Musikal 144
Riani masih sedikit kesal karena teleponnya diabaikan
Dave semalam. Padahal ia sedang menyampaikan info penting, tapi tiba-tiba
pembicaraan mereka terputus dan Dave sama sekali tidak meneleponnya balik. Ia
pun jadi kepikiran sampai semalaman.
Ia baru bertemu
dengan Gloria ketika jam istirahat. Wanita itu baru saja kembali dari ruangan
Hana. Mungkin tadi keduanya membicarakan Love
Musical.
“Membericakan hal
yang penting?” tegur Riani.
“Ah, tidak,” Gloria
menyeret kursi ke dekat Riani, “Hanya membicarakan kondisi Tifa.”
“Oh ya, bagaimana
kabarnya? Aku belum sempat jenguk soalnya.”
Gloria mendesah
pendek, “Buruk. Dia benar-benar harus bedrest.”
“Kasihan, Tifa,”
keluh Riani, “Di saat genting seperti ini, Dave malah tidak menemaninya.
Padahal sudah kukasih tahu semalam. Kenapa orang itu seperti pura-pura tidak
tahu ya?”
Gloria tersentak,
“Kamu kasih tahu, Dave?”
“Eh, iya,” Riani
balas kaget. “Memangnya kenapa?”
“Tifa melarang kita
untuk ngasih tahu Dave,” Gloria menepuk dahinya. “Ya ampuuun, kayaknya aku lupa
kasih tahu kamu deh. Aduuh, bisa gawat
ini.”
“Gawat gimana?”
“Ya kamu tahu
sendirilah Dave itu gimana orangnya. Bisa-bisa dia panik terus terbang ke sini
dan ninggalin semua pekerjaannya di sana. Padahal ayahnya lagi butuh dia untuk
ngurusin perusahaan.”
Giliran Riani yang
mendadak panik, “Ta—tapi aku gak maksud….”
Gloria mengangguk
sambil mendesah panjang, “Nasi sudah menjadi bubur, Ri. Kita cuma berharap Dave
gak bakal nekad aja.”
Percakapan itu
berakhir. Gloria menarik kursinya menjauh. Meski tidak marah, tapi Riani tahu
kalau Gloria pasti kesal padanya. Ia juga kesal pada dirinya sendiri yang
terlalu ikut campur urusan orang.
Kenapa pula malam itu
ia ingin sekali mengobrol dengan Dave. Riani pikir, Dave sengaja belum muncul
karena sibuk dengan pekerjaan atau mungkin sedang bertengkar dengan Tifa. Riani
ingin menghiburnya jika memang alasan kedua yang membuat Dave belum juga
kembali. Namun, apa yang diharapkan ternyata tidak sesuai yang ia pikirkan. Ia
justru mengacaukan semua rencana yang telah disusun rapi.
Harusnya ia tak usah
menghabiskan pulsa semalam.
ooOoo
Presentasi kembali sukses. Perusahaan Charlie kembali
memenangkan proyek sebuah sinetron. Dengan begini ia tinggal memilih anak-anak
asuhnya yang cocok untuk tampil di sinetron tersebut.
Tak ada yang
diinginkan Dave saat ini selain cepat-cepat kembali ke Palembang. Namun, begitu
banyak kolega ayahnya yang harus ia layani. Semakin lama keadaan ini semakin
membunuhnya.
Tiba-tiba tangan Dave
diselipkan secarik kertas. Dave terkejut saat melihat kertas itu ternyata
adalah sebuah tiket penerbangan. Lebih mengejutkan lagi ternyata yang
memberikan itu adalah ayahnya sendiri.
“Da—Dad?”
“Pergilah, Dad yakin kamu tidak betah di sini. Pikiranmu
pasti sudah sampai di sana, iya’kan?”
“Dad tahu dari mana?”
“Your mommy told me.”
Air muka Dave
terlihat campur aduk. Terkejut, senang, dan haru ada di sana.
“Pergilah, dan
pastikan kali ini kamu membawanya pulang ke London!”
Dave tertawa lalu
memeluk ayahnya.
“I get it, Sir!”
yah ngarepin adegan haru dave ketemu sama tifa di chap ini
BalasHapus