Total Tayangan Halaman

Minggu, 26 Maret 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 139)




Musikal 139


Begitu Adrian sampai di backstage, ternyata di sana sudah ramai. Glori, Riani, dan beberapa murid yang lain membantu Fi untuk mengangkat tubuh Tifa. Adrian langsung histeris. Sepertinya ia masih trauma akan kejadian tempo hari.
“Tante, Tante, Tante bangun!”
Gloria kewalahan memisahkan Adrian dari Tifa. Tubuh Adrian yang besar serta emosinya yang labil membuat Gloria harus meminta beberapa murid lelaki untuk membantunya.
“Adrian, tenangkan dirimu dulu!” seru Gloria. “Astaga, dimana Dave saat dibutuhkan?”
“Om Dave sedang keluar kota,” sahut Ririn seraya mengeluarkan ponselnya. “Kita telepon ambulans saja.”
Tiba-tiba Fi langsung menahan gerakan tangan Ririn yang baru akan menekan nomor ambulans. Wajahnya tampak panik.
“Jangan panggil ambulans! Kita cari bantuan yang lain saja.”
“Tidak ada waktu lagi, Fi!” balas Ririn sambil mencoba melepaskan cengkraman Fi.
“Kita tidak bisa panggil ambulans!”
“Kenapa tidak? Sekarang saat yang genting!”
Fi dan Ririn masih saling tarik-tarikan ponsel sampai akhirnya emosi Fi meluap dan ponsel itu berhasil didapatkan olehnya.
“KUBILANG JANGAN!”
Ponsel itu terlempar jauh. Terdengar bunyi ‘krek’ ketika ponsel itu mendarat. Tak hanya Ririn, tapi semua orang di sana kaget saat menyadari layar ponsel itu retak seribu. Suasana berubah hening. Mereka tak menyangka Fi akan berbuat senekat itu. Kini giliran emosi Ririn yang meluap. Dengan segenap amarahnya ia dorong tubuh Fi hingga gadis itu terjungkal ke belakang.
“Kamu apa-apaan sih!”
Saat Ririn berbalik untuk mengambil ponselnya, secepat kilat Fi menangkap pergelangan kakinya. Ririn terkejut melihat Fi yang sedang bersimpuh.
“Kumohon… jangan panggil ambulans. Adrian memiliki fobia dengan suara sirine ambulans.”
Amarah yang tadi membakar sampai ke ubun-ubun seketika membeku. Mata Ririn bergerak perlahan menatap Adrian. Lelaki yang tadi histeris melihat tantenya pingsan kini ikut-ikutan terhenyak. Semua orang kembali bergeming dalam kebisuan. Fakta terakhir yang Fi katakan membuat semua orang terjebak dalam paradoksal situasi.
“Mo—Mori san…” akhirnya Hiro memecah kebisuan. “Ki—kita bisa minta antar Mori san.”
“Ah, benar,” sahut Riani. “Hiro, tolong ya.”
Hiro mengangguk dan segera menelepon Mori. Tak ada yang bergerak dari posisi masing-masing sampai Mori datang menjemput dan Gloria memerintahkan beberapa siswa untuk membantu membawa Tifa ke dalam mobil. Adrian dan Gloria ikut pergi, sementara Riani menginstruksikan siswa untuk segera pulang karena latihan tak mungkin dilanjutkan. Satu per satu siswa pun meninggalkan gedung teater.
Alexi memungut ponsel yang sempat terabaikan. Ia mencoba menyalakannya dan ternyata masih hidup. Alexi mendesah pendek lalu ia memberikannya pada Ririn.
“Hanya layarnya, tapi aku belum cek semuanya.”
Ririn menerima ponsel itu seraya tersenyum tipis sebagai pengganti ucapan terima kasih, lalu mendekati Fi yang masih bergeming pada posisinya ketika ia terjatuh.
“Maaf, aku tidak tahu,” ujar Ririn seraya menjulurkan tangannya. “Seharusnya kamu bilang dari awal. Jadi, aku tidak perlu mendorongmu seperti tadi.”
Fi menggeleng pelan, “Tidak. Bukan salahmu. Kamu tidak perlu minta maaf.”
Tangan Ririn masih tergantung di udara, tapi Fi masih mengabaikan bantuan gadis itu. Merasa situasi bisa menjadi tegang kembali, Alexi pun berinisatif untuk melerai keduanya.
“Kita duluan saja,” Alexi menyingsingkan tangan Ririn. “Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri.”
Ririn mendesah berat. Ada yang mengganjal di hatinya saat melihat Fi yang masih tertunduk lesu. Bagaimana pun juga ia bersalah atas insiden tadi. Ririn menyesali perbuatannya yang terlalu keras. Baru kali ini ia tak bisa menahan amarahnya.
Namun Alexi benar. Tak ada gunanya membujuk Fi saat ini. Lebih baik membiarkan gadis itu sendirian. Mungkin itu jauh lebih berguna. Saat keduanya keluar dari gedung, ternyata teman-teman mereka sudah menunggu di luar.
“Hei, Rin. Kamu baik-baik saja?” tanya Kemal.
Ririn hanya mengangguk.
“Kupikir Fi cukup keterlaluan sampai membuang Hp-mu sampai rusak seperti itu,” sahut Anjani. “Kenapa dia tidak katakan saja dari awal? Jadinya’kan gak perlu kayak tadi.”
“Tapi aku juga salah kok,” Ririn tersenyum kecut. “Aku gak seharusnya dorong dia kuat-kuat.”
“Aku setuju dengan, Jane,” ucap Wenda. “Wajar aja kamu emosi kayak tadi. Huff, masih untung kamu cuma dorong dia. Mungkin kalau aku jadi kamu, sudah aku tampar dia.”
“Memangnya ada ya, fobia sirine ambulans?” ujar Anjani. “Atau jangan-jangan cuma buat-buatan dia aja.”
“Sudahlah, ada baiknya kita pulang saja,” lerai Ben. “Gak usah bahas-bahas masalah itu lagi. Lebih bagus kalau kita khawatir dengan kondisi Miss Tifa. Itu jauh lebih penting daripada kita membicarakan masalah sepele kayak tadi.”
“Apa kalian bisa berhenti membicarkan hal buruk tentang Fi?”
Mereka semua kaget dengan kehadiran Priyanka yang tanpa disadari. Melihat kedatangan Priyanka, mood Wenda berubah menjadi jelek. Sepertinya ia masih belum bisa berdamai dengan gadis itu.
“Loh, kami’kan cuma bicara fakta. Lagian kamu juga lihat tadi.”
Priyanka menghela napas, “Aku tahu kalian semua tidak menyukai Fi. Dia memang menyebalkan, tapi dia tidak pernah menyakiti siapa pun. Dia bukan orang jahat. Jadi, kalian gak perlu menghakiminya seperti itu.”
“Idiih, siapa juga yang main hakim sendiri?” Wenda membalas dengan nada jutek. “Ya udah, urus aja ‘teman anehmu’ itu. Kita juga udah mau pulang. Yuk, Jane!”
Wenda melenggang kesal. Diikuti Anjani dan juga Ririn. Priyanka hanya menggigit bibir melihat kepergian ketiga temannya itu. Ia pun berniat menyusul Fi, tapi Kemal mencegahnya lebih dulu.
“Ada baiknya kamu biarkan Fi di dalam. Sepertinya dia butuh sendiri.”
“Tapi…”
“Kalau kamu khawatir, tunggu saja sampai jam delapan. Kalau kamu gak bisa hubungi dia lewat dari jam delapan, kamu bisa hubungi aku, Kemal, atau Al buat bantu cari dia.”
“Eh, serius? Aku pikir kalian berpihak dengan mereka,” ujar Priyanka. Mereka yang dimaksud Priyanka tentu saja Wenda, Anjani, dan juga Ririn.
“Tidak. Kami netral,” sahut Alexi.
Priyanka mendesah lega, “Syukurlah, masih ada yang mau berpikiran sama sepertiku. Bukannya aku mau membela karena dia temanku, tapi karena apa yang dilakukan Fi juga tidak salah. Dia hanya mau menyelamatkan Adrian, bukan mau buat kerusuhan.”
“Kita ngerti kok,” sahut Ben. “Cuma yaaah… biasalah para gadis. Cepat baperan.”
Priyanka tersenyum geli.
“Kita pulang  dan tunggu saja,” tutup Alexi.
Akhirnya Priyanka hanya bisa mengikuti saran ketiga lelaki itu. Ia hanya berharap kalau Fi akan baik-baik saja seperti yang dikatakan Ben dan semoga esok hari bisa lebih baik lagi.


1 komentar: