Total Tayangan Halaman

Sabtu, 22 Oktober 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 90)




Musikal 90

Andani bingung melihat saudarinya yang tiba-tiba datang dan langsung menghempaskan tasnya ke sofa. Baru saja ia akan menuliskan pertanyaan tentang apa yang terjadi, Anjani lebih dulu membuka suara.
“ Sumpah, aku kesal banget sama Wenda!”
Anjani bersedekap marah. Sementara itu saudarinya ini melirik takut-takut dan penuh tanda tanya. Anjani mendengus pendek, lalu mendudukkan dirinya agar emosinya surut.
“ Ceritanya panjang, An. Dan ini melibatkan teman baikmu, si Ririn.”
Mata Andani membulat saat nama Ririn disebut. Rasanya aneh mendengar Ririn terlibat masalah dengan Wenda. Ia pun mendengarkan cerita Anjani dengan seksama. Saudarinya itu mengisahkan semua masalah itu bermula dari kedatangan seorang gadis cantik bernama Nadia. Kemudian drama percintaan palsu antara Wenda dan Alexi. Hingga kebohongan yang sengaja Wenda buat untuk Ririn.
Mendengar semua cerita saudarinya, Andani baru menyadari betapa ia ketinggalan banyak berita selama ia absen. Hanya saja ia tak menyangka bahwa yang ia terima adalah berita yang tidak baik. Sedih juga ketika menjadi orang terakhir yang terakhir mendapat kabar ini, apalagi kabar itu menyangkut teman sendiri. Selain itu, ia juga tidak bisa berada di sana ketika sahabatnya tertimpa masalah.
“ Aku paham kalau Wenda rela menjadi pacar pura-pura Alexi, tapi aku masih gak ngerti kenapa dia harus berbohong sama Ririn,” Anjani melirik saudarinya. “Menurutmu ada sesuatu antara Alexi dan Ririn? Misalnya mereka berdua atau salah satu dari mereka saling suka begitu.”
Aku tidak tahu Alexi, tapi kalau Ririn dia sukanya sama Adrian
“ Masa sih? Padahal kamu’kan lumayan dekat sama Alexi. Masa dia gak pernah cerita-cerita apa sama kamu? Dan masa kamu gak pernah lihat kedekatan antara Alexi dan Ririn? Aku aja sering mikir kalau Alexi itu lagi pdkt sama Ririn.”
Aku memang dekat dengan Alexi, tapi obrolan kami hanya sebatas musik aja. Aku juga gak minat dengan cerita pribadi dia.
Anjani mengangguk-angguk saat membaca jawaban Andani. Namun, detik berikutnya ia terkesiap. Ia baru sadar dengan kalimat Andani sebelum.
“ Eh, tunggu dulu! Kamu bilang Ririn suka sama Adrian? Sejak kapan?”
Giliran Andani yang terlihat kaget. Ia tak menyangka kalau saudarinya itu justru baru tahu sekarang. Ia pun meraih ponselnya dan mengetik teks panjang yang berisi tentang bagaimana pertama kali Ririn menyukai Adrian. Ia juga tak lupa menceritakan bagaimana hubungan Ririn-Adrian yang sudah sampai tahap brotherzone. Sama seperti Andani, Anjani juga merasa telah banyak ketinggalan berita sejak ia pernah meninggalkan Love Musical.
“ Waah, ternyata ada benang merah antara Wenda, Alexi, Ririn, dan juga Adrian,” ujar Anjani.
Jangan lupa soal Fi!
“ Ah ya, kamu benar. Bisa jadi Fi akan jadi biang kerok terakhir.”
Kedua saudari kembar ini sama-sama menghela napas. Mereka tidak menyangka obrolan panjang pertama mereka justru mengenai masalah sahabat mereka sendiri. tanpa sadar tatapan keduanya mengarah pada langit gelap di luar jendela. Mereka berharap esok akan membawa langit cerah untuk sahabat-sahabat mereka.
ooOoo
“ Maaf aku tidak bisa mengantarmu besok ke bandara.”
“ Aku mengerti. Kamu harus sekolah’kan?”
Alexi mengangguk kecil. Ia pun kembali membantu Nadia membereskan barang-barang. Tugasnya selesai tatkala gadis itu memasukkan barang terakhir dan mengunci kopernya.
“ Jadi, bagaimana kabar ‘pacarmu’ itu?”
Nadia sengaja menekankan kata “pacar” supaya Alexi mengerti maksudnya. Tanpa diberi penekanan pun Alexi sudah paham dan ia jadi lebih benci dengan kata yang ditekankan itu.
“ Jangan dibahas lagi. Ini semua terjadi kalau bukan karena kedatanganmu, Nad.”
“ Hu uh, aku lagi, aku lagi,” Nadia menggerutu seraya menjejalkan tablet ke dalam tas tangannya. “ Aku jadi kayak pendosa besar aja, Al. Bisakah kita menyelesaikan masalah ini sebelum aku pulang? Aku tidak mau kita bertengkar.”
Alexi mendesah pendek, “ Yang pertama, katakan pada Ayahku bahwa aku akan pulang.”
Nadia terkesiap kaget. Baru saja ia baru mengonfirmasi, Alexi langsung membungkam dengan kata-katanya.
“ Tidak bersamamu sekarang.”
“ Kamu kayaknya marah banget ya sama aku?” ujar Nadia dengan bibir mengerucut.
“ Kalau sekarang iya, tapi alasanku bukan itu. Kamu tahu’kan aku harus menyelesaikan pementasan ini dulu.”
Nadia mengangguk paham, lalu ia tersenyum.
“ Dan kita bisa bersama seperti dulu.”
Alexi menarik napas panjang. Ia menghindari tatapan Nadia dan memilih berdiri di dekat jendela.
“ Aku akan kembali, tapi bukan untuk bersamamu.”
Nadia tak langsung bertanya balik. Ia hanya menatap sosok laki-laki yang sedang memandang jauh ke luar jendela. Dalam benaknya laki-laki itu adalah sosok adik kecil yang imut. Namun, sekarang dia sudah beranjak dewasa. Tak ada lagi sisa-sisa adik kecil yang ia kenal dulu. Baru kali ini ia merasa ditolak oleh si adik kecil.
“ Padahal aku sangat menantikan saat-saat ini, Al.”
“ Aku juga,” sahut Alexi cepat. “ Tapi itu dulu. Sayang sekali, Nad. Andai kamu dulu gak nolak aku atau aku lebih dulu tahu kebenarannya. Mungkin ini akan menjadi momen nostalgia kita yang paling indah untuk kita.”
“ Aku minta maaf soal itu, Al. Aku―”
“ Tidak apa-apa,” Alexi berbalik dengan senyuman tulus tergurat di wajahnya. “Toh,  aku menemukan hidupku yang baru berkat kejadian waktu itu.”
“ Jadi, kamu benci aku sekarang?”
Alexi terkekeh kecil, “ Sejak kapan aku bisa membencimu?”
Detik berikutnya Alexi sudah berada di dalam dekapan gadis itu. Tak ada yang bisa ia lakukan selain membalas pelukannya. Dekapan gadis itu semakin erat kala tangan Alexi merangkul pundaknya.
“ Aku mencintaimu, Al.”
Alexi menarik napas dengan mata terpejam. Ia rasakan semua partikel kehangatan yang dari setiap kata-kata yang terlontar dari gadis itu. Hal itu membuatnya dapat tersenyum bijak.
“ Kamu cinta pertamaku, tapi maaf. Kali ini aku harus menolakmu.”
Dan sejak saat itu mantra pengikat Alexi pun terlepas.

Auhtor’s Note:
Kegalauan musikal kali ini disebabkan oleh lagu “Eve” dari Hey! Say Jump!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar