Musikal 92
Ririn merapatkan jaketnya. Tak lupa memasang masker di
wajahnya. Hari ini adalah hari perdananya masuk sekolah pascasakit. Demamnya
sudah reda, tapi batuk dan bersinnya masih setia menempeli tubuhnya. Mamanya
berpesan agar dia jangan terlalu banyak terpapar angin dan polusi, makanya
sebelum pergi ia dibekali jaket dan masker.
Saat ia akan memasuki
gerbang sekolah, ia dikejutkan dengan sebuah sepeda yang berhenti mendadak di
hadapannya. Ririn menatap sosok pengendara sepeda itu. Seharusnya tanpa melihat
siapa, ia juga sudah tahu kalau orang itu adalah Alexi.
Alexi membuka
maskernya, lalu tersenyum. Mau tidak mau Ririn juga membuka maskernya juga dan
membalas senyuman itu.
“ Long time no see.”
Ririn hanya menjawab
dengan tersenyum lagi.
Alexi tak bertanya
lagi. Mereka hanya saling bertukar pandang. Seolah bertukar banyak kata-kata
lewat tatapan mereka. Orang-orang di sekitar mereka sibuk berlalu-lalang, tapi
waktu sengaja berhenti hanya untuk mereka berdua.
“ Senang melihatmu
kembali.”
Meski tidak
ditekankan, tapi kata ‘kembali’ yang diucapkan Alexi terasa ambigu di telinga Ririn.
Kembali ke sekolah atau ‘kembali’ dalam maksud lain?
Ririn buru-buru
menghapus opini kedua. Tiba-tiba saja ia merasa malu telah memikirkan sesuatu
yang bisa membuatnya terbawa perasaan.
“ Mau ke kelas
bareng?” tawar Ririn.
“ Tentu, mana mungkin
bisa aku tolak.”
Tampaknya Alexi sudah
membuat mantra baru.
ooOoo
“ Udah masuk, Wen?”
Wenda hanya melirik
sebal pada Ben yang menegurnya.
“ Kalo orang negur
dibales kali,” sahut Kemal seraya bersandar di atas meja.
“ Kalian berdua cuma
mau ngeledek aku, iya’kan?”
Ben dan Kemal saling
bertukar pandang. Mereka berdua tampak keheranan. Tak lama kemudian Anjani
datang. Perhatian mereka pun teralih pada gadis itu.
“ Yo, Jane,” sapa
Ben.
Anjani membalas
dengan senyuman tipis. Namun, saat matanya bertemu dengan Wenda, ia langsung
melengos. Sepertinya ia masih kesal gara-gara kejadian kemarin. Anjani bukanlah
Andani yang bisa meredam emosi. Ia sama saja seperti Wenda, sama-sama cepat
panas kalau sedang berselisih dan tidak mau mengalah. Mungkin karena masih
memendam api emosi, Anjani sengaja melewatkan tempat duduknya dan memilih duduk
di barisan belakang.
Kemal baru saja mau
berseru kalau Anjani salah tempat duduk, tapi ia urungkan. Sepertinya ia paham
dengan gelagat kedua gadis yang sedang bersiteru.
“ Kayaknya kita gak
usah tegur sana-sini, Ben,” bisik Kemal. “ Suasana panas banget.”
Ben mendesah panjang.
Namun, ia pun bersungut-sungut kembali ke tempat duduknya.
Melihat Anjani tidak
duduk di sampingnya, Wenda pun jadi semakin kesal. Ia pun bergegas meninggalkan
tempat duduknya. Ben dan Kemal hanya bisa mengikuti Wenda lewat lirikan mata.
Sayangnya, begitu
Wenda sampai di ambang pintu ia bertemu dengan dua orang yang sedang ia tidak
ingin temui. Siapa lagi kalau bukan Alexi dan Ririn.
ooOoo
Alexi tak lagi duduk di atas pedalnya, ia justru
memilih untuk menenteng sepedanya dan berjalan bersisian dengan si gadis ikal.
Rasanya sudah lama sekali mereka tidak ngobrol seakrab ini.
“ Kita jadi kembar
ya.”
Ririn menatap Alexi
heran. Laki-laki itu menunjuk-nunjuk masker yang menempel di wajahnya. Mengerti
dengan lelucon itu, Ririn jadi tertawa.
“ Sudah lama tak
mendengar tawamu.”
Tawa Ririn seketika
padam. Ia buru-buru menaikkan masker agar menutupi rona di wajahnya.
Tak ada percakapan
lagi. Mereka berdua hanya terus berjalan menuju tempat parkir. Alexi meminta
Ririn menunggu sebentar karena ia ingin mengunci sepedanya.
“ Hei, emm… aku sudah
dengar cerita sebenarnya,” Ririn terbatuk saat akan melanjutkan kalimatnya,
lalu menurunkan maskernya. “ Antara kamu dan Wenda.”
Tangan Alexi yang
sedang cekatan mengunci sepedanya seketika terhenti. Perhatiannya kini terfokus
pada si gadis ikal.
“ Aku gak marah, tapi
yaa… aku memang sempat salah paham sama kalian.”
Alexi kembali
menyelesaikan pekerjaannya. Setelah ia selesai mengunci sepedanya, ia berdiri
di hadapan gadis ini.
“ Lalu?”
“ Hmm, sebenarnya
sebelum itu Wenda pernah cerita sama aku kalau dia memang suka sama kamu. Dia
bilang mau pendekatan sama kamu dan yaah… dia pengen lebih serius sama kamu,
makanya aku agak menghindar akhir-akhir ini.”
Ada senyuman aneh
tergurat di wajah Alexi dan itu membuat Ririn keheranan.
“ Kok muka kamu
gitu?”
“ Habisnya kamu aneh
banget deh. Masa kamu rela menghindar dari aku gara-gara Wenda suka sama aku?”
“ Yaaa… yaa… aku cuma
mau bantuin dia aja kok,” Ririn menggaruk-garuk kepalanya. “ Kupikir dia merasa
sedikit terganggu dengan kedekatan kita.”
Alexi tertawa
sakartis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, “ Kamu polos banget sih,” ujar
Alexi seraya berjalan melewati Ririn.
Ririn tak berkomentar
apa pun, ia hanya mengikuti langkah Alexi. Tiba-tiba saja langkah Alexi
berhenti dan berbalik.
“ Tapi semua sudah
berakhir dan kita bisa seperti dulu lagi’kan?”
Ririn menatap Alexi
cukup lama. Kemudian ia mengangguk mantap.
“ Oh ya, aku juga
dengar kamu sudah menolak Wenda. Menurutmu apa itu tidak terlalu kejam?”
“ Kupikir aku memang harus
kejam sekarang,” Alexi menarik napas panjang. “Daripada aku menggantungkan
perasaannya terus-menerus. Menurutmu mana yang lebih kejam?”
Ririn mengangkat bahunya
ragu-ragu, “ Yaaah, aku tidak bisa menyalahkanmu juga sih.”
Alexi tersenyum
tipis. Mereka pun sama-sama kembali menuju kelas.
“ Ngomong-ngomong
bagaimana kabar gadis cantik yang waktu itu? Eh, siapa namanya? Nadia, ya?”
“ Ya, dia sudah
kembali ke Bandung kemarin,” Alexi tersenyum jahil. “ Kenapa, kamu cemburu juga
sama dia?”
“ Cemburu? Sama dia?”
giliran Ririn yang tertawa sakartis. “ Dia gak pantas aku cemburui. Aku gak
kenal dia dan…”
Alis Alexi sedikit
tertarik ke atas, “ Dan?”
“ Dan aku gak punya
sisi lebih yang bisa aku bandingkan supaya aku bisa cemburu sama dia.”
Ririn mengucapkannya
dalam satu helaan napas. Seketika gurat senyum jahil di wajah Alexi menghilang
seraya berganti dengan seulas senyuman hangat. Merasa dirinya diperhatikan,
Ririn kembali menaikkan maskernya.
“ Kita lupakan saja,”
ujar Alexi.
Ririn mengangguk
sambil menurunkan kembali maskernya, “ Ya, kita lupakan saja.”
Keduanya sampai di ambang
kelas. Langkah keduanya terhenti saat ada seorang gadis hampir menabrak mereka.
Gadis itu terkejut, keduanya pun demikian. Suasana pagi itu seketika berubah
tegang.
ooOoo
Ririn tak bisa mengelak dari tatapan Wenda. Badannya
seketika kaku. Ia hanya berani melirik Alexi, tapi laki-laki itu sama
tegangnya. Mungkin mereka semua belum siap untuk saling bertemu pagi ini.
“ Ririn!”
Suara Priyanka
terdengar riang. Gadis itu terlihat baru datang dan dengan lincahnya langsung
menggamit lengannya.
“ Udah sehat kamu? Eh
ya, aku tebak kamu belum buat PR Bahasa Indonesia’kan? Aku juga belum. Buat
bareng yuk.”
Tanpa menghiraukan
keberadaan Alexi dan Wenda, Priyanka langsung menarik Ririn bersamanya. Entah
sengaja atau tidak, tapi Ririn sangat bersyukur dengan kehadiran gadis ini.
Setidaknya ia terlepas dari suasana yang kaku seperti tadi.
“ Makasih, Ka,” bisik
Ririn.
Priyanka mengedipkan
sebelah matanya. Ririn pun bernapas lega. Ternyata Priyanka memang sengaja
melakukannya.
“ Hai, Rin. Udah
sehat nih?” sapa Ben.
“ Ini berangsur
membaik,” jawab Ririn sambil tersenyum.
“ Waaah, akhirnya,
Mal. Ada juga yang balas sapaanku dengan senyuman manis.”
Kemal dan Ben
tertawa. Mata Ririn bergantian mengamati kedua laki-laki itu. Namun,
perhatiannya tiba-tiba tertuju pada sebuah tas yang ditaruh paksa pada bangku
di sebelahnya. Saat Ririn menoleh, ia mendapati Anjani sudah menduduki bangku
itu.
“ Boleh kan aku duduk
di sini?”
Bagaimana mungkin
Ririn bisa menolak, toh orangnya saja
sudah duduk di sana. Meski diliputi rasa bingung, tapi Ririn hanya
menganggukkan kepalanya.
Sementara suasana di
luar kelas masih terasa canggung. Mereka bingung, apakah mau bicara atau saling
melewatkan saja. Kejadian kemarin membuat keduanya seperti orang asing yang
baru saling berkenalan.
“ Kupikir kita memang
harus bicara lagi,” ujar Alexi yang memulai percakapan. “Masalah di antara kita
harus dibicarakan sampai selesai.”
“ Kamu mau bicara
sekarang? Di sini?”
Baik Wenda, maupun
Alexi sama-sama mendengar suara bel masuk berbunyi. Keduanya tampak paham bahwa
sekarang bukanlah waktu yang tepat.
“ Kita punya banyak
waktu saat pulang sekolah nanti,” ujar Alexi.
“ Kenapa tidak saat
istirahat saja?” desak Wenda,
“ Mungkin pembicaraan
kita akan berakhir dengan tidak mengenakkan. Aku tidak mau kosentrasi belajarmu
hilang setelah istirahat nanti.”
Alexi langsung
melewati gadis itu dan masuk ke kelas. Merasa dirinya baru saja diabaikan,
emosi Wenda pun kembali memuncak. Sayang, ia tak bisa melampiaskannya sekarang.
Ia pun menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk menahan semuanya sampai bel
pulang berbunyi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar