LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 146)
Musikal 146
Sengatan mentari sore mampu mengusik tidur siang Tifa.
Tubuhnya menggeliat malas. Padahal tadi ia berencana bangun ketika makan malam,
tapi sepertinya ibunya lupa untuk menutup gorden. Sekarang ibunya kemana pula?
Tifa menguap lebar. Tangannya yang bebas dari selang
infus meraba-raba letak ponselnya. Selanjutnya ia sibuk memainkan ponselnya.
Pintu bangsal terbuka. Tifa tak menghiraukannya karena
ia pikir ibunya baru saja kembali. Perhatiannya masih tertuju pada ponselnya,
sampai orang tersebut memanggil namanya.
“Tifa…”
Tifa sampai hampir menjatuhkan ponselnya saat menatap
sosok tersebut. Orang ini mengejutkannya melebihi hantu.
“Da—Dave?”
Pria itu tak membalas sapaan Tifa. Namun ekspresinya
sulit diartikan. Bisa dikatakan marah, sedih, dan butuh banyak penjelasan.
Sejuta alasan yang sedang dipikirkan Tifa untuk menjawab pertanyaan di benak
lelaki itu, tapi ia yakin tidak akan seseserhana itu.
“Bisa tolong naikkan sandaran ranjangku?”
Tanpa mengiyakan, Dave melakukan permintaan Tifa.
Setelah itu ia kembali berdiri di sisi Tifa.
“Kemarilah.”
Dave tak pernah mendunga jika Tifa akan memeluknya
lebih dulu. Merasakan desah napas yang menggelitik tengkuknya, Dave tak kuasa
untuk tak membalas pelukan itu. Merasakan
detak jantungnya, meresapi tiap kehangatan yang ia rindukan.
“Maaf…”
Hanya dengan satu bisikan. Semua amarah dan pertanyaan
yang memenuhi benak Dave luruh seketika. Berganti dengan perasaan sedih
bercampur rindu.
“Kamu tahu, aku hampir saja menggagalkan proyek yang
sudah dirancang ayahku, aku hampir saja menyewa pesawat jet, dan aku hampir
saja membuat kekacauan di jalan karena aku menyetir seperti Dominic Torreto.
Kamu tahu kenapa? Karena aku tak bisa melihatmu terbaring di sini sendirian.”
Seulas senyum tipis menghiasi wajah Tifa. Tadinya ia
sempat khawatir emosi Dave akan meledak. Setelah mendengar sarkasnya, Tifa
yakin Dave tidak akan memarahinya lagi.
“Aku ceroboh dan aku berjanji tidak akan mengulaginya
lagi.”
Tifa melepaskan pelukannya. Namun tangan Dave masih
melekat di kedua pipinya.
“Jangan lagi, oke?”
Tifa mengangguk.
Dave menghembuskan napasnya. Ia kembali merengkuh Tifa
dalam dekapannya. Mungkin wanita itu akan menolaknya, ternyata tidak. Tifa
kembali membalas pelukan itu. Dave pun dengan leluasa menenggelamkan wajahnya
leher wanita itu. Menghirup semua aroma yang ia rindukan selama ini.
“Aku mengkhawatirkanmu,” bisik Dave. “Aku juga
merindukanmu. Sangat merindukanmu.”
Tifa tak menjawab apa-apa. Ia hanya mengelus punggung
lelaki itu. Ada kelelahan yang terasa ketika jemari Tifa menelusup. Sepertinya
Dave kelelahan akibat terlalu memikirkannya.
Sayangnya kedua orang ini tak sadar kalau ada sepasang
mata yang mengawasi mereka dengan tatapan cemburu. Mereka terlalu asyik dalam
dekapan kerinduan sehingga orang yang mengawasi mereka ini semakin terbakar.
Dia adalah Riani.
ooOoo
Riani mempercepat langkahnya saat melintasi koridor
rumah sakit. Ia berhutang kata maaf pada Tifa karena ketidakmampuannya untuk
menjaga lisan. Mau tak mau ia harus berterus terang kalau dialah yang
memberitahu Dave tentang kejadian kemarin.
Sayangnya ia tak menyangka dengan apa yang ia saksikan ketika pintu itu
terbuka. Sebuah pemandangan yang sama sekali tak ingin ia lihat meski itu dalam
mimpi.
