Musikal 135
Latihan berjalan lancar. Meski ada perang dingin antara
Tifa—Fi—Adrian, tetapi ketiganya tetap bekerja seperti profesional. Lagi pula
menu latihan hari ini adalah menggarap adegan terakhir, dimana adegan tersebut
lebih banyak menampilkan Ririn dan Adrian, sehingga Fi bisa sedikit menghindar
dari lelaki itu.
“Kita pulang?” tanya Tifa pada Dave seusai lingakaran
dibubarkan.
“Nanti dulu,” ujar Dave sambil menyimpan ponsel di
sakunya. “Ada tempat yang harus kita kunjungi.”
Tifa merengut, “Heei, apa kamu lupa gimana seramnya
ibuku kalau sampai kita pulang terlambat? Lagian juga waktu
kita pergi tadi ibu marah banget sama aku.”
“Gak
apa-apa, nanti aku bisa tanggung jawab sama ibu kamu. Ini lebih penting dan aku
janji gak bakal lama.”
Tifa
tak bisa menolak, ia pun menuruti kehendak Dave. Anehnya ketika ia mau masuk
mobil, Dave justru melewati mobilnya.
“Lho
gak naik mobil?”
“Jalan
kaki aja. Dekat kok.”
Tanda
tanya dalam benak Tifa semakin besar. Makin besar ketika Dave mengajaknya masuk
ke ruang kepala sekolah. Namun ia cukup terkejut saart melihat orang-orang yang
hadir di sana.
“Kupikir
sudah seharusnya kalian membicarakan hal ini,” Hana mengawali pembicaraan. Ia
tatap satu per satu teman-temannya. “Nah, jadi katakan saja apa yang kalian
keluhkan. Benarkan, Glo, Ri, Tif?”
Dave
mengajak Tifa duduk. Sekilas Tifa melihat ekspresi Gloria yang masih ngambek
dan Riani yang tampak tak peduli. Sial, ia merasa sedang dijebak.
“Ayo
bicaralah! Kalau tidak aku mau pulang saja. Suami dan anak-anakku menunggu di
rumah,” omel Gloria.
Tifa
berdeham, “Aah, i—iya,” ia kembali berdeham. “Ha—halo, semua.”
Gloria
kembali mendengus kesal. Tifa kembali berdeham. Sumpah, ini pertama kalinya ia
gugup sampai bicaranya tergagap. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan
dirinya.
“Okee,
aku akan mengatakannya,” Tifa kembali menarik napas panjang. “Aku tahu alasan
apa pun yang aku gunakan pasti akan tetap salah di mata kalian. Jadi....
“Jadi
aku minta maaf...”
Tifa
menundukkan kepalanya. Seketika suasana hening. Perlahan-lahan perhatian Gloria
dan Riani tertuju pada Tifa. Temannya yang paling keras kepala itu ternyata
berani mengakui kesalahannya meski kesalahan itu tak murni kesalahannya.
“Sebenarnya
apa yang terjadi?” tanya Gloria kemudian.
Ya,
apa yang ditanyakan Gloria memang sama dengan apa yang disimpan dalam benak
setiap orang. Kenapa Tifa tiba-tiba pulang? Kenapa ia langsung membangun
kembali Love Musical? Sampai sekarang
memang Tifa tak pernah mengemukakan alasannya.
“Ini
berawal dari sebuah janji. Janji yang kubuat dengan kakakku.”
Tifa
mengatakan pelan-pelan. Seperti takut akan membongkar sebuah rahasia yang
paling dalam.
“Dulu
Kak Laksmi pernah berpesan padaku supaya aku
tidak meninggalkan Love Musical. Kak
Laksmi dulu pernah melupakan tempat ini dan waktu itu dia menyesal sekali.
Makanya supaya aku tidak merasakan penyesalan itu, dia memintaku untuk
mempertahankan pementasan ini.”
Tifa menggaruk tengkuknya, “Sewaktu aku divonis kena
kanker, aku pikir ini adalah saat yang tepat. Aku sudah berusaha untuk memenuhi
janji Kak Laksmi, tapi ternyata aku roboh duluan sebelum sempat
menyelesaikannya.”
“Jadi…” Tifa membungkuk dalam-dalam. “Aku benar-benar
minta pada kalian untuk membantuku. Aku tidak bisa apa-apa tanpa kalian..”
Suasana kembali hening. Untuk kesekian kalinya Tifa
terlihat lemah dan penuh pengharapan. Entah karena efek sakitnya atau memang
dia benar-benar sampai pada nadir. Namun siapa pun yang melihatnya seperti ini,
pasti akan terenyuh.
“Dengan satu syarat!” Gloria bangkit lalu berdiri di
hadapan Tifa. “Tidak ada rahasia lagi di antara kita!”
Tifa mendongak, tersenyum tipis, lalu mengangguk.
Keduanya pun saling berpelukan. Disusul dengan Riani yang ikut memeluk mereka.
Hana mendesah panjang, “Akhirnya selesai juga.”
“Kamu gak mau ikut berpelukan?” tegur Dave seraya
tersenyum usil.
“Gak usah. Aku bukan tipe cengeng seperti mereka.”
“Cih, sok keren,” Dave terkekeh. “Kalo gak mau, aku
bersedia menggantikan kok.”
Hana tersenyum sinis, “Lakukanlah dan aku yakin Tifa
masih punya tenaga untuk menghajarmu.”
Dave tertawa keras. Suara tawanya seketika merusak
momen haru itu. Suasana pun berubah menjadi ramai.
ooOoo
“Tadi itu bukan akting’kan?’
Tifa melirik sebal pada Dave yang sedang menyetir,
“Tadi itu bukan panggung, Dave. Untuk apa aku berakting di saat seperti tadi.
Lagi pula di sana ada Hana. Dia pasti tahu kalau aku sedang akting atau tidak.”
“Hoo, yah, baguslah,” Dave tersenyum sinis.
Tak ada percakapan lagi. Hanya lagu-lagu sendu yang
diputar radio yang menjadi pengusik keheningan mereka.
“Satu hal yang menjadi pertanyaanku, Tif. Kalau memang
kamu kembali karena kakakmu, apa dalam pementasan itu juga ada pengaruhnya?”
Tifa kembali melirik Dave, “Maksud kamu?”
“Ceritanya. Jalan cerita dramanya,” Dave balas
melirik. “Bukannya mirip dengan kisah kakakmu, iya’kan?”
Tifa sontak memalingkan wajahnya. Dave sepertinya
berhasil menyentuh rahasianya lagi.
“Dan di bagian ending sengaja kamu ubah. Kedua tokoh
utama kamu buat mati karena itulah yang kamu inginkan, bukan?”
Tifa masih membisu.
“Tapi kalau memang Anna adalah Kak Laksmi, menurutku
itu tidak mirip. Kak Laksmi bukanlah orang yang seperti itu. Satu-satunya yang
bisa menjadi Anna Croux di dunia nyata, ya cuma kamu. Jadi, Anna Croux itu
bukan perwujudan dari Kak Laksmi, tapi dendam kamu sendiri.”
Dave memandang Tifa lebih seksama karena tak kunjung
mendapat respon dari wanita itu, “Hei, Tif. Kamu gak jawab?”
“Kalau sudah tahu, kenapa perlu aku jawab,” jawab Tifa
dengan dagu tertopang. “Aku hanya ingin menciptakan mesin waktuku sendiri.
Meski cuma di atas panggung, tapi paling tidak ilusi itu sudah bisa kunikmati.”
Dave menghela
napas, “Baiklah, aku tidak akan membantah apa maumu. Aku hanya berharap kamu
masih mau memikirkan dirimu sendiri. Hidupmu harus terus berlanjut setelah ini,
Tif.”
“Aku tahu,” jawab Tifa pendek.
Suasana kembali hening sampai mobil Dave sampai di
depan rumah Tifa. Dave ikut turun saat wanita itu membuka pintu mobil.
“Terima kasih, tapi ini sudah terlalu malam. Aku tidak
bisa membolehkanmu mampir.”
Dave mengangguk, “Aku mengerti, tapi kupikir sebentar
saja.”
‘Sebentar’ dalam artian Dave adalah membuat Tifa
terperangkap dalam pelukannya. Meski sedikit memaksa, tapi Tifa tak memberikan
penolakan. Pun ia juga tak membalas pelukan pria itu. Ia hanya mendengarkan
desahan napas Dave yang berhembus di antara helaian rambutnya. Merasakan detak
jantung mereka yang saling bersahutan. Tifa berani bertaruh kalau detakan
paling kencang itu berasal dari Dave.
“Selamat malam.”
Tifa mengira setelah memberikan ucapan selamat malam
Dave akan menciumnya. Ya, pria itu memang menciumnya, tapi tidak di bibirnya.
Sepertinya Dave lebih suka mendaratkannya di ujung bibir wanita itu. Tifa
terkejut. Itu cukup dekat sampai ia tak bisa menghindar.
Bahkan sampai mobil Dave berlalu, Tifa masih mematung
di tempatnya berdiri. Ia sendiri heran dengan dirinya. Kenapa ia tidak bisa
mengelak seperti biasanya? Apa karena Dave berhasil menghipnotisnya? Atau
karena Tifa sudah terbiasa?
Atau mungkin karena Tifa menyukainya?
Tifa menggeleng kuat. Pilihan terakhir bukanlah jawaban
yang tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar