Musikal 137
“Kamu suka banget ya sama
sungai Musi?”
Adrian
tersenyum seraya menyeruput kopinya. Kemarin ia memang mengajak Ririn ke
pelataran BKB dan sekarang ia menikmati keindahan sore Sungai Musi di sebuah
restoran terapung. Entah kenapa spot ini telah menjadi kesukaannya.
“Gak
tahu, mungkin karena bunyi air yang menenangkan,” Adrian tersenyum menggoda.
“Dan mungkin karena sama kamu juga.”
Ririn
mendengus, “Tempat ini malah jauh dari tenang. Kamu gak dengar apa bunyi
klakson yang dari tadi sahut-sahutan? Kayaknya di atas Ampera lagi macet deh.”
“Jadi,
kamu mau aku ajak ke perpustakaan yang bau apek itu?”
“Maunya
sih gitu,” Ririn kembali mendengus. “Sekarang balik ke persoalan deh. Kenapa
kamu ajak aku ke sini lagi?”
“Fi
apa kabar?”
Ririn
sedikit kaget karena jawaban Adrian jauh dari yang ia duga. Ia tidak menyangka
kalau Adrian langsung pada poinnya.
“Yaah,
dia baik. Dia belajar dengan baik dan tadi sepintas aku lihat dia makan di
kantin bareng Priyanka. Kupikir dia akan baik-baik saja selama nutrisinya
terpenuhi.”
“Begitu…” suara Adrian terdengar kosong. “Tapi
maksudku—“
“Ya,
aku mengerti apa maksudmu. Sayangnya, aku bukan sahabat Fi. Jadi, aku hampir
tidak pernah bicara dengannya. Apa lagi setelah masalah yang terjadi
akhir-akhir ini.”
Adrian
menyadarkan punggungnya di kursi, “Sepertinya aku salah ajak kencan orang.”
Ririn
tersenyum kecil sembari menyesap es kacang.
“Ngomong-ngomong,
kamu sudah bicara pada Fi lagi?”
“Terakhir
yang kulakukan adalah menyakitinya dan sekarang aku malah tidak bisa bicara
lagi dengannya.”
“Maksudmu
setelah kejadian di kafe itu? Memangnya kalian berantem setelah itu?”
“Ada
kelanjutannya setelah itu,” pipi Adrian menggembung saat menghembuskan napas.
“Tepatnya setelah konferensi pers itu. Aku tahu apa yang dia katakan semua
untuk melindungi orang-orang yang terlibat dalam masalah.
“Masalahnya,
aku nggak terima dia bilang begitu. Gak tahu kenapa rasanya Fi memutuskanku
secara sepihak gitu.”
“Meskipun
kalian….”
“Meskipun
pada kenyataannya kami memang sudah tidak boleh bersama dalam hubungan ini.”
Ada
nada tinggi pada kalimat terakhir Adrian. Meski begitu Adrian belum bisa
menumpahkan semua emosi. Tidak. Ia masih bisa menahan yang satu itu.
“Jadi…
bantuan apa yang bisa aku tawarkan padamu?”
Jemari
Adrian saling bertaut lalu ia sandarkan dahinya di sana. Ia seperti sedang
berharap pada Ririn.
“Temani
aku. Aku tak bisa menjalaninya sendirian.”
Hati
Ririn mulai goyah.
“Aku
minta maafkan semua perlakuanku kemarin, tapi untuk saat ini aku benar-benar
memohon padamu. Cuma kamu yang bisa mengerti posisiku saat ini.”
Ririn
mengumpat dalam hati.
‘Tolak, Rin! Tolak! Ini bukan urusanmu!’
“Baik,
kamu bisa mengandalkanku.”
Senyuman
yang terpancar di wajah Adrian bagaikan pisau bermata dua untuk Ririn. Mungkin
suatu hari nanti ia akan terluka lagi karena senyuman itu.
karma buat AL yg dulu nyakitin wenda :D ,
BalasHapusdan adrian kamu gak ada kapok-kapok nya wkwkkw
mau minta karma susulan? kasihan ririn nya