Dave memeluk erat Tifa dan Tifa sama sekali tak risih
dengan keadaan itu.
Hati Riani panas melihatnya. Darahnya mendidih sampai
ke ubun-ubun. Pegangannya di gagang pintu mengeras dan giginya gemeletuk
menahan amarah.
‘Bohong… kamu
bohong, Tif….’
Tiba-tiba matanya bertemu dengan Tifa. Secepat kilat
Tifa mendorong Dave agar menjauhinya. Wajahnya terlihat salah tingkah. Namun
Dave terlihat biasa saja.
“Ka—kamu sudah lama, Ri?”
Riani hanya mengangguk kemudian masuk dengan tenang.
“Oh ya, Ri. Thank’s
ya infonya. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku gak bakal tahu kalau nih
anak udah collaps.”
Tifa terlihat kaget, “Ja—jadi, kamu yang kasih tahu,
Ri?”
“Aku gak tahu kalau kamu berencana untuk
merahasiakannya.”
“Ahh, sepertinya aku hanya memberitahu Gloria dan
Ririn,” Tifa menggaruk-garuk kepalanya.
Dave tertawa, “Yah, baguslah. Sering-sering saja kamu
teledor supaya aku bisa terus memantaumu.”
Kalimat terakhir Dave seperti menambah arang di hati
Riani.
“Kamu gak lapar, Dave? Cari makanan dulu gih,” ujar
Tifa seraya melirik Riani takur-takut.
“Yang lapar siapa coba? Aku mau di sini aja kok.”
Tifa mendesah pendek. Dave memang payah dalam soal
kode.
“Maksudku, kamu gak mau beliin makanan buat Riani,
apa? Gak enak aku gak punya apa-apa.”
“Hmm, bisa aja deh,” meski enggan, tapi Dave pun
langsung beranjak. “Oke, kamu mau makan apa, Ri?”
“Terserah kamu aja.”
Dave mengangkat bahu, “Oke, aku pergi dulu dan kamu…”
Dave menunjuk pada Tifa. “Jangan ke mana-mana lagi!”
Tifa hanya meringis menanggapi lelucon jayus Dave,
tapi lelucon itu sepertinya akan menambah amarah Riani. Benar saja, senyum Tifa
lenyap bersamaan dengan sosok Dave yang telah pergi. Suasana tegang kini
menyelimuti kamarnya.
“Aku datang ke sini karena berhutang maaf padamu,”
Riani membuka percakapan. “Aku benar-benar tidak sengaja mengatakan kabarmu
pada Dave, tapi ternyata keadaan berbalik. Ketidaksengajaanku justru membuat
seseorang berhutang maaf padaku.”
Tifa mengangguk pelan, “Aku tidak akan membela diri.
Jadi… aku minta maaf padamu.”
“Hanya itu?” tatapan Riani berubah sinis.
“Aku minta maaf dan aku janji aku tidak akan
mengulanginya lagi.”
Riani bergeming.
“Ri, aku sudah memegang janjiku selama lima tahu dan
kali ini aku juga tidak sengaja. Jadi, kenapa tidak kita anggap ini impas saja?
Aku dan kamu sama-sama tidak sengaja dalam hal ini.”
Masih bergeming.
“Percayalah, ini tidak akan terjadi lagi.”
Riani berbalik, “Kalau begitu aku pulang dulu,”
kemudian langkahnya terhenti saat di depan pintu. “Aku akan pegang janjimu sama
seperti dulu.”
“Kupastikan akan sama seperti dulu!” seru Tifa sebelum
punggung Riani menghilang.
Sama seperti sebelumnya. Riani kembali memacu
langkahnya di koridor rumah sakit. Kali ini karena ia tak mau berpapasan dengan
Dave. Bisa bahaya kalau mereka saling bertemu. Tak ada yang tahu apa yang
pernah Riani minta atau yang pernah Tifa janjikan. Hanya mereka berdua yang
tahu persis syarat yang tidak boleh dilanggar itu.
‘Kuharap kamu
benar-benar memegang kata-katamu, Tif…’
=,= lihat tifa jinak gitu ke dave jd ngakak ,
BalasHapustp entah janji apa antara riani dan tifa...
please deh yg udah punya suami dan anak....
jinak??? tifa kayak ular kali yak, wkwkwkwk
Hapus