Musikal 89
Ririn menelan pil terakhirnya dengan susah payah.
Sebelumnya ia tak pernah kesulitan menelan butiran-butiran obat. Namun,
ingatannya tiba-tiba saja melayang pada kejadian tadi pagi. Hal itulah yang
membuat pil itu terasa menyangkut di tenggorokannya.
Tidak ada angin,
tidak ada hujan, tiba-tiba saja Wenda datang ke rumahnya. Ririn merasa aneh
dengan kedatangan gadis itu. Jika memang gadis itu berniat menjenguk maka tidak
mungkin ia akan datang pagi-pagi. Kecurigaan Ririn benar adanya ketika Wenda
menyapanya dengan kata-kata yang mengejutkan.
“ Aku sudah mengatakannya pada Alexi semalam dan dia
bilang iya. Sekarang kami jadian.”
“ O—oh, selamat,” Ririn menyembunyikan rasa
terkejutnya dengan senyuman kaku.
“ Aku harap kamu gak cemburu.”
Ririn menggeleng pelan.
“ Syukurlah, kalau begitu. Ya sudah, aku cuma mau
kabarin itu aja. Semoga cepat sembuh, Rin.”
Ririn benar-benar
merasa kedatangan Wenda adalah sesuatu hal tidak penting. Buat apa coba dia
mengabarkan hal itu padanya. Toh,
pada akhirnya dia juga pasti akan tahu. Lagi pula ia tidak pernah merasa
sedekat itu dengan Wenda. Ia bukan Anjani, Ben, atau Kemal yang bisa diajak
berbagi hal-hal semacam ini.
Ririn memegang
keningnya. Panasnya sudah mulai mereda. Namun, kepalanya kembali terasa pusing.
Sepertinya kedatangan Wenda tadi pagi membuat penyakit semakin parah. Padahal
sebelum itu ia sudah merasa lebih baik.
“ Rin, ada teman kamu
lagi nunggu di ruang tamu,” suara mamanya memecah lamunan gadis itu
‘ Astagaaa, siapa lagi?’ keluh Ririn. Saat
ini ia sedang menjadi pasien. Harusnya ia tak banyak-banyak menerima tamu.
Ogah-ogahan Ririn pun menemui tamunya.
Ia cukup terkejut
saat sosok Priyanka menyapanya dengan senyuman. Ririn balas tersenyum.
Akhir-akhir ini Priyanka mulai dekat dengannya. Sejak insiden ia pingsan di
kelas, rasanya gadis ini lebih mengkhawatirkan dirinya ketimbang Andani.
“ Bagaimana keadaanmu
sekarang? Kira-kira kapan masuk sekolah?”
“ Sudah lebih baik,”
Ririn berdeham kecil. “ Secepatnya. Maunya sih besok sudah bisa masuk, tapi
kalau pusingku belum hilang kemungkinan baru lusa.”
“ Waah, parah juga.
Flu zaman sekarang memang ganas.”
Ririn mengangguk
pelan, “ Ngomong-ngomong, kamu ke sini ada perlu sesuatu atau hanya sekadar
menjenguk?”
Priyanka tersenyum
penuh selidik. Matanya tiba-tiba memandangi ke seluruh penjuru ruangan.
“ Ada hal yang hanya
ingin kubicarakan empat mata denganmu. Apa di sini ada tempat bicara pribadi?”
Ririn mulai merasa
jengah. ‘ Apa lagi ini?’
ooOoo
Anjani memijat keningnya. Ia merasa persoalan antara
Wenda-Alexi lebih sulit daripada soal trigonometri yang tadi pagi ia pelajari.
Kenyataan Wenda hanya membolos dan ada di rumah membuat hatinya sedikit lega,
tapi kelegaannya berubah menjadi kemarahan saat mendengar cerita sahabatnya.
“ Jadi, kamu memilih
bolos dan pergi ke rumah Ririn, lalu bilang yang enggak-enggak sama anak itu?
Astaga, Wen. Kamu mikir apa sih?”
Wenda tak menjawab.
Ia hanya membenamkan kepalanya di dalam bantal. Melihat tingkah laku gadis ini,
Anjani hanya bisa mendesah panjang untuk meredakan amarahnya.
“ Sebenarnya apa sih
yang kamu inginkan, Wen?”
“ Aku cuma pengen
jadi pacarnya Alexi,” jawab Wenda dari balik bantalnya.
“ Iya, tapi gak gitu
caranya!” nada suara Anjani kembali meninggi. “ Kenapa kamu harus berbohong
sama dia? Kamu bisa dapatkan Alexi dengan cara lain tanpa harus berbohong
sana-sini.”
“ Alexi sudah nolak
aku, Jane. Kamu pikir aku masih ada kesempatan?”
“ Kalau begitu
lupakan dia! Cowok bukan hanya Alexi seorang.”
Wenda mengangkat
wajahnya, lalu menatap wajah Anjani dengan garang.
“ Gak bisa, Jane. Aku
udah terlalu cinta sama dia.”
“ Itu bukan cinta, Wen. Itu obsesi kamu aja.”
Wenda menatap Anjani
dengan sinis, “ Tahu apa kamu soal cinta?”
Anjani terdiam
beberapa saat. Kepalanya terasa mendidih mendengar kalimat terakhir Wenda. Ia
kembali menarik napas panjang.
“ Aku memang gak tahu
apa-apa soal cinta, Wen. Umurku baru 15 tahun dan aku masih terlalu muda untuk
memahami semua itu, tapi aku sangat mengenal kamu. Wenda yang aku kenal bukan
Wenda yang terobsesi pada satu pria dan kemudian menjadi pembohong. Bahkan dia
rela membohongi dirinya sendiri.”
“ Bicara apa kamu?”
Wenda bertanya dengan gigi gemeletuk menahan amarah. “Kamu sahabat aku atau
bukan sih?”
“ Justru karena aku
sahabat kamu makanya aku bilang gini. Dengar, kamu sangat tersakiti oleh
perlakuan Priyanka kemarin dan aku gak mau kamu menjadi seperti dia.”
“ Jangan sama-samain
aku sama dia!” Wenda mulai meradang.
Rahang Anjani
terkatup rapat. Ia dan Wenda tak pernah saling melempar tatapan penuh amarah
seperti saat ini. Namun, ia tak mau berlama-lama seperti ini. Dengan kesal ia
meraih tasnya dan langsung pergi tanpa pamit.
Wenda memandang
kepergian Anjani dengan perasaan sesak. Hatinya dipenuhi oleh kesal dan sedih.
Ia tak menyangka permasalahan antara ia dan Alexi justru menyeret Anjani di
dalamnya. Padahal ia sangat tidak ingin kalau sahabat-sahabatnya ikut campur
dalam hal ini. Ia sangat butuh Anjani, tapi kemarahan sudah mengusai akal
sehatnya.
ooOoo
“ Apa? Jadi, untuk apa dia datang dan mengatakan hal
itu padaku?”
Ririn merasa sakit
kepalanya kembali kumat setelah mendengar cerita panjang lebar mengenai Wenda
dan Alexi. Ia masih tak mengerti kenapa Wenda harus repot-repot berbohong
padanya.
“ Wenda datang ke
sini? Terus dia bilang apa?”
Ririn menggaruk kepalanya
dengan bingung, “ Dia bilang kalau semalam dia udah nembak Alexi dan sekarang
udah jadian. Aku juga gak ngerti kenapa dia harus bohong sama aku. Padahal ya,
dia jadian atau enggak itu bukan urusan aku. Seolah-olah aku ini mantannya
Alexi aja.”
“ Atau mungkin dia
berpikir kalau kamu itu spesial di mata Alexi,” sahut Priyanka dengan nada
menggoda.
“ Aku? Spesial buat
Alexi?” alis Ririn bertaut pertanda bingung. “ Perasaan aku dan Alexi itu biasa
aja. Kayak dia berteman dengan Kemal atau Ben.”
Priyanka mengangkat
bahu, “ Tapi mungkin Wenda memandangnya dengan cara yang berbeda.”
“ Aku gak ngerti,”
Ririn mendesah panjang. “ Terus kenapa juga kamu harus kasih tahu ini sama
aku?”
“ Alexi yang minta,”
Priyanka tiba-tiba tertawa cekikikan. “ Dia ngerasa kesepian, soalnya
akhir-akhir ini kamu seolah ngejauhin dia.”
“ Ooohh, itu,” Ririn
kembali menggaruk kepalanya. “ Soalnya Wenda yang minta. Dia bilang mau pdkt
sama Alexi, jadinya aku jaga jarak aja sama Alexi.”
Priyanka mendengus
pelan. ‘ Ini anak terlalu baik atau
gimana sih? Pantas aja dia suka dimanfaatin orang.’
“ Ya sudah kalau
gitu, tugasku sudah selesai. Aku cuma mau menyampaikan pesan si kacamata,”
Priyanka meraih tasnya seraya pamit. “ Aku pulang dulu ya. Maaf, ganggu
waktumu. Semoga cepat sembuh.”
Ririn kemudian
mengantarkan gadis itu sampai ke halaman. Priyanka melambaikan tangan sebelum
memutar stang gasnya. Matic putihnya
meluncur meninggalkan rumah si ikal. Namun, ia memberhentikan motornya tak jauh
dari rumah Ririn. Ia harus mengirim pesan pada orang yang mengutusnya ke sini.
[ Pesan sudah
kusampaikan. Masalahnya sekarang ada sama Wenda. Ririn bilang dia tadi datang
ke rumahnya dan bilang kalian sudah pacaran. Aku tidak tahu harus bagaimana
lagi ]
Baru saja Priyanka
akan menstarter motornya lagi, ponselnya tiba-tiba berbunyi menandakan ada
pesan yang masuk. Ia cukup kaget ternyata Alexi dengan cepat merespon pesannya.
[ Bagaimana
dengan Ririn? Apa dia masih salah paham? ]
Priyanka pun
membalas.
[ Dia sudah
paham. Dia juga menjauhimu karena permintaan Wenda. Sepertinya orang itu sudah
merencanakan semua ini ]
Priyanka tak
buru-buru menyalakan motornya. Ia merasa si kacamata itu akan segera membalas.
Ternyata firasatnya benar.
[ Oh, jadi
begitu. Ya sudah, tidak masalah selama Ririn sudah mengerti. Terima kasih atas
bantuanmu]
Priyanka
menggeleng-geleng tak paham. Ia juga bingung kenapa ia bisa terlibat dalam
drama orang-orang yang sebelumnya tak pernah ia sapa. Gadis itu tersenyum
sendiri, lalu menstarter motor dan melaju pulang.
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar