Total Tayangan Halaman

Jumat, 14 Oktober 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 86)



 

Musikal 86

Malam pertama latihan tanpa Ririn. Meski terkadang akting gadis itu terasa sangat kurang, tapi ketidakhadirannya justru membuat semua orang kerepotan. Ririn adalah pemeran penting yang kemunculannya hampir selalu diiringi musik. Oleh karena itu, tim musik hampir nganggur malam ini.
Dave memutar otaknya, agar latihan malam mereka tidak percuma. Ia pun memutuskan untuk mengurangi jatah latihan tim akting dan memperbanyak latihan tim tari. Ia juga melebihkan latihan adegan-adegan dimana Ririn tidak ada di dalamnya.
“ Rasanya sepi sekali ya. Andani chan tidak ada, Miss Tifa tidak ada, dan sekarang Ririn chan juga sakit,” komentar Hiro.
Jiro mengangguk setuju, “ Latihan kita jadi hambar.”
Alexi hanya melirik dua Hasegawa yang sedang bercakap-cakap. Di dalam hatinya ia membenarkan apa yang dikatakan dua orang itu. Andai rasanya ia tak memiliki tanggung jawab di sini, mungkin ia juga akan melewatkan latihan malamnya.
Dave memberikan waktu lima belas menit untuk mereka beristirahat. Sementara itu, ia beserta Riani dan Gloria berunding untuk menentukan penggarapan selanjutnya. Priyanka menggunakan waktu istirahat itu untuk mengisi botol airnya. Ketika ia sedang menunggu botolnya penuh, tanpa sengaja ia mendengar percakapan antara Fi dan Adrian.
“ Sayang banget ya, di saat kita sangat membutuhkan kehadirannya, anak itu malah gak masuk.”
Penasaran dengan pembicaraan mereka, Priyanka pun diam-diam mengintip. Terlihat Fi tersenyum sinis.
“ Kamu pasti senang’kan, Adrian?”
“ Kamu bicara apa, Fi? Bukannya aku sudah janji akan mengatakan semuanya pada Ririn, tapi mana kita tahu kalau dia gak masuk hari ini.”
“ Sudahlah, Adrian. Terbaca jelas di wajahmu, kalau kamu sangat senang menunda pengakuanmu pada gadis itu.”
Adrian mendesah panjang, “ Aku cuma gak mau menyakitinya, Fi.”
“ Tapi kamu menyakitiku!”
“ Fi, sudah kubilang hubunganku dengannya hanya sebatas kakak-adik.”
“ Hentikan!” Fi merentangkan kelima jarinya. “ Sudah cukup hubungan antara kalian. Entah itu hanya kakak-adik atau sebatas teman.”
“ Kenapa kamu benci dia, Fi?” Adrian melipat tangan di depan dada. “ Rasanya dia tidak pernah berbuat jahat pada siapa pun. Apalagi padamu.”
‘ Karena jika aku lengah sedikit saja, maka gadis itu akan merebut semua hal yang seharusnya jadi milikku.’
Tapi Fi tak akan pernah mengatakan hal itu pada Adrian. Ia tahu, semua orang menyukai gadis itu. Kepolosannya, keramahannya adalah sesuatu yang tidak dapat Fi lakukan. Belum lagi sikap Tifa yang selalu memposisikan Ririn di tempat utama. Tentu masih lekat sebuah pertanyaan di pikiran semua orang, tentang kenapa Ririn harus ditransfer di tim akting. Tifa adalah orang yang berpengalaman dan ia pasti tidak akan memilih tim akting jika orang itu memang tidak berbakat. Jika dugaan Fi benar, maka di balik kepolosan gadis itu tersimpan bakat yang luar biasa. Bakat yang suatu saat mungkin saja akan menglengserkan posisinya.
Belum lagi hubungan kekerabatan gadis itu di masa lalu. Ayah dan Oom-nya adalah pendahulu di LM. Ayahnya adalah mantan kekasih ibunya Adrian. Di satu sisi, mungkin saja Tifa lebih menyukai jika hubungan Adrian dan Ririn bisa lekat seperti ayah-ibunya. Belum lagi ada desas-desus bahwa Oom-nya yang bule itu adalah mantan Tifa. Hal ini membuat Fi semakin ketar-ketir.
“ Aku tidak benci dia. Aku cuma… cuma… terlalu cemburu. Habisnya kamu dipuja banyak orang dan aku takut kehilangan kamu.”
“ Kamu berlebihan, Fi,” Adrian tertawa kecil seraya merangkul kekasihnya. “ Kamu tenang aja, aku cuma ada untukmu.”
Fi memperat pelukannya. Ia benar-benar takut kehilangan laki-laki itu. Namun, mereka harus berpisah saat ponsel Adrian berdering. Layar ponsel laki-laki itu menunjukkan nama Tifa. Itu artinya Adrian harus segera mengangkatnya sebelum rentetan omelan panjang menjadi pembuka pembicaraan mereka.
“ Mau sampai kapan kamu di situ?”
Priyanka tertangkap basah. Mau tidak mau ia menunjukkan batang hidungnya. Ia harus setenang mungkin ketika menghadapi mata Fi yang begitu mengintimidasi.
“ Sudah berapa lama kamu di sana?”
“ Mungkin sejak awal kalian berbicara,” Priyanka mengangkat bahu. “ Awalnya aku tidak berniat melakukannya. Aku hanya ingin mengisi botol airku.”
Fi melipat tangannya di depan dada, “ Sepertinya ada yang mau kamu sampaikan.”
Priyanka menghela napas, “ Ya, tapi aku minta maaf sebelumnya. Aku tahu ini bukan urusanku.
“ Aku… aku hanya ingin kamu tidak benar-benar melakukan itu. Kamu tahu’kan kalau itu akan menyakiti Ririn dan juga Adrian sendiri.”
“ Aku harus. Gadis itu akan semakin gencar mendekati Adrian jika aku tak melakukannya.”
“ Kamu terlalu obsesi,” Priyanka mendengus pendek. “ Ah, tidak. Kupikir kamu takut dengan gadis itu.”
Fi maju dengan berang. Matanya menatap Priyanka nyalang.
“ Jaga bicaramu! Kamu pikir kamu sedang bicara dengan siapa?’
“ Kuperingatkan padamu, Fi. Karma itu lebih pedih daripada ketika kamu menyakiti orang lain.”
“ Hooo, sudah pandai menasehati orang ya,” sindir Fi. “ Bicara soal karma, bukankah seseorang juga pernah mengalaminya.”
“ Aku bicara seperti ini karena aku tahu rasanya karma itu. Fi, aku hanya tidak mau kamu kena pedihnya karma.”
“ Aku permisi,” tutup Priyanka seraya meninggalkan Fi sendirian.
Ekor mata Fi mengikuti gerak langkah Priyanka. Karma? Tidak, ia tidak melakukan sebuah kejahatan. Ia hanya ingin menegaskan apa yang ia miliki. Ia tidak sama dengan gadis itu.
ooOoo
Priyanka menghembuskan napasnya dengan kesal. Amarahnya hampir saja meluap saat ia berhadapan dengan Fi beserta sindiran-sindiran pedasnya. Ingin rasanya ia menjampikan semua sumpah serapahnya. Namun, untungnya semua itu masih bisa ia tahan.
Ia sengaja keluar dari gedung supaya bisa meringankan isi kepalanya lewat hembusan angin malam. Setelah dirasa cukup, Priyanka berniat kembali ke dalam. Namun, saat tubuhnya berbalik, ia hampir saja menabrak Kemal yang ada di belakangnya.
Mereka saling bertukar pandang, tapi tak sepatah kata pun terucap. Kemal melewatinya dan Priyanka pun meneruskan niatnya untuk kembali ke dalam. Langkahnya tiba-tiba berhenti ketika hati kecilnya memaksa agar ia mengatakan sesuatu.  Priyanka kembali berbalik dan mendapati laki-laki itu sedang memunggunginya.
“ Emm, terima kasih atas pertolonganmu waktu itu.”
Tak ada jawaban.
“ Aku tahu ini sangat terlambat dan… aku juga berterima kasih pada temanmu, Ben.”
Masih tak ada respon. Prinyaka pun mulai merasa serba salah.
“ Yaah, aku tahu kamu dan Ben membenciku dan tidak masalah buatku. Hanya saja aku benar-benar bersyukur kalian masih mau datang menolongku. Aku minta maaf karena sudah melibatkan kalian dan juga….”
Priyanka menarik napas panjang. Hembusan angin malam seolah membuat jarak antara dia dan laki-laki itu.
“ Sampaikan permintaan maafku pada Wenda. Aku ingin mengatakan langsung padanya, tapi dia benar-benar muak padaku. Kuharap kamu masih mau menolongku.”
Satu detik. Dua detik. Pada detik berikutnya Priyanka memilih kembali ke dalam. Percuma saja menunggu. Telinga laki-laki itu seperti sudah tuli.
“ Bisa saja, tapi tidak sekarang.”
Langkah Priyanka kembali terhenti. Ia memutar kakinya. Di saat yang bersamaan laki-laki itu juga menoleh padanya. Mereka kembali beradu pandang.
“ Terima―”
“ Dia sedang dalam masalah sekarang.”
Spontan Priyanka merasa bingung. Keningnya refleks berkerut.
“ Wenda? Masalah apa?”
Kemal terdiam beberapa saat. Ia sedang memikirkan kata-kata apa yang pantas untuk ia ucapkan.
“ Dia terlibat dalam permainan setan.”
Kerutan di kening Priyanka semakin menebal. Permainan setan? Apa jangan-jangan….
“ Yang jelas dia bukan main jelangkung jika itu yang kamu pikirkan.”
Kemal terkekeh. Priyanka pun membuang mukanya. Ia malu karena sudah berpikir sama seperti yang Kemal katakan barusan.
Keheningan pun tercipta di antara mereka, sampai Kemal kembali membuka suara.
“ Seandainya kamu sedang menyukai seseorang, apa kamu rela menjadi pacar pura-pura orang itu?”
Pertanyaan aneh. Priyanka tak langsung menjawab. Namun, belum sempat ia memikirkan jawabannya, Kemal kembali menimpali.
“ Itu yang dihadapi Wenda saat ini.”
Priyanka mengangguk paham. Jadi itu yang dimaksud dengan ‘permainan setan’.
“ Aku memang suka mempermainkan wanita, tapi aku gak suka kalau temanku sendiri yang dipermainkan. Sayang, Wenda sendiri yang memulai permainan ini.”
“ Maksud kamu, Wenda yang minta jadi pacar pura-pura cowok itu?”
Kemal memalingkan wajahnya, “ Andai dia bilang kalau dia yang diminta, mungkin saat ini aku sudah memukul wajah laki-laki itu. Sayang, kali ini Wenda yang meminta.”
“ Waah, kalau ini sih rumit banget,” keluh Priyanka sambil bersedekap. “ Apa kalian gak memeringatkan dia tentang konsekuensinya bermain dengan perasaan sendiri?”
“ Anjani yang sesama perempuan saja tidak didengarkan, apalagi aku yang selalu dicapnya sebagai pembohong. Aku memang belum bilang apa-apa, tapi rasanya percuma. Toh, dia sangat menikmati posisinya saat ini.”
“ Kupikir salah satu dari kalian harus memeringatkannya dengan keras. Setahuku Wenda bukanlah orang yang gampang dibujuk. Ibaratnya tunggu kaki kesandung dulu, baru jalan hati-hati.”
“ Ya kamu benar,” Kemal tertawa renyah. “ Ternyata kita sepemikiran ya.”
Priyanka hanya tersenyum kecil. Keduanya sama-sama membisu. Membiarkan angin malam memberikan jeda pada percakapan mereka.
“ Terima kasih.”
Priyanka tersentak kaget, “ Buat apa?”
“ Sudah mendengarkan keluhanku.”
“ Ooh, itu,” Priyanka tertawa garing, lalu ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “ Tapi aku juga mau berterima kasih padamu.”
“ Hoo, mau balas-balasan terima kasih nih ceritanya?” ujar Kemal dengan nada menggoda.
“ Eh, bu—bukan itu maksudku,” Priyanka berdeham supaya tak terdengar salah tingkah. “ A—aku hanya tidak menyangka kalau… eheem, kalau kamu masih mau berbicara padaku setelah insiden itu.”
Kemal tersenyum sambil bersedekap, “ Aku, Ben, dan Anjani memang marah padamu, tapi kupikir sudah saatnya untuk memaafkan. Lagi pula yang bermasalah itu kamu dan Wenda. Biarlah itu menjadi urusanmu dan Wenda.”
Priyanka tertegun cukup lama. Kata-kata Kemal mampu menenangkan hatinya, bahkan lebih ampuh daripada lambaian angin malam.
“ Kamu baik-baik aja?”
Suara Kemal menyadarkan Priyanka. Gadis itu menunggingkan senyuman sebagai pengganti rasa terkejutnya.
“ Ternyata kamu cowok yang baik ya,” Priyanka kembali berdeham. “ Tapi yah, terlepas ketika kamu lagi gombalin cewek.”
“ Kamu juga kalo lagi gak marah-marah ternyata cantik juga.”
Wajah Priyanka seketika memanas. Terlebih saat Kemal tertawa lepas.
“ Aku tarik lagi ucapanku! Kamu bukan cowok baik. Kamu cuma cowok gombal!”
Priyanka menghentakkan kaki dengan gusar, lalu masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. Ketika gadis itu lenyap di balik pintu, barulah tawa Kemal berhenti.
“ Tapi aku tak akan menarik kata-kataku.”

Please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar