Total Tayangan Halaman

Jumat, 28 Oktober 2016

LOVE MUSICAL Extaordinary (Musikal 93)




Musikal 93

Bel pulang sudah berbunyi. Semua siswa bergegas merapikan alat tulis agar lekas pulang. Suasana mulai riuh. Keributan itu berasal dari suara-suara siswa yang mulai merencakan kegiatan sepulang sekolah atau membahas pelajaran yang kurang menyenangkan. Suara-suara itu mulai meredam seiring dengan langkah kaki mereka yang berangsur-angsur meninggalkan kelas.
Namun, itu tidak terjadi dengan Alexi. Laki-laki itu tetap bergeming di tempat duduknya meski seisi kelas sudah hampir meninggalkannya. Seperti sudah saling memberi kode, Wenda juga tidak beranjak. Mereka berdua sengaja menunggu sampai kelas benar-benar kosong.
Ririn merasa heran kala melewati bangku Alexi, tapi si empunya belum berniat pulang. Tak sengaja ketika ia memperhatikan laki-laki itu, laki-laki itu membalas tatapannya. Senyuman yang tergurat di wajah laki-laki itu seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Mata Ririn refleks mengerling pada Wenda. Ia pun mengerti apa maksudnya. Ririn membalas senyuman itu dengan anggukan kecil.
Kelas pun akhirnya benar-benar bebas kosong. Menyisakan Alexi dan Wenda yang masih terpaku di tempat duduk. Alexi melirik pintu kelas yang terbuka lebar, lalu ia beranjak dan menutup rapat pintu itu.
“ Aku… aku tidak tahu harus dimulai dari mana,” ujar Alexi dengan posisi masih menghadap pintu.
“ Mungkin bisa kamu ceritakan mulai dari alasan kalian berpelukan malam itu,” jawab Wenda tanpa melirik Alexi.
Alexi berbalik cepat, “ Nadia yang memelukku. Aku sama sekali tidak tahu kalau dia akan melakukan itu.”
Wenda mengangkat bahunya; tidak peduli.
Terdengar desahan panjang dari Alexi, “ Sudah kukatakan waktu itu. Kalau aku memang pernah menyukai Nadia dan menyatakan perasaanku padanya, lalu ditolak. Aku juga mengaku kalau Nadia itu masih saudara jauhku.”
Alexi duduk di meja yang paling dekat dengan pintu. Ia menatap Wenda yang masih terlihat tidak mengacuhkannya.
“ Aku tidak bohong. Nadia memang anak dari salah satu kerabat ibuku. Saat di Bandung dulu, aku dan dia bertetangga. Kami berteman sejak kecil dan mungkin karena pertemanan itu aku jadi menaruh perhatian padanya. Selain itu, kami juga sama-sama bercita-cita menjadi seorang pianis.
“ Nadia memang lebih tua beberapa tahun dariku, jadi wajar jika aku hanya dianggapnya sebagai adik. Makanya saat dia menolakku dia bilang kalau kami sebaiknya tetap menjadi teman atau saudara saja. Saat itu aku memang patah hati, tapi aku tetap bisa menerima.”
Helaan napas Alexi mulai terdengar berat. Hal itu mulai memancing perhatian Wenda.
“ Tapi kejadian yang membuatku lebih sakit hati adalah setelah itu. Aku baru tahu alasan kenapa Nadia waktu itu menolakku. Bukan karena usiaku atau hubungan persaudaraan kami, tapi karena ayahku.
“ Dari awal ayahku memang tidak terlalu menyukai keluarga dari pihak ibuku. Apa lagi sejak melihatku berakrab-akraban dengan Nadia. Dia tahu kalau aku menyukai Nadia. Makanya dia bergegas menyusun rencana supaya aku terpisah dengan Nadia. Dia memberikan beasiswa pada Nadia di Jakarta dan Nadia waktu itu mau-mau saja. Ironinya, sebelum Nadia pergi, dia bilang padaku kalau dia juga punya perasaan yang sama denganku, tapi dia tidak bisa menolak kesempatan ini.
“ Aku marah. Benar-benar marah. Marah pada ayahku yang sudah menyusun skenario picisan ini. Juga marah pada Nadia, kenapa dia lebih memilih kesempatan itu daripada aku. Kalau memang dia menyukaiku seharusnya dia bisa mempertahankan perasaannya.
“ Akhirnya, setelah aku tamat SMP, aku pindah ke Palembang. Masuk ke sekolah kalian dan memulai hidup baru. Aku mencoba melupakan semua amarahku sampai aku bertemu dia lagi. Kali ini aku menyusun skenario supaya aku bisa balas dendam padanya. Aku tahu saat ini dia sudah sukses dan pasti akan memintaku kembali. Aku hanya ingin dia tahu rasanya dicampakkan.
“ Tapi ternyata dia datang ke sini pun atas perintah ayahku. Aku benar-benar kecewa dengannya saat itu. Harusnya aku tidak usah berhubungan dengannya lagi. Harusnya aku mengabaikannya saja. Tidak usah berniat balas dendam yang akhirnya justru menjadi bumerang bagiku dan malah menyakitimu.”
Alexi kemudian beranjak dan menuju tempat duduk Wenda. Gadis itu terkejut saat melihat Alexi tiba-tiba menundukkan tubuhnya.
“ Maaf, aku sudah mempermainkan perasaanmu. Maaf, aku melibatkanmu dalam permainanku. Maaf, karena aku tidak bisa menerima perasaanmu. Dan juga maaf, karena mempermalukanmu malam itu. Jujur, aku hanya tidak ingin menyakitimu lebih lama lagi.”
Wenda merasakan ada sebilah melati menancap di dadanya ketika ia melihat laki-laki meminta maaf seperti orang yang akan dihukum mati. Laki-laki itu bahkan tak mengangkat kepalanya sampai Wenda mengatakan sesuatu.
“ Hei, Alexi. Aku…” Wenda menarik napas panjang. “ Sudahlah, tidak usah menunduk seperti itu lagi. Aku jadi merasa tidak enak.”
Alexi perlahan mengangkat wajahnya. Masih ada raut kekesalan di wajah gadis itu.
“ Aku… aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu sekarang. Aku masih merasa kesal karena kamu menolakku, tapi… mungkin harapanku padamu juga terlalu tinggi. Aku benar-benar tulus menyukaimu.”
“ Aku tahu,” Alexi mengangguk kecil. “ Kamu gadis yang baik, Wen. Aku yakin ada banyak laki-laki lain yang jauh lebih menghargai perasaanmu.”
“ Tidak bisakah laki-laki itu kamu saja?” tanya Wenda penuh harap.
Alexi kembali menundukkan kepalanya, lalu menggeleng pelan.
“ Maaf….”
Mata Wenda terasa panas. Hampir saja ia meneteskan air mata karena pedihnya penolakan itu. Namun, ia masih berusaha menahan supaya ia tidak terlihat patah hati.
“ Baiklah, sepertinya aku memang tidak bisa meruntuhkan perasaanmu. Kamu memang tidak ada empati pada orang lain, Al. Begini saja, kalau ada orang yang bertanya ada apa dengan hubungan kita, bilang saja kalau kamu yang menembakku, tapi aku justru menolakmu. Aku tidak mau reputasiku hancur gara-gara semua orang tahu bahwa akulah yang menyatakan perasaan padamu. Dengan begitu aku anggap kita impas.”
Alexi menarik napas panjang, “ Baik, jika itu yang kamu mau.”
“ Jadi, tetaplah di sini sampai aku pergi. Buatlah seolah-olah kamu baru saja menerima penolakan.”
Wenda beranjak seraya mencangklong ranselnya. Ketika di ambang pintu ia menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Laki-laki itu belum bergerak dari tempat dia berdiri. Keadaan terlihat benar-benar paradoks dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Wenda bergegas meninggalkan kelas. Ia mempercepat langkahnya. Semakin cepat, bahkan ia sekarang setengah berlari. Namun, ketika ia berada di tikungan lorong, ia merasa ada yang menarik tubuhnya.
Orang itu mendekapnya erat. Sangat erat sampai Wenda tak bisa melepaskan diri. Tak hanya erat, tapi pelukan itu juga terasa hangat. Terlalu hangat sampai-sampai membuat Wenda tak mampu menahan air matanya yang sudah mengambang di pelupuk matanya.
Di dalam pelukan itu Wenda menangis sejadi-jadinya. Menangisi perasaanya yang sudah hancur. Perasaan yang ia bangun dengan tulus itu telah pupus.

Author's Note:
Yang dari kemarin sempet ilfeel sama Alexi, hohoho.... Author harap postingan kal ini membuat rasa itu terobati
ciawww
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar