Total Tayangan Halaman

Sabtu, 22 Oktober 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 88)




Musikal 88

Anjani mendesah berat. Ia melirik tiga bangku kosong yang berderet di sampingnya. Pertama Andani, lalu Ririn, kemudian menyusul Wenda. Dua pemilik bangku yang ada di seberangnya sudah dipastikan absen karena sakit, tapi gadis yang duduk di sampingnya? Hilang tanpa kabar. Ia tak mengirim surat pada pihak sekolah atau mengabari dirinya lewat sms. Padahal biasanya telat sedikit saja kedua sahabat ini akan saling mengirimi teks.
Apa gadis itu sakit juga? Banyak spekulasi berputar-putar di kepala Anjani. Ada sedikit ketakutan pada diri Anjani tentang ketidakhadiran mereka yang akan menular juga padanya.
“ Ada yang dapat kabar dari Wenda?”
Anjani melihat kepala Kemal menggeleng. Ia pun melakukan hal yang sama. Perhatian mereka sedikit teralih oleh para siswa yang kembali ke kelas usai upacara. Tanpa sengaja mata Anjani bertemu dengan Priyanka. Tatapan gadis itu jatuh pada bangku Wenda yang kosong, lalu matanya beralih pada Anjani. Tersirat pertanyaan dari bola mata gadis itu. Anjani hanya mengangkat bahu dan Priyanka mengangguk kecil.
Namun, Anjani menaruh curiga saat Alexi mendesah panjang sambil melihat bangku itu. Tidak seperti Priyanka, Alexi tak mencoba bertanya pada siapa pun. Ia langsung duduk dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan. Anjani pun teringat kalau orang yang terakhir bersama Wenda adalah orang ini. Mungkin saja dia tahu sesuatu. Sayang, begitu Wenda akan menghampiri bangkunya, Gloria keburu masuk dan memulai pelajaran. Anjani terpaksa menunda niatnya sampai bel istirahat berbunyi.
ooOoo
“ Bisa minta waktumu sebentar?”
Alexi terkejut saat sosok Anjani tiba-tiba berdiri di hadapannya. Gloria baru saja meninggalkan kelas dan gadis itu langsung mengajaknya bicara empat mata. Tak hanya Alexi, tapi Ben dan Kemal pun ikut-ikutan heran dengan kelakuannya.
“ Di sini?”
“ Boleh saja, tapi aku lebih menghargai kalau kita mencari tempat lain.”
Alexi mengangguk. Ia menyorongkan semua peralatan tulisnya ke laci meja, lalu bergegas pergi. Baru saja ia akan melangkah keluar kelas, kedua sahabat Anjani datang menyela.
“ Wow, wow, wow, keberatan kami ikut?” ujar Kemal.
Mata Alexi melirik Anjani. Gadis itu hanya mengangkat bahu.
“ Ayo,” ujarnya.
Alexi menurut saja saat Anjani menuntunnya menuju gedung teater. Berbagai firasat muncul di benaknya, tapi setidaknya ia tidak akan berakhir menjadi mayat busuk oleh ketiga orang ini.
“ Jadi, Alexi,” Anjani tiba-tiba berhenti, kemudian berbalik. “ Apa kamu tahu apa yang terjadi dengan Wenda semalam?”
Alexi merasakan tatapan penuh curiga diarahkan dari Ben dan Kemal. Ia bahkan belum sempat membuka mulut saat Ben lebih dulu menyambar.
“ Kamu mengantarnya sampai rumah’kan?”
Saat tatapan Alexi beralih pada Kemal, laki-laki itu justru mengangkat tangannya.
“ Oke, aku gak bakal tanya apa pun. Jane, Ben, kalian seolah-olah sedang mengintrogerasi seorang penyelundup narkoba lintas Negara.”
“ Kemal, ini serius,” ujar Anjani. “ Alexi pasti tahu apa yang terjadi dengan Wenda karena aku yakin orang inilah yang bersama Wenda terakhir kalinya.”
“ Dan kalian mencurigai si culun ini telah membawa Wenda ke penadah organ tubuh?”
“ KEMAL!” akhirnya Anjani melepaskan emosinya. Ia menarik napas sebentar, lalu kembali menatap Alexi.
“ Katakan padaku, apa yang terjadi di antara kalian berdua semalam?”
Alexi masih membisu. Sampai terdengar desahan panjang.
“ Aku memang tidak mengantarnya pulang semalam, tapi aku sempat memastikan dia pulang ke rumah dengan selamat.”
“ Wow, Bro. Aturan mengajak gadis keluar adalah mengantarnya kembali dengan selamat. Bukan memastikannya pulang ke rumah,” sahut Kemal. “ Yah, kecuali kalian bertengkar semalam.”
Sudut bibir Alexi tertarik sedikit, “ Sayangnya, opsi kedua adalah yang terjadi pada kami semalam.”
