Total Tayangan Halaman

Minggu, 19 Maret 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 136)




Musikal 136

Pagi yang cerah itu diawali Ririn dengan sebuah buku klasik karangan Sapardi Djoko Darmono. Buku itu tidak terlalu tebal seperti buku-buku yang selalu ia bawa. Sudah lama sekali Ririn tidak mengisi otaknya dengan rangkaian kata-kata indah dari para sastrawan. Kesibukan dalam pementasan telah membuatnya lupa akan kesenangan pribadi dan di kesempatan yang sempit ini ia ingin membuat oasisnya sendiri.
“Pagi!”
Suara maskulin nan lembut itu berhasil menyita perhatiannya. Ririn menurunkan bukunya seraya membalas senyuman si kacamata.
“Pagi juga.”
Alexi menaruh tasnya di meja lalu duduk dengan posisi terbalik, “Hei, sudah lama tidak melihatmu seperti ini?”
Kening Ririn berkerut saat memikirkan kata-kata Alexi. Kemudian ia sadar ketika matanya tertuju pada buku yang ia pegang.
“Oh, maksudmu membaca?” Ririn tertawa renyah. “Yah, aku juga sudah lama tidak pegang buku. Soalnya kalau pulang langsung tidur. Capek sih habis latihan.”
“Begitu ya. Hmm, tapi memang sih, pesona kamu’kan memang gak jauh-jauh dari buku dan sering kali kita dipertemukan gara-gara buku.”
Ririn jadi tertawa sendiri saat mengingat pertemuan pertama mereka dan juga pertemuan-pertemuan selanjutnya. Alexi memang benar, ia dan buku tak bisa dipisahkan.
“Ngomong-ngomong, sepertinya keadaan kemarin baik-baik saja, ya?”
“Oh, maksudmu Miss Tifa—Fi—dan Adrian?” Ririn menyelipkan pembatas buku pada halaman terakhir yang ia baca lalu menyimpan buku itu di laci meja. “Yah, aku juga kaget melihat akting mereka sebagus itu. Rasanya aktingku di atas panggung tidak ada apa-apanya dibanding mereka.”
Kepala Alexi terangguk pelan, tapi ia sama sekali tak berkomentar.
“Kalau aku jadi Fi, mungkin aku tidak akan bisa seperti itu. Apa yang sudah terjadi, rasanya terlalu berat untuk dipikulnya sendiri. Sayang, dia bukan orang dengan tipe yang suka berbagi.”
Alis Alexi terangkat sebelah, “Kamu masih bisa bicara seperti itu setelah apa yang dia lakukan sama kamu?”
Well, kupikir dia tidak melakukan sesuatu yang jahat padaku,” Ririn mendesah panjang. “Dia memang berhati dingin, tapi apa yang dilakukannya dulu memang tepat. Dia adalah pacarnya Adrian dan aku bukan siapa-siapa. Wajar saja kalau dia butuh penegasan atas statusnya.”
Alexi kembali mengangguk, “Sayangnya, statusnya itu sekarang udah gak berlaku lagi.”
Tiba-tiba Ririn berdecak kesal, “Walaupun begitu, kamu gak seharusnya ngomong kayak tadi, Al.”
Alexi tersentak. Ia baru menyadari kalau pendapat yang ia lontarkan barusan membuatnya mirip dengan gadis-gadis penggosip di luar sana.
“Ah, i—iya sorry, sorry. Aku cuma kelepasan aja.”
“Hm, ya udahlah,” Ririn tersenyum kecut. “Salah kita juga kenapa pagi-pagi ngomongin dia. Kita ngobrol yang lain aja deh.”
Alexi tersenyum, “Kupikir kamu lebih baik meneruskan bacaanmu. Maaf, udah ganggu.”
Pemuda itu membetulkan cara duduknya. Tak berapa lama kemudian siswa-siswa yang lain berdatangan. Kelas yang tadinya sepi berubah jadi ramai. Fi juga kembali masuk seperti biasa. Ada perasaan lega ketika Ririn melihat interval waktu kedatangan Fi dengan obrolannya bersama Alexi cukup panjang. Ririn rasa gadis itu tak akan mendengarnya.
ooOoo
[Aku tunggu di gedung teater]
[-Adrian]

Ririn melirik arlojinya. Masih 20 menit lagi sebelum bel pulang. Mungkin Adrian bermaksud untuk menemuinya sepulang sekolah nanti. Ia pun menyimpan ponselnya kembali.
“An, hari ini kamu pulang bareng Anjani dulu aja ya. Aku ada urusan. Gak apa’kan?” bisiknya.
“Oh, gak apa sih. Ngomong-ngomong urusan apa?”
Bisa saja Ririn berbohong pada Andani, tapi rasanya percuma. Nantinya juga bisa ketahuan. Menyadari suaranya sudah berbisik, ia pun tidak mungkin mengecilkan lagi suaranya. Akhirnya ia pun menuliskan sebuah nama pada buku catatan Andani. Gadis itu cukup kaget saat membaca nama itu. Untungnya Andani tidak histeris dan segera bisa mengendalikan diri.
“Ngapain kamu ketemu dia?” bisik Andani. “Suasana lagi panas gini, kenapa kamu mau cari api?”
“Siapa yang mau cari api sih?” balas Ririn. “Aku cuma gak tega aja lihat dia yang sekarang. Setelah apa yang terjadi, aku pikir dia butuh seseorang yang bisa menemaninya.”
“Ya, tapi gak harus kamu juga ‘kan?”
“Ehem, Marinda, Andani, berhentilah mengobrol!”
Beberapa pasang mata tertuju pada mereka berdua. Andani dan Ririn pun segera mengehentikan aktivitas bisik-bisik mereka. Namun bukan berarti perdebatan selesai samapai disitu. Keduanya melanjutkan dengan corat-coret pada buku catatan.
Pokoknya kamu gak boleh pergi!
Tapi kenapa? Lagian kita  gak bakal ngapa-ngapain kok.
Aku tahu, tapi bertemu dengan Adrian saat ini bukanlah sesuatu yang tepat. Gimana kalo sampai orang-orang membicarakan tentang kalian? Dan bagaimana kalau Fi sampai tahu?
Fi dan Adrian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kok sekarang kamu malah gak setuju kalo aku ketemu sama Adrian sih?
Andani menghela napas. Kenapa temannya sekali ini keras kepala sekali sih? Apa saat ini Ririn mencoba mengambil kesempatan? Tapi rasanya Ririn tidak sepicik itu.
Terserah!
Percakapan pun berakhir dengan jawaban yang saling menggantung. Setelah itu Ririn dan Andani tak saling bicara lagi. Hingga bel pulang berbunyi, kedua gadis ini tak saling pamit.
“Kalian gak pulang bareng?” tegur Alexi
“Dia...” Andani hampir saja keceplosan. “Ah, maksudku, aku mau pulang bareng Anjani aja.”
“Kalian berantem?”
Andani menggeleng cepat, “Enggak kok. Perasaan kamu aja kali.”
Alexi pun tak menannyakan perihal Ririn lagi karena Andani langsung menghampiri meja saudarinya. Meski begitu, Alexi merasakan ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
ooOoo
Ririn mendapati sosok pemuda berambut pirang sedang berbaring santai di teras gedung. Sepertinya laki-laki itu tidak memedulikan dengan keadaan teras yang sedikit kotor. Telinganya disumpal earphone sementara matanya asyik nelangsa memandangi langit-langit. Ririn memberanikan diri untuk menyapanya.
“Ah, hai!”
Adrian tersenyum seraya melepas earphone-nya. Ia segera melompat bangun.
“Udah pulang?”
“Udahlah, kalo belum mana mungkin aku bisa ke sini.”
Adrian tersenyum, “Ada kerjaan? Kencan yuk?”
Ririn tersentak. Andai saja Adrian menawarinya beberapa bulan yang lalu, ia pasti sudah berbunga-bunga menanggapi tawaran itu. Namun setelah apa yang sudah terjadi, Ririn justru bingung untuk mengiyakan.
“Eh—eh, gimana yaaa?”
“Oh, ayolah.
Ririn menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Ahh, yah, oke deh. Tapi jangan malam-malam yah.”
Adrian tersenyum lalu mengajak Ririn ke mobilnya. Mereka berdua pun segera meluncur ke tempat yang hanya Adrian tahu.
ooOoo
Mobil Adrian?’
Dia... ah, maksudku, aku mau pulang bareng Anjani aja.
Napas Alexi tertahan saat melihat mobil yang selalu digunakan Adrian melintas keluar dari gerbang sekolah. Kemudian ingatannya tentang percakapan dengan Andani semakin membuat pikirannya kalut.
‘Mungkinkah Ririn pergi bersama Adrian?’
“Bukannya latihan besok, ya? Kenapa mobil Adrian ada di sini?”
Alexi tersentak mendengar suara itu. Ternyata suara itu berasal dari Wenda yang hendak mengeluarkan motornya. Alexi tak tahu apakah gadis itu mengajak dirinya bicara atau memang sedang bicara sendiri. Namun gadis itu tampak kepayahan mengeluarkan motornya dan Alexi tak bisa tak membantunya.
“Oh, thank’s,” gadis itu tersenyum manis. “Eh, kamu gak pulang bareng Ririn?”
“Apa aku harus pulang bareng Ririn?” Alexi balik bertanya.
“Yaah, nggak sih. Maksudku, tadi aku lihat Anjani pulang bareng Andani, jadi aku pikir kalau Ririn pulang bareng kamu.”
“Mungkin dia ada urusan.”
“Maksudmu pulang bareng Adrian?”
Alexi mendengus kesal, “Kamu sengaja manas-manasin aku, ya?”
Wenda tertawa geli, “Well, semua orang tahu kok, kalo Ririn itu sukanya sama siapa. Salahnya sendiri waktu itu kamu nolak aku.”
Alexi membuang muka.
“Oke deh, sorry. Aku gak maksud buat provokasi kamu. Aku cuma ikutan kesel aja lihat Ririn yang kayaknya dikejar-kejar sama kamu. Tahu sendiri’kan gimana dulu aku ngejar-ngejar kamu.”
Masih dalam kebisuannya. Akhirnya Wenda pun memutuskan untuk segera men-starter motornya.
“Tapi aku kasih tahu kamu satu hal. Kalau memang sainganmu Adrian, maka kamu sekarang ada di posisi yang sulit. Bukannya nakut-nakutin, tapi aku tahu gimana rasanya di posisi kamu sekarang.”
Alexi menatap Wenda dengan tatapan sangsi.
“Tapi yah, selamat berjuang!”
Motor Wenda berderu kencang. Meninggalkan kepulan asap di tempat Alexi berdiri. Meski gadis itu sudah berlalu, tapi kata-katanya barusan masih terngiang-ngiang di kepala Alexi.
‘….Kalau memang sainganmu Adrian, maka kamu sekarang ada di posisi yang sulit….’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar