Musikal 142
“Sudah tidak bisa diharapkan lagi. Kamu memang harus
dikurung di sini.”
“Kapan aku bisa
keluar?”
Dokter Edo menghela
napas, “Kalau bukan karena kamu pasien pertama saya di Amerika dan berkat kamu
juga disertasi saya selesai, saya juga malas ngurusin pasien bandel kayak kamu.
Setidaknya kamu menghargai cara saya berterima kasih padamu.”
“Loh, aku gak nuntut
Dokter harus balas terima kasih kok.”
“Sudahlah, Dok.
Pasung saja kakinya,” sahut July yang baru saja kembali dari kamar mandi. “Anak
itu memang tidak tahu niat baik seseorang.”
“Bahkan ibumu saja
sudah menyerah terhadapmu,” Dokter Edo kembali menghela napas. “Begini saja.
Tiga minggu. Tiga minggu kamu tidak boleh ke mana-mana dan setelah itu kamu
boleh ‘sedikit’ bebas.”
Dahi Tifa mengkerut,
“Sedikit?”
“Menurutlah sedikit!”
ujar July sambil mengetukkan pantat
gelas di dahi Tifa. “Atau kamu mau dipasung di sini selamanya?”
“Iyaaa,” Tifa
mendesah berat. “Kalian semua menyebalkan.”
“Kamu yang
menyebalkan!” sahut July dan Dokter Edo bersamaan.
ooOoo
Untuk kesekian kalinya kedatangan Fi ke sekolah
menjadi bahan sorotan teman-teman sekelasnya. Fi mencoba mengabaikan semua
tatapan aneh itu. Tetap tenang meski hatinya ingin menangis.
Tidak lama berselang
Ririn masuk ke kelas. Ia bersama dengan Andani dan sepertinya mereka baru
kembali dari suatu tempat, mungkin dari kantin. Ketika mereka masuk suara tawa
membahana terdengar dari keduanya, tetapi saat mata mereka bertatapan dengan
Fi, tawa itu lenyap. Andani langsung melengos angkuh, tapi tidak dengan Ririn. Keduanya
seperti tengah berbalas tatap. Namun Andani langsung menarik Ririn untuk segera
ke bangku mereka.
Bel masuk berbunyi
dan langsung memotong adegan canggung tersebut. Pelajaran pun berlangsung
seperti biasa. Mungkin karena ini bukan kali pertamanya mereka menyaksikan
sensasi Fi sehingga kejadian kemarin tidak terlalu digubris, tapi ternyata ketenangan
itu hanya berlangsung sampai bel istirahat berbunyi.
Tiba-tiba saja Fi
menghampiri bangku Ririn. Hanya sebagian kecil yang tahu kalau Fi dan Ririn
sebenarnya dalam perang dingin, tapi entah kenapa ketegangan dirasakan seluruh
kelas.
“Bisa aku bicara
denganmu?”
“Kamu mau mecahin Hp
Ririn lagi?” Andani lebih cepat menyahut ketika Ririn baru membuka mulutnya.
“Aku ada urusan
dengan Ririn, bukan denganmu.”
Andani merasa
ditampar keras. Ia bangkit sambil menggebrak meja.
“Cari masalah?”
Melihat Andani panas,
Anjani langsung mendekat. Ia langsung memasang wajah tak suka pada Fi. Priyanka
juga tak ikut diam. Ia langsung berlari menuju Fi, tapi ia langsung dihadang
Wenda. Alexi, Ben, dan Kemal juga tak tinggal diam. Mereka bersiaga kalau-kalau
perang para gadis akan pecah.
Belum ada yang
membuka suara. Namun satu saja keluar dari mulut mereka pasti akan menyulut
kericuhan. Tiga lawan dua. Tiga lagi netral. Hanya Ririn yang jadi satu-satunya
pelanduk yang mungkin akan mati duluan.
“Emm… semuanya….”
Ririn buru-buru menyela di antara Andani dan Fi. Ia menyesal karena
keterlambatannya menjawab justru menjadi awal keributan.
“Kupikir Fi cuma mau
bicara baik-baik aja sama aku. Kita gak usah panas kayak gini’kan?”
Belum ada jawaban.
Ririn mendesah berat lalu menggamit tangan Fi.
“Oke, Fi. Kita bicara
di luar aja ya.” Ririn pun buru-buru menarik Fi keluar dari kerumunan panas
itu.
“Eh, Rin. Tunggu!”
Andani hendak
menyusul Ririn dan Fi. Namun ia keburu ditahan oleh Alexi. Anjani mau
melepaskan genggaman Alexi dari saudarinya, tapi Kemal menahannya. Di sisi
lain, Priyanka juga ingin menyusul kedua temannya, tapi lagi-lagi Wenda
menahannya.
“Mau ke mana? Itu
urusan mereka. Kamu di sini aja.”
“Juga bukan urusan
kita, Wen,” sahut Ben sambil menahan Wenda. Kemudian ia tersenyum, “Oh ayolah,
kenapa kita jadi darah tinggi semua sih? Kita ke kanti aja yuk. Alexi bilang
dia mau traktir.”
Meski bukan ide yang
baik, tapi Alexi tetap setuju dengan cara Ben melerai ketegangan ini.
“Aku gak nafsu
makan!” ujar Andani seraya menghempaskan tangan Alexi. Ia menatap Kemal dengan
tajam, “Dan lepaskan tangan Kakakku!”
Kemal buru-buru
mengangkat kedua tangannya. Kemudian Andani pun langsung mengajak Anjani pergi.
Tak ada yang tahu kemana si kembar ini pergi, tapi mereka yakin keduanya tak
akan menyusul Ririn dan Fi. Melihat kedua sahabatnya pergi, Wenda pun tak mau
ketinggalan.
“Jane, tunggu!” Wenda
melepaskan bahunya dari tangan Ben lalu berlari menyusul si kembar. Tinggallah
Priyanka dan trio penyelamat di sana.
“Kamu gak apa-apa?”
ujar Kemal sambil mendekati Priyanka.
Gadis itu mengangguk.
“Kamu gak berniat
menyusul salah seorang dari yang pergi’kan?” sahut Ben.
“Gak perlu. Kalau
Ririn aku percaya dan siapa pula yang mau menyusul singa yang sedang marah,”
Priyanka tersenyum kecil. “Tapi kupikir aku menunggu Fi di tempat lain saja.”
Sepeninggal Priyanka,
barulah ketiga laki-laki ini bisa mendesah lega. Bahu Alexi melorot, bahkan Ben
sampai terduduk di kursinya, sementara Kemal meremas kepalanya dengan ekspresi
frustasi.
“Tadi itu menegangkan
sekali,” ujar Ben.
“Iyaaah… siapa bilang
jadi The Three Musketeer itu
gampang,” sahut Kemal.
“Lebih tepatnya,
siapa bilang jadi cowok itu gampang,” tutup Alexi.
ooOoo
“Kayaknya di sini aman deh.”
Ririn mengajak Fi
pergi ke belakang gedung teater. Hanya beberapa orang yang tahu tempat ini. Ia
berharap tak satu pun orang yang mengikuti mereka. Meski orang itu berada di
pihak netral.
“Teman-temanmu itu
menakutkan ya.”
“Hantu kali
menakutkan,” Ririn tersenyum kecil. “Mereka cuma memandangmu dari satu sisi
saja. Mereka gak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, mereka pikir kamu mau
berbuat jahat sama aku.”
Fi tersenyum sinis,
“Wah, padahal yang jadi antagonis itu kamu, tapi kenapa aku selalu jahat di
mata orang?”
“Kupikir kita ke sini
karena ada yang mau kamu bicarakan,” Ririn berdeham. “Jadi, apa yang mau kamu
bicarakan?”
“Oh iya, sampai
lupa,” Fi menyerahkan kantung yang ia bawa. Saking tegangnya keadaan tadi,
Ririn bahkan tak memerhatikan kalau Fi membawa sesuatu. “Nih, buat kamu. Maaf
ya, soal yang kemarin.”
Ririn menerima
kantung itu lalu melihat isinya. Ia sedikit terkejut saat mengetahui kalau Fi
sudah mengganti ponselnya. Merknya sama, tetapi dengan model terbaru.
“Ka—kamu gak perlu
repot-repot, Fi.”
“Harus repot karena
aku sudah merusak Hp-mu. Kamu gak usah ngerasa gak enak gitu. Aku gak mau jadi
orang yang gak tahu diri.”
Ririn mendesah pendek,
“Oke deh, aku terima.”
Kemudian Ririn
memasukkan kartu selulernya dari ponselnya yang pecah ke ponsel yang baru.
Begitu menyala, Ririn langsung menyodorkannya pada Fi.
“Nomormu. Aku belum
punya nomormu.”
Meski sedikit heran,
tapi Fi tak menolak memasukkan nomornya.
“Kalau cuma mau ganti
Hp harusnya bisa di depan semua orang. Dengan begitu’kan kamu justru bisa
memperbaiki citra di depan semua orang. Kalau kayak tadi sih, malah jadi bikin
ribut.”
Jemari Fi terhenti
sejenak saat mengetik, tapi sedetik kemudian ia kembali menyelesaikan. Ia
tersenyum sinis saat mengembalikan ponsel Ririn.
“Maaf, aku gak pernah
belajar bicara jadi orang baik.”
“Yaah, itulah kamu,”
Ririn kembali menerima ponselnya, “Kamu bisa menjadi diri sendiri di depan
semua orang, tapi selalu tertutup di depan Adrian. Akting kalian berdua memang
hebat.”
Fi kembali terhenyak,
“Sebenarnya… itu yang mau kubicarakan. Makanya aku gak mungkin bicara hal itu
di depan teman-temanmu.”
“Adrian menghubungiku
beberapa kali setelah semua insiden yang terjadi di antara kalian," Ririn
melipat-lipat ujung kantung ponselnya. “Tapi aku tidak pernah berniat mengambil
kesempatan dari kasus kalian berdua kok. Cuma yaah, aku gak tega aja sama Adrian.”
“Mau ambil kesempatan
juga gak apa-apa kok,” Fi tersenyum getir. “Kamu sudah tahu yang
sebenarnya’kan? Sekuat apa pun aku memisahkan kalian, tetap saja aku yang akan
tersingkir. Memang seharusnya lebih baik kamu tetap jadi adiknya Adrian saja.”
Ririn merasa deja vu dengan kalimat terakhir Fi.
Dalam hatinya ia ikut mendukung gagasan itu. Mungkin memang benar, harusnya
Ririn yang menjadi saudara Adrian.
“Adrian… dia masih
menanyakan kabarmu.”
Fi menggigit bagian
dalam pipinya. Entah kenapa kata-kata Ririn justru menusuk hatinya. Ia lebih
suka kalau Adrian tidak memedulikannya lagi. Kalau begini justru membuatnya
semakin tak bisa melepaskan lelaki itu.
“Katakan padanya
kalau aku baik-baik saja.”
“Ya, sudah
kulakukan.”
“Kalau begitu kupikir
itu sudah cukup.”
Ririn mendesah pendek
lalu menegakkan tubuhnya, “Kau tahu, Fi? Kupikir aku lelah menjadi merpati pos.
Kenapa kalian tidak saling bertemu dan katakan langsung apa yang ada dalam
pikiran kalian? Aku tak bisa selamanya berpihak pada kedua sisi.”
“Gak akan bisa, Rin.
Pertemuan terakhir kami malah membuat kami berpisah. Masalahnya aku masih harus
terus bersamanya sampai pertunjukkan ini selesai.”
Ririn mengatupkan
bibirnya. Ia tak tahu harus bicara apa lagi.
“Berat, bukan?” Fi
kembali tersenyum getir. Kemudian ia meletakkan tangannya di bahu Ririn, “Mulai
sekarang aku titipkan Adrian padamu.”
Ririn melepaskan
tangan Fi, “Aku bukan babysitter!”
“Aku tahu, maaf,” Fi
belum melepaskan senyumannya, “Tapi yang dibutuhkan Adrian saat ini adalah
kamu. Jadi, aku harap kamu jangan jauh-jauh darinya dan seandainya kalian
memang ditakdirkan bersama, aku tidak marah. Aku ikhlas jika kamu memang
orangnya.”
Ada apa ini? Ririn
seperti telah memenangkan perang ketika ia melambaikan bendera putih. Tak hanya
itu, semua harta rampasan perang pun disodorkan padanya. Haruskah ia menerima
itu sebagai takdirnya?
Tapi nuraninya
berkata: itu tak pantas!
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapuswkwkwk sejak kapan Al sama ben rukun :D
BalasHapusbukan hanya wanita yang misterius , lelaki juga ya
*inget*insiden*wenda