Total Tayangan Halaman

Minggu, 09 April 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 143)




Musikal 143

Charlie Mitchell Blackwell dulunya seorang penulis lirik lagu berkebangsaan Inggris. Setelah mengecap asam garam di balik layar, ia memutuskan untuk rehat sejenak. Ia memilih Indonesia sebagai tempat peristirahatannya. Namun ketika ia memilih untuk beristirahat, ia justru mendapatkan ide cemerlang untuk membuat hidupnya semakin sukses.
Indonesia memiliki potensi dan pasar yang bagus untuk mendirikan sebuah perusahaan entertainment. Ia menghubungi beberapa koleganya untuk mendiskusikan bisnisnya tersebut. Jatuh bangun sempat ia rasakan dan perlahan tapi pasti, perusahaan impiannya berkembang pesat. Dari seorang penulis lagu, Charlie justru berkonsentrasi pada bisnisnya sekarang.
Di tengah kesibukannya, ia justru dipertemukan dengan seorang wartawan wanita dari sebuah majalah yang akan meliputnya. Baru kali ini ia bertemu dengan seorang wartawan yang elegan dan cerdas. Mungkin wanita itu tak pernah secantik artis-artis anak asuhnya, tapi wanita itu mempunyai sebuah daya tarik yang tak semua wanita miliki.
Wanita itu bernama Reisa Prasetya. Dari silsilahnya sudah terlihat kalau Reisa adalah memiliki darah seorang jurnalis. Maka tak perlu waktu lama bagi Charlie untuk mendekati wanita ini dan ternyata usaha Charlie membuahkan hasil. Reisa yang awalnya sulit didekati akhirnya berhasil diboyong ke Inggris oleh laki-laki bermata biru ini.
Pernikahan mereka dianugrahi seorang anak laki-laki yang sama tampan seperti Charlie. Mereka menamakannya David Mitchell Blackwell. Anak itu mewarisi mata biru Charlie dan juga kecerdasan lingustik seperti Reisa. Hanya saja seiring pertumbuhan David, anak itu justru menjadi anak yang pemalu. Ia tak memiliki kemampuan bersosialisasi seperti ayah-ibunya. David lebih nyaman berada lingkungannya sendiri ketimbang ia harus menyapa anak-anak seumurannya.
Reisa memahami itu. Ia pun mengusulkan untuk membawa David liburan ke Indonesia. Charlie setuju karena ia juga harus tinggal di Indonesia untuk mengurus bisnis besarnya. Selain itu, sepupu David, Armandi, akan melaksanakan pementasan sekolah. Adalah ide yang bagus untuk membawa David ke tanah air ibunya.
Tak ada yang menduga jika di sana David akan berkenalan dengan seorang gadis yang nantinya akan mengubah hari-harinya. Gadis itu adalah adik dari pacar Armandi. Sifatnya yang terbuka dan ambisius ternyata benar-benar mengubah pusat hidup David. Ia yang dulu hanya berotasi pada dirinya sendiri, kini memiliki orbit pada gadis itu.
Charlie dan Reisa suka dengan perubahan anaknya. Mereka bahkan menuruti permintaan Dave untuk menetap di Palembang. Semua berjalan lancar sampai gadis yang selalu dipuja putranya tiba-tiba menghilang. Anak itu menjadi susah diatur, jarang bersekolah, dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Entah siapa yang memengaruhinya Dave juga mulai terpengaruh dengan batangan nikotin.
Dari si pemalu, kemudian si pemberontak, selepas SMA Dave bertranformasi menjadi seorang yang pekerja keras. Awalnya Charlie sempat khawatir dengan sikap urakan Dave yang nantinya tidak akan bisa mewarisi perusahaannya. Entah Charlie harus bersyukur atau tidak, tapi Dave justru menenggelamkan diri dalam pekerjaan.
Justru Reisa yang khawatir melihat perubahan Dave yang sekarang. Dave seolah-olah tak tertarik lagi dengan wanita. Banyak wanita yang mencoba mendekatinya atau bahkan sengaja didekatkan, tapi Dave tetap bergeming. Reisa takut kalau orientasi seks Dave berubah. Tiga belas tahun Dave menjalani hidup sebagai pria lajang, hingga ia kembali dipertemukan dengan wanita pujaannya.
Mendengar wanita pujaannya masih sendiri, Dave dengan cepat tancap gas. Ia bahkan meminta cuti panjang demi merebut kembali belahan hatinya yang telah hilang. Awalnya Charlie tidak menyetujui gagasan Dave, tapi Reisa lebih suka perubahan drastis Dave yang ini. Ia membujuk suaminya sampai setuju.
Meski demikian, tapi Charlie memberikan banyak syarat. Salah satunya dengan kembali Dave sekarang. Syukurlah, peforma Dave tidak berubah. Ia justru membawa angin segar bagi perusahaan. Lihatlah bagaimana ia menyelesaikan presentasi di depan para pemegang saham. Sepertinya orang-orang berduit itu setuju untuk berinvestasi di perusahan mereka.
Good job, boy!” ujar Charlie sambil menyalami anaknya.
Thank’s, Dad,” Dave balas tersenyum.
“Ayo kita makan malam. Ibumu pasti sudah menunggu.”
ooOoo
Meski Charlie adalah keturunan Inggris asli, tapi ia lebih suka menggunakan bahasa Indonesia ketika berkumpul dengan keluarganya. Lebih-lebih karena Reisa adalah orang yang menggeluti dunia kebahasaan. Jadilah lafas Indonesia Charlie sangat lancar.
“Sepertinya bisnis berjalan lancar,” ujar Reisa sambil menyendok nasi ke piringnya.
“Kalau tidak lancar, mana mungkin Dad akan tersenyum terus,” balas Dave.
Charlie tertawa, “Harusnya aku memaksamu seminggu di sini. Baru dua hari saja kamu sudah membawa banyak keberuntungan.”
Dad, aku cuma bisa tiga hari. Dad tidak akan lupa janji kita’kan?”
“Itulah salahku, harusnya dari awal aku memaksa seminggu.”
Reisa menghela napas, “Sudahlah, setidaknya Dave mau menepati janji. Ngomong-ngomong, bagaimana pementasanmu itu? Sepertinya kamu lebih khawatir keadaan di sana ketimbang di sini.”
“Semuanya baik-baik saja. Hanya….”
“Hanya apa?” potong Reisa.
Dave mendesah berat, “Hanya saja jika Tifa tidak sakit. Mungkin aku bisa tinggal seminggu di sini.”
“Sepertinya sakit berat, benar begitu?” tanya Charlie.
“Kanker perut stadium dua.”
Kedua orang tua Dave langsung tercengang mendengar hal itu. Mereka baru bisa mengerti kenapa putranya ini selalu menolak pulang.
“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?” ujar Reisa.
“Saat ini dia stabil, tapi dia tidak bisa terlalu lelah. Makanya aku harus selalu mendampinginya.”
“Kalau begitu selesai dengan baik semua pekerjaan di sini supaya kamu bisa konsentrasi lagi di sana,” ujar Charlie. “Dan setelah itu segera bawa gadis itu ke London supaya bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik.”
Mata Dave seketika bersinar mendengar perkataan ayahnya, “Dad—Dad, serius? Maksudku Dad merestui kami?”
Charlie tersenyum sinis, “Memangnya kalian sudah jadian lagi?”
“Ahh…masalah itu…” Dave menggaruk-garuk kepalanya karena kebingungan menjawab pertanyaan ayahnya. “A—akan kudapatkan segera. Segera setelah ini.”
“Sepertinya perjuanganmu berat, Nak,” ujar Charlie sambil tertawa.
Wajah Dave berubah masam. Reisa pun langsung melerai keduanya.
“Sudahlah, nanti saja bahas itu. Lanjutkan saja makannya.”
ooOoo
Setelah makan malam, Dave kembali ke kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Besok presentasi terakhir dan ia harus mendapatkan mendapatkan proyek besar ini. Ia harus merelakan waktu tidurnya agar penampilannya besok sempurna.
Di tengah-tengah konsentrasinya, ia sempat terganggu dengan nada dering ponselnya. Awalnya ia masih mengabaikan telepon itu, tapi ponselnya tak mau berhenti berbunyi. Dengan kesal ia pun mengangkat telepon itu.
“Halo!” sergah Dave.
Ha—halo, Dave,
Suara perempuan? Kening Dave berkerut. Ia melihat layar ponselnya. Nama Riani tertera di sana. Kata tanya kenapa langsung berputar-putar di kepalanya mengenai maksud Riani meneleponnya malam-malam.
Sorry, Ri. Aku pikir tadi telepon iseng.”
Kayaknya kamu lagi sibuk ya?”
“Err, begitulah. Apa ada yang penting?”
Ya ampuuun, sesibuk itukah sampai kamu gak peduli keadaan di sini?”
Kening Dave kembali berkerut, “Ada apa di sana?”
Apa gak ada yang kasih tahu kamu kalau Tifa anfal?”
Dunia langsung menggelap bagi Dave. Kepalanya pusing dan tangannya yang sedang memegang ponsel terkulai menuju gravitasi. Pikirannya benar-benar kosong. Ia tak tahu harus bagaimana.
Dave? Dave? Kamu masih di sana?
Tanpa pikir panjang, Dave bergegas menuju kamar ayahnya. Ia akan meminta atau mungkin harus bersujud pada lelaki itu agar diizinkan pergi. Namun, begitu ia sampai di depan pintu kamar, ia berpapasan dengan ibunya.
“Ada apa, Dave?” Reisa terlihat heran dengan ekspresi anaknya yang terlihat terburu-buru.
Dad. Mana Dad?”
“Dia sedang mandi. Dave, kamu baik-baik saja? Apa ada masalah?”
Di tengah kepanikannya Dave tetap tak bisa mengabaikan ibunya. Lagi pula ayahnya sedang tak bisa diganggu, tapi ia juga tidak yakin ibunya akan memberikan jalan keluar.
“Apa ini mengenai gadismu?”
Dave mengangguk pelan, “Di—dia anfal, Mom.”
Reisa tersenyum mengerti. Ia tak mengatakan apa-apa, tapi menarik Dave menuju ruang makan lalu menuangkan air putih untuk Dave. Meski tak mengerti apa maksud ibunya, tapi Dave tak membantah dan menuruti kehendak ibunya untuk meminum air itu.
“Sudah lebih baik?”
Dave hanya membisu.
“Dave, Mom tahu kamu pasti akan memelas pada ayahmu supaya diizinkan pergi, tapi coba pikirkan baik-baik. Bukankah kamu sudah berjanji pada ayahmu untuk menyelesaikan semua pekerjaanmu tiga hari ini? Bagaimana pun juga kamu harus menepati janji itu, Dave!”
“Tapi, Mom. Saat ini Tifa—“
Mom mengerti, tapi ingatlah, kamu itu seorang lelaki. Laki-laki dinilai dari caranya memegang janji. Jika kamu tidak bisa menepati janjimu pada orang tua bagaimana gadis itu menilai kesetianmu?”
“Sekarang bukan saat yang tepat untuk membahas kesetiaan, Mom!”
Reisa kembali tersenyum, “Kapan gadis itu anfal? Apa baru saja?”
Dave tersentak. Benar juga, kalimat terakhir Riani menyiratkan kalau kejadian itu sudah agak lama. Mungkin kemarin atau dua hari yang lalu, yang jelas bukan baru saja.
“Sudah lama’kan? Kalau begitu sekarang dia sudah baik-baik saja,” Reisa menghela napas. “Sepertinya dia sengaja supaya kamu tidak diberi tahu. Kamu tahu kenapa, Dave? Karena dia tidak ingin kamu cemas dan panik. Karena dia tahu apa yang akan kamu lakukan jika dia memberitahumu ketika kejadian.”
“Tapi bukankah itu semakin membuatku cemas?”
Senyum Reisa semakin lebar, “Itu artinya dia lebih mengkhawatirkanmu, Dave. Dia tahu kalau keluargamu sedang membutuhkanmu. Mom memang tidak mengenalnya dengan baik, tapi Mom yakin dia wanita yang kuat. Dia melakukan ini karena dia lebih mengetahui sifatmu. Makanya dia akan sekuat tenaga untuk pulih tanpa harus membebanimu.”
Dave termenung cukup lama. Ia mengusap wajahnya dengan perasaan frustasi.
“Benarkah itu, Mom?”
“Percayalah pada, Mom. Sekarang konsentrasi saja pada pekerjaanmu besok. Tampilkan yang terbaik. Hanya dengan cara itu kamu bisa pergi tanpa meninggalkan beban seorang pun.”
Dave mendesah panjang. Ia harus bisa menyingkirkan Tifa dari pikirannya malam ini. Besok. Ya, hanya tinggal besok.
Tunggu aku, Tifa….

2 komentar: