Total Tayangan Halaman

Jumat, 28 Oktober 2016

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 92)




Musikal 92

Ririn merapatkan jaketnya. Tak lupa memasang masker di wajahnya. Hari ini adalah hari perdananya masuk sekolah pascasakit. Demamnya sudah reda, tapi batuk dan bersinnya masih setia menempeli tubuhnya. Mamanya berpesan agar dia jangan terlalu banyak terpapar angin dan polusi, makanya sebelum pergi ia dibekali jaket dan masker.
Saat ia akan memasuki gerbang sekolah, ia dikejutkan dengan sebuah sepeda yang berhenti mendadak di hadapannya. Ririn menatap sosok pengendara sepeda itu. Seharusnya tanpa melihat siapa, ia juga sudah tahu kalau orang itu adalah Alexi.
Alexi membuka maskernya, lalu tersenyum. Mau tidak mau Ririn juga membuka maskernya juga dan membalas senyuman itu.
Long time no see.
Ririn hanya menjawab dengan tersenyum lagi.
Alexi tak bertanya lagi. Mereka hanya saling bertukar pandang. Seolah bertukar banyak kata-kata lewat tatapan mereka. Orang-orang di sekitar mereka sibuk berlalu-lalang, tapi waktu sengaja berhenti hanya untuk mereka berdua.
“ Senang melihatmu kembali.”
Meski tidak ditekankan, tapi kata ‘kembali’ yang diucapkan Alexi terasa ambigu di telinga Ririn. Kembali ke sekolah atau ‘kembali’ dalam maksud lain?
Ririn buru-buru menghapus opini kedua. Tiba-tiba saja ia merasa malu telah memikirkan sesuatu yang bisa membuatnya terbawa perasaan.
“ Mau ke kelas bareng?” tawar Ririn.
“ Tentu, mana mungkin bisa aku tolak.”
Tampaknya Alexi sudah membuat mantra baru.
ooOoo
“ Udah masuk, Wen?”
Wenda hanya melirik sebal pada Ben yang menegurnya.
“ Kalo orang negur dibales kali,” sahut Kemal seraya bersandar di atas meja.
“ Kalian berdua cuma mau ngeledek aku, iya’kan?”
Ben dan Kemal saling bertukar pandang. Mereka berdua tampak keheranan. Tak lama kemudian Anjani datang. Perhatian mereka pun teralih pada gadis itu.
“ Yo, Jane,” sapa Ben.
Anjani membalas dengan senyuman tipis. Namun, saat matanya bertemu dengan Wenda, ia langsung melengos. Sepertinya ia masih kesal gara-gara kejadian kemarin. Anjani bukanlah Andani yang bisa meredam emosi. Ia sama saja seperti Wenda, sama-sama cepat panas kalau sedang berselisih dan tidak mau mengalah. Mungkin karena masih memendam api emosi, Anjani sengaja melewatkan tempat duduknya dan memilih duduk di barisan belakang.
Kemal baru saja mau berseru kalau Anjani salah tempat duduk, tapi ia urungkan. Sepertinya ia paham dengan gelagat kedua gadis yang sedang bersiteru.
“ Kayaknya kita gak usah tegur sana-sini, Ben,” bisik Kemal. “ Suasana panas banget.”
Ben mendesah panjang. Namun, ia pun bersungut-sungut kembali ke tempat duduknya.
Melihat Anjani tidak duduk di sampingnya, Wenda pun jadi semakin kesal. Ia pun bergegas meninggalkan tempat duduknya. Ben dan Kemal hanya bisa mengikuti Wenda lewat lirikan mata.
Sayangnya, begitu Wenda sampai di ambang pintu ia bertemu dengan dua orang yang sedang ia tidak ingin temui. Siapa lagi kalau bukan Alexi dan Ririn.
ooOoo
Alexi tak lagi duduk di atas pedalnya, ia justru memilih untuk menenteng sepedanya dan berjalan bersisian dengan si gadis ikal. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak ngobrol seakrab ini.
“ Kita jadi kembar ya.”
Ririn menatap Alexi heran. Laki-laki itu menunjuk-nunjuk masker yang menempel di wajahnya. Mengerti dengan lelucon itu, Ririn jadi tertawa.
“ Sudah lama tak mendengar tawamu.”
Tawa Ririn seketika padam. Ia buru-buru menaikkan masker agar menutupi rona di wajahnya.
Tak ada percakapan lagi. Mereka berdua hanya terus berjalan menuju tempat parkir. Alexi meminta Ririn menunggu sebentar karena ia ingin mengunci sepedanya.
“ Hei, emm… aku sudah dengar cerita sebenarnya,” Ririn terbatuk saat akan melanjutkan kalimatnya, lalu menurunkan maskernya. “ Antara kamu dan Wenda.”
Tangan Alexi yang sedang cekatan mengunci sepedanya seketika terhenti. Perhatiannya kini terfokus pada si gadis ikal.
“ Aku gak marah, tapi yaa… aku memang sempat salah paham sama kalian.”
Alexi kembali menyelesaikan pekerjaannya. Setelah ia selesai mengunci sepedanya, ia berdiri di hadapan gadis ini.
“ Lalu?”
“ Hmm, sebenarnya sebelum itu Wenda pernah cerita sama aku kalau dia memang suka sama kamu. Dia bilang mau pendekatan sama kamu dan yaah… dia pengen lebih serius sama kamu, makanya aku agak menghindar akhir-akhir ini.”
Ada senyuman aneh tergurat di wajah Alexi dan itu membuat Ririn keheranan.
“ Kok muka kamu gitu?”
“ Habisnya kamu aneh banget deh. Masa kamu rela menghindar dari aku gara-gara Wenda suka sama aku?”
“ Yaaa… yaa… aku cuma mau bantuin dia aja kok,” Ririn menggaruk-garuk kepalanya. “ Kupikir dia merasa sedikit terganggu dengan kedekatan kita.”
Alexi tertawa sakartis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, “ Kamu polos banget sih,” ujar Alexi seraya berjalan melewati Ririn.
Ririn tak berkomentar apa pun, ia hanya mengikuti langkah Alexi. Tiba-tiba saja langkah Alexi berhenti dan berbalik.
“ Tapi semua sudah berakhir dan kita bisa seperti dulu lagi’kan?”
Ririn menatap Alexi cukup lama. Kemudian ia mengangguk mantap.
“ Oh ya, aku juga dengar kamu sudah menolak Wenda. Menurutmu apa itu tidak terlalu kejam?”
“ Kupikir aku memang harus kejam sekarang,” Alexi menarik napas panjang. “Daripada aku menggantungkan perasaannya terus-menerus. Menurutmu mana yang lebih kejam?”
Ririn mengangkat bahunya ragu-ragu, “ Yaaah, aku tidak bisa menyalahkanmu juga sih.”
Alexi tersenyum tipis. Mereka pun sama-sama kembali menuju kelas.
“ Ngomong-ngomong bagaimana kabar gadis cantik yang waktu itu? Eh, siapa namanya? Nadia, ya?”
“ Ya, dia sudah kembali ke Bandung kemarin,” Alexi tersenyum jahil. “ Kenapa, kamu cemburu juga sama dia?”
“ Cemburu? Sama dia?” giliran Ririn yang tertawa sakartis. “ Dia gak pantas aku cemburui. Aku gak kenal dia dan…”
Alis Alexi sedikit tertarik ke atas, “ Dan?”
“ Dan aku gak punya sisi lebih yang bisa aku bandingkan supaya aku bisa cemburu sama dia.”
Ririn mengucapkannya dalam satu helaan napas. Seketika gurat senyum jahil di wajah Alexi menghilang seraya berganti dengan seulas senyuman hangat. Merasa dirinya diperhatikan, Ririn kembali menaikkan maskernya.
“ Kita lupakan saja,” ujar Alexi.
Ririn mengangguk sambil menurunkan kembali maskernya, “ Ya, kita lupakan saja.”
Keduanya sampai di ambang kelas. Langkah keduanya terhenti saat ada seorang gadis hampir menabrak mereka. Gadis itu terkejut, keduanya pun demikian. Suasana pagi itu seketika berubah tegang.
ooOoo
Ririn tak bisa mengelak dari tatapan Wenda. Badannya seketika kaku. Ia hanya berani melirik Alexi, tapi laki-laki itu sama tegangnya. Mungkin mereka semua belum siap untuk saling bertemu pagi ini.
“ Ririn!”
Suara Priyanka terdengar riang. Gadis itu terlihat baru datang dan dengan lincahnya langsung menggamit lengannya.
“ Udah sehat kamu? Eh ya, aku tebak kamu belum buat PR Bahasa Indonesia’kan? Aku juga belum. Buat bareng yuk.”
Tanpa menghiraukan keberadaan Alexi dan Wenda, Priyanka langsung menarik Ririn bersamanya. Entah sengaja atau tidak, tapi Ririn sangat bersyukur dengan kehadiran gadis ini. Setidaknya ia terlepas dari suasana yang kaku seperti tadi.
“ Makasih, Ka,” bisik Ririn.
Priyanka mengedipkan sebelah matanya. Ririn pun bernapas lega. Ternyata Priyanka memang sengaja melakukannya.
“ Hai, Rin. Udah sehat nih?” sapa Ben.
“ Ini berangsur membaik,” jawab Ririn sambil tersenyum.
“ Waaah, akhirnya, Mal. Ada juga yang balas sapaanku dengan senyuman manis.”
Kemal dan Ben tertawa. Mata Ririn bergantian mengamati kedua laki-laki itu. Namun, perhatiannya tiba-tiba tertuju pada sebuah tas yang ditaruh paksa pada bangku di sebelahnya. Saat Ririn menoleh, ia mendapati Anjani sudah menduduki bangku itu.
“ Boleh kan aku duduk di sini?”
Bagaimana mungkin Ririn bisa menolak, toh orangnya saja sudah duduk di sana. Meski diliputi rasa bingung, tapi Ririn hanya menganggukkan kepalanya.
Sementara suasana di luar kelas masih terasa canggung. Mereka bingung, apakah mau bicara atau saling melewatkan saja. Kejadian kemarin membuat keduanya seperti orang asing yang baru saling berkenalan.
“ Kupikir kita memang harus bicara lagi,” ujar Alexi yang memulai percakapan. “Masalah di antara kita harus dibicarakan sampai selesai.”
“ Kamu mau bicara sekarang? Di sini?”
Baik Wenda, maupun Alexi sama-sama mendengar suara bel masuk berbunyi. Keduanya tampak paham bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat.
“ Kita punya banyak waktu saat pulang sekolah nanti,” ujar Alexi.
“ Kenapa tidak saat istirahat saja?” desak Wenda,
“ Mungkin pembicaraan kita akan berakhir dengan tidak mengenakkan. Aku tidak mau kosentrasi belajarmu hilang setelah istirahat nanti.”
Alexi langsung melewati gadis itu dan masuk ke kelas. Merasa dirinya baru saja diabaikan, emosi Wenda pun kembali memuncak. Sayang, ia tak bisa melampiaskannya sekarang. Ia pun menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk menahan semuanya sampai bel pulang berbunyi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar