Total Tayangan Halaman

Minggu, 16 April 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 146)

 

Musikal 146

 

Sengatan mentari sore mampu mengusik tidur siang Tifa. Tubuhnya menggeliat malas. Padahal tadi ia berencana bangun ketika makan malam, tapi sepertinya ibunya lupa untuk menutup gorden. Sekarang ibunya kemana pula?

Tifa menguap lebar. Tangannya yang bebas dari selang infus meraba-raba letak ponselnya. Selanjutnya ia sibuk memainkan ponselnya.

Pintu bangsal terbuka. Tifa tak menghiraukannya karena ia pikir ibunya baru saja kembali. Perhatiannya masih tertuju pada ponselnya, sampai orang tersebut memanggil namanya.

“Tifa…”

Tifa sampai hampir menjatuhkan ponselnya saat menatap sosok tersebut. Orang ini mengejutkannya melebihi hantu.

“Da—Dave?”

Pria itu tak membalas sapaan Tifa. Namun ekspresinya sulit diartikan. Bisa dikatakan marah, sedih, dan butuh banyak penjelasan. Sejuta alasan yang sedang dipikirkan Tifa untuk menjawab pertanyaan di benak lelaki itu, tapi ia yakin tidak akan seseserhana itu.

“Bisa tolong naikkan sandaran ranjangku?”

Tanpa mengiyakan, Dave melakukan permintaan Tifa. Setelah itu ia kembali berdiri di sisi Tifa.

“Kemarilah.”

Dave tak pernah mendunga jika Tifa akan memeluknya lebih dulu. Merasakan desah napas yang menggelitik tengkuknya, Dave tak kuasa untuk tak membalas pelukan itu.  Merasakan detak jantungnya, meresapi tiap kehangatan yang ia rindukan.

“Maaf…”

Hanya dengan satu bisikan. Semua amarah dan pertanyaan yang memenuhi benak Dave luruh seketika. Berganti dengan perasaan sedih bercampur rindu.

“Kamu tahu, aku hampir saja menggagalkan proyek yang sudah dirancang ayahku, aku hampir saja menyewa pesawat jet, dan aku hampir saja membuat kekacauan di jalan karena aku menyetir seperti Dominic Torreto. Kamu tahu kenapa? Karena aku tak bisa melihatmu terbaring di sini sendirian.”

Seulas senyum tipis menghiasi wajah Tifa. Tadinya ia sempat khawatir emosi Dave akan meledak. Setelah mendengar sarkasnya, Tifa yakin Dave tidak akan memarahinya lagi.

“Aku ceroboh dan aku berjanji tidak akan mengulaginya lagi.”

Tifa melepaskan pelukannya. Namun tangan Dave masih melekat di kedua pipinya.

“Jangan lagi, oke?”

Tifa mengangguk.

Dave menghembuskan napasnya. Ia kembali merengkuh Tifa dalam dekapannya. Mungkin wanita itu akan menolaknya, ternyata tidak. Tifa kembali membalas pelukan itu. Dave pun dengan leluasa menenggelamkan wajahnya leher wanita itu. Menghirup semua aroma yang ia rindukan selama ini.

“Aku mengkhawatirkanmu,” bisik Dave. “Aku juga merindukanmu. Sangat merindukanmu.”

Tifa tak menjawab apa-apa. Ia hanya mengelus punggung lelaki itu. Ada kelelahan yang terasa ketika jemari Tifa menelusup. Sepertinya Dave kelelahan akibat terlalu memikirkannya.

Sayangnya kedua orang ini tak sadar kalau ada sepasang mata yang mengawasi mereka dengan tatapan cemburu. Mereka terlalu asyik dalam dekapan kerinduan sehingga orang yang mengawasi mereka ini semakin terbakar.

Dia adalah Riani.

ooOoo

Riani mempercepat langkahnya saat melintasi koridor rumah sakit. Ia berhutang kata maaf pada Tifa karena ketidakmampuannya untuk menjaga lisan. Mau tak mau ia harus berterus terang kalau dialah yang memberitahu Dave tentang kejadian kemarin.

Sayangnya ia tak menyangka  dengan apa yang ia saksikan ketika pintu itu terbuka. Sebuah pemandangan yang sama sekali tak ingin ia lihat meski itu dalam mimpi.

Dave memeluk erat Tifa dan Tifa sama sekali tak risih dengan keadaan itu.

Hati Riani panas melihatnya. Darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. Pegangannya di gagang pintu mengeras dan giginya gemeletuk menahan amarah.

‘Bohong… kamu bohong, Tif….’

Tiba-tiba matanya bertemu dengan Tifa. Secepat kilat Tifa mendorong Dave agar menjauhinya. Wajahnya terlihat salah tingkah. Namun Dave terlihat biasa saja.

“Ka—kamu sudah lama, Ri?”

Riani hanya mengangguk kemudian masuk dengan tenang.

“Oh ya, Ri. Thank’s ya infonya. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku gak bakal tahu kalau nih anak udah collaps.”

Tifa terlihat kaget, “Ja—jadi, kamu yang kasih tahu, Ri?”

“Aku gak tahu kalau kamu berencana untuk merahasiakannya.”

“Ahh, sepertinya aku hanya memberitahu Gloria dan Ririn,” Tifa menggaruk-garuk kepalanya.

Dave tertawa, “Yah, baguslah. Sering-sering saja kamu teledor supaya aku bisa terus memantaumu.”

Kalimat terakhir Dave seperti menambah arang di hati Riani.

“Kamu gak lapar, Dave? Cari makanan dulu gih,” ujar Tifa seraya melirik Riani takur-takut.

“Yang lapar siapa coba? Aku mau di sini aja kok.”

Tifa mendesah pendek. Dave memang payah dalam soal kode.

“Maksudku, kamu gak mau beliin makanan buat Riani, apa? Gak enak aku gak punya apa-apa.”

“Hmm, bisa aja deh,” meski enggan, tapi Dave pun langsung beranjak. “Oke, kamu mau makan apa, Ri?”

“Terserah kamu aja.”

Dave mengangkat bahu, “Oke, aku pergi dulu dan kamu…” Dave menunjuk pada Tifa. “Jangan ke mana-mana lagi!”

Tifa hanya meringis menanggapi lelucon jayus Dave, tapi lelucon itu sepertinya akan menambah amarah Riani. Benar saja, senyum Tifa lenyap bersamaan dengan sosok Dave yang telah pergi. Suasana tegang kini menyelimuti kamarnya.

“Aku datang ke sini karena berhutang maaf padamu,” Riani membuka percakapan. “Aku benar-benar tidak sengaja mengatakan kabarmu pada Dave, tapi ternyata keadaan berbalik. Ketidaksengajaanku justru membuat seseorang berhutang maaf padaku.”

Tifa mengangguk pelan, “Aku tidak akan membela diri. Jadi… aku minta maaf padamu.”

“Hanya itu?” tatapan Riani berubah sinis.

“Aku minta maaf dan aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Riani bergeming.

“Ri, aku sudah memegang janjiku selama lima tahu dan kali ini aku juga tidak sengaja. Jadi, kenapa tidak kita anggap ini impas saja? Aku dan kamu sama-sama tidak sengaja dalam hal ini.”

Masih bergeming.

“Percayalah, ini tidak akan terjadi lagi.”

Riani berbalik, “Kalau begitu aku pulang dulu,” kemudian langkahnya terhenti saat di depan pintu. “Aku akan pegang janjimu sama seperti dulu.”

“Kupastikan akan sama seperti dulu!” seru Tifa sebelum punggung Riani menghilang.

Sama seperti sebelumnya. Riani kembali memacu langkahnya di koridor rumah sakit. Kali ini karena ia tak mau berpapasan dengan Dave. Bisa bahaya kalau mereka saling bertemu. Tak ada yang tahu apa yang pernah Riani minta atau yang pernah Tifa janjikan. Hanya mereka berdua yang tahu persis syarat yang tidak boleh dilanggar itu.

‘Kuharap kamu benar-benar memegang kata-katamu, Tif…’


2 komentar:

  1. =,= lihat tifa jinak gitu ke dave jd ngakak ,
    tp entah janji apa antara riani dan tifa...
    please deh yg udah punya suami dan anak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. jinak??? tifa kayak ular kali yak, wkwkwkwk

      Hapus