Musikal 91
Dave mengetuk-ngetuk naskah yang ia pegang. Ia merasa
ada kejanggalan yang tertuang dalam ketikan panjang itu. Seperti ada adegan
yang terlewatkan dan belum pernah mereka bawa latihan.
Adegan itu adalah
adegan di mana Adrian alias Antony sedang merasa galau dengan perasaannya
setelah bertemu Nayu di dalam pesta. Di saat itu Priyanka muncul membawakan balet
solonya. Ia akan berperan seperti iblis yang membelokkan perasaan Adrian. Ia
tak akan bicara sepatah kata pun, tapi akan merayu Antony dengan tariannya. Di
sisi lain, Anjani juga akan muncul dengan nyanyian seriosanya. Ia akan duduk
manis di sudut panggung. Sama seperti Priyanka, ia juga akan berperan sebagai
iblis yang menggoda hati Antony. Mereka berdua akan bersifat tak kasat mata
selama adegan itu berlangsung.
“ Kenapa adegan ini
kita selalu tunda? Padahal kita sudah masuk adegan pesta dansa dan seharusnya
adegan ini sudah digarap sejak lama.”
Dave pun mengajak Gloria
dan Riani berunding sebelum sesi latihan dimulai.
“ Adegan ini sudah
lama digarap. Hanya saja kami tidak pernah latihan campuran untuk adegan ini,”
sahut Gloria.
“ Gloria benar,
Dave,” ujar Riani. “ Aku sudah melatih Priyanka sejak lama. Anjani dan tim
musik pun sudah Gloria persiapkan dengan matang.”
“ Masalahnya ada pada
Tifa,” ujar Gloria sambil bersedekap. “ Latihan selama ini hanya terfokus pada
latihan akting keponakanmu. Kami berdua hanya menurut saja apa yang dikatakan
sutradara.”
Dave menghela napas
panjang, “ Baiklah, kalau begitu. Hari ini kita garap adegan ini saja. Toh, keponakanku juga masih izin sakit.
Lagi pula latihan sebentar pasti langsung selesai. Apalagi kalian bilang sudah
lama menggarap masing-masing pemeran.”
Gloria dan Riani
mengangguk. Mereka pun membubarkan diri.
“ Oh ya, bagaimana
kabar Marinda?” tanya Riani sebelum kembali ke ruang guru.
“ Aku belum sempat ke
sana, tapi kata kakak iparku kondisinya sudah mulai membaik. Mungkin besok baru
bisa sekolah.”
Riani mengangguk, “
Kuharap dia cepat kembali. Perannya sangat esensial. Salam buat keponakan
manismu itu.”
Gantian Dave yang
mengangguk.
“ Oh iya, mumpung
kamu oom-nya aku pengen bilang soal keponakan kamu,” Riani berdeham. “ Soal
aktingnya.”
“ Ahh, itu. Ya, ya,
ya, aku mengerti. Tifa sudah memeringatkan dan aku sudah melihatnya.”
“ Kupikir kamu perlu
bicara dengannya, Dave.”
“ Sudah, tapi dia
masih sulit mengerti dengan apa yang kumaksud. Kupikir dia bukannya tidak
mengerti, tapi yaaah… ehem, gimana yah bilangnya.”
“ Dia belum
pengalaman masalah cinta,” sahut Gloria yang tiba-tiba muncul dari samping Dave
seraya membolak-balik naskah, lalu ia menatap Dave dan Riani bergantian. “
Benar begitu’kan?”
Riani terlihat
seperti salah tingkah saat mata Gloria mengarah padanya. Wanita itu seperti
mengetahui apa isi benaknya.
“ Ah, ya, begitulah.
Keponakanku itu seperti gadis kuno saja. Di zaman sekarang masa dia belum
pernah punya pengalaman seperti itu. Yaah, walaupun belum pernah pacaran,
setidaknya dia pernah merasakan apa yang namanya jatuh cinta.”
“ Itu tandanya anak
baik,” Gloria tersenyum sinis pada Dave. “ Memangnya seperti oom-nya yang… ah,
gak jadi.”
“ Apa?” raut wajah
Dave terlihat sangat ingin tahu.
Gloria terkekeh, “
Ada deeeh.”
ooOoo
Latihan pun dimulai. Sebelum pemanasan dimulai Dave
memberikan taklimat kepada semua anggota tim, khususnya Adrian, Priyanka,
Anjani, dan tim musik. Dave memberitahu mereka bahwa latihan hari ini
dikhusukan untuk adegan musikal saja.
Setelah pemanasan,
Priyanka sibuk dengan sepatu baletnya. Ia sedikit gugup karena Dave tiba-tiba
mengumumkan bahwa penampilan solonya akan ditampilkan hari ini. Tak hanya dia,
perasaan Riani pun ikut tak menentu. Sedari tadi ia sibuk mengingatkan hal-hal
yang harus dilakukan oleh Priyanka.
“ Pokoknya lakukan
saja seperti latihan kita,” ujar Riani. “ Ingat, jangan sampai tanganmu
menyentuh Adrian.”
Priyanka mengangguk.
Tak lama kemudian Dave pun memberikan aba-aba padanya agar segera bersiap di
atas panggung. Dave memberi kode pada tim musik. Ketiga Musai itu langsung
memainkan musik. Anjani masuk lebih dulu, disusul dengan kemunculan Priyanka.
Saat Anjani memulai adegan dengan suara mautnya, Priyanka pun mulai merayu
Adrian yang sedang menjadi Antony.
Tarian Priyanka
benar-benar memabukkan. Ia seolah-olah sedang menarik tokoh Antony itu pada
jurang penuh dosa. Belum lagi suara Anjani yang diiringi alunan musik dari
Alexi, Hiro, dan Jiro. Suasana terkesan mistik, tapi menggoda.
Adegan itu ditutup
setelah Anjani menyelesaikan lagunya. Bersamaan dengan itu Priyanka pun
menghilang ke sudut kiri panggung. Tokoh Antony pun tersadar dari iblis yang
menggoda hatinya.
Para anggota yang
menonton baru tersadar adegan itu berakhir ketika Dave meneriakkan kata “cut”. Hanya dua setengah menit, tapi
adegan barusan benar-benar menyerap perhatian penonton. Mereka seperti dibawa
pada suasana mistis yang menggetarkan bulu roma.
“ Oke, cukup dulu.
Sekarang kembali ke tim masing-masing.”
Priyanka meminta izin
untuk membasahi tenggorokannya yang dahaga. Ia menarik napas dalam-dalam
setelah menghabiskan setengah dari air minumnya. Adegan solonya itu benar-benar
menghabiskan tenaganya.
“ Tadi itu bagus. Aku
tidak mengerti kenapa dulu kamu masih memakai cara curang untuk menyingkirkan
Wenda.”
Priyanka menoleh dan
mendapati orang yang menegurnya adalah Kemal. Laki-laki itu melemparkan
senyuman yang sulit ia artikan. Priyanka baru saja mau menjawab, tapi laki-laki
itu sudah keburu kembali ke kelompoknya. Ia perhatikan laki-laki itu sejenak.
Namun, perhatiannya tersita saat Riani memanggil namanya. Ia harus segera
bergegas kembali ke timnya.
Namun, Priyanka tak
tahu kalau Kemal membalas tatapannya saat ia matanya berpaling.
Auhtor’s Note:
Salahkan suara Yamada Ryosuke dan
petikan gitar Okamoto Keito sehingga adegan ini terasa manis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar