Musikal 130
Ririn menahan napas
saat menyaksikan konferensi pers itu secara streaming.
Ia tak menyangka Fi dan Adrian bisa semudah itu membalikan semua fakta. Beribu
komentar membanjiri laman tayangan itu. Belum lagi mulut-mulut nyinyir yang
bertebaran di sekolahnya. Telinganya kembali pengang seperti saat video skandal
itu tersebar.
Lagi-lagi
ia terpaksa menolak ajakan Andani untuk pulang bersama. Ia tahu kebiasaan buruk
sahabatnya bila ada gosip terbaru. Sepanjang jalan telinganya pasti akan panas
mendengar ocehannya yang tiada henti.
“Mau
pulang bareng?”
Kali
ini Alexi datang bagai malaikat penyelamat. Setidaknya ia bisa membuat alasan
yang menyangkut Alexi bila Andani mempertanyakan kenapa ia tak mau pulang
bersama. Ririn pun menyambut ajakan itu dengan senang hati.
“Kamu
mau berkomentar soal konferensi pers tadi?” tanya Alexi saat mereka menuju
halaman parkir.
Ririn
menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Gak tahu juga ya. Aku juga gak ngerti
tentang masalah mereka.”
Alexi
tak bertanya lebih lanjut. Namun, saat Alexi sibuk membuka kunci
sepedanya, tatapan Ririn seolah
menerawang jauh.
“Tapi
kupikir pasti rasanya sakit kalau orang yang kita cintai berkata bahwa apa yang
sudah terjadi ternyata hanya sebuah kebohongan. Aku gak tahu apa ini paksaan
dari Miss Tifa atau mereka sengaja
melakukan hal itu, tapi kalau aku yang ada di posisi mereka, pasti aku gak
sanggup.”
Alexi
menatapnya. Merasa Alexi terlalu lama menatapnya, pipi Ririn langsung merona.
“Eh—eh,
aku cuma ngomong ngawur kok. Gak usah didengarkan.”
Alexi
hanya menggeleng pelan lalu duduk di sadel. Disusul Ririn yang duduk di belakangnya.
“Harusnya
kamu bersyukur karena ditolak Adrian waktu itu,” gumam Alexi pelan.
Ririn
tersentak, “Kamu bilang apa barusan?”
“Gak
ada,” ujar Alexi seraya mengayuh pedal dan membiarkan kata-katanya ditelan
angin.
Begitu
mereka keluar dari gerbang sekolah, tiba-tiba sebuah suara klakson mengejutkan
keduanya. Alexi bahkan harus mengerem sepedanya karena bunyi klakson itu begitu
memaksanya berhenti.
“Kayaknya
kita tahu deh siapa yang ada di dalam mobil itu,” Alexi menoleh pada Ririn.
“Tuh orang kayaknya pengen banget kita samperin”
Meski
kaca mobil itu gelap, tapi Ririn juga tahu siapa pengendara mobil itu. Mobil
itu tidak pernah absen parkir di halaman gedung teater jika mereka sedang
latihan. Alasan kenapa si pengendara tidak mau keluar dari mobil karena dia
adalah orang yang sedang hangat diperbincangkan saat ini. Siapa lagi kalau
bukan Adrian.
“Kita
ke sana aja, Al.”
Sejujurnya
Alexi malas memutar pedalnya menuju mobil itu. Namun, sepertinya permintaan
pendek Ririn susah ditolak.
Kaca
jendela itu baru diturunkan setelah sepeda Alexi tersampir di depan pintu
mobil. Dugaan mereka benar, hanya saja Adrian setengah menutupi identitasnya
dengan mengenakan sebuah kacamata hitam.
“Hai!”
sapaan Adrian terdengar sangat hambar.
Ririn
baru saja akan membuka mulut, tapi Alexi lebih dulu menyambar.
“Kalau
memang ingin menemui seseorang, kenapa tidak hubungi saja orangnya langsung?
Tidak dengan cara membunyikan klakson yang malah membuat semua orang menoleh.”
“Ah,
maaf. Aku masih dilarang menyalakan ponsel. Baiklah, langsung saja ke intinya,”
Adrian melepas kacamatanya. “Aku ingin meminjam Ririn untuk hari ini.”
Kening
Alexi berkerut, “Kamu berkata seolah Ririn hanya mainan sekali pakai.”
“Aku
tidak akan memperlakukannya seperti itu bila itu maumu.”
“Oh
ya?” nada Alexi terdengar sinis. “Lalu mencampakkannya lagi?”
“Oh
ya?” Adrian menyahut tak kalah sinis. “Bukankah dia juga bukan milikmu?”
Ririn
hanya menganga tak percaya. Setelah adu sarkas sekarang mereka tengah bertarung
lewat tatapan mata. Samar-sama seperti terdengar geraman Doberman yang akan
melawan seekor Husky. Adrian dengan semua pesona yang siap menerkam musuhnya
layaknya seekor Doberman di padang pasir. Di sisi lain, meski terlihat tidak
berbahaya, tapi Alexi bagaikan taring Husky yang siap mengoyak apa pun yang ada
di tengah dataran kutub.
Dan
Ririn tak percaya kalau mereka tengah memperebutkan dirinya. Dia bukan seekor
kelinci yang harus diterkam oleh salah satu ras anjing itu. Ia hanya bisa
berharap kalau ia bisa berubah jadi kerikil hitam yang nantinya diabaikan.
“Kumohon…”
Tiba-tiba
saja, kegarangan seekor Doberman berubah menjadi Papillon yang ditemukan di
kala hujan dalam sebuah kotak kardus. Adrian melunak. Rasa frustasi kembali
melandanya.
Jelas,
anjing bukan tandingan sang penakluk gunung es. Alexi pun mengalah.
“Yah,
kupikir kamu benar. Dia juga bukan punyaku. Tanyakan saja padanya langsung.”
Mata
Adrian langsung mengarah pada Ririn, “Rin, kamu mau menemaniku sekarang?”
Ririn
mencoba mencari persetujuan pada raut wajah Alexi. Namun, laki-laki itu
benar-benar tak mau menoleh padanya. Matanya menatap nelangsa pada pemandangan
di depannya. Ririn menyerah, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Ririn beranjak
dari sadel itu.
“Terima
kasih,” ujar Adrian pada Alexi yang terlihat seperti batu karang. “Aku hanya
ingin berbicara padanya. Kamu akan mengerti bila ada di posisiku saat ini.”
“Bukan
urusanku!” jawab Alexi ketus kemudian ia pun segera mengayuh sepedanya.
Ririn
menatap kepergian Alexi dengan perasaan sedih, tapi saat pandangannya mengarah
pada Adrian hatinya jauh lebih terkoyak. Kenapa pula ia harus menelan buah
simalakama?
Serba
salah!
Author's Note:
Haai... I'm come back!!!
Maaf yah udah 2 minggu hiatus. Saya baru aja rehat dari sakit. Semoga ke depannya gak sakit lagi yah, Aamiin...
Buat yang kangen sama Tifa and the ganks monggo ngumpuuuul....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar