Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Maret 2017

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 131)




Musikal 131

Sebuah perahu tanpa motor terayun-ayun oleh gulungan ombak ringan. Kemilau Sungai Musi begitu cemerlang akibat pantulan mentari yang sebentar lagi akan menuju tempat peristirahatannya. Semilir angin yang melintas seharusnya tak membuat tubuh Ririn menggigil karena pelataran Benteng Kuto Besak saat itu terasa cukup hangat.
Bukan. Bukan karena hembusan angin, tapi karena sesosok pemuda yang berada di sampingnya. Pemuda yang dulu ia puja karena mewarisi pesona sang raja langit. Namun sekarang tak ubahnya bagaikan sebuah patung yang dipahat dari gumpalan es Kutub Utara. Raganya masih sama seperti dulu, hanya hatinya saja yang terlanjur membeku.
“Apa yang mau kamu bicarakan? Bukannya kamu membawaku ke sini untuk membicarakan sesuatu?”
Pemuda itu masih diam. Sampai ia mengatakan sesuatu yang membuat Ririn teperanjat.
“Kamu mau es krim?”
“Bukannya kamu yang paling keukeuh melarangku untuk memakan sesuatu yang dingin-dingin. Kenapa sekarang kamu malah yang melanggar semua itu? Apa kamu membuat murka Tantemu?”
Adrian tersenyum sinis, “Tidak akan. Tidak akan sempat dia mau mengurusi pelanggaran yang dilakukan anggota. Kupikir pementasan ini juga tidak akan selesai sampai akhir.”
“Apa karena skandal video itu?” Ririn bertanya dengan hati-hati agar emosi Adrian tak meledak. “Eh, maksudku, bukannya masalahnya sudah diselesaikan dengan konferensi pers itu?”
Adrian tak membalas. Lama tak mengeluarkan jawaban pasti, Ririn pun memutuskan untuk tak bertanya lagi. Di luar dugaan Adrian justru mengatakan sesuatu.
“Kanker perut stadium dua.”
Ririn menoleh dengan sangat cepat, “Apa?”
“Tanteku menderita kanker perut stadium dua.”
Kanker perut stadium dua. Rasanya begitu lama otak Ririn mencerna empat kata yang seharusnya langsung membuatnya terkejut. Entah kenapa Ririn justru menyambungkan kejadian dimana ia menemukan Tifa pingsan disertai muntahan darah yang membasahi baju Dave dengan empat kata yang baru saja Adrian ucapkan. Di saat semua puzzle itu tersusun, barulah ia mengeluarkan seperti orang terkena asma.
“Ja—jadi yang malam itu?”
Adrian mengangguk lemah, “Dan ternyata Tanteku sudah menutupi rapat-rapat rahasianya selama dua tahun ini. Hanya Nenek yang tahu.” Kemudian Adrian mendesah berat. “ Aku masih bisa mengerti kenapa mereka merahasiakan ini padaku, tapi aku masih belum bisa terima kalau Tanteku masih bisa memikirkan ide gilanya untuk membangun kembali Love Musical di tengah kondisinya yang memprihatinkan.”
Ririn diam sejenak kemudian melanjutkan, “Menurutmu apa Miss Tifa masih merahasiakan sesuatu lagi darimu?”
“Mungkin iya dan aku yakin rahasia itu pasti akan menuntunku pada alasan Tante membangun kembali tim teater ini.”
Semilir angin kembali bertiup. Memberikan suara gemerisik di tengah-tengah kebisuan mereka.
“Sepertinya kamu penasaran dengan hubunganku dengan Fi yang sebenarnya.”
Ririn melirik Adrian sekilas lalu mendesah pendek, “Jika aku boleh tahu.”
Adrian melemparkan tatapannya pada arus lalu lintas di atas jembatan Ampera. Meski terlihat kecil, tapi sangat padat. Entah sejak kapan mobilitas di sana menjadi lambat.
“Selain yang dikatakan Fi pada konferensi pers itu, semuanya adalah benar. Fi dan aku memang memiliki hubungan darah. Ayahku memiliki istri lain dan Fi adalah anak mereka. Kamu mengerti maksudku’kan?”
Ririn mengangguk kecil.
“Sulit rasanya membayangkan apa yang sudah terjadi. Padahal sejak dulu aku sudah memimpikan kalau suatu saat nanti aku dan Fi bisa bersama. Dulu aku memang menganggap Fi sebagai adikku saja, tapi setelah bertemu dengannya lagi ternyata rasa sukaku lebih besar daripada yang dulu. Menjadi kekasihnya adalah saat-saat yang membahagiakan dalam hidupku.
“Sayang tidak berlangsung lama. Aku tidak mengerti kenapa Tuhan selalu mengambil wanita-wanita yang ada di sisiku sebelum aku bisa memberikan kasih sayangku sepenuhnya. Dulu Ibuku, lalu Fi, dan aku sangat berharap semoga kali ini Tuhan tidak mengambil Tanteku sebelum hubungan kami kembali membaik.”
Adrian mendesah panjang. Terdengar sangat berat, sampai-sampai Ririn mengira kalau laki-laki yang ada di sebelahnya ini sedang menangis. Tidak. Tak setetes pun air mata yang berhasil menembus pertahanan pemuda itu. Hanya saja tatapannya sudah jauh menelangsa ke seberang hulu.
“Padahal yang aku harapkan menjadi adikku adalah kamu, Rin,” Adrian tertawa pahit. “Mungkin aku terkena karma karena telah membuat zona kakak-adik denganmu. Padahal gara-gara itu kamu malah jadi suka sama aku.”
Pipi Ririn memerah menahan malu. Heran, di saat seperti ini kenapa Adrian malah membahas hal itu. Seolah-olah yang melakukan itu bukan orang yang ada di sampingnya.
Tawa Adrian kembali terdengar. Namun, secepat kilat tawa itu berhenti dan kembali pada tatapannya yang menelangsa.
“Tapi mungkin lebih baik kamu saja yang menjadi adikku, Rin.”
Tapi mungkin lebih baik kamu saja yang menjadi adikku, Rin…
Pandangan Ririn teralih pada laki-laki yang ada di sampingnya. Meski Ririn sudah menatapnya cukup lama, tapi ekspresi lelaki itu tak tergoyahkan. Matanya tetap menatap lurus pada hamparan Sungai Musi yang membelah antara ulu dan ilir. Sekali lagi kalimat itu berdengung di kepalanya.
Tapi mungkin lebih baik kamu saja yang menjadi adikku, Rin….
Ririn menundukkan kepalanya. Kali ini tanpa paksaan dan Ririn sangat yakin kata-kata barusan benar-benar keluar dari relung hati.
Bahwa Adrian benar-benar menolaknya.

1 komentar:

  1. wow bagian karma nya di sorot disini , dan adrian kamu ga sadar skrng masih nyakitin ririn =,=

    BalasHapus