Tak hanya Kemal, tapi Anjani dan Ben ikut-ikutan kaget. Mereka pun semakin penasaran dengan apa yang terjadi antara Alexi dan Wenda.
“ Lebih tepatnya dia yang marah padaku. Meski aku tidak mengerti awalnya kenapa dia marah padaku.”
“ Ceritakan!” ujar Anjani.
ooOoo
“ Tapi bisakah aku menjadi seseorang yang berarti untukmu. Sedikit saja.”
Alexi membisu. Ia hanya memandangi riasan wajah Wenda yang belum pudar.
“ Apa kamu gak menyadari semua ini, Al?”
“ Menyadari apa?”
“ Menyadari bahwa semua yang aku lakukan ini karena aku suka kamu.”
Wenda dan Alexi sama-sama tersentak kaget. Wenda terkejut karena dengan lancarnya ia mengatakan perasaannya, sedangkan Alexi terkejut karena pernyataan Wenda yang tiba-tiba.
Namun, Alexi kembali diam. Kebisuan ini membuat Wenda merasa akan meledak.
“ Al, aku…”
“ Hubungan kita seharusnya tak lebih dari malam ini, Wen. Sandiwara kita sudah ketahuan. Aku tidak bermaksud kasar, tapi… kupikir kita harus menyudahi semua ini.”
Mata Wenda mulai berkaca-kaca.
“ Kita kembali saja seperti sedia kala. Kamu dan aku hanya teman biasa.”
Wenda mendorong tubuh Alexi dengan kasar, “ Kamu jahat!”
“ Wenda!”
Terlambat bagi Alexi untuk mengejarnya. Gadis itu sudah lebih dulu menghilang dari pandangannya.
“ Astaga, kamu benar-benar lelaki yang dingin, Al,” ujar Nadia yang baru saja muncul. “ Dia baru saja menyatakan perasaannya padamu, tapi kamu seolah mengusirnya dari sini.”
Alexi menyisir rambutnya dengan frustasi, “ Lalu aku harus apa, Nad? Aku benar-benar tak mengerti wanita.”
“ Itu salahmu. Salahmu yang sudah menyalakan api dan bermain seakan-akan tidak akan terjadi kebakaran,” Nadia tersenyum sinis. “ Harusnya kamu gak usah bersandiwara seperti ini. Kamu―”
“ Gak usah salahin aku sekarang, Nad!” bentak Alexi. “ Ini juga salahmu! Kenapa kamu muncul sekarang? Kenapa kamu mau saja menuruti kemauan Ayahku?”
Kemarahan Alexi membuat Nadia menelan katanya bulat-bulat. Keduanya kini terbungkam oleh amarah masing-masing.
“ Kalau begitu kejar dia sekarang,” akhirnya Nadia membuka percakapan. “Setidaknya kamu tahu kalau baik-baik saja.”
Alexi menatap Nadia sesaat. Kemudian ia berlari menyusul Wenda. Perasaannya begitu campur aduk selama perjalanan menuju rumah gadis itu.
Alexi bingung, haruskah ia mengetuk pintu rumah gadis itu? Atau diam saja dan menunggu pagi datang? Rasanya Alexi lebih suka gagasan pertama. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertandang meski waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh.
Bukan Wenda, tapi perempuan yang Alexi duga adalah Ibu Wenda. Wanita itu tersenyum ramah sekaligus bingung saat menyambut kedatangan Alexi.
“ Maaf mengganggu, Bu. Saya cuma mau tanya apakah Wenda sudah pulang?”
“ Ah, ya. Dia baru saja masuk kamar. Ibu juga heran kenapa pulangnya gak bareng kamu ya?”
“ Ka—kami terlibat pertengkaran kecil,” Alexi tersenyum kecut. “ Saya datang ke sini cuma mau memastikan kalau Wenda sudah sampai di rumah dan baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi. Selamat malam.”
Alexi tersenyum kecil, lalu berbalik. Tiba-tiba ibunya Wenda mengatakan sesuatu yang membuat Alexi batal melangkah.
“ Maaf, tapi apa Adik ini pacarnya Wenda?”
Alexi diam sejenak, lalu kembali berbalik. “ Bukan, saya cuma temannya Wenda.”
ooOoo
Ben menarik kerah baju Alexi dengan geram. Ada kilatan amarah dari tatapan matanya. Anjani dan Kemal langsung tegang. Mereka takut terjadi perkelahian atau lebih tepatnya Alexi yang hanya akan jadi korban. Namun, reaksi Alexi masih tenang seperti semula.
“ Silakan kamu pukul aku. Aku gak bakal marah atau melawan. Aku tahu aku sudah menyakitinya, tapi itu lebih baik ketimbang dia yang terus-terusan berharap sama aku.”
“ Alexi benar, Ben,” ujar Kemal seraya menahan gerak tangan Ben. “ Kamu jangan emosian dulu.”
Ben masih terpaku, tapi kemudian ia melepaskan cengkramannya. Anjani dan Kemal bernapas lega saat Ben mengakui kekhilafannya.
“ Maaf, aku cuma kesal saja,” ujarnya dengan nada menyesal.
“ Yaah, sekarang apa?” sahut Anjani. “ Kita gak bisa diam aja’kan? Aku yakin Wenda lagi patah hati banget sekarang.”
“ Tapi langsung datang menghiburnya juga bukan keputusan yang bijak,” ujar Kemal. “ Bagaimana pun juga ini bukan urusan kita. Kita memang harus ada di sampingnya sekarang, tapi kita juga harus memikirkan cara yang tepat.”
Kemal melirik Anjani, “ Kayaknya kamu aja deh yang temui dia. Kalian’kan sama-sama cewek, kalau aku dan Ben ikut ke sana yang ada suasana tambah kacau.”
Anjani mendesah berat seraya mengangguk. Kemudian ia memandang Alexi.
“ Kami tidak menyalahkanmu, Al. Meski begitu ada baiknya kamu menjauhi Wenda nanti.”
“ Aku mengerti,” jawab Alexi seraya menghindar dari tatapan Ben. “ Sampaikan saja permintaan maafku padanya.”
Anjani mengangguk. Ia dan Kemal berangsur meninggalkan Alexi. Namun, Ben masih melempar tatapan tak suka pada laki-laki itu. Alexi masih memalingkan matanya. Ia tahu orang yang paling marah padanya saat ini adalah Ben.
“ Ben, ayo!”
Suara Anjani berhasil melepaskan Alexi dari kilatan amarah Ben. Laki-laki itu segera bergabung dengan teman-temannya.
Angin bulan Februari terasa begitu dingin saat menyapa Alexi. Desiran angin seolah membisikkan betapa beratnya dosa yang sudah ia lakukan. Mungkin sebentar lagi ia akan diterbangkan menuju jurang Tartarus.
Alexi berjalan gontai saat menuju kelas. Tak sengaja ia berpapasan dengan Priyanka yang baru saja kembali dari toilet. Gadis itu merasa aneh saat melihat raut wajah Alexi yang terlihat begitu lelah.
“ Gak enak badan, huh?” Priyanka mencoba membuka percakapan. “Atau mungkin capek setelah diinterogerasi?”
“ Kamu mengikuti kami?” tanya Alexi penuh curiga.
Priyanka buru-buru mengangkat tangannya, “ Whoops, aku bukan tipikal orang yang suka ikut campur. Aku hanya menebak dari gelagat kalian tadi.”
Si kacamata itu tak menyahut. Hanya terdengar hembusan napas yang berat.
“ Masalah Wenda?” tanya Priyanka lagi.
“ Kamu tahu?”
“ Hanya tahu, tapi tidak berminat untuk mencari tahu lebih jauh lagi.”
Mereka berdua sama-sama membisu. Ketika hampir mencapai ambang pintu, tiba-tiba Alexi menarik Priyanka untuk menjauhi kelas.
“ Bisa kamu tolong aku?”
Priyanka hanya menunjukkan pertanyaan lewat ekspresi wajahnya.
“ Bisa kamu ceritakan masalah yang sebenarnya pada Ririn. Aku merasa gara-gara masalah ini hubunganku dan Ririn jadi merenggang.”
“ Hmm, bisa saja sih,” Priyanka mengusap-usap dagunya. “ Tapi kenapa kamu tidak mengatakannya langsung?”
“ Sudah kubilang hubungan kami sedikit renggang. Menurutmu apa dia akan mendengarkan ceritaku?”
Priyanka mendesah panjang, “ Tapi kenapa harus dikasih tahu juga? Bukankah nanti juga dia akan tahu. Lagi pula tahu atau tidak dia soal masalah ini tidak akan mengubah keadaan.”
“ Kenapa kamu banyak tanya sih?” ujar Alexi dengan nada kesal.
Bukannya takut, Priyanka justru tersenyum aneh pada Alexi yang sedang merengut. Tak lama kemudian senyuman itu berubah menjadi tawa.
“ Apanya yang lucu, Ka?”
“ Ah, maaf, maaf. Aku hanya berpikir satu kemungkinan di kepalaku dan bagiku itu sangat lucu,” Priyanka berdeham untuk meredakan tawanya. “ Sekarang begini saja. Aku akan bertanya satu hal padamu dan setelah aku jamin setelah pertanyaan ini kamu jawab, aku gak bakal tanya-tanya hal yang menyangkut kamu, Ririn, atau Wenda.”
Alexi menunggu pertanyaan Priyanka dengan wajah menantang.
“ Jadi, Al. Sebenarnya kamu itu….”

please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar