Musikal 86
Malam pertama latihan tanpa Ririn. Meski terkadang
akting gadis itu terasa sangat kurang, tapi ketidakhadirannya justru membuat
semua orang kerepotan. Ririn adalah pemeran penting yang kemunculannya hampir
selalu diiringi musik. Oleh karena itu, tim musik hampir nganggur malam ini.
Dave memutar otaknya,
agar latihan malam mereka tidak percuma. Ia pun memutuskan untuk mengurangi
jatah latihan tim akting dan memperbanyak latihan tim tari. Ia juga melebihkan
latihan adegan-adegan dimana Ririn tidak ada di dalamnya.
“ Rasanya sepi sekali
ya. Andani chan tidak ada, Miss Tifa tidak ada, dan sekarang Ririn chan juga sakit,” komentar Hiro.
Jiro mengangguk
setuju, “ Latihan kita jadi hambar.”
Alexi hanya melirik
dua Hasegawa yang sedang bercakap-cakap. Di dalam hatinya ia membenarkan apa
yang dikatakan dua orang itu. Andai rasanya ia tak memiliki tanggung jawab di
sini, mungkin ia juga akan melewatkan latihan malamnya.
Dave memberikan waktu
lima belas menit untuk mereka beristirahat. Sementara itu, ia beserta Riani dan
Gloria berunding untuk menentukan penggarapan selanjutnya. Priyanka menggunakan
waktu istirahat itu untuk mengisi botol airnya. Ketika ia sedang menunggu
botolnya penuh, tanpa sengaja ia mendengar percakapan antara Fi dan Adrian.
“ Sayang banget ya,
di saat kita sangat membutuhkan kehadirannya, anak itu malah gak masuk.”
Penasaran dengan
pembicaraan mereka, Priyanka pun diam-diam mengintip. Terlihat Fi tersenyum
sinis.
“ Kamu pasti senang’kan,
Adrian?”
“ Kamu bicara apa,
Fi? Bukannya aku sudah janji akan mengatakan semuanya pada Ririn, tapi mana
kita tahu kalau dia gak masuk hari ini.”
“ Sudahlah, Adrian.
Terbaca jelas di wajahmu, kalau kamu sangat senang menunda pengakuanmu pada
gadis itu.”
Adrian mendesah
panjang, “ Aku cuma gak mau menyakitinya, Fi.”
“ Tapi kamu
menyakitiku!”
“ Fi, sudah kubilang
hubunganku dengannya hanya sebatas kakak-adik.”
“ Hentikan!” Fi
merentangkan kelima jarinya. “ Sudah cukup hubungan antara kalian. Entah itu
hanya kakak-adik atau sebatas teman.”
“ Kenapa kamu benci
dia, Fi?” Adrian melipat tangan di depan dada. “ Rasanya dia tidak pernah
berbuat jahat pada siapa pun. Apalagi padamu.”
‘ Karena jika aku lengah sedikit saja, maka gadis itu
akan merebut semua hal yang seharusnya jadi milikku.’
Tapi Fi tak akan
pernah mengatakan hal itu pada Adrian. Ia tahu, semua orang menyukai gadis itu.
Kepolosannya, keramahannya adalah sesuatu yang tidak dapat Fi lakukan. Belum
lagi sikap Tifa yang selalu memposisikan Ririn di tempat utama. Tentu masih
lekat sebuah pertanyaan di pikiran semua orang, tentang kenapa Ririn harus
ditransfer di tim akting. Tifa adalah orang yang berpengalaman dan ia pasti
tidak akan memilih tim akting jika orang itu memang tidak berbakat. Jika dugaan
Fi benar, maka di balik kepolosan gadis itu tersimpan bakat yang luar biasa.
Bakat yang suatu saat mungkin saja akan menglengserkan posisinya.
Belum lagi hubungan
kekerabatan gadis itu di masa lalu. Ayah dan Oom-nya adalah pendahulu di LM.
Ayahnya adalah mantan kekasih ibunya Adrian. Di satu sisi, mungkin saja Tifa
lebih menyukai jika hubungan Adrian dan Ririn bisa lekat seperti ayah-ibunya.
Belum lagi ada desas-desus bahwa Oom-nya yang bule itu adalah mantan Tifa. Hal
ini membuat Fi semakin ketar-ketir.
“ Aku tidak benci
dia. Aku cuma… cuma… terlalu cemburu. Habisnya kamu dipuja banyak orang dan aku
takut kehilangan kamu.”
“ Kamu berlebihan,
Fi,” Adrian tertawa kecil seraya merangkul kekasihnya. “ Kamu tenang aja, aku
cuma ada untukmu.”
Fi memperat
pelukannya. Ia benar-benar takut kehilangan laki-laki itu. Namun, mereka harus
berpisah saat ponsel Adrian berdering. Layar ponsel laki-laki itu menunjukkan
nama Tifa. Itu artinya Adrian harus segera mengangkatnya sebelum rentetan
omelan panjang menjadi pembuka pembicaraan mereka.
“ Mau sampai kapan
kamu di situ?”
Priyanka tertangkap
basah. Mau tidak mau ia menunjukkan batang hidungnya. Ia harus setenang mungkin
ketika menghadapi mata Fi yang begitu mengintimidasi.
“ Sudah berapa lama
kamu di sana?”
“ Mungkin sejak awal
kalian berbicara,” Priyanka mengangkat bahu. “ Awalnya aku tidak berniat
melakukannya. Aku hanya ingin mengisi botol airku.”
Fi melipat tangannya
di depan dada, “ Sepertinya ada yang mau kamu sampaikan.”
Priyanka menghela
napas, “ Ya, tapi aku minta maaf sebelumnya. Aku tahu ini bukan urusanku.
“ Aku… aku hanya
ingin kamu tidak benar-benar melakukan itu. Kamu tahu’kan kalau itu akan
menyakiti Ririn dan juga Adrian sendiri.”
“ Aku harus. Gadis
itu akan semakin gencar mendekati Adrian jika aku tak melakukannya.”
“ Kamu terlalu
obsesi,” Priyanka mendengus pendek. “ Ah, tidak. Kupikir kamu takut dengan
gadis itu.”
Fi maju dengan
berang. Matanya menatap Priyanka nyalang.
“ Jaga bicaramu! Kamu
pikir kamu sedang bicara dengan siapa?’
“ Kuperingatkan
padamu, Fi. Karma itu lebih pedih daripada ketika kamu menyakiti orang lain.”
“ Hooo, sudah pandai
menasehati orang ya,” sindir Fi. “ Bicara soal karma, bukankah seseorang juga
pernah mengalaminya.”
“ Aku bicara seperti
ini karena aku tahu rasanya karma itu. Fi, aku hanya tidak mau kamu kena
pedihnya karma.”
“ Aku permisi,” tutup
Priyanka seraya meninggalkan Fi sendirian.
Ekor mata Fi
mengikuti gerak langkah Priyanka. Karma? Tidak, ia tidak melakukan sebuah
kejahatan. Ia hanya ingin menegaskan apa yang ia miliki. Ia tidak sama dengan
gadis itu.
ooOoo
Priyanka menghembuskan napasnya dengan kesal.
Amarahnya hampir saja meluap saat ia berhadapan dengan Fi beserta
sindiran-sindiran pedasnya. Ingin rasanya ia menjampikan semua sumpah
serapahnya. Namun, untungnya semua itu masih bisa ia tahan.
Ia sengaja keluar
dari gedung supaya bisa meringankan isi kepalanya lewat hembusan angin malam.
Setelah dirasa cukup, Priyanka berniat kembali ke dalam. Namun, saat tubuhnya
berbalik, ia hampir saja menabrak Kemal yang ada di belakangnya.
Mereka saling
bertukar pandang, tapi tak sepatah kata pun terucap. Kemal melewatinya dan
Priyanka pun meneruskan niatnya untuk kembali ke dalam. Langkahnya tiba-tiba
berhenti ketika hati kecilnya memaksa agar ia mengatakan sesuatu. Priyanka kembali berbalik dan mendapati
laki-laki itu sedang memunggunginya.
“ Emm, terima kasih
atas pertolonganmu waktu itu.”
Tak ada jawaban.
“ Aku tahu ini sangat
terlambat dan… aku juga berterima kasih pada temanmu, Ben.”
Masih tak ada respon.
Prinyaka pun mulai merasa serba salah.
“ Yaah, aku tahu kamu
dan Ben membenciku dan tidak masalah buatku. Hanya saja aku benar-benar
bersyukur kalian masih mau datang menolongku. Aku minta maaf karena sudah
melibatkan kalian dan juga….”
Priyanka menarik napas
panjang. Hembusan angin malam seolah membuat jarak antara dia dan laki-laki
itu.
“ Sampaikan
permintaan maafku pada Wenda. Aku ingin mengatakan langsung padanya, tapi dia
benar-benar muak padaku. Kuharap kamu masih mau menolongku.”
Satu detik. Dua detik.
Pada detik berikutnya Priyanka memilih kembali ke dalam. Percuma saja menunggu.
Telinga laki-laki itu seperti sudah tuli.
“ Bisa saja, tapi
tidak sekarang.”
Langkah Priyanka
kembali terhenti. Ia memutar kakinya. Di saat yang bersamaan laki-laki itu juga
menoleh padanya. Mereka kembali beradu pandang.
“ Terima―”
“ Dia sedang dalam
masalah sekarang.”
Spontan Priyanka
merasa bingung. Keningnya refleks berkerut.
“ Wenda? Masalah
apa?”
Kemal terdiam
beberapa saat. Ia sedang memikirkan kata-kata apa yang pantas untuk ia ucapkan.
“ Dia terlibat dalam
permainan setan.”
Kerutan di kening
Priyanka semakin menebal. Permainan setan?
Apa jangan-jangan….
“ Yang jelas dia
bukan main jelangkung jika itu yang kamu pikirkan.”
Kemal terkekeh.
Priyanka pun membuang mukanya. Ia malu karena sudah berpikir sama seperti yang
Kemal katakan barusan.
Keheningan pun
tercipta di antara mereka, sampai Kemal kembali membuka suara.
“ Seandainya kamu
sedang menyukai seseorang, apa kamu rela menjadi pacar pura-pura orang itu?”
Pertanyaan aneh.
Priyanka tak langsung menjawab. Namun, belum sempat ia memikirkan jawabannya,
Kemal kembali menimpali.
“ Itu yang dihadapi
Wenda saat ini.”
Priyanka mengangguk
paham. Jadi itu yang dimaksud dengan ‘permainan setan’.
“ Aku memang suka
mempermainkan wanita, tapi aku gak suka kalau temanku sendiri yang
dipermainkan. Sayang, Wenda sendiri yang memulai permainan ini.”
“ Maksud kamu, Wenda
yang minta jadi pacar pura-pura cowok itu?”
Kemal memalingkan
wajahnya, “ Andai dia bilang kalau dia yang diminta, mungkin saat ini aku sudah
memukul wajah laki-laki itu. Sayang, kali ini Wenda yang meminta.”
“ Waah, kalau ini sih
rumit banget,” keluh Priyanka sambil bersedekap. “ Apa kalian gak memeringatkan
dia tentang konsekuensinya bermain dengan perasaan sendiri?”
“ Anjani yang sesama
perempuan saja tidak didengarkan, apalagi aku yang selalu dicapnya sebagai
pembohong. Aku memang belum bilang apa-apa, tapi rasanya percuma. Toh, dia sangat menikmati posisinya saat
ini.”
“ Kupikir salah satu
dari kalian harus memeringatkannya dengan keras. Setahuku Wenda bukanlah orang
yang gampang dibujuk. Ibaratnya tunggu kaki kesandung dulu, baru jalan
hati-hati.”
“ Ya kamu benar,”
Kemal tertawa renyah. “ Ternyata kita sepemikiran ya.”
Priyanka hanya
tersenyum kecil. Keduanya sama-sama membisu. Membiarkan angin malam memberikan
jeda pada percakapan mereka.
“ Terima kasih.”
Priyanka tersentak
kaget, “ Buat apa?”
“ Sudah mendengarkan
keluhanku.”
“ Ooh, itu,” Priyanka
tertawa garing, lalu ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “ Tapi aku
juga mau berterima kasih padamu.”
“ Hoo, mau
balas-balasan terima kasih nih ceritanya?” ujar Kemal dengan nada menggoda.
“ Eh, bu—bukan itu
maksudku,” Priyanka berdeham supaya tak terdengar salah tingkah. “ A—aku hanya
tidak menyangka kalau… eheem, kalau kamu masih mau berbicara padaku setelah
insiden itu.”
Kemal tersenyum
sambil bersedekap, “ Aku, Ben, dan Anjani memang marah padamu, tapi kupikir
sudah saatnya untuk memaafkan. Lagi pula yang bermasalah itu kamu dan Wenda.
Biarlah itu menjadi urusanmu dan Wenda.”
Priyanka tertegun
cukup lama. Kata-kata Kemal mampu menenangkan hatinya, bahkan lebih ampuh
daripada lambaian angin malam.
“ Kamu baik-baik
aja?”
Suara Kemal
menyadarkan Priyanka. Gadis itu menunggingkan senyuman sebagai pengganti rasa
terkejutnya.
“ Ternyata kamu cowok
yang baik ya,” Priyanka kembali berdeham. “ Tapi yah, terlepas ketika kamu lagi
gombalin cewek.”
“ Kamu juga kalo lagi
gak marah-marah ternyata cantik juga.”
Wajah Priyanka
seketika memanas. Terlebih saat Kemal tertawa lepas.
“ Aku tarik lagi
ucapanku! Kamu bukan cowok baik. Kamu cuma cowok gombal!”
Priyanka menghentakkan
kaki dengan gusar, lalu masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. Ketika gadis itu
lenyap di balik pintu, barulah tawa Kemal berhenti.
“ Tapi aku tak akan menarik
kata-kataku.”
Please
comment and share

Tidak ada komentar:
Posting Komentar