Musikal 72
Kabar bahwa ada audisi
vokalis langsung membuat heboh semua anggota LM. Bukan karena audisinya, tapi
karena siapa yang akan ikut audisi. Mereka tak menyangka Anjani akan pulang
secepat itu.
Di sisi lain, Anjani juga tidak menyangka bahwa saudarinya itu
merekomendasikan dirinya sebagai vokalis utama. Dulu ia memang pernah mengincar
posisi itu, tapi sekarang situasinya sudah berbeda. Ia bahkan tak berminat
untuk bergabung kembali dalam Love
Musical.
Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Begitu ia kembali masuk sekolah semua
teman-temannya langsung menanyakan tentang audisi itu. Tak ada yang menanyakan
perihal kepulangannya. Anjani benar-benar bingung mau menjawab apa.
“ Aku mau mati aja, Weeen,” keluh Anjani ketika ia bersama ketiga cs nya
sedang berkumpul di kantin.
“ Kamu mau audisi, bukan mau mati,” sahut Wenda. “ Lagian kamu mau
audisi gak bilang-bilang. Masa aku tahu dari anak-anak yang lain.”
“ Yang mau audisi siapa coba? Itu semua kerjaannya si Andani. Masa dia
rekomendasikan aku supaya jadi pengganti dia! Mana Miss Tifa setuju lagi. Gila, aku mau nyanyi apa coba?”
“ Lagu yang sering Andani bawakan dong,” sahut Ben. “ Kamu’kan mau jadi
pengganti dia, berarti kamu harus punya kapasitas seperti dia.”
Anjani memberengut, “ Jauh-jauh aku ikut kontes menyanyi karena cuma
satu alasan, aku gak mau hidup di bawah bayang-bayang Andani. Kalau sekarang
aku bernyanyi seperti dia, itu sama aja aku numpang di bawah bayangannya. Itu
baru dari cara pandangku, belum lagi yang orang-orang katakan. Pasti mereka
bilang aku ini hanya mendompleng nama saudariku sendiri. Mentang-mentang aku
ini saudarinya dan bisa bernyanyi, aku langsung bisa menjadi vokalis pengganti.
Kalau sudah begitu mereka akan memandang rendah diriku dan aku gak mau kalau
sampai hal itu terjadi.”
“ Mungkin maksud Ben bukan seperti itu, Jane,” Kemal menengahi. “ Ben
hanya bilang kamu harus bernyanyi dengan lagu-lagu yang sering Andani bawakan,
bukan berarti kamu harus bernyanyi seperti Andani. Masalahnya, apa kamu bisa
menyanyikan lagu yang sering Andani bawakan? Tahu sendiri’kan selera saudarimu
itu seperti apa.”
Anjani mengangguk pelan. Hanya ada dua musik kesukaan Andani. Klasik dan
KPop. Pilihan kedua jelas tak mungkin. Ia hanya akan disiram kopi panas oleh
Tifa bila membawakan “ Lion Heart”
milik SNSD.
“ Sudah lama sekali aku tidak pernah belajar lagu klasik. Aku butuh guru
privat, tapi memangnya ada guru privat yang mau melatihku sekarang dengan waktu
yang kurang dari seminggu?”
“ Kalau itu ada kok,” sahut Ben. “ Bahkan kita mengenalnya dengan sangat
baik.”
Anjani, Kemal, dan Wenda saling bertukar pandang. Mereka ingin tahu
siapa guru yang Ben maksud. Dengan tenang laki-laki ini tersenyum pada Anjani.
“ Tapi kamu bayarin siomayku dulu ya.”
ooOoo
Ternyata orang yang
dimaksudkan Ben adalah laki-laki berkacamata di kelasnya. Siapa lagi kalau
bukan Alexi. Sayang, Alexi langsung menolak begitu Anjani mengutarakan
maksudnya.
“ Maaf ya, Jane. Aku bukannya gak mau, tapi gak bisa.”
“ Gak bisa bagaimana?” sahut Ben. “ Bukannya kamu pianis yang hebat.”
Alexi berdeham mendengar dirinya disebut ‘pianis hebat’, “ Aku gak
sehebat yang kalian pikirkan, tapi kuakui aku seorang pianis. Sayangnya, semua
anggota tim musik akan menjadi juri untuk audisi kali ini. Makanya Miss Tifa melarang kami untuk
membantumu. Maaf banget ya, Jane.”
“ Kok Miss Tifa gak
bilang-bilang ya?” gerutu Wenda seraya melipat tangannya.
“ Mungkin Miss Tifa mau kasih
kejutan sama kamu, Jane. Soalnya setahuku seluruh tim musik sudah dikabari hal
ini,” jawab Alexi.
“ Bagaimana kalau kita tanya Bu Gloria?” sahut Kemal.
Wenda menggeleng, “ Percuma. Lihat saja, semua tim musik dilarang untuk
menjadi pelatih Anjani, apalagi Bu Gloria. Aku yakin pasti dia sudah dibarikade
oleh Miss Tifa.”
“ Kalau begitu kita menemukan jalan buntu dong,” keluh Ben.
Mereka berempat serempat menghela napas berat.
“ Ya sudahlah, mungkin sebaiknya aku menemui guru les vokalku dulu,”
Anjani menebarkan senyuman pada teman-temannya. “ Kalian tidak usah merasa
bersalah seperti itu. Aku pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.”
“ Tapi kalau kamu butuh bantuan, datang saja pada kami,” ujar Kemal dan
langsung diiyakan oleh Ben dan Wenda.
Anjani mengangguk, “ Terima kasih ya. Eh, aku mau ke kantor guru dulu.
Ada hal yang harus aku urus sebelum bel masuk.”
“ Mau aku temenin, Jane,” ujar Wenda.
“ Gak apa-apa, Wen. Cuma sebentar, aku sendirian aja. Makasih ya”
ooOoo
Anjani buru-buru kembali ke
kelasnya. Urusannya di kantor tadi lumayan lama, sehingga ia harus melewatkan
seperempat mata pelajaran ketiga. Saat kakinya sedang dalam kecepatan penuh,
padangannya justru tak awas. Ketika berada di persimpangan lorong, ia tak
sengaja menabrak orang.
“ Aduuh duuh, ahh, maafkan aku!”
Anjani langsung kembali bangkit dan hendak menolong orang yang ia
tabrak. Namun, orang yang ia tabrak itu lebih dulu berdiri. Di luar dugaan
ternyata ia menabrak salah satu dari kembar Hasegawa.
“ Hi—Hiro’kan?”
“ Waah, malah main tebak-tebakkan. Mana kata maafmu?”
Anjani terkesiap. Dengan cepat ia membungkukkan badannya, “ Ah, maaf,
maaf. Aku sedang terburu-buru.”
“ Untung kamu benar menebaknya. Jadi, aku maafkan,” Hiro terkekeh.
“Ngomong-ngomong, senang melihatmu kembali. Oh ya, aku dengar kamu ikut audisi
vokalis pengganti. Ternyata kamu cukup percaya diri untuk menggantikan posisi
saudarimu itu, ya?”
“ Bukan aku, tapi Andani sendiri yang melakukannya. Dia merekomendasikan
aku pada Miss Tifa dan anehnya Miss Tifa langsung menerima begitu
saja,” keluh Anjani, kemudian ia menghela napas berat. “ Sekarang aku harus mencari
pelatih vokal, tapi sayangnya aku belum dapat. Tadinya aku mau minta tolong
Alexi, tapi ternyata seluruh tim musik menjadi juri, aku jadi tidak
diperbolehkan meminta bantuan dari kalian.”
“ Lalu rencanamu sekarang apa?”
Anjani mengangkat bahu, “ Aku berencana menemui guru les vokalku. Hanya
itu rencanaku saat ini.”
Hiro tersenyum jumawa, “ Kamu gak minta sama aku?”
“ Loh, bukannya tim musik dilarang bantu aku. Kamu masih tim musik’kan?”
“ Benar sih, tapi bukan berarti tidak ada syaratnya,” Hiro melipat
tangannya di depan dada. “ Miss Tifa
bilang kalau kami berada di pihakmu berarti kami kehilangan satu suara, artinya
didiskualifikasi untuk jadi juri. Hmm, aku sih tidak masalah tidak jadi juri,
hanya saja sayang bila suaraku dibuang. Semuanya tergantung pilihanmu
sekarang.”
Ternyata Anjani tak memusingkan soal jumlah vote. Ia lebih mencemaskan
mengenai latihan vokalnya.
“ Tapi apa kamu bisa main piano?”
Hiro melambaikan telunjuk seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, “ Kamu
meremehkanku ya. Aku dan Hiro lebih dulu menguasai piano ketimbang belajar
berhitung, tahu!”
“ Whoaah, hebat sekali! Baiklah, sudah kuputuskan kalau kamu jadi
pelatih vokalku. Aku janji tidak akan menjadi murid yang merepotkan. Terima
kasih banyak!”
Namun, Hiro kembali melambaikan telunjuknya, “ No, no, no, kamu pikir berlatih denganku itu gratis? Ada
imbalannya.”
“ Yaaah, kupikir ini kebaikan cuma-cuma,” ujar Anjani dengan bibir
mengerucut. “Jadi, aku harus bayar berapa?”
“ Tidak, tidak, bukan dengan uang,” Hiro terkekeh. “ Aku dengar kamu
jago main gitar. Bagaimana kalau setelah aku melatih vokalmu, kamu gantian
melatih gitar padaku? Kupikir itu bayaran yang impas.”
Anjani memutar bola matanya, “ Tidak masalah sih, tapi kenapa gitar?”
“ Sudaaah, jangan banyak tanya. Ah iya, satu syarat lagi!”
“ Astagaaa, syarat apa lagi?” Anjani mulai geram.
“ Hei, dengar dulu ini penting! Kita harus latihan di tempat yang orang
lain termasuk Miss Tifa lihat. Apa
kamu punya tempat rahasia yang dilengkapi dengan piano?”
“ Ohh, kalau itu biar aku yang atur. Eh, kalian tidak latihan’kan hari
ini? bagaimana kalau kita mulai dari hari ini saja?”
Hiro mengangguk setuju, “ Hei, bukannya kamu sedang buru-buru tadi?”
“ Astaga, aku sampai lupa! Kebanyakan ngobrol sih,” Anjani menepuk
dahinya, kemudian ia segera meninggalkan tempat itu. Namun, langkahnya berhenti
dan kembali berbalik, “ Hei, bagaimana caraku memanggilmu nanti, Tuan Pelatih?”
Hiro terkekeh, “ Panggil saja aku ‘Hiro Sensei’!”
ooOoo
“ Ini sekolah siapa?”
“ Sekolahku. Sekolah ini cabang dari sekolah tempat kita sekarang.
Bedanya sekolah ini sekolah campur, bukan sekolah khusus wanita,” ujar Anjani
sambil memandu Hiro ke ruang musik. “ Wenda, Ben, Kemal, Alexi, juga dari
sekolah ini.”
“ Ooh, pantas seragam kita sedikit berbeda,” Hiro mengangguk-anggukan
kepalanya. “ Lalu kenapa kita harus latihan di sini?”
“ Karena ini adalah satu-satunya tempat rahasia yang ada pianonya,”
Anjani tersenyum seraya membuka pintu ruang musik. “ Naah, ayo masuk!”
Mata Hiro menjelajah seluruh isi ruangan tersebut. Ruang musik itu bisa
dibilang kecil, tapi hampir semua alat musik tersedia. Di sana juga tersedia
kumpulan partitur musik klasik. Hiro kagum melihat kelengkapan ruang musik itu.
“ Jadi, kamu mau aku memainkan lagu apa?” ujar Hiro seraya duduk di
balik piano.
Anjani menarik sebuah partitur dari rak buku, lalu menyerahkannya pada
laki-laki itu. Kening Hiro sedikit berkerut saat memandang lagu pilihan Anjani.
“ ‘Ave Maria’?”
“ Kamu seperti terlihat tidak yakin begitu,” Anjani terkekeh. “ Bisa
kita mulai, Sensei?”
“ Baiklah, mari kia lihat seberapa hebat kamu menggapai nada.”
ooOoo
Hiro menyelesaikan not
terakhirnya. Ia menarik napas panjang seraya merenggangkan kedua tangannya.
“ Luar biasa. Kupikir akan lebih sulit,” ujar Hiro
seraya tersenyum. “ Kita istirahat lima menit.”
Anjani langsung mengeluarkan botol air minum. Ia harus
segera membasahi tenggorokannya yang kering akibat latihan barusan. Selagi
minum tanpa sengaja ia memperhatikan arah mata Hiro yang tertuju pada sebuah
gitar di sudut ruangan. Ia ingat akan imbalan yang harus ia berikan pada
laki-laki itu.
“ Kenapa gitar?” tanya Anjani seraya menutup botol
air.
“ Karena Jiro,” jawabnya tanpa mengindahkan pandangan
dari gitar. “ Dia pernah diajari paman
dan sekarang permainannya makin bagus aja. Tanpa diminta ternyata dia
mengajariku bermain gitar. Aku ingat dia mengajariku ketika aku baru keluar dari
rumah sakit pascakecelakaan. Dia melakukannya untuk menghiburku. Sayang, sejak
dia kembali menekuni musik klasik, dia makin sibuk dan mulai jarang mengajariku
lagi.
“ Kupikir aku harus bisa meneruskan apa yang sudah ia
ajarkan padaku. Ilmu gitar yang sudah ia berikan adalah pemberiannya yang sangat
berharga.”
Tiba-tiba Hiro melemparkan senyum pada Anjani, “ Apa
itu menginspirasimu?”
“ Inspirasi apa?” tanya Anjani dengan kening berkerut.
“ Bukankah saat ini kita ada di posisi yang sama? Aku
diberikan ilmu gitar dari Jiro, sedangkan kamu diberikan kesempatan menjadi
vokalis tim musik oleh Andani. Harusnya kamu lebih bersemangat lagi untuk
mengikuti audisi ini. Latihan yang keras dan buatlah semua juri terpukau.
Jangan sia-siakan hadiah yang paling tulus dari saudaramu itu.”
Anjani tersenyum kaku. Kenapa timing-nya pas sekali? Anjani tak menduga akan mendapatkan
kata-kata mutiara yang menyentuh hatinya.
“ Lagi pula laki-laki yang bisa bermain gitar itu
lebih cepat dapat pacar ketimbang pemain violin,” Hiro memecahkan lamunan
Anjani dengan cengiran usilnya.
“ Bah, aku bahkan baru tahu kalau kamu itu jomblo,”
Anjani terkekeh. “ Tapi bukannya cowok pemain violin itu terkesan romantis?”
Hiro menyeringai, “ Kamu suka cowok romantis?”
“ Aku suka cowok keren,” tukas Anjani.
“ Kalau gitu ajarkan aku bermain gitar,” Hiro
buru-buru kembali ke posisinya semula sebelum Anjani kembali protes. “ Ayo
latihan lagi!”
Author's Note:
Ini Author kerjaannya audisi melulu, pentasnya kapan coba?? wkwkwkwk...
Btw kemarin Author baru aja nonton " Pride, Prejudice, and Zombies", gilaaa... romantis sekaleeee. Auhtor tergila-gila ama si Mr. Darcy
Author juga abis nonton " Me Before you" dan itu ceritanya mengharukaaan... Author sampe butuh canebo, hahaha
Kalian nonton film apa akhir-akhir ini???
yey ahirnya , masa-sama sulit dan galau menggana udah mulai berkurang.
BalasHapusadegan-adegan kocak muai bertebaran...
kalau minggu ini masih bertema suram , gak tau deh mau dibawa kemana mood ini setelah baca wkwkw
Mau dibawa kemana hubungan kitaaaa...
Hapus*fals,fals,fals