Musikal 90
Andani bingung melihat saudarinya yang tiba-tiba
datang dan langsung menghempaskan tasnya ke sofa. Baru saja ia akan menuliskan
pertanyaan tentang apa yang terjadi, Anjani lebih dulu membuka suara.
“ Sumpah, aku kesal
banget sama Wenda!”
Anjani bersedekap
marah. Sementara itu saudarinya ini melirik takut-takut dan penuh tanda tanya.
Anjani mendengus pendek, lalu mendudukkan dirinya agar emosinya surut.
“ Ceritanya panjang,
An. Dan ini melibatkan teman baikmu, si Ririn.”
Mata Andani membulat
saat nama Ririn disebut. Rasanya aneh mendengar Ririn terlibat masalah dengan
Wenda. Ia pun mendengarkan cerita Anjani dengan seksama. Saudarinya itu
mengisahkan semua masalah itu bermula dari kedatangan seorang gadis cantik
bernama Nadia. Kemudian drama percintaan palsu antara Wenda dan Alexi. Hingga
kebohongan yang sengaja Wenda buat untuk Ririn.
Mendengar semua
cerita saudarinya, Andani baru menyadari betapa ia ketinggalan banyak berita
selama ia absen. Hanya saja ia tak menyangka bahwa yang ia terima adalah berita
yang tidak baik. Sedih juga ketika menjadi orang terakhir yang terakhir
mendapat kabar ini, apalagi kabar itu menyangkut teman sendiri. Selain itu, ia
juga tidak bisa berada di sana ketika sahabatnya tertimpa masalah.
“ Aku paham kalau
Wenda rela menjadi pacar pura-pura Alexi, tapi aku masih gak ngerti kenapa dia
harus berbohong sama Ririn,” Anjani melirik saudarinya. “Menurutmu ada sesuatu
antara Alexi dan Ririn? Misalnya mereka berdua atau salah satu dari mereka
saling suka begitu.”
Aku tidak tahu Alexi, tapi kalau
Ririn dia sukanya sama Adrian
“ Masa sih? Padahal kamu’kan lumayan dekat sama Alexi. Masa dia gak
pernah cerita-cerita apa sama kamu? Dan masa kamu gak pernah lihat kedekatan
antara Alexi dan Ririn? Aku aja sering mikir kalau Alexi itu lagi pdkt sama
Ririn.”
Aku memang dekat dengan Alexi,
tapi obrolan kami hanya sebatas musik aja. Aku juga gak minat dengan cerita
pribadi dia.
Anjani mengangguk-angguk saat membaca jawaban Andani. Namun, detik
berikutnya ia terkesiap. Ia baru sadar dengan kalimat Andani sebelum.
“ Eh, tunggu dulu! Kamu bilang Ririn suka sama Adrian? Sejak kapan?”
Giliran Andani yang terlihat kaget. Ia tak menyangka kalau saudarinya
itu justru baru tahu sekarang. Ia pun meraih ponselnya dan mengetik teks
panjang yang berisi tentang bagaimana pertama kali Ririn menyukai Adrian. Ia
juga tak lupa menceritakan bagaimana hubungan Ririn-Adrian yang sudah sampai
tahap brotherzone. Sama seperti
Andani, Anjani juga merasa telah banyak ketinggalan berita sejak ia pernah
meninggalkan Love Musical.
“ Waah, ternyata ada benang merah antara Wenda, Alexi, Ririn, dan juga
Adrian,” ujar Anjani.
Jangan lupa soal Fi!
“ Ah ya, kamu benar. Bisa jadi Fi akan jadi biang kerok terakhir.”
Kedua saudari kembar ini sama-sama menghela napas. Mereka tidak
menyangka obrolan panjang pertama mereka justru mengenai masalah sahabat mereka
sendiri. tanpa sadar tatapan keduanya mengarah pada langit gelap di luar
jendela. Mereka berharap esok akan membawa langit cerah untuk sahabat-sahabat
mereka.
ooOoo
“ Maaf aku tidak bisa mengantarmu besok ke bandara.”
“ Aku mengerti. Kamu
harus sekolah’kan?”
Alexi mengangguk
kecil. Ia pun kembali membantu Nadia membereskan barang-barang. Tugasnya
selesai tatkala gadis itu memasukkan barang terakhir dan mengunci kopernya.
“ Jadi, bagaimana
kabar ‘pacarmu’ itu?”
Nadia sengaja
menekankan kata “pacar” supaya Alexi mengerti maksudnya. Tanpa diberi penekanan
pun Alexi sudah paham dan ia jadi lebih benci dengan kata yang ditekankan itu.
“ Jangan dibahas
lagi. Ini semua terjadi kalau bukan karena kedatanganmu, Nad.”
“ Hu uh, aku lagi,
aku lagi,” Nadia menggerutu seraya menjejalkan tablet ke dalam tas tangannya. “
Aku jadi kayak pendosa besar aja, Al. Bisakah kita menyelesaikan masalah ini
sebelum aku pulang? Aku tidak mau kita bertengkar.”
Alexi mendesah
pendek, “ Yang pertama, katakan pada Ayahku bahwa aku akan pulang.”
Nadia terkesiap
kaget. Baru saja ia baru mengonfirmasi, Alexi langsung membungkam dengan kata-katanya.
“ Tidak bersamamu
sekarang.”
“ Kamu kayaknya marah
banget ya sama aku?” ujar Nadia dengan bibir mengerucut.
“ Kalau sekarang iya,
tapi alasanku bukan itu. Kamu tahu’kan aku harus menyelesaikan pementasan ini
dulu.”
Nadia mengangguk
paham, lalu ia tersenyum.
“ Dan kita bisa
bersama seperti dulu.”
Alexi menarik napas
panjang. Ia menghindari tatapan Nadia dan memilih berdiri di dekat jendela.
“ Aku akan kembali,
tapi bukan untuk bersamamu.”
Nadia tak langsung
bertanya balik. Ia hanya menatap sosok laki-laki yang sedang memandang jauh ke
luar jendela. Dalam benaknya laki-laki itu adalah sosok adik kecil yang imut.
Namun, sekarang dia sudah beranjak dewasa. Tak ada lagi sisa-sisa adik kecil
yang ia kenal dulu. Baru kali ini ia merasa ditolak oleh si adik kecil.
“ Padahal aku sangat
menantikan saat-saat ini, Al.”
“ Aku juga,” sahut
Alexi cepat. “ Tapi itu dulu. Sayang sekali, Nad. Andai kamu dulu gak nolak aku
atau aku lebih dulu tahu kebenarannya. Mungkin ini akan menjadi momen nostalgia
kita yang paling indah untuk kita.”
“ Aku minta maaf soal
itu, Al. Aku―”
“ Tidak apa-apa,”
Alexi berbalik dengan senyuman tulus tergurat di wajahnya. “Toh, aku menemukan hidupku yang baru berkat
kejadian waktu itu.”
“ Jadi, kamu benci
aku sekarang?”
Alexi terkekeh kecil,
“ Sejak kapan aku bisa membencimu?”
Detik berikutnya
Alexi sudah berada di dalam dekapan gadis itu. Tak ada yang bisa ia lakukan
selain membalas pelukannya. Dekapan gadis itu semakin erat kala tangan Alexi
merangkul pundaknya.
“ Aku mencintaimu,
Al.”
Alexi menarik napas
dengan mata terpejam. Ia rasakan semua partikel kehangatan yang dari setiap
kata-kata yang terlontar dari gadis itu. Hal itu membuatnya dapat tersenyum
bijak.
“ Kamu cinta
pertamaku, tapi maaf. Kali ini aku harus menolakmu.”
Dan sejak saat itu
mantra pengikat Alexi pun terlepas.
Auhtor’s Note:
Kegalauan musikal kali ini disebabkan
oleh lagu “Eve” dari Hey! Say Jump!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar