Musikal 133
“Kita jauh-jauh kabur
ternyata cuma ke gedung teater?”
Priyanka
berusaha menahan tawanya, “Sabar dong, Non. Kita lagi nunggu seseorang.”
“Siapa?”
kening Fi berkerut mendengar akan ada orang lain yang akan ikut berkomplot.
Tak
berapa lama kemudian, muncul sosok Kemal dengan menenteng dua tas. Fi mengenali
tasnya yang dipegang lelaki itu dan dia berasumsi bahwa tas yang satunya lagi
adalah milik Priyanka. Kemal terlebih dulu memberikan tas Priyanka dan gadis
itu membalasnya dengan ucapan terima kasih serta senyuman manis.
“Tu—tunggu
dulu, maksudnya apa ini?”
“Lho,
kalian’kan mau bolos? Kalau mau bolos ya jangan setengah-setengah dong,” ujar
Kemal. “Jadi aku baik hati membawakan barang-barang kalian.”
Fi
masih terlihat bingung. Akhirnya Priyaka turun tangan untuk menjelaskan.
“Jadi,
pas kamu keluar tadi aku udah merasa ada yang aneh. Kenapa kamu ke toilet lama
banget? Pasti terjadi sesuatu. Makanya aku pikir aku harus nyusul kamu.
Kebetulan guru kita tadi juga lagi keluar sebentar, aku jadinya langsung mau
nyusul kamu. Hmm, tapi ternyata anak-anak punya rencana lain.”
Priyanka
tersenyum, “Ririn bilang kalau ada jalan rahasia di belakang gedung teater dan
dia bilang kalau aku harus bawa kamu dulu ke sini. Nanti pas jam istirahat baru
dia yang anterin tas kita, supaya kita bisa bolos sepenuhnya.”
Fi
tersentak, “Eh, Ririn yang merencanakan semua ini? Ta—tapi kenapa?”
“Mungkin
karena dia juga sama-sama perempuan, jadi dia punya perasaan yang sama kayak
kamu,” sahut Kemal seraya mendesah malas.
“Tapi
kalau memang Ririn yang bilang begitu, kenapa malah jadi kamu yang bawain tas
kami?” Fi berseloroh.
“Gak
apa-apa. Senang aja rasanya ikut campur urusan orang,” Kemal terkekeh lalu ia
berubah gusar. “Ah, udah sih! Kenapa
kamu gak bilang makasih aja sama aku dan Ririn karena udah nolongin kamu? Gak
usah permasalahin hal yang gak seharusnya jadi masalah.”
Fi
mendengus pelan, “Baiklah, terima kasih. Nah, sekarang bisa berikan tasku?”
Kemal
menganyunkan tas itu, tapi sebelum Fi sempat meraihnya Kemal buru-buru menarik
tas itu kembali.
“
Kakakku nitip salam padamu. Terima, nggak?”
Fi
kembali mendengus, “Iya deh, terima. Sini tasnya!”
Senyuman
Kemal mengembang. Ia segera memberikan tas tersebutnya pada empunya. Kemudian
ia menatap Priyanka.
“Oke,
selamat bersenang-senang!”
ooOoo
“Jadi, apa sekarang
kamu sudah bisa cerita padaku?”
Fi
menggenggam mic tersebut kuat-kuat. Tak ada yang memedulikan dan tak ada yang
terganggu dengan dentuman keras lagu yang sedang diputar sekarang. Mereka
memilih tempat karaoke sebagai tujuan bolos. Priyanka sengaja memilih lagu-lagu
remix agar apa pun yang mereka bicarakan di dalam tak ada yang mendengarnya di
luar.
Priyanka
berusaha memancing Fi yang tak kunjung menyahut. “Mungkin kamu bisa cerita dari
kejadian yang ada di kafe.”
“Bukannya
kamu sudah tahu, ya?” sahut Fi akhirnya.
“Aku
pengen dengar langsung dari kamu. Dari kemarin aku hanya bertahan dengan
spekulasi-spekulasi yang aku buat sendiri.”
Fi
menarik napas panjang, “Yaah, memang seperti itulah ceritanya. Apa yang kamu
lihat dan kamu pikirkan adalah benar. Aku dan Adrian memang bersaudara.”
“Awalnya
aku mau menyalahkan mama, tapi ternyata mama juga tidak bersalah. Aku baru tahu
ternyata papa adalah dalang dari semua ini. Kematian Ibu Adrian, kebencian Miss Tifa, serta hubungan darah antara
aku dan Adrian semuanya adalah ulah papa. Dia memainkan api antara mama dan
ibunya Adrian.”
“Bagaimana
itu bisa terjadi?” tanya Priyanka.
Fi
menggeleng lemah, “Aku tidak tahu, tapi aku percaya dengan apa yang dikatakan
mama. Mama di sini juga hanya menjadi korban.”
“Lalu
konferensi pers itu?”
“Sewaktu
video skandal itu tersebar, aku dijemput oleh Pak Dave dan dibawa ke rumah
sakit. Di sana aku dan Adrian diberi instruksi oleh Miss Tifa untuk berimprovisasi di depan para wartawan.”
Tawa
sinis Fi pecah, “Tampaknya perempuan itu berhasil dengan semua rencana balas
dendamnya. Aku benar-benar terpojok saat ini.”
“Eh,
jadi yang kemarin itu bukan disengaja?” ujar Priyanka terperanjat.
“Ya,
entah dari mana keberanian itu aku dapatkan,” mata Fi mulai terasa panas.
“Sayangnya, Adrian justru menyalahkanku. Dia bilang kalau aku tidak punya
perasaan karena telah mengatakan bahwa hubungan kami yang asli hanya sebagai setting-an. Sial, padahal setengah mati
aku mempertahankan nama baiknya, tantenya, dan pertunjukkan ini! Kenapa dia
justru menyalahkanku?”
“Dia
bilang begitu?”
Fi
hanya mengangguk pelan. Priyanka yang tega melihatnya pun langsung memeluk
sahabatnya tersebut. Di saat itulah tangis Fi pecah.
“Aku
harus apa, Ka? Kenapa aku selalu disalahkan? Kenapa seluruh dunia membenciku?
Meskipun aku sudah berusaha memperbaikinya, kenapa aku tetap menjadi yang
salah? Kenapa….”
Priyanka
tak menjawab. Ia hanya mempererat dekapannya dan membiarkan Fi menangis
sepuasnya. Biarlah, biar sahabatnya itu puas.
ooOoo
“Terima kasih ya, Ka.
Sudah menemaniku hari ini.”
“Tidak
masalah. Ternyata bolos menyenangkan juga. Pantas banyak siswa yang
melakukannya, hahaha.”
Fi
hanya tersenyum kecil. Setelah puas menangis di tempat karaoke, mereka pun
memutuskan untuk menenangkan diri di tempat yang sunyi. Pilihan pun jatuh pada
Taman Bukit Siguntang yang jauh dari keramaian. Sambil menikmati sepotong es
krim, mereka dijamu dengan semilir angin yang sejuk.
“Maaf
ya, Ka. Waktu itu aku sempat menjauh dari kamu, padahal waktu itu kamu pasti
lagi butuh teman banget. Kayaknya aku ini memang teman yang buruk.”
“Waktu
itu? Oooh…” Priyanka tertawa kecil. “Ah, sudahlah, Fi. Sudah berlalu. Tidak ada
yang perlu disesali. Lagi pula aku memang pantas menerima pelajaran yang waktu
itu.”
“Tapi
kenapa kamu capek-capek bersama aku sekarang? Bukannya kamu sudah mendapatkan
hidup baru yang lebih menyenangkan?”
“Sederhana
saja,” Priyanka mengedipkan matanya. “Karena aku tahu sendiri itu tidak enak.”
Hembusan
angin sejuk itu justru menghangatkan relung hati Fi. Jawaban Priyanka seperti
oasis yang menyegarkan saat di padang pasir. Fi tidak bisa lebih bersyukur lagi
daripada ini.
ier teriak pas kemal datang :D , yey kemal *lanjut baca*
BalasHapus