Total Tayangan Halaman

Minggu, 09 April 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 142)




Musikal 142

“Sudah tidak bisa diharapkan lagi. Kamu memang harus dikurung di sini.”
“Kapan aku bisa keluar?”
Dokter Edo menghela napas, “Kalau bukan karena kamu pasien pertama saya di Amerika dan berkat kamu juga disertasi saya selesai, saya juga malas ngurusin pasien bandel kayak kamu. Setidaknya kamu menghargai cara saya berterima kasih padamu.”
“Loh, aku gak nuntut Dokter harus balas terima kasih kok.”
“Sudahlah, Dok. Pasung saja kakinya,” sahut July yang baru saja kembali dari kamar mandi. “Anak itu memang tidak tahu niat baik seseorang.”
“Bahkan ibumu saja sudah menyerah terhadapmu,” Dokter Edo kembali menghela napas. “Begini saja. Tiga minggu. Tiga minggu kamu tidak boleh ke mana-mana dan setelah itu kamu boleh ‘sedikit’ bebas.”
Dahi Tifa mengkerut, “Sedikit?”
“Menurutlah sedikit!” ujar July sambil  mengetukkan pantat gelas di dahi Tifa. “Atau kamu mau dipasung di sini selamanya?”
“Iyaaa,” Tifa mendesah berat. “Kalian semua menyebalkan.”
“Kamu yang menyebalkan!” sahut July dan Dokter Edo bersamaan.
ooOoo
Untuk kesekian kalinya kedatangan Fi ke sekolah menjadi bahan sorotan teman-teman sekelasnya. Fi mencoba mengabaikan semua tatapan aneh itu. Tetap tenang meski hatinya ingin menangis.
Tidak lama berselang Ririn masuk ke kelas. Ia bersama dengan Andani dan sepertinya mereka baru kembali dari suatu tempat, mungkin dari kantin. Ketika mereka masuk suara tawa membahana terdengar dari keduanya, tetapi saat mata mereka bertatapan dengan Fi, tawa itu lenyap. Andani langsung melengos angkuh, tapi tidak dengan Ririn. Keduanya seperti tengah berbalas tatap. Namun Andani langsung menarik Ririn untuk segera ke bangku mereka.
Bel masuk berbunyi dan langsung memotong adegan canggung tersebut. Pelajaran pun berlangsung seperti biasa. Mungkin karena ini bukan kali pertamanya mereka menyaksikan sensasi Fi sehingga kejadian kemarin tidak terlalu digubris, tapi ternyata ketenangan itu hanya berlangsung sampai bel istirahat berbunyi.
Tiba-tiba saja Fi menghampiri bangku Ririn. Hanya sebagian kecil yang tahu kalau Fi dan Ririn sebenarnya dalam perang dingin, tapi entah kenapa ketegangan dirasakan seluruh kelas.
“Bisa aku bicara denganmu?”
“Kamu mau mecahin Hp Ririn lagi?” Andani lebih cepat menyahut ketika Ririn baru membuka mulutnya.
“Aku ada urusan dengan Ririn, bukan denganmu.”
Andani merasa ditampar keras. Ia bangkit sambil menggebrak meja.
“Cari masalah?”
Melihat Andani panas, Anjani langsung mendekat. Ia langsung memasang wajah tak suka pada Fi. Priyanka juga tak ikut diam. Ia langsung berlari menuju Fi, tapi ia langsung dihadang Wenda. Alexi, Ben, dan Kemal juga tak tinggal diam. Mereka bersiaga kalau-kalau perang para gadis akan pecah.
Belum ada yang membuka suara. Namun satu saja keluar dari mulut mereka pasti akan menyulut kericuhan. Tiga lawan dua. Tiga lagi netral. Hanya Ririn yang jadi satu-satunya pelanduk yang mungkin akan mati duluan.
“Emm… semuanya….” Ririn buru-buru menyela di antara Andani dan Fi. Ia menyesal karena keterlambatannya menjawab justru menjadi awal keributan.
“Kupikir Fi cuma mau bicara baik-baik aja sama aku. Kita gak usah panas kayak gini’kan?”
Belum ada jawaban. Ririn mendesah berat lalu menggamit tangan Fi.
“Oke, Fi. Kita bicara di luar aja ya.” Ririn pun buru-buru menarik Fi keluar dari kerumunan panas itu.
“Eh, Rin. Tunggu!”
Andani hendak menyusul Ririn dan Fi. Namun ia keburu ditahan oleh Alexi. Anjani mau melepaskan genggaman Alexi dari saudarinya, tapi Kemal menahannya. Di sisi lain, Priyanka juga ingin menyusul kedua temannya, tapi lagi-lagi Wenda menahannya.
“Mau ke mana? Itu urusan mereka. Kamu di sini aja.”
“Juga bukan urusan kita, Wen,” sahut Ben sambil menahan Wenda. Kemudian ia tersenyum, “Oh ayolah, kenapa kita jadi darah tinggi semua sih? Kita ke kanti aja yuk. Alexi bilang dia mau traktir.”
Meski bukan ide yang baik, tapi Alexi tetap setuju dengan cara Ben melerai ketegangan ini.
“Aku gak nafsu makan!” ujar Andani seraya menghempaskan tangan Alexi. Ia menatap Kemal dengan tajam,  “Dan lepaskan tangan Kakakku!”
Kemal buru-buru mengangkat kedua tangannya. Kemudian Andani pun langsung mengajak Anjani pergi. Tak ada yang tahu kemana si kembar ini pergi, tapi mereka yakin keduanya tak akan menyusul Ririn dan Fi. Melihat kedua sahabatnya pergi, Wenda pun tak mau ketinggalan.
“Jane, tunggu!” Wenda melepaskan bahunya dari tangan Ben lalu berlari menyusul si kembar. Tinggallah Priyanka dan trio penyelamat di sana.
“Kamu gak apa-apa?” ujar Kemal sambil mendekati Priyanka.
Gadis itu mengangguk.
“Kamu gak berniat menyusul salah seorang dari yang pergi’kan?” sahut Ben.
“Gak perlu. Kalau Ririn aku percaya dan siapa pula yang mau menyusul singa yang sedang marah,” Priyanka tersenyum kecil. “Tapi kupikir aku menunggu Fi di tempat lain saja.”
Sepeninggal Priyanka, barulah ketiga laki-laki ini bisa mendesah lega. Bahu Alexi melorot, bahkan Ben sampai terduduk di kursinya, sementara Kemal meremas kepalanya dengan ekspresi frustasi.
“Tadi itu menegangkan sekali,” ujar Ben.
“Iyaaah… siapa bilang jadi The Three Musketeer itu gampang,” sahut Kemal.
“Lebih tepatnya, siapa bilang jadi cowok itu gampang,” tutup Alexi.
ooOoo
“Kayaknya di sini aman deh.”
Ririn mengajak Fi pergi ke belakang gedung teater. Hanya beberapa orang yang tahu tempat ini. Ia berharap tak satu pun orang yang mengikuti mereka. Meski orang itu berada di pihak netral.
“Teman-temanmu itu menakutkan ya.”
“Hantu kali menakutkan,” Ririn tersenyum kecil. “Mereka cuma memandangmu dari satu sisi saja. Mereka gak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, mereka pikir kamu mau berbuat jahat sama aku.”
Fi tersenyum sinis, “Wah, padahal yang jadi antagonis itu kamu, tapi kenapa aku selalu jahat di mata orang?”
“Kupikir kita ke sini karena ada yang mau kamu bicarakan,” Ririn berdeham. “Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?”
“Oh iya, sampai lupa,” Fi menyerahkan kantung yang ia bawa. Saking tegangnya keadaan tadi, Ririn bahkan tak memerhatikan kalau Fi membawa sesuatu. “Nih, buat kamu. Maaf ya, soal yang kemarin.”
Ririn menerima kantung itu lalu melihat isinya. Ia sedikit terkejut saat mengetahui kalau Fi sudah mengganti ponselnya. Merknya sama, tetapi dengan model terbaru.
“Ka—kamu gak perlu repot-repot, Fi.”
“Harus repot karena aku sudah merusak Hp-mu. Kamu gak usah ngerasa gak enak gitu. Aku gak mau jadi orang yang gak tahu diri.”
Ririn mendesah pendek, “Oke deh, aku terima.”
Kemudian Ririn memasukkan kartu selulernya dari ponselnya yang pecah ke ponsel yang baru. Begitu menyala, Ririn langsung menyodorkannya pada Fi.
“Nomormu. Aku belum punya nomormu.”
Meski sedikit heran, tapi Fi tak menolak memasukkan nomornya.
“Kalau cuma mau ganti Hp harusnya bisa di depan semua orang. Dengan begitu’kan kamu justru bisa memperbaiki citra di depan semua orang. Kalau kayak tadi sih, malah jadi bikin ribut.”
Jemari Fi terhenti sejenak saat mengetik, tapi sedetik kemudian ia kembali menyelesaikan. Ia tersenyum sinis saat mengembalikan ponsel Ririn.
“Maaf, aku gak pernah belajar bicara jadi orang baik.”
“Yaah, itulah kamu,” Ririn kembali menerima ponselnya, “Kamu bisa menjadi diri sendiri di depan semua orang, tapi selalu tertutup di depan Adrian. Akting kalian berdua memang hebat.”
Fi kembali terhenyak, “Sebenarnya… itu yang mau kubicarakan. Makanya aku gak mungkin bicara hal itu di depan teman-temanmu.”
“Adrian menghubungiku beberapa kali setelah semua insiden yang terjadi di antara kalian," Ririn melipat-lipat ujung kantung ponselnya. “Tapi aku tidak pernah berniat mengambil kesempatan dari kasus kalian berdua kok. Cuma yaah, aku gak tega aja sama Adrian.”
“Mau ambil kesempatan juga gak apa-apa kok,” Fi tersenyum getir. “Kamu sudah tahu yang sebenarnya’kan? Sekuat apa pun aku memisahkan kalian, tetap saja aku yang akan tersingkir. Memang seharusnya lebih baik kamu tetap jadi adiknya Adrian saja.”
Ririn merasa deja vu dengan kalimat terakhir Fi. Dalam hatinya ia ikut mendukung gagasan itu. Mungkin memang benar, harusnya Ririn yang menjadi saudara Adrian.
“Adrian… dia masih menanyakan kabarmu.”
Fi menggigit bagian dalam pipinya. Entah kenapa kata-kata Ririn justru menusuk hatinya. Ia lebih suka kalau Adrian tidak memedulikannya lagi. Kalau begini justru membuatnya semakin tak bisa melepaskan lelaki itu.
“Katakan padanya kalau aku baik-baik saja.”
“Ya, sudah kulakukan.”
“Kalau begitu kupikir itu sudah cukup.”
Ririn mendesah pendek lalu menegakkan tubuhnya, “Kau tahu, Fi? Kupikir aku lelah menjadi merpati pos. Kenapa kalian tidak saling bertemu dan katakan langsung apa yang ada dalam pikiran kalian? Aku tak bisa selamanya berpihak pada kedua sisi.”
“Gak akan bisa, Rin. Pertemuan terakhir kami malah membuat kami berpisah. Masalahnya aku masih harus terus bersamanya sampai pertunjukkan ini selesai.”
Ririn mengatupkan bibirnya. Ia tak tahu harus bicara apa lagi.
“Berat, bukan?” Fi kembali tersenyum getir. Kemudian ia meletakkan tangannya di bahu Ririn, “Mulai sekarang aku titipkan Adrian padamu.”
Ririn melepaskan tangan Fi, “Aku bukan babysitter!”
“Aku tahu, maaf,” Fi belum melepaskan senyumannya, “Tapi yang dibutuhkan Adrian saat ini adalah kamu. Jadi, aku harap kamu jangan jauh-jauh darinya dan seandainya kalian memang ditakdirkan bersama, aku tidak marah. Aku ikhlas jika kamu memang orangnya.”
Ada apa ini? Ririn seperti telah memenangkan perang ketika ia melambaikan bendera putih. Tak hanya itu, semua harta rampasan perang pun disodorkan padanya. Haruskah ia menerima itu sebagai takdirnya?
Tapi nuraninya berkata: itu tak pantas!

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. wkwkwk sejak kapan Al sama ben rukun :D
    bukan hanya wanita yang misterius , lelaki juga ya
    *inget*insiden*wenda

    BalasHapus