Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Maret 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 130)




Musikal 130

Ririn menahan napas saat menyaksikan konferensi pers itu secara streaming. Ia tak menyangka Fi dan Adrian bisa semudah itu membalikan semua fakta. Beribu komentar membanjiri laman tayangan itu. Belum lagi mulut-mulut nyinyir yang bertebaran di sekolahnya. Telinganya kembali pengang seperti saat video skandal itu tersebar.
Lagi-lagi ia terpaksa menolak ajakan Andani untuk pulang bersama. Ia tahu kebiasaan buruk sahabatnya bila ada gosip terbaru. Sepanjang jalan telinganya pasti akan panas mendengar ocehannya yang tiada henti.
“Mau pulang bareng?”
Kali ini Alexi datang bagai malaikat penyelamat. Setidaknya ia bisa membuat alasan yang menyangkut Alexi bila Andani mempertanyakan kenapa ia tak mau pulang bersama. Ririn pun menyambut ajakan itu dengan senang hati.
“Kamu mau berkomentar soal konferensi pers tadi?” tanya Alexi saat mereka menuju halaman parkir.
Ririn menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Gak tahu juga ya. Aku juga gak ngerti tentang masalah mereka.”
Alexi tak bertanya lebih lanjut. Namun, saat Alexi sibuk membuka kunci sepedanya,  tatapan Ririn seolah menerawang jauh.
“Tapi kupikir pasti rasanya sakit kalau orang yang kita cintai berkata bahwa apa yang sudah terjadi ternyata hanya sebuah kebohongan. Aku gak tahu apa ini paksaan dari Miss Tifa atau mereka sengaja melakukan hal itu, tapi kalau aku yang ada di posisi mereka, pasti aku gak sanggup.”
Alexi menatapnya. Merasa Alexi terlalu lama menatapnya, pipi Ririn langsung merona.
“Eh—eh, aku cuma ngomong ngawur kok. Gak usah didengarkan.”
Alexi hanya menggeleng pelan lalu duduk di sadel. Disusul Ririn yang duduk di belakangnya.
“Harusnya kamu bersyukur karena ditolak Adrian waktu itu,” gumam Alexi pelan.
Ririn tersentak, “Kamu bilang apa barusan?”
“Gak ada,” ujar Alexi seraya mengayuh pedal dan membiarkan kata-katanya ditelan angin.
Begitu mereka keluar dari gerbang sekolah, tiba-tiba sebuah suara klakson mengejutkan keduanya. Alexi bahkan harus mengerem sepedanya karena bunyi klakson itu begitu memaksanya berhenti.
“Kayaknya kita tahu deh siapa yang ada di dalam mobil itu,” Alexi menoleh pada Ririn. “Tuh orang kayaknya pengen banget kita samperin”
Meski kaca mobil itu gelap, tapi Ririn juga tahu siapa pengendara mobil itu. Mobil itu tidak pernah absen parkir di halaman gedung teater jika mereka sedang latihan. Alasan kenapa si pengendara tidak mau keluar dari mobil karena dia adalah orang yang sedang hangat diperbincangkan saat ini. Siapa lagi kalau bukan Adrian.
“Kita ke sana aja, Al.”
Sejujurnya Alexi malas memutar pedalnya menuju mobil itu. Namun, sepertinya permintaan pendek Ririn susah ditolak.
Kaca jendela itu baru diturunkan setelah sepeda Alexi tersampir di depan pintu mobil. Dugaan mereka benar, hanya saja Adrian setengah menutupi identitasnya dengan mengenakan sebuah kacamata hitam.
“Hai!” sapaan Adrian terdengar sangat hambar.
Ririn baru saja akan membuka mulut, tapi Alexi lebih dulu menyambar.
“Kalau memang ingin menemui seseorang, kenapa tidak hubungi saja orangnya langsung? Tidak dengan cara membunyikan klakson yang malah membuat semua orang menoleh.”
“Ah, maaf. Aku masih dilarang menyalakan ponsel. Baiklah, langsung saja ke intinya,” Adrian melepas kacamatanya. “Aku ingin meminjam Ririn untuk hari ini.”
Kening Alexi berkerut, “Kamu berkata seolah Ririn hanya mainan sekali pakai.”
“Aku tidak akan memperlakukannya seperti itu bila itu maumu.”
“Oh ya?” nada Alexi terdengar sinis. “Lalu mencampakkannya lagi?”
“Oh ya?” Adrian menyahut tak kalah sinis. “Bukankah dia juga bukan milikmu?”
Ririn hanya menganga tak percaya. Setelah adu sarkas sekarang mereka tengah bertarung lewat tatapan mata. Samar-sama seperti terdengar geraman Doberman yang akan melawan seekor Husky. Adrian dengan semua pesona yang siap menerkam musuhnya layaknya seekor Doberman di padang pasir. Di sisi lain, meski terlihat tidak berbahaya, tapi Alexi bagaikan taring Husky yang siap mengoyak apa pun yang ada di tengah dataran kutub.
Dan Ririn tak percaya kalau mereka tengah memperebutkan dirinya. Dia bukan seekor kelinci yang harus diterkam oleh salah satu ras anjing itu. Ia hanya bisa berharap kalau ia bisa berubah jadi kerikil hitam yang nantinya diabaikan.
“Kumohon…”
Tiba-tiba saja, kegarangan seekor Doberman berubah menjadi Papillon yang ditemukan di kala hujan dalam sebuah kotak kardus. Adrian melunak. Rasa frustasi kembali melandanya.
Jelas, anjing bukan tandingan sang penakluk gunung es. Alexi pun mengalah.
“Yah, kupikir kamu benar. Dia juga bukan punyaku. Tanyakan saja padanya langsung.”
Mata Adrian langsung mengarah pada Ririn, “Rin, kamu mau menemaniku sekarang?”
Ririn mencoba mencari persetujuan pada raut wajah Alexi. Namun, laki-laki itu benar-benar tak mau menoleh padanya. Matanya menatap nelangsa pada pemandangan di depannya. Ririn menyerah, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Ririn beranjak dari sadel itu.
“Terima kasih,” ujar Adrian pada Alexi yang terlihat seperti batu karang. “Aku hanya ingin berbicara padanya. Kamu akan mengerti bila ada di posisiku saat ini.”
“Bukan urusanku!” jawab Alexi ketus kemudian ia pun segera mengayuh sepedanya.
Ririn menatap kepergian Alexi dengan perasaan sedih, tapi saat pandangannya mengarah pada Adrian hatinya jauh lebih terkoyak. Kenapa pula ia harus menelan buah simalakama?
Serba salah!

Author's Note:
Haai... I'm come back!!!
Maaf yah udah 2 minggu hiatus. Saya baru aja rehat dari sakit. Semoga ke depannya gak sakit lagi yah, Aamiin...
Buat yang kangen sama Tifa and the ganks monggo ngumpuuuul.... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar