LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 145)
Musikal 145
Cuaca di luar sedang hangat-hangatnya dan Andani masih
harus berkutat pada tumpukkan buku-buku di perpustakaan. Ia harus memaksakan
dirinya di sana supaya tugas makalahnya mendapat referensi yang bagus. Sayang
sekali Ririn tidak bisa menemaninya. Mungkin dia tidak akan sesuntuk ini.
Saat
mengambil salah satu buku, tiba-tiba terlihat wajah Hiro dari sela buku yang
kosong. Andani tak bisa tak membalas senyuman Hiro yang seperti memberikan
angin segar. Tak hanya itu, Hiro bahkan menyusuri rak buku supaya mereka bisa
salin bertemu.
“Hai!”
“Hai
juga,” Andani membenarkan posisi buku di
tangannya. “Senpai belum pulang?”
“Kamu
sendiri?”
Andani
menunjukkan buku-buku di tangannya, “Aku lagi cari referensi buat makalah aku.”
Hiro
hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Senpai belum jawab pertanyaanku!”
Tawa
Hiro lepas saat melihat kerutan di bibir Andani, “Ahh, ya, ya, aku sedang
menunggu Jiro.”
“Jiro
senpai ada di perpustakaan?” raut
wajah Andani terlihat tak percaya. “Masa
sih?”
“Memang sulit ya, membayangkan Jiro ada di
perpustakaan,” tawa Hiro makin meledak. Ia berdeham setelah beberapa orang
mendelik karena suara tawanya yang keras. “Yah, Jiro tidak di sini, tapi aku
tidak punya tempat lain untuk menunggunya.”
Andani memiringkan kepalanya dengan sorot mata yang
penuh tanda tanya, “Memangnya Jiro senpai
ada dimana?”
“Dalam perjalanan,” Hiro mendesah pendek, tapi
terdengar berat. “Biasalah, penyakitnya kambuh.”
“Jiro senpai sakit?”
“Bukan. Bukan sakit begitu,” Hiro kembali tersenyum.
“Maksudku penyakit malasnya. Lagi-lagi dia kabur dari sekolah.”
Akhirnya Andani mengangguk paham. Ia hanya bisa
berkomentar lewat senyuman miris.
“Kamu sudah selesai?” Hiro mengalihkan pembicaraan.
“Ah, i—iya. Senpai
masih mau di sini?”
“Tidak juga, tapi aku akan sangat senang kalau kamu
mau menemaniku menunggu Jiro. Tidak di sini juga tidak apa-apa.”
Andani mengiyakan permintaan Hiro. Mereka pun
menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di bangku taman.
“Kupikir Jiro akan berubah setelah di sini, tapi
karena situasi kacau begini, penyakitnya malah kumat lagi.”
“Kalau boleh tahu, memangnya Jiro senpai itu orangnya seperti apa ya?”
“Dia anak yang periang, suka menolong, dan yang jelas
dia tidak pernah pilih-pilih teman. Makanya banyak orang yang suka dengannya,”
Hiro menarik napas panjang. “Hanya itu yang tidak berubah darinya sampai
sekarang.”
“Jadi, maksud senpai,
ada yang berubah dari Jiro senpai,
begitu?”
“Begitulah dan semua terjadi setelah ayah kami seakan
membuat jarak antara kami berdua. Aku selalu menjadi prioritas karena aku
menuruti semua kehendak ayah, sedangkan Jiro justru semakin tidak diacuhkan.
Aku pikir Jiro kesal atau hanya sekadar cari perhatian, makanya dia mulai
malas-malasan sekolah dan juga latihan musik. Bukannya mendapat perhatian, Jiro
malah dianggap sebagai noda dalam keluarga kami dan mungkin dia memutuskan
untuk menjadi nakal sekalian.”
“Bukannya kalian sudah baikan ya, pascakecelakaan
itu?”
“Kami memang sudah baikan, tapi pandangan ayah kami
pada Jiro tentu belum. Dia masih belum bisa menganggap Jiro sebagai anak yang
baik, tapi aku berusaha supaya kejadian kemarin tidak terulang lagi. Aku
mengajak Jiro kembali ke dunia orkestra bersama ayah di Australia. Di sanalah
kami bertemu dengan Miss Tifa. ketika
Miss Tifa menawarkan kesepakatan itu,
aku memaksa ayah agar aku dan Jiro bisa pergi. Tujuannya sih cuma satu, supaya
aku dan Jiro bisa menikmati masa-masa sekolah kami. Sayang, sepertinya yang
menikmati cuma aku sendiri.”
Andani menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal,
“Ngg, aku masih tidak mengerti dengan maksud Senpai ‘untuk menikmati masa-masa sekolah’. Memangnya kalian sudah
tidak sekolah lagi?”
“Hanya ketika SD kami bersekolah di sekolah umum, tapi
sejak masuk SMP kami dimasukkan di sekolah khusus musik, dan ketika SMA kami
mengikuti program home schooling.
Makanya pergaulanku sangat terbatas, sedangkan Jiro begitu meninggalkan rumah,
dia sudah tidak bersekolah lagi. Itulah makanya aku sangat ingin ke sini supaya
aku dan Jiro bisa menikmati masa-masa remaja kami.”
Andani kembali mengangguk. Ia bisa paham bagaimana
perasaan Hiro. Keadaan seperti itu tidak berbanding jauh dengannya. Ia tahu
bagaimana rasanya dipisahkan dari saudara sendiri, bagaimana menanggung beban
menjadi anak emas, dan bagaimana rasanya menahan diri dari kebebasan. Hiro dan
Jiro bisa dianalogikan dirinya dan Anjani. Ketika Anjani dan Jiro membutuhkan
perhatian dari orang tua, ia dan Hiro justru menginginkan keberanian untuk
mengekspresikan kebebasan seperti saudara mereka.
“Kamu melamun?”
Andani tersentak, “Eh—eh, nggak kok.”
Hiro kembali tersenyum, “Setidaknya kamu dan
kembaranmu masih beruntung. Kalian dikelilingi teman-teman yang saling
mendukung. Berbeda dengan kami. Orang-orang yang kukenal tidak banyak dan di
sini negeri orang. Sulit rasanya membujuk Jiro untuk kembali bersekolah.”
Ada keinginan Andani untuk memberikan bantuan, tapi
rasanya itu bukanlah hal yang mudah. Sampai saat ini saja ia masih belum bisa face to face dengan Jiro. Kata-kata Jiro
yang menggoda sering membuat bulu kuduk Andani bergidik.
“Tidak usah dipikirkan. Sudah mau mendengarkan
keluhanku juga sudah lebih dari cukup," Hiro menatap Andani dengan lembut.
“Arigatou.”
Andani mengerti kalau kata terakhir Hiro berarti
terima kasih, tapi sayangnya Andani tidak tahu bagaimana membalas dengan bahasa
yang sama. Ia pun hanya membalasnya dengan senyuman manis. Suasana hangat itu
tidak berlangsung lama karena kedatangan Jiro menghapus segalanya.
“Sedang apa berduaan di sini?”
Andani tampak terkejut, tapi Hiro tetap tenang. Ia
bahkan berdiri di antara Jiro dan Andani. Seolah-olah tidak mau membiarkan
saudaranya itu terlalu dekat dengan gadis manis ini.
“Menunggumu, tentu saja. Kebetulan aku bertemu gadis
manis dan kami mengobrol. Ngomong-ngomong, bagaimana petualanganmu hari ini?”
“Menyenangkan,” ujar Jiro dengan dahi berkerut. Tak
biasanya Hiro bersikap protektif dengan gadis ini. “Lalu apa kalian masih mau
mengobrol?”
“Tidak. Ayo kita pulang!” sekali lagi Hiro menatap
Andani dengan lembut. “Kami pulang dulu ya. Selamat mengerjakan tugas!”
Sebelum Jiro berkata lebih banyak, Hiro langsung
menyeretnya. Andani bahkan belum sempat membalas salam Hiro. Langkah keduanya
lumayan cepat.
Hiro melepaskan tangannya ketika Andani sudah tak
berada di dekat mereka. Ia berjalan santai, seolah-olah tidak terjadi apa pun
sebelumnya. Tentu saja Jiro semakin heran. Dia merasa ada sesuatu di antara
Hiro dan gadis itu.
“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan tadi?”
“Tidak ada,” sahut Hiro sambil tersenyum.
“Dasar aneh!” gerutu Jiro sambil menyejajarkan langkah
mereka. “Ah ya, apa gadis itu membicarakanku?”
Hiro tak langsung menjawab. Ia membiarkan Jiro
mendahului. Sadar saudaranya tertingggal, Jiro pun berbalik. Lagi-lagi ia ada
yang sedang disembunyikan oleh saudaranya itu.
“Heei, Hiro!”
Hiro berjalan santai dan senyum mencurigakan itu kembali
mengembang.
“Kau tahu, Jiro. Sepertinya aku juga menyukai gadis
itu.”
Jiro tersentak, “Andani-chan?”
Bahu Hiro terangkat dengan senyuman yang belum
terhapus.
“Ja—jangan bercanda,” Jiro tertawa patah-patah.
“Kalau begitu akan kukatakan kalau aku sangat serius
sekarang.”
Pernyataan Hiro yang begitu tenang sanggup membuat
raut wajah Jiro berubah garang. Jiro memang selalu memeran karakter antagonis,
tapi tidak pernah ia tunjukkan pada Hiro. Baru kali ini ia melihat sendiri
bagaimana amarah saudaranya itu terpancar untuknya. Namun, bukannya memilih
jalan aman, Hiro justru semakin membakar amarah saudaranya.
“Dakara ima
shinjite imasu ka? Naah, hajimemashou!”
Author’s Note:
Dakara ima shinjite imasu ka? Naah, hajimemashou
: Sekarang apa kau percaya? Nah, sekarang ayo kita mulai
=,= sumpah... msh ngarep lnjutan tifa-dave
BalasHapus