Musikal 87
Hari yang ditunggu pun tiba. Setelah pulang dari
latihan malam, Wenda bergegas mempercantik diri. Seperti tak mengenal lelah,
padahal biasanya setelah pulang latihan ia langsung tertidur lelap.
Terdengar ketukan di pintu kamarnya. Pintu itu terbuka dan kepala ibunya melongok ke dalam.
“ Wen, ada Ben di bawah.”
Wenda yang baru saja selesai maskeran langsung menemui Ben yang menunggu di halaman. Sepertinya laki-laki itu menolak masuk.
“ Ben? Ada apa?”
Ben mencium aroma vanilla saat ia memutar tubuhnya. Gadis yang ada di hadapannya ini terlihat sedikit berbeda dari biasanya.
“ Wangi amat. Abis mandi bunga ya, bu?”
Wenda berdecak kesal, “ Kamu itu yang belum mandi. Aku tebak habis dari gedung teater kamu langsung ke sini, iya kan?”
Ben hanya mendengus pendek. Kemudian tatapannya berubah serius.
“ Oke, Wen, aku gak mau basa-basi lagi,” Ben berdeham kecil. “ Wen, aku minta kamu gak pergi dengan Alexi malam ini.”
Alis Wenda seketika saling bertaut. Ia menatap Ben dengan tatapan heran bercampur marah.
“ Apa alasan kamu melarang pergi ke sana?”
“ Aku cuma mau kamu bangun dari mimpimu, Wen.”
“ Mimpi? Maksud kamu aku hanya bisa bermimpi menjadi pacarnya Alexi?” Wenda tertawa sakartis. “ Ben, aku tahu saat ini aku cuma pacar pura-puranya Alexi, tapi bukan berarti suatu saat nanti aku akan beneran jadi pacarnya dan sekarang aku sedang mewujudkan apa yang aku mau. Seharusnya kamu dukung aku dong!”
Ben sudah membuka mulutnya untuk membalas kata-kata Wenda. Namun, saat melihat emosi tersirat dari bola mata gadis itu, ia pun mengurungkan niatnya. Untuk beberapa saat keduanya terpaku dalam keheningan.
“ Aku… maksudku, aku, Anjani, dan Kemal cuma gak pengen lihat kamu patah hati, Wen,” Ben berkata pelan diiringi dengan desahan napasnya yang panjag. “ Kamu sudah pernah dikecewakan oleh sahabat baikmu dan jangan sampai kedua kalinya.”
“ Alexi bukan sahabatku, Ben. Dia laki-laki yang aku suka.”
Ben menatap Wenda hampa. Ada amarah bergumul di dadanya. Namun, tak bisa ia muntahkan segera karena ia tak mau merusak jalinan benang merah antara dirinya dan gadis itu.
“ Kamu sahabat baikku, Alexi pun begitu. Aku harap persahabatan kita semua akan tetap seperti ini sampai nanti.”
Wenda tak sempat membalas ucapan Ben. Laki-laki itu keburu memasang helmnya dan segera menyalakan motor. Deru knalpot disertai gumpalan asap menandakan sosok laki-laki itu telah lenyap dari hadapannya. Namun, Wenda masih tak mengerti kenapa Ben begitu besikeras melarangnya pergi. Memangnya apa yang akan terjadi di sana. Seolah-olah laki-laki itu sudah tahu apa yang akan Wenda hadapi.
ooOoo
Pukul tujuh malam, pintu kamar Wenda kembali diketuk. Kepala ibunya kembali melongok ke dalam. Kali ini dengan seringai geli di wajahnya.
“ Ada artis Korea jemput kamu.”
Wenda mengulum tawanya. Ia membayangkan bagaimana tampannya wajah Alexi sampai-sampai ibunya bilang kalau laki-laki itu artis Korea. Namun, saat ia berpapasan dengan laki-laki itu, jiwanya seolah hilang kendali. Ia sudah tahu kalau Alexi aslinya sangat tampan, tapi ia tak menyangka kalau Alexi bisa lebih tampan dari itu.
Malam ini Alexi mengenakan setelan bewarna hijau tua dengan dasi kupu-kupu bewarna merah. Ia tampak serasi dengan gaun yang Wenda kenakan. Sepertinya laki-laki itu sudah mempersiapkan segalanya.
Di sisi lain Alexi juga tak dapat memungkiri kalau Wenda terlihat lebih cantik dari biasanya. Pilihan gaunnya tempo hari sangat tepat. Gadis itu sepertinya tahu kalau ponytail tinggi adalah tatanan rambut yang cocok dengan gaun itu. Alexi tak menyangka kemampuan berdandan Wenda dapat diacungi jempol.
“ You look good,” Alexi tersenyum dengan sederet giginya yang rata.
“ You too,” balas Wenda sambil menyembunyikan rona di wajahnya.
Alexi mengulurkan lengannya, “ Shall we go?”
“ Sure,” Wenda menggamit lengan Alexi ragu-ragu. Ia masih mempertahankan senyum di wajahnya dan berharap Alexi tak mendengar detakan keras dari jantungnya.
ooOoo
Taksi pesanan Alexi menghantarkan mereka ke sebuah hotel. Halaman hotel itu tampak ramai dengan papan bunga berisi ucapan selamat. Wenda menduga ucapan-ucapan selamat itu ditujukan pada perusahaan yang mengundang mereka.
Mereka menuju sebuah ballroom dengan diantar oleh seorang pelayan. Baru beberapa menit sejak mereka melangkah masuk, sosok Nadia langsung terlihat. Gadis itu terlihat bersemangat saat menyapa.
“ Oh God, you look so gorgeous!” Nadia menyeringai nakal saat melihat kehadiran Wenda. “ And your girl? Sekarang aku tahu kenapa kamu pilih dia.”
Alexi tertawa kecil, “ Kamu memuji kami setinggi langit padahal malam ini kamu bintangnya.”
Nadia ikut tertawa. Namun, dalam hati Wenda begitu jengkel mendengar bagaimana cara gadis itu memujinya. Meski Nadia memang tulus memuji, tapi bagi Wenda itu terdengar seperti ironi. Alexi benar, Nadia memang sangat bersinar malam ini. kerja keras Wenda terkalahkan dengan tampilan Nadia yang dibalut ruffle dress merahnya. Warna kulitnya yang putih pucat pun jadi begitu kontras dengan warna bibirnya yang penuh dengan pemulas warna merah darah.
“ Tapi ya, Wenda memang cantik sekali malam ini.”
Wenda memberanikan diri menatap Alexi. Ia masih tak percaya kalau baru saja laki-laki itu memujinya. Ia tak kuasa untuk tak tersenyum saat melihat laki-laki itu.
“ Oh ya, Al. Aku mau mengenalkan kamu sama Monsiuer Louis. Tadi aku udah ketemu dia dan cerita-cerita tentang kamu. Dia jadi penasaran banget sama kamu.”
“ Monsiuer Louis ada di sini?” nada bicara Alexi terdengar kaget.
“ Iya, makanya aku pengen banget duet sama kamu. Yuk, ikut aku.”
Alexi begitu bersemangat saat Nadia mengajaknya. Wenda terpaksa mengikuti mereka. Ia tak mau ditinggalkan sendirian. Sepertinya Alexi punya kebiasaan buruk meninggalkan orang lain ketika ia sedang melihat sesuatu yang ia suka.
Mereka berhenti ketika di depan mereka sedang berkumpul beberapa orang dengan ras kaukasid. Dengan senyum menawannya, Nadia pun menyapa mereka lebih dulu.
“ Bonjouir, Monsiuer Louis.”
Perhatian pria bernama Louis itu langsung tertuju pada Nadia. Sekali lihat, Wenda memperkirakan kalau pria itu berusia di pertengahan 50 tahun.
“ Je vous presente, mon amie, Alexi.”
“ Bonjouir, Monsiuer,” Alexi menimpali seraya mengulurkan tangan. “ Je m’applle Alexi.”
“ Ahh, Alexi. Enchantee de vous connaitre.”
Pria bernama Louis itu menjabat tangan Alexi dengan semangat dan bla, bla, bla. Mereka semua terlibat dalam bahasa Perancis yang tak satu pun dimengerti oleh Wenda. Ia jadi bingung, sejak kapan Alexi mahir berbahasa Perancis? Dan yang lebih menjengkelkan lagi keberadaan dirinya menjadi terlupakan.
Wenda menjadi dongkol. Sebelumnya Nadia begitu bersemangat memperkenalkan Alexi, lalu kenapa dia tidak? Masa sosoknya yang sebesar ini tidak terlihat. Lagi pula siapa sih si tua Louis ini? Kenapa Alexi sangat tertarik padanya?
“ Nadia, Nadia, Nadia, dan ini pasti Alexi, benar bukan?”
“ Pak Burhan,” Nadia kembali memamerkan senyumnya. “ Ini Alexi dan ah ya, ini pacarnya.”
Akhirnya namanya disebut juga. Wenda sudah tersenyum semanis mungkin. Sayang, laki-laki bernama Burhan itu hanya menjabat tangannya sebentar. Kemudian ikut mengobrol dalam bahasa Perancis. Sial, semua orang di sini sama saja. Setahunya Pak Burhan inilah yang mempunyai acara. Wenda pikir ia akan sedikit ramah, tapi ternyata tidak sesuai ekspetasinya.
“ Nadia, saatnya kamu membuka acara.”
Nadia memberi isyarat pada Alexi dan laki-laki itu pun mengangguk mengerti. Sebelum menyusul Nadia, Alexi menyempatkan tersenyum pada Wenda untuk meminta izin pergi. Kali ini Wenda hanya bisa membalas dengan anggukan.
Sang pembawa acara menyebut nama Nadia serta Alexi. Keduanya pun duduk berdampingan di depan piano. Mereka saling melirik dan pada detik berikutnya terdengar dentingan cepat, tapi mengalun indah.
Mereka bermain begitu harmonis. Nada-nada yang mereka hasilkan mampu menghipnotis semua tamu undangan. Tak hanya itu, interaksi antara keduanya terlihat begitu intim. Meski hanya tersirat, tapi siapa pun yang menyaksikannya pasti akan menduga kalau mereka sedang terlibat jalinan asmara satu sama lain.
Ini berbeda ketika Wenda melihat mereka saat latihan. Entah aura apa yang mereka pancarkan, tapi itu membuat Wenda merasa semakin menciut. Ia merasa bukan apa-apa di antara kerumunan orang ini. Alexi sudah menjadi orang yang berbeda. Alexi yang ia kenal adalah Alexi yang selalu menolongnya ketika motornya bermasalah, bukan Alexi yang mahir berbahasa Perancis. Alexi yang ia tahu selalu bermain bersama tim Love Musical, bukan Alexi yang sedang memainkan lagu klasik bersama cinta lamanya.
Ia benar-benar tak tahu siapa sosok di balik kacamata tebal serta masker putih itu. Apakah dia adalah pangeran yang sedang menjelajah dunia ataukah ia seorang iblis yang menyamar. Di balik sifatnya yang lurus, Alexi justru memiliki daya pikat yang luar biasa. Lihat saja, saat ini banyak gadis-gadis dari tamu undangan yang mulai membicarakan Alexi. Mereka semua terpana dengan penampilan fisik serta permainan pianonya.
Alexi dan Nadia berhasil menyelesaikan versi duet “ West Side Story” dari Leonard Bernstein. Tepuk tangan membahana menutup pertunjukkan mereka. Bak gula di kelilingi semut, Alexi dan Nadia segera menjadi pusat perhatian. Mereka langsung dikerumuni tamu undangan yang penasaran.
Wenda tak mampu menerobos kerumunan orang itu. Ia merasa akan tenggelam bila berusaha menggapai Alexi di tengah orang-orang. Ia hanya bisa menatap Alexi yang berdampingan dengan Nadia dari kejauhan.
“ Maaf, Wen. Orang-orang itu sulit disingkirkan,” ujar Alexi setelah selesai berurusan dengan sekumpulan orang itu.
Wenda menggeleng, “ Kerja bagus. Aku sangat suka penampilanmu tadi.”
“ Ah, terima kasih,” Alexi menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. “ Ada beberapa yang miss sebenarnya. Untunglah Nadia cepat menutupinya.”
Wenda berdeham saat Alexi menyebut nama Nadia. Entah kenapa ia merasa jengah saat nama itu disebut dengan nada yang dibanggakan.
“ Hai, kalian di sini ternyata.”
Baru mendengar namanya saja sudah membuat Wenda malas dan sekarang si pemilik nama justru datang menghampiri. Kehadiran gadis itu benar-benar terasa mengganggu.
“ Apa aku mengganggu kalian?”
‘ Ya, sangat!’
“ Tidak kok,” ujar Alexi. “ Kami sangat menikmati pestanya.”
“ Tentu saja, bukannya kamu menjadi mood buster semua tamu undangan.”
“ Kita,” ralat Alexi. Kemudian kedua sama-sama tertawa. Sementara Wenda berdeham jengkel.
“ Oh ya, sebenarnya aku mau mempertemukanmu dengan beberapa kenalanku. Mereka datang jauh-jauh dari Jerman.”
“ Wah, apa hanya kita yang orang pribumi di sini?” tanya Wenda dengan nada sakartis.
Nadia hanya tersenyum kecil menanggapi sindiran Wenda. Ia tetap mengajak Alexi dan Wenda menemui kenalannya. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara Wenda yang berteriak.
“ HEI!!”
“ Ah, maaf. Maafkan saya.”
Hampir separuh tamu undangan yang hadir memperhatikan Wenda. Gadis itu sedang bernasib sial. Gaun satinnya tak sengaja terkena siraman anggur dan meninggalkan bercak jelek. Sementara itu wajah si pemilik minuman langsung pucat pasi gara-gara kecerobohannya.
“ Saya sungguh minta maaf,” ujarnya dengan nada takut.
Alexi langsung menghampiri Wenda, lalu melepas jasnya untuk menutupi gaun Wenda yang basah.
“ Kamu gak apa-apa, Wen?”
Wenda sebenarnya masih kesal gara-gara insiden tadi. Namun, perlakuan manis Alexi berhasil meredam amarahnya.
“ Enggak apa-apa, Pak,” Nadia berusaha melerai ketegangan. “ Kami bisa menangani ini. Nikmati saja lagi pestanya.”
Pria itu masih terlihat tak enak, “ Sekali lagi saya minta maaf. Permisi.”
“ Nad, anggur itu benar-benar merepotkan. Kayaknya kita gak bisa lanjut pesta deh,” ujar Alexi.
“ Pulang? Yah, jangan dong. Orang-orang bule itu masih penasaran sama kamu, Al. Kalau kalian pulang, nanti mereka malah kecewa.”
“ Masa aku bawa-bawa Wenda dengan gaun yang basah gitu? Bisa malu nanti dia.”
Nadia mendesah pendek, “ Ballroom ini di satu hotel yang sama dengan tempat aku menginap dan aku bawa beberapa gaun ekstra. Kupikir Wenda bisa meminjam salah satu dari gaunku. Sepertinya kami satu ukuran.”
Alexi berpikir kalau hal itu bukanlah ide yang buruk. Hanya saja keputusan ada di tangan Wenda. Ia melirik gadis yang ada di sebelahnya menanti jawaban.
ooOoo
Dan di sinilah Wenda sekarang. Berdua saja dengan Nadia di dalam lift. Gadis itu melarang Alexi untuk ikut. Ia bilang untuk apa laki-laki ikut ke kamar wanita, terlebih kalau wanita itu mau berganti baju.
“ Kayaknya Alexi benar-benar suka sama kamu ya.”
Wenda melirik Nadia dengan tatapan aneh. Ia tak mengerti kenapa gadis itu harus membuka percakapan dengan kalimat yang seperti itu.
“ Padahal di sana banyak sekali orang-orang yang mau dan harus Alexi temui, tapi dia lebih memilih pulang hanya gara-gara baju pacarnya basah.”
“ Memangnya orang-orang itu siapa?”
“ Orang-orang yang akan membuat masa depan Alexi bersinar di atas puncak,” Nadia tersenyum pada Wenda. “ Ternyata kamu lebih penting daripada orang-orang itu. Selamat.”
Bunyi berdenting dari lift menandakan bahwa kotak besi itu telah mengantarkan mereka sampai ke lantai tujuan. Wenda mengurungkan niat untuk bertanya lagi. Hanya saja pikirannya terpengaruh oleh kata-kata Nadia. Benarkah ia sepenting itu di mata Alexi, meski statusnya sekarang hanyalah pacar pura-pura? Apakah sekarang Alexi sudah berpaling padanya?
Kamar tempat Nadia tidak terlalu luas, tapi gadis itu mendapatkan spot terbaik untuk melihat pemandangan malam. Wenda bahkan tergiur untuk melihat-lihat pemandangan di balik jendela. Sampai suara Nadia mengejutkannya.
“ Selera Pak Burhan ternyata seperti apa yang aku pikirkan,” Nadia pun menyodorkan dua buah gaun pada Wenda. “ Aku gak tahu mana yang kamu suka. Saranku sih kamu pakai yang bunga-bunga ini saja.”
Wenda menilik dua buah gaun itu. Sepertinya tidak ada niatan Nadia untuk menjebaknya. Ia pun mengambil kedua-duanya.
“ Akan aku coba keduanya.”
Nadia mengangguk, “ Oh ya, Wen. Aku minta maaf karena tidak bisa menemanimu di sini. Barusan Pak Burhan memintaku untuk segera kembali. Kamu bisa tahu jalan kembali ke ballroom kan?”
“ Kamu meninggalkan aku sendiri bersama semua barang-barangmu?”
“ Tidak masalah. Kamu adalah orang kepercayaan Alexi, berarti aku juga bisa mempercayaimu,” Nadia kembali tersenyum. “ Baiklah, sampai jumpa di ballroom.”
Nadia menutup pintu kamarnya. Kemudian ia bergegas menuju ballroom. Ya, dia memang berbohong mengenai panggilan dari Pak Burhan untuk segera kembali ke ruang pesta. Ia memang sengaja meninggalkan Wenda sendirian, tapi bukan untuk menjebak gadis itu. Ia hanya ingin berduaan dengan Alexi tanpa adanya kehadiran Wenda.
“ Hai, Al,” Nadia menyapa laki-laki itu dengan bersemangat. Laki-laki itu masih tetap menawan meski kini kemejanya hanya belapis vest saja.
“ Nad? Mana Wenda?”
“ Oh, kamu terlalu mengkhawatirkannya,” Nadia terkekeh. “ Dia masih berganti pakaian di kamarku.”
“ Kamu kenapa ninggalin dia?”
“ Well, Pak Burhan mencariku dan aku buru-buru ke sini. Aku sudah bilang sama Wenda dan dia bilang tidak apa-apa. Kupikir urusanku dengan Pak Burhan sudah selesai, jadi aku segera mencarimu.”
Alexi hanya mengangguk samar. Perhatian keduanya pun tertuju pada tamu undangan yang mulai berdansa. Inilah saat yang Nadia tunggu.
“ Kamu tidak sadar, Al? Ballroom yang sempurna, musik yang indah, dan ada gadis cantik di depanmu. Kenapa kamu tidak mengajakku berdansa?”
Alexi hanya mendesah pendek.
“ Ayolah, Al. Aku yakin pacarmu bisa mengerti.”
Alexi kembali mendesah, “ Kamu tahu’kan kalau aku tidak bisa menolakmu.”
Mantra itu. Nadia selalu menyukai saat Alexi merapalkan mantra itu. Bagai perintah absolut yang tak akan bisa Alexi langgar dan itu membuat Nadia begitu istimewa.
Gadis itu benar-benar membuat mantra itu bekerja sesuai kehendaknya. Ia tak berdansa di tengah keramaian. Nadia mengajak Alexi untuk menepi halaman luar ruang dansa itu. Sayup-sayup musik terdengar dan kedua insan ini pun memulai langkah-langkah waltz mereka.
“ Kamu bohong, Nadia.”
“ Aku? Bohong kenapa?”
“ Soal Pak Burhan. Bilang saja kamu memang ingin berdansa denganku.”
“ Memang,” Nadia terkekeh. “ Oh sudahlah, Alexi. Seperti kamu tidak saja. Bukannya kebohonganmu yang mengawali semua ini?”
Alexi memandang Nadia dengan mata menyipit, “ Kamu sudah tahu?”
“ Tentang Wenda yang hanya pacar sewaanmu?” nadia tertawa sinis. “ Alexi, Alexi, sekeras apa pun kamu berusaha, kamu gak akan bisa membohongiku. Kamu itu seorang pianis, bukan aktor. Kuakui akting kalian cukup menyakinkan, tapi itu tidak mampu mengelabui seseorang yang sudah mengenalmu dari kecil.”
Alexi tak menyahut. Ia hanya memperhatikan langkah dansanya.
“ Lalu kenapa, Al? Kenapa kamu harus membohongiku?”
“ Karena aku tahu tujuanmu. Kamu pasti akan membujukku supaya aku kembali pada ayah, bukan?”
“ Tapi itu semua untuk dirimu sendiri, Al.”
Alexi menahan kata-kata Nadia dengan membiarkan gadis itu berputar dalam dansannya. Namun, saat Nadia kembali dalam dekapan Alexi, ekspresi laki-laki itu terlhat tak senang.
“ Dia memang benar-benar licik. Setelah aku tahu kenapa dia memisahkan kita dan sekarang dia menggunakanmu supaya aku mau kembali.”
“ Al, ini kemauanku. Aku ini kamu kembali seperti dulu. Bersinar di bawah terangnya lampu panggung dan―”
“ Cukup, Nadia!” tiba-tiba Alexi melepaskan tangan gadis itu dan bergegas pergi. Namun, Nadia lebih cepat menangkap punggung Alexi.
“ Alexi, kumohon. Jangan tinggalkan aku lagi!”
Tubuh Alexi seketika membeku. Rangkulan gadis itu terasa rapuh. Ia bisa saja melepaskannya saat itu juga. Entah kenapa ia justru memilih untuk tidak melangkah pegi.
“ Bukankah ini adalah saat-saat yang kamu tunggu? Kamu dan aku bisa bersama lagi. Seperti dulu, seperti ketika kita kecil dulu.”
Nadia menarik napas panjang, “ Kembalilah padaku, Al.”
Alexi dibuang ragu oleh kata-kata Nadia yang terdengar seperti pemelas. Belum lagi pelukan gadis itu yang membuat Alexi tak sempat memikirkan keputusan. Tidak. Ia tidak boleh hanyut dalam rayuan gadis itu. Secepatnya ia harus segera melepaskan dari mantra itu. Baru saja ia akan melepaskan pelukan gadis itu, matanya menangkap sosok gadis yang mengenakan gaun bermotif bunga.
Pancaran amarah begitu terlihat dari raut wajahnya. Ada bara api berpijar dari tatapan matanya. Tanpa sepatah kata pun, gadis itu meninggalkan Alexi yang masih terjebak dalam pelukan Nadia.
“ Wenda….”
ooOoo
Wenda langsung mencoba kedua gaun yang disodorkan Nadia. Gadis itu benar, gaun dengan motif bunga merah ini terlihat sangat cocok dengannya. Setelah merapikan sedikit dandanannya, Wenda bergegas kembali ke ballroom.
Ternyata orang-orang sedang menikmati musik dengan berdansa begitu ia kembali di sana. Ia mencari-cari sosok Alexi atau Nadia. Namun, ia tak menemukan di antara kerumunan orang. Wenda berjalan ke sana ke mari, tapi tetap saja tak satu pun dari kedua orang itu menampakkan batang hidungnya.
Wenda tak bisa bertanya pada siapa pun di sana. Tak satu pun yang ia kenal. Belum lagi semua orang-orang di sana berbicara dengan bahasa yang ia tak paham. Ia mulai putus asa. Sampai akhirnya matanya menangkap bayangan sepasang insan berdansa di taman luar. Wenda penasaran dengan siapa kedua orang itu. Mungkinkah pasangan itu adalah Alexi dan Nadia.
Tampaknya Wenda datang di saat yang benar-benar tidak tepat. Ia hampir saja memekik saat Nadia berusaha mencegah Alexi pergi dengan memeluk laki-laki itu dari belakang. Hal yang membuat Wenda semakin terpukul adalah kediaman Alexi yang membiarkan Nadia merangkulnya dengan erat.
“ Bukankah ini adalah saat-saat yang kamu tunggu? Kamu dan aku bisa bersama lagi. Seperti dulu, seperti ketika kita kecil dulu.”
“ Kembalilah padaku, Al.”
Alexi masih diam. Wenda tak tahan lagi. Sedikit lebih lama saja, bisa-bisa ia menumpahkan semua emosinya di sana. Namun, saat ia akan meningglkan kedua orang itu, matanya bertemu dengan mata Alexi.
“ Wenda…”
Wenda sempat melihat Nadia buru-buru melepaskan pelukannya dan Alexi segera berlari ke arahnya. Sayang, Wenda sudah memacu langkahnya. Ia keluar dari ballroom, kembali ke kamar Nadia, dan menukar bajunya semula.
Saat ia membuka pintu kamar, Alexi sudah ada di depan pintu. Terdengar napas laki-laki itu memburu. Sepertinya ia mengejar Wenda sekuat tenaga. Seharusnya Wenda tersipu melihat perbuatan manis laki-laki ini, tapi setelah ia melihat adegan tadi, rasanya ia benar-benar muak.
“ Aku mau pulang.”
“ Oke…” ujar Alexi masih dengan napas terengah. “ Aku akan antar kamu.”
“ Gak perlu. Ada orang lain yang lebih membutuhkanmu di sana. Kamu sama dia aja.”
Wenda memacu langkahnya, tapi respon Alexi lebih cepat. Ia berhasil menahan lengan gadis itu.
“ Wen, kupikir aku harus menjelaskan sesuatu padamu.”
Ada tatapan menantang melintas dari bola mata Wenda, “ Oh, jadi dari mana kamu akan bercerita?”
Alexi menarik napas panjang. Ia menatap mata Wenda, lalu ia menggelengkan kepala.
“ Tapi setelah kupikir lagi, sepertinya aku memang tidak perlu bercerita apa pun padamu.”
Wenda terkesiap, “ Kenapa?”
“ Karena di antara kita memang tidak ada apa-apa. Kupikir bukan ranahmu untuk mencampuri urusanku.”
Wenda terhenyak. Jawaban Alexi terlalu benar dan terlalu menyakitkan untuk ia terima. Dalam sekejap Wenda kehilangan kata-kata.
“ Wen…”
“ Ya, ya, ya, kamu benar. Aku memang bukan siapa-siapa kamu,” mata Wenda mulai berkaca-kaca. Kemudian bola matanya yang hampir basah itu ia arahkan pada laki-laki yang ada di hadapannya.
“ Tapi bisakah aku menjadi seseorang yang berarti untukmu. Sedikit saja.”
Author's Note:
Monsiuer : Tuan
Bonjouir, Monsiuer Louis : Halo, Tuan Louis
Je vous presente, mon amie, Alexi : Perkenalkan, ini temanku, Alexi
Je m’applle Alexi : Nama say Alexi
Enchantee de vous connaitre : Senang bertemu denganmu

wenda .. makin hari makin gak tega baca cerita tentang kamu.
BalasHapusdan buat AL , ier amsih sebel sama betapa tunduk nya kamu sama nadia.
juga ier gak pernah nyangka sama kata-kata ini
“ Karena di antara kita memang tidak ada apa-apa. Kupikir bukan ranahmu untuk mencampuri urusanku.”
badai banget ya? pantesan pas dapet berita duah update rasanya agak takut mau buka -____- badai badai