Musikal 136
Pagi yang cerah itu
diawali Ririn dengan sebuah buku klasik karangan Sapardi Djoko Darmono. Buku
itu tidak terlalu tebal seperti buku-buku yang selalu ia bawa. Sudah lama
sekali Ririn tidak mengisi otaknya dengan rangkaian kata-kata indah dari para
sastrawan. Kesibukan dalam pementasan telah membuatnya lupa akan kesenangan
pribadi dan di kesempatan yang sempit ini ia ingin membuat oasisnya sendiri.
“Pagi!”
Suara
maskulin nan lembut itu berhasil menyita perhatiannya. Ririn menurunkan bukunya
seraya membalas senyuman si kacamata.
“Pagi
juga.”
Alexi
menaruh tasnya di meja lalu duduk dengan posisi terbalik, “Hei, sudah lama
tidak melihatmu seperti ini?”
Kening
Ririn berkerut saat memikirkan kata-kata Alexi. Kemudian ia sadar ketika
matanya tertuju pada buku yang ia pegang.
“Oh,
maksudmu membaca?” Ririn tertawa renyah. “Yah, aku juga sudah lama tidak pegang
buku. Soalnya kalau pulang langsung tidur. Capek sih habis latihan.”
“Begitu
ya. Hmm, tapi memang sih, pesona kamu’kan memang gak jauh-jauh dari buku dan
sering kali kita dipertemukan gara-gara buku.”
Ririn
jadi tertawa sendiri saat mengingat pertemuan pertama mereka dan juga
pertemuan-pertemuan selanjutnya. Alexi memang benar, ia dan buku tak bisa
dipisahkan.
“Ngomong-ngomong,
sepertinya keadaan kemarin baik-baik saja, ya?”
“Oh,
maksudmu Miss Tifa—Fi—dan Adrian?”
Ririn menyelipkan pembatas buku pada halaman terakhir yang ia baca lalu
menyimpan buku itu di laci meja. “Yah, aku juga kaget melihat akting mereka
sebagus itu. Rasanya aktingku di atas panggung tidak ada apa-apanya dibanding
mereka.”
Kepala
Alexi terangguk pelan, tapi ia sama sekali tak berkomentar.
“Kalau
aku jadi Fi, mungkin aku tidak akan bisa seperti itu. Apa yang sudah terjadi,
rasanya terlalu berat untuk dipikulnya sendiri. Sayang, dia bukan orang dengan
tipe yang suka berbagi.”
Alis
Alexi terangkat sebelah, “Kamu masih bisa bicara seperti itu setelah apa yang
dia lakukan sama kamu?”
“Well, kupikir dia tidak melakukan
sesuatu yang jahat padaku,” Ririn mendesah panjang. “Dia memang berhati dingin,
tapi apa yang dilakukannya dulu memang tepat. Dia adalah pacarnya Adrian dan
aku bukan siapa-siapa. Wajar saja kalau dia butuh penegasan atas statusnya.”
Alexi
kembali mengangguk, “Sayangnya, statusnya itu sekarang udah gak berlaku lagi.”
Tiba-tiba
Ririn berdecak kesal, “Walaupun begitu, kamu gak seharusnya ngomong kayak tadi,
Al.”
Alexi
tersentak. Ia baru menyadari kalau pendapat yang ia lontarkan barusan
membuatnya mirip dengan gadis-gadis penggosip di luar sana.
“Ah,
i—iya sorry, sorry. Aku cuma
kelepasan aja.”
“Hm,
ya udahlah,” Ririn tersenyum kecut. “Salah kita juga kenapa pagi-pagi ngomongin
dia. Kita ngobrol yang lain aja deh.”
Alexi
tersenyum, “Kupikir kamu lebih baik meneruskan bacaanmu. Maaf, udah ganggu.”
Pemuda
itu membetulkan cara duduknya. Tak berapa lama kemudian siswa-siswa yang lain
berdatangan. Kelas yang tadinya sepi berubah jadi ramai. Fi juga kembali masuk
seperti biasa. Ada perasaan lega ketika Ririn melihat interval waktu kedatangan
Fi dengan obrolannya bersama Alexi cukup panjang. Ririn rasa gadis itu tak akan
mendengarnya.
ooOoo
[Aku
tunggu di gedung teater]
[-Adrian]
Ririn melirik arlojinya.
Masih 20 menit lagi sebelum bel pulang. Mungkin Adrian bermaksud untuk
menemuinya sepulang sekolah nanti. Ia pun menyimpan ponselnya kembali.
“An, hari ini kamu pulang
bareng Anjani dulu aja ya. Aku ada urusan. Gak apa’kan?” bisiknya.
“Oh, gak apa sih.
Ngomong-ngomong urusan apa?”
Bisa saja Ririn berbohong
pada Andani, tapi rasanya percuma. Nantinya juga bisa ketahuan. Menyadari
suaranya sudah berbisik, ia pun tidak mungkin mengecilkan lagi suaranya.
Akhirnya ia pun menuliskan sebuah nama pada buku catatan Andani. Gadis itu
cukup kaget saat membaca nama itu. Untungnya Andani tidak histeris dan segera
bisa mengendalikan diri.
“Ngapain kamu ketemu dia?”
bisik Andani. “Suasana lagi panas gini, kenapa kamu mau cari api?”
“Siapa yang mau cari api
sih?” balas Ririn. “Aku cuma gak tega aja lihat dia yang sekarang. Setelah apa
yang terjadi, aku pikir dia butuh seseorang yang bisa menemaninya.”
“Ya, tapi gak harus kamu
juga ‘kan?”
“Ehem, Marinda, Andani,
berhentilah mengobrol!”
Beberapa pasang mata tertuju
pada mereka berdua. Andani dan Ririn pun segera mengehentikan aktivitas
bisik-bisik mereka. Namun bukan berarti perdebatan selesai samapai disitu.
Keduanya melanjutkan dengan corat-coret pada buku catatan.
Pokoknya
kamu gak boleh pergi!
Tapi
kenapa? Lagian kita gak bakal
ngapa-ngapain kok.
Aku
tahu, tapi bertemu dengan Adrian saat ini bukanlah sesuatu yang tepat. Gimana
kalo sampai orang-orang membicarakan tentang kalian? Dan bagaimana kalau Fi
sampai tahu?
Fi
dan Adrian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kok sekarang kamu malah gak
setuju kalo aku ketemu sama Adrian sih?
Andani menghela napas.
Kenapa temannya sekali ini keras kepala sekali sih? Apa saat ini Ririn mencoba
mengambil kesempatan? Tapi rasanya Ririn tidak sepicik itu.
Terserah!
Percakapan pun berakhir
dengan jawaban yang saling menggantung. Setelah itu Ririn dan Andani tak saling
bicara lagi. Hingga bel pulang berbunyi, kedua gadis ini tak saling pamit.
“Kalian gak pulang bareng?”
tegur Alexi
“Dia...” Andani hampir saja
keceplosan. “Ah, maksudku, aku mau pulang bareng Anjani aja.”
“Kalian berantem?”
Andani menggeleng cepat,
“Enggak kok. Perasaan kamu aja kali.”
Alexi pun tak menannyakan
perihal Ririn lagi karena Andani langsung menghampiri meja saudarinya. Meski
begitu, Alexi merasakan ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
ooOoo
Ririn mendapati sosok pemuda
berambut pirang sedang berbaring santai di teras gedung. Sepertinya laki-laki
itu tidak memedulikan dengan keadaan teras yang sedikit kotor. Telinganya
disumpal earphone sementara matanya
asyik nelangsa memandangi langit-langit. Ririn memberanikan diri untuk
menyapanya.
“Ah, hai!”
Adrian tersenyum seraya
melepas earphone-nya. Ia segera
melompat bangun.
“Udah pulang?”
“Udahlah, kalo belum mana
mungkin aku bisa ke sini.”
Adrian tersenyum, “Ada
kerjaan? Kencan yuk?”
Ririn tersentak. Andai saja
Adrian menawarinya beberapa bulan yang lalu, ia pasti sudah berbunga-bunga
menanggapi tawaran itu. Namun setelah apa yang sudah terjadi, Ririn justru bingung
untuk mengiyakan.
“Eh—eh, gimana yaaa?”
“Oh, ayolah.
Ririn
menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Ahh, yah, oke deh. Tapi jangan
malam-malam yah.”
Adrian
tersenyum lalu mengajak Ririn ke mobilnya. Mereka berdua pun segera meluncur ke
tempat yang hanya Adrian tahu.
ooOoo
‘Mobil Adrian?’
‘Dia... ah, maksudku, aku mau pulang
bareng Anjani aja.’
Napas
Alexi tertahan saat melihat mobil yang selalu digunakan Adrian melintas keluar
dari gerbang sekolah. Kemudian ingatannya tentang percakapan dengan Andani semakin
membuat pikirannya kalut.
‘Mungkinkah Ririn pergi bersama Adrian?’
“Bukannya
latihan besok, ya? Kenapa mobil Adrian ada di sini?”
Alexi
tersentak mendengar suara itu. Ternyata suara itu berasal dari Wenda yang
hendak mengeluarkan motornya. Alexi tak tahu apakah gadis itu mengajak dirinya
bicara atau memang sedang bicara sendiri. Namun gadis itu tampak kepayahan
mengeluarkan motornya dan Alexi tak bisa tak membantunya.
“Oh,
thank’s,” gadis itu tersenyum manis.
“Eh, kamu gak pulang bareng Ririn?”
“Apa
aku harus pulang bareng Ririn?” Alexi balik bertanya.
“Yaah,
nggak sih. Maksudku, tadi aku lihat Anjani pulang bareng Andani, jadi aku pikir
kalau Ririn pulang bareng kamu.”
“Mungkin
dia ada urusan.”
“Maksudmu
pulang bareng Adrian?”
Alexi
mendengus kesal, “Kamu sengaja manas-manasin aku, ya?”
Wenda
tertawa geli, “Well, semua orang tahu
kok, kalo Ririn itu sukanya sama siapa. Salahnya sendiri waktu itu kamu nolak
aku.”
Alexi
membuang muka.
“Oke
deh, sorry. Aku gak maksud buat
provokasi kamu. Aku cuma ikutan kesel aja lihat Ririn yang kayaknya
dikejar-kejar sama kamu. Tahu sendiri’kan gimana dulu aku ngejar-ngejar kamu.”
Masih
dalam kebisuannya. Akhirnya Wenda pun memutuskan untuk segera men-starter
motornya.
“Tapi
aku kasih tahu kamu satu hal. Kalau memang sainganmu Adrian, maka kamu sekarang
ada di posisi yang sulit. Bukannya nakut-nakutin, tapi aku tahu gimana rasanya
di posisi kamu sekarang.”
Alexi
menatap Wenda dengan tatapan sangsi.
“Tapi
yah, selamat berjuang!”
Motor
Wenda berderu kencang. Meninggalkan kepulan asap di tempat Alexi berdiri. Meski
gadis itu sudah berlalu, tapi kata-katanya barusan masih terngiang-ngiang di
kepala Alexi.
‘….Kalau memang sainganmu Adrian, maka kamu sekarang
ada di posisi yang sulit….’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar