Total Tayangan Halaman

Minggu, 12 Maret 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 134)




Musikal 134

Matahari baru saja menampakkan dirinya. Namun, Dave sudah banjir keringat. Bukan karena marathon, tapi karena sebuah telepon penting yang membuatnya marathon dadakan. Bahkan Ririn dan Ibunya sampai keheranan melihat dirinya.
Satu jam yang lalu Dave baru saja terbangun dari tidurnya. Ketika ia sedang menikmati berita pagi, tiba-tiba saja ibunya Tifa menelepon. Dave masih sempat menerka nada suara July seperti tengah marah, tapi Dave juga tidak tahu pasti. Hanya saja lima kata yang diucapkan July langsung memnerbangkannya dari tempat tidur.
“Dave, tolong Tante. Cepat ke rumah!”
Banyak spekulasi di kepala Dave mengenai pesan ambigu tadi. Satu hal yang jelas, yaitu pasti berhubungan dengan Tifa. Entah apa. Dave hanya berharap kalau semua akan baik-baik saja.
Begitu langkahnya sampai di rumah Tifa, Dave cepat-cepat masuk. Namun, ketika ia masuk ke dalam rumah, yang ia dapatkan hanyalah suasana sunyi. Baik Adrian, Tifa, maupun July tak ada satu pun yang membuka mulut. Dave langsung berubah canggung saat menghadapi ketiganya.
“Se—selamat pagi!” sapa Dave.
Tatapan ketiganya tertuju pada Dave. Hanya sekilas lalu semuanya kembali pada diri masing-masing. Untungnya July masih ingat akan rasa sopan santun.
“Kamu sudah datang, Dave.”
“Kalau boleh tahu, ini ada apa ya?”
July mendesah berat, “Tolong kamu nasihati anak ini! Bilang padanya, kalau kesehatannya lebih penting daripada latihan hari ini.”
Mata Dave terbelalak. Bergantian ia pandang July dan Tifa, “Tif, kamu sudah mau latihan hari ini?”
“Aku sudah terlalu lama absen, Dave,” jawab Tifa polos seolah tanpa dosa.
“Tapi kamu baru habis kemo, Tif!” seru July. “Kenapa kamu tidak mau nurut sekali ini saja? Ini juga demi kamu!”
“Pementasan ini juga untukku, Bu.” Tifa kembali menjawab dengan santai.
“Kenapa Tuhan meninggalkan anak sinting ini untukku, sih!” omel July. “Rasanya anak tuyul lebih nurut daripada anak sendiri!”
July langsung beranjak ke kamar. Bunyi pintu berdebam menandakan amarah July yang masih membara. Namun, itu sama sekali tak membuat keputusan Tifa berubah.
Dave menghela napas panjang, “Kenapa kamu gak nurut aja, Tif? Ibumu tidak perlu marah-marah kayak gini’kan.”
“Percuma aja, Om. Kita cuma dianggap batu sama Tante,” akhirnya Adrian buka suara. Ia pun ikut beranjak, “Lebih baik Om awasi Tante saja. Kayaknya cuma itu yang bisa kita lakukan sekarang. Aku permisi dulu. Sampai jumpa di gedung teater.”
Adrian berlalu dan keadaan kembali sunyi. Berkemelut dengan keputusannya sendiri, akhirnya Dave hanya bisa mengulurkan tangan pada Tifa.
“Ayo kita pergi! Tapi jangan pernah jauh-jauh dari pengawasanku. Mengerti?”
Wajah Tifa seketika berubah cerah. Dia yang biasanya menghindar dari lelaki ini langsung berubah kalem. Ia bahkan menggandeng tangan Dave dengan riang. Memang tak ada yang bisa memecahkan kekerasan kepala Tifa.
ooOoo
Suasana kelas kali ini cukup ramai. Pembicaraan terpusat pada pemberitahuan latihan mendadak. Mereka benar-benar tak siap kali ini.
“Aku harus balik lagi ke rumah gara-gara dapat telepon dari Ben,” keluh Wenda. “Jadi telat deh.”
“Lho ngapain balik lagi?” tanya Anjani.
“Ambil baju latihan lah. Memangnya aku bisa latihan kalau pakai rok?”
“Kayaknya bukan cuma kamu deh, tapi hampir separuh kelas ini,” sahut Kemal. “Anak kelas dua sih enak. Mereka hari ini ada pelajaran olahraga, jadi bisa pakai baju olahraga. Hmm, sayang di sini cewek semua. Jadinya gak ada celana training yang bisa dipinjam.”
Ben nyengir mendengar keluhan Kemal, “Tumben, Mal. Kamu ngeluh soal cewek.”
“Untuk beberapa kasus aku lebih butuh lelaki,” Kemal balas nyengir.
Jam demi jam berlalu. Bel pulang pun berbunyi. Kedua kelas khusus itu pun segera bersiap menuju gedung latihan. Di saat yang bersamaan, Tifa, Dave, serta Adrian juga baru datang. Mereka tampak seperti sedang bernostalgia ketika bertemu. Namun, suasana berubah canggung kala Fi menampak diri di antara mereka.
Fi yakin kalau mata Adrian tertuju padanya dan Adrian juga tak menampik kalau ia belum bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Hanya sebentar, sampai Tifa menariknya untuk segera masuk.
Bahu Fi melorot lemas. Terdengar desahan berat. Ternyata ia belum bisa berpindah dari Adrian. Lamunan buyar saat sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya.
“Sudahlah, jangan biarkan masalah ini menganggumu. Semangat, teman!”
Fi melirik Priyanka. Melihat senyuman di wajah gadis itu, membuatnya ikut-ikutan tersenyum. Untunglah Priyanka saat ini setia menemaninya.
Lingkaran telah terbentuk. Namun, tak terlihat batang hidung Gloria dan Riani menampakkan diri. Tifa tahu kedua temannya itu pasti masih kesal, tapi ia berharap kalau kemarahan mereka tidak terlalu lama. Tifa sangat membutuhkan bantuan mereka.
“Selamat siang, semuanya. Senang rasanya kita kembali berjumpa dalam kesempatan yang sama.”
Tifa memandang satu per satu wajah anggotanya. Ia merasa ada aura semangat yang dulu terpancar terlihat memudar. Banyak hal yang telah terjadi di antara mereka dan tentunya itu mengubah pribadi masing-masing. Tifa tak menyalahkan mereka karena ia juga merasakan hal yang sama. Namun, sebelum semua itu benar-benar sirna ia akan berusaha untuk menyelesaikan apa yang sudah ia ikrarkan.
“Saya tahu, absennya saya yang disertai cuti latihan yang panjang akan membawa banyak pengaruh pada latihan nanti. Untuk itu saya minta latihan kali ini dan seterusnya kalian harus bekerja keras. Lebih keras dari sebelumnya karena waktu semakin dekat. Saya harap kalian lebih serius dan meminimalisir semua kesalahan. Mengerti, semua?”
“Mengertiii!”
Tifa mengangguk. Namun, perhatiannya tertuju pada Alexi yang mengacungkan tangannya. Sepertinya ada yang mau ditanyakan oleh pemuda itu.
“Apa hari ini kita hanya dilatih oleh Miss Tifa dan Pak Dave?”
Lidah Tifa terasa kelu. Ia juga memikirkan hal itu dari tadi. Sayangnya, ia tak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya.
“Rapat guru,” sahut Dave cepat. “Tadi Bu Hana mengatakan pada kami.”
Ekor mata Tifa melirik Dave. Laki-laki ini ternyata sangat bisa diandalkan.
“Ya, begitulah. Ada lagi yang mau ditanyakan?”
Tifa senang karena tak ada lagi yang menanyakan perihal absenya Gloria dan Riani.
“Kalau begitu, latihan dimulai!”
ooOoo
Tifa memberikan lima menit istirahat setelah pemanasan. Biasanya waktu di antara seperti ini ia lewati dengan secangkir kopi. Sayangnya, semua bubuk kopi simpananya sudah disegel, termasuk yang ada di gedung teater. Entah siapa yang me-nyembunyikannya, tapi Tifa akan menghajarnya bila tahu siapa pelakunya.
Ia memutuskan untuk minum saja. Ia tak sadar kalau di backstage ternyata ada orang lain. Awalnya Tifa tak mempermasalahkan, tetapi saat melihat orang itu adalah Fi, entah kenapa suasana langsung terasa berbeda.
Fi yang bertatapan langsung dengannya langsung membuang muka. Sepertinya gadis itu ingin menyesal karena telah bertemu langsung.
“Sepertinya kamu benar-benar tak suka padaku, ya? Sampai-sampai kamu harus membuang muka seperti itu.”
“Bukannya lebih baik begitu,” balasnya dingin. “Anda tidak mau kalau orang sampai bisik-bisik tentang kita, bukan?”
Tifa tersenyum sinis, “Bukannya kamu harus berterima kasih karena berkat kehadiranku orang-orang jadi sibuk latihan sehingga melupakan pembicaraan tentang kita?”
Fi berbalik dan menatapnya tegas, “Mari kita singkirkan saja masalah itu! Bagaimana kalau saat ini kita sama-sama memainkan peran kita masing-masing? Dengan begitu kita tidak akan saling usik.”
“Begitu? Baiklah, kita lihat sejauh mana kamu bisa memainkan peranmu itu?”
“Tidak usah khawatirkan saya. Pikirkan saja diri Anda sendiri.”
Fi pun berlalu. Untuk sesaat Tifa mengakui kalau ia sempat terprovokasi oleh ucapan gadis itu. Untung ia segera menguasai diri. Jika meledak di sana, maka ia kalah dari gadis itu dan ia tak mau hal itu terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar