Musikal 104
Andani dan Anjani
terlihat ragu-ragu saat menuju area kelas XII. Mereka saling dorong-dorongan
supaya salah satu dari mereka yang berdiri di depan. Kelas yang mereka tuju
masih sepi. Keduanya pun berdiskusi sebentar lalu memutuskan untuk kembali ke kelas
mereka sendiri. Namun, semua itu gagal saat mereka berpapasan dengan Hiro dan
Jiro.
“ Hayoo,
ngapain intip-intip kelas kita?” seru Hiro.
Andani
spontan bersembunyi di belakang saudarinya. Seolah-olah ia baru saja mencuri
sepotong keju.
“
Hoo, jangan-jangan kalian mau ketemu kita ya?” sahut Jiro.
Anjani
mendengus sebal. Ia kesal karena tak bisa kabur dari kembar Hasegawa, dan ia
juga kesal karena saudarinya sendiri justru semakin menciut di belakangnya.
“
Kami mau cari Kak Santi,” ujar Anjani kemudian. “ Dia sudah datang belum?”
Jiro
tersenyum usil, “ Kenapa gak cari kita aja?”
“
Kita cuma mau ketemu sama Kak Santi,” tegas Anjani.
“
Semua urusan yang menyangkut Santi-san
juga jadi urusan kami,” sahut Jiro tak mau kalah.
“
Heei, sejak kapaaan?”
Duo Hasegawa
ini terkejut. Mereka tak menyangka kalau gadis yang sedang dibicarakan
tiba-tiba muncul di belakang mereka. Keduanya hanya tersenyum manis kemudian
mundur teratur.
Santi
mendengus sinis. Ekspresi mukanya kembali tenang ketika berbicara dengan duo Bramastya.
“
Ada apa pagi-pagi mencariku?”
Andani
bergerak maju. Kehadiran Santi membuat dirinya merasa aman.
“
Begini, Kak. Mama sama Papa aku mau ngadain syukuran karena aku sudah sehat
lagi. Rencananya kami mau ngajak semua anggota Love Musical buat makan-makan sepulang sekolah nanti. Nah, aku mau
minta tolong sama Kak Santi supaya kasih tahu kabar ini ke teman-teman Kakak.
Soalnya takut gak ketemu semua nanti.”
Santi
mengangguk semangat, “ Wah, oke, oke. Nanti aku sampaikan. Hmm, asyik nih
makan-makan. Ngomong-ngomong acaranya dimana?”
“ Di
kafe XXX. Nanti pas pulang sekolah kita
rombongan aja ke sana,” sambung Anjani.
“
Oke, oke, sip!” Santi mengacungkan jempolnya.
“
Eh, kalau cuma menyampaikan kabar seperti itu kami berdua juga bisa kok,” sahut
Jiro. “ Kenapa harus lewat Santi-san?”
“ Mungkin kalian terlalu mengintimidasi,” Santi
terkekeh. “ Ya sudah, aku ke kelas dulu ya.”
“
Ka—kami juga permisi,” ujar Andani seraya menarik saudarinya.
Hiro
dan Jiro hanya bengong melihat langkah kedua gadis itu yang begitu cepat. Hiro
melirik saudaranya, kemudian ia terkikik.
“
Kenapa tertawa?” tanya Jiro yang tersadar gara-gara mendengar tawa saudaranya.
“
Habisnya kamu terlihat bodoh sekali tadi.”
Jiro
berdecak kesal, “ Bodoh bagaimana?”
“
Dengar ya, si Mezos-chan itu tidak
suka pria agresif seperti kamu. Kamu malah buat dia ketakutan kayak tadi.”
“
Hoo, jadi kamu pikir dia lebih tertarik denganmu?”
Hiro
melambaikan tangannya seraya mendahului Jiro ke kelas, seraya berkata:
“
Tidak. Lagi pula aku lebih suka dengan nada yang lebih rendah.”
ooOoo
“ Hei, Ben. Coba
periksa dulu hasil tugas kelompok kita kemarin.”
Ben
menerima sebuah makalah yang disodorkan Wenda. Ia membacanya dengan seksama.
“
Kayaknya ini udah bagus.”
Ben
kembali menyodorkan makalah itu. Namun, ketika tangan Wenda menggapainya, Ben
sengaja menahannya.
“
Kamu udah gak kelihatan jutek-jutek lagi.”
“
Jutek apaan?” Wenda berusaha menarik makalah, tapi perlawanan Ben juga semakin
kuat.
“
Alexi dan Ririn, maksudku.”
Gerakan
tangan Wenda terhenti. Ia melepaskan tangannya dari makalah seraya menghela
napas panjang.
“
Mau bagaimana lagi. Toh memusuhi
mereka selamanya gak akan merubah keadaan. Lagi pula dalam kasus ini aku juga
yang salah, tapi yah wajar juga kalau aku sempat marah,” Wenda menghela napas lagi.
“ Tapi aku butuh waktu untuk berdamai dengan diriku sendiri. Sampai akhirnya
aku bisa menerima semua kejadian ini dengan lapang dada.”
Wenda
tersenyum kecil. Lega rasanya bisa mengatakan semua yang ia pendam selama ini.
Tiba-tiba suasana haru itu rusak oleh gulungan makalah yang dipukulkan Ben di
kepalanya. Wenda mengerang kesakitan, tapi Ben justru tertawa.
“ That’s my girl! Senang bisa melihatmu kembali.”
“
Iya, tapi gak pakai getok-getok kelapa juga kali,” sahut Wenda sewot.
Ben
masih tertawa, “ Lalu Priyanka?”
“
Ahh, kalau dia…” Wenda berdeham. “ Tidak tahu ya, aku juga sebenarnya mau
memaafkan, tapi rasanya masih berat. Mungkin aku butuh waktu lebih lama.”
Ada
jeda yang panjang di antara keduanya, sampai Ben melemparkan senyuman hangat
padanya.
“ Tidak
apa. Untuk kasusnya kamu berhak marah, tapi kuharap kamu juga cepat memaafkan,”
Ben mengacak-acak rambut Wenda. “ Setidaknya separuh dirimu yang dulu sudah
kembali dan aku suka.”
Wenda
tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya ia memutuskan untuk membalas dengan
sebuah senyuman. Ben memang selalu mengerti bagaimana isi hatinya.
ooOoo
Priyanka berdecak
kesal saat mengecek ponselnya. Baru saja ia mendapakan pesan dari mamanya dan
pesan itulah yang membuatnya mengumpat-umpat. Dengan tergesa-gesa ia menghampiri
bangku Andani.
“
An, acara kalian sampai jam berapa?”
Tak
hanya Andani, perhatian Ririn pun ikut tersita saat Priyanka melontarkan
pertanyaan itu.
“
Hmm, sampai malam mungkin, tapi gak malam-malam banget. Memangnya kenapa, Ka?”
“
Gini loh, Mama aku minta jemput dari mall. Mau gak mau aku harus anter dulu
Mama aku, tapi rumah aku tuh jauh. Aku takut nanti udah kemaleman sampai ke
kafenya.”
Andani
tersenyum, “ Ohh, gitu. Gak apa-apa kok, Ka. Jemput dulu aja Mamamu, aku pikir
acaranya bakalan lama. Kita gak bakal ninggalin kamu kok.”
Priyanka
mendesah lega, “ Syukurlah. Fuuh, Mama aku ini memang ada-ada aja. Padahal
kalau kayak gini’kan bisa naik taksi aja.”
Andani
dan Ririn sama-sama tertawa. Namun, tawa mereka lenyap saat Fi ikut menghampiri
meja mereka.
“
An, maaf aku tidak bisa ikut ya. Aku ada urusan mendadak.”
“
Tidak apa,” Andani berdeham. “ Aku mengerti kok.”
Fi
tersenyum singkat. Ia pun berlalu. Andani langsung berbisik di telinga Ririn.
“
Baguslah kalau dia gak ikut.”
Ririn
hanya mengulum senyumnya. Padahal yang bermasalah dengan Fi adalah dirinya,
tapi solidaritas Andani boleh juga.
ooOoo
Ketika semua
teman-temannya sibuk menyalakan motor, Ririn justru terlihat kebingungan di
tempat parkir. Tadinya ia berencana pergi bersama Priyanka, tapi Priyanka sudah
keburu di-booking oleh sang mama. Ia
tentu tak bisa pergi dengan Andani, karena gadis itu sudah bersama Anjani. Mau
menumpang dengan Wenda rasanya juga tak mungkin. Ia sendiri juga belum yakin Wenda
sudah seperti dulu.
Ben
atau Kemal? Sayang, pilihan pertamanya sudah keburu melajukan motornya. Tersisa
Kemal, tapi rasanya Ririn belum bersedia untuk berhutang budi dengan laki-laki
itu.
“
Rin, mau bareng?”
Tawaran
manis dari Alexi terasa hambar di hati Ririn. Bukannya ia gengsi naik sepeda,
tapi ia juga memikirkan waktu tempuh. Jarak yang akan melalui cukup jauh,
bisa-bisa mereka akan tiba pada malam hari. Selain itu, ada kemungkinan Alexi
sudah tewas duluan karena terlalu lama memboncengnya.
“
Kalian berdua bareng kami saja.”
Sebuah
mobil hitam berhenti di depan mereka. Senyuman duo Hasegawa menyapa dari kaca
jendela yang terbuka.
“
Sepedanya Aru-kun taruh saja di
belakang,” ujar Hiro. “ Muat kok.”
“
A—Aru-kun?” tanya Ririn ketika Alexi
melintas di depannya.
“
Orang Jepang’kan tidak bisa bilang ‘L’,” jawab Alexi sambil tersenyum. “ Bisa
bantu aku?”
Benar
juga. Ririn baru ingat sekarang. Padahal ia suka menonton anime. Kenapa ia
tidak sadar akan hal itu. Lamunannya terbuyar saat Alexi kembali memanggilnya
untuk memasukkan sepeda. Ternyata tidak sulit. Sepeda Alexi adalah sepeda yang
bisa dilipat. Laki-laki itu hanya minta bantuan untuk melipatnya.
“
Sepertinya Hiro dan Jiro Senpai tahu
kalau sepedamu bisa dilipat,” ujar Ririn sambil menutup pintu belakang.
Alexi
kembali tersenyum, “ Mungkin dia perhatian.”
Ririn
hanya terkekeh, lalu ia masuk ke dalam mobil.
“
Terima kasih ya, Senpai,” ujar Ririn.
“
Tidak masalah,” sahut Jiro. “ Naik sepeda akan memakan waktu yang lama. N’est-ce pas, Aru-kun?”
Alexi
tersenyum sinis, “ Oui, mercy.”
Mata
Ririn berpindah-pindah dari Jiro dan Alexi. Entah bahasa apa yang baru saja
mereka gunakan, tapi itu membuat Ririn merasa asing di sini.
Author’s
Note:
N’est-ce pas, Aru-kun?
: Iya’kan, Aru-kun?
Oui, mercy : Ya,
terima kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar