Musikal 138
“Maaf ya, hari ini
aku gak bisa ikut latihan. Kalau gak aku dipecat jadi anak.”
Pagi
ini Dave mengantarkan Adrian dan Tifa dengan mobilnya. Semalam ayahnya menelepon agar ia harus kembali ke Jakarta
untuk mengurus perusahaan. Mau tak mau ia harus menuruti kata-kata sang ayah,
meskipun ia lebih memilih mengurus pementasan.
“Ayahnya
Om Dave ditambah nenek. Wah, kelar hidup kalian,” sahut Adrian sambil tertawa.
“Itulah
kenapa Tante gak mau berjodoh dengannya, Keponakan,” uajr Tifa.
“Heeei!”
seru Dave yang disusul gelak tawa Adrian dan Tifa.
Mobil
itu sampai di pelataran gedung teater. Adrian berinisiatif untuk turun lebih
dulu.
“Baiklah,
aku duluan, Dave,” ujar Tifa.
Dave
mengangguk, “Jangan terlalu capek, Tif! Ingat, begitu selesai latihan langsung
pulang dan obatnya jangan lupa diminum! Aku akan pulang tiga hari lagi.”
“Iya,
cerewet! Aku tahu. Udah ya, kamu juga hati-hati di jalan.”
Tifa
tergerak untuk membuka pintu. Namun, tiba-tiba Dave menarik lengan Tifa
sehingga gadis itu jatuh dalam pelukannya. Tifa terkejut dan berusaha
melepaskan diri, tapi pelukan Dave lebih kuat.
“Tolonglah,
sebentar saja.”
Suara
Dave begitu lembut hampir seperti bisikan. Bukan bisikan biasa, tapi ada nada
kerinduan di dalamnya. Tifa pun tak bisa bergerak lebih banyak lagi dan hanya
bisa membiarkan Dave membenamkan wajah di bahunya.
“Tiga
hari, tiga hari aku tidak akan melihatmu dan itu sudah membuatku rindu sekali.
Aku tidak tahu kenapa dulu aku bisa melewati hari-hariku tanpamu, tapi sekarang
aku benar-benar tak ingin melewati satu detik pun tanpamu.”
“Kamu
mulai lebay, Dave.”
Dave
melepaskan pelukannya sambil tersenyum jahil. Belum sempat Tifa sadar, Dave
sudah lebih dulu mendaratkan ciuman di tempat favoritnya, ujung bibir Tifa.
Untuk kesekian kalinya, Tifa hanya bisa menerima perlakuan itu.
“Sudah
sana pergilah! Sekali lagi kamu kayak gitu, aku laporin kamu ke polisi dengan
tuduhan pelecehan seksual!”
Tifa
membanting pintu mobil. Di balik pintu itu, Tifa sangat yakin kalau Dave sedang
menertawakannya sekarang. Sial, sekarang pipinya malah bersemu merah.
ooOoo
Latihan hari ini
terasa sedikit berbeda. Awalnya biasa saja, sampai pada adegan dansa Fi-Adrian.
Entah kenapa Fi yang biasanya tampil sempurna justru banyak melakukan
kesalahan. Adegan dansa itu bahkan sampai diulang lima kali. Semua pemain
termasuk para pemusik sudah lelah oleh kesalahan yang dibuat Fi dan jangan
tanya bagaimana berangnya Tifa saat itu.
“APA
KAMU MAU MEMBUAT SEMUA ORANG DI SINI TEWAS, FI?”
Suasana
berubah mencekam. Tak ada yang berani membuka mulut. Tifa sudah berada di
puncak amarahnya.
“Ada
apa? Apa ini masalah pribadimu?”
Fi
tersinggung dengan kata-kata Tifa barusan. Giginya gemeletuk menahan amarah.
“Hei,
sudahlah, Tif,” lerai Gloria. “Kita istirahat sebentar.”
Para
anggota pun beringsut-ringsut turun dari panggung. Tak ada yang berani membuka
suara. Mereka hanya saling melirik dengan tatapan penuh tanda tanya. Sementara
itu Gloria membawa paksa Tifa ke belakang panggung.
“Astaga,
Tif. Kamu jangan beringas kayak tadi dong! Kalem, Tif. Kalem!”
Tifa
hanya meniup ujung rambutnya dengan desahan kesal.
“Aku
tahu ini masalah pribadi kalian, tapi sebenci apa pun kamu sama dia, jangan
bawa-bawa perasaan ketika latihan. Kalau semua orang sampai tahu kebenarannya,
gimana coba?”
Baru
saja Gloria selesai berkata, Riani ikut muncul. Tifa yang tadinya mau menyahut,
tiba-tiba menelan kembali semua kata-katanya ketika ia melihat Fi yang ikut
muncul bersama Riani.
“Ngapain
kamu bawa dia ke sini?”
“Anak-anak
sudah kusuruh menunggu di luar, jadi kalian bisa leluasa berbicara tanpa ada
seorang pun yang dengar,” Riani tersenyum. “Aku pikir kalian butuh bicara dari
hati ke hati.”
“Gak
perlu!” Tifa memalingkan wajahnya.
Riani
kembali tersenyum lalu menarik Gloria pergi. Meninggalkan Tifa dan Fi yang
masih bergeming dalam kebisuan dan keangkuhan masing-masing.
“Ternyata
Anda bisa kekanak-kanakan juga, ya.”
Tifa
tersenyum sinis, “Untukmu, kenapa tidak?” ia melipat tangannya di perut seraya
menatap Fi dingin. “Jadi, sekarang apa masalahmu?”
Fi
menggigit bibirnya. Ingin ia katakan yang sebenarnya kalau ia tak bisa
melakukan adegan dansa itu. Jarak yang terlalu dekat serta terlalu banyak
sentuhan fisik membuat Fi sedikit tak nyaman pascainsiden itu. Namun, ia yakin
Tifa tak akan menerima alasannya.
“Apa…apa
saya bisa mengundurkan diri sekarang?”
“Apa?”
Tifa tertawa sinis. “Kenapa? Kamu takut sekarang?”
Fi
kembali menggigit bibir.
“Dengar,
Fi. Cukup sudah semua masalah yang terjadi, kamu jangan buat masalah lagi hanya
karena masalah pribadi!”
Dekapan
tangan Tifa semakin erat. Ada perasaan bergejolak di sana.
“Kenapa
Anda sepertinya menyiksa saya?”
“Saya
tidak sedang menyiksamu. Saya hanya berusaha menyelesaikan apa yang sudah saya
mulai kemarin. Lagi pula jika saya mau menyiksamu, itu memang pantas. Dengan ini
kamu tahu bagaimana tersiksanya saya waktu itu.”
“Itu
bukan urusan saya.”
Tifa
menjadi panas. Rasa perutnya yang bergejolak semakin membuat amarahnya naik.
Dengan kesal ia menarik bagian leher kaus Fi. Tatapan matanya berkilat-kilat.
“Dengar,
semua yang terjadi sekarang juga dari salahmu! Jadi jangan coba-coba kamu
menghindar!”
Seperti
kembang api yang meletus di udara. Tiba-tiba saja Tifa merasa perutnya seakan
mau meledak. Di tengah amarahnya yang memuncak, wanita ini langsung roboh. Fi
kaget bukan kepalang karena ia tak menyangka kalau wanita yang ada di
hadapannya ini seketika pingsan.
“Miss, Miss Tifa,” Fi mencoba
membangunkan Tifa. Tak ada respon. Fi semakin tegang. Ia berlari meninggalkan
Tifa, mencari bantuan.
“Tolong,
Miss Tifa pingsan!!!”
ooOoo
Adrian sengaja
memisahkan diri. Entah kenapa hatinya sakit sekali setelah ia menyelesaikan
adegan dansa itu. Sama seperti yang Fi yang rasakan, adegan yang satu ini
memang terlalu banyak sentuhan fisik dan tatapan mereka terlalu dekat.
Saking
galaunya, ia tak menyadari kalau Ririn mengikutinya dari tadi. Ia kaget saat ia
berbalik, ternyata gadis ikal itu berdiri di belakangnya. Namun ia segera
menutupi keterkejutannya dengan sebuah senyuman manis.
“Oh
hai, sorry aku gak tahu kalau kamu di
belakang.”
“Kamu
baik-baik saja?” tanya Ririn tanpa mengindahkan keterkejutan laki-laki itu.
Adrian
menarik napas panjang, “Aku tidak tahu.”
Di
luar dugaan Ririn, tiba-tiba saja pemuda ini memeluknya. Kali ini Ririn yang
terkejut, tapi ia sama sekali tak menghindar. Ia membiarkan dirinya sebagai sandaran
lelaki itu. Meski ia tahu posisinya hanya sebagai pengganti saja.
“Maaf,
ya…” desah Adrian.
“Tidak
apa-apa,” ujar Ririn sambil menghela napas.
Entah
kenapa Adrian menemukan sebuah kenyamanan saat dirinya mendekap gadis itu, tapi
yang ia rasakan justru sebaliknya. Ini bagaikan Ririn yang memeluknya dan memberikannya
energi yang begitu besar. Sudah lama ia tak merasakan kehangatan seperti ini.
Tidak ketika bersama tantenya atau pun bersama Fi.
Ini
mengingatkan pada ibunya.
Namun,
kenyamanan itu tak berlangsung lama. Tak sengaja mata Adrian berpapasan dengan
sosok berkacamata yang muncul dari kejauhan. Adrian memang tak bisa melihat
dengan jelas bagaimana air mukanya, tapi ia yakin kalau pemuda itu tak senang
dengan apa yang sedang ia lakukan. Saat Adrian melepaskan pelukannya, pemuda
itu langsung menghilang.
“Ah,
maafkan aku.”
Kening
Ririn berkerut bingung, “Aku’kan sudah bilang tidak apa-apa. Kenapa malah minta
maaf lagi.”
“Tapi
sepertinya ada yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan tadi.”
Ririn
terkesiap, “Eh, maksudmu tadi ada Fi?”
Kepala
Ririn celingak-celinguk mencari sosok Fi. Namun Adrian menepuk lembut bahu
gadis itu supaya gadis itu berhenti bertindak aneh.
“Sudahlah,
bukan siapa-siapa kok. Kamu gak usah khawatir.”
Baru
saja Adrian berdusta tentang kehadiran Alexi, lelaki itu datang kembali. Adrian
mengira laki-laki itu menghampiri mereka karena marah. Terlihat dari jalannya
yang terburu-buru. Namun air mukanya mengatakan hal yang lain.
“Al,
ada apa?” tanya Ririn.
Pemuda
itu mendesah pendek, “Adrian, Tantemu baru saja pingsan.”
Ririn
bahkan tak sempat melihat ekspresi Adrian yang terkejut. Begitu cepatnya Adrian
melesat ketika mendengar berita itu. Justru Ririn-lah yang membatu di tempat.
“Sebaiknya
kita juga harus bergegas!”
Kata-kata
Alexi menyadarkannya. Pemuda itu benar. Ada hal yang penting dilakukan selain
bergeming di sini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar