Total Tayangan Halaman

Minggu, 26 Maret 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 138)




Musikal 138

“Maaf ya, hari ini aku gak bisa ikut latihan. Kalau gak aku dipecat jadi anak.”
Pagi ini Dave mengantarkan Adrian dan Tifa dengan mobilnya. Semalam ayahnya  menelepon agar ia harus kembali ke Jakarta untuk mengurus perusahaan. Mau tak mau ia harus menuruti kata-kata sang ayah, meskipun ia lebih memilih mengurus pementasan.
“Ayahnya Om Dave ditambah nenek. Wah, kelar hidup kalian,” sahut Adrian sambil tertawa.
“Itulah kenapa Tante gak mau berjodoh dengannya, Keponakan,” uajr Tifa.
“Heeei!” seru Dave yang disusul gelak tawa Adrian dan Tifa.
Mobil itu sampai di pelataran gedung teater. Adrian berinisiatif untuk turun lebih dulu.
“Baiklah, aku duluan, Dave,” ujar Tifa.
Dave mengangguk, “Jangan terlalu capek, Tif! Ingat, begitu selesai latihan langsung pulang dan obatnya jangan lupa diminum! Aku akan pulang tiga hari lagi.”
“Iya, cerewet! Aku tahu. Udah ya, kamu juga hati-hati di jalan.”
Tifa tergerak untuk membuka pintu. Namun, tiba-tiba Dave menarik lengan Tifa sehingga gadis itu jatuh dalam pelukannya. Tifa terkejut dan berusaha melepaskan diri, tapi pelukan Dave lebih kuat.
“Tolonglah, sebentar saja.”
Suara Dave begitu lembut hampir seperti bisikan. Bukan bisikan biasa, tapi ada nada kerinduan di dalamnya. Tifa pun tak bisa bergerak lebih banyak lagi dan hanya bisa membiarkan Dave membenamkan wajah di bahunya.
“Tiga hari, tiga hari aku tidak akan melihatmu dan itu sudah membuatku rindu sekali. Aku tidak tahu kenapa dulu aku bisa melewati hari-hariku tanpamu, tapi sekarang aku benar-benar tak ingin melewati satu detik pun tanpamu.”
“Kamu mulai lebay, Dave.”
Dave melepaskan pelukannya sambil tersenyum jahil. Belum sempat Tifa sadar, Dave sudah lebih dulu mendaratkan ciuman di tempat favoritnya, ujung bibir Tifa. Untuk kesekian kalinya, Tifa hanya bisa menerima perlakuan itu.
“Sudah sana pergilah! Sekali lagi kamu kayak gitu, aku laporin kamu ke polisi dengan tuduhan pelecehan seksual!”
Tifa membanting pintu mobil. Di balik pintu itu, Tifa sangat yakin kalau Dave sedang menertawakannya sekarang. Sial, sekarang pipinya malah bersemu merah.
ooOoo
Latihan hari ini terasa sedikit berbeda. Awalnya biasa saja, sampai pada adegan dansa Fi-Adrian. Entah kenapa Fi yang biasanya tampil sempurna justru banyak melakukan kesalahan. Adegan dansa itu bahkan sampai diulang lima kali. Semua pemain termasuk para pemusik sudah lelah oleh kesalahan yang dibuat Fi dan jangan tanya bagaimana berangnya Tifa saat itu.
“APA KAMU MAU MEMBUAT SEMUA ORANG DI SINI TEWAS, FI?”
Suasana berubah mencekam. Tak ada yang berani membuka mulut. Tifa sudah berada di puncak amarahnya.
“Ada apa? Apa ini masalah pribadimu?”
Fi tersinggung dengan kata-kata Tifa barusan. Giginya gemeletuk menahan amarah.
“Hei, sudahlah, Tif,” lerai Gloria. “Kita istirahat sebentar.”
Para anggota pun beringsut-ringsut turun dari panggung. Tak ada yang berani membuka suara. Mereka hanya saling melirik dengan tatapan penuh tanda tanya. Sementara itu Gloria membawa paksa Tifa ke belakang panggung.
“Astaga, Tif. Kamu jangan beringas kayak tadi dong! Kalem, Tif. Kalem!”
Tifa hanya meniup ujung rambutnya dengan desahan kesal.
“Aku tahu ini masalah pribadi kalian, tapi sebenci apa pun kamu sama dia, jangan bawa-bawa perasaan ketika latihan. Kalau semua orang sampai tahu kebenarannya, gimana coba?”
Baru saja Gloria selesai berkata, Riani ikut muncul. Tifa yang tadinya mau menyahut, tiba-tiba menelan kembali semua kata-katanya ketika ia melihat Fi yang ikut muncul bersama Riani.
“Ngapain kamu bawa dia ke sini?”
“Anak-anak sudah kusuruh menunggu di luar, jadi kalian bisa leluasa berbicara tanpa ada seorang pun yang dengar,” Riani tersenyum. “Aku pikir kalian butuh bicara dari hati ke hati.”
“Gak perlu!” Tifa memalingkan wajahnya.
Riani kembali tersenyum lalu menarik Gloria pergi. Meninggalkan Tifa dan Fi yang masih bergeming dalam kebisuan dan keangkuhan masing-masing.
“Ternyata Anda bisa kekanak-kanakan juga, ya.”
Tifa tersenyum sinis, “Untukmu, kenapa tidak?” ia melipat tangannya di perut seraya menatap Fi dingin. “Jadi, sekarang apa masalahmu?”
Fi menggigit bibirnya. Ingin ia katakan yang sebenarnya kalau ia tak bisa melakukan adegan dansa itu. Jarak yang terlalu dekat serta terlalu banyak sentuhan fisik membuat Fi sedikit tak nyaman pascainsiden itu. Namun, ia yakin Tifa tak akan menerima alasannya.
“Apa…apa saya bisa mengundurkan diri sekarang?”
“Apa?” Tifa tertawa sinis. “Kenapa? Kamu takut sekarang?”
Fi kembali menggigit bibir.
“Dengar, Fi. Cukup sudah semua masalah yang terjadi, kamu jangan buat masalah lagi hanya karena masalah pribadi!”
Dekapan tangan Tifa semakin erat. Ada perasaan bergejolak di sana.
“Kenapa Anda sepertinya menyiksa saya?”
“Saya tidak sedang menyiksamu. Saya hanya berusaha menyelesaikan apa yang sudah saya mulai kemarin. Lagi pula jika saya mau menyiksamu, itu memang pantas. Dengan ini kamu tahu bagaimana tersiksanya saya waktu itu.”
“Itu bukan urusan saya.”
Tifa menjadi panas. Rasa perutnya yang bergejolak semakin membuat amarahnya naik. Dengan kesal ia menarik bagian leher kaus Fi. Tatapan matanya berkilat-kilat.
“Dengar, semua yang terjadi sekarang juga dari salahmu! Jadi jangan coba-coba kamu menghindar!”
Seperti kembang api yang meletus di udara. Tiba-tiba saja Tifa merasa perutnya seakan mau meledak. Di tengah amarahnya yang memuncak, wanita ini langsung roboh. Fi kaget bukan kepalang karena ia tak menyangka kalau wanita yang ada di hadapannya ini seketika pingsan.
Miss, Miss Tifa,” Fi mencoba membangunkan Tifa. Tak ada respon. Fi semakin tegang. Ia berlari meninggalkan Tifa, mencari bantuan.
“Tolong, Miss Tifa pingsan!!!”
ooOoo
Adrian sengaja memisahkan diri. Entah kenapa hatinya sakit sekali setelah ia menyelesaikan adegan dansa itu. Sama seperti yang Fi yang rasakan, adegan yang satu ini memang terlalu banyak sentuhan fisik dan tatapan mereka terlalu dekat.
Saking galaunya, ia tak menyadari kalau Ririn mengikutinya dari tadi. Ia kaget saat ia berbalik, ternyata gadis ikal itu berdiri di belakangnya. Namun ia segera menutupi keterkejutannya dengan sebuah senyuman manis.
“Oh hai, sorry aku gak tahu kalau kamu di belakang.”
“Kamu baik-baik saja?” tanya Ririn tanpa mengindahkan keterkejutan laki-laki itu.
Adrian menarik napas panjang, “Aku tidak tahu.”
Di luar dugaan Ririn, tiba-tiba saja pemuda ini memeluknya. Kali ini Ririn yang terkejut, tapi ia sama sekali tak menghindar. Ia membiarkan dirinya sebagai sandaran lelaki itu. Meski ia tahu posisinya hanya sebagai pengganti saja.
“Maaf, ya…” desah Adrian.
“Tidak apa-apa,” ujar Ririn sambil menghela napas.
Entah kenapa Adrian menemukan sebuah kenyamanan saat dirinya mendekap gadis itu, tapi yang ia rasakan justru sebaliknya. Ini bagaikan Ririn yang memeluknya dan memberikannya energi yang begitu besar. Sudah lama ia tak merasakan kehangatan seperti ini. Tidak ketika bersama tantenya atau pun bersama Fi.
Ini mengingatkan pada ibunya.
Namun, kenyamanan itu tak berlangsung lama. Tak sengaja mata Adrian berpapasan dengan sosok berkacamata yang muncul dari kejauhan. Adrian memang tak bisa melihat dengan jelas bagaimana air mukanya, tapi ia yakin kalau pemuda itu tak senang dengan apa yang sedang ia lakukan. Saat Adrian melepaskan pelukannya, pemuda itu langsung menghilang.
“Ah, maafkan aku.”
Kening Ririn berkerut bingung, “Aku’kan sudah bilang tidak apa-apa. Kenapa malah minta maaf lagi.”
“Tapi sepertinya ada yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan tadi.”
Ririn terkesiap, “Eh, maksudmu tadi ada Fi?”
Kepala Ririn celingak-celinguk mencari sosok Fi. Namun Adrian menepuk lembut bahu gadis itu supaya gadis itu berhenti bertindak aneh.
“Sudahlah, bukan siapa-siapa kok. Kamu gak usah khawatir.”
Baru saja Adrian berdusta tentang kehadiran Alexi, lelaki itu datang kembali. Adrian mengira laki-laki itu menghampiri mereka karena marah. Terlihat dari jalannya yang terburu-buru. Namun air mukanya mengatakan hal yang lain.
“Al, ada apa?” tanya Ririn.
Pemuda itu mendesah pendek, “Adrian, Tantemu baru saja pingsan.”
Ririn bahkan tak sempat melihat ekspresi Adrian yang terkejut. Begitu cepatnya Adrian melesat ketika mendengar berita itu. Justru Ririn-lah yang membatu di tempat.
“Sebaiknya kita juga harus bergegas!”
Kata-kata Alexi menyadarkannya. Pemuda itu benar. Ada hal yang penting dilakukan selain bergeming di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar