Total Tayangan Halaman

Sabtu, 03 Desember 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 104)



Musikal 104

Andani dan Anjani terlihat ragu-ragu saat menuju area kelas XII. Mereka saling dorong-dorongan supaya salah satu dari mereka yang berdiri di depan. Kelas yang mereka tuju masih sepi. Keduanya pun berdiskusi sebentar lalu memutuskan untuk kembali ke kelas mereka sendiri. Namun, semua itu gagal saat mereka berpapasan dengan Hiro dan Jiro.
“ Hayoo, ngapain intip-intip kelas kita?” seru Hiro.
Andani spontan bersembunyi di belakang saudarinya. Seolah-olah ia baru saja mencuri sepotong keju.
“ Hoo, jangan-jangan kalian mau ketemu kita ya?” sahut Jiro.
Anjani mendengus sebal. Ia kesal karena tak bisa kabur dari kembar Hasegawa, dan ia juga kesal karena saudarinya sendiri justru semakin menciut di belakangnya.
“ Kami mau cari Kak Santi,” ujar Anjani kemudian. “ Dia sudah datang belum?”
Jiro tersenyum usil, “ Kenapa gak cari kita aja?”
“ Kita cuma mau ketemu sama Kak Santi,” tegas Anjani.
“ Semua urusan yang menyangkut Santi-san juga jadi urusan kami,” sahut Jiro tak mau kalah.
“ Heei, sejak kapaaan?”
Duo Hasegawa ini terkejut. Mereka tak menyangka kalau gadis yang sedang dibicarakan tiba-tiba muncul di belakang mereka. Keduanya hanya tersenyum manis kemudian mundur teratur.
Santi mendengus sinis. Ekspresi mukanya kembali tenang ketika berbicara dengan duo Bramastya.
“ Ada apa pagi-pagi mencariku?”
Andani bergerak maju. Kehadiran Santi membuat dirinya merasa aman.
“ Begini, Kak. Mama sama Papa aku mau ngadain syukuran karena aku sudah sehat lagi. Rencananya kami mau ngajak semua anggota Love Musical buat makan-makan sepulang sekolah nanti. Nah, aku mau minta tolong sama Kak Santi supaya kasih tahu kabar ini ke teman-teman Kakak. Soalnya takut gak ketemu semua nanti.”
Santi mengangguk semangat, “ Wah, oke, oke. Nanti aku sampaikan. Hmm, asyik nih makan-makan. Ngomong-ngomong acaranya dimana?”
“ Di kafe XXX.  Nanti pas pulang sekolah kita rombongan aja ke sana,” sambung Anjani.
“ Oke, oke, sip!” Santi mengacungkan jempolnya.
“ Eh, kalau cuma menyampaikan kabar seperti itu kami berdua juga bisa kok,” sahut Jiro. “ Kenapa harus lewat Santi-san?”
  Mungkin kalian terlalu mengintimidasi,” Santi terkekeh. “ Ya sudah, aku ke kelas dulu ya.”
“ Ka—kami juga permisi,” ujar Andani seraya menarik saudarinya.
Hiro dan Jiro hanya bengong melihat langkah kedua gadis itu yang begitu cepat. Hiro melirik saudaranya, kemudian ia terkikik.
“ Kenapa tertawa?” tanya Jiro yang tersadar gara-gara mendengar tawa saudaranya.
“ Habisnya kamu terlihat bodoh sekali tadi.”
Jiro berdecak kesal, “ Bodoh bagaimana?”
“ Dengar ya, si Mezos-chan itu tidak suka pria agresif seperti kamu. Kamu malah buat dia ketakutan kayak tadi.”
“ Hoo, jadi kamu pikir dia lebih tertarik denganmu?”
Hiro melambaikan tangannya seraya mendahului Jiro ke kelas, seraya berkata:
“ Tidak. Lagi pula aku lebih suka dengan nada yang lebih rendah.”
ooOoo
“ Hei, Ben. Coba periksa dulu hasil tugas kelompok kita kemarin.”
Ben menerima sebuah makalah yang disodorkan Wenda. Ia membacanya dengan seksama.
“ Kayaknya ini udah bagus.”
Ben kembali menyodorkan makalah itu. Namun, ketika tangan Wenda menggapainya, Ben sengaja menahannya.
“ Kamu udah gak kelihatan jutek-jutek lagi.”
“ Jutek apaan?” Wenda berusaha menarik makalah, tapi perlawanan Ben juga semakin kuat.
“ Alexi dan Ririn, maksudku.”
Gerakan tangan Wenda terhenti. Ia melepaskan tangannya dari makalah seraya menghela napas panjang.
“ Mau bagaimana lagi. Toh memusuhi mereka selamanya gak akan merubah keadaan. Lagi pula dalam kasus ini aku juga yang salah, tapi yah wajar juga kalau aku sempat marah,” Wenda menghela napas lagi. “ Tapi aku butuh waktu untuk berdamai dengan diriku sendiri. Sampai akhirnya aku bisa menerima semua kejadian ini dengan lapang dada.”
Wenda tersenyum kecil. Lega rasanya bisa mengatakan semua yang ia pendam selama ini. Tiba-tiba suasana haru itu rusak oleh gulungan makalah yang dipukulkan Ben di kepalanya. Wenda mengerang kesakitan, tapi Ben justru tertawa.
That’s my girl! Senang bisa melihatmu kembali.”
“ Iya, tapi gak pakai getok-getok kelapa juga kali,” sahut Wenda sewot.
Ben masih tertawa, “ Lalu Priyanka?”
“ Ahh, kalau dia…” Wenda berdeham. “ Tidak tahu ya, aku juga sebenarnya mau memaafkan, tapi rasanya masih berat. Mungkin aku butuh waktu lebih lama.”
Ada jeda yang panjang di antara keduanya, sampai Ben melemparkan senyuman hangat padanya.
“ Tidak apa. Untuk kasusnya kamu berhak marah, tapi kuharap kamu juga cepat memaafkan,” Ben mengacak-acak rambut Wenda. “ Setidaknya separuh dirimu yang dulu sudah kembali dan aku suka.”
Wenda tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya ia memutuskan untuk membalas dengan sebuah senyuman. Ben memang selalu mengerti bagaimana isi hatinya.
ooOoo
Priyanka berdecak kesal saat mengecek ponselnya. Baru saja ia mendapakan pesan dari mamanya dan pesan itulah yang membuatnya mengumpat-umpat. Dengan tergesa-gesa ia menghampiri bangku Andani.
“ An, acara kalian sampai jam berapa?”
Tak hanya Andani, perhatian Ririn pun ikut tersita saat Priyanka melontarkan pertanyaan itu.
“ Hmm, sampai malam mungkin, tapi gak malam-malam banget. Memangnya kenapa, Ka?”
“ Gini loh, Mama aku minta jemput dari mall. Mau gak mau aku harus anter dulu Mama aku, tapi rumah aku tuh jauh. Aku takut nanti udah kemaleman sampai ke kafenya.”
Andani tersenyum, “ Ohh, gitu. Gak apa-apa kok, Ka. Jemput dulu aja Mamamu, aku pikir acaranya bakalan lama. Kita gak bakal ninggalin kamu kok.”
Priyanka mendesah lega, “ Syukurlah. Fuuh, Mama aku ini memang ada-ada aja. Padahal kalau kayak gini’kan bisa naik taksi aja.”
Andani dan Ririn sama-sama tertawa. Namun, tawa mereka lenyap saat Fi ikut menghampiri meja mereka.
“ An, maaf aku tidak bisa ikut ya. Aku ada urusan mendadak.”
“ Tidak apa,” Andani berdeham. “ Aku mengerti kok.”
Fi tersenyum singkat. Ia pun berlalu. Andani langsung berbisik di telinga Ririn.
“ Baguslah kalau dia gak ikut.”
Ririn hanya mengulum senyumnya. Padahal yang bermasalah dengan Fi adalah dirinya, tapi solidaritas Andani boleh juga.
ooOoo
Ketika semua teman-temannya sibuk menyalakan motor, Ririn justru terlihat kebingungan di tempat parkir. Tadinya ia berencana pergi bersama Priyanka, tapi Priyanka sudah keburu di-booking oleh sang mama. Ia tentu tak bisa pergi dengan Andani, karena gadis itu sudah bersama Anjani. Mau menumpang dengan Wenda rasanya juga tak mungkin. Ia sendiri juga belum yakin Wenda sudah seperti dulu.
Ben atau Kemal? Sayang, pilihan pertamanya sudah keburu melajukan motornya. Tersisa Kemal, tapi rasanya Ririn belum bersedia untuk berhutang budi dengan laki-laki itu.
“ Rin, mau bareng?”
Tawaran manis dari Alexi terasa hambar di hati Ririn. Bukannya ia gengsi naik sepeda, tapi ia juga memikirkan waktu tempuh. Jarak yang akan melalui cukup jauh, bisa-bisa mereka akan tiba pada malam hari. Selain itu, ada kemungkinan Alexi sudah tewas duluan karena terlalu lama memboncengnya.
“ Kalian berdua bareng kami saja.”
Sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Senyuman duo Hasegawa menyapa dari kaca jendela yang terbuka.
“ Sepedanya Aru-kun taruh saja di belakang,” ujar Hiro. “ Muat kok.”
“ A—Aru-kun?” tanya Ririn ketika Alexi melintas di depannya.
“ Orang Jepang’kan tidak bisa bilang ‘L’,” jawab Alexi sambil tersenyum. “ Bisa bantu aku?”
Benar juga. Ririn baru ingat sekarang. Padahal ia suka menonton anime. Kenapa ia tidak sadar akan hal itu. Lamunannya terbuyar saat Alexi kembali memanggilnya untuk memasukkan sepeda. Ternyata tidak sulit. Sepeda Alexi adalah sepeda yang bisa dilipat. Laki-laki itu hanya minta bantuan untuk melipatnya.
“ Sepertinya Hiro dan Jiro Senpai tahu kalau sepedamu bisa dilipat,” ujar Ririn sambil menutup pintu belakang.
Alexi kembali tersenyum, “ Mungkin dia perhatian.”
Ririn hanya terkekeh, lalu ia masuk ke dalam mobil.
“ Terima kasih ya, Senpai,” ujar Ririn.
“ Tidak masalah,” sahut Jiro. “ Naik sepeda akan memakan waktu yang lama. N’est-ce pas, Aru-kun?”
Alexi tersenyum sinis, “ Oui, mercy.”
Mata Ririn berpindah-pindah dari Jiro dan Alexi. Entah bahasa apa yang baru saja mereka gunakan, tapi itu membuat Ririn merasa asing di sini.

Author’s Note:
N’est-ce pas, Aru-kun? : Iya’kan, Aru-kun?
Oui, mercy                    : Ya, terima kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar