Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Maret 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 132)




Musikal 132

Hari pertama Fi masuk sekolah pascaskandal. Jika ingin mengikuti kata hati, rasanya enggan untuk melangkahkan kaki ke sekolah. Hanya saja masih banyak kewajiban yang menuntutnya untuk tidak membiarkan daftar hadirnya terus-terusan kosong. Mau tak mau ia harus menegakkan kepalanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Seperti yang sudah ia prediksi, banyak siswa saling berbisik saat Fi melintas di depan mereka. Tak perlu menguping karena Fi tahu apa yang mereka bicarakan. Dengan wajah tenangnya ia tetap melenggang santai.
Begitu pula ketika ia sampai di kelas. Suasana kelas yang ribut mendadak sepi kala sosok Fi ada di ambang pintu. Untuk kesekian kali, Fi mencoba tidak mengacuhkan. Semua gerakannya terlihat tenang dan teratur. Ia tak menyapa siapa pun (karena biasanya dia juga tidak menyapa siapa pun) dan duduk tenang dengan ponsel di tangan. Tak berapa lama kemudian Priyanka datang. Mereka hanya bertukar pandang dan tidak mengucapkan sepatah kata pun sampai pelajaran dimulai.
Sampai di tengah pelajaran Fi meminta izin ke toilet. Semua berjalan seperti biasa hingga ia mendengar ada rombongan gadis yang sedang membolos pelajaran dan bersembunyi di toilet.Dari dalam kubikel Fi mendengar bagaimana anak-anak berceloteh tentang dirinya.
“ Tadi aku lihat si artis abal-abal itu sudah masuk.”
“ Fi maksudmu?”
“ Tentu saja dia, menurutmu siapa lagi yang dibicarakan.”
“ Waah, berani juga dia menampakkan diri. Padahal satu sekolah ini sedang membicarakan dia.”
“ Bukan, tapi se-Indonesia! Wah, kalo aku sih udah gak berani nampakkin diri.”
Suara-suara itu pun terus berlanjut. Sampai akhirnya Fi tak tahan lagi hingga memutuskan untuk keluar dari kubikel tersebut. Sontak hal itu membuat anak-anak yang membicarakannya terkejut. Suasana tegang langsung menyelimuti ruangan itu.
Bukannya marah justru Fi bersikap biasa saja. Seolah-olah dia bukan orang yang sedang dibicarakan. Gadis-gadis itu menelan ludah dengan susah payah. Bola mata mereka mengikuti semua pergerakan Fi. Hingga Fi menatap mereka dari balik cermin.
“ Ada apa? Apa ada yang salah denganku?”
Mereka tak menjawab. Tak kunjung mendapat jawaban, Fi pun memutuskan untuk meninggalkan mereka.
“Pergi dari sini! Kamu cuma buat aib untuk sekolah ini!”
Tangan Fi seketika membeku pada knop pintu. Hatinya langsung panas mendengar perintah pengusiran itu.
“Benar, sekolah ini baik-baik saja sampai kamu ada di sini!” sahut anak-anak yang lain. “Seharusnya kamu gak usah sekolah di sini aja sekalian!”
Fi berbalik kasar. Ia ingin meluapkan emosinya, tapi tak bisa. Rasanya bukan emosi penuh amarah yang akan keluar, melainkan ledakan air mata. Ia sudah terlalu lelah menahan amarah, sampai-sampai semua kemarahannya berganti tangisan hebat. Tidak. Ia tidak mau menangis di depan orang-orang yang merendahkannya. Namun, sepatah kata saja yang keluar dari mulutnya akan berakhir dengan lelehan cairan asin.
Tepat di saat Fi akan membuka mulut, pintu toilet terbuka. Semua terpana dengan kedatangan Priyanka, lebih-lebih Fi. Namun, Fi tidak tahu apakah Priyanka ada di pihaknya atau justru menjadi lawannya.
“Wah, ini namanya gak adil. Masa orang satu dikeroyok oleh banyak orang.”
“Hoo, jadi kamu ke sini untuk membantunya?”
Priyanka tersenyum seraya lengan Fi, “Nggak, kami memilih mundur. Terima kasih.”
Priyanka cepat-cepat menarik Fi keluar dari toilet. Fi mengira Priyanka akan segera membawanya ke kelas. Tidak. Ternyata Priyanka lebih licik. Dengan cekatan Priyanka mengunci pintu toilet dari luar. Sontak hal itu membuat gerombolan gadis yang mengganggu Fi tadi panik. Mereka menggedor-gedor, meminta agar pintu segera dibukakan.
Fi menatap Priyanka dengan tatapan horor. Namun, Priyanka menempelkan telunjuknya di bibir dengan sebuah kedipan jahil. Ia kembali menarik lengan Fi.
“Mau kemana? Kelas’kan ke arah sana!” Fi menunjuk arah yang berlawanan dengan arah ajakan Priyanka.
“Kalau ke kelas kita akan segera tertangkap,” Priyanka tersenyum usil. “Sudah kepalang basah menjadi penjahat, kenapa tidak sekalian saja menceburkan diri menjadi buronan?”
Fi mendesah berat. Perbuatan Priyanka bukan perbuatan yang baik, tapi bukan juga ide yang buruk. Ya, lagi pula untuk apa bertahan di tempat yang tidak nyaman. Dengan jemari yang saling bertaut, keduanya pun memulai debut sebagai daftar orang yang dicari.

1 komentar: