Musikal 88
Anjani mendesah berat. Ia melirik tiga bangku kosong
yang berderet di sampingnya. Pertama Andani, lalu Ririn, kemudian menyusul
Wenda. Dua pemilik bangku yang ada di seberangnya sudah dipastikan absen karena
sakit, tapi gadis yang duduk di sampingnya? Hilang tanpa kabar. Ia tak mengirim
surat pada pihak sekolah atau mengabari dirinya lewat sms. Padahal biasanya
telat sedikit saja kedua sahabat ini akan saling mengirimi teks.
Apa gadis itu sakit
juga? Banyak spekulasi berputar-putar di kepala Anjani. Ada sedikit ketakutan
pada diri Anjani tentang ketidakhadiran mereka yang akan menular juga padanya.
“ Ada yang dapat
kabar dari Wenda?”
Anjani melihat kepala
Kemal menggeleng. Ia pun melakukan hal yang sama. Perhatian mereka sedikit
teralih oleh para siswa yang kembali ke kelas usai upacara. Tanpa sengaja mata
Anjani bertemu dengan Priyanka. Tatapan gadis itu jatuh pada bangku Wenda yang
kosong, lalu matanya beralih pada Anjani. Tersirat pertanyaan dari bola mata
gadis itu. Anjani hanya mengangkat bahu dan Priyanka mengangguk kecil.
Namun, Anjani menaruh
curiga saat Alexi mendesah panjang sambil melihat bangku itu. Tidak seperti
Priyanka, Alexi tak mencoba bertanya pada siapa pun. Ia langsung duduk dengan
ekspresi wajah yang sulit dijelaskan. Anjani pun teringat kalau orang yang terakhir
bersama Wenda adalah orang ini. Mungkin saja dia tahu sesuatu. Sayang, begitu
Wenda akan menghampiri bangkunya, Gloria keburu masuk dan memulai pelajaran.
Anjani terpaksa menunda niatnya sampai bel istirahat berbunyi.
ooOoo
“ Bisa minta waktumu sebentar?”
Alexi terkejut saat
sosok Anjani tiba-tiba berdiri di hadapannya. Gloria baru saja meninggalkan
kelas dan gadis itu langsung mengajaknya bicara empat mata. Tak hanya Alexi,
tapi Ben dan Kemal pun ikut-ikutan heran dengan kelakuannya.
“ Di sini?”
“ Boleh saja, tapi
aku lebih menghargai kalau kita mencari tempat lain.”
Alexi mengangguk. Ia
menyorongkan semua peralatan tulisnya ke laci meja, lalu bergegas pergi. Baru
saja ia akan melangkah keluar kelas, kedua sahabat Anjani datang menyela.
“ Wow, wow, wow,
keberatan kami ikut?” ujar Kemal.
Mata Alexi melirik
Anjani. Gadis itu hanya mengangkat bahu.
“ Ayo,” ujarnya.
Alexi menurut saja
saat Anjani menuntunnya menuju gedung teater. Berbagai firasat muncul di
benaknya, tapi setidaknya ia tidak akan berakhir menjadi mayat busuk oleh
ketiga orang ini.
“ Jadi, Alexi,”
Anjani tiba-tiba berhenti, kemudian berbalik. “ Apa kamu tahu apa yang terjadi
dengan Wenda semalam?”
Alexi merasakan tatapan
penuh curiga diarahkan dari Ben dan Kemal. Ia bahkan belum sempat membuka mulut
saat Ben lebih dulu menyambar.
“ Kamu mengantarnya
sampai rumah’kan?”
Saat tatapan Alexi
beralih pada Kemal, laki-laki itu justru mengangkat tangannya.
“ Oke, aku gak bakal
tanya apa pun. Jane, Ben, kalian seolah-olah sedang mengintrogerasi seorang
penyelundup narkoba lintas Negara.”
“ Kemal, ini serius,”
ujar Anjani. “ Alexi pasti tahu apa yang terjadi dengan Wenda karena aku yakin
orang inilah yang bersama Wenda terakhir kalinya.”
“ Dan kalian
mencurigai si culun ini telah membawa Wenda ke penadah organ tubuh?”
“ KEMAL!” akhirnya
Anjani melepaskan emosinya. Ia menarik napas sebentar, lalu kembali menatap
Alexi.
“ Katakan padaku, apa
yang terjadi di antara kalian berdua semalam?”
Alexi masih membisu.
Sampai terdengar desahan panjang.
“ Aku memang tidak
mengantarnya pulang semalam, tapi aku sempat memastikan dia pulang ke rumah
dengan selamat.”
“ Wow, Bro. Aturan mengajak gadis keluar adalah
mengantarnya kembali dengan selamat. Bukan memastikannya pulang ke rumah,”
sahut Kemal. “ Yah, kecuali kalian bertengkar semalam.”
Sudut bibir Alexi
tertarik sedikit, “ Sayangnya, opsi kedua adalah yang terjadi pada kami
semalam.”
Tak hanya Kemal, tapi
Anjani dan Ben ikut-ikutan kaget. Mereka pun semakin penasaran dengan apa yang
terjadi antara Alexi dan Wenda.
“ Lebih tepatnya dia
yang marah padaku. Meski aku tidak mengerti awalnya kenapa dia marah padaku.”
“ Ceritakan!” ujar
Anjani.
ooOoo
“
Tapi bisakah aku menjadi seseorang yang berarti untukmu. Sedikit saja.”
Alexi membisu. Ia hanya memandangi riasan wajah Wenda
yang belum pudar.
“ Apa kamu gak menyadari semua ini, Al?”
“ Menyadari apa?”
“ Menyadari bahwa semua yang aku lakukan ini karena
aku suka kamu.”
Wenda dan Alexi sama-sama tersentak kaget. Wenda
terkejut karena dengan lancarnya ia mengatakan perasaannya, sedangkan Alexi
terkejut karena pernyataan Wenda yang tiba-tiba.
Namun, Alexi kembali diam. Kebisuan ini membuat Wenda
merasa akan meledak.
“ Al, aku…”
“ Hubungan kita seharusnya tak lebih dari malam ini,
Wen. Sandiwara kita sudah ketahuan. Aku tidak bermaksud kasar, tapi… kupikir
kita harus menyudahi semua ini.”
Mata Wenda mulai berkaca-kaca.
“ Kita kembali saja seperti sedia kala. Kamu dan aku
hanya teman biasa.”
Wenda mendorong tubuh Alexi dengan kasar, “ Kamu
jahat!”
“ Wenda!”
Terlambat bagi Alexi untuk mengejarnya. Gadis itu
sudah lebih dulu menghilang dari pandangannya.
“ Astaga, kamu benar-benar lelaki yang dingin, Al,”
ujar Nadia yang baru saja muncul. “ Dia baru saja menyatakan perasaannya
padamu, tapi kamu seolah mengusirnya dari sini.”
Alexi menyisir rambutnya dengan frustasi, “ Lalu aku
harus apa, Nad? Aku benar-benar tak mengerti wanita.”
“ Itu salahmu. Salahmu yang sudah menyalakan api dan
bermain seakan-akan tidak akan terjadi kebakaran,” Nadia tersenyum sinis. “
Harusnya kamu gak usah bersandiwara seperti ini. Kamu―”
“ Gak usah salahin aku sekarang, Nad!” bentak Alexi. “
Ini juga salahmu! Kenapa kamu muncul sekarang? Kenapa kamu mau saja menuruti
kemauan Ayahku?”
Kemarahan Alexi membuat Nadia menelan katanya
bulat-bulat. Keduanya kini terbungkam oleh amarah masing-masing.
“ Kalau begitu kejar dia sekarang,” akhirnya Nadia
membuka percakapan. “Setidaknya kamu tahu kalau baik-baik saja.”
Alexi menatap Nadia sesaat. Kemudian ia berlari
menyusul Wenda. Perasaannya begitu campur aduk selama perjalanan menuju rumah
gadis itu.
Alexi bingung, haruskah ia mengetuk pintu rumah gadis
itu? Atau diam saja dan menunggu pagi datang? Rasanya Alexi lebih suka gagasan
pertama. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertandang meski waktu sudah
menunjukkan pukul sepuluh.
Bukan Wenda, tapi perempuan yang Alexi duga adalah Ibu
Wenda. Wanita itu tersenyum ramah sekaligus bingung saat menyambut kedatangan
Alexi.
“ Maaf mengganggu, Bu. Saya cuma mau tanya apakah
Wenda sudah pulang?”
“ Ah, ya. Dia baru saja masuk kamar. Ibu juga heran
kenapa pulangnya gak bareng kamu ya?”
“ Ka—kami terlibat pertengkaran kecil,” Alexi
tersenyum kecut. “ Saya datang ke sini cuma mau memastikan kalau Wenda sudah
sampai di rumah dan baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi. Selamat malam.”
Alexi tersenyum kecil, lalu berbalik. Tiba-tiba ibunya
Wenda mengatakan sesuatu yang membuat Alexi batal melangkah.
“ Maaf, tapi apa Adik ini pacarnya Wenda?”
Alexi diam sejenak, lalu kembali berbalik. “ Bukan,
saya cuma temannya Wenda.”
ooOoo
Ben menarik kerah baju Alexi dengan geram. Ada kilatan
amarah dari tatapan matanya. Anjani dan Kemal langsung tegang. Mereka takut
terjadi perkelahian atau lebih tepatnya Alexi yang hanya akan jadi korban.
Namun, reaksi Alexi masih tenang seperti semula.
“ Silakan kamu pukul
aku. Aku gak bakal marah atau melawan. Aku tahu aku sudah menyakitinya, tapi
itu lebih baik ketimbang dia yang terus-terusan berharap sama aku.”
“ Alexi benar, Ben,”
ujar Kemal seraya menahan gerak tangan Ben. “ Kamu jangan emosian dulu.”
Ben masih terpaku,
tapi kemudian ia melepaskan cengkramannya. Anjani dan Kemal bernapas lega saat
Ben mengakui kekhilafannya.
“ Maaf, aku cuma
kesal saja,” ujarnya dengan nada menyesal.
“ Yaah, sekarang
apa?” sahut Anjani. “ Kita gak bisa diam aja’kan? Aku yakin Wenda lagi patah
hati banget sekarang.”
“ Tapi langsung
datang menghiburnya juga bukan keputusan yang bijak,” ujar Kemal. “ Bagaimana
pun juga ini bukan urusan kita. Kita memang harus ada di sampingnya sekarang,
tapi kita juga harus memikirkan cara yang tepat.”
Kemal melirik Anjani,
“ Kayaknya kamu aja deh yang temui dia. Kalian’kan sama-sama cewek, kalau aku
dan Ben ikut ke sana yang ada suasana tambah kacau.”
Anjani mendesah berat
seraya mengangguk. Kemudian ia memandang Alexi.
“ Kami tidak
menyalahkanmu, Al. Meski begitu ada baiknya kamu menjauhi Wenda nanti.”
“ Aku mengerti,”
jawab Alexi seraya menghindar dari tatapan Ben. “ Sampaikan saja permintaan
maafku padanya.”
Anjani mengangguk. Ia
dan Kemal berangsur meninggalkan Alexi. Namun, Ben masih melempar tatapan tak
suka pada laki-laki itu. Alexi masih memalingkan matanya. Ia tahu orang yang
paling marah padanya saat ini adalah Ben.
“ Ben, ayo!”
Suara Anjani berhasil
melepaskan Alexi dari kilatan amarah Ben. Laki-laki itu segera bergabung dengan
teman-temannya.
Angin bulan Februari
terasa begitu dingin saat menyapa Alexi. Desiran angin seolah membisikkan
betapa beratnya dosa yang sudah ia lakukan. Mungkin sebentar lagi ia akan
diterbangkan menuju jurang Tartarus.
Alexi berjalan gontai
saat menuju kelas. Tak sengaja ia berpapasan dengan Priyanka yang baru saja
kembali dari toilet. Gadis itu merasa aneh saat melihat raut wajah Alexi yang
terlihat begitu lelah.
“ Gak enak badan,
huh?” Priyanka mencoba membuka percakapan. “Atau mungkin capek setelah
diinterogerasi?”
“ Kamu mengikuti
kami?” tanya Alexi penuh curiga.
Priyanka buru-buru
mengangkat tangannya, “ Whoops, aku bukan tipikal orang yang suka ikut campur.
Aku hanya menebak dari gelagat kalian tadi.”
Si kacamata itu tak
menyahut. Hanya terdengar hembusan napas yang berat.
“ Masalah Wenda?”
tanya Priyanka lagi.
“ Kamu tahu?”
“ Hanya tahu, tapi tidak
berminat untuk mencari tahu lebih jauh lagi.”
Mereka berdua
sama-sama membisu. Ketika hampir mencapai ambang pintu, tiba-tiba Alexi menarik
Priyanka untuk menjauhi kelas.
“ Bisa kamu tolong
aku?”
Priyanka hanya
menunjukkan pertanyaan lewat ekspresi wajahnya.
“ Bisa kamu ceritakan
masalah yang sebenarnya pada Ririn. Aku merasa gara-gara masalah ini hubunganku
dan Ririn jadi merenggang.”
“ Hmm, bisa saja
sih,” Priyanka mengusap-usap dagunya. “ Tapi kenapa kamu tidak mengatakannya
langsung?”
“ Sudah kubilang
hubungan kami sedikit renggang. Menurutmu apa dia akan mendengarkan ceritaku?”
Priyanka mendesah
panjang, “ Tapi kenapa harus dikasih tahu juga? Bukankah nanti juga dia akan
tahu. Lagi pula tahu atau tidak dia soal masalah ini tidak akan mengubah
keadaan.”
“ Kenapa kamu banyak
tanya sih?” ujar Alexi dengan nada kesal.
Bukannya takut,
Priyanka justru tersenyum aneh pada Alexi yang sedang merengut. Tak lama
kemudian senyuman itu berubah menjadi tawa.
“ Apanya yang lucu,
Ka?”
“ Ah, maaf, maaf. Aku
hanya berpikir satu kemungkinan di kepalaku dan bagiku itu sangat lucu,”
Priyanka berdeham untuk meredakan tawanya. “ Sekarang begini saja. Aku akan
bertanya satu hal padamu dan setelah aku jamin setelah pertanyaan ini kamu
jawab, aku gak bakal tanya-tanya hal yang menyangkut kamu, Ririn, atau Wenda.”
Alexi menunggu
pertanyaan Priyanka dengan wajah menantang.
“ Jadi, Al.
Sebenarnya kamu itu….”
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar