Musikal 134
Matahari baru saja
menampakkan dirinya. Namun, Dave sudah banjir keringat. Bukan karena marathon,
tapi karena sebuah telepon penting yang membuatnya marathon dadakan. Bahkan
Ririn dan Ibunya sampai keheranan melihat dirinya.
Satu
jam yang lalu Dave baru saja terbangun dari tidurnya. Ketika ia sedang
menikmati berita pagi, tiba-tiba saja ibunya Tifa menelepon. Dave masih sempat
menerka nada suara July seperti tengah marah, tapi Dave juga tidak tahu pasti.
Hanya saja lima kata yang diucapkan July langsung memnerbangkannya dari tempat
tidur.
“Dave, tolong Tante. Cepat ke rumah!”
Banyak
spekulasi di kepala Dave mengenai pesan ambigu tadi. Satu hal yang jelas, yaitu
pasti berhubungan dengan Tifa. Entah apa. Dave hanya berharap kalau semua akan
baik-baik saja.
Begitu
langkahnya sampai di rumah Tifa, Dave cepat-cepat masuk. Namun, ketika ia masuk
ke dalam rumah, yang ia dapatkan hanyalah suasana sunyi. Baik Adrian, Tifa,
maupun July tak ada satu pun yang membuka mulut. Dave langsung berubah canggung
saat menghadapi ketiganya.
“Se—selamat
pagi!” sapa Dave.
Tatapan
ketiganya tertuju pada Dave. Hanya sekilas lalu semuanya kembali pada diri
masing-masing. Untungnya July masih ingat akan rasa sopan santun.
“Kamu
sudah datang, Dave.”
“Kalau
boleh tahu, ini ada apa ya?”
July
mendesah berat, “Tolong kamu nasihati anak ini! Bilang padanya, kalau
kesehatannya lebih penting daripada latihan hari ini.”
Mata
Dave terbelalak. Bergantian ia pandang July dan Tifa, “Tif, kamu sudah mau
latihan hari ini?”
“Aku
sudah terlalu lama absen, Dave,” jawab Tifa polos seolah tanpa dosa.
“Tapi
kamu baru habis kemo, Tif!” seru July. “Kenapa kamu tidak mau nurut sekali ini
saja? Ini juga demi kamu!”
“Pementasan
ini juga untukku, Bu.” Tifa kembali menjawab dengan santai.
“Kenapa
Tuhan meninggalkan anak sinting ini untukku, sih!” omel July. “Rasanya anak
tuyul lebih nurut daripada anak sendiri!”
July
langsung beranjak ke kamar. Bunyi pintu berdebam menandakan amarah July yang
masih membara. Namun, itu sama sekali tak membuat keputusan Tifa berubah.
Dave
menghela napas panjang, “Kenapa kamu gak nurut aja, Tif? Ibumu tidak perlu
marah-marah kayak gini’kan.”
“Percuma
aja, Om. Kita cuma dianggap batu sama Tante,” akhirnya Adrian buka suara. Ia
pun ikut beranjak, “Lebih baik Om awasi Tante saja. Kayaknya cuma itu yang bisa
kita lakukan sekarang. Aku permisi dulu. Sampai jumpa di gedung teater.”
Adrian
berlalu dan keadaan kembali sunyi. Berkemelut dengan keputusannya sendiri,
akhirnya Dave hanya bisa mengulurkan tangan pada Tifa.
“Ayo
kita pergi! Tapi jangan pernah jauh-jauh dari pengawasanku. Mengerti?”
Wajah
Tifa seketika berubah cerah. Dia yang biasanya menghindar dari lelaki ini
langsung berubah kalem. Ia bahkan menggandeng tangan Dave dengan riang. Memang
tak ada yang bisa memecahkan kekerasan kepala Tifa.
ooOoo
Suasana kelas kali
ini cukup ramai. Pembicaraan terpusat pada pemberitahuan latihan mendadak.
Mereka benar-benar tak siap kali ini.
“Aku
harus balik lagi ke rumah gara-gara dapat telepon dari Ben,” keluh Wenda. “Jadi
telat deh.”
“Lho
ngapain balik lagi?” tanya Anjani.
“Ambil
baju latihan lah. Memangnya aku bisa latihan kalau pakai rok?”
“Kayaknya
bukan cuma kamu deh, tapi hampir separuh kelas ini,” sahut Kemal. “Anak kelas
dua sih enak. Mereka hari ini ada pelajaran olahraga, jadi bisa pakai baju
olahraga. Hmm, sayang di sini cewek semua. Jadinya gak ada celana training yang
bisa dipinjam.”
Ben
nyengir mendengar keluhan Kemal, “Tumben, Mal. Kamu ngeluh soal cewek.”
“Untuk
beberapa kasus aku lebih butuh lelaki,” Kemal balas nyengir.
Jam
demi jam berlalu. Bel pulang pun berbunyi. Kedua kelas khusus itu pun segera
bersiap menuju gedung latihan. Di saat yang bersamaan, Tifa, Dave, serta Adrian
juga baru datang. Mereka tampak seperti sedang bernostalgia ketika bertemu.
Namun, suasana berubah canggung kala Fi menampak diri di antara mereka.
Fi
yakin kalau mata Adrian tertuju padanya dan Adrian juga tak menampik kalau ia
belum bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Hanya sebentar, sampai Tifa
menariknya untuk segera masuk.
Bahu
Fi melorot lemas. Terdengar desahan berat. Ternyata ia belum bisa berpindah
dari Adrian. Lamunan buyar saat sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya.
“Sudahlah,
jangan biarkan masalah ini menganggumu. Semangat, teman!”
Fi
melirik Priyanka. Melihat senyuman di wajah gadis itu, membuatnya ikut-ikutan
tersenyum. Untunglah Priyanka saat ini setia menemaninya.
Lingkaran
telah terbentuk. Namun, tak terlihat batang hidung Gloria dan Riani menampakkan
diri. Tifa tahu kedua temannya itu pasti masih kesal, tapi ia berharap kalau
kemarahan mereka tidak terlalu lama. Tifa sangat membutuhkan bantuan mereka.
“Selamat
siang, semuanya. Senang rasanya kita kembali berjumpa dalam kesempatan yang
sama.”
Tifa
memandang satu per satu wajah anggotanya. Ia merasa ada aura semangat yang dulu
terpancar terlihat memudar. Banyak hal yang telah terjadi di antara mereka dan
tentunya itu mengubah pribadi masing-masing. Tifa tak menyalahkan mereka karena
ia juga merasakan hal yang sama. Namun, sebelum semua itu benar-benar sirna ia
akan berusaha untuk menyelesaikan apa yang sudah ia ikrarkan.
“Saya
tahu, absennya saya yang disertai cuti latihan yang panjang akan membawa banyak
pengaruh pada latihan nanti. Untuk itu saya minta latihan kali ini dan
seterusnya kalian harus bekerja keras. Lebih keras dari sebelumnya karena waktu
semakin dekat. Saya harap kalian lebih serius dan meminimalisir semua
kesalahan. Mengerti, semua?”
“Mengertiii!”
Tifa
mengangguk. Namun, perhatiannya tertuju pada Alexi yang mengacungkan tangannya.
Sepertinya ada yang mau ditanyakan oleh pemuda itu.
“Apa
hari ini kita hanya dilatih oleh Miss
Tifa dan Pak Dave?”
Lidah
Tifa terasa kelu. Ia juga memikirkan hal itu dari tadi. Sayangnya, ia tak
mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya.
“Rapat
guru,” sahut Dave cepat. “Tadi Bu Hana mengatakan pada kami.”
Ekor
mata Tifa melirik Dave. Laki-laki ini ternyata sangat bisa diandalkan.
“Ya,
begitulah. Ada lagi yang mau ditanyakan?”
Tifa
senang karena tak ada lagi yang menanyakan perihal absenya Gloria dan Riani.
“Kalau
begitu, latihan dimulai!”
ooOoo
Tifa memberikan lima
menit istirahat setelah pemanasan. Biasanya waktu di antara seperti ini ia
lewati dengan secangkir kopi. Sayangnya, semua bubuk kopi simpananya sudah
disegel, termasuk yang ada di gedung teater. Entah siapa yang me-nyembunyikannya,
tapi Tifa akan menghajarnya bila tahu siapa pelakunya.
Ia
memutuskan untuk minum saja. Ia tak sadar kalau di backstage ternyata ada orang lain. Awalnya Tifa tak
mempermasalahkan, tetapi saat melihat orang itu adalah Fi, entah kenapa suasana
langsung terasa berbeda.
Fi
yang bertatapan langsung dengannya langsung membuang muka. Sepertinya gadis itu
ingin menyesal karena telah bertemu langsung.
“Sepertinya
kamu benar-benar tak suka padaku, ya? Sampai-sampai kamu harus membuang muka
seperti itu.”
“Bukannya
lebih baik begitu,” balasnya dingin. “Anda tidak mau kalau orang sampai
bisik-bisik tentang kita, bukan?”
Tifa
tersenyum sinis, “Bukannya kamu harus berterima kasih karena berkat kehadiranku
orang-orang jadi sibuk latihan sehingga melupakan pembicaraan tentang kita?”
Fi
berbalik dan menatapnya tegas, “Mari kita singkirkan saja masalah itu!
Bagaimana kalau saat ini kita sama-sama memainkan peran kita masing-masing?
Dengan begitu kita tidak akan saling usik.”
“Begitu?
Baiklah, kita lihat sejauh mana kamu bisa memainkan peranmu itu?”
“Tidak
usah khawatirkan saya. Pikirkan saja diri Anda sendiri.”
Fi
pun berlalu. Untuk sesaat Tifa mengakui kalau ia sempat terprovokasi oleh
ucapan gadis itu. Untung ia segera menguasai diri. Jika meledak di sana, maka
ia kalah dari gadis itu dan ia tak mau hal itu terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar