Total Tayangan Halaman

Jumat, 28 Oktober 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 91)




Musikal 91

Dave mengetuk-ngetuk naskah yang ia pegang. Ia merasa ada kejanggalan yang tertuang dalam ketikan panjang itu. Seperti ada adegan yang terlewatkan dan belum pernah mereka bawa latihan.
Adegan itu adalah adegan di mana Adrian alias Antony sedang merasa galau dengan perasaannya setelah bertemu Nayu di dalam pesta. Di saat itu Priyanka muncul membawakan balet solonya. Ia akan berperan seperti iblis yang membelokkan perasaan Adrian. Ia tak akan bicara sepatah kata pun, tapi akan merayu Antony dengan tariannya. Di sisi lain, Anjani juga akan muncul dengan nyanyian seriosanya. Ia akan duduk manis di sudut panggung. Sama seperti Priyanka, ia juga akan berperan sebagai iblis yang menggoda hati Antony. Mereka berdua akan bersifat tak kasat mata selama adegan itu berlangsung.
“ Kenapa adegan ini kita selalu tunda? Padahal kita sudah masuk adegan pesta dansa dan seharusnya adegan ini sudah digarap sejak lama.”
Dave pun mengajak Gloria dan Riani berunding sebelum sesi latihan dimulai.
“ Adegan ini sudah lama digarap. Hanya saja kami tidak pernah latihan campuran untuk adegan ini,” sahut Gloria.
“ Gloria benar, Dave,” ujar Riani. “ Aku sudah melatih Priyanka sejak lama. Anjani dan tim musik pun sudah Gloria persiapkan dengan matang.”
“ Masalahnya ada pada Tifa,” ujar Gloria sambil bersedekap. “ Latihan selama ini hanya terfokus pada latihan akting keponakanmu. Kami berdua hanya menurut saja apa yang dikatakan sutradara.”
Dave menghela napas panjang, “ Baiklah, kalau begitu. Hari ini kita garap adegan ini saja. Toh, keponakanku juga masih izin sakit. Lagi pula latihan sebentar pasti langsung selesai. Apalagi kalian bilang sudah lama menggarap masing-masing pemeran.”
Gloria dan Riani mengangguk. Mereka pun membubarkan diri.
“ Oh ya, bagaimana kabar Marinda?” tanya Riani sebelum kembali ke ruang guru.
“ Aku belum sempat ke sana, tapi kata kakak iparku kondisinya sudah mulai membaik. Mungkin besok baru bisa sekolah.”
Riani mengangguk, “ Kuharap dia cepat kembali. Perannya sangat esensial. Salam buat keponakan manismu itu.”
Gantian Dave yang mengangguk.
“ Oh iya, mumpung kamu oom-nya aku pengen bilang soal keponakan kamu,” Riani berdeham. “ Soal aktingnya.”
“ Ahh, itu. Ya, ya, ya, aku mengerti. Tifa sudah memeringatkan dan aku sudah melihatnya.”
“ Kupikir kamu perlu bicara dengannya, Dave.”
“ Sudah, tapi dia masih sulit mengerti dengan apa yang kumaksud. Kupikir dia bukannya tidak mengerti, tapi yaaah… ehem, gimana yah bilangnya.”
“ Dia belum pengalaman masalah cinta,” sahut Gloria yang tiba-tiba muncul dari samping Dave seraya membolak-balik naskah, lalu ia menatap Dave dan Riani bergantian. “ Benar begitu’kan?”
Riani terlihat seperti salah tingkah saat mata Gloria mengarah padanya. Wanita itu seperti mengetahui apa isi benaknya.
“ Ah, ya, begitulah. Keponakanku itu seperti gadis kuno saja. Di zaman sekarang masa dia belum pernah punya pengalaman seperti itu. Yaah, walaupun belum pernah pacaran, setidaknya dia pernah merasakan apa yang namanya jatuh cinta.”
“ Itu tandanya anak baik,” Gloria tersenyum sinis pada Dave. “ Memangnya seperti oom-nya yang… ah, gak jadi.”
“ Apa?” raut wajah Dave terlihat sangat ingin tahu.
Gloria terkekeh, “ Ada deeeh.”
ooOoo
Latihan pun dimulai. Sebelum pemanasan dimulai Dave memberikan taklimat kepada semua anggota tim, khususnya Adrian, Priyanka, Anjani, dan tim musik. Dave memberitahu mereka bahwa latihan hari ini dikhusukan untuk adegan musikal saja. 
Setelah pemanasan, Priyanka sibuk dengan sepatu baletnya. Ia sedikit gugup karena Dave tiba-tiba mengumumkan bahwa penampilan solonya akan ditampilkan hari ini. Tak hanya dia, perasaan Riani pun ikut tak menentu. Sedari tadi ia sibuk mengingatkan hal-hal yang harus dilakukan oleh Priyanka.
“ Pokoknya lakukan saja seperti latihan kita,” ujar Riani. “ Ingat, jangan sampai tanganmu menyentuh Adrian.”
Priyanka mengangguk. Tak lama kemudian Dave pun memberikan aba-aba padanya agar segera bersiap di atas panggung. Dave memberi kode pada tim musik. Ketiga Musai itu langsung memainkan musik. Anjani masuk lebih dulu, disusul dengan kemunculan Priyanka. Saat Anjani memulai adegan dengan suara mautnya, Priyanka pun mulai merayu Adrian yang sedang menjadi Antony.
Tarian Priyanka benar-benar memabukkan. Ia seolah-olah sedang menarik tokoh Antony itu pada jurang penuh dosa. Belum lagi suara Anjani yang diiringi alunan musik dari Alexi, Hiro, dan Jiro. Suasana terkesan mistik, tapi menggoda.
Adegan itu ditutup setelah Anjani menyelesaikan lagunya. Bersamaan dengan itu Priyanka pun menghilang ke sudut kiri panggung. Tokoh Antony pun tersadar dari iblis yang menggoda hatinya.
Para anggota yang menonton baru tersadar adegan itu berakhir ketika Dave meneriakkan kata “cut”. Hanya dua setengah menit, tapi adegan barusan benar-benar menyerap perhatian penonton. Mereka seperti dibawa pada suasana mistis yang menggetarkan bulu roma.
“ Oke, cukup dulu. Sekarang kembali ke tim masing-masing.”
Priyanka meminta izin untuk membasahi tenggorokannya yang dahaga. Ia menarik napas dalam-dalam setelah menghabiskan setengah dari air minumnya. Adegan solonya itu benar-benar menghabiskan tenaganya.
“ Tadi itu bagus. Aku tidak mengerti kenapa dulu kamu masih memakai cara curang untuk menyingkirkan Wenda.”
Priyanka menoleh dan mendapati orang yang menegurnya adalah Kemal. Laki-laki itu melemparkan senyuman yang sulit ia artikan. Priyanka baru saja mau menjawab, tapi laki-laki itu sudah keburu kembali ke kelompoknya. Ia perhatikan laki-laki itu sejenak. Namun, perhatiannya tersita saat Riani memanggil namanya. Ia harus segera bergegas kembali ke timnya.
Namun, Priyanka tak tahu kalau Kemal membalas tatapannya saat ia matanya berpaling.

Auhtor’s Note:
Salahkan suara Yamada Ryosuke dan petikan gitar Okamoto Keito sehingga adegan ini terasa manis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar