Total Tayangan Halaman

Minggu, 12 Maret 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 135)




Musikal 135

Latihan berjalan lancar. Meski ada perang dingin antara Tifa—Fi—Adrian, tetapi ketiganya tetap bekerja seperti profesional. Lagi pula menu latihan hari ini adalah menggarap adegan terakhir, dimana adegan tersebut lebih banyak menampilkan Ririn dan Adrian, sehingga Fi bisa sedikit menghindar dari lelaki itu.
“Kita pulang?” tanya Tifa pada Dave seusai lingakaran dibubarkan.
“Nanti dulu,” ujar Dave sambil menyimpan ponsel di sakunya. “Ada tempat yang harus kita kunjungi.”
Tifa merengut, “Heei, apa kamu lupa gimana seramnya ibuku kalau sampai kita pulang terlambat? Lagian juga waktu kita pergi tadi ibu marah banget sama aku.”
“Gak apa-apa, nanti aku bisa tanggung jawab sama ibu kamu. Ini lebih penting dan aku janji gak bakal lama.”
Tifa tak bisa menolak, ia pun menuruti kehendak Dave. Anehnya ketika ia mau masuk mobil, Dave justru melewati mobilnya.
“Lho gak naik mobil?”
“Jalan kaki aja. Dekat kok.”
Tanda tanya dalam benak Tifa semakin besar. Makin besar ketika Dave mengajaknya masuk ke ruang kepala sekolah. Namun ia cukup terkejut saart melihat orang-orang yang hadir di sana.
“Kupikir sudah seharusnya kalian membicarakan hal ini,” Hana mengawali pembicaraan. Ia tatap satu per satu teman-temannya. “Nah, jadi katakan saja apa yang kalian keluhkan. Benarkan, Glo, Ri, Tif?”
Dave mengajak Tifa duduk. Sekilas Tifa melihat ekspresi Gloria yang masih ngambek dan Riani yang tampak tak peduli. Sial, ia merasa sedang dijebak.
“Ayo bicaralah! Kalau tidak aku mau pulang saja. Suami dan anak-anakku menunggu di rumah,” omel Gloria.
Tifa berdeham, “Aah, i—iya,” ia kembali berdeham. “Ha—halo, semua.”
Gloria kembali mendengus kesal. Tifa kembali berdeham. Sumpah, ini pertama kalinya ia gugup sampai bicaranya tergagap. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.
“Okee, aku akan mengatakannya,” Tifa kembali menarik napas panjang. “Aku tahu alasan apa pun yang aku gunakan pasti akan tetap salah di mata kalian. Jadi....
“Jadi aku minta maaf...”
Tifa menundukkan kepalanya. Seketika suasana hening. Perlahan-lahan perhatian Gloria dan Riani tertuju pada Tifa. Temannya yang paling keras kepala itu ternyata berani mengakui kesalahannya meski kesalahan itu tak murni kesalahannya.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Gloria kemudian.
Ya, apa yang ditanyakan Gloria memang sama dengan apa yang disimpan dalam benak setiap orang. Kenapa Tifa tiba-tiba pulang? Kenapa ia langsung membangun kembali Love Musical? Sampai sekarang memang Tifa tak pernah mengemukakan alasannya.
“Ini berawal dari sebuah janji. Janji yang kubuat dengan kakakku.”
Tifa mengatakan pelan-pelan. Seperti takut akan membongkar sebuah rahasia yang paling dalam.
“Dulu Kak Laksmi pernah berpesan padaku supaya aku tidak meninggalkan Love Musical. Kak Laksmi dulu pernah melupakan tempat ini dan waktu itu dia menyesal sekali. Makanya supaya aku tidak merasakan penyesalan itu, dia memintaku untuk mempertahankan pementasan ini.”
Tifa menggaruk tengkuknya, “Sewaktu aku divonis kena kanker, aku pikir ini adalah saat yang tepat. Aku sudah berusaha untuk memenuhi janji Kak Laksmi, tapi ternyata aku roboh duluan sebelum sempat menyelesaikannya.”
“Jadi…” Tifa membungkuk dalam-dalam. “Aku benar-benar minta pada kalian untuk membantuku. Aku tidak bisa apa-apa tanpa kalian..”
Suasana kembali hening. Untuk kesekian kalinya Tifa terlihat lemah dan penuh pengharapan. Entah karena efek sakitnya atau memang dia benar-benar sampai pada nadir. Namun siapa pun yang melihatnya seperti ini, pasti akan terenyuh.
“Dengan satu syarat!” Gloria bangkit lalu berdiri di hadapan Tifa. “Tidak ada rahasia lagi di antara kita!”
Tifa mendongak, tersenyum tipis, lalu mengangguk. Keduanya pun saling berpelukan. Disusul dengan Riani yang ikut memeluk mereka.
Hana mendesah panjang, “Akhirnya selesai juga.”
“Kamu gak mau ikut berpelukan?” tegur Dave seraya tersenyum usil.
“Gak usah. Aku bukan tipe cengeng seperti mereka.”
“Cih, sok keren,” Dave terkekeh. “Kalo gak mau, aku bersedia menggantikan kok.”
Hana tersenyum sinis, “Lakukanlah dan aku yakin Tifa masih punya tenaga untuk menghajarmu.”
Dave tertawa keras. Suara tawanya seketika merusak momen haru itu. Suasana pun berubah menjadi ramai.
ooOoo
“Tadi itu bukan akting’kan?’
Tifa melirik sebal pada Dave yang sedang menyetir, “Tadi itu bukan panggung, Dave. Untuk apa aku berakting di saat seperti tadi. Lagi pula di sana ada Hana. Dia pasti tahu kalau aku sedang akting atau tidak.”
“Hoo, yah, baguslah,” Dave tersenyum sinis.
Tak ada percakapan lagi. Hanya lagu-lagu sendu yang diputar radio yang menjadi pengusik keheningan mereka.
“Satu hal yang menjadi pertanyaanku, Tif. Kalau memang kamu kembali karena kakakmu, apa dalam pementasan itu juga ada pengaruhnya?”
Tifa kembali melirik Dave, “Maksud kamu?”
“Ceritanya. Jalan cerita dramanya,” Dave balas melirik. “Bukannya mirip dengan kisah kakakmu, iya’kan?”
Tifa sontak memalingkan wajahnya. Dave sepertinya berhasil menyentuh rahasianya lagi.
“Dan di bagian ending sengaja kamu ubah. Kedua tokoh utama kamu buat mati karena itulah yang kamu inginkan, bukan?”
Tifa masih membisu.
“Tapi kalau memang Anna adalah Kak Laksmi, menurutku itu tidak mirip. Kak Laksmi bukanlah orang yang seperti itu. Satu-satunya yang bisa menjadi Anna Croux di dunia nyata, ya cuma kamu. Jadi, Anna Croux itu bukan perwujudan dari Kak Laksmi, tapi dendam kamu sendiri.”
Dave memandang Tifa lebih seksama karena tak kunjung mendapat respon dari wanita itu, “Hei, Tif. Kamu gak jawab?”
“Kalau sudah tahu, kenapa perlu aku jawab,” jawab Tifa dengan dagu tertopang. “Aku hanya ingin menciptakan mesin waktuku sendiri. Meski cuma di atas panggung, tapi paling tidak ilusi itu sudah bisa kunikmati.”
 Dave menghela napas, “Baiklah, aku tidak akan membantah apa maumu. Aku hanya berharap kamu masih mau memikirkan dirimu sendiri. Hidupmu harus terus berlanjut setelah ini, Tif.”
“Aku tahu,” jawab Tifa pendek.
Suasana kembali hening sampai mobil Dave sampai di depan rumah Tifa. Dave ikut turun saat wanita itu membuka pintu mobil.
“Terima kasih, tapi ini sudah terlalu malam. Aku tidak bisa membolehkanmu mampir.”
Dave mengangguk, “Aku mengerti, tapi kupikir sebentar saja.”
‘Sebentar’ dalam artian Dave adalah membuat Tifa terperangkap dalam pelukannya. Meski sedikit memaksa, tapi Tifa tak memberikan penolakan. Pun ia juga tak membalas pelukan pria itu. Ia hanya mendengarkan desahan napas Dave yang berhembus di antara helaian rambutnya. Merasakan detak jantung mereka yang saling bersahutan. Tifa berani bertaruh kalau detakan paling kencang itu berasal dari Dave.
“Selamat malam.”
Tifa mengira setelah memberikan ucapan selamat malam Dave akan menciumnya. Ya, pria itu memang menciumnya, tapi tidak di bibirnya. Sepertinya Dave lebih suka mendaratkannya di ujung bibir wanita itu. Tifa terkejut. Itu cukup dekat sampai ia tak bisa menghindar.
Bahkan sampai mobil Dave berlalu, Tifa masih mematung di tempatnya berdiri. Ia sendiri heran dengan dirinya. Kenapa ia tidak bisa mengelak seperti biasanya? Apa karena Dave berhasil menghipnotisnya? Atau karena Tifa sudah terbiasa?
Atau mungkin karena Tifa menyukainya?
Tifa menggeleng kuat. Pilihan terakhir bukanlah jawaban yang tepat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar