Musikal 85
[Dia sudah lebih baik, tapi besok dia akan absen
sekolah dan latihan. Surat dokternya ada padaku]
[From: Priyanka]
Alexi bernapas lega saat membaca pesan singkat
Priyanka. Ia menuliskan balasan terima kasih sebelum ia menyimpan ponselnya.
“ Dari tadi kamu
intip-intip ponsel melulu,” keluh Nadia. “ Pacarmu?”
“ Bukan, ini dari
teman.”
“ Hanya teman?”
“ Beneran teman,”
desah Alexi. “ Tapi pesan dari temanku ini yang aku tunggu.”
“ Begitu. Baiklah,
kalau begitu kamu sudah bisa konsentrasi latihan’kan?”
Alexi mengangguk. Ia
kembali mengharmonisasikan melodinya dengan permainan Nadia. Keduanya bermain
dengan sangat baik, bahkan mereka memainkannya sampai dua kali nonstop. Sebelum
permainan ketiga, Nadia meminta waktu istirahat.
“ Permainanmu sudah
lebih baik dari yang kemarin, tapi tetap saja aku merasa jiwamu sedang tidak
ada di sini.”
“ Maaf ya, Nad. Aku
janji nanti tidak akan mempermalukanmu di depan undangan.”
“ Kupegang janjimu,”
Nadia tertawa, lalu menyesap air mineralnya. “ Ngomong-ngomong pacarmu sekarang
sedang apa? Kamu yakin dia tidak tahu?”
Alexi mengangkat
bahu, “ Mungkin saat ini dia sedang menghabiskan waktu bersama teman-temannya.”
ooOoo
Meski Alexi hanya asal bicara, tapi tebakannya tidak
meleset. Saat ini Wenda sedang berkeliling mall bersama Anjani, Ben, dan Kemal.
Keempat sahabat ini sedang bersenang-senang menghabiskan waktu senggangg
mereka.
Ralat. Mungkin hanya
Wenda yang menyukai jalan-jalan mereka kali ini.
Bila biasanya keempat
sahabat ini menghabiskan waktu dengan menonton, karaoke, atau sekadar numpang wifi gratis di kafe, kali ini mereka
harus mau menemani Wenda berbelanja kosmetik. Ben dan Kemal menolak untuk masuk
ke salah satu toko kosmetik yang kental dengan warna merah muda. Akhinya, Wenda
hanya bersama Anjani yang tinggal di sana.
“ Kalau aku pakai
kira-kira mana yang cocok, Jane? Peach
atau pink?”
Anjani
menggaruk-garuk tengkuknya. Mana dia tahu soal kosmetik. Sepanjang hidupnya ia
hanya mengenakan bedak tipis. Kalau pun ia pernah bermake up ketika mengikuti kompetisi menyanyi, itu karena bantuan
dari penata rias yang sudah disediakan oleh panitia.
“ Memangnya baju kamu
warnanya apa?”
“ Hmm, hijau tosca.”
“ Kenapa gak pakai
lipstik yang kamu pakai kemarin pas ke sekolah?”
“ Liptin,” koreksi Wenda.
“ Iya deh, apa pun
itu,” keluh Anjani. “ Nah, kenapa gak pakai yang itu aja?”
“ Masa pergi ke pesta
formal pakai liptin? Gak kinclong
dong. Harus pakai yang matte biar
cantik.”
Anjani mendesah
berat. Harusnya ia ikut Ben dan Kemal menunggu di luar.
“ Jadi, kamu ngajakin
kita semua ke sini cuma nemenin kamu belanja beginian?” omel Anjani. “ Bahkan
kamu gak ngajak-ngajak kami.”
Wenda tertawa, “
Undangannya cuma satu sih. Kalau aku sudah jadi pacar Alexi, baru deh aku minta
untuk kalian juga. Makanya kalian doain aku supaya beneran jadian dengan dia.”
Anjani mendumal
kesal. Ia tak mengerti kenapa temannya ini begitu terjebak dalam mimpinya yang
fana. Ia memang tak tahu apa yang membuat Wenda begitu tergila-gila pada si
kacamata, tapi satu hal yang Wenda tak sadar. Gadis itu tak tahu apakah Alexi
juga merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan.
“ Jadi, yang mana? Pink or peach?”
Saat mata Anjani
tertuju pada lipstik yang ada di tangan kanan Wenda, ia teringat akan warna
wortel. Nah, kebetulan sekali baju Wenda warnanya hijau. Anjani pun menunjuk
warna peach sebagai pilihannya.
Mungkin akan mirip dengan wortel dengan daunnya, meski warna yang dimaksudkan
Wenda adalah hijau tosca dan peach.
“ Ah, sudah kuduga.
Baiklah, aku pilih yang ini. Hebat juga pilihanmu, Jane,” Wenda pun memasukkan
lipstik itu ke keranjang belanja. “ Oke, sekarang kita beli parfum. Aku mau
yang aroma vanilla.”
‘ Apa? Jadi, penderitaanku masih panjang?’
ooOoo
“ Haduuuh, lama banget sih. Makanya aku paling males
kalau disuruh nemenin cewek belanja.”
“ Sabaaar, gitulah
cewek. Kalo gini aja kamu menggerutu, masa jomblomu akan bertambah panjang.”
Ben mendesah panjang.
Kepalanya tengadah malas. Ia memang kesal karena harus menunggu lama. Namun,
ada hal lain yang membuatnya lebih kesal. Sayang, ia tak bisa memastikan apa
yang membuatnya lebih kesal.
“ Kenapa sih, Ben?
Kamu kayak kehilangan semangat hidup gitu.”
Ben mengangkat
bahunya acuh tak acuh.
“ Jangan bilang kamu
masih mikirin Wenda.”
Kepala Ben terangkat,
lalu ia mendengus kesal.
“ Gimana gak dongkol
coba? Kita lama-lama nungguin dia belanja, tapi dia belanja buat ketemuan sama
orang lain. Enak juga kalau orang itu beneran pacar dia, lah ini? Ah, gak tahu
deh!”
Kemal tersenyum
sinis, “ Jealous?”
“ Lebih tepatnya
kasihan.”
Kemal mengangguk-anggukkan
kepalanya, “ Wenda itu orangnya keras. Percuma aja kita ngomongin dia sekarang.
Lebih baik kita tunggu aja hasil akhirnya. Yah, aku sih cuma bisa berharap
kalau Alexi juga punya rasa sama Wenda. Jadi, apa yang dia harapkan seenggaknya
bisa terwujud.”
“ Bukannya Alexi itu
sukanya sama Ririn, ya?”
“ Tapi Ririnnya gak
suka sama Alexi. Dia sukanya sama orang lain.”
Kening Ben mengkerut,
“ Loh, bukannya mereka berdua deket banget ya? Memangnya Ririn suka sama
siapa?”
“ Aku.”
Ben menatap Kemal tak
percaya. Saat Kemal terkekeh, Ben pun melemparkan tawa sakartisnya.
“ Bullshit.”
Kemal masih tertawa,
“ Itu sih harapan aku, tapi ternyata dia sukanya sama Adrian.”
“ Adrian? Sejak
kapan?” kening Ben kembali terlipat.
“ Hmm, mungkin sejak
audisi pemeran utama. Gak tahu kenapa tuh cewek tatapan bersinar banget kalau
udah melihat Adrian. Mungkin itu alasannya kenapa dia menolakku.”
“ Whooa, udah
ditembak, Mal? Cepat juga kamu.”
“ Iya dong, bro. Kalo
kelamaan entar udah diambil orang lain. Kalau pun ditolak seenggaknya kita udah
ada usaha, jadi gak ada penyesalan nantinya.”
Ben kembali
mendengus. Apa yang dikatan Kemal memang benar. Sayang, ia tak punya keberanian
dan rasa percaya diri sehebat sahabatnya itu. Andai saja ia bisa meminjam
secuil saja apa yang dimiliki Kemal, mungkin saat ini ia sudah….
“ Hei, guys. Kita udah belanjanya. Sekarang mau
kemana?”
Mata Ben teralih pada
kantung belanja Wenda. Terlihat cukup sesak di sana. Entah barang apa saja yang
ia beli.
“ Katanya tadi mau
nonton,” Kemal melirik arlojinya. “ Yuk ah, nanti tiketnya keburu habis.”
Please
comment and share
kurangggggggggggggggggggg~
BalasHapuscie si ben udah ada pertanda , makin ke sini makin kasihan lihat wenda nya