Total Tayangan Halaman

Sabtu, 22 Oktober 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 89)




Musikal 89

Ririn menelan pil terakhirnya dengan susah payah. Sebelumnya ia tak pernah kesulitan menelan butiran-butiran obat. Namun, ingatannya tiba-tiba saja melayang pada kejadian tadi pagi. Hal itulah yang membuat pil itu terasa menyangkut di tenggorokannya.
Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba saja Wenda datang ke rumahnya. Ririn merasa aneh dengan kedatangan gadis itu. Jika memang gadis itu berniat menjenguk maka tidak mungkin ia akan datang pagi-pagi. Kecurigaan Ririn benar adanya ketika Wenda menyapanya dengan kata-kata yang mengejutkan.
“ Aku sudah mengatakannya pada Alexi semalam dan dia bilang iya. Sekarang kami jadian.”
“ O—oh, selamat,” Ririn menyembunyikan rasa terkejutnya dengan senyuman kaku.
“ Aku harap kamu gak cemburu.”
Ririn menggeleng pelan.
“ Syukurlah, kalau begitu. Ya sudah, aku cuma mau kabarin itu aja. Semoga cepat sembuh, Rin.”

Ririn benar-benar merasa kedatangan Wenda adalah sesuatu hal tidak penting. Buat apa coba dia mengabarkan hal itu padanya. Toh, pada akhirnya dia juga pasti akan tahu. Lagi pula ia tidak pernah merasa sedekat itu dengan Wenda. Ia bukan Anjani, Ben, atau Kemal yang bisa diajak berbagi hal-hal semacam ini.
Ririn memegang keningnya. Panasnya sudah mulai mereda. Namun, kepalanya kembali terasa pusing. Sepertinya kedatangan Wenda tadi pagi membuat penyakit semakin parah. Padahal sebelum itu ia sudah merasa lebih baik.
“ Rin, ada teman kamu lagi nunggu di ruang tamu,” suara mamanya memecah lamunan gadis itu
Astagaaa, siapa lagi?’ keluh Ririn. Saat ini ia sedang menjadi pasien. Harusnya ia tak banyak-banyak menerima tamu. Ogah-ogahan Ririn pun menemui tamunya.
Ia cukup terkejut saat sosok Priyanka menyapanya dengan senyuman. Ririn balas tersenyum. Akhir-akhir ini Priyanka mulai dekat dengannya. Sejak insiden ia pingsan di kelas, rasanya gadis ini lebih mengkhawatirkan dirinya ketimbang Andani.
“ Bagaimana keadaanmu sekarang? Kira-kira kapan masuk sekolah?”
“ Sudah lebih baik,” Ririn berdeham kecil. “ Secepatnya. Maunya sih besok sudah bisa masuk, tapi kalau pusingku belum hilang kemungkinan baru lusa.”
“ Waah, parah juga. Flu zaman sekarang memang ganas.”
Ririn mengangguk pelan, “ Ngomong-ngomong, kamu ke sini ada perlu sesuatu atau hanya sekadar menjenguk?”
Priyanka tersenyum penuh selidik. Matanya tiba-tiba memandangi ke seluruh penjuru ruangan.
“ Ada hal yang hanya ingin kubicarakan empat mata denganmu. Apa di sini ada tempat bicara pribadi?”
Ririn mulai merasa jengah. ‘ Apa lagi ini?’
ooOoo

Anjani memijat keningnya. Ia merasa persoalan antara Wenda-Alexi lebih sulit daripada soal trigonometri yang tadi pagi ia pelajari. Kenyataan Wenda hanya membolos dan ada di rumah membuat hatinya sedikit lega, tapi kelegaannya berubah menjadi kemarahan saat mendengar cerita sahabatnya.
“ Jadi, kamu memilih bolos dan pergi ke rumah Ririn, lalu bilang yang enggak-enggak sama anak itu? Astaga, Wen. Kamu mikir apa sih?”
Wenda tak menjawab. Ia hanya membenamkan kepalanya di dalam bantal. Melihat tingkah laku gadis ini, Anjani hanya bisa mendesah panjang untuk meredakan amarahnya.
“ Sebenarnya apa sih yang kamu inginkan, Wen?”
“ Aku cuma pengen jadi pacarnya Alexi,” jawab Wenda dari balik bantalnya.
“ Iya, tapi gak gitu caranya!” nada suara Anjani kembali meninggi. “ Kenapa kamu harus berbohong sama dia? Kamu bisa dapatkan Alexi dengan cara lain tanpa harus berbohong sana-sini.”
“ Alexi sudah nolak aku, Jane. Kamu pikir aku masih ada kesempatan?”
“ Kalau begitu lupakan dia! Cowok bukan hanya Alexi seorang.”
Wenda mengangkat wajahnya, lalu menatap wajah Anjani dengan garang.
“ Gak bisa, Jane. Aku udah terlalu cinta sama dia.”
 “ Itu bukan cinta, Wen. Itu obsesi kamu aja.”
Wenda menatap Anjani dengan sinis, “ Tahu apa kamu soal cinta?”
Anjani terdiam beberapa saat. Kepalanya terasa mendidih mendengar kalimat terakhir Wenda. Ia kembali menarik napas panjang.
“ Aku memang gak tahu apa-apa soal cinta, Wen. Umurku baru 15 tahun dan aku masih terlalu muda untuk memahami semua itu, tapi aku sangat mengenal kamu. Wenda yang aku kenal bukan Wenda yang terobsesi pada satu pria dan kemudian menjadi pembohong. Bahkan dia rela membohongi dirinya sendiri.”
“ Bicara apa kamu?” Wenda bertanya dengan gigi gemeletuk menahan amarah. “Kamu sahabat aku atau bukan sih?”
“ Justru karena aku sahabat kamu makanya aku bilang gini. Dengar, kamu sangat tersakiti oleh perlakuan Priyanka kemarin dan aku gak mau kamu menjadi seperti dia.”
“ Jangan sama-samain aku sama dia!” Wenda mulai meradang.
Rahang Anjani terkatup rapat. Ia dan Wenda tak pernah saling melempar tatapan penuh amarah seperti saat ini. Namun, ia tak mau berlama-lama seperti ini. Dengan kesal ia meraih tasnya dan langsung pergi tanpa pamit.
Wenda memandang kepergian Anjani dengan perasaan sesak. Hatinya dipenuhi oleh kesal dan sedih. Ia tak menyangka permasalahan antara ia dan Alexi justru menyeret Anjani di dalamnya. Padahal ia sangat tidak ingin kalau sahabat-sahabatnya ikut campur dalam hal ini. Ia sangat butuh Anjani, tapi kemarahan sudah mengusai akal sehatnya.
ooOoo
“ Apa? Jadi, untuk apa dia datang dan mengatakan hal itu padaku?”
Ririn merasa sakit kepalanya kembali kumat setelah mendengar cerita panjang lebar mengenai Wenda dan Alexi. Ia masih tak mengerti kenapa Wenda harus repot-repot berbohong padanya.
“ Wenda datang ke sini? Terus dia bilang apa?”
Ririn menggaruk kepalanya dengan bingung, “ Dia bilang kalau semalam dia udah nembak Alexi dan sekarang udah jadian. Aku juga gak ngerti kenapa dia harus bohong sama aku. Padahal ya, dia jadian atau enggak itu bukan urusan aku. Seolah-olah aku ini mantannya Alexi aja.”
“ Atau mungkin dia berpikir kalau kamu itu spesial di mata Alexi,” sahut Priyanka dengan nada menggoda.
“ Aku? Spesial buat Alexi?” alis Ririn bertaut pertanda bingung. “ Perasaan aku dan Alexi itu biasa aja. Kayak dia berteman dengan Kemal atau Ben.”
Priyanka mengangkat bahu, “ Tapi mungkin Wenda memandangnya dengan cara yang berbeda.”
“ Aku gak ngerti,” Ririn mendesah panjang. “ Terus kenapa juga kamu harus kasih tahu ini sama aku?”
“ Alexi yang minta,” Priyanka tiba-tiba tertawa cekikikan. “ Dia ngerasa kesepian, soalnya akhir-akhir ini kamu seolah ngejauhin dia.”
“ Ooohh, itu,” Ririn kembali menggaruk kepalanya. “ Soalnya Wenda yang minta. Dia bilang mau pdkt sama Alexi, jadinya aku jaga jarak aja sama Alexi.”
Priyanka mendengus pelan. ‘ Ini anak terlalu baik atau gimana sih? Pantas aja dia suka dimanfaatin orang.’
“ Ya sudah kalau gitu, tugasku sudah selesai. Aku cuma mau menyampaikan pesan si kacamata,” Priyanka meraih tasnya seraya pamit. “ Aku pulang dulu ya. Maaf, ganggu waktumu. Semoga cepat sembuh.”
Ririn kemudian mengantarkan gadis itu sampai ke halaman. Priyanka melambaikan tangan sebelum memutar stang gasnya. Matic putihnya meluncur meninggalkan rumah si ikal. Namun, ia memberhentikan motornya tak jauh dari rumah Ririn. Ia harus mengirim pesan pada orang yang mengutusnya ke sini.
[ Pesan sudah kusampaikan. Masalahnya sekarang ada sama Wenda. Ririn bilang dia tadi datang ke rumahnya dan bilang kalian sudah pacaran. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi ]

Baru saja Priyanka akan menstarter motornya lagi, ponselnya tiba-tiba berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Ia cukup kaget ternyata Alexi dengan cepat merespon pesannya.
[ Bagaimana dengan Ririn? Apa dia masih salah paham? ]
Priyanka pun membalas.
[ Dia sudah paham. Dia juga menjauhimu karena permintaan Wenda. Sepertinya orang itu sudah merencanakan semua ini ]
Priyanka tak buru-buru menyalakan motornya. Ia merasa si kacamata itu akan segera membalas. Ternyata firasatnya benar.
[ Oh, jadi begitu. Ya sudah, tidak masalah selama Ririn sudah mengerti. Terima kasih atas bantuanmu]
Priyanka menggeleng-geleng tak paham. Ia juga bingung kenapa ia bisa terlibat dalam drama orang-orang yang sebelumnya tak pernah ia sapa. Gadis itu tersenyum sendiri, lalu menstarter motor dan melaju pulang.

please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar