebanyakan ngobrol sih,” Anjani menepuk dahinya, kemudian ia segera meninggalkan tempat itu. Namun, langkahnya berhenti dan kembali berbalik, “ Hei, bagaimana caraku memanggilmu nanti, Tuan Pelatih?”
Hiro terkekeh, “ Panggil saja aku ‘Hiro Sensei’!”
ooOoo
“ Ini sekolah siapa?”
“ Sekolahku. Sekolah ini cabang dari sekolah tempat kita sekarang. Bedanya sekolah ini sekolah campur, bukan sekolah khusus wanita,” ujar Anjani sambil memandu Hiro ke ruang musik. “ Wenda, Ben, Kemal, Alexi, juga dari sekolah ini.”
“ Ooh, pantas seragam kita sedikit berbeda,” Hiro mengangguk-anggukan kepalanya. “ Lalu kenapa kita harus latihan di sini?”
“ Karena ini adalah satu-satunya tempat rahasia yang ada pianonya,” Anjani tersenyum seraya membuka pintu ruang musik. “ Naah, ayo masuk!”
Mata Hiro menjelajah seluruh isi ruangan tersebut. Ruang musik itu bisa dibilang kecil, tapi hampir semua alat musik tersedia. Di sana juga tersedia kumpulan partitur musik klasik. Hiro kagum melihat kelengkapan ruang musik itu.
“ Jadi, kamu mau aku memainkan lagu apa?” ujar Hiro seraya duduk di balik piano.
Anjani menarik sebuah partitur dari rak buku, lalu menyerahkannya pada laki-laki itu. Kening Hiro sedikit berkerut saat memandang lagu pilihan Anjani.
‘Ave Maria’?”
“ Kamu seperti terlihat tidak yakin begitu,” Anjani terkekeh. “ Bisa kita mulai, Sensei?”
“ Baiklah, mari kia lihat seberapa hebat kamu menggapai nada.”
ooOoo
Hiro menyelesaikan not terakhirnya. Ia menarik napas panjang seraya merenggangkan kedua tangannya.
“ Luar biasa. Kupikir akan lebih sulit,” ujar Hiro seraya tersenyum. “ Kita istirahat lima menit.”
Anjani langsung mengeluarkan botol air minum. Ia harus segera membasahi tenggorokannya yang kering akibat latihan barusan. Selagi minum tanpa sengaja ia memperhatikan arah mata Hiro yang tertuju pada sebuah gitar di sudut ruangan. Ia ingat akan imbalan yang harus ia berikan pada laki-laki itu.
“ Kenapa gitar?” tanya Anjani seraya menutup botol air.
“ Karena Jiro,” jawabnya tanpa mengindahkan pandangan dari gitar. “ Dia  pernah diajari paman dan sekarang permainannya makin bagus aja. Tanpa diminta ternyata dia mengajariku bermain gitar. Aku ingat dia mengajariku ketika aku baru keluar dari rumah sakit pascakecelakaan. Dia melakukannya untuk menghiburku. Sayang, sejak dia kembali menekuni musik klasik, dia makin sibuk dan mulai jarang mengajariku lagi.
“ Kupikir aku harus bisa meneruskan apa yang sudah ia ajarkan padaku. Ilmu gitar yang sudah ia berikan adalah pemberiannya yang sangat berharga.”
Tiba-tiba Hiro melemparkan senyum pada Anjani, “ Apa itu menginspirasimu?”
“ Inspirasi apa?” tanya Anjani dengan kening berkerut.
“ Bukankah saat ini kita ada di posisi yang sama? Aku diberikan ilmu gitar dari Jiro, sedangkan kamu diberikan kesempatan menjadi vokalis tim musik oleh Andani. Harusnya kamu lebih bersemangat lagi untuk mengikuti audisi ini. Latihan yang keras dan buatlah semua juri terpukau. Jangan sia-siakan hadiah yang paling tulus dari saudaramu itu.”
Anjani tersenyum kaku. Kenapa timing-nya pas sekali? Anjani tak menduga akan mendapatkan kata-kata mutiara yang menyentuh hatinya.
“ Lagi pula laki-laki yang bisa bermain gitar itu lebih cepat dapat pacar ketimbang pemain violin,” Hiro memecahkan lamunan Anjani dengan cengiran usilnya.
“ Bah, aku bahkan baru tahu kalau kamu itu jomblo,” Anjani terkekeh. “ Tapi bukannya cowok pemain violin itu terkesan romantis?”
Hiro menyeringai, “ Kamu suka cowok romantis?”
“ Aku suka cowok keren,” tukas Anjani.
“ Kalau gitu ajarkan aku bermain gitar,” Hiro buru-buru kembali ke posisinya semula sebelum Anjani kembali protes. “ Ayo latihan lagi!”


Author's Note:
Ini Author kerjaannya audisi melulu, pentasnya kapan coba?? wkwkwkwk...
Btw kemarin Author baru aja nonton " Pride, Prejudice, and Zombies", gilaaa... romantis sekaleeee. Auhtor tergila-gila ama si Mr. Darcy
Author juga abis nonton " Me Before you" dan itu ceritanya mengharukaaan... Author sampe butuh canebo, hahaha
Kalian nonton film apa akhir-akhir ini??? 

2 komentar:

  1. yey ahirnya , masa-sama sulit dan galau menggana udah mulai berkurang.
    adegan-adegan kocak muai bertebaran...

    kalau minggu ini masih bertema suram , gak tau deh mau dibawa kemana mood ini setelah baca wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau dibawa kemana hubungan kitaaaa...
      *fals,fals,fals

      Hapus