Total Tayangan Halaman

Sabtu, 04 Maret 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 133)




Musikal 133

“Kita jauh-jauh kabur ternyata cuma ke gedung teater?”
Priyanka berusaha menahan tawanya, “Sabar dong, Non. Kita lagi nunggu seseorang.”
“Siapa?” kening Fi berkerut mendengar akan ada orang lain yang akan ikut berkomplot.
Tak berapa lama kemudian, muncul sosok Kemal dengan menenteng dua tas. Fi mengenali tasnya yang dipegang lelaki itu dan dia berasumsi bahwa tas yang satunya lagi adalah milik Priyanka. Kemal terlebih dulu memberikan tas Priyanka dan gadis itu membalasnya dengan ucapan terima kasih serta senyuman manis.
“Tu—tunggu dulu, maksudnya apa ini?”
“Lho, kalian’kan mau bolos? Kalau mau bolos ya jangan setengah-setengah dong,” ujar Kemal. “Jadi aku baik hati membawakan barang-barang kalian.”
Fi masih terlihat bingung. Akhirnya Priyaka turun tangan untuk menjelaskan.
“Jadi, pas kamu keluar tadi aku udah merasa ada yang aneh. Kenapa kamu ke toilet lama banget? Pasti terjadi sesuatu. Makanya aku pikir aku harus nyusul kamu. Kebetulan guru kita tadi juga lagi keluar sebentar, aku jadinya langsung mau nyusul kamu. Hmm, tapi ternyata anak-anak punya rencana lain.”
Priyanka tersenyum, “Ririn bilang kalau ada jalan rahasia di belakang gedung teater dan dia bilang kalau aku harus bawa kamu dulu ke sini. Nanti pas jam istirahat baru dia yang anterin tas kita, supaya kita bisa bolos sepenuhnya.”
Fi tersentak, “Eh, Ririn yang merencanakan semua ini? Ta—tapi kenapa?”
“Mungkin karena dia juga sama-sama perempuan, jadi dia punya perasaan yang sama kayak kamu,” sahut Kemal seraya mendesah malas.
“Tapi kalau memang Ririn yang bilang begitu, kenapa malah jadi kamu yang bawain tas kami?” Fi berseloroh.
“Gak apa-apa. Senang aja rasanya ikut campur urusan orang,” Kemal terkekeh lalu ia berubah gusar. “Ah, udah sih!  Kenapa kamu gak bilang makasih aja sama aku dan Ririn karena udah nolongin kamu? Gak usah permasalahin hal yang gak seharusnya jadi masalah.”
Fi mendengus pelan, “Baiklah, terima kasih. Nah, sekarang bisa berikan tasku?”
Kemal menganyunkan tas itu, tapi sebelum Fi sempat meraihnya Kemal buru-buru menarik tas itu kembali.
“ Kakakku nitip salam padamu. Terima, nggak?”
Fi kembali mendengus, “Iya deh, terima. Sini tasnya!”
Senyuman Kemal mengembang. Ia segera memberikan tas tersebutnya pada empunya. Kemudian ia menatap Priyanka.
“Oke, selamat bersenang-senang!”
ooOoo
“Jadi, apa sekarang kamu sudah bisa cerita padaku?”
Fi menggenggam mic tersebut kuat-kuat. Tak ada yang memedulikan dan tak ada yang terganggu dengan dentuman keras lagu yang sedang diputar sekarang. Mereka memilih tempat karaoke sebagai tujuan bolos. Priyanka sengaja memilih lagu-lagu remix agar apa pun yang mereka bicarakan di dalam tak ada yang mendengarnya di luar.
Priyanka berusaha memancing Fi yang tak kunjung menyahut. “Mungkin kamu bisa cerita dari kejadian yang ada di kafe.”
“Bukannya kamu sudah tahu, ya?” sahut Fi akhirnya.
“Aku pengen dengar langsung dari kamu. Dari kemarin aku hanya bertahan dengan spekulasi-spekulasi yang aku buat sendiri.”
Fi menarik napas panjang, “Yaah, memang seperti itulah ceritanya. Apa yang kamu lihat dan kamu pikirkan adalah benar. Aku dan Adrian memang bersaudara.”
“Awalnya aku mau menyalahkan mama, tapi ternyata mama juga tidak bersalah. Aku baru tahu ternyata papa adalah dalang dari semua ini. Kematian Ibu Adrian, kebencian Miss Tifa, serta hubungan darah antara aku dan Adrian semuanya adalah ulah papa. Dia memainkan api antara mama dan ibunya Adrian.”
“Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Priyanka.
Fi menggeleng lemah, “Aku tidak tahu, tapi aku percaya dengan apa yang dikatakan mama. Mama di sini juga hanya menjadi korban.”
“Lalu konferensi pers itu?”
“Sewaktu video skandal itu tersebar, aku dijemput oleh Pak Dave dan dibawa ke rumah sakit. Di sana aku dan Adrian diberi instruksi oleh Miss Tifa untuk berimprovisasi di depan para wartawan.”
Tawa sinis Fi pecah, “Tampaknya perempuan itu berhasil dengan semua rencana balas dendamnya. Aku benar-benar terpojok saat ini.”
“Eh, jadi yang kemarin itu bukan disengaja?” ujar Priyanka terperanjat.
“Ya, entah dari mana keberanian itu aku dapatkan,” mata Fi mulai terasa panas. “Sayangnya, Adrian justru menyalahkanku. Dia bilang kalau aku tidak punya perasaan karena telah mengatakan bahwa hubungan kami yang asli hanya sebagai setting-an. Sial, padahal setengah mati aku mempertahankan nama baiknya, tantenya, dan pertunjukkan ini! Kenapa dia justru menyalahkanku?”
“Dia bilang begitu?”
Fi hanya mengangguk pelan. Priyanka yang tega melihatnya pun langsung memeluk sahabatnya tersebut. Di saat itulah tangis Fi pecah.
“Aku harus apa, Ka? Kenapa aku selalu disalahkan? Kenapa seluruh dunia membenciku? Meskipun aku sudah berusaha memperbaikinya, kenapa aku tetap menjadi yang salah? Kenapa….”
Priyanka tak menjawab. Ia hanya mempererat dekapannya dan membiarkan Fi menangis sepuasnya. Biarlah, biar sahabatnya itu puas.
ooOoo
“Terima kasih ya, Ka. Sudah menemaniku hari ini.”
“Tidak masalah. Ternyata bolos menyenangkan juga. Pantas banyak siswa yang melakukannya, hahaha.”
Fi hanya tersenyum kecil. Setelah puas menangis di tempat karaoke, mereka pun memutuskan untuk menenangkan diri di tempat yang sunyi. Pilihan pun jatuh pada Taman Bukit Siguntang yang jauh dari keramaian. Sambil menikmati sepotong es krim, mereka dijamu dengan semilir angin yang sejuk.
“Maaf ya, Ka. Waktu itu aku sempat menjauh dari kamu, padahal waktu itu kamu pasti lagi butuh teman banget. Kayaknya aku ini memang teman yang buruk.”
“Waktu itu? Oooh…” Priyanka tertawa kecil. “Ah, sudahlah, Fi. Sudah berlalu. Tidak ada yang perlu disesali. Lagi pula aku memang pantas menerima pelajaran yang waktu itu.”
“Tapi kenapa kamu capek-capek bersama aku sekarang? Bukannya kamu sudah mendapatkan hidup baru yang lebih menyenangkan?”
“Sederhana saja,” Priyanka mengedipkan matanya. “Karena aku tahu sendiri itu tidak enak.”
Hembusan angin sejuk itu justru menghangatkan relung hati Fi. Jawaban Priyanka seperti oasis yang menyegarkan saat di padang pasir. Fi tidak bisa lebih bersyukur lagi daripada ini.

1 komentar: